Bisikan Hidup
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Monthly Archives: January 2016

Bisikan Hidup

bisikan hidup

Di sela-sela mengerjakan proposal bisnis untuk mengikuti perlombaan “SIMBIZ 2016″ di Jakarta tanggal 15-17 Januari nanti. Saya menyempatkan diri bercengkerama dengan alam: sawah. Saya mengidamkan, punya rumah yang kanan kirinya masih ada sawah di mana, Ibuk dan Bapak warga sekitar masih bersemangat menanam padi, membajak sawah, dan menyianyi tanaman, hingga memanen. Sungguh, satu kedamaian yang tak banyak orang menginginkan.

Sawah, padi, tumbuh-tumbuhan, angin, belalang-kupu-kupu, layang-layang, anak-anak desa yang bermain, rumput ilalang, dan segalanya berusaha membisikkan sesuatu, bahwa hidup adalah kedamaian. Kedamaian mengandung arti rukun, tentram, guyub-rukun, penuh cinta; khas kehidupan surgawi. Itulah sebabnya saya merasa nyaman tinggal di Yogyakarta, meski kini Yogyakarta agaknya mulai berhenti nyaman. Tapi, sebelum itu tiba, maka saya merasa bertanggungjawab untuk tidak membiarkan orang-orang bersikap semena-mena dengan kota yang damai ini.

Bisikkan hidup yang datangnya tepat dari pintu asrama ini benar-benar terasa. Ia memanggil nama saya secara lembut dan perlahan untuk terus berlama-lama, memanjakan diri dengan buku, koran, handphone ditangan. Menatap langit-langit Ngabean Kulon baik di kala fajar atau senjakala. Di tempat ini juga, saya bisa memandang orang-orang yang kemudian datang dan pergi menuju ke asrama atau sekedar berlalu lalang. Pada intinya, ini hidup. Tidak statis dan berdiam di kamar, entah melakukan apa.

Sore ini, saya masih saja mungkin keliru memahami sekeliling. Entah mengapa, diri ini merasa bahwa ada banyak persoalan pelik dalam hidup yang tak kunjung bisa saya lunasi tuk dibayar. Tapi, life must go on. Misalnya, saya menaruh kecemasan terhadap sawah depan asrama yang sudah dipagari spanduk “DIJUAL”.

Ahh, andai punya kecukupan harta untuk membeli tanah di sana-sini, saya ingin membelinya. Dengan harapan, agar tanah itu tetap menjadi ruang terbuka. Ruang bertemunya aku, kamu, dan alam. Hidup ini telah dipenuh-sesaki ketamakan, ketidakpedulian, keindividuan, yang terkadang membuat saya merasa jengkel terhadap diri sendiri.

Hal di atas baru persoalan sepele. Ini masih urusan di Ngabean Kulon. Belum lagi Yogyakarta, apalagi Indonesia dan dunia berikut akhirat. Bila dipikir-pikir, akan terasa berat. Segala yang saya lakukan hingga hari ini masih jauh dari “Indonesia yang lebih baik dan bermartabat”. Terkadang, lagi-lagi, pikiran untuk merasa menyerah tak berdaya, datang menghampiri.

Anonim, pernah bilang kepada saya:

“Bahkan yang terlihat kuat pun harus ada yang menguatkan..

Bahkan yang terlihat bersemangat pun harus terus disemangati..

Bahkan yang dianggap paham pun harus terus dipahamkan…”

Yah, apalah saya ini. Lemah, ringkih, tak berdaya, tak banyak ilmu, hamba yang pandai membuat sungai di pipi entah karena persoalan studi, mimpi, atau pun cinta. Saya butuh penguat, penyemangat, dan pemahaman; yang dengannya saya bisa merasa hebat dan sempurna. Tapi, mencari yang seperti itu ibarat ketidakmungkinan. Kamu tahu, ketidakmungkinan adalah sesuatu yang tak bisa diraih dan dicapai jika hanya berdiam dan melamun saja. Ia, pertama-tama, harus dipikirkan dan diperbuat untuk menjadikan nyata.

Saya menjadi ingat ucapan Derrida: marilah kita mulai dari yang tak mungkin.

Mungkin, kota yang nyaman ini akan berhenti nyaman.

Mungkin, kota yang setiap sudutnya memiliki keistimewaan ini akan menjadi biasa.

Mungkin, kota yang mempertemukan saya dengannya ini akan menjadi kenangan belaka jika tak pernah rasa ini terucap.

Tapi, itu sungguh sekedar bisikan hidup. Dan bolehkah saya membisikkan kalimat sederhana ini dengan penuh mesra:

Kamu adalah ketidakmungkinan yang selalu saya semogakan“.

 

Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia

Bisikan Hidup = Bisikan Cinta

 

 

Idealisme Kami Yang Perlu Dihayati

logo ppsdms

Betapa inginnya kami agar bangsa ini mengetahui bahwa
mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri.

Kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur
sebagai penebus bagi kehormatan mereka,
jika memang tebusan itu yang diperlukan.

Atau menjadi harga bagi tegaknya kejayaan,
kemuliaan, dan terwujudnya cita-cita mereka
jika memang itu harga yang harus dibayar.

Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap seperti ini
selain rasa cinta yang telah mengharu-biru hati kami,
menguasai perasaan kami,
memeras habis air mata kami,
dan mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata kami.

Betapa berat rasa di hati kami menyaksikan bencana
yang mencabik-cabik bangsa ini,
sementara kita hanya menyerah pada kehinaan
dan pasrah oleh keputusasaan.

Kami ingin agar bangsa ini mengetahui bahwa
kami membawa misi yang bersih dan suci,
bersih dari ambisi pribadi, bersih dari kepentingan dunia,
dan bersih dari hawa nafsu.

Kami tidak mengharapkan sesuatu pun dari manusia,
tidak mengharap harta benda atau imbalan lainnya,
tidak juga popularitas, apalagi sekedar ucapan terima kasih.

Yang kami harap adalah
terbentuknya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat
serta kebaikan dari Allah – Pencipta Alam semesta

***

Bait-bait di atas lah yang selalu menghiasi Senin pagi kami di asrama. Ada beberapa kisah menarik tentangnya. Salah satunya begini. Dahulu, ketika misalnya saya berbuat sesuatu; utamanya mengharap terima kasih. Namun, kini, ucapan terima kasih sama sekali bukan menjadi alasan berbuat baik. Tetapi, lebih kepada suatu keharusan menempatkan kepentingan bersama dan tak hanya memikirkan diri sendiri–untuk orang lain. 

Malam ini, hati saya tersentuh. Menatap dinding di asrama yang ada figura dengan tulisan “idealisme kami” terpampang secara gamblang. Saya hanya ingin bilang, bahwa seluruh proses kehidupan berasrama, intinya, ada pada idealisme kami. Memang, idealisme kami bias dengan karya Hasan Al Banna, Risalah Pergerakan. Tapi, memang itu sesuai dengan fikrah berpikir saya. Ajaran kasih sayang, damai, menempatkan kepentingan orang lain, pengorbanan, kebangsaan, nasionalisme dan segenap ajaran baik lainnya yang tak hanya menempatkan sisi religiusitas. 

Waktu tinggal di asrama nyatanya tinggal sebentar lagi: 4,5 bulan. Entah, terasa sangat cepat. Aku yang begitu nyaman dengan segala fasilitas dan juga merasa banyak tertantang dengan hadirnya orang-orang hebat di sini. Kita sama sekali tidak diajarkan untuk saling menjatuhkan, namun menguatkan. Kita diminta untuk saling berlomba-lomba dalam kebaikan, bertebaran dimuka bumi, dan memiliki empati atas kehidupan kebangsaan dengan catatan: sudah selesai dengan urusan pribadi.

Nah, ikhtiar memperbaiki diri dan menyelesaikan urusan pribadi ini harus terus dikumandangkan. Sayang sekali, masa-masa di asrama tak bisa mengubah diri menjadi yang lebih baik. Suatu hari, pasti, sebagaimana pengalaman dan kisah pendahulu, ada saja penyesalan; entah apapun itu. Maka, di sanalah letak kita belajar. Bahwa Di titik ini kita sama-sama menyadari harus ada pemaknaan secara dalam atas segala tindakan yang kita lakukan. Nikmati saat berproses ini dan jangan mengeluh. Lakukan sebaik-baiknya seluruh kegiatan yang ada. Cintai saudara-saudaramu sepenuhnya. Buat mereka bahagia karena kehadiranmu. Sungguh, sedikitpun saya pribadi tak mengelak jika sudah benar-benar mencintai asrama ini bersama dengan orang-orang di dalamnya.

Hanya satu katas: syukur. Dengan bersyukur itu kita akan merasa selalu cukup. Tak kekurangan satu apapun. Tentu, tulisan ini akan bisa lebih panjang karena pada prinsipnya saya terus menghayati. Tapi, saya cukupkan di sini dahulu. Ada banyak yang ingin saya utarakan, tapi nanti. Namun, yang terpenting dan ingin saya katakan sekarang: senang, bisa berkenalan dengan kalian semua. 

Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia

Menghayati Idealisme Kami

Sedikit Tentang Politik

politik

Tiba-tiba tubuh saya melemas. Ya, beberapa hari lalu, kira-kira dua sampai tiga hari saya diam saja di asrama. Tak kuat ke mana-mana. Beberapa kawan dan kerabat menanyakan kabar. Seperti biasa, saya jawab apa adanya: sekarang, sedang tidak baik.

Terkadang sakit memang menghalangi saya untuk berkegiatan di luar. Melakukan ini dan itu. Terlebih, akhir-akhir ini saya dan kawan-kawan 2013 sedang mengupayakan agar Kuliah Kerja Nyata (KKN) di UGM sebagai program wajib kuliah tidak membayar. Ya, tapi sakit memberikan saya kesempatan untuk beristirahat. Sejenak hening. Memandang langit-langit kamar, atau bahkan tembok-tembok kamar yang dipenuhi dengan berbagai coretan atau guratan foto penyemangat. Sekedar memvisualisasikan mimpi, namun condong untuk memenuhi hasrat saja.

Apapun itu, biarlah. Tak banyak orang sadar bahwa hidup manusia ini mengandung banyak ingin tanpa menaruh rasa syukur. Saat diberi sehat misalnya, kita terlampau ingin mengistirahatkan diri dan berdiam saja di asrama. Namun, giliran diberi kesempatan mengistirahatkan diri, kita malah ingin beraktivitas. Ada lagi, ketika kita sudah mendapat apa yang kita inginkan, kita akan cenderung tuk menguasai yang lebih. Dan ketika itu tidak didapatkan, kita mengutuk yang Maha Pemberi. Padahal, Yang Maha Pemberi ini akan memberi sesuai dengan apa yang dibutuhkan, bukan yang diinginkan. Sampai-sampai, saking banyaknya nikmat Yang Maha Pemberi, kita lupa untuk bersyukur.

Hari ini saya semakin sadar. Hati saya terketuk untuk menerima saya yang hari ini. Bukan apa-apa. Saya telah banyak merefleksikan diri dalam tiap-tiap tulisan saya, juga dalam proses menjalani keseharian. Entah di jalanan, saat diam di lampu merah, saya melihat seorang anak kecil menjajakan koran. Pedang di Masjid Kampus yang tuna netra, namun semangatnya tak membutakan nuraninya untuk tiada letih menghidupi keluarga. Atau pemuda yang memilih jadi pemandu di Goa Pindul dan harus menghentikan pendidikannya.

Saya tentu tak ingin melarikan diri dari kehidupan. Saya hanya berusaha menghadapi apa yang ada saat ini: studi politik dan pemerintahan. Baru saja, hati saya terpanggil kembali. Panggilan ini mulanya berkumandang ketika di awal sebelum berkuliah. Memilih jurusan adalah mirip dengan memilih masa depan. Meski tak sepenuhnya, tapi jangan sangka, di sini kita tidak sedang bermain-main. Kita dihadapkan pada tanggung jawab kepada Allah Swt, Orangtua, Guru, Kerabat, dan waktu. Dan kini, semuanya menyatu dan memanggil nama pribadi kembali. Entah dua tahun setengah macam apa yang sudah saya lakukan di UGM. Niatan yang lurus untuk nantinya bisa mengubah kebijakan negara nyatanya tak semudah mengetik status “kalau belum berhasil, kita coba lagi, sampai berhasil” di Whatsapp.

Kita akan menghadapi isme, Kawan. Isme yang terkadang membuatmu tak lagi ingat siapa dirimu, temanmu, keluargamu. Semua terlupa hanya karena pundi-pundi rupiah yang hendak dituju. Orang jujur macam apa lagi; bila tidak suka, kita bikin dia berduka. Segala halang rintang yang bisa mengganggu atau membuat jalan ini semakin terjal, harus dihadang. Di sini, orang baik dapat dengan mudah menjadi buruk. Apalagi yang benar-benar memelihara keyakinan menjadi orang baik. Orang macam begini yang tak disuka dan sewaktu-waktu bisa ditendang dengan isu gonjang-ganjing yang membuatnya seketika hancur. Itulah, politik.

Di sinilah kita perlu mempelajarinya. Politik adalah soal siasat. Perlawanan antara hitam dan putih. Yang abu-abu hanya menjadi korban baik dan buruk. Beruntung jika ia menjadi korban kebaikan. Bila tidak? Itu yang menjadi masalah.

Saya di sini, lagi-lagi, ingin menegaskan kepada kawan-kawan sekalian. Usaha mencari ridha-Nya melalui jalan kebaikan, dalam bidangmu, entah apapun adalah suatu keniscayaan yang mesti kita pupuk sedari mungkin. Banyak orang di luar sana yang mengharap perubahan dalam hidupnya. Mereka hidup dalam tangisan lirih dan jeritan kelaparan. Mereka tak paham apa itu politik. Entah senjata pemusnah masal, uang bantuan langsung tunai, atau apalah. Pada intinya, kita harus mempelajarinya dan memperjuangkannya agar tak direbut oleh mereka yang berniat buruk. Memang, menilai niat itu sulit. Namun, ia akan terasa, kawan. Maka, pekalah.

Suatu hari nanti, akan ada orang yang mengenang ketegaran kita saat sama-sama memperjuangkan kebenaran dan kebaikan. Maukah kamu melakukannya bersama saya, Dek?

 

Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia

Mendapat pencerahan sehabis rihlah

Berjuanglah, Kawan

unj

Kita sama-sama tahu. Dunia ini berisi nama-nama. Ada nama-nama yang ketika kamu mendengarnya, dan kamu akan segera menoleh untuk kemudian tersenyum riuh-sumringah. Itu adalah keadilan, kawan. Keadilan inilah yang kemudian membawa kita pada kebahagiaan dalam hidup. Tidak ada lagi kekurangan. Semua merasa tercukupi kebutuhannya, sesuai dengan yang dibutuhkannya.

Ada lagi, nama-nama yang ketika kamu mendengarnya, kamu dengan serta merta menjauhi. Kamu jijik dan enggan bersentuhan dengannya. Ia adalah lambang hipokrit alias munafiq. Khas kaum elit. Yang ketika kita berurusan dengannya, kita akan sebal. Akan banyak orang yang tersakiti.

Hari ini, saya mendengar kabar mengerikan. Sahabat saya, di Jakarta. Mereka tergolek hak atas suaranya. Mereka ditendang paksa dari kampus yang telah dibelanya selama beberapa tahun.

Dan di malam yang barokah ini, saya mewakili teman-teman Dema Fisipol menuliskan ini…..(rencana besok akan diterbitkan di laman Dema Fisipol)

 

[Rilis] Solidaritas Dari ‘Jog’ Untuk Jakarta: Tentang Perlawanan Mahasiswa UNJ

Dema Fisipol UGM

 

“Idealisme adalah kemenangan terakhir yang dimiliki oleh pemuda”

Tan Malaka

***

Baru saja kami mendengar kabar duka dari Jakarta. Sahabat kami, Ronny Setiawan (Ketua BEM UNJ 2015) dipaksa harus keluar dari kampus almamater tercintanya karena mempertahankan idealismenya. Kabar mengerikan ini tersiar secara cepat dan masif. Kami, Dema FIsipol, secara kelembagaan tak kuasa menahan diri dan ingin segera membersamai Ronny dalam sebuah ikatan solidaritas mahasiswa Indonesia.

Di sini, Ronny adalah salah satu ikon penumpas ketidakadilan yang tidak beruntung. Namanya kini telah tertera dalam Surat Keputusan Rektor Universitas Negeri Jakarta Nomor: 01/SP/2016 tentang Pemberhentian sebagai Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta atas tuduhan tindak kejahatan berbasis teknologi dan aktivitas penghasutan. Surat ini kemudian di kumandangkan oleh Dekan Fakultas MIPA UNJ.

Semua ini bermula ketika Ronny dan kawan-kawan melakukan aksi-aksi demonstrasi menuntut pengusutan tuntas kasus sarana kuliah FMIPA (secara hukum milik Kemenristekdikti) yang berujung pada penyelewengan APBD DKI Jakarta dan juga berkaitan dengan Wisma Atlet & Asian Games (yang kira-kira melibatkan Rektor UNJ dengan Gubernur DKI Jakarta). Namun, Rektor UNJ sepertinya tidak siap untuk dimintai keterangan. Sebab, hal ini akan mengundang banyak tanya dari berbagai pihak yang implikasinya, bisa jadi, membuka kedok kasus-kasus yang lain, seperti: Sentralisasi Dana, Pembungkaman Dosen/Birokrat yang kritis, Banyaknya Penghapusan Dana Kegiatan Mahasiswa, Pemotongan Biaya KKN, Keringanan Biaya Yang Dihapuskan, dan masih banyak lagi.

Bila berkaca, tentu saja, kabar memilukan ini adalah peringatan bagi kami, Dema Fisipol. Sedikit bercerita. Beberapa waktu lalu, rekan kami juga memiliki nasib yang sama dengan dituduh ini dan itu. Kemudian, rekan kami diberikannya manuver oleh pihak Rektorat dengan ancaman dibawa ke ranah hukum atas perjuangan yang sama: melawan ketidakadilan. Kisah Ronny dan kawan-kawan di UNJ tentu saja menjadi sinyal pertanda bahaya; bahwa sesungguhnya rezim anti kritik khas Orde Baru masih saja menjangkit ditubuh para elit kampus. Kalau mereka tidak suka, tangkap…Kalau mereka benci, basmi…Kalau mereka tak sepakat, sikut… Hal-hal yang semestinya sudah kita tanggalkan sejak jauh hari.

Di titik ini kita sama-sama menyadari, kawan, bahwa Reformasi mengamanatkan kebebasan berpendapat. Semangat untuk mengemukakan pendapat di muka umum harus terus kita sama-sama rawat. Semua yang terasa, terlihat, dan teralami oleh kita, sampaikan. Bilamana ada sesuatu yang salah dan janggal, tak perlu ragu untuk tunjukkan dan hadirkan ke muka. Di hadapan kaum hipokritlah kita menang.

Bukankah kita berkuliah agar kita tidak bodoh? Bukankah kita berkuliah agar kita bisa menolong orang-orang di sekeliling terbebas dari kebodohan? Dengan belajar, membaca, berdiskusi, yang biasa kita lakukan sehari-hari bukan untuk ditelan secara pribadi, kan? Seperti kata Tan, “Janganlah segan belajar dan membaca! Dengan pengetahuan itulah kelak kami bisa merebut hakmu dan hak Rakyat… Insaflah bahwa pengetahuan itu kekuasaan.”

Dengan kekuasaan inilah, kami pergunakan untuk melawan ketidakadilan, merengkuh kebenaran, dan mencapai kebermanfaatan bagi sesama. Oleh sebab itu, dengan keteguhan hati, kami dengan tegas menolak tuduhan pencemaran nama baik yang dilakukan oleh Rektor UNJ. Kami, Dema Fisipol meminta secara rendah hati kepada Rektor UNJ untuk mencabut SK Rektor dan mengembalikan status Ronny Setiawan sebagai mahasiswa.

Semoga solidaritas kami akan terus bertambah seiring berkembangnya nilai empati dan kemanusiaan di kalangan mahasiswa Indonesia. Aamiin.

 

Salam dari ‘Jog’ Untuk Jakarta

06 Januari 2016

Integritas

integritas

Bila kita mau berandai-andai.

Andai diri saya ini dulunya terlahir dari perut Ibu Tin; saya, anak, cucu bahkan cucu dari cucu saya pasti akan mengecap harta yang berlimpah ruang. Tak memiliki kekurangan satu apapun. Tidak perlu berpikir lama untuk makan nasi uduk dengan lauk gorengan maksimal dua atau perkedel satu. Saya bisa bebas memakan gorengan empat ditambah perkedel sepuluh. Saya tak perlu bingung untuk membelikan mas kawin kepada calon istri hingga bahkan memberi anak saya susu dengan kualitas terbaik.

Tapi, di sisi lain, kita juga perlu berpikir. Apakah Ibu Tin dengan Pak Harto di semasa hidupnya juga pernah berandai-andai? semisal, mereka berdua berandai-andai untuk hidup dalam kesederhanaan yang penuh kecukupan. Tak perlu bermewah-mewahan. Yang penting bisa mbikin dapur ngebul. Anak-anak tak rajin jajan dan gemar menabung. Bisa hidup guyub, tak sibuk satu dengan yang lain. Terutama untuk kasus KKN yang membelenggu, dan berharap, andai Allah Swt memaafkan itu dan membuat makhluk ciptaannya: manusia lupa atas kesalahan yang telah diperbuat.

Untuk yang terakhir ini sebenarnya yang menarik. Soal KKN. Bila ditarik dan tak perlu diulur, persoalan ini berpangkal pada integritas. Opo iki ‘integritas’? Kowe ra perlu masuk jurusan politik dan pemerintahan, Nduk. Sederhananya, integritas itu soal etika, moral, budi pekerti, kejujuran. Pokoknya, segala yang berkaitan dengan kebaikan, itulah integritas.

Hari ini, dan mesti juga dari hari lalu, soal integritas ini memang menjadi yang utama untuk dicarikan solusinya. Dalam diskusi-diskusi di kelas, persoalan ini tak banyak di singgung, kecuali kalau kepepet. Kesannya, jadi sesuatu yang normatif. Padahal, persoalan ini mengandung konsekuensi yang berat: pertanggungjawaban dihadapan Allah Swt. Wah, susah iki kalau udah bawa akhirat. Tapi, tenang dulu sob. Ada beberapa siraman rohani yang sayang untuk dibiarkan begitu saja.

Manusia, sebagai mahkluk punya dua tugas: hamba dan khalifah.

Sebagai seorang hamba, penekanannya terletak pada urusan-urusan pribadi. Sudah seberapa jauh kamu peduli terhadap Amalan Yaumiyahmu? Sudah seberapa deket dirimu dengan bau Sorga? (Bayangin coy, bau Sorga aja belum pernah nyium, apalagi Sorganya). Tapi, pada intinya, urusan-urusan pribadi atau yang dengan nama kerennya “kesalehan individu’ harus segera diselesaikan sebelum masuk dalam pentahapan tugas selanjutnya sebagai seorang Khalifah.

Sebagai seorang khalifah, titik tekannya pada urusan-urusan sosial. Ini mengingatkan kita pada ciri khas manusia: makhluk sosial yang tak bisa hidup sendiri. Harus ada kamu, Dek. Tapi, sebelum hidup bersamamu, saya harus menghidupi masyarakat sekeliling. Menyalakan lilin harapan dari ketergelapan akibat isme-isme yang menggoda. Bayangkan, mahasiswa Sospol lebih fasih membawakan konsep-konsep ataupun teori-teori ala Barat ketimbang Din-nya. Kesalehan sosial juga mewujud dalam ruang-ruang kongkrit lainnya. Memberi inisiatif bantuan catatan kepada teman atau adik kelas yang membutuhkan, menawarkan sparing ping-pong, mendiskusikan isu-isu nasional dengan santai sembari membawa kue, dan kehadirannya membawa aroma persahabatan (meski bau ketek) yang selalu saja dinantikan.

Integritas adalah soal kesalehan individu dan sosial, dan kualitas integritas bisa diukur ketika kesalehan individu dan sosialnya berada dalam maqam tertinggi. Semakin tinggi, maka semakin baik derajat integritasnya.

Sejauh ini, saya masih saja belajar untuk merengkuh dan memeluk integritas kepangkuan. Bilamana ada jalan yang harus saya tempuh untuk menujunya, pasti akan saya lakukan sepenuhnya. Bukankah begitu jalan seorang pejuang, seorang pemimpi(n)?*

 

*Catatan: Kalimat ini punya dua mata. Berhati-hati, Dek.

Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia

Dari bahasan di tempat makan hingga ke depan laptop