Berpolitik Dengan Cinta
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Monthly Archives: February 2015

Berpolitik Dengan Cinta

Oleh ALFATH BAGUS PANUNTUN EL NUR INDONESIA  

Terciptanya politik bertujuan baik, yakni mencapai masyarakat sejahtera. Kini politik dipandang tak baik. Perilaku para pejabat publik menunjukkan bahwa Politik hanya mengedepankan kepentingan pribadi atau kelompoknya. Akhirnya tujuan berpolitik bukan lagi pengabdian, justru pengabaian. Kini politik harus didasarkan pada cinta agar prosesnya mendatangkan banyak orang untuk terlibat menuju kebahagian berbangsa dan bernegara.

Untuk mencapai kebahagiaan itu, cara yang dilakukan pertama kali adalah mengenali terlebih apa yang dimaksud: politik dan cinta. Politik diartikan sebagai usaha-usaha untuk mencapai kehidupan yang baik. Orang Yunani seperti Plato dan Aristoteles menyebutnya sebagai en dam onia atau the good life. Sedangkan mengenai cinta, Fromm mengatakan bahwa cinta adalah suatu kegiatan aktif dan bukan merupakan pengaruh yang pasif. Dia terlukis dalam tindakan kasih sayang, empati dan rela melakukan apapun demi mencapai kebahagian bersama orang yang dicintainya.

Keduanya memiliki definisi yang berbeda. Namun jika kita cermati, kita akan menemukan kenyataan bahwa baik politik maupun cinta memiliki kesamaan dalam persoalan relasi kekuasaan. Politik menunjukkan relasi kekuasaan antara rakyat sebagai penguasa dengan pemerintah sebagai pihak yang dikuasai. Sedangkan cinta menunjukkan relasi antara orang yang dicintai sebagai pihak yang berkuasa dan orang yang mencintai sebagai pihak yang dikuasai.

Dari defini diatas terlihat bahwa politik bukanlah sesuatu yang negatif. Mengutip Brecht, dia mengatakan bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, harga sewa, harga sepatu dan obat semua tergantung pada keputusan politik. Dari pernyataan tersebut terlihat hal positif. Bahwa segala sesuatu yang dekat dengan kita tak lain berkaitan erat dengan kebijakan politik. Ungkapan ‘politik itu kejam’ menandakan telah terjadinya pergeseran makna politik didalam masyarakat ke arah yang desktruktif. Politik dianggap sebagai kubangan lumpur. Barangsiapa yang masuk kedalamnya, pasti akan kotor terkena lumpur.

Hal itu berbanding terbalik dengan cinta. Dia selalu dimaknai dengan kebahagiaan, kedamaian bahkan mampu menghadirkan canda-tawa. Padahal jika kita melihat lebih jauh mengenai cinta, tak jarang kita mendengar berita ‘bunuh diri akibat putus cinta’ di media massa. Maka muncul ungkapan: ‘cinta ini membunuhku’. Dengan adanya ungkapan tersebut, makna cinta yang semula positif karena berkaitan dengan sesuatu yang membahagiakan dapat berubah menjadi negatif karena cinta pun bisa membunuh hati-hati yang tersakiti.

Dari elaborasi tersebut, baik politik maupun cinta dapat dimaknai secara positif ataupun negatif. Politik bisa menimbulkan kekacauan, kerusakan bahkan penghancuran terhadap hajat hidup orang banyak. Namun politik juga berperan dalam usaha-usaha yang dilakukan pemerintah dan masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik. Begitupun dengan cinta, dia memiliki makna kasih sayang dan pengorbanan. Namun disisi lain dapat menghancurkan hati orang-orang yang mencinta namun tak dicinta.

Maka kebahagiaan dalam bernegara itu semakin dekat ketika manusia telah menyadari pentingnya politik dan cinta. Manifestasinya adalah kesukarelaan dalam proses berpolitik dan usaha politik bersih dari aktor-aktor didalamnya.

Konsep Berpolitik Dengan Cinta

Ini adalah babak baru dalam memaknai politik dan cinta. Sebab baik politik maupun cinta sama-sama memiliki relasi dalam tujuannya membawa masyarakat kepada kebahagiaan dalam berkehidupan yang lebih baik. Namun melihat kondisi politik Indonesia hari ini seperti maraknya korupsi, penyelewengan kekuasaan dan lain-lain menunjukkan kenyataan yang masih jauh dari tujuan.

Dalam rangka mencapai tujuan itu, lahirlah konsep berpolitik dengan cinta sebagai rujukan bagi pemerintah. Konsep ini sebelumnya pernah diutarakan oleh Anis Matta. Namun penulis berusaha untuk menyempurnakannya. Penulis memandang bahwa politik (maksud: politikus) adalah makhluk hidup, sedangkan cinta adalah lingkungannya. Keduanya adalah satu kesatuan yang utuh dan menyeluruh. Dialah ekosistem dimana keduanya bukan saling meniadakan, tetapi saling mempengaruhi. Jika salah satu diantaranya tidak ada maka sistem yang dibangun pun tidak akan berjalan.

Dalam ekosistem, makhluk hidup berkembang bersama-sama dengan lingkungan sebagai suatu sistem. Makhluk hidup akan beradaptasi dengan lingkungan fisik, sebaliknya makhluk hidup juga memengaruhi lingkungan fisik untuk keperluan hidup. Begitupun dengan cinta. Ketika politik bertemu dengan cinta, maka politik yang akan menjaga sekaligus memelihara kehidupan ini. Kemudian, saat cinta bertemu dengan politik, maka cinta yang akan menjadi sumber kehidupan ini.

Logikanya, manusia hadir untuk menjaga dan memelihara lingkungan. Namun seringkali manusia justru mencemari lingkungannya. Tetapi ada juga lingkungan yang awalnya tidak ada kegiatan manusia, kini disulap oleh manusia menjadi semisal tempat wisata yang menghidupkan penghidupan bagi manusia. Ketika manusia hadir dalam politik membawa cinta, maka segala permasalahan yang ada dapat diselesaikan dengan cara-cara yang baik. Sebab tujuan yang mereka miliki adalah sama. Lingkungan kerja yang penuh cinta akan membangun kesadaran orang-orang didalamnya bahwa tujuan bersama harus berdiri diatas segalanya. Sebaliknya jika politik tidak dibarengi dengan cinta, yang ada hanyalah lingkungan penuh dusta, caci-maki dan kebencian. Prasangka-prasangka dan perilaku buruk lainnya bertebaran disana. Akhirnya, tujuan bernegara kita takkan pernah tercapai.

Berpolitik dengan cinta dapat mempertemukan hati-hati yang tercerai-berai, merangkul orang-orang yang ternafikan dan mengajak sekaligus menyatukan kelompok-kelompok yang terkotak-kotak. Maka hanya berpolitik dengan cinta saja yang akan membentuk sistem pemerintahan Indonesia kepada mekanisme kesukarelaan. Orang-orang merasa bahagia dan tak lagi takut untuk terlibat dalam proses politik. Hal ini menunjukkan taraf pengembangan kearah tujuan bersama: membawa masyarakat kepada kebahagiaan dalam berkehidupan yang lebih baik.

Mari Berpolitik Dengan Cinta!

 

Sumber: pernah di pos di https://www.selasar.com/budaya/berpolitik-dengan-cinta