4 Tahun Sekali
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Monthly Archives: February 2016

4 Tahun Sekali

tahun-kabisat

Maaf, dalam beberapa hari tak menulis. Bagi saya, menulis adalah memberi kabar. Ada sesuatu yang harus diberitahukan, entah seberapa genting, nyaring, atau bisingnya hidup yang saya alami.

Namun, ada yang lebih penting. Menulis adalah laku yang membedakan makhluk pra sejarah dan sejarah. Suatu keharusan untuk mendokumentasikan hidupmu agar tak dijadikan candaan, hingga bahkan tenggelam; tertelan dimakan zaman.

Narasi kehidupan berjalan lebih cepat dari dugaan saya; juga mungkin kamu. Tak berasa, kini saya sudah beranjak dewasa. Persoalan hidup yang dahulu saya ingat betul hanya sebatas mengurusi urusan belajar sepulang sekolah, main bola di gelanggang, atau yang paling ekstrem tawuran dengan sekolah lain. Di sini jelas, musuhnya sebatas melawan bentuk fisik: pekerjaan rumah, adu skill bermain bola, dan juga adu jotos. Tapi, kini tidak seperti itu. Sekarang, lebih kompleks. Saya menghadapi tantangan yang jauh lebih besar.

Tantangan hidup berjalan seiring berkembangnya usia. Jelas. Dewasa ini saya harus menghadapi sekelumit persoalan yang membuat saya harus pandai-pandai memanajemen waktu. Dibutuhkan di sana, sini. Kemudian, harus berbagi waktu antara akademik, asrama, organisasi, keluarga, Ibadah, dan segenap kegiatan lainnya. Perlu diingat, hidup saya bukan untuk dunianya dan segala keinginannya.

Adapun yang menjadi persoalan yang paling membuat saya rajin-rajin mengelus dada adalah bukan cinta. Ini soal politik. Kau tahu, suatu ketika saya pernah menulis tentang “berpolitik dengan cinta”. Saya katakan politik sebagai sesuatu yang indah karena di dalamnya mengandung kebaikan. Karena urusan kepublikan dimulai dari biaya berobat, harga bensin, pencegahan terorisme, biaya UKT, semua adalah persoalan politik.

Namun, seiring berjalannya waktu, politik dimaknai negatif. Seperti, pembegalan uang negara, sekedar mencari kuasa, dan beragam kejahatan tingkat akut yang mendera bangsa ini. Itu pun sebab politik. Lantas, persoalan yang kini saya hadapi adalah bagaimana caranya berlaku adil dalam perkataan dan perbuatan.

Punya ilmu ya membuat saya semakin bijak. Sebab, bukan hanya filsuf saja. Menghadapinya memerlukan usaha penyadaran yang tak berbalut emosi. Usia-usia seperti belasan yang beranjak kedua puluhan meminta kita untuk terus mencari, siapa jati dirinya. Bahkan, usia sekaliber 30an ke atas pun masih ada yang krisis identitas, koq.

Dugaan saya, melihat apa yang dilakukannya, menunjukkan upaya agar dirinya diakui keberadaannya, idenya, tampilannya. Menjadi berbeda dengan orang lain yang diidentifikasikannya karena suatu alasan semisal membenci latar belakang, atau sekedar menjadikan ini terlihat problematik. Terlepas dari itu. Saya memandang sah-sah saja. Bahwa dunia yang digambarkannya yang paling ideal sebatas itu.

Ingat, dalam berbicara, bertindak, ada sesuatu orientasi. Jika diorientasikan seluruh tindakannya terkhusus pada Allah Swt, maka tak akan ada merasa diri sia-sia dalam menjalankan. Berbeda dengan nafsu. Jika tidak seperti yang ideal digambarkannya, ia akan terus meminta lebih dan lebih. Dan tahukah kamu tentang nafsu? Hal yang utama yang dimiliki seorang binatang. Manusia juga punya nafsu. Tapi, ada akal yang telah mencerap ilmu. Dengan ini, kita bisa mengendalikan nafsu.

Saya katakan, dalam berbagai hal. Orientasi saya dalam menjalankan keseharian terbatas pada Allah Swt saja. Termasuk berpolitik (kampus). Bagi saya, berpolitik dengan cinta dapat mempertemukan hati-hati yang tercerai-berai, merangkul orang-orang yang ternafikan dan mengajak sekaligus menyatukan kelompok-kelompok yang terkotak-kotak.

Saya sudah melakukannya. Tapi, jika masih belum banyak orang tersadarkan dengan alasan membenci siapa saya atau lainnya. Saya akan tetap mencintainya. Sebab, saya tahu konsekuensi atas pilihan yang saya ambil saat ini dan bahkan sudah diingatkan jauh hari sebelum saya berada di posisi saat ini. “Politik itu bising”. Tentu, saya sudah kebal dengan orang berbisik atau berteriak apa. Saya akan tetap melaju dengan melibatkan satu: KuasaMu.

Bismillah…untuk hari ini, ditanggal yang hanya datang 4 tahun sekali, esok, dan bahkan seterusnya.

Maaf, tidak ada korelasi judul dengan isi yang begitu kuat. Saya hanya ingin berbagi keresahan.

Tolong, kuatkan saya.

 

23:05 WIB

Politik itu Bising

Gramedia

Tadi pagi ada Gramedia. Gerakan Membaca dan Berdialektika. Bukan Toko Buku. Program yang mulanya saya lontarkan di rapat tata program semester dua lalu. Tidak terasa, Gramedia bisa ada hingga hari ini. Niat awal dibentuknya sederhana: membuat setiap orang merasa untuk terlibat; berani mengutarakan pendapat dan berdasar.

Semalam, Endri masuk ke kamar. Gak pakek salam. Hmm..

Ceritanya, dia mau minta tolong saya untuk memantik Gramedia esok hari (aka. pagi tadi; 22 Feb) perihal kehidupan berasrama yang sudah berjalan sekitar 19 bulan. Penekanannya pada kepemimpinan profetik dan seluk beluk asrama.

Tentu ini adalah satu kehormatan bagi saya untuk berbagi tentang asrama. Sedari awal saya berada di sini, saya selalu merasa bahagia. Baik dalam mengikuti program, satu kalipun saya tidak pernah duduk dibelakang atau pun tertidur. Saya upayakan untuk terus hadir tepat waktu; kecuali ada urusan lain semisal nge-Dema. Sehingga, bila ada hal yang berkaitan dengan asrama, saya selalu siap untuk maju.

Saya mulai diskusi pagi tadi dengan pengertian asrama (pondok pesantren) yang bukan hanya sekedar tempat untuk tidur. Bahwa asrama adalah tempat bersosialisasi di antara penghuninya dan juga kepada masyarakat. Kemudian, tempat untuk berdiskusi, saling tukar pandangan, dan menganalisis persoalan umat.

Sampai saya menyampaikan hasil penelitian saya beberapa waktu lalu terkait asrama. Bahwa asrama Rumah Kepemimpinan ini dihasilkan atas setidaknya dua inspirasi: Rumah Kos H.O.S Tjokroaminoto sebagai bangunan fisik sekaligus sistem, dan konsep kepemimpinan profetik yang digagas oleh Kuntowidjoyo sebagai nilai.

Saya coba paparkan apa-apa saja visi dan misi besar Rumah Kepemimpinan ini yang kemudian mewujud ke dalam program-programnya. Bukan hanya itu, saya coba benturkan dengan berbagai pandangan orang lain diluar sana terkait dengan asrama ini, entah apa pun itu. Kemudian, dari situ, saya mengajak seluruh yang hadir merefleksikannya ke dalam pribadi masing-masing. Sebenarnya, sudah sejauh apa program yang diberikan Rumah Kepemimpinan terinternalisasi? Atau lebih tepatnya, apa yang sudah kamu dapat dari sini dan kemudian membuatmu merasa harus bertanggung jawab kembali ke Rumah Kepemimpinan?

Kemudian, teman-teman mengeluarkan unek-unek terkait dengan kehidupannya di asrama.
Dwiki mengawali komentar dengan pernyataan: bagaimana caranya kita berpikir untuk ke depan, pasca asrama, agar kita bisa kembali ke Rumah Kepemimpinan dengan cara apa pun.
Pras melanjutkan bahwa sebenernya bukan sekedar program yang utama. Lebih kepada keseharian yang kemudian membentuknya.

Hafiq juga menambahi kalau asrama ini banyak mengubah hidupnya yang tadinya untuk bangun shalat tahajud saja susah.

Fadhli yang kemudian memaparkan banyak hal: ia mengatakan agar kita cukup menyelesaikan urusan mempersoalkan asrama ini dibentuk dengan metode Tarbiyyah. Hal ini pernah juga ditanyakannya kepada Pak Waziz. Dan Pak Waziz malah berbalik tanya: “Pola Kepemimpinan apa yang terbaik selain Tarbiyyah saat ini?” Ia juga merasa beruntung, Rumah Kepemimpinan mau merimanya yang begintu. Selanjutnya, terkait dengan ROMO: Rendah Hati, Obyektif, Moderat, dan Open Mind yang menurutnya sangat membantu untuk bertatap muka dengan orang lain. Serta, penekanan di 4 Poin: Muslim Produktif, Aktivis Pergerakan, Mahasiswa Berprestasi, dan Kebersamaan dan Kekeluargaan menjadi jalan yang mesti ditempuhnya.

Ibnu Fajri juga menyampaikan pandangan bahwa nilai-nilai yang terinternalisasi lebih penting dari sekedar program. Hal ini berkaitan dengan kehidupan pasca asrama di mana nantinya akan sulit yang mengontrol selain diri sendiri.

Kholqi juga menanggapi bahwa setiap orang di sini telah memiliki starting point masing-masing: Setiap orang sudah punya kelompok/karakter sendiri. Ia yang mengaku di awal kosong dan perlu diisi kemudian bisa mengalahkan diri yang dulu karena kini sudah memiliki capaian prestasi. Ia ingin agar kita semua memiliki karakter: Al Qur’an dan Al Hadist. Persoalannya, mau belajar atau tidak?

Dodik kemudian bersuara. Ia terkadang lupa bahwa ia tinggal di Asrama. Ia melihat beberapa kekurangan di Asrama, antara lain: (1) Sulit baginya mencari teladan sendiri (2) Sulit memahami dan mendekati semua anak (3) Berusaha menjadi diri sendiri sulit sekali di asrama. Ada perasaan tidak nyaman yang membuatnya memilih keluar forum atau tidur. Dodik juga mengkritisi terkait kepura-puraan dalam bersaudara karena dipaksa sistem. Pengujiannya adalah pasca asrama. Apakah betul kita masih bersaudara.

Dan terakhir, Endri yang mengatakan bahwa Asrama ini membentuknya menjadi dewasa dan merdeka, serta memilih jalan hidupnya sendiri. Pembicaraan Endri selalu mengarah pada keinginannya membentuk negara baru: Aceh Merdeka. Meski begitu, ia tidak akan melupakan asrama ini seumur hidupnya.

Saya merasa, ada banyak sekali cerita yang belum digali. Kemudian, saya hanya bisa mengingatkan bahwa ke depan, Rumah Kepemimpinan ini akan dipegang kendalinya oleh alumni. Untuk sekedar mengingatkan, bahwa berakhirnya pembinaan bukan berarti berakhir pula hubungan kita. Masih ada lanjutan yang membuat kita masih akan terus bersama, bahkan sampai maut memisahkan. Begitu.
Untuk yang terakhir. Barangkali, beberapa waktu lalu ada tawaran bagi saya menjadi ER. Namun, sepertinya saya sudah (akan) memiliki amanah ditempat lain. Tetap tenang, kebersamaan ini akan terus berlanjut. Sampai nanti, sampai mati.

23:55
Kantor, menyendiri

Ceritanya, Saya…

Dialog Tokoh RK bersama Prof. Fahmi Amhar

Ceritanya, Saya…

…belum sempat menulis dengan rapi dan panjang lebar. Tapi, barangkali ini bisa menjelaskan kegiatan kemarin, sebagaimana saya janjikan.

Pertama, saya akan ceritakan terkait dengan Dialog Tokoh bersama Prof. Fahmi Amhar. Di awal, jauh sebelum Dialog Tokoh ini menghadirkan Prof. Fahmi, sebenarnya ada beberapa nama yang diajukan oleh teman-teman. Namun, sebagaimana Mbak Intan (Manajer RK Yogya) menyampaikan kepada saya bahwa kebetulan bulan Februari ini, Prof Fahmi yang juga merupakan Babehnya Fitri sedang akan ke Yogyakarta. Maka, kesempatan ini bisa dipergunakan untuk kita, para peserta RK menimba ilmu. Utamanya terkait dengan intelektual dan sains.

Akhirnya pembagian timsat. Kebetulan timsat Umar bin Khattab yang dapat giliran ngerjain ini proyek. Beberapa pihak memberikan tuduhan ada kongkalikong antara saya dengan Mas Adi. Tapi, tuduhan itu sama sekali tidak berdasar. Untuk apa saya kongkalikong, dan silakan tanyakan ke Mas Adi, apakah ada kongkalikong. Hahahaha…

Kemudian, setelah beres urusan kongkalikong, saya berinisiatif untuk mengusulkan tema “intelektual Islam dan pembangunan kualitas hidup rakyat”. Kemudian, teman-teman menerima. Maka, jalan lah kami. Rencananya, Dialog tokoh ini dibuat terbuka dan ditujukan kepada mereka yang ingin mendaftar RK.

Akhirnya saya pun yang buat TOR-nya. Kalau mau baca, begini kurang lebih:

“Tarikh (Sejarah) telah menunjukkan, tiap-tiap bangsa yang telah menempuh ujian hidup yang sakit dan pedih, tapi tak putus bergiat menentang marabahaya, berpuluh bahkan beratus tahun lamanya. Pada suatu masa akan mencapai suatu tingkat kebudayaan, yang sanggup memberi penerangan kepada bangsa lain.” (M. Natsir)

Begitulah yang pernah disampaikan Natsir semasa hidupnya. Beliau adalah salah satu tokoh intelektual Islam di Indonesia yang dikagumi. Ketokohan Natsir tidak hanya diakui di Indonesia saja, bahkan di dunia international. International King Faisal—lembaga penghargaan dari Arab Saudi—menyetarakan Natsir dengan ulama besar India Syeh Abul Hasan Ali Nadwi dan Abul A’la Al Maududi. Karyanya yang gilang gemilang dalam memimpin Partai Islam—Masyumi, pemikiran dan juga memperjuangkan nilai-nilai Islam yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup rakyat meski harus bersinggungan dengan lawan ideologisnya membuat kita kagum.

Di luar sana, tepatnya di Iran pada tahun 1979, terjadi sebuah revolusi sosial besar yang merupakan revolusi pertama yang menggunakan simbol agama, yang berujung pada tumbangnya pemerintahan Syah Reza Pahlevi. Seorang tokoh yang pemikirannya menjadi salah satu penggerak revolusi ini yaitu Ali Syariati. Pemikirannya bermula dari fenomena yang terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat muslim di Iran, di mana kaum intelektual dan para ulama hanya fokus pada keilmuan, dan terkesan acuh terhadap kebodohan, kedzaliman, dan penindasan atas masyarakat muslim. Hal ini berkebalikan dengan keyakinan Ali Syari’ati yang menyatakan bahwa aspek spiritualitas dapat berbanding lurus dengan aspek keduaniwian. Beliau tak larut dalam perdebatan, namun ia melakukannya. Ialah inspirator dan pionir social engineering dalam revolusi besar Iran.

Mengutip Mansour Faqih dalam Manifesto “Intelektual Organik”—terminologi A. Gramsci—bahwa “sebenarnya penderitaan rakyat telah bermula dan sudah menjadi takdir sosial kalau derita itu tanpa akhir. Dahulu, di awal kemerdekaan, negeri ini diperjuangkan oleh segelintir intelektual yang bersama rakyat merasakan derita yang dialami. Mereka seperti kekuatan nurani rakyat yang memiliki pendidikan dan kedudukan sosial lebih baik. Kaum intelektual ini tidak buta terhadap kenyataan sosial yang timpang dan tanpa ragu turun lapangan. Tetapi, hari ini kita menyaksikan gerbong intelektual berderet mendukung secara fanatik rezim imperialis modal”.

Terlepas dari latar belakang dan fikrah yang kita yakini, tentu kita bisa banyak belajar dari mereka. Bahwa agama Islam adalah pandangan hidup kita. Islam dapat dan harus difungsionalisasikan sebagai kekuatan revolusioner untuk membebaskan rakyat yang tertindas, baik secara kultural mapun politik. Lebih tegas lagi, Islam merupakan ideologi revolusioner ke arah pembebasan Dunia Ketiga dari segala bentuk penjajahan.

Dengan ini, barulah sampai kita pada apa yang disebut sebagai pembangunan kualitas hidup rakyat. Semua ini dapat diukur pada, misalnya, Indeks Kualitas Hidup. Pendekatan ini mencakup beberapa indikator, antara lain tingkat harapan hidup, angka kematian, dan tingkat melek huruf suatu masyarakat.

Oleh karena itu, untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang berkualitas, seharusnya kaum intelektual mampu mengambil perannya dalam menyeimbangkan beberapa aspek penyusun kesejahteraan tersebut. Kaum intelektual Islam tidak boleh diam dan mendiamkan urusan kehidupan rakyat dipegang oleh orang-orang yang salah. Kaum Intelektual Islam tidak boleh membiarkan korupsi, kolusi, dan nepotisme sebagai ajang pembegalan negara terus terjadi. Kaum intelektual Islam harus berani mengisi dan hadir menyuarakan keperihan, bahkan turun langsung kepada masyarakat.

Namun, pertanyaannya: Masih adakah intelektual Islam di Indonesia? Apa gagasan dan tindakan yang mampu mengejawantahkan konsep intelektual organik? dan Bagaimana langkah-langkah yang dapat diambil kaum intelektual Islam menuju Indonesia yang lebih baik dan bermartabat dengan kehidupan masyarakatnya yang berkualitas?

Berdasarkan hal tersebut, Dialog Tokoh Rumah Kepemimpinan PPSDMS kali ini hadir mengusung tema “Peran Intelektual Islam dan Pembangunan Kualitas Hidup Rakyat”.

***

Kurang lebih begitu. Intinya, saya meminta agar bahasan nanti bisa menjawab beberapa pertanyaan kunci yang saya berikan.

Hari H pun tiba. Asrama kemudian berubah menjadi padat berisi anak-anak RK dan juga calon yang kumpul guyub jadi satu. Saya yang bertugas sebagai moderator berusaha dengan sangat santainya memoderatori.

Diskusi diawali dengan pengertian: siapa intelektual? Kemudian berlanjut pada, apa problematika umat, bangsa, dan dunia? Kemudian, diceritakan kondisi-kondisi kontemporer yang memperlihatkan bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja. Beberapa kali, Prof. Fahmi mempertanyakan kepada saya dan juga peserta terkait materi yang dibawakannya. Sewaktu-waktu saya diminta untuk menjawab atau hanya sekedar tersenyum sambil mengiyakan ucapannya. Hahaha…

Namun, hingga akhir, ekspektasi saya sepertinya belum terpenuhi. Pendekatan yang dilakukan Prof. Fahmi berbeda dengan yang saya pahami, sehingga analisis terkait pertanyaan-pertanyaan yang dilemparkan di TOR menjadi tidak terjawab. Meski begitu, presentasi yang dibawakan Prof. Fahmi banyak membeikan input kepada saya pribadi dan juga rekan-rekan hadirin sekalin, terutama dalam mencermati peran Islam dalam konteks pembangunan dan penyelesaian problematika umat.
Barangkali, suatu saat bisa diskusi lagi, lebih banyak.

Kemudian, mengisi kajian Islam di SMAN 9 Yogyakarta tentang hari Valentine pada 15 Februari 2016.

Tiba-tiba, pukul 09:28 WIB Mas Adi menghubungi saya untuk mengisi Kajian Senin Sore dari jam setengah 3 sampai setengah 5. Temanya gak tanggung-tanggung: “Yang Manis Belum Tentu Halal”. Duh, Dek. Temanya genit banget. Hahaha…

Padahal sore itu, saya sudah punya agenda rapat Bidang Keilmuan Dema Fisipol yang perdana di jam setengah 4. Singkat cerita, saya izin menyusul rapat dan memenuhi permintaan Mas Adi.

Alfath On Stage

Alfath On Stage

Antusiasme Peserta

Antusiasme Peserta

quotes of the day

quotes of the day

Pertanyaan dari Peserta

Pertanyaan dari Peserta

Ya, soal isi kajian. Saya membahas sejarah valentine yang ada banyak versi itu hingga kepada persoalan remaja. Soalnya, saya pernah berada di usia mereka juga. Tapi, keknya, waktu itu, saya menganggap hari valentine itu biasa saja deh. Tapi, melihat teman-teman di sekeliling, yo beberapa ada sih yang ngerayain.

Intinya, saya mengajak teman-teman SMAN 9 Yogyakarta untuk tidak mengikuti seremoni yang tak jelas asal-usulnya. Kalau toh itu disebut hari kasih sayang, apakah kita tidak bisa berwelas asih dan memberikan kasih sayang setiap saat, kapan pun, dan di manapun?

Ada juga soal GERAK JOGJA yang mau bikin acara Cangkeman, Yuk.

Ini sangat menarik perhatian selama seminggu terakhir. Mengkonsep acara, menyebarkan undangan, dan intinya memastikan acara ini bisa berlangsung dengan baik pada tanggal 28 Februari nanti.

Kita, saya dan Ibnu, juga rekan-rekan GERAK: Maya, Nikari, Fitri, Naufal yang bantu menyebarkan undangan. Yuda membantu desain. Ila membantu konsep juga deh, sama Odi bantu do’a. Semua bekerja sesuai porsinya.

Acara ini diberi nama Cangkeman, Yuk! usulan “your bebeb” (bebeb-nya Ibny Asyrin Al Bantani). Kesannya, kalau kata orang Yogya, koq kasar begitu. Ada beberapa kecaman, tapi kami berusaha meyakinkan dengan sangat baik. Maksud kami sebenarnya hanya ingin menyederhanakan bahasa yang bisa diterima dengan bersahabat.

Karena saya bertugas bersama Ibnu, yo kita muter-muter. Ada kali, lebih dari sepuluh sekolah kita muter-muter. Ketemu bagian Tata Usaha Sekolah, OSIS, dan satpam tentunya. Hahaha…
Kami jelaskan, bahwa cara ini akan membahas soal keberanian pelajar untuk berlaku jujur dalam menghadapu UN. Indikator keberhasilan acara ini menurut kami ketika para pelajar Yogya bisa melewati dengan kejujuran. Toh, bila ada penyimpangan dalam perjalanannya, rekan-rekan SMA diharapkan bisa melaporkannya kepada pihak berwenang.

Meski harus melawan hujan, basah-basahan bareng, setidaknya ada kesenangan tersendiri berkunjung ke sekolah-sekolah di Yogyakarta yang luasnya menta ampun, sudah.

Beberapa foto terdokumentasikan…

Kunjungan Gerak ke SMA 1 Yogyakarta

Kunjungan Gerak ke SMA 1 Yogyakarta

Kunjungan Gerak ke SMA 2 Yogyakarta

Kunjungan Gerak ke SMA 2 Yogyakarta

dan Dema Fisipol tentunya.

Sebenernya, pos lalu yang berjudul “Kabinet Taman Bermain” sudah cukup menjelaskan tentang Dema. Dema Fisipol dianggap bercanda dalam merancang visi-misinya. Cuma, di sini, saya ingin memberi penekanan saja bahwa Dema Fisipol tidak sebercanda itu. Ada nilai filosofis dan mendalam terkait dengan nama, detail per kata, yang kemudian menginpirasi kami menaruhnya sebagai visi-misi.

Andai saja Anda tahu, ada nilai dakwah yang coba saya angkat dalam setiap perkataan. Silakan temukan sendiri.

Adalagi sih yang menarik di Dema. Adalah persoalan Mazhab Bulaksumur. Beberapa rekan mempertanyakan perihal ini dengan menyerang sisi metode, kemudian benang putih di antara pemikirnya, dan sebagainya. Beberapa di antara mereka pesimis. Hal ini tentu ibarat “Kapal Karan Sebelum Berlayar”. Program belum berjalan sudah mengeluh kesusahan ini-itu.

Tak berani bertanding adalah sikap pecundang. Seharusnya, bila melihat kesulitan atau kekurangan, kita hadapi bersama. Kita siapkan tim yang mampu menggarap ini agar pewacanaan bisa berjalan dengan baik. Bukan malah menghindarinya.

Sebab, sudah lama kita berpangku tangan kepada teori-teori barat. Dan dengan latahnya kita mengutip ini-itu. Kita butuh penyegaran yang mampu mewujudkan pengembangan konsep atau pun teori hasil pemikir Indonesia yang telah menelaah melalui konteks ke-Indonesiaan.

***

Ya, akhir-akhir ini juga saya sedang mempersiapkan beberapa hal. Ada yang terkait dengan persiapan mengikuti kegiatan DM 2 KAMMI di Kota Yogyakarta bulan depan. Kemudian, mengikuti seleksi Beasiswa Aktivis Bakti Nusa. Denger-denger, banyak anak asrama yang ikut: Asyrin, Yuda, Fajar, Endri, Maya. Itu sih yang saya tahu. Selain itu, mau daftar juga menjadi asisten peneliti dari JPP. Barangkali, ini jalan saya untuk mulai mendekatkan diri dengan Jurusan, agar kelak bisa menjadi Dosen di sana. Hehehehe

Informasi Oprec Asisten Peneliti

Informasi Oprec Asisten Peneliti

Oiyah, kemarin Mama telepon. Saya suruh jaga kesehatan. Seimbangkan akademik dan organisasi, juga asrama. Kabar keluarga sehat wal afiat. Hanya minta didoakan agar semua urusan beres, dan saya mendo’akan untuk segenap urusan yang dihadapi ortu bisa beres.

Juga, Naufal yang ulang tahun ke-21. Barakallahu fii Umrik. Sehat, cerdas dan jadi pribadi yang penuh gairah Bro.

Kue Untuk Naufal Yang Ultah Ke-21

Kue Untuk Naufal Yang Ultah Ke-21

Terakhir, soal evaluasi RK. Gak berasa ya, sudah mau beres saja pembinaan. Saya menyadari bahwa waktu berjalan begitu cepat bila kita menikmati dan mencintainya. Sebelum masa pembinaan beres, saya ingin memaksimalkan segala hal yang belum saya lakukan dengan sungguh-sungguh di awal. Soal UKP yang sekarang sedang digiatkan. Kemudian, pengabdian di TPA Masjid HI. Pokoknya, saya selalu mengupayakan setiap Rabu, Jumat, Minggu megajar. Tidak boleh tidak. Terlalu berat bagi Bu Lili mengajar sendiri. Ditambah bocah-bocahnya, haduuhhh, bandelnya bukan main. Tapi, gak boleh nyerah deh. Dan mengikuti setiap kegiatan pembinaan dengan sebaik-baiknya. Agar kelak, saya bisa mempertanggung jawabkan dihadapan Eksekutif Pusat, Umat, dan Allah SWT.

Jadi, pengen lama-lama di asrama. Gak tahu kenapa. Ingin, pakai banget. Sudah terlalu nyaman untuk ditinggalkan. Sebab, ada saya, kamu, dan kita semua
.

23:35
Kantor,
sehabis Rapat GERAK JOGJA

Kabinet Taman Bermain

Logo Dema Fisipol Kabinet Taman Bermain

“Perkenalkan. Kami Dema yang baru. Dema yang terus memperbaiki diri. Dema yang menjadi sobat. Dema yang penuh gairah. Dema yang menjunjung semangat spiritualitas dan emansipatoris”. (Alfath, 2016)

Kemarin, akun FB, Twitter, dan Line Dema Fisipol tepat pada pukul 12:00 WIB merilis kabinetnya. Mereka mengaku dirinya dengan sebutan Taman Bermain. Kurang lebih, bunyi postingannya sebagai berikut.

***

Selamat Siang!
“Hidup adalah sebuah tantangan, maka hadapilah. Hidup adalah sebuah nyanyian, maka nyanyikanlah. Hidup adalah sebuah mimpi, masa sadarilah. Hidup adalah sebuah permainan, maka mainkanlah. Hidup adalah cinta, maka nikmatilah.”(Bhagawan Sri Sthya Sai Baba)

Waktupun terus bergulir hingga kemudian tiba sudah saatnya kini Dema Fisipol akan hadir dengan wajah baru. Keberhasilan Kabinet Sansiro dalam memberikan ‘penyegaran’ terhadap jiwa-jiwa mahasiswa yang haus akan kebebasan berekspresi menginspirasi kabinet Dema Fisipol yang selanjutnya untuk kembali menjadi sarana para mahasiswa untuk mengembangkan segala potensi yang ada di diri mereka. Maka, dengan bangga kami memperkenalkan, Kabinet Dema Fisipol tahun 2016 ini bernama… Kabinet Taman Bermain!

Visi :
Lebih baik dari sebelumnya, dengan semangat spiritualitas yang emansipatoris.

Misi :
1. Mengambil tradisi lama yang baik, membuang yang buruk.
2. Menjadi sobat FISIPOL yang asik.

Pada tahun kepenguruan Dema Fisipol kali ini, Kabinet Taman Bermain mengusung tagline: Asyik-Bergairah. Tagline ini bermaksud untuk menjadikan Dema Fisipol sebagai ‘tempat bermain’ dimana susah-senang dilakukan bersama dengan melibatkan subjek penuh gairah dalam mewujudkan sinergi Keluarga Mahasiswa Fisipol.

Dema KM Fisipol sendiri terdiri dari 6 orang pimpinan bidang yang merepresentasikan 6 jurusan yang ada di FISIPOL UGM yang masing-masing pimpinan bidang membawahi 2 departement, yang antara lain sebagai berikut:

1. Bidang Kesekretariatan dan Keuangan:
a. Dept. Kesekretariatan
b. Dept. Keuangan dan Usaha Dana
2. Bidang Keilmuan:
a. Dept. Riset
b. Dept. Kajian Strategis
3. Bidang Humas dan informasi:
a. Dept. Media dan Informasi
b. Dept. Hubungan Masyarakat
4. Bidang Advokasi dan Opini Publik:
a. Dept. Advokasi
b. Dept. Manajemen dan Opini Publik
5. Bidang Pengembangan
a. Dept. Pengembangan Internal Mahasiswa
b. Dept. Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa
6. Bidang Pengabdian Masyarakat
a. Dept. Pengabdian Desa
b. Dept. Sosial Masyarakat Kota

Salam Asik-Bergairah
Kabinet Taman Bermain
DEMA KM FISIPOL UGM
***

Masih kurang? Ada tambahan foto-fotonya koq. Cekidot.

Logo Dema Fisipol Kabinet Taman Bermain

Logo Dema Fisipol Kabinet Taman Bermain

Visi dan Misi

Visi dan Misi

Bidang Keilmuan

Bidang Keilmuan

Bidang Pengabdian

Bidang Pengabdian

Bidang Pengembangan

Bidang Pengembangan

Bidang KSK

Bidang KSK

Bidang Advokasi

Bidang Advokasi

Bidang Huminfo

Bidang Huminfo

Masih kurang deskriptif?

Baiklah, saya akan coba deskripsikan.

Dema Fisipol ini adalah lembaga eksekutif mahasiswa dengan ciri khasnya yang dipimpin oleh perwakilan masing-masing jurusan di Fisipol; jumlahnya ada enam.

Saya gak ngerti, bagaimana bisa orang-orang yang berkumpul di Dema adalah orang-orang yang multi-ideologi. Semua kumpul jadi satu dengan keragamannya. Untuk menyelesaikan satu soal, kita bisa mendekatinya dengan banyak cara. Terkadang memang melelahkan, tapi itu adalah upaya untuk memanusiakan. Setiap orang berhak atas pilihan dan kemudian mempertanggungjawabkan pilihannya. Sedang yang lain juga menjadi sedemikian toleran.

Kali ini, dengan mengusung Taman Bermain diharapkan Dema bisa menjadi wahana yang menyenangkan bagi seluruh kalangan Fisipol. Menganut prinsip terbuka, pendekatan yang menyenangkan sebagai sobat, dan juga membentuk keshalehan sosial diharapkan menjadi wajah baru Dema setahun ke depan.
Dema bukan tempat orang-orang yang cepat berpuas diri. Dema adalah tempat mengupayakan kebaruan. Bertransformasi dari waktu ke waktu untuk bisa memenuhi kebutuhan zaman.

Saya jadi tidak habis pikir Dema bisa-bisanya mencantumkan kata “spiritualitas” dalam visinya. Sebab, Dema memandang spiritualitas bukan soal hubungan vertikal. Lebih jauh, spritualitas terejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari (horizontal). Ia mencakup nilai-nilai moral-etik, kebudayaan, dan segala kebaikan yang sesuai dengan ajaran Pencipta.

Percuma ibadah tapi untuk pribadi. Yang dibutuhkan adalah mereka yang rajin Ibadah tapi menuangkan kesalahehan individu itu kepada orang lain.

Pada intinya, saya berharap Dema akan tumbuh berkembang dengan kekhasannya yang melekat daripada punggawanya. Bilamana ada perjalanan yang menarik untuk disimak. Barangkali kau temukan, di sini.

Salam Asyik-Bergairah
19 Februari 2016
23:25 WIB

Sedikit Tentang UGM

ugm

Melihat tulisan di atas membuat saya merinding. Benar-benar merinding.

Adakah UGM yang sedemikian rupa sebatas kenangan belaka? Atau malah kemudian semangat yang kembali dimunculkan bisa menjadi wangi harapan yang semerbak kesturi?

Kembali lah pada hakikimu.

Sehabis Berefleksi
Di Kampus
22:49