Mendengar Mama, Papa
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Monthly Archives: December 2015

Mendengar Mama, Papa

terbaik

Beberapa hari terakhir menjadi sesuatu yang sangat penting bagi kelangsungan hidup mahasiswa Gadjah Mada. Adalah persoalan Kuliah, Kerja, Nyata (KKN) yang kini menjadi virus disetiap otak mahasiswa UGM, khususnya mereka yang berada di angkata 2013.

Berbagai diskusi, tulisan kritis, dan propaganda telah mewarnai. Hal ini dipicu lantaran kelaliman dari pihak rektorat yang salah kaprah mengeluarkan kebijakan KKN. Mereka lupa kalau saat ini, mereka tak boleh memungut lagi sepeserpun dari mahasiswa selain Uang Kuliah Tunggal (UKT).

Sehabis pertemuan akbar antara Mahasiswa Menggugat dan Gerakan Ronny Dwi FC tadi di Selasar Barat Fisipol, saya dan Badrul kemudian menghadiri pertemuan para ketua lembaga mahasiswa UGM di Kedai Jamur. Kami berdua datang terlambat, sehingga hanya sedikit informasi yang bisa kami ikuti. Setelah itu, Badrul pulang lebih dulu. Dan tak lama kemudian, acara pun habis dan kami semua pulang ke tempat tinggal masing-masing.

Saya pun pulang menuju asrama. Setibanya di asrama, ada acara family meeting membahas open recruitment untuk angkatan 8 Rumah Kepemimpinan. Bagi saya, rasa-rasanya baru masuk ke asrama, dan kini sudah hampir lulus. Di acara itu juga ada pengumuman peserta terbaik Rumah Kepemimpinan, dan ternyata namaku ada di dalamnya, bahkan menjadi National Young Leaders di bulan November 2015. Alhamdulillah, Allah SWT selalu memberikan yang terbaik dalam kehidupan ini. Ini sebenarnya adalah pengingat bagi saya secara pribadi untuk terus-menerus tawadhu. Seringkali, saya dibuatnya angkuh dan lalai akibat prestasi.

Sehabis itu pula, ada Ibu dan Bapak menelepon. Mereka menanyakan kabar. Saya ceritakan semua yang saya alami selama kurang lebih seminggu ini. Mereka pun mensyukuri sekaligus menasihatiku. Saya pun menndengarkan baik-baik perkataannya, bahwa sebenarnya, saya harus menjaga diri sebaiknya. Saya adalah harapan mereka, bahkan bisa dibilang sebagai tulang punggung, kelak. Dari sekian banyak orang sebenarnya yang berperan dalam kehidupan saya ini, adalah mereka yang selalu hadir mendoakan kesuksesanku dalam narasi do’a-do’anya.

Oiyah, kemarin juga ada Bu Sri Wagini, Guru Kewirausahaan saya di SMKN 26 Jakarta yang menelopn saya. Bliyo kangen betul dengan saya dan mengutarakan keinginannya bertemu saya. Namun sayang, karena waktu yang tidak memungkinkan, kami menyepakati untuk bertemu di bulan Januari, Insya Allah.

Ada juga, teman yang kuanggap adik sendiri, Fawaz (karena usia kita terpaut 5 tahun) yang hadir ke Jogja. Lagi-lagi, karena waktu yang kurang meungkinkan pertemuan, kami berencana bertemu di Jakarta lagi. Pada intinya, banyak orang yang ke Jogjakarta dan kemudian mengabarkan dirinya ada disini. Saya selalu memelihara keyakinan bahwa mereka dan saya pada prinsipnya saling mengingatkan. Tiada pernah niatan di hati untuk melupakan setiap orang-orang yang sudah menjadi bagi hidup saya ini. Mereka semua adalah orang-orang tersayang, bagi saya. Begitupun kau, Dek.

Semoga, kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT.

Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia

Alhamdulillah

Bertugas, Bung

Mahasiswa Kampus Kerakyatan

Hari ini, ada beberapa kegiatan yang saya lakukan. Mulai dari mendiskusikan tugas “politik representasi” terkait Dewan Kehutanan Nasional, menyambi tugas mata kuliah yang lain: manajemen resiko, politik keuangan negara, pengembangan kapasitas dan organisasi publik, dan menghadiri konsolidasi bersama mahasiswa UGM.

Yang terakhir inilah yang menarik. Tadi sore, ada sekitar 28 biji yang ikut berkumpul untuk mendiskusikan kecemasannya terkait penarikan biaya kkn dari kantong pribadi mahasiswa sebesar dua juta rupiah. Padahal, bila kita mencermati hadirnya UKT adalah sebagai upaya untuk mengurangi beban mahasiswa, bahwa tidak akan ada lagi biaya pungutan lain yang dilakukan Universitas.

Kami semua telah mengeluarkan sumbangsih pemikiran, argumen, gagasan mengenai sesuatu yang dapat kami lakukan bersama. Pada akhirnya, tercapailah sebuah kesepakatan bahwa elemen yang hadir dalam konsolidasi tadi akan bergabung dengan elemen yang sebelumnya telah terbentuk. Sebab, isu yang dikawal adalah sama. Sehingga, sudah saatnya kecemasan ini ditangguh bersama dan tak lagi menjadi kegelisahan beberapa orang saja.

Di sini, yang pasti kami takkan diam dengan kondisi yang demikian. Akan terus bertambah orang merasakan kegelisahan yang sama. Bersiaplah, Pak, Buk, di Rektorat. Ciyaaatt…

 

Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia

Cemas KKN 

Ujian (Lisan)

ujian lisan

“Bahwa hidup adalah ujian”.

Ujian yang membuatmu terkadang merasa takut mengerjakannya, sehingga kamu memilih berani curang.

Ujian yang membuatmu menjauhkan yang dekat, sehingga yang dekat menjauh darimu.

Ujian yang membuatmu melupakan ‘Yang Satu’, sehingga kamu lebih memilih ‘Yang Seribu’.

Saya, hari ini, mendapat ujian Teori-teori Sosialisme. Mata kuliah yang asalnya dari jurusan Hubungan Internasional itu saya ikuti. Pengampu mata kuliah ini ialah Mas Eric Hiariej. Seorang yang saya kenal begitu asyik dalam mengajar. Tak perlu ia gunakan slide ppt, tinggal maju dan bercerita. Jumlah mahasiswa yang sedikit dalam mengambil mata kuliah ini sekiranya menjadi pertanda aneh. Mengapa dosen semenyenangkan ini hanya sedikit orang yang mengikuti?

Setelah saya mencari informasi dari berbagai macam sumber terpercaya, saya mendapati beberapa faktor:

1. Kelas ini dianggap milik sekelompok orang revolusioner (agak lebay). Dengan tampilan celana jeans robek atau pun celana bahan cingkrang, semua boleh ikut. Asalkan punya jiwa ke kiri-kirian. Menolak sikap opresif dan menjadi penyayang kaum mustadh’afin. Begitulah kiranya gambaran mahasiswa yang mengikuti kelas ini.

2. Mas Eric memang terkenal dengan ‘pelit nilainya’, sehingga banyak orang yang gentar. Bayangkan, menurut salah satu orang paling cadas di sospol, Alif. Meski orangnya begitu, tak punya gaya selain ‘yang itu-itu aja’ saat di foto, dia orang dengan nalar berpikir taktis. Namun, di mata mas Eric, orang macam begini cuma dihargai A/B. Hmm, bagaimana dengan saya? :/

3. Nah, yang bikin kocar-kacir mahasiswa untuk tidak memilih mata kuliah ini adalah UAS-nya yang lisan. Bagi sebagian orang yang pandai gugup, tentu saja ini menjadi masalah besar. Meski sudah belajar seminggu tanpa henti, tiba-tiba di hadapan Mas Eric saat ujian lisan, dan, wacetaaarrr… Ngebleennggg!!!! Sungguh menyedihkan pastinya bagi mereka. Mereka pun tergolong menjadi orang-orang yang tak beruntung.

Memang, tokoh yang saya ceritakan ini menjadi demikian fenomenal. Tapi, saya malas menceritakan kefenomenalannya. Mending, silakan kamu tanyakan pada mahasiswa-mahasiswa HI saja ataupun orang-orang yang sudah banyak mengenalnya. Insya Allah, dijawab, koq.

Beruntung, ujian lisan tadi tidak semenegangkan yang apa kata orang, Meski saya dihantam pertanyaan secara bertubi-tubi, tapi saya tak mau pasrah. Saya menghindar, menyerang, dan mendo’a agar Mas Eric berbaik hati pada saya untuk tidak memberi nilai yang buruk-buruk amat. wkwk

Tapi bukan soal nilai sebenarnya yang saya pikirkan. Adalah Badrul, sang buaya darat–yang pacarnya ada 5–yang menjerumuskan saya ke dalam kelas ini. Sampe hari ini saya masih kepikiran. Betapa tidak. Dia telah seenaknya mengobrak-abrik KRS-an saya secara sepihak. Emang, bangke tuh bocah. Tapi, setelah saya pikir-pikir lagi tak mengapa. Saya syukuri itu. Berkat Badrul, saya bisa mengenal Mas Eric yang kata orang-orang asyik kalau mengajar. Dan di situ, saya bisa membuktikan bahwa ucapan orang-orang yang nyampe ke telinga saya bukan omong kosong. Terima kasih, Badrul.

Setelah beres ujian lisan. Saya pun mempersiapkan diri untuk malam mingguan sama teman-teman asrama. Rencananya, kami mau ke bioskop nonton film “Bulan Terbelah di Langit Amerika”. Singkatmya, kami berangkat. Meski bersama para cowo-cowo jomblo, saya berusaha menikmati setiap adegan di film walau dengan tetes air mata di dalam hati. Saya tutupi itu dengan senyum tipis dan sesekali tertawa ngekek. Sebab, ini bioskop coyy. Lihatlah sekeliling. Ada banyak muda-mudi yang sedang berdua. Saling bertatapan penuh mesra. Mereka membeli popcorn dan saling menyuapi. Betapa menyenangkan dunia. Lah, saya? ngenes.

Ok, fine. Kapan-kapan, kita nonton bareng yuk, Dek. Nunggu halal.

 

Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia

Malam Minggu Kelabu

 

 

 

Belajar Dari Sendal Jepit

sandal11

Hari ini, saya menjalani rutinitas. Seperti biasa, Jum’at pagi adalah waktunya tahsin di asrama. Pertama-tama, saya dan juga anak-anak asrama dengan semangatnya berlarian ke luar, ke sana, ke mari, mirip semut yang berseliweran. Ketika muncul aba-aba tanda pelajaran dimulai, kami semua segera berbaris rapi. Ditemani sawah depan asrama yang tampak menghijau, kami memulai pagi dengan sama-sama memanjatkan doa pengikat ilmu sekaligus membaca surah-surah pendek Al Qur’an.

Sudah beres melakukan itu, kami masuk ke dalam asrama dengan terlebih dahulu ‘menyalim’ pada Mas Heri, sang guru, juga Mas Adi, suvervisor tercinta. Tapi, ada kebiasaan dari kami yang buruk dan selalu membuat Mas Adi gemas ingin mencubit pipi kami satu per satu. Adalah sendal jepit yang dikempit, digunakan untuk menginjak-injak, dan dipergunakan untuk menutupi kaki yang bau. Sendal jepit ini ditaruhnya secara berantakan.

Mas Adi yang terkenal baik hati sejagat asrama tiba-tiba berubah menjadi makhluk super-duper menyebalkan. Bliyo segera mencak-mencak dan kemudian selalu membuat kami ‘nyessss’ dengan mengatakan: “Kalian, dalam mengurus urusan sendal jepit saja sudah tak bisa, bagaimana mau mengurusi negara”. Begitulah bliyo. Perkataan yang tersirat nilai nasihat di awal pembinaan memang masih menjadi senjata andalan. Tapi kini? Abaikan. hahaha

Balik ke sendal jepit. Karena ucapannya yang cenderung dianaktirikan, Mas Adi seringnya mengadu pada media sosial, juga kepada Allah pastinya. Mengapa anak binaannya menjadi sedemikian kamfret begini. Dalam hati, ia semestinya menyebut nama-nama yang berulah agar diberi azab yang pedih. Agar, kelak, takkan ada lagi soal seperti ini.

Memang, sendal jepit mempunyai daya magis tersendiri di asrama kami. Wujudnya yang begitu dan saya bingung untuk mendeskripsikannya memberi manfaat yang cukup luar biasa. Terutama di musim hujan. Siapa mau berangkat ke kampus dengan sepatu dan kaus kaki basah? Adalah sendal jepit yang kemudian menjadi opsi bersahabat yang layak menemani kami ke kampus.

Dalam hal lain, sendal jepit juga berfungsi sebagai pembalut kaki. Bukan pembalut yang lain. Ia yang menemani saya saat syuro dengan teman-teman dema fisipol, pergi ke masjid dekat asrama, ke kosan teman, dan berbagai petualang lainnya. Pernah suatu ketika, saat saya pergi ke suatu negara, saya hanya membawa sepatu pantopel (yang masih saya gunakan hingga kini disaat apel, pemberian dari guru stm saya, loh J terima kasih bu guru) dan lupa membawa sendal jepit. Betapa menyiksanya hidup tanpa sendal jepit. Kemana-mana, entah itu presentasi, menjadi stand, bahkan ke kamar tidur, saya harus gunakan sepatu pantopel. Alhasil, kaki lecet. Ini serius.

Hari ini, saya yang bangor ini kemudian diingatkan kembali oleh peristiwa penuh inspirasi. Begini, saya sekitar pukul setengah 11 pagi tadi, sehabis dari kampus menyempatkan untuk mengejar sunah: tidur kailullah. Saya yang khawatir bablas Jum’atan meminta anak-anak asrama membangunkan. Beruntung, ada Dodik yang membangunkan. Saya pun yang sudah mandi hanya mengambil wudhu untuk kemudian berangkat bersama Dodik menuju Masjid Darusslam di Jalan Kenanga(n), ehhh.

Sesampainya di sana, saya pilih menunaikan shalat Tahiyatul Masjid untuk kemudian duduk manis mendengar khotbah yang akan segera dimulai. Khotbah berjalan lancar. Pesannya pun dapat saya tangkap. Intinya, si penceramah menganjurkan agar kita tidak merayakan apa-apa yang telah menjadi kebiasaan kaum kafir, semisal: merayakan tahun baru dengan terompet itu sama dengan mengikuti yahudi, lonceng itu nasrani dan kembang api itu majusi. Ia menolak kita semua merayakan keintiman dengan malam tahun baru yang sama sekali tak pernah diajarkan Rasulullah.

Kita tentu bisa berdebat mengenai soal ‘ikut serta merayakan tahun baru’. Tapi, saya ingin bercerita soal lain. Ditengah-tengah khotbah, saya yang matanya suka jelalatan melihat ke sana-kemari. Barangkali ada fenomena ataupun realitas sosial menari yang bisa saya amati. Belum saja bibir ini mengeces, saya mendapati Duta; ya, Duta Sheila on 7 mampir ke muka saya. Dengan baju merah lengan pendek dan sarung kotak-kotak, juga ditemani beberapa bocah (saya lupa jumlahnya, 1, 2, atau 3), ia bergabung bersama jamaah lainnya. Membaur tanpa ragu dengan kita-kita yang bau ketek.

Sebenarnya, biasa saja bagi saya yang anak Ibukota dan sering bertemu artis papan atas. Tapi, saya beritahukan kepada Dodik, teman saya yang agak ndeso, dari Sidoarjo pelosok. Saya bisikkan padanya:

“Dik, liat, baju merah itu. Vokalis Sheila on 7, Duta.”

“Yang mana pat?”

“Itu, dibelakangmu”.

“Hmm, koq aku baru ngeh ya”.

Kemudian, beberapa saat, Dodik menceritakan ke Hafiq, dan Hafiq seolah tak mau ketinggalan turut memberitahukan kepada Azzami, begitu pun ke Ozan. Akhirnya, semua mirip ndeso layaknya Dodik. Berkata wahh, wahhh, wahhh.

Tentu saja, narasi ini dibuat agak lebay, tapi tak mengubah satu-dua-atau seluruh substansi. Saya pun yang berangkat ke Masjid bersama Dodik mesti kembali bersama Dodik. Kesetiaan itu yang membuat kami sampai kini begitu mesra. Pantas saja, kami dianugerahi sebagai TimSat terbaik karena kekompakkan kita sewaktu masih sekamar di semester 2 (tentunya, ada partner in crime lainnya: Arif, Ditta, Jaden, Fitri). Saya lekas menggunakan sendal untuk kemudian pulang menaiki kursi kosong yang tersedia di belakang Dodik sambil sesekali melirik Duta.

Di perjalanan pulang, Dodik berujar.

“Fath, kenapa kamu gak mau foto sama Duta?”

“Ahh, gak usahlah Dik”

“Kenapa memangnya?”

“Saya mah gak suka. Biar nanti, kalau sudah sukses dan jadi Presiden, orang-orang yang bakal minta foto sama saya”

“Aamiin (dalam hati)”

Motor yang digas Dodik pun sampai di halaman parkir asrama. Saya yang ingin segera belajar untuk ujian lisan teori-teori sosialisme besok terperangah menyaksikan sendal jepit yang saya gunakan berubah warna, bentuk, dan kepemilikan.

“Waduh, bajigur. Sendal siapa yang gue pakek?”

Dodik yang melihat saya seperti orang keder menanyakan.

“Kenapa, Fath?”

“Ini Dik, sendal jepit siapa? Waduh, punya orang. Malu ini mau balikin ke Masjid. Di sangka nyolong sendal jepit ”

“Sudah, balikin saja Fath. Kasian yang punya. Mungkin, orangnya masih nungguin.”

Ucapan Dodik yang demikian itu: orangnya masih nungguin, membuat saya memberanikan diri menyuruh Ozan balik kanan mengantar saya, padahal motornya baru hingga di parkiran.

“Zan, anterin gue ke Masjid. Sendalnya ketuker. Zzzz”

“Walah, yaudah, yaudah”

Dengan berat hati, Ozan mengantarkan saya ke Masjid. Saya yang ketakutan meminta pertolongan dari Ozan untuk membantu menerangkan kepada si empunya sendal jepit yang telah saya bawa ini. Ozan pun mengiyakan sekaligus menenangkan.

Setibanya di Masjid, saya yang awalnya takut memberanikan diri. Saya tanyakan kepada seorang Bapak yang berdiri di dekat situ terkait dengan “apakah ada orang yang merasa kehilangan sendal?” Tapi bapak itu tidak tahu. Namun, sendal jepit milik saya masih berdiri gagah meski dipenuhi debu jalanan. Saya yang melihat masih ada beberapa Bapak di dalam Masjid meyakini bahwa si pemilik sandal jepit yang saya salah bawa tadi masih hinggap di dalam. Akhirnya, saya ambil yang menjadi hak dan mengembalikan yang bukan hak saya.

Dan, kemudian, saya kembali ke asrama. Selanjutnya, meng-updete status.

Isinya, kira-kira begini:

Status Alfath

Cerita ini pun berakhir di sini. Pelajaran yang bisa dipetik adalah,

Saya memang mengagumi kejujuran. Sebab, kejujuran adalah barang mewah. Jika saya kebetulan pernah diajak bercerita tentang kehidupan yang saya alami, tanpa ragu saya pasti akan maju untuk tampil menceritakan sebenar dan sesungguh kenyataannya. Dan dengan ketegasan yang mantap pula, saya akan membawakan pelajaran ini kepada orang-orang di sekeliling saya, dan juga kelak anak-anak kita, Bun.

Kendatipun saya sempat meragu untuk jujur dengan kembali ke Masjid atau tidak, pada intinya Allah membantu saya untuk tetap jujur melalui orang-orang di sekeliling saya. Meski ada satu-dua orang yang tak sepakat dengan sikap saya ini, itu kamfreett belaka, yang penting kejujuran harus ditegakkan.

Dalam tafsiran yang sederhana, tulisan ini bisa saja kita anggap sebagai upaya perayaan diam-diam dari “saya kepada kamu” bahwa saya sepenuhnya ingin menegakkan janji. Maka karenanya, tiada salah jika kemudian saya membayangkan, suatu saat akan muncul pula cerita-cerita kehidupan tentang kita yang tak kalah menarik dari cerita-cerita eftivi. Sebagaimana, saya yang berusaha dengan sabar, perlahan, dan pasti untuk membaca dan menuliskannya. Kemudian, kita saling mendiskusikannya dalam balasan-balasan tulisan yang imajinatif layaknya Ben Anderson memunculkan imagined community. Maka, jangan heran, suatu saat nanti akan ada imagined love, karya kita.

Semua sudah terbaca, koq. Terima kasih sendal jepit kesayangan saya :)

Bergairah

bergairah

Entah kemasukan apa, saya ini seperti orang kesetanan. Hampir selalu saja diri ini merasa bergariah setiap kali bertatap muka dengan orang banyak. Memang, sewaktu-waktu pernah lesu, tak semangat, dan menghindar. Tapi itu bukan saya.

Bergairah…

Begitulah saya menyebutnya. Ini bukan soal ‘saru’, tetapi lebih kepada ghirah yang dibangun oleh saya pribadi untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban hidup. Sehingga, pada tiap gilirannya saya menjalankan amanah atau bahkan dimintai bantuan, asalkan menurut saya itu baik, pasti saya berlapang dada menerimanya.

Ini soal manfaat. Bukan begitu, Bung?

Tapi jika kita berandai ini adalah sebuah ingin; ingat, bahwa hidup ini tak cukup bisa mengerti semua inginmu, juga saya punya ingin. Manusia memang prinsipnya terlalu banyak ingin. Tapi, pastikan, ini bukan sekedar ingin. Ini adalah kebutuhan untuk mencapai manfaat tersebut.

Di sudut ruang sempit itu, saya begitu asyiknya menikmati kompatriot mahasiswa bersenandung dalam larutan dzikir dan do’a, menghapus rintihan kaum miskin-papa. Semoga, kelak dunia kembali bergairah.

Mengabdilah padaNya, dan itulah sejatinya pengabdian seorang hamba. Sebab, cuma Bliyo Yang Maha Pembikin Gairah.

 

Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia

Sedang Bergairah