Membasuh
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Monthly Archives: April 2016

Membasuh

5-membasuh-muka1

Selama beberapa hari terakhir, ada hal yang membuat saya berpikir lebih keras dari biasanya. Kabar yang datang dari Ibu ini menggelayuti pikiran. Saking beratnya–mungkin–membuat saya sampe cukur rambut, kumis, bulu idung, dan lain sebagainya. Jangan tertawa, karena saya sedang tidak bercanda. Saya sedang serius kawan, membicarakan hari ini dan juga esok bahkan seterusnya.

Ada kalanya kesedihan tak perlu ditunjukkan dengan wajah muram. Banyak saya dapati pelajaran dari pengalaman lalu. Semisal ketika di SD dulu, saya sempat misalnya mencoba peruntungan dengan semir sepatu, sesekali memang. Sebab merasakan perih lantaran makan nasi dan garam dirumah. Atau semisal beranjak dewasa, ketika di STM, saya tak bisa melupakan bagaimana saya kehilangan waktu satu jam Ujian Akhir kenaikan tingkat/kelas lantaran belum bayar uang sekolah. Saya memelas berharap agar bisa tetap melaksanakan ujian. Dilempar saya ke sana-ke mari menghadapi birokrat sekolah hingga akhirnya diperbolehkan mengikuti ujian. Alhamdulillah, saya bisa keluar kelas dengan kepala tegak, terlebih ketika menyaksikan hasil Ujian pelajaran Elektronikan Terapan Dasar mendapat nilai 96, tertinggi di kelas. Atau yang paling tidak bisa dibayangkan, ketika saya harus memaksakan diri berkuliah dengan menantang Ibu dirumah kalau saya bisa menghidupi diri sendiri tanpa harus meminta atau mengiba kepada orang lain. Saya pastikan diri saya untuk bisa cukup makan-minum, beramal, memenuhi kebutuhan organisasai, biaya tak terduga, hingga beberapa kali coba mengirimkan uang kepada Ibu, hasil menyisihkan dari lomba sana-sini dan juga beasiswa. Alhamdulillah, semua masih cukup. Saya tidak kekurangan satu apapun.

Jujur kawan. Hidup ini perih. Ibarat luka diberi jeruk nipis. Begitulah keperihan yang saya maksud. Orang lemah hanya akan menyalahi keadaan. Tapi tidak untuk saya. Saya tak terbiasa pasrah dengan keadaan. Bila kamu tahu kawan, untuk bisa meraih sesuatu saya gunakan sumber daya yang saya miliki. Sekalipun saya tak meminta apalagi harus mengiba. Saya bukan anak pejabat yang punya banyak harta. Saya juga bukan-bukan. Saya biasa dan tak lebih dari itu.

Mumpung hujan, saya ingin membasuh perih. Meniadakan keluh-kesah. Saya hanya berusaha untuk meluapkan apa yang saya rekam dalam memori supaya tenang dalam menyelesaikan berbagai pekerjaan yang nyatanya menumpuk, tak seperti biasa. Barangkali dengan cara ini saya bisa tersenyum lega di hari yang saya rasa berbahagia.

Basuhlah diri dengan perjuangan tak kenal lelah, yang baik.

Kampus Kerakyatan

Mahasiswa Kampus Kerakyatan

Dunia cerita yang saya rancang ini bermula dari kenangan tentang Kampus Kerakyatan. Mungkin itu sebabnya, dalam pergaulan dengan rekan-rekan di luar sana, saya kerap disebut intelektual organik. Alih-alih kenyataan, saya malah merasa terpukul dan hina karena menjauh dari rakyat.

***

Beberapa hari lalu saya membaca buku tebal berjudul “50 tahun UGM: Di Seputar Politik Bangsa”. Saya buka lembar buku itu satu persatu, secara perlahan. Sebab tak ingin melewatkan sedikitpun narasi tentang UGM—fyi, buku ini langka—saya mengkopi buku tersebut. Saya memegang keyakinan, kelak buku ini berguna paling tidak untuk mengenang kalau bukan untuk mengupayakannya hadir kembali.

Secara sederhana, buku tersebut mendeskipsikan tentang sikap dan peran politik UGM dalam berbagai periode kehidupan bangsa. Kata-kata yang terhimpun di sana mengisyaratkan tentang perjuangan tak kenal lelah untuk menghadirkan suatu lembaga pendidikan tinggi—Universitas—sebagai kawah candradimuka yang peduli dengan rakyat kecil.

Tentu saja, siapapun akan tersayat hati dan pikirannya ketika membayangkan betapa Universitas yang berjati diri Pancasila ini mampu memelihara cita-cita rakyat kecil. Namun, saya mulai berpikir, seperti Radhar Panca Dahana bilang kalau ‘kata’ tidak selalu menjadi daratan yang statis, diam dan tak bergerak. Mungkin ia lautan yang senantiasa bergejolak, pergi-pulang, tiada henti. Kata harus menemukan dirinya, yang tak lain menemukan manusia yang telah meninggalkan dan ia tinggalkan. Maka, berkatalah. Bukan hanya untuk mengerti tapi untuk menjadi.

Dari pernyataan Radhar, saya menjadi sadar, paling tidak ada dua maksud yang saya dapat. Pertama, ‘kata’ bisa berubah makna seiring bergantinya waktu dan tempat. Kata di konstruksi, kemudian beberapa pihak mendekonstruksi; proses ini berlangsung secara terus-menerus. Misal, dahulu kata ‘cinta’ selalu menunjukkan hal-hal penuh gairah dari dua insan yang sedang dimabuk asmara; senang dan bahagia. Ini akan jauh berbeda dengan ‘cinta’ sebagaimana kita kenal hari ini. Cinta nyatanya bukan hanya soal senang melainkan juga bisa membunuh karena persoalan ditolak atau putus cinta. Sederhananya, kata akan menuntut hadirnya kebaruan; atau pemahaman ulang atas sesuatu yang dipahami sebelumnya.

Kedua, kata-kata bukan sekedar teks. Lebih jauh, ia dipahami sebagai konteks. Dengan kata-kata, kita bisa menyelami suatu keadaan pada suatu masa, sehingga pada akhirnya kita bisa mengerti tanpa harus mengalami; dan kita bisa menjadi sebagaimana pesan yang diamanahkan dalam setiap fenomena, bukan sekedar mengerti.

Dari sini saya patut bersyukur bahwa kesadaran merupakan keutaman. Lihat saja, hanya karena buku yang dipinjam, saya pada akhirnya bisa berkesadaran bahwa ada sesuatu yang salah oleh mereka, yang mengelola Kampus Kerakyatan. Mobil-mobil mewah yang berserakan di Grha Sabha Pramana misalnya telah menggantikan gerobak angkringan, bakso, ketoprak yang setia menemani sore mahasiswa. Biaya kuliah yang tinggi mempersulit kawan-kawan saya berkuliah. Beberapa masih ada yang berusaha dengan gigih bekerja paruh waktu, namun sebagian lain harus rela dicutikan karena Ibu-Bapak tak sanggup membiayai. Beasiswa yang notabene-nya bisa membantu meringankan beban justru malah dihapuskan; dan masih banyak lagi hal-hal tidak masuk akal yang dilakukan pengelola Gadjah Mada.

Pada prinsipnya, Kampus Kerakyatan sebagaimana diawal disebutkan sebagai Kampus yang peduli dan memelihara cita-cita rakyat kecil. Konteks yang terjadi pada saat itu di mana, di awal kemerdekaan, UGM hadir mengusung pendidikan yang mengedepankan kemanusiaan dan pembangunan bangsa. Hal ini ditunjukkan dengan keberpihakannya dalam menyelenggarakan pendidikan berkualitas dengan harga terjangkau, agar setiap anak bangsa bisa meneguk ilmu dari sumber airnya almamater Gadjah Mada.

UGM pernah punya pengelola yang berhasil menyelenggarakan pendidikan tinggi berkeadilan dan manusiawi. Adalah Kusnadi Hardjasoemantri. Banyak orang terpesona dengannya. Beliau pendidik. Karenanya, semua mahasiswa dicintai sebagai titipan calon putra-putri terbaik bangsa yang perlu dibimbing, diayomi dan dibesarkan hatinya. Beliau adalah sarjana hukum. Karenanya, beliau mengajari bagaimana cara menghormati hukum dan bukan menakutinya. Pendekatannya adalah keterbukaan, kebersamaan dan kemitraan.

Saya berharap, apa yang dilakukan oleh Pak Kus bisa dilanjutkan oleh para pengelola Gadjah Mada hari ini. Mungkin terlalu naif, tetapi sejujurnya ini merupakan ketulusan niat baik mahasiswa kepada almamater. Sebab, bila ini tidak, kami menaruh kekhawatiran mendalam.

Jujur saja, Kampus Kerakyatan semakin ke sini telah berubah wajah; terdekonstruksi ke arah yang negatif. UGM lebih dikenal sebagai Universitas Golek Money. Jika bukan itu, pasti jawabnya Universitas Gerai Mobil. Ini sama halnya dengan meruntuhkan cita-cita besar Gadjah Mada dengan sumpah Amukti Palapa-nya yang menggelegar seantero Nusantara itu.

Andai kita memahami konteks UGM bermula melalui teks yang bisa kita pelajari saat PPSMB, Pusat Studi Pancasila, Museum UGM, atau paling tidak dari buku yang saya pinjam ini, kita masih punya harapan untuk membingkai kembali cita-cita kerakyatan yang luhur. Dosen dan mahasiswa sama-sama menampilkan wajah yang berkeadilan dan berkeadaban; menjunjung tinggi semangat spiritual dan emansipatoris sebagaimana inti dari sila pertama hingga sila kelima dalam Pancasila.

Sekarang pertanyaannya, beranikah kita mengubah kembali wajah Kampus Kerakyatan yang semakin memudar itu, atau kita malah menyerah pada kehinaan dan pasrah oleh keputusasaan, sehingga membiarkan ini semua jadi kenangan?

Saya jadi ingat pesan Ibu:

“Jangan hinakan dirimu pada keputusasaan, Nak. Ibu mengandungmu bukan untuk jadi pecundang. Menghadirkanmu ke dunia bukan secara percuma. Ibu ingin melihat kamu berani mengatakan bahwa yang benar itu benar dan yang bathil harus menyerah pada kebenaran. Agar terbukti bahwa yang putih itu tetap putih dan yang hitam kembali memutih. Itulah haqqul yaqin”.

Saya berani, kamu?

 

Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia

Pimpinan Dema Fisipol

Agama dan Fenomena Salah Sambung

PK_poster

Ada yang menarik dari kelas Sosiologi Agama kemarin pagi (01/04). Kelas tak diisi dengan khotbah  atau ceramah seperti biasanya. Kelas kemarin tampak begitu menyenangkan karena hanya menonton satu film berjudul PK. Karena sepertinya sudah banyak yang tahu terkait film ini, sehingga saya tak perlu lagi menjelaskannya.

Secara sederhana, film ini berusaha menjelaskan terkait dengan cara manusia yang menafsir Tuhan dengan beragam cara. Semua ini dapat dilihat ketika mereka ber-ibadah atau pun melakukan ritual untuk dapat berkomunikasi dengan Tuhan.

Selain itu, film ini juga berusaha mengkritik praktik-praktik agama yang dalam istilah Soekarno disebut “sontoloyo”. Para tokoh agama yang seharusnya menyampaikan risalah kebenaran malah memanfaatkan posisi suci tersebut untuk menipu. Diminta untuk memberikan pencerahan justru malah membawanya kepada kejahiliyahan. Lihat saja Tapaswi–di dalam film–yang menipu untuk sekedar melanggengkan praktik agama nan kotor. Mengaku diri wakil Tuhan tapi laku yang ditampilkan tak adil. Satu bentuk kebohongan yang tentu saja dibenci oleh Tuhan.

Di sini, saya hanya ingin memberitahukan bahwa tentu saja, praktik beragam kita masih kacau. Kita tak mau mendengar terlebih dahulu dan langsung saja main hakim sendiri. Begini. Dalam sosiologi agama dikatakan bahwa “Tuhan itu hakikatnya satu. Tapi, kemudian, Tuhan ditafsirkan secara beragam oleh berbagai agama sehingga ada banyak Tuhan dan masing-masing Tuhan tersebut memiliki aturan yang berbeda”.

Tentu saja, setiap Tuhan memiliki penyembahnya sendiri. Mereka, para penyembah adalah orang-orang yang memilih beragama untuk mencari ketenangan dan kedamaian bagi mereka sendiri. Setelah itu, kita bisa menangkap dari film bahwa di dunia ini, setiap orang hanya memiliki satu agama. Artinya, mereka hanya memiliki satu kaum dan Tuhan kaum mereka yang merekalah yang disembah dan tak menyembah yang lain.

Pertanyaan menarik yang dilontarkan PK adalah “Jadi, saya ada dibagian mana? Tuhan mana yang harus saya mintakan doa?” Satu pertanyaan yang layak dilemparkan kepada mereka yang bingung dalam beragama atau juga kepada mereka yang sudah merasa beragama. Bagi PK, ketika kita bingung dan tak tahu mana benar-salah, maka, tak ada salahnya mencoba masuk ke semua agama. Di sinilah pasti salah satunya ada yang benar.

Inilah yang dimaksud dengan “melihat dunia dengan cara yang berbeda”. Misal, jika kamu melihat orang merokok, maka kamu akan menelepon polisi dan bilang kalau ada orang yang mau bunuh diri. Mengapa? Karena dibungkus rokok ada gambar seorang Bapak ngisep rokok tapi ada gambar kanker. Udah gitu, ada tulisan berbahayanya juga.

Seringkali kita menganggap bahwa ada seseorang yang menafsir tentang dunia dengan cara pandang berbeda, dan ini langsung dibilang salah. Padahal, saya yakin, bahwa setiap argumen didasarkan kepada pengalaman hidup yang sudah ia tempuh beserta pengetahuan yang sudah ia cerap mendalam. Pun dalam beragama. Sebagai seorang muslim, saya tak pernah diajarkan oleh agama dan orangtua, juga siapapun yang saya kenal untuk bertindak merusak dan melakukan kekerasan. Saya dimintanya untuk membesarkan hati dengan kasih sayang, cinta dan perdamaian. Menjauhi perdebatan yang tak jelas juntrungannya dan lebih sepakat untuk membangun titik temu dari berbagai macam perbedaan. Saya temukan ini dalam konsep “cross cutting culture” milik Prof. Nasikun.

Di titik ini kita mulai merasa dan menyadari. Bisa jadi, kita semua sampai hari ini masih “salah sambung” dalam beragama. Teknologi yang kita gunakan untuk berbicara dengan Tuhan itu kacau. Yang menjawabnya itu adalah duplikat Tuhan dan “dia” sedang mempermainkanmu. Kita lebih sering mendengar ucapan tokoh (bukan) agama yang mendaku diri paling benar dan manusiawi. Menyeru pada humanisme, mengangkat derajat kemanusiaan dengan jargon-jargon kebebasan. Tapi sejujurnya, diam-diam ada beberapa pihak yang terus-menerus mereporoduksi kebencian. Khotbah-khotbah diisi oleh saling tuding bahwa manhajnya yang paling benar. Yang lain? Salaaahhhh….

Ada lagi yang salah menangkap firman Tuhan. Padahal, jikalau kita betul-betul menangkapnya secara utuh, kita akan mencerminkan perangai Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kita juga tidak membutuhkan lagi perantara ketika membutuhkannya. Cukup tundukkan hati-hati kita, merasa kecil lah dihadapanNya sembari menengadahkan tangan. Sebab, tiap agama punya ritusnya masing-masing dan pergunakanlah itu untuk berkomunikasi kepada Tuhan. Tapi, pastikan, apa yang kita gunakan tidak salah.

Mari berpikir, kawan. Untuk masa depan umat beragama yang penuh kasih sayang dan kedamaian. Menyeru dengan cara yang halus dan lemah lembut. Tidak ada lagi perang apalagi penindasan. Sebab, kebathilan adalah musuh abadi.

Sampai jumpa ditugas UTS yang selesai dengan hasil memuaskan.