Menutup Masa Pembinaan di Asrama
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Monthly Archives: May 2016

Menutup Masa Pembinaan di Asrama

Perpisahan Rumah Kepemimpinan Yogyakarta angkatan 7

Secara riil dan prinsipil, sebagaimana yang tertera di kontrak, hari ini adalah hari terakhir pembinaan. Nafas yang saya hirup secara perlahan saya hempaskan. Memikirkan tentang satu hal: merawat ingatan adalah sulit. Makanya, saya coba menuliskan. Meski sedikit, tidak banyak, tetapi mungkin punya arti.

Pokoknya, suasana apel, sorot kamera, dan senyum-riuh-sumringah dari para punggawa asrama membuat saya selalu memikirkan betap sulitnya hidup tanpa mereka.

Kita menyanyikan lagu Phil Collins – You’ll Be In My Heartsebiru hari ini dari edcoustic, dan masih banyak lagu yang bikin kita semua baper.

Ahh, perpisahan bagi saya selalu menyebalkan. Membuat saya yang sangar ini jadi mudah menangis. Dari Jum’at lalu, pas tahsin, harus berpisah dengan Bu Alfi, Mas Hari, dkk. Sampai Bu Alfi nulis catetan dibuku tahsin (nanti tak tunjukkan). Hingga apel, acara perpisahan dari er, hingga ke meja makan sebagai penutup KIP 3.

Oiyah, biar gak kehapus memori kebersamaan kita, bantu kumpulin foto-foto, video terus dimasukin ke google drive yookkkk..

*Mau nulis panjang, cuma udah ngantuk. Lanjut besok aja dah :”)

Barangkali bisa lebih baik

Seminggu Terakhir

Nasri7 Tinggal Seminggu

“Menangis adalah serendah-rendahnya lelaki”.

Orang bilang begitu. Saya sih tidak mau ambil pusing. Terlebih bagi saya, menangis adalah penyeimbang atas gelak tawa yang seringkali saya pekikan.

Kalau boleh saya meminta, malam ini janganlah cepat berlalu. Ada kekhawatiran mendalam dari saya tentang malam di Minggu yang akan datang. Saya ini takut sepi. Dan saya tidak ingin merasa sendiri.

Orang yang ada dikanan dan kiri saya kelak akan pergi. Sementara saya masih diam diujung jemari, sembari mengetik kata-kata yang tak pantas saya sebut sebagai perpisahan.

Saya tidak bisa melupakan warna oranye yang menghiasi tembok. Saya tidak bisa melupakan sawah dan koran yang menghantarkan saya kepada lamunan dikala fajar menyingsing. Saya tidak bisa melupakan balkon atas yang menemani doa-doa petang. Dan juga beserta segenap cinta-cinta yang tumbuh, hadir, dan dibesarkan dalam ruang-ruang penuh makna, yang biasa saya sebut sebagai saudara.

Jujur saja, meluapkan 22 bulan dalam satu malam tidak akan pernah mungkin bisa. Beruntung saja, saya diingatkan oleh seorang rekan saya, yang gemar sekali menulis. Dengan inspirasi darinya, saya tuangkan kembali narasi kehidupan ke dalam teks supaya kelak, orang-orang bisa memahami apa yang pernah saya lalui. Tidak banyak memang, tapi daripada tidak sama sekali.

Malam ini pun sama halnya dengan ketidakmampuan saya menceritakan seutuhnya narasi berasrama. Jikalau ada mata, telinga, dan mulut untuk mengenang segenap kisah kita, tak terkecuali kisahmu yang tak pernah sedikitpun saya lewati; itu merupakan kebahagian.

Dalam waktu yang terbilang singkat, saya selalu mengupayakan kolaboraksi bersama teman-teman. Kita sematkan nama “PPSDMS” yang sekarang berubah menjadi “Rumah Kepemimpinan” ke delan relung hati yang terdalam. Sungguh, ada kebanggan tersendiri ketika mengatakan saya adalah bagian di dalamnya.

Dalam ingatan ini, selalu terbayang momen-momen gila, yang tak pernah bisa dilupakan. Tapi sungguh, saya tidak bisa mengeja satu per satu. Butuh bantuan sepertinya untuk menuangkannya, hingga mungkin bisa menjadi satu, dua, tiga atau bahkan ratusan buku yang saya yakin penuh makna.

Bolehlah kiranya saya mengundang orang-orang seperti Mas Adi, yang saya pun kalau menangis berada diketiaknya. Ada Mbak Intan yang dalam diam, tetapi menyimpan perhatian yang tulus. Kepada Mba Tika yang juga seringkali menasihati. Juga, dari pusat. Ada Bang Bachtiar. Jadi ingat, malam Minggu lalu kita abis nongki bareng di Alkid. Meski sampe tengah malem, kita membahas dan membedah aktivisme pergerakan mahasiswa. Harapan ente akan ane pegang bang: untuk UGM, bangsa Indonesia yang bermartabat. Dilema RK dan Baktinusa mari kita dudukkan dalam konteks yang lebih adil. Tentu saya yang memposisikannya. Saya sadar, saya bukan apa-apa tanpa RK.

Juga abang-abang pusat lainnya, bang Ichsan yang candu akan diskusi. Kemarin kita bahas soal intelijen. Juga, bang Juna yang asalnya dari Priok. Hehehe… Ada bang Aad sebagai Ketua Ikatan Alumni RK yang gigih menemani kita-kita semua. Pokoknya, seluruhnya punya kenangan tersendiri.

Termasuk malam ini. Saya memang terlambat hadir sekitar 30 menit karena ada kunjungan Dema Fisipol ke Dema Justicia. Tapi, saya coba dan relakan untuk segera hadir ke asrama. Saya tak ingin melewatkan momen yang suatu hari nanti akan sangat terasa nilai dan harganya.

Baiklah, malam ini cukup sekian. Saya hanya ingin menyampaikan sedikit saja tentang perasaan yang hadir saat ini.

Bilamana ada perkara pernyataan yang tak bisa disampaikan, semoga ada yang mampu menyampaikan, entah tulisan, puisi atau bahkan doa di antara amin-amin sepertiga malam.

 

Menikmati seminggu terakhir.

23:59

Mendadak

jadi baik

Jujur saja, saya ingin menuangkan banyak kisah saya yang sayang sekali untuk dilewatkan. Pengen pake banget, dan lagi-lagi waktunya sulit bertemu entah karena sebab: mendadak.

Dipikiran saya ini telah bertumpuk banyak hal. Tidak tahu kemana lagi harus membuangnya. Lewat cerita ke beberapa teman sudah, ke ortu sudah, ke pembina sudah, tapi rasanya masih banyak sisanya karena ketika ingin menulis tiba-tiba “mendadak” ada hal lain yang mesti segera dibereskan. Baiklah, ini saya anggap sebagai cobaan.

Saya punya pemahaman, “kalau menulis adalah keseharian”. Bayangkan, dunia kita saat ini mengharuskan kita menulis meski sebatas sms, nge-WA/Line, e-mail, dst. Berkabar adalah tujuan utamanya. Kalaupun ada tujuan lain, ya itu saya kembalikan kepada masing-masing. Hehehehe…

Namun, menulis pengalaman atas pengamalan menjadi tragis manakala tidak dituliskan. Di sini sebenarnya ada dilema yang harus dipikirkan. Menceritakan pengalaman atas pengamalan yang bisa jadi dianggap riya atau Berdiam dan bertumpuk diotak dan jauh dari anggapan riya; atau malah kita bisa mendudukkan keduanya agar tidak kehilangan pengalaman atas pengamalan namun juga tidak riya.

Akibat “mendadak” inilah saya belajar untuk kemudian bisa memosisikan keduanya. Karena mendadak, saya tidak selamanya bisa membuka laptop dan menuliskan kisah saya setiap harinya. Nah, untuk tidak menghilangkan jejak, biasanya saya berbicara kepada Mama, Mas Adi, atau pun temen-temen. Dari sinilah biasanya mereka yang memblow-up apa-apa saja yang saya utarakan. Saya cuma bercerita tentang apa yang saya lakukan dan pikirkan. Tidak kurang dan tidak lebih.

Akibat “mendadak” juga saya kini menjadi orang yang lebih dinamis. Saya harus bisa menempatkan diri saya diberbagai kegiatan dalam seharian dan terkadang waktu yang bersamaan. Memang, untuk bisa hadir secara keseluruhan (ide, fisik dan waktu) tidak dimungkinkan 100%. Tapi, saya berusaha untuk hadir 100% dalam setiap ide dan gagasan. Nah, inilah yang saya maksud tanpa harus hadir secara fisik. Sebab, jujur saja, hidup saya bukan hanya Kos-Kampus seperti teman-teman kebanyakan.

Akibat “mendadak”, saya belajar menghadapi banyak tantangan “kemanusiaan”. Dari menghadapi tuntutan akademik yang tidak manusiawi (apadeh, wkwk) sampai dengan orang-orang yang nyinyir. Padahal, saya disinipun tidak diam, masih bergerak dan takkan tergantikan. Sebab, dalam segala hal, ada rule of the game yang dijalankan. Karena, sebelum saya masuk ke dalam arena, saya harus sudah tahu agar komitmen terhadap aturan yang berlaku. Selama itu tidak dilanggar, maka semua baik-baik saja, kecuali itu ada orang-orang diluar yang mau melanggarnya, silakan. Kemanusiaan itu adalah menempatkan manusia sebagai manusia. Ketika anda berada diluar sana meneriakkan kemanusiaan namun sesungguhnya anda tidak memanusiaan orang lain karena alasan kebencian misalnya, maka saya sungguh malu dan enggan berteman dengan hipokrit.

Akibat “mendadak”, saya harus bisa multi-task, menghadapi derasnya tuntutan. Tapi kita sadar, selalu ada jalan dan cara untuk menyiasati kesulitan. Bahwa setelah keselitan pasti ada kemudahan.

Akibat “mendadak”, saya menjadi lebih pandai dalam mengelola kehidupan, khususnya time management dan diplomacy. Keuntungan juga didapat manakala tekanan-tekanan yang ada bisa kita sulap menjadi kebahagiaan buat kita dan juga orang banyak.

Yah, intinya soal “mendadak”. Tapi, sebenernya, saya selalu berusaha mencari hikmah dari setiap kejadian yang sudah digariskan Allah untuk saya hadapi. Saya selalu meminta kepada Allah untuk dikuatkan pribadi saya, bukan dilemahkan yang sarat akan deliberatif terhadap sesuatu. Muslim yang kuat lebih dicintai oleh Allah bukan?

Maka dari itu, saya harus kuat. Urusan yang saya temui saat ini tidak ada seujung kuku dibandingkan dengan tantangan ke depan semisal mengendalikan bangsa dan negara.

Yuk, jadi pembelajar dan pencari hikmah. Saya percaya, setiap dari kita pada dasarnya adalah orang baik. Ini soal lingkungan saja. Maka, bertemanlah dengan orang baik.

#Semangatmengubahdiri

Bogor, 19 Mei 2016

20: 12 WIB

 

Sepele

hal-hal-kecil

Diawal ini saya ingin mengajukan permohonan maaf. Apa yang kamu pikirkan adalah persoalan sepele, sehingga saya merasa waktu yang saya miliki tak cukup bermanfaat untuk mengurusi persoalan yang kamu buat.

Sudah saya katakan sedari awal. Saya bisa berada diposisi yang hari ini bukan karena tiba-tiba. Ada banyak pengalaman dan pengamalan yang telah saya lakukan ataupun juga bersama dengan rekan-rekan tentunya atas se-izin Allah SWT. Kalau saya membuat suatu keputusan, artinya saya sudah berkonsultasi dengan berbagai macam pihak. Tak murni perbuatan saya pribadi. Sehingga, kalaupun pada akhirnya saya dianggap tak sesuai dengan kriteria yang diinginkan ataupun persoalan-persoalan lain yang saya anggap sangat politis, itu layak untuk dibicarakan bersama. Bukan malah menjatuhkan, kawan.

Sedari kecil orangtua saya tidak pernah menyuruh saya untuk berlaku jahat: menjatuhkan derajat dan martabat orang lain. Saya diasuhnya untuk berakhlaq yang baik. Ini akan tercermin dalam etika, terlebih etika dalam politik. Saya khawatir kawan dengan pernyataan seseorang “dalam politik tidak ada etika; hanya agama yang kemudian memelajari etika secara holistik”. Justru karena kita manusia yang berTuhan dan beragama, kita kemudian menjadi sadar bahwa ada etika yang mesti kita junjung.

Obrolan-obrolan dibalik layar yang menggambarkan semua seolah baik-baik saja. Marilah kawan, kita temukan jawabnya bersama dengan berdiskusi. Kekhawatiran saya terus menjadi manakala kebencian atas pribadi yang terus direproduksi. Sehingga, baiknya reputasi seseorang pun dalam berbagai bidang menjadi tiada berarti.

Semoga Allah SWT menyanyangi saya, kamu, dan teruntuk kita semua yang sedang menjalani amanah. Saya hanya tidak ingin generasi kita hanya dicekoki oleh pandangan-pandangan sepele: kebencian.

Salam penuh cinta untuk kalian semua, kawan.

Sebuah Puisi dari Taufik Ismail untuk Sahabatnya

Tugu Khatulistiwa

Saya disini kebetulan ingin sekedar meng-copy paste puisi yang pernah saya bacakan bersama teman-teman di asrama (timsat sunan kudus=timsat terprogresif).

Setidaknya ada dua alasan: karena pin dan mau kkn. Berikut disimak.

Sebuah Puisi dari Taufik Ismail untuk Sahabatnya (Alumni IPB yang sangat menginspirasi itu)

Syair untuk Seorang Petani dari Waimital, Pulau Seram, yang pada Hari Ini Pulang ke Almamaternya

 

I

 

Dia mahasiswa tingkat terakhir

ketika di tahun 1964 pergi ke pulau Seram

untuk tugas membina masyarakat tani di sana.

Dia menghilang

15 tahun lamanya.

Orangtuanya di Langsa

memintanya pulang.

IPB memanggilnya

untuk merampungkan studinya,

tapi semua

sia-sia.

 

II

 

Dia di Waimital jadi petani

Dia menyemai benih padi

Orang-orang menyemai benih padi

Dia membenamkan pupuk di bumi

Orang-orang membenamkan pupuk di bumi

Dia menggariskan strategi irigasi

Orang-orang menggali tali air irigasi

Dia menakar klimatologi hujan

Orang-orang menampung curah hujan

Dia membesarkan anak cengkeh

Orang kampung panen raya kebun cengkeh

Dia mengukur cuaca musim kemarau

Orang-orang jadi waspada makna bencana kemarau

Dia meransum gizi sapi Bali

Orang-orang menggemukkan sapi Bali

Dia memasang fondasi tiang lokal sekolah

Orang-orang memasang dinding dan atapnya

Dia mengukir alfabet dan mengamplas angka-angka

Anak desa jadi membaca dan menyerap matematika

Dia merobohkan kolom gaji dan karir birokrasi

 

Kasim Arifin, di Waimital

Jadi petani.

 

III

 

Dia berkaus oblong

Dia bersandal jepit

Dia berjalan kaki

20 kilo sehari

Sesudah meriksa padi

Dan tata palawija

Sawah dan ladang

Orang-orang desa

Dia melintas hutan

Dia menyeberang sungai

Terasa kelepak elang

Bunyi serangga siang

Sengangar tengah hari

Cericit tikus bumi

Teduh pohonan rimba

Siang makan sagu

Air sungai jernih

Minum dan wudhukmu

Bayang-bayang miring

Siul burung tekukur

Bunga alang-alang

Luka-luka kaki

Angin sore-sore

Mandi gebyar-gebyur

Simak suara azan

Jamaah menggesek bumi

Anak petani mengaji

Ayat-ayat alam

Anak petani diajarnya

Logika dan matematika

Lampu petromaks bergoyang

Angin malam menggoyang

Kasim merebah badan

Di pelupuh bambu

Tidur tidak berkasur.

 

IV

 

Dia berdiri memandang ladang-ladang

Yang ditebas dari hutan rimba

Di kakinya terjepit sepasang sandal

Yang dipakainya sepanjang Waimital

Ada bukit-bukit yang dulu lama kering

Awan tergantung di atasnya

Mengacungkan tinju kemarau yang panjang

Ada bukit-bukit yang kini basah

Dengan wana sapuan yang indah

Sepanjang mata memandang

Dan perladangan yang sangat panjang

Kini telah gembur, air pun berpacu-pacu

Dengan sepotong tongkat besar, tiga tahun lamanya

Bersama puluhan transmigran

Ditusuk-tusuknya tanah kering kerontang

Dikais-kaisnya tanah kering kerontang

Dan air pun berpacu-pacu

Delapan kilometer panjangnya

Tanpa mesin-mesin, tiada anggaran belanja

Mengairi tanah 300 hektar luasnya

Kulihat potret dirimu, Sim, berdiri di situ

Muhammad Kasim Arifin, di sana,

Berdiri memandang ladang-ladang

Yang telah dikupasnya dari hutan rimba

Kini sekawanan sapi Bali mengibas-ngibaskan ekor

Di padang rumput itu

Rumput gajah yang gemuk-gemuk

Sayur-mayur yang subur-subur

Awan tergantung di atas pulau Seram

Dikepung lautan biru yang amat cantiknya

Dari pulau itu, dia telah pulang

Dia yang dikabarkan hilang

Lima belas tahun lamanya

Di Waimital  Kasim mencetak harapan

Di kota kita mencetak keluhan

(Aku jadi ingat masa kita diplonco

Dua puluh dua tahun yang lalu)

Dan kemarin, di tepi kali Ciliwung aku berkaca

Kulihat mukaku yang keruh dan leherku yang berdasi

Kuludahi bayanganku di air itu karena rasa maluku

Ketika aku mengingatmu, Sim

Di Waimital engkau mencetak harapan

Di kota, kami …

Padahal awan yang tergantung di atas Waimital, adalah

Awan yang tergantung di atas kota juga

Kau kini telah pulang

Kami memelukmu.

 

Catatan:

 

Bagian IV syair puisi ini dibacakan oleh sahabatnya, yakni Bpk Taufiq Ismail, pada hari wisuda Institut Pertanian Bogor di kampus Darmaga, Sabtu, 22 September 1979, sesudah Antua M. Kasim Arifin (lahir Langsa-Aceh Timur, 18 April 1938) menerima gelar “Insinyur Pertanian Istimewa”. Sebelumnya, Kasim yang sudah 15 tahun dikabarkan hilang (sejak melaksanakan Kuliah Kerja Nyata thn 1964 untuk memperkenalkan program Panca Usaha Tani) tapi ternyata menanam akar di Waimital – Maluku, sehingga enggan memenuhi panggilan Rektor Prof. Dr. Ir. Andi Hakim Nasoetion. Pada kali ketiga kedatangan utusan Rektor, yaitu sahabatnya Saleh Widodo, baru Kasim mau datang ke Bogor. Dia terharu karena penghargaan alma maternya, tapi pada hakekatnya dia tidak memerlukan gelar akademik. Pada hari wisuda itu Kasim yang berbelas tahun berkaus oblong dan bersandal jepit saja, kegerahan karena mengenakan jas, dasi dan sepatu, hadiah patungan sahabat-sahabatnya. Mahasiswa-mahasiswa IPB mengerubunginya selalu dan mengaguminya sebagai teladan keikhlasan pengamalan ilmu pertanian di pedesaan. Berbagai tawaran pekerjaan disampaikan padanya, tapi dia kembali lagi ke desa Waimital sesudah wisuda. Kemudian sesudah itu dia menerima pekerjaan sebagai dosen di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, di tanah asalnya (pensiun tahun 1994). Tawaran meninjau pertanian di Amerika Serikat ditolaknya. Ketika ditanya kenapa kesempatan jalan-jalan ke A.S. itu tak diterimanya, sambil tertawa Kasim berkata bahwa pertama-tama jangankan bahasa Inggeris, bahasa Indonesianya saja sudah banyak lupa. Kemudian yang penting lagi, katanya, apa manfaatnya meninjau pertanian di sana, yang berbeda sekali dengan pertanian kita di sini. Kesempatan meninjau sambil liburan tamasya ke A.S. itu tak menarik hatinya…

Beliau memang telah lama tiada, tapi kisah inspiratifnya tetap selalu terkenang. Beliaulah Mahasiswa sejati, yang akan selalu dikenang di negeri ini…

***

 

Begitulah puisinya. Saya jadi berpikir bagaimana tentang pengorbanan yang tulus. Dalam banyak hal kita harus berpikir tentang itu, kawan.

Semoga bisa KKN bulan depan ke Temajuk :,)