Hari Yang Pendek
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Monthly Archives: March 2016

Hari Yang Pendek

jam

Masih terasa getir dibibir, kelu dilidah, dan gamang dipikiran. Melihat dan memandang yang selalu terpampang. Adakalanya kita merasa ‘tak layak’ juga ‘tak bisa’. Mengingat saja sudah tak mau, bahkan tak mampu. Barangkali ingin tak sampai, sebab ketidakmungkinan masih menjadi ‘hantu’ yang menakutkan.

Inilah hidup kawan. Bicara tentang harap. cemas, bahagia, ikhtiar, dan berserah diri. Dan tahukan kamu bahwa semua ini menjadi demikian kita anggap penting karena satu: waktu. Waktulah yang mengiringi. Waktu jua yang menentukan mana bisa dan tidak. Waktu yang punya kuasa untuk mempertemukan dan memisahkan.

Kurang lebih, hari-hari terakhir terasa begitu pendek. Seharian rasanya tak cukup melakukan ini dan itu. Segenap kegiatan yang sudah saya buatkan daftarnya tak banyak terkejar, entah karena berbagai kegiatan mendadak atau tak kunjung bisa diselesaikan dalam ‘tepat waktu’. Hari terasa lebih pendek dari sebelumnya. Bahkan sehari pun rasanya kurang. Saya yang biasanya menyempatkan diri melakukan hal-hal bersifat pribadi merasa kekurangan. Artinya, soal manajemen waktu perlu diperkuat lagi. Atau memang, perasaan saya saja yang entah mengapa merasa bahwa waktu nyatanya berjalan lebih cepat dari biasa. Apakah kamu juga merasakannya?

Baiklah. Setiap dari kita tercipta pada dasarnya sama. Berasal dari tanah. Nurani awalnya semua bersih, putih, jernih tanpa ada sedikitpun noda. Namun, semakin bertumbuh, muncul noda yang asalnya entah dari mana. Kemudian, waktu yang Allah Swt berikan juga sama: 24 jam. Tapi, ada orang yang bisa memanfaatkan 24 jam ini menjadi maksimal dan juga ada yang tidak bisa. Saya pikira, kita semua sudah paham mengenai ini. Hanya saja ini berbeda bagi saya. Saya merasa ini tak seperti biasa di mana hari-hari belakangan, waktu demikian begitu cepat, hingga senin bertemu senin. Semacam ada yang tak ingin dihadapi di hari esok. Dan saya memilih untuk berkutat dihari yang menurut saya belum cukup selesai dan mesti untuk dituntasi.

Meskipun demikian, saya yakin, ini hanya perasaan saya saja. Semoga tidur malam ini menjadi indah.

 

KAMMI Yang Tak Lupa Berpikir

kammi

Beberapa hari lalu, saya mendapati sebuah pesan di Whatsapp dengan judul “Surat Terbuka Buat Peneliti LIPI dari Kader KAMMI Radikal” oleh Amar Ar-Risalah. Dikatakan bahwa KAMMI radikal karena mewarisi pemikiran Ikhwanul Muslimin tentang bagaimana cara memandang dunia.

Saya tentu tidak percaya begitu saja dengan tulisan ini sampai saya bisa mendapati keterangan yang dibuat oleh Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI); yang mengatakan kalau KAMMI demikian radikal.

Saya kroscek sebagai upaya tabayyun; tak mau bersuudzon. Mencoba tak tersulut dengan berpikir dan bersikap tenang. Mencari informasi sampai kiranya terpenuhi informasi yang dibutuhkan. Sebab, barangkali dunia kini lebih banyak diisi oleh orang-orang yang tak mau berpikir dan malas tuk mencari tahu apa sebenarnya, sehingga dengan mudahnya memberikan justifikasi terhadap sesuatu. Astaghfirullah.

Setelah mengumpulkan keterangan dan informasi, saya mendapati beberapa pernyataan yang menarik. Salah satunya, sebagaimana tertera di laman CNN Indonesia (18/02) bahwa peneliti LIPI, Anas Saidi mengatakan radikalisme ideologi telah merambah dunia mahasiswa melalui proses Islamisasi. Proses itu dilakukan secara tertutup dan menurutnya, berpotensi memecah belah bangsa.

“Radikalisme ideologi jika tidak dicegah dari sekarang bukan mustahil Indonesia menjadi negara yang porak poranda dan dipecah karena perbedaan ideologis,” kata Anas saat diskusi Membedah Pola Gerakan Radikal, di Gedung LIPI, Jakarta, Kamis (18/2).Secara eksplisit, Anas Saidi menyebutkan KAMMI sebagai kelompok yang radikal.

Kemudian, peneliti LIPI lain, Endang Turmudi mengatakan kelompok seperti Ikhwanul Muslimin memiliki pandangan keyakinan dan sikap fundamentalisme puritan kaku. Mereka selalu merasa paling benar dan menganggap kelompok lain salah. Tujuan mereka membangun negara Islam, bahkan untuk mewujudkannya dibolehkan menggunakan cara-cara kekerasan. “Mereka yang tidak mendirikan negara Islam dianggap kafir, halal untuk diperangi karena thogut,” kata Endang.

Di sini, saya baru bisa memberikan semacam testimoni. Ada banyak sekali cara untuk merespon pernyataan peneliti LIPI. Bisa jadi melalui surat terbuka seperti yang dilakukan oleh Amar; menganggapnya sebagai “angin lalu”, atau justru melakukan satu refleksi dan proyeksi bagi gerakan ini ke depan.

Ingat. Cara kita merespon sesuatu dapat menghasilkan perbedaan. Dalam hal ini, saya lebih merasa bahwa KAMMI harus bisa melakukan satu refleksi dan proyeksi. Tentu, ini sama halnya dengan proses mengevaluasi diri untuk kemudian memperbaiki dikemudian hari. Bisa jadi, apa-apa yang disampaikan oleh mereka, para peneliti LIPI memang betul adanya, bahwa gerakan ini radikal.

Terlepas dari niatan apapun yang dilakukan mereka alih-alih untuk sekedar menghancurkan gerakan dakwah yang dibangun oleh KAMMI. Sebenarnya, kita memang harus terus berefleksi dan memproyeksikan gerakan ini ke depan.

Dalam Garis-garis Besar Haluan Organisasi KAMMI, karakter gerakan ini mengacu pada dua hal: organisasi kader (harokatut tajnid) dan organisasi pergerakan (harokatul amal).

Di sini, saya mencoba mendefinisikan sendiri—sepahaman pribadi—terkait dengan dua karakter KAMMI.

Untuk yang pertama, harokatut tajnid. Kata dasarnya ialah At-Tajdid yang artinya pembaharuan. Maka, yang dimaksud dengan harokah tajdid adalah organisasi atau gerakan pembaharuan; pelakunya ialah kader yang disebut mujadid.

Para kader senantiasa terus ber-tarbiyah; menjaga diri sembari terus memperbaiki kembali amaliah sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Hadist. Sehingga dalam berproses, kader senantiasa mengaktualisasikan nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah di setiap konteks kehidupan yang dihadapinya yang selalu berubah.

Sedangkan, harokatul amal berasal dari kata dasar amal. Amal ialah perbuatan. Saya menjadi ingat kata-kata Imam Syafi’i yang mengatakan “tujuan ilmu adalah mengamalkannya. Ilmu yang hakiki adalah merefleksikannya di dalam kehidupan, bukan yang bertengger di kepala”.

Di sini jelas, bahwa amal sama dengan bergerak, mlaku, alias berbuat. Sehingga, bisa dikatakan harokatul amal adalah organisasi pergerakan yang intinya mau melakukan sesuatu: bergerak. Untuk apa? Dalam pemahaman saya ialah melawan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam; laku kesewenangan dari pemimpin yang dzalim, dan sebagainya.

Dua karakter yang dianut KAMMI ini tentu membawa konsekuensi logis yang tak mudah. Kita diminta untuk terus-menerus mendekatkan diri kepada Allah Swt dalam perjuangan dakwahnya. Ilmu tentu saja menjadi rujukan yang utama sebelum bergerak. Maka, menjadi satu keanehan jika KAMMI hanya melulu bisa berteriak-teriak di jalanan, melakukan aksi, tanpa membawa satu kajian atau setidaknya basis argumen yang mendasari aksinya.

Barangkali, hal demikian yang dikatakan peneliti LIPI diawal sebagai sikap radikal. Memang, dalam hemat saya, apa yang dikatakan oleh dua peneliti LIPI di awal tidaklah cukup sesuai dan mampu menggambarkan KAMMI seutuhnya. Tulisan tersebut, menurut saya, lebih tepat sebagai senjata untuk memusnahkan gerakan dakwah ini.

Di titik ini, saya hanya perlu menegaskan, apakah KAMMI yang mengusung karakter demikian mulia tersuluh emosinya hingga-hingga misuh, atau justru berpikir bahwa ada sesuatu yang perlu kita sama-sama gali dalam gerakan ini. Kita hanya perlu belajar lebih giat, mencerap ilmu dari berbagai sumber, mengedepankan Al Qur’an dan Hadist dalam setiap gerak dakwah, hingga meyakini jalan dakwah ini yang harus kita perjuangkan semata karena menyeru pada kebenaran Islam sebagai ajaran Allah Swt.

Sebab, untuk menjadi lebih baik, kita harus berintrospeksi kan? Silakan, pikir.

 

 

 

Sekolah Dema Fisipol

puisi-puisi-ws-rendra

Saya pengen cerita soal Sekolah Dema kemarin. Rasa-rasanya ada satu hal menarik yang layak diceritakan.

Jadi, dari banyaknya kegiatan kemarin, saya cuma pengen sampaikan soal post to post. Awalnya, kegiatan ini diisi dengan games yang menurut saya sama sekali gak menarik. Terlebih, post keilmuan gitu loh. Post yang semestinya mengasah daya pikir, kreatifitas, berada dalam tekanan, konsensus, dan beragam nilai positif yang seharusnya bisa diambil dari post ini.

Masa, mereka–para peserta–diminta untuk sekedar mendeskripsikan benda-benda yang ada disekitar melalui monolog. Misal, benda itu sebut saja “KAYU”. Maka, peserta dimintai untuk membuat semacam deskripsi, seperti misalnya:

“Kayu. Engkau cokelat, kuat, dan berguna. Bisa dibuat meja, bangku, dan pintu.”

Ya, semacam itulah. Tapi, menurut saya itu kurang menarik. Saya ubah aja tuh format games biar lebih menarik. Saya buat jadi semacam begini: karena nantinya ada 12 kelompok dan saling bertemu dalam post yang berbeda, maka akan ada  6 pertandingan. Saya buat 6 mosi aja tentang: galau/resah, IP jelek, roller coaster, asyik-bergairah, baca buku, dan hp rusak. Raisa, Kadep Riset, yang menjadi partner di post memperagakan mosi tersebut dalam 30 detik. Kemudian, peserta diminta menangkap maksud kemudian dituliskan dalam bentuk sebuah puisi. Nantinya, puisi itu diberi judul, narasinya sesuai atau paling tidak memiliki kedekatan dengan yang kami maksud dan mereka menuliskannya dalam waktu dua setengah menit. Kemudian, membacakannya dengan penuh penghayatan.

Indikator penilaiannya dapat dilihat dari dua aspek: kemampuan mereka menafsirkan mosi (kedekatan judul dan narasi dengan mosi) dan ekspresi (tampilan) yang penuh penghayatan. Kalau poinnya seimbang, maka kemenangan ditentukan juri, Saya dan Raisa.

Seperti yang saya duga, acara berjalan lebih menarik. Peserta menampilkan sesuatu yang membuat saya mengharu-biru. Serius ini. Kalau gak percaya, saya akan tampilkan puisinya. Rekamannya ada, tapi di kamera hp Cika. Ntar, dimintai dulu.

 

***

Kelompok 1

Benda Putih

Sumpah diriku resa menatap benda putih ini

Tak ada yang istimewakah dari benda ini?

Kecil, putih, rusak

Apakah kau tak berguna lagi?

Aku gelisah tanpamu

Tetapi kehadiranmu selalu kuinginkan

***

Kelompok 2

Meragu

Waktu terus berjalan

Yang tak berjalan adalah layar

Atau mungkin realitas

Karena sekumpul angka akan bercerita

Kerja lalu mungkin terpaku

Namun, hasil masih meragu

***

Kelompok 3

Jendela Dunia

Ketika sebuah pemikiran tertuang dalam benak kita

Buku adalah sebuah simbol untuk membuka jendela dunia

Cakrawala dunia membentang didepan mata

Cahaya dunia seakan menerobos memberikan

Wahyunya dalam bentuk ilmu

Hiduplah ilmuku!!

Hadirlah sepanjang masa…

***

Kelompok 4

Indah

Indah kurasakan apa yang ada di ruang

Tanpa ada kegelisahan

Warna-warni yang menawan

Kemudian tarian anak kecil

Yang riang’

Yang bangga

Membangkitkan cakrawala dunia

Kuliukkan badanku

Mengikuti tawa mereka

Ah, andai saja

Aku dapat ikut bermain

Maka, kurasakan arti hidup ini

***

Kelompok 5

A = Aku

Ada saya, ada sukma, ada lara

Tapi tanpa bara

Saya menunggu tanpa memburu

Menempa renjana

Mengapa nestapa

Saya dengar suara

Tapi hanya satu rasa: tak bersama dan tak berdosa

***

Kelompok 6

Dema Taman Bermain

Taman bermain

Yang merupakan suatu manifestasi dan aspirasi politik

Warga Fisipol sangat senang

Dengan ini, adanya kabinet ini kita merasa bahagia

Aku senang

Aku bahagia

Aku menjadi kita

***

Kelompok 7

Ha?

Apa itu?

Apa kerutan didahimu?

Sulitkan untuk memahami semua itu?

Resah?

Tak mampu?

Atau hanya sekedar mencari tahu?

Jelas aku ada didepanmu

Kau bingung?

Apalah aku dibandingkan kamu

***

Kelompok 8

Palawa

Palawa…

Setiap detik kuperhatikan perubahanmu…langkahmu…gerak-gerikmu…

Tak satupun membuatku ragu

Ku masukkan NIM-ku

Berharap kau mengerti perasaanku

Oh…portal mahasiswa

Mengapa kau tega?

Mengapa kau gantungkanku?

Di mana letak nilaiku?

Aku menantimu…

***

Kelompok 9

HP-nya Mati

Lalu aku galau

Galau karena sesuatu yang tak pasti

Aku mencoba dan terus mencoba

Tetapi, apa yang aku bisa lakukan?

Lalu aku galau

Hapeku…

Hapeku…

Hapeku…

Lalu aku galau

Tak bisa menyala

Tak bisa chatting

Semua tak bisa

***

Kelompok 10

Hidupku

Hidupku bagaikan roller coaster

Aku mendaki ke atas Kahyangan

Oh hidup, tak melulu semulus sutra

Meluncur tak tentu arah

Dari tingginya puncak kehidupan

Memang hidup

Tinggal kita memaknainya

***

Kelompok 11

Siapa Aku?

Aku merasa sendiri

Di dalam riuh apai

Aku termenung

Memikirkan siapa aku?

Apa arti jati diri?

Mana peranku?

Di mana peranku?

Di antara berjuta orang

***

 

Yah, begitulah puisi yang dibuat sama teman-teman Dema Fisipol. Waktu singkat tak membuat mereka surut berpantang. Mereka menggunakan imaji-nya dengan sangat baik. Ah, saya bersyukur punya rekan-rekan kerja yang canggih seperti mereka.

Pesan saya pada mereka, rekan-rekan DEMA FISIPOL, seperti yang kemarin sudah saya katakan berulang-ulang:

Kita punya seribu kesamaan untuk dijadikan alasan bersatu. Lalu, mengapa hanya karena satu perbedaan membuat kita terpecah belah?

Tanyakan dirimu.

 

 

Masih Bisakah Kita Bertemu?

menjadi-kakek-dan-nenek-bisa-bikin-sehat-ini-3-buktinya

Adakah hati ini sabar tuk menunggu. Mencari, namun tak kunjung menemui jawabnya. Di saat lelah berusaha mengambil alih kemudi hidup ini. Beruntung. Ada saja semangat yang kemudian membatalkan niat untuk merasa letih. Saat seperti inilah yang saya sebut sebagai “nyaman”.

Nyaman adalah kondisi ketika hati merasa damai, tentram, dan sekeliling menjadi surga baginya. Tapi, nyaman yang saya temui selama ini belum cukup nyaman. Terkadang, ada sandungan, timpukan batu, caci-maki, hingga bahkan upaya membunuh karir.

Ah, sudahlah. Berucap tentang ini tak ada gunanya. Mari kita memikirkan hari ini, esok, dan seterusnya saja. Tapi, lebih dulu kita berkaca pada hari kemarin. Agar kamu tahu betapa kemarin adalah guru terbaik.

Saya membayangkan bisa bertemu dengan orang-orang baik di saat saya kecil. Salah satunya, yang sangat ingin saya temui ialah Abah Pungut yang menyayangi saya ketika kecil. Namun, sayang sekali, di saat saya kelas 5 SD, beliau meniggalkan saya–selamanya; dan saya masih menyimpan satu rasa bersalah terhadapnya hingga kini. Maafkan, Bah. Masih bisakah kita bertemu? Aku ingin mohon maaf padamu.

Lebih dari satu dasawarsa tak bisa melupakannya. Kamu tahu bahwa sulit dan teramat sulit untuk melupakan hal-hal menyenangkan bersama seseorang. Yah. Begitulah manusia. Baru akan merasa ketika hilang, lenyap, dan tak bersama.

Sebenarnya, ada banyak orang yang ada di masa lalu dan ingin saya temui karena kebaikan hingga bahkan keburukannya. Mereka yang telah banyak mengajari saya tentang hidup tak terperikan ini.

Inilah bekal untuk esok dan seterusnya itu: seimbang.

Bahwa keseimbanganlah yang kemudian membuat dunia ini berjalan teratur. Ada masa kini dan juga ada masa lalu. Ada senang, ada sedih. Ada harapan, juga kekecewaan. Prinsipnya, biarlak saya dapatkan keduanya. Terkadang saya bahagia meski hanya sendiri. Tetapi, terkadang juga saya merasa sedih ditengah kebahagiaan orang lain. Suatu kenyataan hidup yang tak bisa dibohongi.

Kegiatan demi kegiatan yang menjadi rutinitas akhir-akhir ini memang melenakan, terkadang. Sampai-sampai saya sedikit melupakan mana jatah hidup saya untuk pribadi; yang dengan itu, saya bisa bermesraan denganNya dalam tiap amin-amin sepertiga malam. Lelah yang kemudian membuat saya bablas tak bertemu denganNya.

Saya memang tipe orang yang optimis. Tapi, apa artinya dunia jika tanpa kehendakNya. Meski beberapa pihak menobatkan dirinya pandai, ahli debat, agenda setter, hingga negarawan dunia sekalipun itu sama saja. Tak ada nilainya jika tak mendapat restuNya.

Persoalan manajemen waktu menjadi demikian penting. Saya ingat betul kalau persoalan manajemen waktu yang kemudian membuat saya bisa berada di sini. Ini yang harus juga dijaga.

Kemudian, tekanan-tekanan yang ada dari berbagai penjuru silakan hadapi dengan pemikiran yang masak lagi adil. Jangan hanya karena tak suka dengan latar belakang status sosial, pangkat, suku, ras, kemudian membuat kita jadi tidak adil. Ingat, ini akan mendewasakan. Semua tergantung bagaimana cara kita merespon tekanan.

Selanjutnya, semua baru terasa kan ketika menjadi pemimpin? Bayangkan, dek, mengurusi hajat hidup orang banyak bukanlah hal mudah. Makanya, saya jadikan Kampus ini sebagai laboratorium negara versi mahasiswa. Dikeluarkannya kebijakan yang mengandung hajat hidup orang banyak.  Baru merasa, kan?

Nah, itu pelajaran. Barangkali beda yang berbicara, beda yang mendengarkan. Aksinya pun berbeda. Tinggal pintar-pintarnya kita mendekati persoalan dan menyelesaikannya.

Sebenarnya, ada banyak hal yang ingin saya tuliskan. Berhubung sudah malam. Sudah ngantuk. Saya keep saja sampai besok.

Di sini, tidak ada intinya atau kesimpulan. Hanya coba mengisi kekosongan waktu saja sembari menunggu kabar dari ‘langit’.

Silakan menafsir.

Bangun Dunia

cover-belakang

Saya tanamkan ini dalam-dalam pada lubuk hati.

“Bahwa kita, manusia, sekiranya perlu memikirkan tentang masa depan kemanusiaan Indonesia yang lebih adil dan beradab. Kita harus sama-sama bersusah payah, tak mau berpangku tangan, saling bekerjasama untuk menciptakan satu masyarakat tanpa adanya penindasan. Menjadikan dunia sebagai rumah yang layak bagi para penghuninya. Membangun dunia yang memiliki semangat spritualitas dan sarat akan nilai emansipasi. Penuh dengan canda-tawa dan laku baik. Satu gelora yang menyayangi serta menghargai segenap perbedaan.”

Inilah yang kemudian selalu berkumandang dalam nafas kehidupan saya. Sebagai pemandu narasi kehidupan sebelum berakhirnya catatan kehidupan ini.

 

16.37 WIB

6 Maret 2016