Langit
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Monthly Archives: April 2016

Langit

Langit 1

Langit itu tinggi, luas, tiada batas, ada banyak hal di atas sana. Manusia pun terkadang seperti langit, menurut saya.

Beberapa waktu ini, saya dibuat waktu untuk merasakan betapa banyaknya jenis perasaan yang ada di dunia. Seperti banyaknya benda-benda di langit. Perasaan senang, bahagia, kagum, sedih, menangis cecegukan, hati-hati, khawatir, penuh rasa syukur, cinta, menyayangi, menghargai, berwelas asih, keberanian, deg-degan, dan beragam perasaan lainnya yang hadir di beberapa waktu terakhir ini.

Kebetulan, agenda minggu-minggu ini lumayan padat. Hingga akhirnya itu semua membuat tempo kerja meningkat. Makan seadanya, dukungan vitamin kurang, alhasil badan roboh (lagi) . Kebiasan buruk saya adalah ini, memberikan porsi kerja berlebih hanya karena mengerjakan tugas orang lain dan membiarkan diri akhirnya sakit.

Tapi itu tidak seberapa, dibandingkan dengan kesenangan bermain bersama teman-teman, baik di asrama, di kampus, di luar kampus. Ketemu orang lain itu bikin sakit hilang. Debat Sadewa misalnya, Salim, Caca, dan Saya dalam Tim Kampus Kerakyatan bisa lolos ke babak Semifinal. Alhamdulillah, setelah memenangkan seluruh laga (3-0) dan poin nyaris clean seat 8-1. Lomba debat adalah salah satu favorit saya. Ia mengajarkan saya untuk berani berargumentasi, memainkan logika, dan menggunakan ilmu yang saya tekuni. Tapi jangan dikira debat ini sebagai perbuatan buruk. Saya juga kurang suka dengan istilah ‘debat’ sebenarnya. Lebih baik ‘diskusi’ kali yah.

Chamber D

Chamber D

Minggu kemarin juga, saya dan Asyrin pusing-pusing bikin skenario video untuk Baktinusa. Alhamdulillah, hasilnya gak jelek-jelek amatlah. Terus, rapat sana-sini soal Kampus. Saya melihat ada upaya pelemahan peranan dari KM UGM. Ini persoalan serius kalau menurut saya. Pihak rektorat sedang berpolitik; kita sebutlah politik para begawan. Mereka mendesain sedemikian rupa perangkat-perangkat yang dinilai mampu meredam kekuatan politik mahasiswa. Ini sangat terasa dan sudah menjadi pembicaraan dikalangan aktivis dalam berbagai diskusi. Kalau kita diam-diam saja, akibatnya upaya pelemahan akan terus-menerus terjadi.

Ah, cukupkan ini. Saya kemudian lebih memilih berpikir dan bekerja. Kebetulan memegang amanah mengadakan “Do’a Untuk UGM dan Bangsa”. Muter-muter cari pembicara; kerumah Cak Nun, Ustadz Jazir yang kebetulan beliau berdua berhalangan di tanggal 25 April malam. Juga mencari ruangan dari rektorat, selasar barat fisipol, bunderan UGM, maskam. Yah, semoga yang terakhir ini bisa dapat, sedangkan acaranya besok malam :’).

Kemudian, yang paling membuat saya tak bisa melupakan minggu ini adalah telepon dari mama. Lagi-lagi mama membuat saya menangis cecegukan. Sesampai di asrama, tepat sebelum acara Jumat malam, persiapan NLC, saya dipeluk Mas Adi dan meminta untuk bisa menyendiri dan tak mengikuti acara di aula.

Saya berdo’a dan bermunajat agar semua baik-baik saja. Aamiin. Kemudian, yah, kehidupan saya harap seperti biasa lagi, dengan kesenyuman. Sabtu pagi saya bisa hadir lagi ke tengah teman-teman. Ada disamping saya seonggok daging bernyawa yang saya kagumi kesederhanaannya. Kang Darmadi namanya. Beberapa kali kita bertemu dan berdiskusi banyak. Wawasan dan orientasi kemasyarakatannya sungguh luar biasa.

Bersama Kang Darmadi

Bersama Kang Darmadi

Saya selalu berharap, orang-orang seperti ini semakin tumbuh dan banyak. Saya katakan kepadanya, PPSDMS atau kini dikenal Rumah Kepemimpinan telah menyatukan kita. Kelak, saya meyakini, PPSDMS ini akan melahirkan pemimpin-pemimpin tangguh. Kita akan melangit bersama dan bertemu di masa depan.

Yaudah, kemarin juga ada Diskusi Hari Kartini selama dua hari. Juga, ada KSBB sama anak-anak Dema Fisipol. Asik banget deh main post to post sama seluruh staf Dema. Tujuannya memang untuk mendekatkan seluruh anggota. Ada juga diskusi Pendidikan Kritis. Wahh, sempurna lah. Daya juang ini takkan berhenti.

Adalagi kumpul Baktinusa lagi, terus cari kontrakan (sudah ada yang dibidik, di jakal km 9), sempet dateng Musybun di Pempek Kampus, dan juga rapat ketua lembaga di Selasar Barat sampe jam 11 malem. Iki malem mingguan malah rapat. Hahaha…

Yaudahlah yah, itu aja. Oiyah, terus saya juga jadi suka lagi buka-buka video Anies Baswedan. Saya ngefans banget sama beliau. Entah kenapa, saya seneng banget sama dunia pendidikan.

Ini video terakhir yang sebelum tulisan ini saya sudahi.

Ada kuote tentang langit yang saya suka:

“Langit tak perlu menjelaskan bahwa ia tinggi. Orang akan tahu kamu baik bila anda memang baik”.

Pokoknya, Salam Asik Bergairah. Semoga semua baik-baik saja. Saya punya Allah SWT, yang ada diatasnya langit ke-7 :)

Menjadi Aktivis

selamat datang baktinusa 6 yk

Menjadi aktivis pergerakan mahasiswa?

Sebelumnya saya tidak pernah kepikiran. Andai kamu tahu, cita-cita semasa kecil saya sedernaha: menjadi tukang pos. Kenapa tukang pos? Saya ingin membantu banyak orang dalam berbagi kabar. Dengan jaket oranye, berkendara sepeda motor, menegur dengan penuh keramah-tamahan, serta membawa kabar atau sesuatu yang begitu dinanti.

Tapi, sebagaimana hidup terus berkembang, cita-cita pun menjadi tak sederhana dan beranjak ke arah yang lebih kompleks. Sempat beberapa waktu ingin menjadi da’i karena bisa menyampaikan agama Islam secara leluasa dengan coba-coba ikut seleksi Pildacil 2. Namun, sayang sekali, bukan rezeki saya di sana. Tapi, senang banget pernah beberapa kali ngisi acara pengajian, isra mi’raj, dan seterusnya di usia yang masih belia. Prinsip saya satu: sampaikan apapun yang saya tahu. Urusan benar atau salah, masih bisa didiskusikan. Hehehe… Sehingga, untuk dunia per-ngisian acara sudah menjadi tidak asing lah.

Kemudian, berubah lagi keinginan dan hasrat bercita-cita. Saya ingin menjadi guru agar bisa menolong orang-orang terbebas dari kebodohan. Hal ini tak lain karena Ibu dan Bapak adalah guru. Dan sehabis itu, mungkin yang sampai hari ini saya pegang, saya bercita menjadi Presiden. Satu cita-cita besar bukan? mengurusi hajat hidup orang banyak, apalagi Indonesia gitu loh. Bangsa yang seharusnya berperikemanusiaan dan beradab, namun kenyataan tidak demikian: sulit diatur, keras kepala, menegakkan budaya kekerasan. Inilah beberapa permasalahan yang saya dan kita semua hadapi.

Kini, saya sudah kuliah. Tentunya, bangku perkuliahan ini adalah jenjang yang kemudian dirasa telah mengubah banyak hal dalam hidup saya, terutama dalam memandang persoalan kehidupan berbangsa dan bernegara. Bukan karena saya menggeluti politik dan pemerintahan, tetapi lebih jauh bahwa ada suatu permasalahan yang kompleks, yang saya kira kita semua sama-sama merasakannya. Hanya saja, kita semua terlalu naif untuk mengakuinya dan memilih untuk sibuk dengan urusan pribadi.

Jalan yang saya pilih dalam hal ini adalah menjadi aktivis pergerakan mahasiswa dengan mengikuti BEM KM, DEMA FISIPOL, KOMAP, YOT Yogyakarta, KAMMI UGM, dan GERAK JOGJA, serta Menjadi Duta Buku/Perpustakaan. Saya rasa, aktivisme yang saya geluti disini punya nilai kebermanfaatan yang luas. Diawal tahun berkuliah, saya langsung bergabung di BEM KM, DEMA FISIPOL dan KOMAP dalam bidang yang sama: Kajian Strategis. Saya kira, ketertarikan ini dilandasi bahwa persoalan-persoalan genting akan banyak dibahas di forum tersebut. Namanya juga strategis, artinya posisinya begitu penting dan diperlukan utamanya soal pengkajian. Pemikiran, pemahaman, pemberian solusi dalam bentuk sikap menjadi demikian penting.

Kemudian, ikut serta di YOT Yogyakarta dan langsung memegang peranan penting dibidang Catalyst yang mengurusi urusan pendidikan. Kami buka kelas-kelas inspirasi dengan mengundang berbagai tokoh. Memberikan pengajaran kepada siswa-siswi di Kentungan dan beragam hal kami bahas terkait kepemudaan. Di KAMMI, kami ingin menunjukkan bahwa persoalan itu tidak berhenti pada kajian saja. Mesti ada aksi. Di sini, KAMMI menjadi wadah saya untuk menyuarakan pendapat di muka umum, terlebih perspektif dan landasan berpikir kita adalah sebagai muslim negarawan. Satu bentuk landasan berpikir yang mantap. Juga sama halnya di GERAK JOGJA di mana saya diamanahi sebagai koordinatornya. Saya dan teman-teman juga berusaha untuk menghadapi persoalan bangsa yang kompleks dibidang pemberantasan korupsi dengan mendidik anak-anak untuk membiasakan hidup jujur.

Sebenarnya, ada banyak sekali bidang yang kemudian dilakukan oleh teman-teman saya. Saya tidak perlu menyebutkan kegiatannya apa saja. Namun, yang terpenting adalah, kenyataannya, kita semua nyatanya adalah seorang aktivis. Dalam bahasa pribadi saya, menjadi seorang aktivis pergerakan bukan hanya mereka yang ada di BEM dan semacamnya. Tetapi, lebih jauh adalah mereka yang merelakan dirinya untuk melakukan kegiatan demi tercapainya kepentingan ummat. Kegiatan yang dilakukannya bukan untuk diri sendiri. Ada nilai yang mampu menggerakkan. Inilah yang menjadi demikian penting dan mesti kita refleksikan.

Sekitar dua minggu lalu, saya mendapat kabar bahwa saya diterima sebagai salah satu penerima manfaat Beasiswa Aktivis Nusantara (Baktinusa). Saya kira ini harus disikapi dengan pernyataan Barokallah wa innalillah. Disatu sisi saya berbahagia karena setidaknya, ke depan, aktivisme saya dalam menjadi aktivis dapat ditunjang oleh beasiswa ini. Namun, saya meyakini akan ada amanah baru yang hendak saya emban ke depan, entah dalam bentuk apapun itu. Menerima ini sama halnya dengan bertaruh akan masa depan bangsa. Ini juga berkaitan tentang bagaimana kita mempertanggungjawabkan apa-apa saja yang kita dapatkan dari ummat kepada ummat.

Saya menuliskan ini bertujuan agar kelak saya takkan bisa melupakan bagaiman hidup saya dipenuhi dana ummat. Maka sedari dini, bahkan ke depan, jika diminta untuk mengurusi urusan umat, maka dengan senang hati saya merelekan diri. Saya ini terlampau banyak dibantu ummat dan sudah selayaknya saya kembali padanya.

Dari semua ini, saya hanya ingin, apa-apa saja yang saya lakukan bisa memberikan manfaat kepada sekitar. Saya yakin, teman-teman saya semua sedang bergerak dalam kebaikan dan sedikit demi sedikit memulai rangkaian mimpinya. Semoga kelak, kita dipertemukan dalam keadaan yang jauh-jauh-jauh lebih baik. Untuk Indonesia yang lebih baik dan bermartabat kan?

Bismillah :)

 

[Review Film] Memahami Sosiologi Agama dalam Film PK Melalui Pendekatan Marx

pk

Kelas di hari itu (01/04) berjalan tak biasa. Jika sebelumnya kelas hanya diisi oleh ceramah, saat itu kami diminta pengampu mata kuliah untuk menonton satu film berjudul “PK”. Kelas bergemuruh. Saya lihat kanan dan kiri, depan dan belakang; menangkap sinyal bahwa mayoritas rekan-rekan di kelas sepertinya belum pernah menonton. Tapi, saya juga tidak bisa menafikan ada beberapa diantara mereka yang sebelumnya sudah menonton, bahkan berkali-kali.

Secara jujur, saya sudah beberapa kali menonton film PK. Hal ini didasarkan kepada minat saya yang begitu besar dalam kajian sosial—dan politik—yang berkaitan dengan agama. Film ini saya ketahui telah mengundang banyak kontroversi baik diluar atau bahkan didalam negeri. Semua ini didasarkan kepada anggapan bahwa setiap agama yang dihadirkan dalam film tersebut dilecehkan—dengan porsi masing-masing.

Tentu saja, siapa-pun tak ingin agamanya dilecehkan, termasuk saya. Sehingga, dalam hal ini menjadi demikian penting bagi saya untuk me-review dan mengkaji film melalui pendekatan yang dipilih—Karl Marx—dari bahan bacaan yang diberikan. Apa betul film ini telah melecehkan kehidupan ritual umat beragama? Lalu, bagaimana film ini mampu menjelaskan fenomena sosiologi agama melalui pendekatan Karl Marx?

Pertanyaan-pertanyaan diatas yang kemudian layak untuk kita pikirkan dan jawab.

 

Bukan Melecehkan Agama

Kita hidup dalam masyarakat yang heterogen. Sehingga, tentu saja, bumi yang sedang kita pijaki ini diisi oleh manusia dengan beragam latar belakang: suku, ras, budaya, agama, bangsa, bahasa, dan sebagainya. Semua ini telah ditetapkan Tuhan; memberikan warna yang akhirnya membuat hidup ini menjadi dinamis.

PK sebagai tokoh utama dari film ini adalah seorang yang asalnya dari antah-berantah nun jauh di sana. Ia datang ke bumi secara telanjang. Yang ia bawa hanya satu: kalung yang mampu membuatnya kembali ke rumah. Saya bisa menafsirkan ini, bahwa manusia dicipta dari sesuatu yang rumit: dari saripati tanah. Manusia datang ke dunia secara telanjang, suci tak berdosa. Yang ia bawa hanya satu keyakinan yang mampu mengontrol kendali hidup, yang pada akhirnya membawanya kembali menuju rumahnya—yang abadi.

PK hadir ke bumi tak mengerti apa-pun. Agama, bahasa, baik-buruk, benar-salah dan beragam aktivitas manusia baru ia ketahui setelah melalui proses melihat, mendengar dan mengalami. Sebagaimana ia ketahui bahwa tidak ada kebohongan adalah hakikinya. Dari ketidaktahuan ini yang membawanya melalui jalan-jalan pencarian identititas atau jati diri. Penekanan yang terletak pada urusan agama ini tentu menarik dibahas supaya kita bisa memahami perbedaan bukan untuk meniadakan, tetapi memahami.

Proses memahami—dalam hal ini agama dan Tuhan—berlangsung sepanjang film. PK menampilkan kesungguhan dalam belajar untuk mencerap pengetahuan dan kemudian mempraktikkannya. Setelah menghabisi beberapa waktu awal memijaki bumi, ia berkesimpulan bahwa “ada banyak Tuhan dan masing-masing Tuhan tersebut memiliki aturan yang berbeda. Setiap Tuhan memiliki rombongan (jamaah) nya sendiri. Orang beragama untuk mereka sendri, dan masing-masing agama tersebut memiliki Tokoh agama yang berbeda. Kemudian, di dunia ini, setiap orang hanya memiliki satu agama. Artinya, mereka hanya memiliki satu kaum. Dan Tuhan kaum mereka yang mereka sembah; tak menyembah yang lain.”

Dalam kesimpulan awalnya itu, ia kemudian mempertanyakan posisi diri: “Jadi, saya ada dibagian mana? Tuhan mana yang harus saya mintakan doa?” Bagi PK, untuk mencari tahu posisinya berada adalah dengan mencoba semua agama yang ada. Dengan begitu, menurutunya, ia bisa mengetahui bahwa salah satunya pasti ada yang benar. Inilah yang dikemudian dipahami sebagai “melihat dunia dengan cara berbeda”.

Dengan itu, kemudian ia mampu menunjukkan praktik-praktik beragama yang dalam istilah Soekarno disebut “sontoloyo” atau tidak beradab. Ingat, praktik beragama, bukan malah menyalahkan agamanya karena sebab para pembawa risalah Tuhan di dunia (tokoh agama) tidak bekerja dan menampilkan perwajahan wakil Tuhan. Fenomena yang dihadirkan ke dalam film menunjukkan kebohongan dan keculasan yang dilakukan salah satu pemuka agama bernama Tapaswi. Ia merekayasa teknologi untuk berbicara dengan Tuhan dengan mengatakan kepada orang lain untuk mempercayai apa-apa yang dikatakan. Sehingga, pada akhirnya, apa yang kita sampaikan kepada Tuhan melalui alat komunikasi yang salah akan menghasilkan “salah sambung”.

 

Memahami Sosiologi Agama dalam PK Menggunakan Pendekatan Marxisme

Dari penjelasan di atas, barulah kita sampai kepada bagian terakhir. Pada bagian ini, saya akan memberikan pemahaman terkait sosiologi agama melalui pendekatan Marxis. Meski Karl Marx dalam karyanya memiliki posisi yang problematis sebab ia tidak pernah mencurahkan sebagian besar kemampuan intelektualnya yang tinggi pada studi agama dan membenci (mengabaikan) agama, kita setidaknya bisa memahami pemikirannya melalui bahan bacaan yang telah diberikan dosen.

Sosiologi agama menurut Hendro Puspito sebagai suatu cabang sosiologi agama yang mempelajari masyarakat agama secara sosiologis guna mencapai keterangan-keterangan ilmiah dan pasti demi masyarakat agama itu sendiri dan masyarakat luas pada umumnya. Namun, secara sederhana, sosiologi agama dipahami sebagai cara untuk memahami fungsi agama di dalam masyarakat.

Dalam hal ini, Karl Marx memandang agama sebagai “candu masyarakat” karena dianggap hanya menawarkan cita-cita yang tidak terjangkau, membelokan rakyat dalam perjuangan kelas dan memperpanjang eksploitasi mereka. Agama dipandang sebagai memberikan janji-janji yang tidak mudah dipenuhi, bahkan meracuni masyarakat terutama merupakan lapisan bawah, sehingga mereka lupa tujuan utama memperjuangkan kesamaan kelas. Agama dirasa telah memberikan keyakinan kepada mereka yang berada di golongan bawah bahwa apa yang mereka alami saat ini merupakan takdir. Oleh karena itu, mereka harus menerima itu dengan sukarela. Kondisi inilah yang kemudian menurut Marx dimanfaatkan oleh kelas atas untuk mengeksploitasi kelas bawah cecara terus menerus.

Kita tentu bisa berdebat soal ini. Tetapi, sesungguhnya kita perlu tahu mengapa Marx bisa sampai pada kesimpulan ini. Bila kita melihat konteks saat itu, yang terjadi adalah suatu revolusi. Agama menjadi pelampiasan kegagalan manusia yang kalah dalam perang; agama dijadikan sebagai pelarian dan penenang diri. Kemudian, dengan ini kita bisa mengira pada akhirnya agama membuat manusia menjadi malas berkarya karena hanya menerima segala kondisi.

Tradisi Marxian dalam memahami sosiologi agama menitikberatkan agama sebagai ekspresi kepentingan dan juga kontrol sosial. Dalam PK, kita bisa menemukannya melalui percapakan ini:

“Kita semua anak-anak Tuhan kan? Lalu, apa yang kau katakan jika anakmu sakit dan dia meminta bantuanmu? Memberinya obat atau bilang padanya 4000 km dari rumah ini, aku punya sebuah rumah lagi. Temui aku di sana dan jelaskan padaku masalahnya sekali lagi, maka akan aku selesaikan. Jika panggilannya sampai pada Tuhan sungguhan, maka dia akan bilang, anak, istrimu sedang sakit. Pergi ke orang lain, kau masih hidup. Saat kau mati, datanglah padaku.

Duplikat Tuhan yang memberikan barangku padamu. Sampai saat ini, tak ada yang pernah melihat Tuhan dan mendengar dariNya. Semua perintah Tuhan hanya disampaikan oleh Tokoh Agama. Apakah suara Tokoh agama ini bisa membawa kepada Tuhan? Selama telepon bermasalah, masalah kita akan terus bertambah. Kita harus saling membantu. Selama Tokoh agama tidak bisa membawa kita ke Tuhan yang tepat.”

Pada bagian tersebut, ketika orang-orang hadir dalam setiap ritual yang diselenggarakan oleh Tapaswi. Mereka datang dengan berbagai persoalan dunia, utamanya terkait persoalan perekonomian untuk memintanya dicarikan jawabnya. Namun, persoalan muncul ketika Tapaswi sebagai tokoh agama atau wakil Tuhan di dunia “salah” dalam memberikan gambaran terang dan menjelaskan komunikasi manusia (beribadah) kepada Tuhan. Dengan hadir kepada Tapaswi, dianggap sebagai penenang atas berbagai persoalan dunia. Bahwa masalah adalah takdir dan manusia hanya perlu menenangkannya dengan agama.

Di sinilah letak kritik Marx yang mengatakan agama sebagai candu masyarakat itu. Agama dianggap menawarkan cita-cita yang tidak terjangkau—tanpa usaha—, membelokan rakyat dalam perjuangan kelas dan memperpanjang eksploitasi mereka. Agama dipandang sebagai memberikan janji-janji yang tidak mudah dipenuhi.

Lebih jauh, Marx memandang kalau kekuatan yang paling dominan dalam masyarakat adalah kekuatan ekonomi. Agama dilihat sebagai suatu kesadaran yang palsu karena hanya berkaitan dengan hal-hal yang sepele atau semu; atau mencerminkan kepentingan kelas ekonomi yang berkuasa. Inilah kritik Marx terhadap agama. Tetapi, bila kita mau berusaha lebih jauh memahami maksud Marx, kita bisa menemukannya. Dalam pandangan Marx, kritikan terhadap agama, meskipun “pada dasarnya sudah selesai” (Marx, 1977) secara intrinsik bukanlah tujuan itu sendiri; kritikan terhadap agama sekedar sarana untuk memecahkan persoalan-persoalan lain secara aksi nyata.

Marx memandang kalau agama itu perlu disikapi sebagai sebuah fenomena yang kontradiktif, bukan semata-mata sebagai ekspresi dari penderitaan (atau kepentingan) kelas melainkan sebagai ekspresi sekaligus protes. Saya menangkap hal yang sama dalam pernyataan Ali Syariati dalam bukunya “Kritik Islam terhadap Marxisme” bahwa sewaktu-waktu, ia merasa Islam sebagai agama perlawanan yang membebaskan (Syari’ati, 1980). Tetapi, kejadian perang saudara atau antar harakah membuatnya terkadang merasa skeptis.

Sehingga, dalam hal ini saya mendapati hal menarik bahwa sebenaranya pernyataan Marx tentang agama dan pembedahannya dalam sosiologi agama masih bisa diperdebatkan, umumnya bagi kalangan agamawan. Sama halnya ketika kritik yang dilakukan oleh film PK kepada semua agama. Bagi saya pribadi, apa-apa yang disampaikan Marx semestinya bisa dipahami sebagai satu bentuk skeptisme terhadap agama dalam kenyataan praktiknya, bukan dalam tataran konsep dan sebagaimana diturunkannya. Hal ini kemudian membuat kita semua lebih arif, bijaksana dan beradab sebagai makhluk beragama.

 

Untukmu Ibu-Bapak Guru

Bersama Mami Ida Rowaida (Kanan) dan Pak Darlam (Penjaga Bengkel Elektro)

Baiklah, saya coba untuk menulis (lagi). Rasa-rasanya badan sudah ‘agak’ mendingan dibandingkan dengan dua hari kemarin yang lemes kayak “ayam sayur”. Kemarin, dikuat-kuatin dateng ke kampus untuk mengerjakan soal-soal UTS yang memaksa untuk hadir dan berpikir, juga sekedar bertemu rekan-rekan Dema Fisipol dan juga adik-adik yang sekedar ingin sharing soal kendala belajar bahkan spiritualnya.

Tentu saja saya memposisikan diri bukan sebagai dosen apalagi ustadz, kecuali calon dari keduanya. Aamiin. Tapi saya bukan ingin cerita soal ini. Saya akan menceritakan hal lain yang membuat saya merasa terenyuh. Jadi, pagi tadi, sehabis dari GMC untuk mengecek kesehatan KKN dan FLC, saya mampir makan ketoprak batagor yang ada di daerah Sendowo. Harganya miriplah sama harga pasar: Rp. 8000,- Yah, tapi ini ketoprak yang recommended banget. Saya tahunya dari Asyrin karena diajak makan sehabis ngiter nganter surat untuk acara “Cangkeman” dari Gerak Jogja beberapa waktu lalu. Setidaknya, sejak diperkenalkan, saya sudah mampir 7x kalau tidak salah.

Nah, karena saya yang gak kuat pedes ‘banget’ dan sukanya yang cukup-cukup aja (jadi inget kan kejadian di Al Gepreki, warung makan yang dikelola oleh Kakak dan Ibundanya Mas Adi; lokasinya di Jalan Damai. Kemarin saya kepedesan, padahal cabenya cuma tiga). Saya minta dibuatkan yang rasanya sedang. Saya pun menunggu ketoprak dengan wajah kelaparan ditemani sebuah buku berjudul “McDonaldisasi Pendidikan Tinggi”. Salah satu tulisan didalamnya adalah milik Pujo Semedi, Dekan FIB UGM dengan judul “McDonaldisasi atau McMeongisasi” yang menurut saya mencerahkan. Tutur bahasa yang disampaikan renyah dan khas budayawan lah. Saya suka sekali tulisan-tulisan budayawan seperti misalnya tulisan yang suka mampir dikolom Kompas.

Pujo menurut saya menulis dengan rasa bebas lepas tanpa beban. Ada kalimat paling menarik yang saya kutip dari tulisan beliau:

“Pembaca nan budiman, mohon tulisan saya ini diterima sebagai ekspresi cinta seorang warga kepada kampusnya, seorang anak kepada ibu kandung pendidikannya. Bukan sebagai aksi subversif. Jangan nanti gara-gara tulisan ini saya dipanggil, didudukkan, dan dimarahi di muka para petinggi.”

Kalimat diatas pernah dikutip kemarin sama teman-teman Save Bonbin Movement (SBM) ketika  membuat rilis tentang upaya relokasi Bonbin yang dilakukan oleh pihak kampus. Namun, upaya ini coba dihalau oleh SBM dengan menawarkan renovasi.

Tapi, kutipan kalimat diatas sama seperti halnya untuk saya pribadi yang gemar sekali mengkritisi kebijakan kampus. Dari tahun pertama saya berkuliah, saya menaruh minat yang mendalam terhadap kehidupan kampus di UGM. Makanya, silakan cek tugas-tugas paper saya, tulisan di media, penelitian, hingga skripsi. Saya kerap menggunakan UGM sebagai laboratorium intelektual pribadi yang dengannya saya semakin mengenal dan memahami Indonesia secara lebih utuh.

Disaat saya menunggu ketoprak-batagor inilah, diwaktu yang bersamaan dengan membaca, hal yang saya ingin ceritakan hadir.  Tenda berikut gerobak ketoprak-batagor ini menempel dengan tembok SD Percobaan 2 Jogja. Kebetulan ada anak-anak sekolah yang sedang paduan suara dan menyanyikan hymne guru. Jujur saja, seketika hati saya bergetar, suara keren macam apa yang dinyanyikan dengan penuh semangat. Saya pikir dan menduga, yang menyanyikan lagu ini adalah mereka yang diminta tampil dalam wisuda  kelas 6 SD. Mereka tengah menyiapkan kado bagi kakak-kakak tingkat dan guru-guru mereka.

Tak sampai disitu, hati saya dibikin dag-dig-dug mendengar lagu selanjutnya yang dikumandangkan: Indonesia Jaya (yang versi asli oleh Harvey Malaiholo. Tapi, saya lebih suka yang versi Delon dan Putri Ayu sih). Ahh, sesuatu banget. Saya langsung flashback ke masa TK, SD, SMP, STM dulu. Saya masih mengenang bagaimana tingkah laku bandel saya sewaktu di TK yang memutar piringan besi kencang-kencang hingga akhirnya penumpang piringan besi terjatuh semua, nyungsep, termasuk saya. Mayoritas menangis, dan saya juga merasa kesakitan. Akhirnya, saya dimarahin sama Bu Tini (wali kelas B2) :D Nah, di TK ini saya favorit bangetlah sama nasi dan telor dikecapin. Setiap hari, 3x sehari, saya makannya ini terus. Tanya mama saya kalo gak percaya. Gak mau yang lain, apalagi ayam, kambing, sapi. Di waktu istirahat, biasanya sambil lari-larian, sesekali datang ke mama terus disuapin, terus lari-larian lagi gangguin temen. Tapi, setiap ada penugasan kelas, saya pulang ke rumah langsung membereskan pr ditemani mama. Siang waktunya bobo sebagaimana nasihat bu Tini. Sore baru main dan malam ngaji terus jam 8 udah tidur. Sangat tertib sekali saya pada saat itu.

Ini dia piringan besi :D

Ini dia piringan besi :D

Kemudian, di SD. Saya ingat betul rasanya memainkan seluruh permainan dari tradisional sampai yang modern. Semua permainan sudah saya coba. Dari petak umpet, demprak, yeye, gundu, panggal, biji karet, keong, kartu, tamagochi, tamiya sampe beyblade. Semua saya punya. SD ini waktu yang seru banget. Jadi ketua kelas abadi karena dapet ranking 1 dari kelas 1 sampe kelas 6. Mau gamau kan ditunjuk guru. Dulu belum kenal politik, jadi ya ketua kelas itu ibarat siswa yang disuruh-suruh guru aja. Belum ngerasa ini posisi strategis hehe. Kalau akhir tahun kenaikan kelas yang paling seneng sih. Saya pasti selalu dibelikan kado sama bapak karena ranking. Kelas 1 dibelikan VCD, kelas 2 dibelikan poly-station (bukan play-station), kelas 3 disunatin, kelas 4 dibelikan sepeda merk senator warna merah yang dulu harganya 850 ribu (kebetulan saya pilih langsung tunjuk :D), kelas 5 dimasukan ke Sekolah Sepak Bola, dan kelas 6 dinaikkan jajannya 1000 setiap tahun (jadi kelas 1-3 jajannya 1000 rupiah; kelas 4–6 jajannya 2000 rupiah), nah, untuk kelas 7, 8, dan 9 SMP akan bertahap naik 1000 per tahunnya. Saya yang gak tahu soal inflasi kala itu memandang bahwa apa yang saya mintakan atau Bapak berikan kepada saya adalah sebagai reward atas kinerja dalam belajar. Di sini, saya suka banget ikut-ikutan lomba. Waktu itu sempat jadi juara 2 adzan tingkat provinsi DKI, lomba matematika PASIAD, lomba cerdas-cermat, MTQ, puisi, 17an. Apalagi kalau kesempatan upacara, saya selalu diminta untuk membacakan doa atau undang-undang dasar tanpa teks. Ya seneng banget jadi kepercayaan sekolah. Dikenal guru-guru kan akhirnya. Bahkan, sampai hari ini terkenang nama-nama guru yang setia mendidik. Dari wali kelas 1 Bu Yam, kelas 2 Bu Sus, kelas 3 Bu Nani, Kelas 4 Bu Rasmi, Kelas 5 Bu Rasmi, Kelas 6 Bu Djumirah. Favorit saya adalah Bu Rasmi. Saya tak bisa melupakan beliau. Beliau non-Islam, tapi begitu menyayangiku dan mengajariku dengan sentuhan keagaman Islam. Beliau senang betul mendengar ceramah-ceramah AA Gym yang kemudian dia sampaikan kepada siswa-siswi dikelas. Tapi, disatu sisi, saya di SD juga menjadi pelopor untuk rajin bermain disamping belajar. Jadi, setiap habis kerja kelompok, kita selalu main sepak bola di Walikota Jakut. Nyari tim bola aduan yang kemudian taruhan. Dulu dua goal gope. Biasanya, uang menang taruhan dipakai untuk beli minum pasca kelelahan main. Astaghfirullah. Bu Djum ini yang suka marah-marah, ngomelin kita-kita yang mau ujian tapi lebih banyak mainnya :.) Maaf Bu Djum.

Main bolanya sampe telanjang begini. Serius

Main bolanya sampe telanjang begini. Serius

Berlanjut di SMP. Yah, di sinilah saya mulai membandel yang kelewatan. Mulai dari cinta monyet (sama mba peb, HI 13 Univ. AL Azhar Indonesia; sampai sekarang masih suka tuker kabar). Ini orang lucu. Kan saya gak punya hp dulu, jd kebetulan kalau diminta biodata (dulu lg jaman tukeran biodata) saya taruh nomer hp bapak saya yang didapat saat menjadi relawan di aceh saat tsunami. Tiap hari tuh kerjaan mba peb nelpon. Pernah pas liburan lebaran hp kan dibawa bapak ke Lampung, terus lupa ke bawa. Jadi, mba peb telpon-telponan sama si kakek dan si kakek nelpon ke rumah :,) Dia juga pernah ngasih kado pas awal 2014 untuk ultah saya ditahun 2013. Kadonya saya tak apa-apain dan baru digunakan kira-kira belum lama inilah. Kemudian, yang tak kalah mengerikan adalah soal tawuran, milox dan bm2-an. Ini jahiliyah banget. Pernah kayaknya saya bahas ditulisan lampau. Udah mau deket UN dan kita ketangkep, dipanggilah sama pihak sekolah. Diomelin lah. Untuk aja dibantu bapak bebas karena kebetulan Pak Slamet (Wakasek Bid. Kesiswaan teman bapak di Kantor RW). Terus soal bm2an, ini maksudnya berani mati dengan nyegat mobil losbak sampai kontainer ditengaj jalan raya. Alhamdulillah, tuh mobil pada berhenti. Klo gak, gak bisa bayangin kelindes batang leher ama roda kontainer yang banyak itu. Huhuhu.. Nah, soal milox, padahal kan setiap peraih UN dengan nilai 10/mata pelajaran berhak dapet uang 100 ribu. Saya lumayan dapet satu di matematika. Tapi, uangnya dipake untuk ngecat tembok di walikota yang pernah saya coret dengan tulisan XMV 95 INDOEX Jakarta. Paraaaahhhh… Bu Aster, Pak Saut, Bu Yessy, juga banyak guru lain sampe narik napas. Padahal saya itu ketua rohis loh, pernah juga jadi kapten futsal pas lagi Kemenpora Cup, hampir ikut semua ekskul di SMP dari PMR, Bulutangkis, TIK Club, Pramuka (nyampe diundang presiden juga di Halim). Yah, karena belum bisa menunjukkan diri pemimpin yang bisa jadi teladan, terlebih karena kondisi tanjung priok, city of evil yang orangnya keras-keras, banyak bajing loncatnya, sarang narkoba. Tapi, semoga, ke depan ada wajah baru dari Priok yah. Do’akan :D

STM ya masih belum taubatan nasuha lah intinya. Masih jadi begundal. Tapi, semenjak bertemu Bu Sri di student company (SC) dan menjadi Presiden Direktur, yo intinya sudah mulai terbuka dikit-dikit soal benar-salah. Saya banya dinasihati dari kehidupan keras STM melalui tamparan dan tentangan yang menyadarkan. Tapi, banyak sekali yang akhirnya guru-guru mengenal saya karena beberapa prestasi yang saya torehkan. Saya diminta beberapa kali maju saat upacara menerima penghargaan dari Kepsek, menjadi duta sekolah (20 Siswa terbaik) dalam try out UN, masuk koran, majalah, punya tabungan juga, bisa bikin usaha, punya kantin kejujuran, bertemu dan berjejaring dengan banyak orang karena seringnya ikut-ikutan lomba bahkan hingga hari ini baik pembina, teman (adik dan kaka angkatan), bahkan lawan kompetisi masih saling menjaga komunikasi, hingga lulus menjadi salah satu wisudawan terbaik, tak hanya di sekolah, melainkan se DKI dan berada di peringkat 3. Lumayan, dapat ketemu Ahok, bersalaman langsung sekaligus dapat laptop gratis :D Di masa ini juga saya sudah mulai kritis dan mengasah daya analisis. Pernah saya buat tulisan (disaat magang dulu pakai komputer kantor) yang membuat gempar dengan judul Bagaimana Peluang Siswa SMK Dalam SNMPTN 2013. Saya sempat dapat banyak support dari rekan-rekan SMK se-Indonesia. Tiba-tiba saja banyak yang add facebook, follow twitter, menjadi rekan di masuknegeri.com hingga bahkan saling berkabar via hp.  Kemudian, semakin banyak anak SMK yang gundah dan geram dengan komposisi penilaian SNMPTN yang merugikan anak SMK. Coba silakan cek di google, berita tentang perhatian pemerintah terhadap SMK baru ditunjukkan pasca tanggal 21 Februari 2013. Alhamdulillah, banyak rekan-rekan SMK se-Indonesia yang saya dapat kabarnya bisa masuk ke UGM, ITB, UI, ITS, dan PTN lainnya. Barangkali, ini hasil tamparan Pak Marsono dan Pak Agus Rusmantoro serta tendangan dari Pak Rustam, juga nasihat dari Mami Ida Rowaida (wali kelas abadi di STM), serta kasih sayang Bu Sri (ditambah Mam Ety, Bu Novi, Mbak Noor) sebagai pembina di SC yang menyadarkan saya untuk bangkit dari kejahiliyahan.

Pokoknya, merekalah guru-guru saya yang keren itu. Yang mendidik saya untuk sadar dan peka akan hidup ke depan yang tak boleh diselesaikan secara bercanda. Terima kasih untukmu Ibu dan Bapak guru.

***

 

Padahal, saya sudah makan lambat-lambat tuh ketoprak-batagor, tapi kayaknya saya ingin berlama-lama di sini. Masih gak bisa ‘move on’ atas ingatan masa lalu yang membentuk saya hari ini. Tapi, mengingat ada tugas yang harus dikumpulkan sekaligus menyerahkan hasil tes kesehatan ke akademik fisipol, saya memutuskan untuk bayar terlebih dahulu kepada Abangnya. Baru saya arahkan motor ke kampus. Semoga sehat selalu dan diberikan kekuatan dalam menjalani hidup dan penghidupannya Bu, Pak Guru. Kalian semua akan terkenang, selamanya. Saya pastikan, takkan terlupa. Ilmu kalian akan manfaat jauh, jauh dan untuk selamanya.

 

PPSMB PALAPA

Foto PPSMB

Setelah beberapa kali tertunda karena kesibukan masing-masing, akhirnya kami berhasil kumpul lagi. Kelompok Larantuka–nama salah satu daerah di Nusa Tenggara–di PPSMB PALAPA. Mungkin, sejauh ini, hanya kelompok kami yang tersisa dan masih eksis. Hehehe…

Masih suka kumpul bareng, jalan-jalan bareng, ya selemah-lemahnya nge-chat bareng untuk bertukar kabar. Suatu kehormatan diamanahi jadi ketua kelompok diawal dulu. Ingat banget pas hari pertama dikumpulkan di lapangan rektorat sore hari, kemudian kami langsung berkumpul dan mengerjakan tugas kelompok bersama. Membagi tugas dan melaksanakannya secara tulus dibarengi canda-tawa yang masih kikuk. Tanya-tanya mengenai biodata diri. Kemudian, pemandunya (Mba Ermaya Puspita) juga ikut mlaku penugasan PPSMB. Benar-benar gotong-royong.

Sampai dihari H-PPSMB dan kemudian soft-skill di setiap sabtu selama empat kali. Mulanya sempat ngerasa kita gak akan bisa ketemu lagi. Sesi sedih-sedihan lah di GSP. Tapi, ternyata kita bisa mengubah takdir itu. Kita malah sering ngalong bareng. Dari ikut PKM, Ke Pantai, ke Alun-alun naik mobil gowes, maenan tutup mata, jogging, buka puasa areng, kampanye Prabowo di Tugu (Gak Sengaja muter-muter nunggu waktu buka, eh diminta foto jadi suporternya Prabowo), traktiran karena ultah, nonton teater, ahhh banyak dehhh.

25 orang awalnya sampai hari ini masih bertahan. Meski tak seluruhnya bisa ikut kumpul, tapi paling tidak ada bagian dari kita yang tetap menjaga silaturahim.

Kalau gak percaya, nih bukti-buktinya:

Foto Skuad 1

Foto Skuad 1

Naik Mobil Gowes

Naik Mobil Gowes

Mainan Tutup Mata. Katanya kalau berhasil lewatin jalan diantara dua pohon, keinginannya terkabul. Fyi, Saya berhasil. Yeay :D

Mainan Tutup Mata. Katanya kalau berhasil lewatin jalan diantara dua pohon, keinginannya terkabul. Fyi, Saya berhasil. Yeay :D

Foto Skuad 2

Foto Skuad 2

Foto PPSMB

Foto PPSMB

Makan Siang Bareng (baca: kumpul lagi) versi ngalay

Makan Siang Bareng (baca: kumpul lagi) versi ngalay

Makan Siang Bareng (baca: kumpul lagi) versi formal

Makan Siang Bareng (baca: kumpul lagi) versi formal

Jogging bareng. Abis itu makan Soto Pak Min

Jogging bareng. Abis itu makan Soto Pak Min

Tulisan ini ke depan bakal saya update seiring bertambahnya ingatan (soalnya sekarang sudah ngantuk) juga poto-poto yang hilang. Pokoknya bahagia bisa bertemu kalian semua. Luv luv <3