Rintik Hujan
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Monthly Archives: March 2016

Rintik Hujan

man in the rain

Di sehabis gemuruh itu hilang, ada rintik hujan datang. Mengabarkan jikalau malam masih panjang. Kawan-kawan sibuk dengan pekerjaannya. Ada yang sedang giat belajar. Menghapal materi yang setumpuk. Ada juga yang harus tertidur pulas dengan mulut menganga; tanda lelah seharian berpeluh kerja. Hanya saya saja yang tampak sedikit selo. Meminum jus alpukat buatan Retas dan Arif sembari membuat surat rekomendasi untuk adinda tercinta yang mendaftar Rumah Kepemimpinan.

Saya tak ingin berkisah malam ini. Hanya ingin mengetik saja. Sebatas itu dan tak lebih. Entah kemana kata ini berpergian dan menuju, saya hanya mengikutinya saja. Pikiran yang membimbing saya. Sungguh tidak jelas. Barangkali ketidakjelasan ini yang selalu tampak dalam pribadi. Sebab saya terlalu banyak mengimpikan hal-hal selangit, sampai-sampai sering terlupa hal-hal yang begitu dekat dan lebih layak untuk segera diselesaikan. Memang, visi besar itu yang saya junjung. Tapi, lagi-lagi, tak bolehlah kiranya saya melupa akan hidup hari ini.

Disaat memikirkan ketidakjelasan itu. Seketiba ada kata terlontar dan datang menghampiri. Mengetuk dan mengucap salam tanda kepasrahan diri. Memohon tuk dibukakan pintu maaf selebar-lebarnya atas segala salah dan khilaf kemarin. Senyum dibibir agak mengembang, tanda persahabatan yang agak kalut tiba-tiba kembali cerah.

Saya selalu percaya bahwa ada udang dibalik bakwan. Pasti ada maksud tertentu ketika seseorang melakukan seseuatu. Termasuk maaf yang diucap atau bahkan sekedar tulisan singkat yang saya buat. Tapi saya percaya, Tuhan lebih tahu dari yang mengaku lebih tahu.

Bisik kanan-kiri mulai meredup. Semua kesibukan akan terhenti dengan sendirinya untuk memejamkan erat matanya. Dalam peristirahatan dengan bantal dan guling atau sekedar beralas lantai. Gelas kotor masih menumpuk; pintu dan jendela masih terbuka; dan ingin saja saya sudahi malam ini bersama rintik hujan yang membikin saya basah dengan mengucap hamdalah. 

Semoga, esok lebih baik. Tak ada yang terlupa, pun kau.

 

Ke Negeri Ikhwanul Muslimin

simposium logo

“Betapa inginnnya kami agar bangsa ini mengetahui bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri”.

Kalimat diatas akan dengan mudah kau temukan di dalam Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin Jilid 1 pada bagian Kasih Sayang yang merupakan salah satu poin dari Dakwah Kami. Atau, jika kamu tahu Rumah Kepemimpinan, tempat saya bertempat tinggal, bernaung, dan dibina saat ini juga punya Idealisme Kami, yang bunyi paragraf pertamanya sama persis dengan kalimat di atas, tanpa ada pengurangan satu apa-pun.

Inti kasih sayang ini yang kemudian membawa saya untuk berbesar hati kepada saudara sekamar saya, Ibnu Asyrin yang terpilih menjadi wakil UGM dalam Simposium 8 Internasional 2016 oleh PPI Dunia di Kairo, Mesir yang akan dilaksanakan pada Juli mendatang. Selamat.

Sebagaimana tulisan tercipta, yakni untuk dibaca. Saya ingin mengisahkan sedikit tentang acara ini. Biar paling tidak, ada torehan kesan yang bisa saya ambil hikmahnya. Hehehe…

Begini. Informasi mengenai Simposium 8 Internasional 2016 oleh PPI Dunia sudah saya dengar setidaknya dua bulan lalu. Awalnya berniat untuk mengikuti perlombaan esai-nya. Bagi yang menang, bisa mendapatkan akomodasi ke sana. Namun, melihat tanggungan sana-sini, saya merasa akan tidak maksimal dalam menggarapnya. Alhasil, saya mengurungkan niat.

Kemudian, sebulan lalu dapat postingan gambar di Facebook, yang intinya menunjukkan kalau Dibuka kesempatan bagi perwakilan BEM untuk bisa menjadi delegasi dalam acara ini. Namun terbatas untuk satu orang saja.

Simposiun Untuk Delegasi BEM

Simposiun Untuk Delegasi BEM

Beberapa waktu saya terdiam. Saya kan aktif di Dema Fisipol (setara BEM Fakultas), kira-kira bisa tidak ya mengikuti acara ini. Saya berpikir. Barulah kiranya, dua minggu lalu saya memutuskan untuk menghubungi kontak di poster, Mas Abdul Malik. Saya tanyakan, apakah dari UGM sudah ada yang menghubunginya. Ia menjawab, sudah ada dua orang yang menghubunginya. Saya kemudian menanyakan, apa boleh dari lembaga eksekutif Fakultas bisa ikut dalam kegiatan ini. Ia kemudian memberikan pemahaman kepada saya bahwa untuk ikut, harus meminta perizinan dari BEM di tingkat Universitas.

Dari situ kemudian saya berpikir beberapa waktu untuk kemudian memutuskan bertanya kepada Ali, selaku Presiden Mahasiswa saat ini. Ya, intinya pada saat itu, Ali mengatakan kalau sudah ada beberapa orang yang meminta surat rekomendasi ke dia. Lalu, kemudian, saya berpikir dan meminta tolong kepada Ali untuk bisa membuat satu sistem yang mampu menjaring sebanyaknya orang untuk terlibat dalam kegiatan ini, agar nanti yang menjadi wakil dari UGM adalah yang terbaik, bukan karena faktor kedekatan, atau sekedar close recruitment yang orang banyak tidak tahu. Kemudian, Ali mengiyakan kalau memang akan dibuat mekanisme seleksi.

Ali menjawabnya dengan responsif. Ini satu kredit poin. Tak lama berselang, muncul mekanisme seperti yang saya inginkan.

Oprec dari BEM KM

Oprec dari BEM KM

Setelah itu, Mas Malik dari PPI juga mengabarkan kepada saya kalau akan dibuka dua orang perwakilan dari BEM untuk mendaftar. Peluang tentu terbuka lebar.

Saya melihat persyaratannya tidak susah-susah amat. Syarat pertama terlewati, kedua saya hanya perlu memperbaharui saja CV, dan ketiga membuatnya dengan waktu tak lebih dari setengah jam. Judulnya Manusia Monopluralis. Ini kalau mau baca:

Manusia Monopluralis

Oleh Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia

Indonesia hari ini berwajah muram. Berbagai tindak kekerasan terus direproduksi oleh mereka yang berkuasa. Penindasan demi penindasan hadir mewarnai kehidupan nyata dan maya. Jati diri sebagai bangsa yang adil dan beradab sudah kadung terlupa.

Tentu kita tak bisa melupakan bagaimama Salim Kancil, seorang pria penyayang cucu yang tegas menolak kampung halamannya, Lumayang dimasuki mobil pengangkut semen. Konsekuensinya sangat berat; beliau digebuk, digeprek, disiangi oleh bala tentara bayaran kaum kapitalis di Selok Awar-awar. Ini sama halnya dengan kasus korupsi oleh para pejabat edan yang menyengsarakan rakyat. Gaji selangit nyatanya tak mampu memenuhi nafsu mereka untuk terus mengeruk yang bukan miliknya. Satu bentuk nurani beku.

Tentu saja, masih ada banyak kasus lain yang sama mengerikannya. Maka, dititik ini saya menduga bahwa ada sesuatu yang salah. Kesalahan tersebut, menurut hemat saya terletak pada kepahaman kita yang dangkal terhadap identitas kebangsaan: pancasila. Pancasila tak lagi dimaknai dan dijiwai secara mendalam.

Lihat saja, hasil survei harian Kompas tanggal 1 Juni 2008 menunjukkan pengetahuan masyarakat mengenai Pancasila menurun tajam. Sebesar 48,4 persen responden berusia 17-29 tahun tak bisa menyebutkan Pancasila secara benar dan lengkap; 42,7 persen responden berusia 30-45 tahun salah menyebut sila-sila Pancasila, dan responden berusia 46 tahun ke atas lebih parah, sebanyak 60,6 persen salah menyebutkan kelima sila Pancasila.

Hal di atas sangat memprihatinkan. Padahal, pancasila merupakan dasar negara yang melandasi kehidupan masyarakat Indonesia. Dengan demikian, indikator kesuksesan hidup masyarakat Indonesia terletak pada upaya pemerintah dalam membumikan kembali Pancasila.Namun, hingga kini, upaya pemerintah belum terasa. Arus globalisasi telah mengorbankan identitas kebangsaan. Pancasila dianggap tidak lebih penting dari materi. Setiap orang pun berlomba memperkaya diri meski dengan cara terlarang.

Artinya, negara ini sudah mencapai tahap gawat kehilangan jati diri. Nilai ketuhanan, kemanusiaan, kesatuan, demokrasi dan keadilan yang menjadi jati diri Pancasila tergerus zaman. Adanya tentara kapitalis, pelaku pembunuhan, bahkan koruptor menunjukkan pengkhianatan terhadap nilai-nilai Pancasila. Maka sikap cepat dan cermat dalam membumikan Pancasila menjadi agenda utama yang harus dilakukan pemerintah.

Kini negara telah menjamin kebebasan berpendapat, termasuk membuat diskusi atapun dialog. Sayangnya kesempatan ini tak dimanfaatkan dengan baik. Lihat saja, seminar ataupun kajian, riset tentang Pancasila dikalangan akademisi, peneliti dan mahasiswa; jumlahnya minim. Keterbatasan pengetahuan yang mengakibatkan manusia bertindak salah kaprah. Akhirnya, banyak orang memaknai Pancasila secara serampangan.

Bila kita memahami lebih jauh terkait dengan pancasila, kita akan menemukan satu konsepsi manusia Indonesia, seperti yang dikatakan oleh Notonagoro, yakni Manusia Monopluralis. Istilah monopluralis merupakan filsafat manusia sebagai cermin manusia Indonesia asli yang meliputi susunan kodrat manusia, terdiri dari jasmani (raga), rohani (jiwa), dan sifat kodrat manusia terdiri atas makhluk individu, makhluk sosial, danmakhluk Tuhan.

Konsep inilah yang kemudian dapat memperteguh identitas bangsa. Konsep ini adalah manifestasi dari pancasila itu sendiri. Sekarang, tugas kita adalah bagaimananya agar konsep ini kemudian bisa diejawantahkan dalam praktiknya kehidupan.

Saya melihat ada sesuatu yang perlu kita gali untuk menghidupi kehidupan ini. Berpijak pada konsep tersebut tentunya dengan harapan besar, kita semua bisa mendorong hingga bahkan terlibat dalam pengembangan; mehami dan mewujudkan pemikiran tersebut dalam berbagai bidang yang kita tekuni. Pendidikan merupakan sarana paling ampuh untuk melakukan proses internalisasi terhadap nilai-nilai.

Kelak, bangsa ini bukan melahirkan manusia yang merasa kenyang dengan pengetahuan, tetapi intelektual yang terus merasa lapar. Manusia yang toleran, berkasih sayang, adil dan beradab. Manusia yang berketuhanan dengan menjunjung semangat spiritualitas dan emansipatoris. Sehingga, belajar, memahami, dan mengaplikasikan adalah pekerjaan kita.Inilah jalan yang seharusnya kita pilih!

***

Sebagaimana telah saya katakan di atas, bahwa untuk memperteguh identitas bangsa, kita akan menemui banyak kendala. Dan barangkali, kita hanya perlu belajar dan terus belajar; mencari siapa sesungguhnya diri ini. Tawaran “manusia monopluralis” oleh Notonagoro sebenarnya sudah mencakup konsepsi yang begitu matang. Secara nasionalis, ia melibatkan nilai-nilai yang termaktub pada Pancasila. Sedangkan, secara Islami, ada nilai yang menjadi urusan habluminallah dan habluminannas. Sehingga, tawaran baik ini bisa kita pertimbangkan hingga bahkan diperjuangkan.

Dengan modal ini saya kemudian menghubungi Moli sebagai penanggung jawab seleksi. Ia sempet canggung begitu kalau dari bahasanya untuk mewawancarai saya. Saya mah selo saja. Tak tanya-tanyain soal seleksi ini itu. Awalnya, Moli sempat menolak untuk mewawancarai saya. Barulah dua malam yang lalu ia menghubungi saya untuk mewawancarai via line. Pertanyaan terkait pengetahuan saya terhadap acara ditanyakan. Kemampuan bahasa serta motivasi juga ditanyakan.

Poin menarik yang saya angkat terkait motivasi setidaknya ada tiga. Pertama, berkaitan dengan life plan yang ingin mengikuti kegiatan level Internasional di tahun ini. Sempet ada beberapa conference, tapi waktu dan temanya gak pas. Kedua, soal conference ini menjadi pengalaman baru. Tempatnya itu loh, di Mesir. Negeri Ikhwanul Muslimin berasal. Saya paling ga bisa menginjakkan kaki di negeri para syuhada. Selain itu, bila kamu tahu, Mesir adalah negara pertama yang mengakui Indonesia merdeka secara de jure. Sehingga, ada banyak sekali pengalaman dan hikmah bila bisa dapat kesempatan ke sana. Terakhir, ini kan acara BEM. Paling tidak, orang yang menjadi delegasi ke sana adalah mereka yang paham terkait dengan student activsm, atau mereka yang sudah mumpuni terkait dengan wawasan kebangsaan. Dengan tiga alasan ini, saya coba apply.

Setelah itu, Moli bilang akan menghubungi saya besok (kemarin) terkait dengan pengumuman. Kemarin siang itu, si Ibnu baru diwawancarai, via chat wa, gegara sinyal jelek. Yo, pada intinya asyik-asyikan saja itu dia wawancara sambil tanya-tanya kan ke saya yang kebetulan lagi ngaso di kamar. Hahaha…

Pas semalem, si Moli tanya lagi terkait dengan komitmen keberangkatan dan juga soal KKN sih. Masa, dia menta saya ngundurin KKN. Padahal untuk persoalan ini, andai saya terpilih, dapat mengomunikasikan ke LPPM, DPL, atau teman-teman sekelompok. Saya juga sudah menghubungi Mas Luthfi Firdaus yang teman se-KKN-nya pergi exchange saat KKN dan hanya mengganti waktu yang ditinggalkan. Juga tanya ke teman-teman sekelompok soal mekanisme izin. Hanya saja, ketika menelepon Mama untuk meminta restu, beliau bilang “sudah, fokus KKN saja. Sayang kalau harus mengulang. Kesempatan ke luar negeri masih banyak.” Ya, intinya begitulah. Yang saya tangkap, beliau meminta saya untuk KKN saja. Beliau juga mendoakan untuk Beasiswa Baktinusa agar diterima, lolos menjadi peneliti Jurusan, dan bisa mempertahankan prestasi dalam bentuk apapun itu. Aamiin

Ya, saya selama ini selalu melibatkan beliau, dan juga Bapak, juga Allah tentunya dalam setiap tindakan yang diambil. Baik buruknya Insya Allah sudah dipikirkan dengan masak. Akhirnya, meski terlambat, subuh baru diumumkan:

[04:31, 3/29/2016] Maulia Hikmah Faperta: Bismillah, melalui banyak pertimbangan dan diskusi banyak kepala, wkwk. Alfath adalah orang paling keren, tapi takdirnya ada di DEMA FISIPOL dan di Desa KKN

Semoga nanti bisa pergi ke Eropa dalam waktu dekat hehe. Semangat ^o^

[05:26, 3/29/2016] Alfath Bagus P E I: Haha. Siaappp. Kuterima dengan lapang dada (y)

[07:45, 3/29/2016] Maulia Hikmah Faperta: Kudoakan dapat yang lebih baik, gratis dan lebih lama hehe

Pertama lihat, saya hanya berdo’a semoga yang mendapatkan bisa lebih baik dari saya. Kemudian, tersenyum ketika mengetahui saudara saya yang lolos. Artinya, tidak ada yang bermasalah dengan saya saat seleksi. Hanya saja, Moli—dan para pimpinan BEM KM menyadari ada amanah untuk saya yang tak boleh ditinggalkan: KKN. Sempet ngerasa sedikit sedih dan ini manusiawi karena kemarin siang sudah cari-cari tiket untuk bagaimana caranya bisa berangkat ke sana dengan biaya se-minimum mungkin. Bahkan rencana untuk cari uang kesana-kemari sudah dipikirkan, tapi takdir saya di Dema Fisipol dan KKN seperti dikatakan Moli.

Di penghujung ini, saya hanya agak sedikit mengelus dada, atau bahkan bersyukur lega karena tak jadi berangkat. Lihat ini:

Kritik Terkait Acara

Kritik Terkait Acara

Yo, begitulah Fisipol. Kebijakan yang dilakukan BEM KM sepertinya hampir bisa dikatakan salah. Saya hanya menanggapinya dengan senyum :)

Begitulah kami. Intinya, saya percaya bahwa Allah Swt ingin menjaga saya dari hal-hal yang kemudian bisa menjatuhkan derajat martabat saya.

Semoga kita semua diberikan kesehatan, kekuatan, untuk bisa menjalani hari-hari ke depan. Sayangi orangtuamu, sebab merekala yang selalu mendoakan kalian dalam hembusan nafasnya. Banggakan mereka dengan karya dan prestasi, hingga mereka paham betul bahwa kita, kuliah bukan sekedar untuk menghabiskan uang mereka. Lebih jauh untuk membangun masyarakat tanpa eksploitasi ke depan, karena sudah menjadi kewajiban bagi orang-orang terdidik untuk terlibat dalam penyelesaian problematika ummat.

Selamat saudara saya. Amanahmu besar. Semangat cari dana-nya. Bismillah :)

***

Semoga kata-kata ini selalu tertanam dalam-dalam.

“… Kami ingin agar bangsa ini mengetahui, bahwa kami membawa misi bersih dan suci; bersih dari ambisi pribadi, bersih dari kepentingan dunia, dan bersih dari hawa nafsu.”

 

Berfantasi, Dilan

dilan

Saya pernah membaca suatu buku, judulnya Dilan (1 dan 2). Pasti sudah banyak yang tahu kan? Dalam buku yang dibuat Pidi Baiq itu, Dilan digambarkan sebagai sosok anak yang pintar tapi juga nakal, romantis tapi gak narsis, cintanya ditunjukkan dan bukan dibicarakan. Selain itu, Dilan ini suka menulis (puisi) di Koran, gabung geng motor, kelahi, dan bikin kejutan.

Saya kadang suka berfantasi. Andai saya jadi Dilan, saya bisa melakukan hal-hal diatas. Apalagi, saya bisa ngirim surat ke rumah tetanggamu untuk kemudian diberikan untukmu. Atau minta tolong tukang koran memberikan cokelat padamu. Tapi, bila melihat kenyataan, sepertinya cara-cara tersebut tak lazim kita temukan dalam keseharian. Mungkin, dalam hemat saya, hal semacam ini hanya bisa ditemukan dalam novel remaja macam Dilan ini.

Belakangan ini saya merasa kalau kehidupan nyata memang yang sedang saya hadapi ibarat benang kusut yang tak tahu kapan terurainya. Tak semudah dan semanis atau semengharu-birukan akhir dicerita-cerita novel. Bukan karena saya jarang baca buku yang begituan, tapi memang kadang-kadang saya perlu rileks dengan membaca buku yang menggambarkan kisah fiktif, tapi punya nilai semangat yang bikin bibir saya tersenyum merekah. Sebab, saya ini terlalu berwajah optimis; dan ini memang perlu, tapi pesimis kadang datang menghantui. Mungkin, kisah-kisah semacam ini yang asyik menemani dikala suntuk karena alasan apapun. Hahaha…

Daripada blog kosong, saya juga lagi males tulis yang panjang-panjang, biar adem, saya pengen nyalin semua quotes Pidi Baiq aja deh.

“Masalah adalah apa yang kamu anggap masalah”
“Cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli.”
“Aku ingin pacaran dengan orang yang dia tahu hal yang aku sukai tanpa perlu kuberitahu, yang membuktikan kepadaku bahwa cinta itu ada tetapi bukan oleh apa yang dikatakannya melainkan oleh sikap dan perbuatannya.”
“Cinta lebih mudah dirasakan daripada harus dimengerti, itulah mungkin mengapa lebih butuh balasan daripada alasan.”
“Dulu, nama besar kampus disebabkan oleh karena kehebatan mahasiswanya. Sekarang, mahasiswa ingin hebat karena nama besar kampusnya.”
“Cinta itu indah, jika bagimu tidak, mungkin kamu salah milih pasangan.”
“Eksak, kau menjawab sama dengan umum, kau benar. Kreativitas, kau menjawab sama dengan umum, kau niru.”
“Setelah mati ternyata Tuhan yang kupercaya itu tak ada, ya sudah gak apa-apa. Tapi bagaimana kalau tuhan yang tidak kau percaya itu ternyata ada?”

 

Sudah, itu saja. Ntar besok sambung lagi. Maaf, tidak jelas. Malam J

 

Ya Muqollibal Qulub

ya-muqollibal-qulub

“Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik”

Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu. 

***

Ya, jikalau bukan karena Engkau dan Agama yang Engkau turunkan, mungkin saja saya sudah menjauh dari amanah ini. Sedari awal, dua orang yang menemui saya menanyakan lebih baik bergabung bersamanya. Tapi, saya lebih memilih untuk tetap di rumah, sampai saatnya tiba untuk pergi. Saya merasa, masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Atau lebih tepatnya, rumah tidak ada yang menjaga. Maka, saya merasa bertanggungjawab untuk menjaga rumah tersebut. Satu amanah yang sebenarnya diberikan oleh orang-tua saya.

Dalam perjalanannya, saya seringkali menemui kebahagiaan. Jumlahnya malah nyaris tak terkira. Saya bisa dengan mudahnya tersenyum melihat rumah saya diisi oleh sahabat-sahabat yang beragam. Mereka menyenangkan, dan membuat saya tak sepi. Tentu saja, tawa-canda-riang mengisi hari-hari kami. Bermain ini-itu adalah satu hal yang mengasyik-kan. Gairah ini terus memuncak seiring kegirangan kami bertambah seru.

Barangkali, yang namanya bermain, terkadang ada yang tersandung, jatuh, hingga menangis. Maka, tugas kami adalah membangunkan dan membuatnya tak lagi menangis. Ada juga mungkin disela-sela kegembiraan tersebut, misal, kita hendak bercanda yang kelewatan. Ini juga yang kemudian diam-diam menyakiti hati sahabat. Dari sini, muncul bumbu-bumbu permusuhan. Meski kecil, tapi bisa jadi besar masalahnya. Ada juga, dalam bergaul, sahabat yang keras kepala; pokoknya tak mau diatur-atur. Biasanya, teman-teman jadi kurang suka dan tak mau lagi bergaul dengannya.

Yah, sebenarnya masih banyak lagi persoalan persahabatan khususnya dalam bermain. Tapi, intinya, rumah bisa jadi rame karena mereka mau menemani saya bermain. Saya sebagai orang yang diberi amanah menjaga rumah harus memastikan, bahwa sahabat-sahabat saya tidak ada yang tersakiti, tidak ada yang merasa dirugikan, tidak boleh ada yang bandel kelewatan, agar persahabatan bisa menghadirkan kesenangan dan kegembiraan. Tidak boleh ada yang merasa ketakutan.

Amanah ‘menjaga’ ini yang kemudian tak semua orang mampu melaksanakannya. Beban mengatur sahabat yang seenak udel dan sekarepnya menjadi tantangan tersendiri. Tapi, justru dengan itu, kita sedang diuji kehebatannya. Seberapa kuat kita bisa membikin suasana rukun, menghadirkan gelak canda tawa yang penuh akan nilai cinta.

Jujur saja, saya menyayangi kalian semua, sahabat-sahabat. Saya curahkan segenap pemikiran dan kasih sayang semata untuk menjaga kalian semua agar tak ada yang terluka dan mendapati masalah dikemudian hari. Bertingkah adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan menjadi kunci. Sikap welas asih, berterima kasih, dan saling memaafkan, juga terus berbagi dan menginspirasi harus terus disebarluaskan. Jikalau tidak, mohon maaf, jargon-jargon kemanusiaan yang seringkali kita kumandangkan disela-sela kita berdiskusi ditemani bau makan dari dapur akan terasa sia-sia, kan?

Di titik ini, jikalau sahabat masih merasa paling benar dalam bermain dan bersahabat; tak mau mendengar masukan, mungkin, barangkali hanya Allah Swt yang mengetuk hati sahabat. Suara jerit rintihan kasih sayang selalu ditebarkan, tinggal bagaimana caranya kita menangkap. Bukan begitu?

Tanpa hadirmu, jujur, rumah ini sepi. Tapi, saya lebih memilih bersamamu untuk bersahabat. Kamu boleh datang kapanpun ke rumah saya dengan sesukamu. Tapi, jangan sakiti sahabat-sahabat yang lain, yang tak tahu menahu apa yang dilakukanmu diluar. Semoga Allah Swt, Yang Maha Membolak-balikkan hati bisa melindungimu dan juga saya. Sehingga, kita bisa saling menjaga dalam setiap permainan.

Tetap menjadi sahabat yang baik. Bisakan? :)

Sedikit Membaca Potensi KAMMI DIY

kammi

Marilah kita mulai esai ini dengan pertanyaan skeptis terhadap misi KAMMI yang kedua—menggali, mengembangkan, dan memantapkan potensi dakwah, intelektual, sosial, politik, dan kemandirian ekonomi mahasiswa—Apakah yang sudah dilakukan oleh KAMMI, khususnya KAMMI DIY dalam mengembangkan potensi sumberdaya manusianya dalam bidang sosial, politik, dan ekonomi? Saya tidak tahu pasti jawabnya. Sebab, dalam penglihatan saya selama ini sebagai seorang aktivis mahasiswa, dan juga pengamat melalui berbagai daring saya menilai KAMMI belum cukup mampu mengembangkan potensi kader-kadernya secara maksimal. Sejauh ini, penekanan yang dilakukan lembaga melulu pada persoalan politik.

Baiklah. Saya coba untuk menjawab pertanyaan skeptis tersebut dengan menyitir risalah milik Buya Hamka dalam Falsafah Hidup-nya, bahwa “Islam memulangkan kekuasaan kepada Allah belaka, yang Esa di dalam kekuasan-Nya. Itulah Tauhid, yang mengakui Tuhan hanya satu. Setelah itu memandang semua manusia sama derajatnya. Kelebihan seorang dari yang lain hanyalah takwanya, budinya, dan kecerdasan akalnya. Bukan karena pangkat atau harta kekayaan. Tangan si lemah dibimbing sehingga beroleh kekuatan. Diambil hak dari tangan yang kuat dan kuasa lalu dipindahkan kepada yang lemah, sehingga tegaklah perimbangan. Inilah hidup yang dikehendaki Islam. Inilah Falsafah Hidup yang kita kehendaki…” (HAMKA dalam Falsafah Hidup)

Saya akan membedahnya dalam tataran kalimat yang menunjukkan panduan bagi KAMMI DIY untuk bergerak. Pertama, pada kalimat Islam memulangkan kekuasaan kepada Allah belaka, yang Esa di dalam kekuasan-Nya mengandung dimensi politik. Ada kata kekuasaan di sana yang menjadi salah satu inti dari ‘politik’. Artinya, kader KAMMI yang berkontestasi dalam bidang politik, kemudian berhasil mendapatkan kekuasaan sebagai ‘alat’ untuk melakukan proses dakwah, makah orientasinya harus menekankan aspek semata-mata kepada Allah Swt. Inilah potensi internal (pribadi) bagi kader KAMMI untuk mendapatkan pahala dari Allah Swt, karena dalam kekuasaannya, semata hanya mengakui Tuhan yang satu. Sedangkan, dalam sisi eksternalnya, kader KAMMI bisa mengajak orang-orang disekelilingnya menuju kebaikan dengan cara terlibat dalam proses kekuasaan tersebut; baik terlibat dalam struktur organisasi (apa pun bidangnya), atau sekedar mengkritisi sebagai upaya meluruskan dan menegaskan kembali jalan idealisme KAMMI.

Kedua, dalam kalimat “memandang semua manusia sama derajatnya. Kelebihan seorang dari yang lain hanyalah takwanya, budinya, dan kecerdasan akalnya. Bukan karena pangkat atau harta kekayaan” mengandung dimensi sosial yang kaya akan nilai kesetaraan, egaliter. Inilah yang dijunjung oleh Islam jauh sebelum pemikir Barat merumuskannya. Artinya, kader KAMMI bisa membangun titik temu dengan orang-orang dari beragam suku, budaya, bangsa, agama, dan ras yang kemudian dari sinilah, umat bisa membangun kerja-sama dalam mencarikan solusi bangsa. Masalahnya, sejauh ini, saya memandang bahwa gerakan ekstra-kampus mengarah pada ekslusifitas. Merasa diri paling benar, paling bisa, paling segalanya, sehingga mengesampingkan peran orang-orang/kelompok yang berada disekelilingnya.

Ketiga, dalam kalimat “tangan si lemah dibimbing sehingga beroleh kekuatan. Diambil hak dari tangan yang kuat dan kuasa lalu dipindahkan kepada yang lemah, sehingga tegaklah perimbangan” mengandung dimensi ekonomi yang berimbang; khas mereka yang hidup di negara kesejahteraan. Sebenarnya, ini merupakan logika subsidi yang tepat, Peluang KAMMI dalam hal ini adalah membangun suatu BMT.

BMT atau singkatan dari Baitul Maal Wat Tamwil dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Balai Usaha Mandiri Terpadu. Ini merupakan lembaga keuangan mikro yang dioperasikan dengan prinsip bagi hasil, menumbuh kembangkan bisnis usaha mikro dan kecil, dalam rangka mengangkat derajat dan martabat serta membela kepentingan kaum fakir miskin.

Secara konseptual, BMT memiliki dua fungsi: Baitut Tamwil (Bait =Rumah, at-Tamwil = Pengembangan harta) melakukan kegiatan pengembangan usaha-usaha produktif dan investasi dalam meningkatkan kualitas ekonomi pengusaha mikro dan kecil terutama dengan mendorong kegiatan menabung dan menunjang pembiayaan kegiatan ekonominya. Baitul Maal menerima titipan dana Zakat, Infaq dan Shadaqah serta mengoptimalkan distribusinya sesuai dengan peraturan dan amanahnya. Inilah yang kemudian dapat dilakukan oleh KAMMI sebagai upaya mewujudkan kualitas masyarakat yang selamat, damai, dan sejahtera.

Membaca KAMMI DIY hingga hari ini menunjukkan kenyataan minimnya pengembangan tiga sektor utama, sebagimana dikatakan di atas. Segala yang saya tuliskan di sini semata hanya karena ingin memperbaiki KAMMI untuk hari ini, esok, dan seterusnya. Semoga.