3I dan 1B
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Monthly Archives: December 2015

3I dan 1B

mama dan papa

 

 “Untuk Ibuk, Ibuk, Ibuk, dan Bapak… yang membebaskan saya dari PENINDASAN.”

Duduk santai. Menikmati waktu senggang yang terkadang melenakan. Ditemani gemericik hujan dan dingin yang menyekap, saya erat-erat memegang hp dengan layar terbuka menunjukkan foto Ibuk dan Bapak; memegang kertas kuning besar bertuliskan, “Alfath….Kami titipkan kamu kepada Allah Swt. Jadilah manusia cerdas dan berintegritas.”

Pikiran ini pun kemudian bertolak menuju 18 tahun lalu. Masih lekat dalam ingatan saat saya berbaring. Ibuk dan Bapak meletakkan tangannya dikepala saya. Mengusap dan membelai rambut, leher, juga dada saya dengan lembut. Menggenggam jemari dan memijati kaki yang masih rapuh. Saya rindu.

Kembali ke hari ini. Saat duduk santai ini, jujur, saya memikirkanmu, Buk, Pak, yang entah bagaimana, saya terus melihat foto itu dan membayangkan kalian hadir di sini. Hanya mampu memeluk kalian dalam doa-doa sehabis Shalat.

Oh iya.. Buk, Pak, Anakmu kini sudah memelajari sedikit tentang kehidupan. Dan dengan yang sedikit itu, anakmu hanya baru bisa berkata bahwa hidup kita, manusia ini tidak baik-baik saja.

Begini. Anakmu ingin menceritakan tentang realitas sosial yang tak banyak dipandang penting orang banyak. Di sekitar UGM misalnya, tepatnya di perempatan Jakal, ada seorang anak kecil yang menjajakan koran. Juga, seorang Bapak yang duduk di temaramnya malam di dekat jembatan penghubung fakultas pertanian dan kedokteran hewan sedang berjualan keranjang (baju). Ada lagi, seorang Anak yang menuntun Ibuknya di atas sepeda ke arah Jakal atas sehabis berjualan sayur-mayur. Mereka ini saudara kita kan, Buk, Pak? Mereka ini sama kan seperti kita saat ini? Sulit.

Di sini, saya kemudian tersadarkan perkataan Marx yang seolah ingin memberitahu jikalau ide-ide yang dominan dalam masyarakat adalah ide kelas berkuasa. Ide yang berkuasa kini, kapitalisme, telah membuat kita abai terhadap realitas sosial yang tersebutkan di atas. Bayangkan, musuh yang satu ini telah mengajarkan bahwa kerja adalah sumber segala kekayaan dan ukuran dari semua nilai. Sedangkan, modal menjadi kunci. Ia menjadi pelecut orang untuk bekerja lebih, sehingga mampu menghasilkan sesuatu yang lebih dan lebih pula.

Di titik ini, saya memahami Buk, Pak, kalau kita semua menjadi semacam manusia robot. Di porsir tenaga, pikiran, dan waktu untuk memenuhi keinginan kelas berkuasa. Tak ada lagi ruang bagi kita untuk memikirkan selain dari diri kita. Maka, pantaslah ketimpangan masih dan akan terus terjadi.

Mengubah dunia pun tak semudah Jonru berucap. Ada banyak orang egois, di sini. Seorang yang egois tidak akan mencari kesalahan, kealpaan, dan kekurangan yang ada dalam dirinya, tetapi ia pasti akan selalu menyalahkan orang lain sebagai penyebab kegagalan dan ketidakmampuannya. Begitu pun kapitalisme bekerja. Mereka akan mengatakan bahwa orang-orang seperti kita, Buk, Pak, juga mereka yang bekerja sebagai penjaja koran, penjual keranjang, dan pedagang sayur adalah orang-orang yang malas bekerja. Sehingga, kita selamanya menjadi makhluk yang layak ditindas.

Keparat. Entah apa maksud Tuhan menciptakan makhluk bengis macam ini. Tapi dengan nada lirih, kita patut berbesar hati. Dengan segala sumber daya yang kita miliki, kita meyakini bahwa masih ada hari untuk memperbaiki diri, dan juga orang-orang di sekeliling.

Saya pun menjadi bersyukur kepada Ibuk dan Bapak yang membiarkan saya suka membuat onar, dulu. Saya yang gemar baku hantam bisa belajar menjadi seorang yang berani melawan sekaligus bertanggung jawab. Saya juga bersyukur pernah hidup susah karena dengan itu, saya bisa berada dekat dengan kehidupan mereka yang kerap diabaikan. Belajar tentang kesederhanaan dan menolak kemewahan. Dan satu lagi, saya dibiarkannya masuk perguruan tinggi. Di sini, saya bertemu banyak kompatriot dengan latar belakang dan cara berpikir berbeda. Saya berada di tengah lautan manusia dan saling berusaha melawan arus, agar tidak mati.

Ada satu hal yang mesti kamu tahu, teman. Dunia bukanlah milik satu-dua orang. Bukan milikmu, bukan juga milik saya pribadi; tapi milik kita. Dunia bukanlah tergeletak di depan mata manusia untuk kemudian tinggal dipetik buah-buahnya, tetapi dunia pertama-tama selalu merupakan sesuatu yang kasar dan liar. Dan untuk menjinakkannya, kita perlu menghaluskannya. Kita perlu bersiasat dengan cara bekerja; melakukan secara bersama-sama. Bukan begitu, Buk, Pak? Seperti kita membangun PAUD di rumah.

 

Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia

Selalu Butuh Kebersamaan

Lebih Bijaksana?

filsuf

Saya coba pandangi secara seksama foto itu. Raut dan guratan di wajahnya menyiratkan tentang kebijaksanaan. Adalah para filsuf yang wajahnya menghiasi dinding laman laptop ini. Sesekali saya iseng dan berusaha mencermati detail foto-foto mereka. Salah satu dugaan saya yang paling kuat mengatakan para filsuf di era awal (kuno) rata-rata memelihara jenggot bukan seolah ingin disamakan dengan syeikh. Tetapi agar, ketika mereka berpikir, dan kemudian mereka bingung, ada sesuatu yang bisa dipegang selain jempol. Itu adalah jenggot.

Tapi saya tentu tak akan membahas jenggot. Saya ingin cerita soal lain tentang kita, manusia dalam menjalani kehidupan.

Lahir, berjuang, dan akhirnya mati; entah sebagai siapa, bagaimana, dan untuk siapa. Namun, yang lebih penting untuk kita pertanyakan adalah seberapa pentingkah hadirnya kita bagi sekeliling? Menghadirkan solusi atas permasalahan atau masalah penambah masalah?

Yang namanya masalah adalah sebuah keniscayaan. Tetapi, menyikapi masalah juga merupakan satu hal yang mau tak mau harus dilakukan sebagai pengimbang kehidupan. Andai hidup ini hanya milik masalah dan tak ada ruang bagi sebuah solusi, lantas apakah hidup yang demikian itu bisa disebut hidup?

Masalah pertama di dalam hidup manusia sudah lama terjadi sejak ketika Adam dan Hawa bisa diturunkan Allah ke dunia dan kemudian beranak-pinak. Itu adalah soal nafsu juga, bukan? Buah Khuldi. Dan selanjutnya, anak-anaknya yang tumbuh dewasa saling berperang memperebutkan mana yang lebih cantik; itu juga nafsu.

Berangkat dari sesuatu yang menjijikan”. Itulah kamu, mani + sel telur. Namun, seringkali kamu lupa hingga bahkan tak mau mengakuinya. Kamu merasa lebih baik, lebih terhormat dengan ilmu, kekayaan, pangkat dan perempuan disisimu. Semua orang harus tahu tentang kelebihanmu. Ingat, itu juga merupakan sebuah nafsu.

Pada intinya, kita diselimuti hawa nafsu yang menggebu. Entah untuk merengkuh rupiah, jabatan, ataupun perempuan yang dicinta. Semua dilakukan dan terkadang menghilangkan persoalan kemanusiaan. Kita menjadi tidak bijaksana dalam hidup, sehingga mengambil jalan-jalan yang justru membawa kerusakan.

Mari sama-sama kita gambarkan bahwa hidup ini adalah sebuah pertempuran hidup antara akal dan hawa nafsu. Tidak percaya? Silakan anda buktikan sendiri pernyataan saya. Refleksikan pada kehidupan anda. Bila sudah temukan jawabannya, silakan beritahu saya.

Pertanyaan-pertanyaan refleksi itu bisa berupa seperti ini: Adakah diri ini sebijaksana para filsuf? Adakah diri ini sebijaksana mama dalam Bumi Manusia? Adakah diri ini sebijaksana nabi Daud ataupun Sulaiman? Biarlah kamu sekalian yang menjawabnya dalam waktu selo.

Tentu, bagi saya yang baru saja ‘sertijab’ sore tadi sebagai Pimpinan Dema Fisipol dapat mendekatkan amanah ini kepada Surganya Allah Swt. Namun, juga bisa menjerumuskan saya kepada keraknya neraka.

Dalam usaha ini pula, saya secara terus-menerus bertanya pada pribadi sendiri. Tuhan pasti tahu isi hati, mesti kamu-saya berusaha untuk umpati. Seperti halnya, kamu yang merupakan ketidakmungkinan dan selalu saya semogakan dalam tiap-tiap doa. Itu bisa jadi… nyata.

Menjadi bijaksana adalah sebuah pilihan. Sama seperti halnya mencipta banyak goal atau sedikit. Itu pilihan yang bisa jadi berujung nafsu. Lihat, kujanjikan goal sahaja untukmu.*

*Fyi: saya ciptakan kemarin sejumlah 5 Goal.

Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia

Menjadi Lebih Bijaksana

Memikirkan Politik

politik

Bermula dari kesalahan dalam memaknai politik. Akhirnya, tindakan politik para pejabat pemerintah salah orientasi. Politik yang seharusnya menjadi ladang ibadah yang mendatangkan pahala, justru berujung dosa.”

Lihat saja panggung politik nasional. Ada serangkaian drama menarik disana. Dari yang ‘tedjo’ seperti mengatakan rakyat pembela KPK tidak jelas, sampai yang jelas terang seperti misalnya upaya pelemahan penegakan korupsi dan hukum.

Situasi politik yang carut-marut ini memaksa kita berpikir kembali setidaknya dalam dua hal. Pertama, apa itu politik? dan kedua, mengapa politik Indonesia kondisinya carut-marut?

Untuk menjawab pertanyaan pertama, kita bisa meminjam istilah Laswell yang mengatakan politik ialah persoalan “siapa mendapatkan apa, kapan dan bagaimana”. Kata ‘siapa’ merujuk aktor politik. Kemudian, ‘apa’ mengarah sumberdaya (kekuasaan). Selanjutnya, ‘kapan’ menunjuk momentum. Terakhir, ‘bagaimana’ kaitannya dengan strategi.

Dahulu, rakyat Indonesia menaruh perhatian yang besar kepada aktor-aktor politik. Sukarno, Sjahrir hingga Hamka, mereka adalah sosok penuh jasa. Catatan hidupnya yang kaya akan inspirasi itu kekal dalam ingatan sejarah, terkhusus pada generasi orangtua kita. Mereka mengelola sumber kekuasaan dengan sebaik-baiknya. Visi mereka satu: apapun yang dilakukan, semua untuk rakyat.

Momentum waktu itu tepat. Indonesia yang baru seumur jagung memerlukan pemikir sekaligus pejuang yang mampu memerdekakan bangsanya secara lahir dan batin. Sehingga politik yang dilakukan adalah pengabdian. Strategi yang dilakukan adalah mencerna dan memahami betul jalan-jalan ideologisnya.

Dari elaborasi di atas, dapat disimpulkan bahwa aktor-aktor politik terdahulu menjunjung tinggi visi. Maka tindakan politiknya berorientasi pengabdian. Sehingga, politik diartikan kekuasaan mengatur kepentingan rakyat, bukan hanya dilandasi nilai-nilai ideologis, tapi pemahaman visi yang dalam.

Menjawab pertanyaan kedua, politik Indonesia yang carut-marut ini bisa terjadi karena munculnya kesalahan dalam memaknai politik. Waktu tepatnya penulis tidak tahu. Tapi yang jelas saat politik dijadikan komoditas dagang dan alat pemuas nafsu kuasa. Kesalahan inilah yang membuat terjadinya praktik korupsi, penyelewengan kekuasaan, dan tindakan buruk lain yang biasa dilakukan penguasa.

Masyarakat yang pada awal kemerdekaan begitu percaya dengan hadirnya aktor politik, kini lambat laun terkikis kepercayaannya. Tak banyak dari kita yang masih berharap dan menaruh kepercayaan kepada pemerintah.

Begitulah Indonesia. Pemerintah sudah biasa bermain-main dengan ‘janji’. Namun hingga kini, rakyat tak pernah merasakan perubahan yang membuatnya benar-benar bahagia dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga pada akhirnya rakyat tak mau lagi bersentuhan dengan politik.

Masih banyak derita, kepada mereka yang makan nasi aking setiap harinya, pelajar SD yang harus melewati jembatan maut menuju sekolahnya, juga para ibu yang menggendong anaknya dijalanan sambil mengiba. Sementara penguasa hanya memikirkan kelanjutan kekuasaan dan mengambil yang bukan haknya.

Perlu diketahui, terciptanya politik bertujuan untuk mencapai tatanan masyarakat yang lebih baik. Artinya, politik tidak mengajarkan kita tentang kejahatan.

Kini orang yang sadar pentingnya politik sudah berpikir. Politik nasional harus diisi oleh mereka yang memiliki kemampuan melaksanakan visi, misi dan tujuan membangun bangsa. Maka hal paling urgen untuk diselesaikan adalah partai politik harus menjalankan fungsi rekrutmen secara baik. Partai politik adalah gerbang masuknya aktor politik. Maka seharusnya, partai politik mampu memilih orang-orang terbaik. Mereka bukanlah pemodal, artis, ataupun orang biasa tak tahu apa-apa yang dijadikan ‘pesuruh’. Dan perlu diingat, siapapun bisa masuk partai politik, tapi tidak semuanya bisa dicalonkan dalam pemilu.

Pada akhirnya, tindakan para aktor politik masa kini mengubah definisi ‘politik’ menjadi sesuatu yang mengerikan. Ibarat iblis, ia akan menjerumuskan manusia pada lubang kehinaan.

Sehingga kita tidak perlu lagi menyalahkan politik. Sebab politik tak pernah salah. Yang salah dan bermasalah adalah mereka yang berpolitik dengan cara tidak baik.

Maka tugas kita adalah memikirkan politik. Memikirkan cara agar politik kembali pada hakikatnya, membuat rakyat bahagia. Memikirkan politik memang membutuhkan suasana hati yang jernih, terbebas dari tuntutan jahat yang terus mengajak pada perbuatan menyimpang dan berujung dosa. Kelak, hanya pada mereka yang mau memikirkan politik lah, bangsa Indonesia dititipkan. Demi kebajikan umat manusia hari ini, esok dan seterusnya.

 

 

Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia

Terus Berpikir

Perbaikan Kecil

Perbaikan

 

“Letakkanlah tanganmu pada keyboard. Ketiklah kata-kata yang ingin kau ramu. Daripada menjadi sampah di otak.”

Hari ini, ditemani langit-langit sore Ngabean Kulon yang menangis. Ia seolah ingin bilang kepada saya, “kalau saja, Alfath punya atau paling tidak menyempatkan waktu sedikit saja, setiap hari memandanginya, ia akan bersinar, cerah, dan sumringah. Ia takkan bersedih”

“Tapi maaf, Langit. Saya telah punya banyak urusan. Amanah yang tak kunjung henti membuat saya cenderung mengabaikanmu. Hingga saya pun memilih untuk kerja, kerja, dan kerja”. Sebuah rutinitas yang membikin saya terus berpikir hal-hal besar, tentang dunia. Namun, melupakan untuk rehat sejenak; memikirkan hal kecil semacam memandangmu, meski sedetik.”

Kata-kata ini terus saja membayangi. Ibarat itik yang mencari induk. Begitulah kiranya saya yang terus diikuti oleh bayang kata-kata ini. Sebagaimana wahana ini, yang sengaja saya beli dengan rasa perih. Menghimpun uang sedikit demi sedikit dari kantong yang kempis. Tapi, karena memang kegemaran. Saya usahakan, upayakan, dan terus mengikhtiarkan. Dan kini, ketika wahana itu ada, dan lantas saya abai. Entah dengan alasan apapun, sibuk atau lainnya. Sehingga, saya terus melupakanmu.

Baiklah, biar saya bisikkan sesuatu. Entah ini buatmu suka atau tidak.

“Sedari kini, saya menyadari betapa bersyukurnya hidup dengan segala fasilitas yang tersedia, dengan kenyamanan, dengan segenap apapun yang ada. Termasuk kamu, sebagai pengingat, pencetus, dan penginspirasi. Saya, mulai kini akan memeliharamu, melihatmu, bahkan mendekatimu. Dengan ini: kata-kata.”

Langit boleh saja bersedih. Tapi, bolehkan saya meminta maaf?

Ini janji saya, padamu: perbaikan kecil.

 

Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia,

Bisikan Yang Menggairahkan

Masa Spasi

spasi
Tulisan ini sudah pernah di post sebelumnya di notes facebook, akan saya tuliskan kembali di sini.”
***
Di siang yang mendung ini saya ditemani sebuah buku gaban berisi catatan pinggir milik Goenawan, juga setumpuk koran-koran langganan—Kompas dan Republika. Sembari ngupil, saya elus satu per satu halaman. Bukan main asyiknya menikmati bacaan, dan juga ngupil yang selalu membikin saya ketagihan. Rabu adalah hari yang tak begitu padat bagi saya, sehingga saya bisa semena-mena meluangkan waktu untuk hal-hal yang saya gemari: kliping koran.
Namun, saya sedikit terusik dengan suara-suara yang asalnya dari hp yang umurnya belum genap sebulan ini. Kurang ajar. “Siapa yang daritadi membikin rame ini hp”, gumam saya. Saya buka WA dan.. Oh.. grup NASRI 7 yang chatnya sudah mencapai 300an lebih. Ada apa ini rame-rame? Apa sawah depan asrama sudah dibeli sama investor dari Jakarta untuk dibikin apartemen? Atau seperti biasa, ucapan “Barakallahu” dalam tiap hari ulang tahun, kemenangan atas prestasi, atau setiap kabar gembira—termasuk pesta nikah menejer RK yang bentar lagi? Hmm.
Dan begitu saya cek, ternyata eh ternyata sedang ada diskusi membahas……….taraaaa: Pemilwa. Ungkapan ngehek macam elitis, sok suci, sombong, geli, eksistensi, yang pokoknya “pokoknya” serta merta muncul. Setiap peserta diskusi pun merasa dirinya fasih ‘politik’ dan layak disejajarkan dengan para pengamat politik level nasional. Satu hal: saya suka.
Di sini, saya dibuatnya bahagia. Sebab, anak-anak RK nyatanya melek politik, mau tahu politik, dan berani ngomongin politik. Terlebih, argumen yang dibawa dari masing-masing individu yang ikut dalam diskusi berbeda.
Saya patut berterima kasih, mula-mula, kepada Azzami, capresma BEM KM UGM 2016 yang mengurungkan niat tuk di ‘capresmakan’ lantaran sudah mau memantik diskusi. Agak menarik memang. Ia memulai diskusi sedari pagi tadi yang mendung dan pemilwa yang sepi ini dengan selentingannya yang mengatakan, “Ngomong2 Pemilwa, aku jarang lihat anak2 asrama yang katanya asrama kepemimpinan ini terlibat dalam proses politik kampus ini.. Bahkan anak2 asrama yang katanya rumah kepemimpinan ini ketika anak2 lain belajar langsung di lapangan ttg sebuah proses politik ini, mbug di mana anak2 asrama. Apakah lebih senang jadi pengamat? Ah engga juga, kelihatannya tidak ada komentar yang cukup baik atau gagasan lain yang menggugah. Lalu… Sempet kepikiran satu hal ketika diskusi semalam di sela-sela jagain bambu utk pasang baliho. Keren juga mungkin kalo asrama yang mengklaim sebagai rumahnya pemimpin meliburkan semua agendanya dan merekomendasikan semua peserta utk terlibat Pemilwa ini. Membumikan dan memperjuangkan nilai-nilai yang telah diajarkan hehe..”
Selentingan itu bukan dijawab riuh tepuk tangan. Justru sebaliknya, kontroversi. Sesegera pembina, dan teman-teman secara membabi-buta merespon. Ada positif, juga negatif ditambah beberapa penggembira sebagai pemanis diskusi.
Hafiq dan Ila adalah yang meragu dengan arah gerak perpolitikan kampus ke depan. Bagi mereka, ajang Pemilwa ini tak ada ubahnya sebagai perwujudan eksistensi dari masing-masing golongan. Tak lebih, Pemilwa hanya melahirkan tokoh-tokoh yang semakin elitis. Selain itu, alih-alih mengabdi justru membuat presiden mahasiswa lulus lama. Pengabdian yang sesungguhnya kepada masyarakat di dunia pasca kampus harus tertunda.
Adapun yang mengimani bahwa Pemilwa adalah proses sakral yang akan melahirkan pemimpin kampus adalah justru Isdhama—utamanya bukan teman-teman RK7—Kakak kita yang sepuh tapi masih doyan ngurusi urusan kampus. Baginya, kelak, berlangsungnya proses dan pemimpin yang dilahirkan bisa memberi sedikit gambaran atas masa depan bangsa yang Cuma Tuhan yang tahu. Untuk persoalan elit, sebagai Kakak, bliyo berusaha meyakinkan bahwa adik-adiknya ini sedang tersesat dan tak tahu arah jalan pulang, sehingga harus diberitahu. Menurut bliyo juga, elit sebagaimana yang disebut Hafiq dan Ila adalah perspektif dari mereka pribadi yang “merasa” tidak punya kedudukan di kampus. Intinya, perspektif itu bisa hadir hanya karena orang tersebut memiliki mental terjajah.
Kedua pandangan ini bila ditarik lebih jauh sarat akan persoalan sepele: gegara ndak ada anak RK dalam ajang ini. Klaim RK sebagai sarangnya pemimpin dalam hemat Azzami seketika ambruk, tapi tidak untuk orang macam Hafiq dan Ila. Akhirnya, menang-kalah yang kemudian menentukan posisi untuk kemudian bisa membuktikan seberapa jauh kebermanfaatan mereka bagi orang banyak: mengabdi.
Untuk menjelaskan persoalan ini, kita mesti belajar pada Lester G. Thurow yang menulis The Zero Sum Society. Dalam bukunya, bliyo ingin bilang kalau hidup ini cuma permainan: ada menang, ada kalah. Di dunia yang meski banyak pemudanya menjomblo, namun sudah berstatus tidak lajang ini, tak semua orang bisa jadi pemenang. Sebagian akan harus menerima kekalahan. Di dunia yang sedang tidak baik-baik saja ini, selalu saja ada kompetisi dengan ujung yang tak selalu damai karena ada pihak yang menang dan terkalahkan. Dengan kata lain, yang menang akan dielukan dan kalah terabaikan.
Hari ini, RK sedang berada dalam ‘masa spasi’, begitu sebagian anak-anak RK menyebutnya. Masa ini dianggap sebagai cara untuk rehat sejenak, dari hiruk-pikuk politik kampus. Jenuh? Bisa jadi. Tetapi saya rasa itu bukan yang utama. Tetapi, ada hal lain yang ingin diangkat dari sisi kehidupan anak-anak RK: tawadhu. Yuda, misalnya, yang namanya disebut berkali-kali dalam bisik-bisik bakal capresma nyatanya tidak beranjak dari kandang. Bukan karena tak mampu, Yuda diam-diam lebih memilih mengabdi dengan gagasannya dan dituliskan ke dalam sebuah buku berjudul “Tak Usah Swasembada Daging & Susu”. Yuda, dalam perspektif keikutsertaan dalam pemilwa adalah orang yang kalah sebelum berperang karena tak urung maju ke gelanggang. Namun, dalam hal pengabdian, ia tak bisa dikatakan kalah, ia menang.
Pandangan yang selalu membagi dua: menang-kalah ini memang berbahaya. Padahal, hidup manusia tak seperti hitam dan putih. Sebab apa yang dimaksud sebagai ‘di antara’, ada abu-abu ataupun pilihan warna lainnya. Intinya, hidup ini multiple-choice. Adapun ‘di antara’ yang saya paling suka ialah ketika saya mengagumi pagi, dan kamu mendamba senja. Kita, dua beda yang dipisahkan gemuruh siang. Dan saya masih berusaha mendekatimu di antara amin-amin sepertiga malam.
Selamat menikmati masa spasi, anak-anak RK.