Sejenak Hening di Singapura
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Monthly Archives: June 2016

Sejenak Hening di Singapura

DSCF3379

Hari berganti hari. Tak terasa saya harus pergi, meninggalkan cerita menarik dari perjalanan tiga minggu di Hongkong. Bagi saya, perjalanan adalah bertemu dengan orang baru. Kebaruan ini yang coba saya maknai sebagai pengalaman berharga.

Biasanya, ditenpat baru yang saya pijaki, hampir selalu saya dapati orang baru yang baik. Entah perangai, perkataan, dan perbuatannya. Kemudian, saya pun ditolongi dalam bentuk apa pun, entah riil atau materil.

Tentu saja, saya tidak bisa melupakan segenap kebaikan yang telah diberikan kepada pihak Dompet Dhuafa, Mas Ilham dan Mas Arief yang telah memberi kesempatan untuk saya mengenal DDHK, bahkan seringnya direpoti. Bagi saya, cerita keduanya sangat menarik untuk dipahami sebagai satu kesatuan yang belum bersatu (IYKWIM). Adalagi, para BMI yang tinggal di Shelter. Kalau boleh jujur, saya harus berhutang budi pada setiap piring makan dan seteguk gelas minuman. Atau bahkan, para Ustadz(ah) yang senantiasa mengingatkan dalam kebaikan, memberikan ilmu agama kepada saya yang miskin ilmu, dan juga bahkan bisa menjadi rekan tertawa.

Barangkali, bersama mereka adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Namun, sama seperti perjalanan sebelum-sebelumnya, ada hal yang terkadang sangat sulit dilepas. Itu adalah perpisahan. Sungguh, menyebalkan. Kalau sudah begini, saya mah baper. Serius.

Makanya, ketika tiba di Changi, tempat yang saya cari pertama kali, dan bahkan juga untuk tidur sebentar, adalah Mushollah. Tempat itu yang saya tuju untuk merenung, mengenang, dan memaknai setiap perjalanan yang sudah diambil.  Saya merasa damai, dan butuh tenaga baru untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya, yang bisa jadi akan jauh lebih menarik. Intinya, saya sejenak hening.

Temajuk menjadi tujuan selanjutnya. Inilah pilihan yang sudah saya buat. Saya akan segera menemui kalian, orang baru yang ada di Temajuk :)

Terakhir, saya hanya ingin bilang, kita semua akan bergerak dan bertemu pada satu titik. Kemanapun melangkah, cepat atau pun lambat kita akan bertemu kembali dalam keadaan yang lebih baik :)

 

Changi, 07:05

Saya Yang Merindu

Sepenggal Kisah Perjalanan Magang Kerelawanan Dompet Dhuafa di Hongkong [Bagian I]

Kebersamaan Sahur di Shelter Kebahagiaan

Di sini, saya bertindak sebagai diri saya sendiri yang turut membersamai mereka, para buruh migran Indonesia (BMI) selama kurang lebih tiga minggu. Dalam waktu yang singkat ini, saya diberikan kesempatan untuk belajar menyelami kehidupan mereka yang terbilang sulit. Maklum saja, latar belakang ekonomi senantiasa menjadi pendorong bagi mereka untuk mengadu nasib jauh ke negeri Hongkong.

Sejak hari pertama menginjakkan kaki di Hongkong, saya langsung diajak oleh Mas Ilham, general manager Dompet Dhuafa Hongkong untuk singgah ditempat yang saya sebut sebagai “Shelter Kebahagiaan”. Shelter Kebahagiaan ini menampung para BMI yang sedang ditimpa musibah, entah karena majikan, agen, hingga bahkan terjebak pada aturan negara. Di sini, sembari menunggu urusannya selesai, para BMI mengisi dengan kegiatan yang bermanfaat, yaitu menyalurkan hobi seperti memasak, menjahit, dan sebagainya.

Saya mulai berkenalan dengan mereka. Ada Mbak Yuli yang bermasalah karena dituduh mencuri dua tahun lalu, serta dipermasalahkan karena dikira ikut sertaa sebagai anggota Multi-Level Marketing (MLM). Padahal, ia hanya membeli produk. Kemudian, Mbak Yulis yang menuntut majikannya karena tidak membayar gajinya selama dua bulan. Selanjutnya, Mbak Purwati yang kini harus masuk ke Penjara karena sempat bekerja part-time diluar pekerjannya sebagai house keeper. Ada lagi, Mbak Ajeng dan Mbak Yaya yang sedang menunggu tuk mendapatkan majikan baru; Mbak Ike yang baru sampai Hongkong namun ketika sesaat ingin bekerja ternyata sakit “infeksi rahim” sehingga harus berobat dan sedang menunggu kembali ke Indonesia. Terakhir, Mba Nurlaela yang sekarang sudah berada di Indonesia untuk bersiap menikah karena kemarin sempat menunggu jadwal kepulangan.

Pada intinya, mereka punya cerita tersendiri yang layak untuk didengar. Entah cerita perjuangan, cinta, pengorbanan, dan lainnya bagi keluarga sebagai seorang Ibu dan juga Istri; dan juga bangsa jika tidak salah saya menyebutnya sebagai seorang pahlawan devisa. Dengan begitu, saya menyadari akan peran dan posisi saat ini sebagai mahasiswa. Ada satu tugas yang hendak diemban oleh saya selain daripada belajar. Adalah keberpihakan terhadap mereka baik melalui gagasan, pemikiran, dan sumbangsih lainnya seperti tenaga dan waktu memperjuangkannya.

Jujur saja, isu terkait Buruh Migran Indonesia selalu saja tidak sedap, entah di negara sendiri atau pun di negara tempat bekerja. Selain karena perhatian pemerintah yang menurut saya sedikit, atau masih terbatasnya lembaga sosial yang kemudian peduli terhadap nasib tumbuh-kembang-berjuangnya para BMI Indonesia.

Kebetulan saja, ketika saya berada di sini, saya bisa berkesempatan hadir mewakili Dompet Dhuafa dalam kunjungan kenegaraan dari Menlu Retno L.P Marsuadi dan Menkumham Yasona Laoly ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Hongkong (24/6). Menurut Suprihatin, salah seorang BMI yang juga aktif memperjuangkan nasib BMI di Hongkong, “ia mengucap syukur yang luar biasa sebab selama 13 tahun ia berada di Hongkong, baru sekali ini saja Menlu hadir dan bertatap muka dengan BMI”. Hal ini coba dijawab oleh Menlu sebagai bentuk komitmen pemerintah Indonesia terhadap BMI.

Dalam kesempatan tersebut, Menlu membawa Isu “Paspor dan Komitmen Pemerintah Terhadap Nasib BMI Hongkong”. Isu ini coba dibawakan secara serius mengingat nasib sekitar 152.000 jiwa ada di sini. Berbagai masukan hadir kepada pihak pemerintah yang secara ringkas ingin menyampaikan pesan keprihatinan atas kondisi BMI yang dikriminalisasi akibat ketidakvalidan data paspor, ketidakpahaman atas hukum yang berlaku, atau pun persoalan lainnya.

Begitupun dari pemerintah kepada BMI yang terus berusaha memperbaiki diri, semisal peningkatan kuota pelayanan paspor menjadi sekitar 300 dari sebelumnya 120 dengan menambah 6 orang tenaga kerja bantuan dari Jakarta, dan sebagainya. Kemudian, peredaran narkoba di mana BMI dijadikan ‘kurir’ tanpa sepengetahuan mereka hanya karena diminta untuk mengirimkan barang dari satu tempat ke tempat lainnya; atau jalur lain melalui hubungan percintaan.

Saya menjadi semakin yakin, bahwa persoalan tidak lantas berhenti di situ. Harus terus ada follow up dari lembaga sosial. Dompet Dhuafa bisa bermain peran di sini untuk mengadvokasi; bukan sekedar menjadi penyedia tempat berteduh atau penyalur zakat para BMI, meski itu sudah cukup baik.

Ketakutan

640px-HK_Portland_Street_Night

Waktu saya kecil, saya ingat betul kalau Mama melarang saya keluar di waktu maghrib. Katanya ada sandekala. Saya yakin, pasti yang dimaksud Sandekala itu setan yang menyeramkan, kala itu.

Saya sendiri tak pernah tau ataupun mendengar dari orang lain atau bahkan ibu tentang bagaimana rupa atau wujud sandekala. Ia hanya diceritakan merupakan hantu yang muncul saat pergantian waktu dari siang ke malam, tepatnya saat hari mulai petang. Sandekala berkeliaran di waktu itu untuk menculik anak kecil yang masih berada di luar rumah. Konon, anak kecil yang telah diculik sandekala, tak akan pernah bisa pulang.

Terlepas dari benar tidaknya eksistensi  mahluk bernama sandekala, ada hal yang baik dari apa yang disampaikan para orangtua tentang sandekala, yaitu pesan perlindungan orangtua terhadap anak-anak yang sangat disayanginya.
Orangtua tidak ingin ada anaknya yang terancam keselamatannya saat berada di luar rumah saat malam. Orangtua ingin memastikan bahwa anak-anaknya berada di rumah di bawah pengawasan dan perlindungannya. Memastikan bahwa anaknya juga dapat makan malam, belajar, ibadah dan beristirahat.
Saya jadi berpikir, orangtua zaman sekarang, mungkin sudah melupakan sandekala yang jadi bahan obrolan umum dari generasi ke generasi sebelumnya. Popularitas sandekala telah semakin redup di telan modernisasi. Namun tanpa kita sadari, sandekala telah menyamarkan dirinya ke bentuk yang lain: gegap gempita dunia malam.
Nah, barangkali kehidupan gegap gempita malam itu saya temukan di sini. Hehehe
Di dekat kantor, ada bar. Muda-mudi ramai-ramai mendatanginya. Saya pusing tujuh keliling. Dunia kita berbeda, coy. Andai saja orangtua mereka sama seperti orangtua saya dirumah, pasti gak bakal dibolehin. Hahaha
Hingga besar begini, saya baru tahu, kalau yang dimaksud sandekale ternyata ya mereka yang diculik ke bar-bar ini. Lupa rumah karena ketemu temen yang nawarin ganja, rokok, bahkan yang ngeri adalah LGBT. Sepanjang jalan saya lihat praktik LGBT. Umumnya lesbian. Saya cuma bisa istighfar sembari ngelus-ngelus dada. Baiklah. Ini ketakutan yang saya hadapi di sini :’)
Sama seremnya kayak sandekala. 

Tetap Indonesia

Kantor Dompet Dhuafa Hongkong

Sejauh apapun saya melangkah, saya tetaplah Indonesia. Dengan segala kelebihan dan kekurangan, saya tetap menjadi diri saya. Indonesia dalam nama saya yang telah mengikatnya. Saya menjadi merasa sangat bersyukur sekaligus berbangga, bahwa orang tua saya telah berpikir jauh ke depan bagi saya untuk terus dan tetap mencintai Indonesia.

Saat ini, saya sedang berada di Hongkong. Kurang lebih, sudah 10 hari saya berada di sini. Cuaca lumayan panas sekitar 28-31 derajat C. Puasa di sini tidak jauh berbeda dengan di Indonesia, hanya lebih lama sejam lima belas menit kira-kira. Kegiatan saya sehari-hari adalah bertemu dengan para Buruh Migran Indonesia (BMI) membersamai para Ustadz untuk menyampaikan beberapa hal berkaitan dengan program Dompet Dhuafa.

Waktu di sini juga banyak saya pergunakan untuk belajar, dan mengenal dakwah Islam di Hongkong. Jadi, di sini hanya ada 6 masjid di seluruh penjuru Hongkong. Untuk mencapainya, kita perlu berkendaraan. Dua diantaranya sudah saya kunjungi, yakni Masjid Kowloon dan Masjid Ammar and Osman Ramju Sadick Islamic Centre. Kedua masjid ini dipegang oleh warga negara Pakistan. Hal ini pun berlaku pada 4 Masjid lainnya. Pertanyaannya, di mana Masjid yang dikelola orang Indonesia?

Itulah pertanyaan yang saya sampaikan kepada para Ustadz. Padahal, bila melihat jumlah penduduk muslim di Hongkong, itu hanya sekitar 200 ribu jiwa, di mana 151 ribu di antaranya adalah BMI, alias warga negara Indonesia. Saya melihat potensi dakwah di sini. Bagaimana caranya kemudian BMI yang pekerjaannya mengurusi anak-anak majikan, menjaga nenek dirumah, atau membuat masakan bisa mengamalkan nilai-nilai Islam dengan mengajarkannya. Saya ingin melihat, mereka, para BMI bisa menjadi aktivis dakwah dirumah-rumah majikan.

Di sini, bukan hanya dakwah yang bisa dilakukan oleh BMI. Namun, juga ada para ekpastriat. Mereka adalah penduduk Indonesia yang sudah menduduki posisi strategis diperusahaan-perusahaan bonafit kelas dunia. Mereka berkumpul untuk membentuk satu lembaga bernama “Indonesia Muslim Association in Hongkong” atau IMAH. Cita-cita mereka adalah membangun Islamic Centre yang dikelolah oleh warga negara Indonesia. Saat ini, mereka sedang berjuang untuk mewujudkannya. Saya minta doanya dari seluruh teman-teman.

Selain itu, ya saya masih menemui hal-hal menyedihkan dari beberapa BMI, semisal, ada seorang Ibu yang sudah berjuang untuk keluarganya. Setiap bulan selalu ia kirimkan uang ke Indonesia. Namun yang terjadi, suami yang telah dinafkahinya malah menikah lagi. Ada lagi, kasus “lesbian” yang marak terjadi akibat jarang bertemu suami. Kemudian, persoalan kriminalisasi akibat data paspor tidak valid, tidak digaji selama beberapa bulan, dan seterusnya. Tapi ingat, itu hanya beberapa kasus.

Ada hal yang lebih bisa membuat saya tersenyum di sini. Halaqah-halaqah taman surga yang senantiasa menghiasi masjid-masjid, taman-taman kota, rooftop pasar, dan ruang terbuka lain menunjukkan optimisme bahwa Islam akan menjadi rahmat di Hongkong dan seluruh alam.

Siang tadi saya shalat jumat dan disekitar Masjid bertemu banyak orang china yang sudah mengenakan pakaian muslim(ah) rapih. Disampingnya ada orang Indonesia yang menemani. Saya yakin, barangkali ini adalah berkah atas hadirnya warga Indonesia yang beragama Islam.

Ah, sungguh menyenangkan bagi saya dapat pengalaman berharga bertemu dengan mereka. Meski harus menghadapi “tidak UAS”, KKN terlambat, dan tugas pengganti yang tak kunjung datang. Tapi, inilah jalan yang harus ditempuh. Meski raga ada di sini, tapi pikiran saya tetap di Indonesia, koq. Namun, bukan berarti saya tidak sungguh-sungguh berada di sini.

Hanya bagi saya, sekali Indonesia tetap Indonesia. Gitu aja.

 

4 Juni Yang Melelahkan

Big Family RK Jogja

04 Juni adalah hari yang cukup melelahkan. Lelah secara saya baru pindah ke kontrakan di Grha Palem Indah di Jakal KM 7. Barang-barang baru tapi bekas seperti meja, lemari baju dan rak buku yang kemarin saya beli baru sampe tadi sekitar jam 10 pagi. Kamar yang tadinya berantakan, mirip kapal pecah, harus disulap dalam waktu satu jam agar bersih-mewangi. Saya tata letaknya satu persatu dengan membangun suasana kamar yang mendukung saya untuk nyaman belajar dan membaca. Meski dengan bertelanjang dada, mirip kuli bangunan; Alhamdulillah, jam 11 tadi beres.

Rasa-rasanya sudah pas. Tapi jujur, ingatan saya pada kamar yang lama masih belum pindah. Kepada kasus, bantal dan guling yang menemani tidur; juga kepada meja belajar dengan tumpukan buku dan lantai yang penuh dengan kertas-kertas fotokopian materi kuliah. Juga orang-orang macam Asyrin yang sering saya “jahilin” dan Naufal yang “super sibuk” pasca jadi Menteri BEM KM UGM.

Terus terang, sebagaimana hidup, pasti kan terus menemui kisahnya. Bagi saya, hari ini bukan lelah secara fisik karena beberes tadi. Tapi secara hati dan mental yang harus melepas semua kebiasaan bersama di asrama. Hidup komunal yang saya idamkan sedianya telah hadir di sana. Sering saya bilang, saya ini takut sendiri, dan saya tidak mau sendiri. Makanya, pasca asrama pun saya memilih tuk mengontrak dengan beberapa teman-teman se-asrama supaya masih ada rasa yang tertinggal.

Saya kemudian kemasi barang-barang ke koper pinjaman dari ozan. Saya pinjam karena saya harus menempuh perjalanan panjang yang panjang. Dari Jogja ke Jakarta sehari, kemudian pamit cipika-cipiki dengan orangtua, adik, nenek, dan tetangga karena tidak bisa berpuasa dan lebaran dirumah. Setelah itu, Senin malam berangkat menuju Hongkong mengikuti pelatihan kerelawanan bersama Mounda (Biologi UI ’12) dengan transit terlebih dahulu di Singapura selama 15 jam. Barulah setelah itu terbang ke Hongkong. Setelah kegiatan itu beres, saya tidak pulang. Saya lanjutkan lagi mengabdi di Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Kira-kira, saya balik ke Yogyakarta sekitar tanggal 8 Agustus, yang artinya sudah masuk tahun ajaran baru.

Senang sekali mendapat kesempatan ini, yang merupakan kali keduanya ke Hongkong dan Singapura dengan biaya gratis. Dahulu, tahun 2011 saya dibiayai oleh PT. Newmont Pasific Nusantara untuk mengikuti ajang bergengsi “JA Company of The Year-Asia Pacific Region”. Saat ini, saya dibiayai oleh Dompet Dhuafa dengan misi berbeda: kemanusiaan.

Waktu yang panjang, di mana tidak bisa mengikuti ramadhan bersama dengan teman-teman di Jogja. Biasanya, kita muter keliling masjid untuk cari bukaan; atau shalat tarawih dengan mencari penceramah yang menarik. Tapi kini, tahun ini tidak bisa. Ada hal lain yang harus saya tunaikan. Semoga saya tetap terjaga.

Meskipun demikian, pikiran saya masih tertuju pada asrama beserta orang-orang yang ada didalamnya. Saya belum bisa move on. Saya belum sempat menyalami satu per satu teman-teman. Bahkan, Mas Adi yang seharusnya mengantar ke Stasiun batal dan digantikan oleh Fajar. Terima kasih lah kepada Fajar.

Kamar di Asrama masih menyisakan beberapa hal selain kenangan. Ada mie sedap, wedang jahe, notes, kalender dan—yang paling aneh mungkin—layangan beserta benangnya. Tapi mesti, kenangan yang tertinggal dan masih membekas dihati, dikala melihat teman-teman yang lelah karena aktivisme di Kampus kemudian terlelap tidur dengan mulut menganga sekaligus ngorok. Ataupun juga ketika misalnya rapat-rapat yang membentuk lingkaran ditemani kue dan bisik-bisik, serta senyum merekah dibibir. Kadang disitu saya melirik, melihat sekeliling. Ada yang fokus, pegang hp, dan saling melirik, eh. Tapi, semua akan terkenang.

Tepat 14:30 WIB, kereta berangkat. Saya mohon pamit di grup WA Nasri7 untuk pergi lebih dulu. Do’a-do’a mengalir. Kita memang tidak saling bertatap wajah dalam dua bulan ke depan. Tapi, kita masih bisa bersua. Semoga, kita bertemu dalam keadaan yang lebih baik ke depan. Aamiin.

 

Saudaramu,

Alfath Bagus P.E.I

Kroya, 17:37