Dedication of Life
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Monthly Archives: January 2016

Dedication of Life

dedication of life

Melihat tulisan adik saya di Dema Fisipol, Dendy, membuat saya berpikir bahwa setiap orang pasti memiliki sumbangsih, jiwa mengabdi terhadap sesuatu dalam hidupnya. Pak Karno menyebutnya: dedication of life.
Mari, kita menyimak dedication of life nya Pak Karno. Cekidot!!!

Saya adalah manusia biasa
Saya dus tidak sempurna
Sebagai manusia biasa, saya tak luput dari kekurangan dan kesalahan
Hanya kebahagiaanku adalah mengabdi kepada Tuhan, Kepada Tanah Air, Kepada bangsa
Itulah dedicaiton of life-ku
Jiwa pengabdian inilah jadi falsafah hidupku
Saya nikmati dan jadi bekal hidupku
Tanpa jiwa pengabdian ini saya bukan apa-apa
Akan tetapi dengan jiwa pengabdian ini Saya merasa hidupku bahagia dan membawa manfaat
Soekarno, 10 September 1966

Saya kemudian agak terharu dengan tulisan adik saya. Betapa tidak. Adik saya ini sudah diproyeksikan menjadi calon kuat pengganti saya sebagai Kepala Departemen Kajian Strategis di Dema Fisipol. Namun, di detik, di mana keputusan itu mesti segera dikeluarkan, ia memilih tuk menolak dinaikkan posisinya (secara formalitas) dan memilih mengabdi sebagai staf.
Saya menghargai keputusannya. Tapi, memang, sekali lagi perlu ditekankan bahwa jiwa mengabdi itu banyak jalannya. Entah menjadi kepala ataupun staf, semua menjadi berarti ketika jiwa mengabdi itulah yang menjadi titik tekannya.

Saya kemudian teringat ucapan Mas Dhama, Abang Pergerakan saya, ketika mengantarkan saya pulang dari Kantor Pusat PPSDMS lalu. Bliyo bilang, intinya, kalau hidup ya persoalan mengabdi. Tinggal mengabi kepada kebaikan atau keburukan. Jangan pernah tanggung-tanggung dalam mengabdi. Lakukan secara mastatha’tum, sampai Allah Swt yang menghentikannya.

Saya juga jadi ingat kata Bang Bachtiar, Direktur PPSDMS, yang mengatakan begini:
“Enteee, masih saja berkutat pada persoalan mikir-rapat-mikir. Lakuin saja, jalankan. Biar orang lain yang melihat hasilnya.”

Satu bentuk serangan ideologis yang mampu menggerakkan. Ya, saya menjadi tergerak. Sangat-sangat tergerak untuk melakukan satu perubahan yang lebih revolusioner dibandingkan sekedar menulis.
Dan memang manusia menilai tak pernah secara utuh. Ada banyak bagian yang terpisah dan belum terjelaskan.
Tapi, satu hal yang mesti kita tahu, bahwa pikiran, hati, telinga, kecerdasan, dan segalanya yang saya miliki melibatkan satu: kuasaMu.

Mencoba tetap tenang
Di tengah gempuran sana-sini

Seharusnya Kita

seharusnya kita

Seharusnya kita bisa menjadi pribadi yang baik…

Seharusnya kita bisa memiliki pengaruh yang luas…

Seharusnya kita bisa menempati posisi strategis…

Seharusnya kita bisa membawa manfaat…

Seharusnya kita bisa menilai dengan adil…

Seharusnya kita bisa menikmati hidup yang damai…

Seharusnya kita bisa memberi kepada sesama…

Seharusnya kita bisa membuat mereka tersenyum…

Seharusnya kita bisa menggapai cita-cita

Seharusnya kita bisa beragama dengan toleran…

Seharusnya kita bisa menyuarakan kebenaran…

Seharusnya kita bisa memandang langit biru…

Seharusnya kita bisa saling mencintai…

Seharusnya kita bisa tersenyum-riuh-sumringah…

Seharusnya kita bisa bekerja sama…

Seharusnya kita bisa hidup sederhana…

Seharusnya kita bisa punya banyak pilihan…

Seharusnya kita bisa saling mendoakan…

Seharusnya kita bisa memberi arti…

Seharusnya kita bisa mengagumi…

Seharusnya kita bisa suka…

Seharusnya kita bisa duduk santai…

Seharusnya kita bisa berpelukan…

Seharusnya kita bisa menyemangati…

Seharusnya kita bisa merdeka lahir bathin…

Seharusnya kita bisa melindungi…

Seharusnya kita bisa murajaah bersama…

Seharusnya kita bisa memberi nasihat…

Seharusnya kita bisa menikmati hari esok dan seterusnya…

Seharusnya kita bisa jujur…

Seharusnya kita bisa..melakukan ini semua, bersama.

 

Ada yang meragu. Dia pikir Allah Swt tak mengenali seluk-beluk persoalan. Padahal Allah Swt pula yang memberi saya alat untuk memahami dan mengalami kehidupan. Saya punya dua telinga untuk mendengar, punya dua mata untuk melihat serta mulut untuk berbicara.

Kita sering terpesona dengan hal-hal luar biasa sampai akhirnya kita lupa siapa kita: mani-sel telur. Barang yang dianggap menjijikan.

Berangkat dari hal itu, tak perlu lah sekiranya kita bersombong atas yang dimiliki. Tak ada habisnya dunia dengan materi. Kita buat dunia ini seperti seharusnya, sebagaimana hakikat Allah menciptakan.

Apakah kamu akan meninggalkan saya sendiri sementara perjuangan ini adalah milik kita bersama? Kepedulian yang kemudian membuat kita satu.

**Tapi, sebentar. Kenyataannya, saya tak pernah merasa sendiri. Ada dua malaikat di kanan dan kiri pundak saya. Ada Allah Swt yang menjaga derap langkah saya. Saya hanya tidak ingin, dunia diisi oleh orang-orang yang egois lagi tak peduli.

Maka, mendidik diri sendiri adalah yang utama sebelum terjun ke pada masyarakat.

 

 

 

Jakarta Trips Part 3

Alfath di Pemda Cibinong

Saya pernah mendengar begini: “kalau ada sesuatu yang buruk, pasti ada firasat”. Lalu, apakah kamu merasakannya? Semoga tidak. Pun dengan saya yang merasakan semua baik-baik saja.

Siang itu, saya hendak pulang sehabis bersilaturahim ke rumah Devlin. Jarak yang lumayan membuat saya harus selalu terjaga. Khawatir ada sesuatu yang terjadi.

Dengan perasaan biasa saja, saya menaiki bis Kowan Bisata jurusan Cibinong-Pulo Gadung itu lantaran bis Bersama jurusan Priok tak kunjung tiba. Bisa berjalan dengan tempo yang sedang-sedang saja hingga tak terasa memasuki daerah Cililitan. Seketika…………

“Duaarrrrrrrrrrrrrrrrrr”

***

Mari kita lupakan soal perjalanan ini sejenak. Sebab, saya ingin menikmati perjalanan yang lebih jauh dan besar lagi: Perjalanan Kehidupan. Kita mesti merasa bahwa yang namanya perjalanan itu adalah pergi dari satu tempat ke tempat yang lain. Perjalanan bisa menyenangkan karena banyak alasan. Tak hanya satu. Bisa karena mempersiapkan ke mana destinasinya, menaiki kendaraan yang nyaman, perginya bersama siapa, membawa banyak snack, atau ada sesuatu yang kita harap dan telah lama nantikan di tempat yang hendak dituju. Perjalanan kehidupan inilah yang kemudian saya gambarkan. Saya ingin menuju Syurga, menaiki kendaraan yang entah namanya bikinan Allah (mungkin bisa juga jalan kaki nanti), bersama dan membawa banyak amal, dan menantikan bertemu dengan orangtua, guru, sahabat, orang-orang tercinta. Tambahannya untuk saya mungkin “Ainun Mardliyah”, bidadari Surga, bukan Ainun Fisipol. Zzzz…

Saya selipkan tiap kejadian kecil dan besar dalam catatan kecil memori. Tapi memori saya agaknya terbatas. Sehingga, saya pun harus menaruhnya ke tempat lain yang mampu menampungnya. Saya kurang cukup waktu untuk bisa menemukannya sekarang, tempat macam apa yang bisa menampungnya. Perjalanan hidup ini memang membawa senang, sedih, dan senang lagi. Kalau kata Ariel Peterpan sih, “terkadang hidup memilukan”. Saya tak sepakat dan lebih memilih ST12 bahwa “aku masih bisa terus berjalan, menjalani hidup meskipun sulit menjadi mudah”.

***

Dalam hitungan detik, bisa yang saya tumpangi menabrak sebuah truk putih di depannya. Bis berusaha menghindar dari Avanza hitam yang ugal-ugalan namun ternyata malah begini. Alhasil, bis bagian depan dan belakang hancur karena menabrak dan ditabrak. Beruntung, detik-detik yang menegangkan itu tak berujung maut kepada siapapun dari kami. Semua selamat sentausa dan hanya meninggalkan bekas luka di sebagian orangnya. Saya hanya mendapati luka kecil. Gigi saya berdarah dan kepala saya terbentur dinding bis.

Tenang, sekarang saya baik-baik saja.

***

Saya ingin melupakannya dan cukup bersyukur saja bahwa ini hidup yang diberikan olehNya memberi gambaran besar tentang hidup seutuhnya: ada yang mengatur. Saya banyak mendengar cerita kematian dalam kecelakaan seperti ini, tapi beruntung, ini tak berakhir begitu.

Saya sampai dirumah. Kebetulan Orangtua sedang keluar. Hanya ada adik saya yang paling kecil sedang bermain. Saya lalu merebahkan badan di kasur. Memandangi langit-langit, sejenak hening, lalu bergegas mandi karena sudah mau maghrib.

Yaudah, sebenernya, dari sini semua menjadi hal yang rutin, tidak seru jika saya tuliskan. Adapun yang cukup menarik adalah bagian menasihati adik-adik. Layaknya kakak, ya pasti ingin adik-adiknya berada pada posisi yang terbaik. Tapi, skrip ini saya simpan saja. Saya takut terlihat seperti Mario Teguh. Dan saya tak suka disama-samai.

Kemudian, selama dua hari ke depan, saya menikmati waktu-waktu bersama adik-adik saya yang berkumpul semua. Bersama bapak dan Ibu. Walau sekedar nonton film Detective Conan, ataupun film jepang (apatuh namanya, lupa, tapi keren tentang games tapi kalau gagal akan mati). Ngajak shalat ke Mushollah, ngajar ngaji, ngobrol sama anak-anak gangan, baca buku, tulis cerita beginian yang intinya mempermudah laporan perjalanan saya, ya begitulah.

Adapun hal menarik lain dari perjalanan saya ini adalah ketika bertemu dengan Daus dan Adit. Mereka berdua adalah rekan-rekan saya di STM. Mereka juga sama ngaconya dengan saya. Kalau saya dari elektro ke politik, maka Daus dari listrik ke Sosiologi di UNJ dan Adit dari Mesin ke Sejarah di UNDIP. Mereka tak bisa dilewatkan dari kata “aktivis” di kampusnya masing-masing. Daus ini adalah koordinator Green Force, semacam tim aksi dari UNJ yang kerjanya datengin masa yang jumlahnya bejibun kalau ada demo. Ini orang yang namanya disebut-sebut kemarin karena mau jadi orang yang di DO setelah Ronny (Ketua BEM UNJ 2015). Namun, batal. Kalau si Adit ini, baru kuliah setahun saja sudah pergi ke tiga negara ASEAN: Filipina, Thailand, dan Malaysia. Ini bocah mau presentasiin paper mereka saja. Hehehehe.. Meski ngegembel di negara orang, tapi yang penting bisa nyicipin bau-bau negara seberang. Biar gak cupu-cupu banget lah.

Kita ngobrol di kantin sekolah sembari menyantap soto ayam + susu dingin. Enak juga ya. Dari mulai urusan aktivis, prestasi, dakwah sampe jodoh. Nah, yang terakhir ini saya gak ngerti. Kenapa akhir-akhir ini saya larut dalam bahasan beginian. Entah dalam forum kecowokan macam apa lagi yang tidak saya larut di dalamnya. Kalau begini, cepat atau lambat akan terbongkar. Hanya saja belum cukup kuat dan kokoh. Fyuuuhhh…

Sehabis itu, saya dan mereka juga sama Irfan (si Irfan ini bukan anak stm sini. Dia adek kelas saya di SMPN 95 Jakarta. Kakanya itu teman sekelas saya di SMP yang sama. Nah, karena sering maen bareng dari dulu sampe sekarang, ditambah kami saat ini malah jadi seangkatan, yaudah, seru-seruan saja. Rencananya malem nanti ada kajian di AQL Centre di daerah Tebet sama Ust. Bachtiar Natsir ba’da Isya dan kita hendak ke sana, nah untuk itu saya meminta Irfan berangkat bareng dari STM saya, kebetulan dia dari Bekasi dan diantar sama temannya ke STM) berangkat ke rumah Mr, Taufiq, buru saya yang sangat memotivasi saya untuk benar-benar berkuliah dan tak hentinya bermimpi. Kalau tidak salah, saya pernah menuliskan kisahnya di blog coretanpemenang. Orang ini luar biasa, cari saja di google, Taufiq Effendii, dialah seorang Tuna Netra yang bisa mendapatkan 8 beasiswa ke luar negeri. Sosok ini telah mengudara di acara Ust YM di ANTV dan kick Andy.

Ya, sesampainya di sana memang tak disangka. Saya hanya iseng meminta Daus dan Adit untuk menanyakan ke Mr, ada dirumah atau tidak. Kalau ada, kita samperin saja. Kebetulan ada, makanya kita samperin. Hahahaha.. Dia selalu menanyakan kabar orangtua dan keluarga dari masing-masing dari kami. Motivasi pasti selalu. Soal dakwah di kampus, macem-macem lah. Ada rangkuman pesan kepada saya yang begitu membekas, bunyinya begini:

“Fath, kamu kan punya cita-cita jadi Presiden. Jangan terlalu kentara dengan jubahmu. Kamu harus berteman dengan siapa saja, dari golongan mana saja. Kamu harus rangkul mereka dengan cara-cara yang menyenangkan. Ingat, bahasa kaum. Mereka inilah yang mesti di dakwahi jika berjauhan dari nilai Islam.”

Bukan hanya itu, ada satu pesan lagi tentang cinta. Karena sejujurnya, bagi saya, Bliyo adalah guru bahasa Inggris, agama Islam, motivator kehidupan/prestasi/cinta. Bunyinya begini:

“Sekarang kalian hanya perlu fokus belajar dan berprestasi. Wanita mana yang tak suka dengan pria berwawasan dan berprestasi. Wawasan di sini adalah seberapa jauh ia mencerap ilmu dan berprestasi bukan sekedar trophy, tetapi kebermanfaatan. Yang dengan keduanya itu, kita semakin kenal siapa Tuhannya.”

Yoii, saya sepakat dengan yang diucapkannya. Sepertinya ucapan ini masih sama sejak bliyo sediakala mengisi liburan saya dengan motivasi. Ucapan ini masih terngiang-ngiang. Soalnya, kan banyak orang yang saking khawatirnya hingga melupakan akal sehat, terburu-buru, dan beragam cara lain yang terkadang membuat saya ngeri.

Adit dan Daus, juga Irfan pun mendapati nasihat bagi mereka masing-masing. Teruntuk Irfan, meski baru mengenalnya, tapi bliyo tak merasa ada sekat dengan murid dan bukan muridnya. Semua mendapat perhatiannya tersendiri. Entah mengapa, saya begitu mengagumi guru saya yang satu ini.

Sehabis dari tempat itu, saya dan Irfan pun diantar oleh Adit dan Daus menuju AQL Centre. Sesampainya di sana bertepatan dengan waktu maghrib. Kami bergegas shalat, kemudian karena lapar mencari tempat makan bursa Irfan, kemudian Shalat Isya dan ternyata, kakaknya si Irfan yang juga teman saya SMP—Akmal—sudah datang. Kami bersalaman. Sempat ngobrol sebentar untuk kemudian mendengar kajian dari Ust. Bachtiar Natsir.

Sebelumnya memang diawali dengan pengenalan AQL Centre kepada jamaah, kemudian ada sesi juga dari muslimlebihbaik.com dan baru kajiannya. Malam itu temanya soal menyentuh hati orang lain. Hati di sini lebih kepada hati yang beku karena belum mengenal Islam dan Allah SWT secara utuh. Isinya membahas Al Baqarah ayat 171.

Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.

Butuh hidayah dari Allah untuk mengetuk hati orang-orang kafir, atau pun orang-orang yang masih belum terbuka melihat jalan yang lurus. Tapi, satu hal, kita tak boleh pesimis dan berhenti lelah. Kita harus tampil menyerukan dan mengingatkan segala hal dalam bentuk kebaikan.

***

Pulang memang agak larut. Tepat pukul 00.00 WIB. Hari Jum’at (22/1) ini akan bertemu dengan teman-teman alumni ACCESS (beasiswa bahasa Inggris dari Kedubes USA di mana tempat Mr. Taufiq mengabdikan dirinya). Tempat bertemunya di Ropisbak Rawamangun, dekat STM saya. Ya, di sana ada 9 orang yang hadir. Lumayan, kami bisa berbagi banyak hal. Namun, yang terpenting dari pertemuan itu adalah bahwa kita sepakat untuk membuat satu prestasi berjamaah mengingat selama ini yang terblow up adalah prestasi individu. Untuk mencapai itu, maka dibutuhkan bagi kita untuk saling bersinergi. Kami juga berenca akan mengadakan semacam “Assalamu’alaykum sedulur ala PPSDMS di grup WA” (usul dari saya) sebagai pertimbangan untuk mengetahui kesibukan masing-masing dan juga ada sesuatu dari kami yang bisa dibagikan kepada teman-teman.

Saya selalu senang melihat kebersamaan dan kekeluargaan dari teman-teman saya. Ini bukannya salah satu jati diri PPSDMS ya? Ya, begitulah saya bersama mereka.

Sehabis itu, saya kembali ke rumah untuk kemudian mengambil barang perlengkapan, dan terus menginap di Kantor Perpustakaan dan Arsip Jakarta Utara mengingat besok ada sesi pemotretan dari pagi hingga malam.

Pagi menjelang. Saya semalam tidur dengan nyamannya di ruang perpustakaan Buku untuk Dewasa (jadi ruang untuk anak-anak dan dewasa) di lantai 3. Adem, malah ujan-ujan basah begitu. Langsung bangunin teman-teman yang masih terkapar untuk shubuhan. Abis itu WBS ‘sendiri’ dan mandi. Sudah deh, paling keren dan rapi sendiri. Yang lain masih sumpek hahaaha..

Abis itu, saya iseng liat-liat buku. Ada banyak buku yang saya liat satu per satu cover belakangnya. Kan ada notice begitu tentang suatu buku. Saya baca itu sekitaran 5 buku, hingga akhirnya saya menarik satu buku segede gaban dengan judul “Biografi Ali Syariati”. Memang, saya entah mengapa mengagumi intelektual ini terlepas dari ‘syiah’ nya. Cerita tentang Intelektual macam Ali Syariati inilah yang kemudian banyak menginspirasi saya untuk menjadi dosen kelak dan akan mengubah masyarakat Indonesia. Aamiin. Bliyo sama sekali tidak melepaskan agama dalam setiap narasi pemikirannya. Memang, butuh kolaborasi dengan ulama, seperti dengan kisahnya bersama Ayatullah Khomeini. Kita akan bertanding dalam perang pemikiran yang lekat kaitannya dengan politik. Maka dari itu, kita hanya perlu berpegang pada kedua ilmu dunia yang dilandasi ilmu akhirat.

Waktu santai beres. Tibalah sarapan dan kemudian kami di dandani. Menunggu giliran di foto, ya macem-macem lah posenya. Potonya itu untuk dokumentasi KPAK, promosi Abnonku, dan macem-macem deh. Terserah pengurus. Sampe berulang kali di make up katena luntur kena Wudhu, tapi bodo amat. Saya lebih milih shalat. Hahahaha…

Nah, ada lagi ini yang menemani saya selama liburan. ada buku berjudul “DIA” karya M. Quraish Shihab. Syiah? Saya tidak masalah. Saya hanya mencerap ilmu dari berbagai sumber. Mau kiri, mau kanan, mau depan, mau belakang, mau atas, mau bawah, saya harus sikat. Bukunya memang bagus koq. Penegasan bukunya terlihat dari awal, di cover buku yaitu bahwasanya Allah Swt ada di mana-mana karena “Tangan”nya yang selalu ada di balik setiap fenomena.

Sudah pasti, Allah yang membuat saya selamat dari maut. Sudah pasti, Allah yang memberi jalan buat saya bisa berkuliah. Sudah pasti, Allah yang membantu mempertemukan saya dengan banyak orang. Sudah pasti Allah…

Dalam buku itu juga, ada kalimat menarik yang bisa di simak:

“Tariklah pelajaran dari sebongkah batu yang sedemikian kokoh, tapi dapat berlubang walau hanya dibasahi air setetes demi setetes.”

Intinya, segala yang kuat pasti memiliki celahnya. Segala yang keras pasti bisa diluluhkan. Segala yang tidak mungkin akan menjadi mungkin. Bukan begitu?

Kita harus belajar dari sekeliling. Mau dari manusia, hewan, tumbuhan, setan, jin, apa pun itu. Saya saja jadi inget kisah Timur Lank, seorang Raja Mongol sekaligus Cucu Genghis Khan yang menguasai dan menundukkan Iran, India, Damaskus, dan Turki. Bliyo mengambil ibrah dari seeokor semut yang mengangkut muatan besar menuju tebing yang tinggi. Berkali-kali itu semut jatoh. Tapi, ia bangkit lagi dan tak sekalipun merasa putus harapan.

Terlalu mahal kan pelajaran ini? Didapat gak dibangku kuliahmu? Saya jamin tidak. Kamu harus berusaha mencarinya sendiri di luar. Sekarang saya sangat sadar bahwa setiap hidup, bertemu, bersedih, bergembira lagi, bercerita, bertutur, berdiskusi, bermusuhan, berlawanan pandangan, berbeda paham adalah untuk belajar. Kita akan saling berwarna. Kamu hitam, saya putih. Kamu senja, saya pagi. Ada banyak perbedaan. Tapi tenang saja. Kita akan satu karenaNya.

Maka inilah takdir yang mesti disyukuri. Saya hanya menjalani hari-hari dengan perencanaan yang terukur. Saya tak mau mati konyol lantaran maju berperang tanpa amunisi. Tugas saya sekarang adalah memperbanyak amunisi tersebut. Kelak, bila hidup tanpamu—kalian—ibarat masjid tanpa jamaah: sepi.

Saya rasa, masih ada sekitar kurang dua hari lagi di sini. Ada satu agenda yang beluim saya ceritakan. Itu soal konsolidasi Gerak Nasional. Entah, membahasnya nanti macam apa, tapi yang terpenting adalah saya coba memberikan yang terbaik dalam setiap aktifitas yang saya lakukan.

Pada akhirnya, cerita liburan mungkin akan berhenti di sini. Tapi saya bersyukur yang utama ialah karena masih diberikan kesempatan memandang langit biru, menghirup nafas segar, melihat ayah-ibu-adik-keluarga dalam keadaan terenyum berbahagia.

Saya bersyukur atas karuniaMu.

//Saya tak akan henti menulisan cerita kehidupan. Sungguh.//

Jakarta Trips Part 2

Edited in Lumia Selfie

18 Januari 2016. Sebenarnya, masih ada satu hal yang belum saya ceritakan saat di rumah Rizki. Pada pagi harinya itu, saya meminta untuk ditayangkannya satu buah video berjudul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk”. Novel karya Buya Hamka dan sudah pernah saya baca ini sayang untuk dilewatkan dalam bentuk videonya. Saya belum pernah menontonnya karena belum sempat. Akhirnya, Rizki, juga teman-teman lain mengiyakan karena belum pernah menonton juga ternyata.

Ya, di dalam film tersebut, Junot, Pevita dan Reza memainkan perannya dengan sangat baik. Saya—mungkin juga teman-teman, ikut larut dalam narasi yang digambarkan. Terlebih, dalam setiap untaian kata yang disampaikan para tokoh di film. Semuanya tampak begitu romantis. Mengingatkan saya pada satu hal yang untuk mengiring saya pada imaji yang lebih tinggi.

Namun, Rizki yang empunya rumah hendak berangkat kuliah pagi. Akhirnya, ya mau-tidak mau kami harus angkat kaki. Sebenarnya, orangtua Rizki (Ayahnya sudah meninggal) merasa welcome, tapi mengingat hari ini kami juga punya agenda, maka tak apalah kongkow kali ini disudahi. Tapi, sebelumnya, saya meminta izin untuk meng-kopi film yang belum sempat saya habisi itu. Meski sudah tahu ujungnya dari novel, tapi, barangkali ini lebih menyayat hati. Tssahhhh…

Akhirnya, kami pulang. Hari ini kami berencana ke Monas dan mengelilingi kota Jakarta dengan city tour—bisa bertingkat yang gratis itu, loh. Tetapi, sesampainya di rumah, kami langsung menonton film tersebut bersama Adik saya (Aril bukan Ariel). Tak disangka, kamu semua terpukau. Paling membekas adalah setiap kali Zaenudin menyebut nama “Hayati…Hayati…Hayati….”

Lupakan soal Hayati, dan juga Zaenudin. Kita lanjut ke kisah perjalanan kami saja. Perjalanan ini terasa sangat menyenangkan. Karena Naufal duduk disamping saya, kawan. Banyak cerita, yang mestinya kau saksikan (mirip Ebiet G. Ade). Ya, di sinilah Kota saya lahir. Dengan segala lebih dan kurangnya, kami susuri perjalanan itu. Kami berangkat sehabis Zuhur. Perhitungan waktu meleset karena tadi harus mengurusi Naufal yang memesan tiket pulang (sekitar 1,5 jam; bolak-balik ke ATM membayar, tapi tidak bisa). Kami sampai di Monas pada saat Ashar, karena salah berhenti halte busway yang membuat kami harus berjalan kaki lumayan jauh menuju gerbang Monas. Lebih tepatnya sih, saya tidak tahu kalau pintu gerbang Monas selain yang utama di depan Istana Negara tidak dibuka.

Belum shalat Ashar membuat kami harus shalat terlebih dahulu. Perjalanan bukan berarti membuat kami lengah dan menomorsekiankan shalat. Kami shalat Ashar di Istiqlal. Tapi sebelum itu, kami sempat beli otak-otak sembari berjalan menuju pintu Al Fattah Masjid Istiqlal yang lumayan jauh. Enak juga ternyata. Hehehe…Setelah itu, kami bergegas untuk shalat.

Keluar dari sana, kami berpikir dua kali untuk tetap masuk ke Monas mengingat tujuan awal adalah naik hingga ke lantai teratas. Namun, keinginan itu batal. Kami memilih untuk langsung menaiki city tour. Untuk pertama kalinya, Saya pun Naufal menaikinya. Lumayan, perjalanan melihat kondisi Jakarta. Gedung-gedung penting diperlihatkan dimulai dari Monas, Balai Kota, Bunderan HI, Gedung Gajah, hingga Kota Tua. Di sana juga, kami melihat lokasi pengeboman yang ramai dengan para wartawan dari berbagai media, karangan bunga, dan masyarakat yang turut melihat dari dekat kondisi terkini dari lokasi baku tembak antara polisi dan teroris. Ada juga, pembangunan MRT (Mass Rapid Transit) yang menjadi mega proyek dan sedang di garap oleh pemprov DKI Jakarta. Bila sudah berhasil, saya meyakini, kemacetan Jakarta sedikit demi sedikit akan terurai.

Jujur saja. Saya memelihara harapan yang begitu besar pada Kota ini. Jelas, Ibukota adalah episentrum yang menyimpan segalanya. Baik pendidikan, perekonomian, kesehatan, pemerintahan, dan segala bidang lain ditentukan di sini. Kelak, sekiranya diberi kesempatan, maka izinkan saya melihat kota ini menjadi ramah bagi para penghuninya.

Tanpa terasa, city tour telah kembali ke tempat kami bermula: Istiqlal. Waktu juga sudah menunjukkan matahari terbenam. Terdengar kumandang Adzan yang memanggil kami. Saya dan Naufal lekas menuju panggilan tersebut. Sehabis Maghrib nanti, kami rencananya akan ke Pasar Baru.

Karena jaraknya yang tak begitu jauh—sekitar 15 menit jalan kaki, kami pergi ke sana. Pasar Baru menawarkan barang-barang. Sempat masuk ke beberapa toko melihat ini dan itu. Cuma lihat-lihat, hahahaha. Tapi tidak mengapa. Lumayan untuk cuci mata. Bisa dibilang, Pasar Baru ini miriplah sama Pasar Seni di Malaysia.

Waktu semakin larut, kami segera menyudahi perjalanan malam ini. Mama sudah menelepon untuk segera pulang karena makanan sudah dibuatkan. Tak perlu lagi beli diluar. Baiklah, kami segera pulang. Sesampainya dirumah, makanan semua kami habisi. Hahahaha… Sehabis itu kami bisa tidur dengan pulas.

Esok hari, mulanya, agenda kami ke Kota Tua bersama dengan sahabat-sahabat saya di STM. Tapi, melihat kondisi mereka yang masih banyak tugas (baik kerjaan maupun kuliah), saya membatalkannya. Lagian, Naufal juga sudah melihat segala macam Kota Tua kemarin saat di city tour. Maka, hari ini, kami memutuskan untuk Shalat Dzuhur di Jakarta Islamic Center (JIC) yang melegenda sejarahnya. Sebab, bila Anda tahu, JIC ini dahulunya merupakan kawasan prostitusi terbesar se-Asia Tenggara. Luasnya tidak main-main: satu RW yang kini disulap seluruhnya menjadi kawasan umat Islam. Masjidnya yang rapih dan begitu megah membuat kami nyaman melakasanakan shalat di sana. Sehabi shalat, kami hendak berkeliling masjid. Melihat air mancur, detail setiap ruangan, siaran sejarah Masjid JIC yang ditampilkan di layar sudut-sudut Masjid, hingga tak disangka bertemu dengan rekan-rekan saya di Pelajar Islam Indonesia (PII).

Sudah lama rasanya tidak bertatap muka dan berkumpul bersama mereka. Alhamdulillah, hari ini kami dipertemukan dalam kondisi yang lebih baik. Di sana masih ada Rifah, Anas, Ery, Wawan, Arie, Gofur, dan sebagainya. Mereka masih tetap istiqamah membesarkan organisasi ini. Meski sebentar, saya sempatkan berbincang-bincang soal organisasi ini. Pada intinya, mereka akan sangat ikhlas. Sempat mengenang berbagai kegiatan yang hendak kami pernah lakukan. Semuanya masih terekam jelas. Tak terlupa sedikitpun.

Kemudian, pada malam harinya, kami memutuskan untuk silaturahim ke Rumah Fadhli saja. Tapi, sebelum ke tempat Fadhli, kami mengajar anak-anak TPA mengaji dahulu. Ba’da Isya, barulah kami berangkat.

 

Merasa tidak enak, tidak membawa apa-apa. Saya putuskan berhenti di jalan membeli sesuatu. Martabak manis bisa jadi membuat Fadhli dan adiknya, Naila, tersenyum manis. Sempet nyasar, tanya-tanya begitu ke warga. Namun, beruntung, kami berhasil menemukan rumahnya. Bincang-bincang malam itu sekedar melepas rindu tak beberapa hari bertemu. Ditambah, di layar kaca di rumahnya Fadhli ada pertandingan Liverpol vs MU. Membuat saya sesekali melirik ke sana sembari mengobrol.

Waktu sudah agak malam. Meski berat hati meninggalkan layar kaca yang belum beres itu pertandingan, saya harus angkat kaki. Yaudah, sampai dirumah dengar kabar, MU menang 1-0. Alhamdulillah. Dan esok, Naufal harus pulang. Tapi, sejak beberapa hari lalu, ada satu permintaan dari Bapak dan juga Bu Dewi, rekan kerja bapak di Madrasah Aliyah Al Khairiyah untuk memberikan motivasi kepada pelajar kelas 3 sebelum menghadapi UN pada hari Senin, 18 Januari lalu pukul 10.00 WIB. Permintaan ini sudah kami iyakan.

Kami membawa tema “Pelajar Berpestasi: Mempersiapkan Masa Depan Membangun Indonesia”. Bahwa, dalam forum tersebut, kami ingin mengatakan bahwa para pelajar perlu menjadi seorang yang berprestasi, entah dalam bidang apapun. Pada hakikatnya, prestasi bukanlah satu bentuk piala yang terpampang, lebih jauh kepada satu bentuk kebahagiaan bagi pribadi dan orang lain, utamanya orangtua dan guru.

Dalam pertemuan itu juga, kami mengajak teman-teman untuk mendefinisikan mimpi dan sukses menurut mereka. Seperti misalnya, saya berikan contoh bahwa mimpi saya adalah menjadi seorang Presiden RI di tahun 2034. Dan Naufal menjadi Wirausahawan. Kita dua beda yang dipisahkan oleh profesi sahaja. Namun, lebih jauh, kita adalah satu: sukses. Indonesia yang lebih baik dan bermartabat. Kami tampilkan video visualisasi mimpi Indonesia Emas yang pernah kami buat bersama-sama (Link Youtube).

Kelas pun ditutup dengan sebuah deklarasi kejujuran, Setiap anak mengacungkan jari keliling kanan mereka ke atas. Menyatakan “janji” bahwa sehabis pulang nanti, mereka menuliskan mimpi-mimpinya dalam bentuk riil. Bahasanya: tervisualisasikan atau tergambarkan. Agar kelak, ini menjadi nyata. Mereka dapat membuatnya di kertas dan kemudian ditempelkan di dinding kamar. Kemudian, juga bisa ditaruhnya di sticky notes laptop, atau sebagainya.

Sehabis pertemuan itu, kami sempat mengobrol dengan rekan-rekan guru Bapak saya yang sudah saya kenal sebelumnya karena juga sering berjumpa dalam pertemuan di Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia. Begitulah ikatan kami yang membuat kami saling berpaut.

Kami, sebelum pulang diminta untuk makan Nasi Padang juga bersama teh botol Sosro yang sudah dibelikan. Lumayan, ini hasil sampingan dari berbagi. Hahahahaha….

Yaudah, dari situ, kami berencana bertemu dengan Devlin di rumahnya, Depok. Devlin juga baru sampe hari ini dan langsung kita repotkan. Gapapa, deh…. Singkatnya, kami sudah berangkat. Di jalan, sempet bingung juga sih karena naik angkot salah arah pula. Halaahhh… Yaudah, akhirnya sampai juga kami di Gerbang Griya Telaga Permai. Keren ini keknya perumahan. Eh, tetiba hujan turun. Awalnya rintik-rintik asyik menemani sore yang syahdu. Tapi, kemudian, hujan itu membesar. Kami menepi, meneduh, di dekat pos satpam. Yaudah, Devlin segera menjemput dengan mobil. Katanya sih, biar kita gak kebasahan.

Di sana, ya, kami disambut oleh Ibunya Devlin. Ibunya Devlin ini sangat bersahabt loh dengan anak muda macam kami. Hahaha… Yaudah, kita disediakannya makan, cemilan, yang lumayan bikin perut lapar menjadi tidak. Di selingin bincang-bincang anak muda (You Know What I Mean), kami nikmati sore itu.

Tak terasa, sudah waktunya magribh. Suasana kompleksnya sepi, tapi isi masjidnya ramai. Imamnya anak muda, yang bacaan shalatnya bagus banget. Kami sangat menikmati silaturahim itu hingga tak terasa Isya mendekat. Hitung punya hitung, jika naik angkutan umum, kira-kira Naufal harus berangkat jam segini agar tidak terlambat sampai di Stasiun Senen. Akhirnya, kami memutuskan Isya-an di rumah Devlin untuk kemudian berangkat pulang. Ibunya Devlin, ada adenya juga, turut mengantar kami yang hendak pulang. Tapi, bukan langsung diturunkan ke tempat pemberhentian bis. Kami dibawanya ke warung makan Ampera. Kami sempat bingung. Lah, ini koq malah dibawa ke tempat makan. Zzzz… Yoweslah, karena kebetulan laper lagi… Wkwkwk, kami bersedia makan deh.

Tempatnya sangat nyaman. Cocok untuk ngobrol se-keluarga. Yaudah, saya sempat ngobrol-ngobrol sama Ibunya Devlin soal pendidikan. Kan kebetulan itu, orangtua Devlin sama saya juga guru. Saya kurang lebih menaruh minat yang banyak terhadap dunia pendidikan. Eh, nyambung. Dari bahas soal kurikulum, kenakalan remaja, hingga keluarga.

Setelah kenyang, kami bubar. Hahahaha… Betapa berterima kasihnya kami diberi makan enak, di jamu dengan sangat istimewa. Yaudah, sebelum pulang sempet foto-foto begitu—disuruh Ibunya Devlin. Lalu, diantarkannya kami di tempat pemberhentian bis (Di sana, kira-kira sudah jam 9an). Namun, sayang sekali, bis umum ke arah Pulo Gadung, Tanjung Priok, Rawamangun, sudah tidak ada. Ada juga omprengan yang Cuma sampe UKI. Itu pun harus menunggu tiga penumpang lagi baru jalan. Naufal yang sudah punya janji besoknya pukul 9 pagi harus pulang. Padahal Ibunya Devlin meminta kami untuk singgah.

Saya pada saat itu memang sudah setengah teler. Kayaknya badan kecapekan dari kemarin-kemarin karena berpergian. Daripada saya kenapa-kenapa di angkutan umum, saya lebih memilih untuk menginap saja. Naufal pilih jalan berbeda: pulang naik taxi ke Senen. Yaudah, saya dibawa balik deh ke rumah Devlin. Sesampainya di sana, saya langsung di ajak ke kamar adeknya. Sayang banget, kamarnya gak di isi, karena adeknya Devlin sekarang tidur bareng Ibunya. Alhasil, beberes kamar dulu, sawang-sawangnya diambilin. Soalnya, saya ada alergi debu. Jadi, pas pertama masuk tuh ke dalam kamar, saya langsung bersin-bersin.

Setelah beres-bersih, saya meminta Devlin menemani tidur saya. Najooonggg…Tapi ini serius. Tapi, Devlin mau ngajarin bentar adiknya. Yaudah, saya dikasih bacaan. Isinya tentang tulisan orang-orang (tokoh Indonesia) mengenai Soekarno. Di dalamnya sempat saya baca tulisan dari Natsir, Hamka, Frans Seda tentang Soekarno. Bagus-bagus, argumennya bisa saya pakai untuk skripsian (Ya Allah, masih lama skripsian ya?).

Namun, setelah itu saya lupa dan tak mengingat apa-apa lagi. Selain terbangun pukul 02.22 WIB (lihat hp) dengan pintu tertutup (tadinya terbuka). Devlin gak ada di kamar sama saya. Keknya, dia sama mamanya, Zzzz… Yaudah, saya ini-itu, tidur lagi dan terbangun pukul 4an dan segera menuju Masjid.

Sepulang dari Masjid itu, kami WBS bareng. Ibunya pamit berangkat ngajar sekalian sama adeknya yang juga sekolah ditempat Ibunya (SMP Ruhama). Kemudian, saya diajak Devlin keliling ke sana kemari muter-muter. Pertamanya sih bilangnya cari sarapan. Ya memang, kami sarapan ketoprak (Devlin lagi ngidam ketoprak). Nemu-nemu di depan SMPN 1 Cibinong. FYI, rumah Devlin lebih deket ke daerah Cibinong. Dia itu Depok pinggiran. Yaudah, ba’da makan, saya diajak muter-muter kota Cibinong. Di jalan, si Devlin cerita-cerita soal keluarganya yang China-Muslin dan menguasai banyak tempat (Sangaaarrr). Pertama di ajaknya saya menyusuri jalan-jalan Cibinong, diperlihatkannya mal-mal (halaaahhh). Kemudian, masuk ke kantor-kantor Pemkotnya. Dikelilingin tuh satu-satu bangunan. Dari situ, Devlin menunjukkan rumah lamanya. Katanya sih dulu Devlin tetanggaan sama Fitri. Suka main bareng juga. Ditunjukin juga lah rumahnya Fitri kepada saya. Abis itu muter-muter lagi, yaudah deh, sampe rumah Devlin lagi.

Ngobrol-ngobrol anak muda lagi sambil leye-leye di atas kasur, mandi, dhuha, nonton tv, shalat Zuhur, dan balik lah. Sebelum balik, ditraktir makan bakso dulu. Diantarlah saya ke Terminal Cibinong. Tapi katanya, bisa ke Priok gak ngetem di sini. Ngetemnya di jembatan. Yowes lah, saya diantar ke jembatan. Nyatanya, setelah saya tunggu lebih dari setengah jam, koq, gak lewat-lewat. Kebetulan lah, ada mobil Kowan Bisata yang menuju Pulo Gadung. Daripada kelamaan, saya naik bus itu saja sampai Gudang Garam. Ntar tinggal nyambung naik busway, pikir saya.

Dan akhirnya, saya naiki itu bis. Sempet bete juga lantaran ngetem di depan pintu tol Citereup 2 lebih dari sejam. Di sini saya benar-benar merasakan betapa lelahnya menunggu dan menanti. Yaudah, selama waktu tunggu itu saya selingi baca-baca yang entah banyak banget. Macem-macem lah.

Setelah sekian lama, bis akhirnya berangkat. Perasaan biasa saja. Saya duduk di bangku sebelum pintu belakang, dekat jendela. Perjalanan lumayan lancar, tetapi padat. Hingga tak terasa sudah mencapai disekitaran Cililitan. Dan seketika……………

“Duuuaaarrrrrrrrrrrr”

***to be continue…

Jakarta Trips Part 1

Tidak-Liburan-Ke-Luar-Kota-Ide-Staycation-Dan-Liburan-Di-Jakarta-Ini-Akan-Sangat-Membantu-Kalian

Saya tuliskan semua ini dalam keadaan selamat.

Siang itu, 13 Januari 2016, tepat seminggu yang lalu. Saya dan Naufal berencana akan meninggalkan Yogyakarta untuk kembali pula, ke Yogyakarta. Sama seperti halnya arah jarum jam. Ia pergi meninggalkan titik bermula untuk kemudian kembali. Saya haturkan banyak terima kasih kepada Kang Ibnu Asyrin dan Hamdan atas bantuannya mengantar ke Stasiun Lempuyangan.

Sebelum saya dan Naufal hendak pergi, kami berdua meminta do’a kepada Kang Ibnu Asyrin untuk kemudian bisa sama-sama selamat, berhasil dalam tujuan, serta menikmati masa libur. Pun sebaliknya, kami mendo’akan bliyo.

Alarm pertanda kereta berangkat tiba. Tanpa paksaan, kami menduduki bangku sesuai dengan yang tertera pada tiket: saya dibangku 22A dan Naufal dibangku 22B di gerbong 2, kereta Progo. Kurang lebih, kami akan menempuh perjalanan selama 8 jam 50 menit. Sepanjang perjalanan, tidak ada habisnya kami membahas strategi untuk perlombaan SIMBIZ 2016 yang dilaksanakan pada 15-17 Januari.

simbiz

Dari babak rally games yang mengharuskan kami menyelesaikan tantangan dari 30 pos yang tersedia dan tersebar di penjuru Mall Alam Sutera. Kemudian, babak JA TITAN di mana kami berada pada posisi CEO (Chief Executive Officer) perusahaan yang menjual sebuah produk bernama hologenerator. Tugas kami adalah menentukan besaran pengeluaran yang mencakup biaya pemasaran, riset dan pengembangan, produksi, dana sosial, hingga besaran harga. Jika kami lolos nantinya, akan ada babak terakhir; yakni babak presentasi bisnis. Tema tahun ini (karena saya hampir selalu mengikuti perlombaan ini setiap tahunnya) ialah “igniting Indonesia”. Entah apa itu, yang jelas saya menafsir bahwa produk yang hendak di presentasikan harus membawa nilai yang mampu membuat Indonesia menyala. Dalam terminologi ini, menyala dalam hemat kami didefinisikan sebagai upaya menghidupi produk dalam negeri dengan cara-cara yang inovatif.

Ketiga babak itu yang kemudian akan kami hadapi. Dan perjalanan inilah yang membawa kami ke sana. Ada sedikit cerita yang membekas. Adalah mbak cantik yang bertubuh sexy dengan celana panjang sobek di kedua dengkulnya. Mbak itu mengisi bangku kosong yang ada di hadapanku ketika Kereta Api berhenti di Purwokerto. Beruntung, karena iman yang kokoh, saya mengabaikan ia selanjutnya dan lebih baik tidur. Huehuehue… :D

Meski terbangun dengan wajah Mbak cantik dihadapan, saya tetap tidak bisa melupakan wajah seseorang yang lain—seperti Kata Pram, “kelak sekiranya saya diberi umur panjang. Begitu Panjangnya sehingga saya menjadi pikun, wanita yang seorang ini tetap tidak akan saya lupakan; kecantikannya, kesabarannya, ketabahannya, dan kebijaksanaannya, akan saya bawa mati bersama dengan sisa kemampuan tuk mengenang”. Seketika saya berandai-andai. “Andai ia yang mengisi bangku Naufal atau mbak dihadapan saya”, gumam saya.

Tapi yang di atas hanya mimpi. Singkat cerita, kereta memasuki Stasiun Jatinegara. Kami, sudah di Jakarta. Kota yang menjadi saksi betapa perihnya kehidupan. Banyak anak-anak tak seberentung saya bisa bersekolah tinggi. Untuk sekedar makan saja mereka harus mengiba. Tempat mengadunya kepentingan perut dan akal. Kami sempat terdiam di sana; menunggu dengan sebal selama 45 menit karena lokomotif kereta bermasalah. Kami berpikir lebih baik untuk keluar dari kereta. Ternyata, di Stasiun, kami bertemu Bagas (sahabat saya di STM yang juga akan mnegikuti perlombaan yang sama dengan kami) dan rekannya yang saya belum tahu siapa namanya. Juga, di sana terlihat seonggok danging berwajah tidak asing: Azzam, dari FIB. Ia adalah pimpinan Gerakan Mahasiswa Pembebasan yang berafiliasi kepada HTI. Ia hendak menuju rumahnya di daerah Bogor. Namun, karena kereta ke arah sana sudah habis, terpaksa ia harus bermalam di Stasiun.

Setelah berbincang-bincang sebentar, kami memutuskan izin pulang. Setelah sempat menunggu Gojek namun tak kunjung hadir, kami memutuskan naik taksi menuju rumah saya di Tanjung Priok. Perjalanan yang memakan ongkos Rp. 57.000,- itu terhenti sekitar pukul 01.00 WIB di gerbang rumah saya. Alhamdulillah, kami selamat. Malam itu pun disambut dengan cipika-cipiki dari orangtua, dan kemudian saya kenalkan Naufal yang menjadi rekan saya di perlombaan. Kami makan Nasi Goreng sejenak karena merasa lapar. Malam itu pun segera ditutup karena pukul 09.00 WIB nanti (Kamis, 16 Januari) saya sudah memiliki janji kepada rekan saya. Kami pun tidur.

Pagi menjelang. Burung berkicau, ayam berkokok. Seperti biasa, shalat shubuh, mandi, makan, beberes rumah, mempersiapkan perjalanan dan berangkatlah kami. Rencana hari ini adalah pergi bertemu dengan teman les bahasa Inggris dulu (ACCESS, beasiswa les bahasa Inggris dari Kedutaan Besar Amerika Serikat) Dina dan Devie (cowok, koq). Kemudian, menuju sekolah saya yang tak jauh dari lokasi pertemuan dengan Dina dan Devie, SMKN 26 Jakarta aka STM Pembangunan Jakarta yang bila disingkat menjadi STM Pembajak Rawamangun di mana tulisan alay nya begini: VEMBAZAX RM. Selanjutnya, pergi ke rumah Bu Sri (Guru Kewirausahaan yang sudah pensiun, dan saya anggap sebagai Ibu) dan bergegas menuju Technical Meeting perlombaan di FX Senayan lt. 6 pada sore hari.

Perama-tama, pertemuan dengan teman les membahas tawaran kerjasama. Mereka berdua sebelumnya sudah menawarkan satu maksud. Bahwa mereka punya rencana mempromosikan saya sebagai satu ikon yang perlu ditiru dan bisa menjadi inspirasi bagi pelajar di DKI Jakarta. Ya, memang, Perjalanan saya di SMK ini lumayan menarik, menegangkan, mengharu-biru, penuh peluh dan darah yang kemudian bisa menghasilkan banyak cerita untuk dibagikan. Mereka siap merancangkan kegiatan bagi saya, manajemen tim, dan sebagainya. Kebetulan, mereka sedang aktif dikegiatan yang memiliki korelasi dengan konseling pelajar, anti pornografi (peluang kerjasama bagi Pop Corn ini), yang pada intinya membutuhkan agen-agen yang bisa dijadikan sebagai teladan. Dengan mengisi ceramah, diskusi, di berbagai forum pelajar, membagikan cerita, harapannya mereka, pelajar DKI Jakarta, bisa sedikit terinspirasi, terketuk hatinya, untuk melakukan satu perbaikan dalam pola berpikir. Ini bukan persoalan sepele. Saya, seperti yang dikatakan Dina dan Devie adalah anak STM yang gemar membuat onar. Tapi, toh, saya bisa mengubah diri untuk tidak melakukan hal yang demikian lagi. Hingga akhirnya, saya bisa mengisi hari-hari di sekolah dengan berbagai torehan prestasi. Begitu.

Akhirnya, pertemuan itu menyepakati bahwa saya siap untuk membagikan kisah. Saya nantinya akan membawa ikon “pelajar berprestasi”. Maka, saya memohon do’anya untuk terus bisa berbagi, meski baru sekedarnya. Kemudian, saya dan Naufal (yang tadi juga turut memberi masukan dan diskusi) pamit menuju sekolah. Saya ingin sekali bertemu dengan guru-guru saya di sekolah. Saya bertemu dengan Bu Sari Pulungan, Bu Elsye, Bu Novi, Bu Enung, Pak Acep, Pak Ubadi, Pak Rustam, Pak Hanif, Bu Ida, Pak Armen, Bu Mexi, Pak Ganef, dan masih bayak lagi guru-guru yang saya temui dan salami tanpa mengurangi rasa hormat. Tak lupa, adik-adik saya di Bionic 26 juga segera menyambangi saya. Mengharap wejangan untuk menghadapi perlombaan esok.

InstagramCapture_a18ec1e9-8ea8-4607-a7ff-dcfb306ceff9

Bertemu dengan mereka adalah sebuah keharusan. Setiap kembali ke Jakarta, saya selalu mengagendakan untuk kembali ke sekolah (SMK, SMP, SD). Menengok berbagai perkembangan dan memang terlihat bahwa sekolah saya telah berkembang begitu pesat. Di SMK saja misalnya, tata letak ruang, pepohonan, jalur pejalan kaki, rambu-rambu di sekolah, dan pembangunan fisik gedung membuat saya kagum. Prestasi yang terus bertahan sebagai predikat SMK terbaik di DKI Jakarta dan 10 besar terbaik di Indonesia membuat saya begitu bangga pernah bersekolah di sana.

Tapi, apa artinya rasa bangga itu jika—seperti kata Bung Karno—di dalamnya tidak diisi oleh jiwa-jiwa yang mengabdi pada praktiknya hidup. Ya, sedari dini, saya selalu berusaha mengarahkan diri ini ke sana. Mengajak diri pribadi dan teman-teman untuk tidak memikirkan diri sendiri. Apa yang bisa kita berikan kepada orang lain, maka berikan.

Kembali pada cerita, singkatnya sekitar jam 1 siang, dikabari bahwa Technical Meeting SIMBIZ 2016 sore nanti dibatalkan mengingat adanya peristiwa Bom di Sarinah. Menurut panitia, kemungkinan besar, acara ini akan dibatalkan atu diundur. Saya yang baru membaca pesan ini sedikit-banyak tertohok. Saya dan Naufal yang sudah siap secara lahir-bathin ini harus menjadi korban—tidak luka—akibat terorisme. Kami memberikan pertimbangan kepada panitia agar acara ini tetap dapat dilaksanakan mengingat persiapan tim sudah matang, kemudian banyak peserta sudah tiba di Jakarta, hingga lokasi berjauhan dari tempat kejadian perkara. Akhirnya, panitia merapatkannya dalam forum besar. Hasil rapat menurut mereka akan segera diberitahukan.

Kami yang harap-harap cemas kepada korban di Sarinah dan juga perlombaan ini harus menunggu. Bayangkan, sudah sampai di Jakarta dan katanya, Jakarta siaga 1. Acara selama tiga hari ke depan dipastikan akan berantakan. Tidak sesuai rencana. Inilah unexpected contition. Well, saya harus tetap merancang kemungkinan bilamana tetap dilanjutkan atau tidak.

Setelah berpamitan undur diri dari sekolah, kami menuju ke Rumah Bu Sri. Ia sudah tak sabar menantikan kedatangan saya. Padahal, tak kurang dari 2 minggu lalu, bliyo henda bertemu dengan saya di Yogyakarta. Namun, pertemuan di Jakarta selalu menghadirkan ini: ia ingin memberikan masakan terbaiknya untuk disantap kami, murid-muridnya. Hehehe… Saya datang dan perkenalkan Naufal kepada Bu Sri. Kemudian ngobrol, makan, ngobrol, maghriban, dan rekan-rekan saya di Bionic 26 satu per satu hadir semenjak saya undang di grup Bionic 26. Alhasil, ba’da Maghrib, rekan-rekan saya sudah pada berkumpul.

Ditengah cerita-cerita itulah, panitia SIMBIZ 2016 menelepon dan memberi kabar bahwa perlombaan diundur sampai Mei. Seketika itu juga kami merasa kecewa mengingat apa-apa saja yang sudah kami persiapkan. Namun, alasan “demi keselamatan” atas kekhawatiran pada terorisme menjadi momok tersendiri bagi kami. Kami harus berbesar hari menerima kenyataan itu. Kemudian, kami pun melupakan itu semua dan kembali larut dalam canda-tawa bersama rekan-rekan.

Walhasil, hari itu kami berpamitan. Sebelumnya, kami sempat berfoto-foto dan mengagendakan pergi ke Bogor bersama tanggal 24 Januari nanti untuk bertemu Mbak Noor Fuadiyah (dahulu pembina di PJI). Pertemuan ini adalah untuk melepas rindu, rihlah, sekaligus memberikan kenang-kenangan yang belum sempat diberikan.

Saya dan Naufal pulang naik busway, sedang yang lain bersepeda motor. Kami tiba dirumah sekitar pukul setengah 12 malam. Cukup larut dengan segala kesenangan yang juga bercampur dengan kecewa. Kami akhirnya memutuskan untuk mengatur agenda ulang. Jumat, 17 Januari yang seharusnya menjadi hari pertama perlombaan kami ubah menjadi silaturahim ke Kantor Pusat PPSDMS di Lenteng Agung, Shalat di Istiqlal, dan menginap di rumah Rizki (sahabatku di sekolah).

Kami berangkat sekitar pukul 9 pagi menggunakan busway dan menyambungnya dengan KRL menuju Lenteng Agung. Kami turun di Stasiun UI untuk kemudian naik bis kuning hingga jembatan penyebrangan. Namun, kami salah naik jalur. Sehingga, kami harus memutar kampus UI seluruhnya terlebih dahulu. Meski begitu, kami coba nikmati tiap perjalanan itu. Hingga akhirnya, kami harus menyusuri jembatan penyebarangan yang lumayan menyeramkan di mana jembatan tersebut terlihat sudah rapuh-karatan. Ditambah, tepat dibawah jembatan itu ada aliran arus listrik kereta api semakin membuat horor jembatan.

Dengan sangat hati-hati, kami lewati jembatan itu dan…Hap..hap..Tibalah kami di kantor pusat PPSDMS. Sempet menunggu sekitar 20 menitan, kemudian ada Faras dan Sansan dari Ksatria UI (Julukan PPSDMS Putra UI) yang menjemput kami di lobi. Kami dibawahnya oleh mereka ke lantai dua asrama. Di sana, ternyata sudah ada Fenno, Faiz, dan Randi dari Heroboyo (Julukan PPSDMS Putra ITS/Unair) yang akan menyelenggarakan rapat NLC (National Leadership Camp). Di sana juga terlihat beberapa anak Ksatria. Beberapa menegur kami, berkenalan, mengobrol. Namun, lebih banyak yang diam dan sibuk dengan urusannya pribadi. Tapi tak mengapa. Kami sapa saja anak-anak yang memang mau disapa dan diajak ngobrol…hehehe.

Kemudian, kami shalat Jum’at, makan bareng di warung yang harganya lumayan murah untuk standar Ibukota. Dengan lahap, kami santap makanan tersebut sembari bercerita soal kegiatan di asrama masing-masing dan diselingi dengan berita terorisme yang masih ramai di TV. Setelah, selesai, kami semua kenyang. Lalu, Naufal diajak Fenno bertemu Mas Irsyad. Nah, saya mengajak ketemuan Mas Dhama dan Mas Luthfi. Sembari menunggu, saya bertemu dengan pembina kami: Bang Bachtiar, Bang Ichsan, Bang Adji, Bang Ahadiyat, Bang-bang macem-macem deh. Hehehe…Akhirnya, Mas Dhama muncul dengan rambut yang stylist. Ku amati wajahnya, hmm, rasa-rasanya masih menyimpan soal: siapa kelak istrinya, wkwk. Tapi saya tidak mau mengajaknya membahas itu. Saya memilih untuk menceritakan persoalan politik kampus. Banyak hal saya ceritakan seputar advokasi biaya KKN angkatan 2013, Dema Fisipol, Bem Km, dan sebagainya. Di sana juga turut nimbrung: Aufar. Dia seolah ingin belajar dengan kami yang sedang serius-seriusnya membahas urusan ini. Pada intinya, Mas Dhama berpesan untuk terus meluruskan niat bagi kita yang berada di organisasi eksekutif. Kita harus paham siapa kawan dan lawan. Jangan sampai terjebak dalam persoalan yang justru membawa kesulitan bagi kita. Bliyo juga mengingatkan bahwa Jogja adalah “Ibukota Pergerakan” yang dengannya membuat kita menjadi rujukan dari kampus-kampus di daerah lain. Ini seperti yang dikatakan Pak Riswanda Imawan semasa hidupnya tentang pergerakan mahasiswa. “Jika mahasiswa Yogyakarta tenang-tenang saja, maka Indonesia aman”. Hal ini menunjukkan Yogyakarta sebagai basis pergerakan mahasiswa di Indonesia.

Memang, sejarah juga membuktikannya. Dari pendirian kampus: UII dan UGM, kemudian pergerakan mahasiswanya: HMI, GMNI; intranya ada BEM, dan segenap unsur lainnya.  Semua mengakar dalam. Cocok untuk dijadikan tema skripsi. Tak terasa waktu lekas berlalu. Pembicaraan ini memakan kurang lebih 1 jam kerja Mas Dhama. Sehingga, bliyo segera menyudahi dan berjanji akan bertemu kembali. Di saat itu pula, ada Mas Luthfi hadir. Ia tampak lelah. Setelah ku selidiki, ia baru saja dari Pluit untuk wawancara pekerjaan. Wew…ternyata Mas Luthfi berencana pindah kerja dan mengundurkan diri dari PPSDMS akhir bulan ini.

Pembicaraan dengannya lebih kepada bagaimana kabar kegiatan masing-masing. Dari Mas Luthfi sendiri, ia mengatakan kalau bayinya adalah Putra. Semoga dewasanya keren seperti saya yah Mas :D wkwkwk….Istrinya sudah menjadi pekerja di Vokasi UI, dan masih banyak lagi yang kami bicarakan. Dari saya sendiri, saya menceritakan soal kegiatan di PPSDMS akhir-akhir ini sama perasaan akan waktu yang berjalan begitu cepat. Sudah, itu saja sih.

Pembicaraan dengan abang-adik: Dhama Luthfi ini berakhir. Naufal yang sedari tadi saya tunggu karena ingin bertemu dengan mereka tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Setelah saya cek, nyatanya ketiduran di asrama KSATRIA. Fufufufu…..

Sebenarnya, ada satu agenda lagi sore waktu itu: bertemu dengan None Nanda memberikan pesanannya berupa dua kotak bakpia. Dia pernah sempat menjadi pasangan saya di pemilihan abang none DKI Jakarta lalu. Tapi, sebelum Ashar, ia membatalkannya karena diomelin pacarnya, takut saya rebut. Kelihatannya begitu. Padahal, saya mah maunya yang lain. Yaudah, lebih baik dibatalkan dan akhirnya saya pun langsung pergi ke Istiqlal untuk shalat Maghrib dan Isya di sana. Mengapa Istiqlal? Karena Naufal belum pernah ke sana. Hahaha.

Taken with Lumia Selfie

Sesampainya di sana, pas banget magrib. Meski keringetan dan bau ketek, kami meyakini Allah Swt menerima shalat kami. Bacaan shalatnya, Ya Allah, bagus bener. Ini shalat kualitas bintang lima dah. Saya sempat menitikkan air mata lantaran merdunya bacaan. Di sela-sela waktu shalat Maghrib dan Isya pun diisi dengan membaca surah Al Isra secara bersama-sama. Sang Imam yang sudah Hafizh memimpin bacaan. Kami mengikuti dengan baik.

Setelah selesai shalat Isya, kami makan sejenak diemperan Istiqlal. Ada banyak pilihan makanan. Tapi, saya lebih memilih Soto Ayam, sedangkan Naufal nasi goreng. Harga tak berbanding lurus dengan kenyang. Naufal terlihat sedikit menyesalkan. Porsi yang sedikit membuat kami masih lapar…hahaha..Tapi, kami segera harus bergegas menuju Pulo Gadung. Takut-takut kendaraan menuju rumah Rizki sudah habis. Di sana, kami sempat menunggu Ucup yang juga ikut menginap. Ucup mirip keong. Lambat sekali untuk tiba di Pulo Gadung. Sehingga, saya sempat mengomelinya…hahaha…Kasian si Naufal merasakan jadi gembel Jakarta. Nongki di Terminal.

Sempat celingak-celinguk cari APB 23, namun tak ada. Tanya ke tukang gorengan, katanya sudah habis. Sempat putus asa, tapi, tiba-tiba ada APB 23 lewat. Kami segera lari untuk memberhentikannya. Beruntung, Pak Supir mau, dan bilang, ini terakhir. “Ayok, terakhir…terakhir…” Begitu.

Di dalam angkota, beruntung, ada dua orang lain yang juga ikut naik. Sehingga total ada 5 penumpang. Setiap dari kami dikenai biaya lima ribu. Lebih mahal seribu dari biasanya. Setibanya dirumah Rizki, kami sudah dalam kondisi yang lelah. Sempat mau nge-Pes, namun stick nya Cuma satu yang bisa. Alhasil, kamu menonton film. Adalah “Interstellar” yang kami pilih. Namun, saya dan Rizki sudah tidur lebih dulu. Tersisa Naufal dan Ucup yang menonton hingga beres. Bahkan, lebih jauh, Ucup tidak tidur semalaman. Matanya suntuk, wajahnya melayu…Hahahaha…

Bangun pagi, kami bergegas shalat shubuh, WBS, dan makan. Ada donat, nasi goreng telor, dan teh anget. Terima kasih Mama Rizki—yang sudah kuanggap sebagai Ibu. Saya dan Rizki memang suka saling merepotkan, tapi tidak mengapa. Hubungan kami bukan sekedar persabatan, lebih jauh keluarga yang saling menguatkan.

Di sini, saya semakin merasa bahwa apa saja yang tersedia disekeliling memang dibiarkan Allah untuk dikelola baik manusia. Kebersamaan membuat luluh keindividuan yang egois. Kekeluargaan itu yang merangsang tumbuh cinta berikutnya. Maka, inilah anugerah. Bilamana tidak ada dusta, saya akan terus terang berucap, “Hidup tanpaMu adalah perjalanan manusia yang paling sunyi.”

Dan saya harus jujur.

***To be continue…