Sahabat Politik
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Monthly Archives: June 2015

Sahabat Politik

sahabat

Oleh Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia

Di kisahkan dua orang sahabat, sahabat I ialah mahasiswa teknik, dan sahabat II adalah mahasiswa politik. Hubungan persahabatan keduanya sedang tidak harmonis.

Peringatan Reformasi dan Kebangkitan Nasional hampir tiba. Seorang sahabat terkejut melihat sahabatnya menjadi pemimpin eksekutor aksi peringatan. Dalam beberapa hari ke depan, sahabatnya akan dipenuh-sesaki agenda persiapan. Sahabat pun khawatir.

Momen peringatan seperti ini dianggap ‘sakral’. Biasanya, momen ini diisi oleh ritual bakar ban, perusakan fasilitas umum, pemblokiran jalan, bahkan adu jotos dengan polisi. Namun teman karib berdalih, aksi nanti akan damai-damai saja. Sebab, ia dan teman-teman aksi lainnya hanya akan menampilkan orasi, teatrikal, puisi, dan bagi-bagi bunga.

Tapi sebagai sahabat, rasa khawatir tetap ada. Maklum saja, sahabatnya ini berwatak keras dan tanpa kompromi. Jangankan blokir jalan, bakar Istana pun sepertinya berani, andai diperlukan. Sahabat khawatir jika orasi yang disampaikan sahabatnya nanti mengundang amarah aparat.

Sahabat pun takut sesuatu terjadi padanya.

 

Kritik Tanda Sayang

Sahabat merasa bahwa nyawa sahabatnya hanya sebiji. Bila aksi peringatan nanti berubah jadi ajang adu pukul akibat satu dan lain hal. Boleh jadi polisi melancarkan serangan gas air mata, melemparkan bom molotov, atau bahkan menembaki demonstran dengan bedilnya. Andai itu terjadi, sahabat takkan lagi bisa melihat senyum-riuh-sumringah sahabatnya.

Namun, sahabatnya mengatakan, “inilah perjuangan”. Bagi sahabatnya, membiarkan pemerintah berjalan sendiri tanpa pengawasan adalah sebuah kenistaan. Menjadi tanggung jawab mahasiswa sebagai kelompok penekan dalam sistem demokrasi. Mengutip Kennedy, “tanpa debat, tanpa kritik. Tidak akan ada negara berhasil, dan tidak ada republik bisa bertahan.” Maka baginya, kritik adalah tanda sayang baginya terhadap pemerintah. Pilihan sahabatnya itu sudah bulat, tak bisa diganggu gugat.

“Untuk apa aku bersahabat dengan orang yang kerjanya hanya mengkritik pemerintah terus?” gerutu sahabat.

Sahabat pun membatin. Ini bukan tahun perjuangan merebut kemerdekaan, atau masa para diktator masih berkuasa. Pada saat itu, mahasiswa masih menjadi entitas politik yang memiliki kemuliaan perjuangan ideologis. Dengan sadar, mahasiswa membela kepentingan rakyat karena terpanggil untuk berjuang mewujudkan cita-cita besar kemanusiaan: dimana rakyat bisa hidup dalam keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan.

 

Sahabat Seharusnya

Dari catatan sejarah, sahabat tahu bahwa perjuangan mahasiswa dahulu berbeda dengan yang ada saat ini. Sahabat takut jikalau sahabatnya terlibat dalam ritual yang sia-sia, dan tidak memiliki implikasi baik terhadap masyarakat.

Ia mengingatkan kepada sahabatnya, bahwa pemerintah saat ini sudah tak ngeri lagi dengan aksi mahasiswa. Masyarakat pun menilai bahwa aksi hanya sebatas ritual kemahasiswaan dalam berbagai peringatan saja. Nilainya nol. Jujur saja, Universitas tidak memasukkan aksi ke dalam kurikulumnya. Sehingga, kalaupun ada masalah, itu letaknya pada sikapmu yang belebih-lebihan.

Mungkin saja hari ini kau berteriak dan memekikkan kata “hidup rakyat Indonesia”. Tapi, akankah kata itu yang masih layak kau perjuangkan didunia kerja nanti. Bisa jadi, pasca mahasiswa nanti, kau akan menjadi sosok yang di demo. Sebab, mungkin, kau akan menjadi tiran ataupun konglomerat nakal yang merugikan rakyat nantinya. Toh, nyatanya kita punya persediaan tiran yang tak pernah habis dan stok juragan besar yang berlimpah ruah.

Sahabat pun sadar. Ia kemudian menuliskan secarik kertas. Kemudian, ditaruhnya ke dalam buku catatan sahabatnya secara diam-diam.

“Sahabatku, rasa sayang ini tak kan berganti menjadi benci hanya karena kau hobinya kritik dan demo. Saya, akhirnya paham betul bahwa kamu hanya ini ingin menyuarakan sesuatu yang kau anggap sebagai kebenaran. Sahabat seharusnya saling mendukung dan mengingatkan. Tertanda, sahabatmu”

Sahabatnya pun membuka dan membaca surat itu dengan hati-hati. Ia tersentuh. Kemudian, membalas surat sahabat.

“Sob, jalan kita berbeda. Aku mahasiswa politik sedang kau mahasiswa teknik. Kamu berhak menentukan pilihanmu, tetapi aku pun berhak menentukan sikapku. Bagiku, ini pilihan yang pasti-pas. Aku ingin menuliskan dalam sejarah hidupku bahwa aku tak akan diam disaat ada sesuatu yang salah di negeri ini. Ingat sahabatku, sejarah ditulis oleh para pemenang. Pahlawan atau penjahat bergantung pada siapa yang menjadi pemenang. Dan aku ingin menjadi pemenang. Dari Sahabat Politikmu.”