Hanya Ingin Memberitahu
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Monthly Archives: February 2016

Hanya Ingin Memberitahu

tetap senyum

Dalam kurun waktu seminggu terakhir, saya sedang dipenuhi agenda yang bermacam-macam. Yang disangka atau pun tidak, semua terkumpul menjadi satu. Barangkali ini cara Allah SWT menguji seberapa kuat saya. Pasalnya, dalam setiap narasi do’a yang selalu saya panjatkan; sekali pun saya tak menginginkan sesuatu untuk dimudahkan. Saya hanya butuh dikuatkan, agar setiap halang rintang yang menghadang, sesulit apa pun itu dapat saya atasi.

Setidaknya, ada beberapa agenda penting yang saya ingin ceritakan, seperti: Dialog Tokoh bersama Prof. Fahmi Amhar membahas intelektual Islam dan pembangunan kualitas hidup rakyat. Kemudian, mengisi kajian Islam di SMAN 9 Yogyakarta tentang hari Valentine. Ada juga soal GERAK JOGJA, dan Dema Fisipol tentunya.

Saya ingin menuliskan agenda yang saya jalani ini secara terperinci supaya lega. Soalnya, sudah menumpuk di pikiran saya sejumlah narasi yang seharusnya sedari kemarin saya ceritakan. Hanya saja, waktu yang belum ketemu untuk menuliskannya. Pun, malam ini. Saya belum sanggup menuliskannya. Ngantuk.

Hari ini yang rencananya bisa menyicil tulisan namun tak sampai. Seharian diisi kuliah, nganter surat acara GERAK JOGJA, evaluasi asrama, TOEFL Preparation, hingga ngasih kejutan ke Naufal yang failed banget. Tapi, setidaknya, saya hanya ingin memberitahukan. Bagaimana kabarmu?

Sekian.
Selamat ulang tahun, Fal
Doa saya padamu: baik-baik kawan

Beli Buku

Beli Buku

Selama ini, untuk membeli buku, biasanya harus menyisihkan uang beasiswa. Pokoknya, mengelola uang beasiswa adalah suatu ikhtiar yang lumayan.

Sebenarnya, ada banyak buku dirumah. Tapi, itu terbitan lama. Saya juga belum tentu mendapat apa yang sesuai dengan yang saya butuhkan saat ini.

Hari ini, saya baru beli lima buah buku loh.

Dari jauh hari, saya sudah mendata beberapa buku yang mesti saya miliki, karena sedari kemarin-kemarin, saya hanya pinjam sana-sini.

Semoga lekas dibaca dan dikuasai ilmunya. Lalu, diamalkan.

11 Februari 2016
23: 41
Bismillah

Terima Kasih

kunjungan kulni ke gontor

//Di sela menyiapkan materi untuk mengisi satu acara bertemakan “Menjadi Seorang Kastrat” esok di Fakultas Biologi, saya ingin menuliskan ini//

Betapa bahagianya diri ini, ketika mendengar kabar bahwa Paman saya (Adik dari Ibu, Satu Bapak, Lain Ibu, Namun Saling Menyayangi) datang ke Yogyakarta. Beliau baru saja mengantar santri-santrinya yang berjumlah lima bis dari Banten untuk studi banding ke Gontor. Segera, beliau lekas menghubungi saya. Katanya, beliau akan menginap di Puri Chorus Hotel di daerah Samirono Baru.

Saya yang belum tahu letak di mana itu hotel segera mencari. Kebetulan, siang itu ada Indra (teman sejurusan) yang datang menjemput saya ke asrama. Kami berencana ke tukang servis elektronik; membetulkan dua kipas angin di asrama yang tak bisa menyala setelah berbulan-bulan, namun orang-orang pada diam.

Kami melesat melewati jalanan Sleman yang tampak lengang dengan sedikit mendung di langit. Sesampainya di sana, kami segera menghadap ke mas-mas tukang servis. Beliau menjanjikan akan segera selesai dalam waktu satu hari.
Setelah itu, kami berencana makan siang. Maklum, cuaca dingin membuat saya sering lapar. Kami bertolak menuju warung makan favorit di depan Peternakan UGM. Ada gado-gado, ketoprak, yang menjadi makanan kesukaan. Meski tempatnya tidak besar-besar amat, tapi rasanya maknyoooossss. Dengan lapan ribu saja, kami bisa mendapat gado-gado lengkap. Kamu mesti coba.

Kenyang. Saya meminta Indra untuk mengantarkan ke Puri Chorus Hotel tempat Paman saya akan menginap. Untuk sekedar mengetahui. Daripada besok (rencana waktu ketemu) masih cari-cari. Yaudah, akhirnya ketemu. Gangnya sepi, banyak anjing juga berkeliaran. Tapi, kelihatannya, itu hotel punya kualitas baiklah.

Daripada kehujanan, karena langit tampak sedang ingin menangis, kami segera bergegas balik. Kebetulan Indra pada sore hari ada latihan untuk persiapan PON. Fyi, sahabat saya ini atlet bidang atletik. Prestasinya mumpuni. Cita-citanya mau bekerja di Kementerian Olahraga. Mohon bantu di Aamiinkan.

Ternyata, tidak sampai sehari. Cuma butuh 1 jam, semua beres. Saya di SMS untuk mengambil barang. Saya minta Ozan untuk menemani saya mengambil sore itu. Saya pasang, dan beres. Silakan menikmati angin sepoi-sepoi. Hehehe…
Keesekokan harinya, pagi-pagi, setelah family meeting di asrama, saya segera menemuinya. Ya, di sana kami melepas rindu. Sebab, lebaran kemarin, ketika saya pulkam ke Serang, Banten, saya tak bertemu. Beliau inilah yang mengasuh pondok pesantren modern milik Kakek saya yang bernama “Pesantren Kulni”.

Beliau cerita, jadi, kedatangannya ke Yogyakarta dengan tujuan membetulkan sistem pdss untuk menginput data SNMPTN di UNY (pusat SNMPTN tahun ini). Sekalian melepas rindu, begitu. Saya berpikiran, daripada menginap di hotel, lebih baik saya ajak saya menginap di asrama. Selain menghemat, juga biar beliau tahu asrama. Maklum saja, dua tahun setengah saya kuliah di Yogyakarta, yang namanya orangtua belum pernah dapat kesempatan untuk mampir ke sini. Kecuali Ibu, yang pernah mengantar saat di awal masuk dahulu. *Tiba-tiba, keinget betapa susahnya cari kos yang nyaman, tapi murah :”)

Ok, pertama-tama, izin ke Mas Adi, kemudian Bak Intan, dan Akhirnya dibolehkan. Horrayy, saya bawa itu kopernya ke asrama. Paman saya mau ke UNY dulu, mengurus beberapa hal. Saya juga kebetulan ada rapat sehabis ini dengan Dapertemen Riset Dema Fisipol, membahas rancangan program kerja setahun ke depan. Sempat balik ke asrama sebentar kemudian balik lagi ke Komsat KAMMI UGM untuk mempersiapkan acara DM 1 Utsman bin Affan hingga maghrib. Barulah saya diminta untuk menjemput Paman di daerah 0 km.

Sampai asrama dikenalkannya lah kepada Mas Adi, teman-teman, ya bersyukurlah, ada keluarga yang pernah saya ajak menginap di sini. Hehehe…

Banyak cerita, sebelum sesi TOEFL Preparation. Umumnya lebih kepada pergaulan di Yogyakarta, kultur pendidikan, bahkan kepada persoalan pemikiran dan keagamaan. Namun, sesaat harus terhenti karena ada program asrama.

Keesokan harinya, saya ajak Asyrin untuk sarapan bareng. Kebetulan dia orang Banten juga kan, jadi enaklah kalau buat ngobrol. Paman saya menjadi tertarik untuk menyekolahkan anaknya ke Yogyakarta atas cerita Asyrin yang menyekolahkan keponakannya hingga ke sini. Keponakannya ini dimasukkan ke SMP yang lebih tepat dibilang pesantren. Sudah hafal 30 Juz juga. Masya Allah.

Pagi itu juga, saya mengobrol lagi. Salah satunya yang membuat saya senang adalah karena Paman saya meminta bantuan untuk mengisi laman web pesantren dengan tulisan-tulisan saya soal pendidikan. Saya dijadikan admin laman http://pesantrenkulni.sch.id/html/index.php.

Bagi saya lumayan. Ada kanal yang tepat untuk menyebarluaskan gagasan dan pikiran. Memang, bisa dibilang trah dari keluarga Ibu adalah seorang santri-pendidik. Makanya, itu menurun kepada Ibu, atau bahkan kepada saya nantinya. Aamiin.

Namun, sayang, hari itu (Rabu) Paman harus pulang. Tidak bisa berlama-lama. Saya antarkan sore itu menuju Bandara meski haruslah hujan-hujanan. Terima kasih pada kholqi yang saya pinjam motornya; Retas atas jas hujannya; Irkham yang sempet saya mau pinjam motornya. Maklum, motor saya tak kuat mengangkut beban koper yang lumayan itu.

Pada intinya, saya sangat berterima kasih atas kesediannya menjenguk saya. Saya dibekali oleh nasihat-nasihat yang begitu mengena.

Saya juga harus banyak berterima kasih karena sering merepotkan orang-orang disekitar saya. Indra, Mas-mas tukang kipas angin, Ozan, Mas Adi, Mba Intan, Kholqi, Retas, dan Irkham. dan Paman sendiri atas segala kebaikannya.
Oiyah, sebelum menutup. Ada satu hal lagi. Saya sebenarnya sudah membahas ini dalam tulisan yang lalu, bahwa saya ini lemah, ringkih dan butuh penguat.

Saya tidak mengerti untuk melakukan satu apa pun selain terus menulis seraya memanjatkan do’a.

Saya tidak tahu, entah berapa lama lagi. Tapi, saya berterima kasih padamu. Jika itu memang untuk saya.

Yuk, belajar untuk berterima kasih, seperti Pram pernah bilang, “berterima kasihlah kamu, meski hanya pada seekor kuda”.

11 Februari 2016
23:10
#Trimakasih

Sebuah Puisi: Seorang Pemimpi(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Presiden

~Izinkan tuk gunakan kata “Aku”~
***

Terlepas dari apapun
Aku tetaplah Aku

Yang terkadang membuatmu bingung
Yang lebih sering membuatmu sebal
Yang selalu membuatmu harus mengelus dada

Tapi, bukankah aku harus menjadi sedemikian gila
Sehingga aku tak harus peduli dengan nyinyir banyak orang
Aku bisa berfokus dengan hidupku yang terus memikirkanmu

Dan, tahukah kamu tentang mimpi?
Yang seringnya disebut sebagai ‘ingin’

Yah, Aku ingin menjadi Presiden
Meski hanya di Republik Mimpi..

Ingin pun harus diperbuatkan
Sepertinya hidup yang harus diperjuangkan

Semoga Mimpimu, Aku.
Agar kau mengerti betapa manfaatnya dirimu
Menjadi kekasih dan pendamping
Seorang Pemimpi(n) Yang di Aamiinkan Tuhan…

Ngabean Kulon, 08 Feb 2016,
23:23 pm
Seorang Pemimpi(n)
Yang di Aamiinkan Tuhan

Kalau Ndak Suka…

tidak suka

Kalau Ndak Suka…

Kalau ndak suka, ya bilang saja.
Terus terang itu lebih enak kan, Bro.
Malu ah dengan gelar kesarjanaannya.
Daripada cuma nyinyir ini itu.

Menulis di sana-sini. Tenar, kan?
Tapi, bisanya cuma NULIS.
Ndak tahu kan kalau melakukan perubahan di masyarakat itu,
Gak segampang cocot you ngomong, beres.

Bahkan, untuk bermimpi bisa kuliah,
Ditempatmu kuliah sarjana saja, sudah susah.

Kalau saya ini, ya.
Kalau ndak suka, ya ngobrol. Diskusi. Ketemu.
“Kenapa Bro, You ndak suka gue dan kaum gue?”
Daripada cuma buat tulisan yang intinya itu-itu saja: kebencian.

Kritis boleh, kritik juga boleh, koq.
Tapi satu hal:
Menjadi dewasa itu penting.

Selamat belajar, menjadi dewasa, Bro.

Jangan Lihat Siapa Yang Berbicara
Tapi, Lihat Apa Yang Dibicarakan