Idul Fitri Membentuk Kesalehan Sosial
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Monthly Archives: July 2016

Idul Fitri Membentuk Kesalehan Sosial

Alfath Bagus Khutbah Jumat

Memahami aktivisme Islam selain shalat, puasa, mengaji dan beramal jariyah merupakan suatu hal yang sangat penting. Selain karena Islam yang holistik dan memengaruhi seluruh kegiatan yang dilakukan oleh umatnya; Islam juga memberikan panduan bukan hanya untuk menjadi yang saleh secara individu, tapi juga berdampak bagi lingkungan sosialnya. Saya menyebutnya kesalehan sosial.

Kesalehan sosial ini berbeda dengan kesalehan individu. Kesalehan sosial berpangkal pada keberpihakan diri terhadap peri kehidupan umat. Urusan pribadi telah dianggap selesai. Kini saatnya mengabdi; berkhidmat kepada umat dalam berbagai bentuk. Kita bisa mengenalinya lewat keteladanan, seperti misalnya KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah yang sering disampaikan adalah tentang keistikamahan dalam menyampaikan Surah Al Ma’un. Bahwa yang terpenting adalah aplikasi ilmu ke dalam praktiknya hidup. Kemudian, Abdurrahman Wahid, Presiden ke-4 yang akrab dengan gagasan pluralisme. Bahwa Islam harus toleran dalam menjalankan kehidupan beragama.

Mungkin tampak problematis bagi sebagian dari umat untuk memahami, bahkan melakukannya. Tapi secara sederhana, sedikit kisah keteladanan di atas bisa memberikan kita pengertian bahwa kesalehan sosial adalah meletakkan kepentingan bersama melebihi kepentingan diri sendiri. Orientasinya adalah orang lain; bukan diri sendiri.

Momentum Idul Fitri adalah salah satu bagian terpenting membentuk kesalehan sosial. Bayangkan, setelah sebulan jasmani dan rohani kita ditempa oleh Ramadhan, dikembalikannya kita semua bak bayi yang suci bersih; terbebas dari noda dan dosa. Kita tidak boleh lupa, Idul Fitri merupakan hari Kemenangan. Tapi, sejauh saya memahaminya, Idul Fitri merupakan titik balik perbaikan diri. Tak boleh lagi mengulang kesalahan yang telah diperbuat dan menjadikannya sebagai pembelajaran. Sehingga, hanya mereka yang telah melewati ujian Ramadhan__yang dirinya telah mengalami perbaikan__yang bisa disebut sebagai pemenang.

Nah, para pemenang inilah yang kemudian menceburkan dirinya pada peluhnya hidup bermasyarakat. Ada yang ilmunya amaliah karena tersampaikan pada umat, ada juga yang amalnya disampaikan secara ilmiah sehingga mampu dipertanggungjawabkan. Keduanya halnya harus beriringan demi terciptanya kehidupan yang bermartabat.

Kehidupan yang bermartabat ini bukan mimpi jika setiap dari kita mampu menjalankan peran hingga bahkan mewariskan tanggung jawab dan peranan sosial kepada generasi selanjutnya. Meninggalkan kebaikan dan memberitahukannya tentang kekurangan untuk kemudian diperbaikinya hari depan. Sehingga, akan terciptanya hidup yang saling melengkapi dan perbaikan dari waktu ke waktu.

Di titik ini saya menjadi sadar. Kebetulan saya mendapatkan kehormatan menjalankan sebuah amanah akademik dan amanah dari Allah SWT untuk turut mempersembahkan diri kepada warga perbatasan di Desa Temajuk, Paloh, Sambas, Kalimantan Barat sekaligus memenuhi panggilan bangsa lewat kegiatan Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat Universitas Gadjah Mada (KKN PPM UGM). Tugas ini sebentar lagi akan dicukupkan. Saya ucapkan terima kasih dan apresiasi kepada masyarakat Desa Temajuk yang telah memberikan kami kesempatan untuk belajar mengabdi kepada negeri. Kegiatan ini begitu berharga karena pada kenyataannya pengabdian adalah keniscayaan bagi setiap manusia. Ini merupakan salah satu bentuk kesalehan sosial yang riil.

Sejak berkegiatan di Desa Temajuk, saya mencoba tuk memahami kondisi sosial, politik, ekonomi, dan budaya serta segala hal yang berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari dan juga mata pencaharian. Saya dan teman-teman kemudian meneruskan kebiasaan baik para pendahulu dengan berkeliling desa, ke sudut-sudut kampung, berbincang langsung dan berkarya bersama masyarakat untuk pembangunan pariwisata dan peningkatan kualitas pendidikan. Rumah (penginapan) bisa saja berdinding triplek dan beratapkan alang-alang; sekolah masih bisa reyot dan rapuh; jalan masih berlubang dan listrik belum sepenuhnya tersedia, tapi semangat masyarakat terutama anak-anak yang berada di bangku sekolah tak bisa kendur. Dalam berbagai keterbatasan kami terpukau dan takjub; kami bukan melihat sorot mata manusia, kami melihat Indonesia.

Dalam berbagai kesempatan, saya seringkali mewakili teman-teman mahasiswa UGM untuk menitipkan persiapan masa depan Desa Temajuk dan juga Republik ini kepada anak-anak. Kepada para orangtua saya selalu berujar, “berikanlah kesempatan kepada mereka untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Teruslah songsong anak-anak itu dengan hati dan sepenuh hati. Jadikan hari-hari mereka penuh dengan belajar dan membaca. Temani mereka disaat lelah belajar serta do’akan kepadanya agar ilmu yang diperoleh bisa bermanfaat untuk alam raya”.

Pesan kami terakhir. Mari kita lanjutkan perjuangan pembangunan, beri dukungan dan komitmen kepada pemerintah desa dalam membangun Desa Temajuk. Kehormatan desa ada ditangan penduduknya. Bilamana ada sikap pemimpin yang tak sesuai, maka tugas kita adalah meluruskannya. Bilamana ada perbaikan yang tak cukup diselesaikan secara mandiri, maka tugas kita adalah melengkapinya.

Semoga Idul Fitri ini bisa memberikan pembaharuan pada diri. Menjadikan pribadi ini bukan saleh sendiri, tetapi beramai-ramai.

 

 

Bersama Orang-orang Baru [Bagian 2]

Taken with Lumia Selfie

Ayam berkokok tanda pagi tiba. Matahari sebenarnya sudah ingin menampakkan wajahnya ke hadapan tunas bangsa yang ingin menenggak manisnya air pengetahuan. Sayangnya, matahari tenggelam dikalahkan gemericik hujan yang membasahi Temajuk. Alhasil, mereka harus datang ke sekolah dengan payung, jas hujan, dan paling sedih, kebasahan.

Tapi, tak boleh lah kiranya menyalahkan hujan. Sama seperti halnya waktu, ia akan terus maju menanggalkan yang lalu. Sudah sebulan kiranya saya berada di Temajuk. Ada beberapa tanggungan yang mesti segera tuk di selesaikan. Namun, tanggungan ini haruslah melibatkan hari lalu. Dan sampai saat ini, saya masih kesulitan untuk memanggil hari lalu tersebut.

Sedikitnya kesempatan untuk melaksanakan tugas itu berbanding terbalik dengan banyaknya kesempatan bagi saya untuk berkenalan sekaligus berdekatan dengan sekeliling. Masyarakat dan alam raya yang menyertainya mengingatkan diri ini pada kebesaran Sang Penci(n/p)ta.

Kisah ini berlanjut. Karena terlambat sekitar 8 hari untuk sampai ke Temajuk, maka saya harus bisa mengejar ketertinggalan itu. Berbekal motor pinjaman dan teman-teman yang menemani, saya keliling kampung;  bertemu dan berkenalan. Dengan takzim saya jabat tangan setiap orang Temajuk. Sampailah saya diperjalanan menuju rumah Pak Mira di Maludin. Sekitar 30 meter, tak jauh dari rumah Pak Mira, saya yang membawa motor__Yamaha dua tak__ala pebalap motorcross terjatuh nyungsep. Alhasil, kaki lecet dan tangan kiri keseleo. Beruntung, Andri yang menemani pada saat itu segera menolong saya dari keterpurukan sambil meneguhkan kaki dan tangan saya untuk bisa berdiri.

Setelah momen tersebut, saya jadi kesulitan mengendarai motor untuk beberapa hari. Namun, atas kejadian itu, saya menjadi lebih berhati-hati. Yang terpenting bagi saya adalah sudah mengenali seisi kampung. Dalam waktu singkat, saya bisa menemukenali segudang potensi untuk bisa dikembangkan dimulai dari kerajinan tangan dan makanan untuk souvenir bahkan pemanfaatan kekayaan alam yang tersedia untuk pengembangan pariwisata seperti tour hutan bakau dan juga penggunaan internet sebagai media pemasaran yang tepat di era teknologi seperti ini.

Di lain sisi, ada permasalahan kampung yang bisa saya temui; dari urusan politik dan pemerintahan sampai kepada urusan kenakalanyang marak terjadi dikalangan pemuda. Maka dari itu, saya coba buatkan program-program yang berkaitan dan bahkan bersentuhan langsung dengan masyarakat, antara lain:

  1. Pemberitaan Desa Temajuk melalui Good News From Indonesia (GNFI) merupakan pengejawantahan dari program LPPM, yaitu Pengembangan Sarana Pendukung Pariwisata (3.2.02).

 

Deskripsi: Program ini saya jalankan karena, pertama, minimnya informasi di publik yang berkaitan dengan tempat pariwisata “Surga di Ekor Borneo”. Kedua, Indonesia terlalu banyak memiliki masalah, sehingga ketika kami berikan kabar baik dari perbatasan, harapannya adalah mereka semakin mengenal dan mencintai Indonesia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Adapun yang ketiga dan yang menjadi inti adalah pariwisata di Temajuk yang belum ditunjang oleh sarana pendukung media sosial/internet. Oleh sebab itu, kami meyakini GNFI bisa menjadi wadah sekaligus rekan bekerjasama yang mampu mengeskalasi kabar baik yang hadir di Temajuk kepada khalayak luas.

 

Kebutuhan: pertanyaan wawancara, laptop, internet, kamera (hp), ATK, dan transportasi (akomodasi)

Sasaran: masyarakat yang tercerahkan oleh internet/followers GNFI

Target: 1.000.000 orang

Tempat: Desa Temajuk

Waktu: sepanjang KKN

Biaya: Rp. 250.000,- oleh mahasiswa

  1. Door to Door: Partisipasi, Advokasi, dan Pengawasan Masyarakat Terhadap Dana Desa merupakan pengejawantahan dari program LPPM, yaitu Program LPPM:  Pembinaan Partisipasi Sosialmasyarakat (3.8.05).

Deskripsi: Program ini saya jalankan karena, pertama, minimnya informasi di masyarakat Temajuk yang berkaitan dengan Dana Desa. Kedua, proses pengajuan Rancangan Anggaran Penggunaan Dana Desa harus melibatkan partisipasi dari masyarakat. Adapun yang ketiga adalah masyarakat bisa mengadvokasikan kepentingannya bagi desa. Saya akan mendatangkan surveyor ke rumah-rumah warga dengan sistem random sampling. Hal ini saya lakukan supaya mampu menjangkau tingkat kepahaman terkait Dana Desa sekaligus berinteraksi langsung dengan masyarakat Temajuk.

 

Kebutuhan: laptop, form, kamera (hp), ATK, dan transportasi (akomodasi)

Sasaran: masyarakat Desa Temajuk

Target: 50-60 orang

Tempat: Dusun Camar Bulan, Maludin, dan Sempadan

Waktu: 18-22 Juli 2016

Biaya: Rp. –

 

  1. Focus Group Discussion bersama perangkat Desa Temajuk tentang Dana Desa merupakan manifestasi dari program LPPM, yaitu Peningkatan Kemampuan Pamong Desa (3.3.02).

 

Deskripsi: Demi terciptanya penyelenggaraan Dana Desa yang berprinsip swakelola dan gotong royong, maka dibutuhkan suatu upaya yang sinergis dari masyarakat dan juga pamong desa. Bila sudah ada program yang menyasar kepada masyarakat, maka saat ini giliran pamong desa yang berupaya untuk menemukenali kebutuhan mendasar dari Desa Temajuk dan menyuarakannya dalam forum. Kemampuan untuk menyuarakan tersebut sangat diperlukan karena berkaitan dengan penganggaran program yang menjadi harapan dan cita-cita masyarakat Temajuk.

 

Kebutuhan: laptop, speaker, proyektor, LCD, UU Desa, PPT, papan tulis/flowchart, spidol, dan konsumsi.

Sasaran: perangkat desa (Kepala, Sekertaris, Kepala bidang) dan juga Kepala Dusun.

Target: 5 orang

Tempat: Balai Desa Temajuk

Waktu: 14 Juli (dapat berubah)

Biaya: Rp. 150.000,-

 

  1. Kampanye “Rumah Peduli Anak” merupakan manifestasi dari program LPPM, yaitu Penyuluhan Pembangunan Desa (3.3.05).

 

Deskripsi: Menurut hasil oveservasi, banyak ditemui kasus kenakalan remaja seperti seks bebas, hamil diluar nikah, NAPZA, minum-minuman keras, dan sebagainya. Kasus ini bila dibiarkan akan menimbulkan permasalahan sosial yang justru seolah menjadi kebiasaan (hal yang biasa). Bila ditinjau, peran orang tua menjadi yang utama disamping peran dari guru di sekolah dan para pendakwah dilingkungan sekitar. Dengan demikian, Rumah Peduli Anak menjadi program kami untuk mengkampanyekan serta mengembalikan fungsi dan peran orang tua yang peduli terhadap tumbuh kembang anak, termasuk dalam urusan pergaulannya. Kami akan mendatangi rumah-rumah warga dengan memberikan beberapa pertanyaan sederhana yang menggugah. Kemudian mengajak orangtua untuk menjadikan rumahnya kondusif bagi anak. Bila orangtua ingin terlibat dalam program kampanye ini, maka kami akan berikan satu sticker sebagai penanda keterlibatan tersebut.

 

Kebutuhan: laptop, form, kamera (hp), ATK, transportasi (akomodasi), dan sticker

Sasaran: masyarakat Desa Temajuk

Target: 30 KK

Tempat: Dusun Camar Bulan, Maludin, dan Sempadan

Waktu: 15-17 Juli 2016

Biaya: Rp. -

 

  1. Pemutaran dan Bedah Film “Tanah Surga Katanya” merupakan pengejawantahan dari program LPPM yaitu Pemutaran Film atau Video Penerangan (3.12.01).

 

Deskripsi: melihat Temajuk sebagai Desa yang berbatasan langsung denganTeluk Melano Malaysia membuat kami perlu belajar dari film “Tanah Surga Katanya”. Film ini mengisahkan kehidupan warga Indonesia yang tinggal diperbatasan. Sisi politik, ekonomi, dan sosial menjadi menarik untuk dibedah oleh beberapa narasumber, kemudian dikontekstualisasikan ke dalam kehidupan di Temajuk. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran akan cinta tanah air dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Rencananya, yang akan membedah film ini adalah Bupati Kabupaten Sambas.

 

Kebutuhan: laptop, sound system, proyektor, LCD, lapangan, layar lebar, dan konsumsi.

Sasaran: masyarakat Desa Temajuk

Target: 100 orang

Tempat: Lapangan SDN 16 Temajuk

Waktu: 5 Agustus 2016

Biaya: Rp. 500.000,- (Mitra Desa dan Mahasiswa)

 

  1. Memandikan Jenazah dan Menyalatinya; serta perbantuan dan pendampingan segala kegiatan Masjid merupakan manifestasi dari program LPPM, yaitu Pembinaan Kegiatan Keagamaan (3.10.01).

 

Deskripsi: Merawat, memandikan, dan menyalati jenazah merupakan kewajiban bagi umat muslim, terlebih didasarkan pada warga Temajuk yang 99% beragama Islam.  Dengan terbatasnya sumberdaya manusia yang mampu memandikannya menjadikan kegiatan ini penting tuk dilaksanakan dalam rangka menambah jumlah warga yang bisa dijadikan sebagai perawat jenazah. Selain itu, pendampingan terhadap segala bentuk kegiatan Masjid sangat diperlukan seperti kebutuhan mengisi jadwal khutbah Jum’at, pembuatan teks ceramah, diskusi/kajian keagamaan, dan seterusnya.

 

Kebutuhan: Kain kafan, ATK, Flowchart, spidol, instruktur dan pendampingan mahasiswa

Sasaran: Warga Dusun Camar Bulan, Maludin, dan Sempadan

Target: 30 orang

Tempat: Masjid Wahidatull Ummah, Masjid A’malubinniat, dan Masjid Al Ikhlas.

Waktu: 15 Juli di Camar Bulan, 22 Juli di Sempadan, dan 29 Juli di Maludin

Biaya: Rp. 150.000,- (Mahasiswa)

 

  1. Pemberian materi terkait “Nasionalisme dan Sadar (Geo)Politik” dan “Korupsi dan Anti Korupsi” merupakan manifestasi dari program LPPM, yaitu Pemberian Pelajaran Tambahan di SD (3.4.01), SMP dan SMA (3.4.05).

 

Deskripsi: kesadaran akan nasionalisme dan (geo)politik dinilai sebagai upaya untuk mempertahankan identitas dan jati diri bangsa. Bersamaan dengan itu, persoalan integritas masih minim. Upaya penyadaran harus terus dilakukan dengan harapan mampu membiasakan penerapan nilai-nilai kejujuran dalam keseharian.

 

Kebutuhan: laptop, speaker, proyektor, PPT, papan tulis, spidol, dan souvenir untuk peserta aktif.

Sasaran: Pelajar SD, SMP, dan SMA

Target: 100 orang

Tempat: SDN 16, 19 Temajuk; SMP dan SMAN 2 Paloh.

Waktu: 25, 26, dan 27 Juli 2016

Biaya: Rp. 100.000,-

Dari berbagai program yang telah dicanangkan di dalam laporan rencana kegiatan (LRK) KKN-PPM UGM, pada akhirnya, semua itu akan mengarah pada pembentukan “policy brief” atau rekomendasi kebijakan yang mencakup seluruh kegiatan KKN-PPM UGM yang ditujukan bagi arah pembangunan desa. Dengan segenap kerendahan hati, saya ingin menuangkan gagasan bagi pembangunan desa. Meski sedikit, namun tak mengapa, dibandingkan tidak sama sekali.

Hingga tibalah saatnya bagi saya untuk mempraktikkan ilmu yang di dapatkan dibangku pendidikan. Program-program yang direncanakan oleh mahasiswa banyak berjalan pasca lebaran. Sehingga, setiap dari kita mulai menggiatkan program yang menjadi jam pokok; seringkali juga membantu teman-teman yang membutuhkan. Tapi begitulah adanya. Alhamdulillah, program yang saya miliki berjalan lancar. Tersisa dua program saja yang mesti diselesaikan, yaitu FGD bersama pemerintah desa dan bedah film “Tanah Surga Katanya”.

Nah, untuk keberhasilan program KKN di sini, diperlukan konsistensi yang penuh. Tidak boleh tidak, tidak pakai tapi, saya harus melaksanakannya. Sebab, bila diukur, waktu mengabdi kita itu tidaklah cukup banyak. Sedangkan, tanggung jawab sosial dan juga moral telah melekat erat di dalam kapasitas kami sebagai mahasiswa. Maka, sudah dapat dipastikan, menjadi tanggung jawab untuk berlaku dan berbuat sebaik-baiknya.

Di titik ini, saya seringkali berpikir tentang sesuatu yang sesekali membikin hati bertanya-tanya. Entah, mengapa suasana pertemuan itu selalu menyenangkan. Dan entah mengapa, bagi saya perpisahan adalah satu hal yang menakutkan sekaligus menyedihkan. Itu saja.

Tentang Temajuk, Surga di Ekor Kalimantan

WP_20160702_17_47_15_Pro

Malam senyap, tak ada suara kecuali bisikan angin bersama dengan gelombang laut yang datang menggulung-gulung. Kanan-kiri sepi, tak ada sorot lampu penerang jalan, mengingat malam telah larut. Cuma ada bintang-bintang yang membuat malam semakin syahdu. Bersama teman-teman, kami saling paparkan program pembangunan desa sembari sesekali berkisah tentang cita dan asa. Inilah hidup yang sederhana, jauh dari kemegahan dan hingar bingar.

Kusarankan, sewaktu-waktu dalam hidupmu, meski sekali, sempatkanlah ke Temajuk. Kau akan dengan mudahnya bercumbu dengan alam tanpa rasa malu-malu. Hamparan pasir putih memanjang, batu-batu sebagai perhiasan pantai, serta langit senja yang tak ubahnya mengingatkanku pada senyum manismu.

WP_20160716_11_47_34_Pro Taken with Lumia Selfie WP_20160720_09_49_36_Pro WP_20160720_16_38_15_Pro

Kesederhanaan sekaligus perjuangan menjadi keseharian yang mengakar kuat di masyarakat. Para nelayan yang berangkat malam pulang pagi, para Ibu yang setia mengasuh anak sembari menyelesaikan pekerjaannya sebagai seorang istri, serta anak-anak desa yang sorot matanya mengingatkanku pada puisinya Soekarno yang berjudul Aku Melihat Indonesia, bahwa “Aku bukan lagi melihat mata manusia. Aku melihat Indonesia”.

Jujur saja kekaguman ini tiada henti. Meski hidup dalam segala keterbatasan jalan, listrik, ditambah terbatasnya sumberdaya untuk memenuhi kebutuhan hidup, jauh dari pusat pemerintahan, kesehatan, perekonomian, dan seterusnya, tak membuat warga Temajuk surut berpantang. Justru dengan itu, warga Temajuk semakin cerdas untuk menyiasati hidup demi terselenggaranya penghidupan.

Lihatlah perahu, jaring, lampu petromak atau senter, dan juga laut; beserta cangkul, pupuk, serta lahan yang tumbuh subur dan menghasilkan. Semua anak, ibu, bapak, kakek, nenek, tetangga hidup dalam kecukupan; cukup beli motor, cukup bikin rumah, cukup beli makan dan minum, serta segala kecukupan lainnya. Saya mulai berpikir, warga Temajuk adalah orang yang pandai berikhtiar dan bersyukur; sangat tawadhu dengan gemar hidup dalam kecukupan.

Bukan hanya itu, berbatasan langsung dengan negeri tetangga, Malaysia, merupakan satu anugerah tersendiri bagi Temajuk. Selain karena Teluk Melano yang selama ini berperan besar dalam menunjang kebutuhan mendasar, juga karena akses yang lebih dekat dan mudah jika dibandingkan dengan pergi ke Kabupaten Sambas. Sama halnya dengan Malaysia yang juga bergantung pada perekonomian Temajuk. Hubungan timbal balik ini sudah berlangsung lama. Barangkali, inilah yang disebut sebagai saudara.

Kemudian, berbicara tentang Temajuk tak lengkap tanpa mengetahui seluk beluk sejarahnya. Menurut Pak Farhad, tetua desa, ada setidaknya dua versi, pertama, Temajuk berasal dari kata ‘majuk’ dalam bahasa Sambas Kuno yang artinya makan. Di sini, Temajuk dahulu dijadikan sebagai tempat persinggahan para nelayan Indonesia untuk beristirahat dan makan sehabis menjual barang dagangan berupa hasil bumi ke Malaysia; atau kedua, Temajuk merupakan akronim dari “Tempat Masuk Jalur Komunis”. Dahulu sekitar tahun 1980an, Temajuk menjadi tempat persembunyian Pusat Gerakan Rakyat Serawak (PGRS) yang berideologikan komunis. Temajuk yang merupakan zona netral, di mana tidak diklaim sebagai jajahan milik Inggris atau pun Belanda menjadi tempat persembunyian yang paling aman. Sehingga tak heran, Temajuk kemudian dijadikan tempat latihan perang dan markas PGRS.

WP_20160703_12_44_14_Pro


WP_20160704_09_14_30_Pro

Terlepas dari latar belakangnya, Temajuk kini sudah berganti wajah. Temajuk semakin dikenal sebagai tempat yang tenang-menenangkan sekaligus senang-menyenangkan. Banyak wisatawan dari penjuru Kalimantan Barat, bahkan luar provinsi yang mulai memadati Temajuk. Menurut Pak Pandri, Sekertaris Desa yang juga menjabat sebagai Wakil Karang Taruna, setiap tahun selalu terjadi peningkatan jumlah wisatawan sekitar 20 persen dari tahun sebelumnya.

Bersamaan dengan itu, homestay bertumbuh pesat, kebersihan semakin diperhatikan, dan tata kelola tanaman pekarangan semakin diperindah. Nah, keterlibatan mahasiswa terletak pada upaya mengembangkan sarana pendukung pariwisata, terutama dibidang Teknologi dan Informasi. Penggunaan media sosial, website, termasuk kerjasama dengan berbagai komunitas dalam menggelorakan pariwisata Temajuk menjadi prioritas selanjutnya, disamping dengan ditunjangnya  infrastruktur jalan dan penerangan.

Pembangunan non-fisik juga tak boleh dilupakan. Manusia sebagai subyek membutuhkan pendidikan yang layak serta berkualitas. Untuk membentuk peserta didik yang cerdas akal budi diperlukan peningkatan kapasitas dari pendidik, pemenuhan sarana dan prasarana, perhatian orangtua, serta gizi dan kesehatan yang memadai. Ini yang masih menjadi pekerjaan rumah.

Di titik ini, Temajuk bak anak kucing yang mengeong seolah merengek, kekurangan makan dan minum. Tapi, anak kucing ini seperti menemukan pengasuh yang baik hati. Pengasuh memberikan kasih dan sayangnya setulus hati sehingga anak kucing tak lagi merasa kekurangan. Adalah mereka yang peduli dengan tumbuh kembangnya Temajuk. Perwajahan baru coba diperkenalkan oleh pamong desa, pengunjung, komunitas, dan juga mahasiswa KKN.

WP_20160704_18_02_04_Pro WP_20160704_18_02_18_Pro

Dengan begitu, Temajuk dapatlah kita sebut sebagai surga bagi para petualang, tempat bulan madu paling menantang, dan rumah bagi mahasiswa KKN-PPM UGM. Sungguh, bagiku hidup bersama mereka merupakan pengayaan bathin dan petualangan kemanusiaan yang tak terlupakan.

Sesekali, jika dilanda rindu orang-orang tersayang, senja di Temajuk menjadi penawarnya. Jika kutemukan tanya dari rancangan kerja program Kuliah Kerja Nyata, maka jawabannya dapat kutemui dari teriknya sinar mentari, dan lautan bintang, serta purnama ketujuh. Suatu kebahagiaan bisa duduk dan berdiam diri ditepi pantai dalam gelap yang tanpa orang mengutuknya. Menapaki bumi yang lain, yang mungkin saja suatu hari nanti dapat kau pijaki.

Selamat menikmati semua kebaikan dari Temajuk. Surga di ekor Kalimantan.

 

Bersama Orang-orang Baru (Bagian 1)

WP_20160629_16_34_29_Pro

 

Sudah lama saya tak bersua. Mengingat Juli semakin berlalu, saya meminta diri untuk bersua sebentar. Di sini, saya ingin berkisah tentang segenap cinta, persahabatan, dan kasih yang tumbuh dengan ‘orang-orang baru’.

Selama tiga minggu belakangan ini, pasca balik dari Hongkong, saya langsung memelesat menuju Temajuk, kota yang sering terdengar namanya ditelinga, tetapi masih asing tuk dijelajahi. Dari Jakarta, saya bertolak ke Pontianak. Sesampainya di sana, saya dijemput oleh Pak Burhan, Ayah dari teman, Andri, dan juga adik bungsunya. Selama diperjalanan, kita berkelakar akan banyak hal dimulai dari cerita tentang gambaran umum Pontianak sampai kepada Andri yang tidak suka makan nasi sewaktu kecil.

Tak terasa, mobil sudah berhenti di garasi. Kurang lebih sudah pukul 22.00 WIB. Inilah rumah Andri. Saya disambut oleh Ibunya yang begitu ramah. Kemudian, karena terlihat lelah akibat perjalanan jauh, dan dalam waktu sebentar, saya akan melanjutkan lagi perjalanan membuat saya harus mempersiapkan diri. Di mulai dengan mandi terlebih dahulu akibat sudah seharian belum mandi. Kemudian, yang tak kalah penting adalah makan nasi beserta lauk pauknya. Sebab, sudah hampir dua hari tak bertemu dengan nasi akibat sahur dan buka seadanya diperjalanan. Di antara waktu-waktu yang singkat inilah, saya dan mereka saling berbagi kisah.

Jam menunjukkan pukul 23.00 WIB. Saya dipersilakan untuk beristirahat sekitar satu jam. Saya pikir ini lumayan untuk mengumpulkan seluruh energi dan kebijaksanaan diri dalam rangka memenuhi panggilan mengabdi. Lebay. Tapi, begitulah saya tertidur pulas hingga tak terasa sudah pukul 00.10 WIB, kita harus melanjutkan perjalanan. Saya bersiap-siap. Diberikannya dari orangtua Andri kepada saya dua amanah besar, pertama, motor Kharisma X tahun 2007, dan kedua, kue lebaran dalam berbagai rupa. Keduanya harus sampai ke tangan Andri. Syahdan, dengan takzim, saya terima amanah itu.

Kemudian, waktu yang sempit itu membuat saya meminta diri untuk bergegas. Khawatir jikalau ditinggal bis. Maka, dengan segala hormat dan ucapan terima kasih tak terperi, saya melangkah pergi, menuju ekor kalimantan. Dapatkah kau bayangkan kisah selanjutnya?

 

***

Pagi ini saya terbangun, menghela nafas dan mengucap syukur karena masih diberi hidup oleh Yang Maha Pemberi. Saya senang sekali melihat ada ‘orang baru’ lagi di sebalah kanan saya: Kresna. Biasanya Bang Dipo, tapi semalam nampaknya Bang Dipo tukaran dengan Kresna. Seperti biasa ada ritual subuh. Kemudian, saya keluarkan saja laptop sembari mengecek hp. Ternyata ada Fikri yang tiga kali menghubungi saya semalam, tapi saya sudah tidur. Hingga terbit kian-kian meninggi, tahu-tahu sudah ada­­__meminjam istilah Bang Dipo__Aisyah alias Rini, anak dari Pak Abdullah yang juga berkuliah di Yogyakarta sedang bersiap-siap membuka warung Mitra Utama milik Pamannya yang ada di seberang rumah. Hari ini, ia tampak jauh melebihi dari anggun karena sedang mencuci sekaligus mengasah golok. Seketika itu, Bang Dipo, yang semalam tidur ditempat Kresna tiba-tiba masuk ke rumah dan senyum-senyum.

Saya bisa paham maksud dari senyum-senyumnya. Adalah Aisyah, pasti, yang membuatnya cekikan bak penduduk Sumber Waras.

Di sini, singkat cerita, saya ingin melanjutkan kisah saya sebelumnya.

Sampailah saya di Kartiasa. Meski telah melalui jalan yang berkelok-kelok, dangdut yang tak pernah henti, dan suara perut keroncong akibat tak bisa sahur, karena kiri dan kanan saya ada Bapak membawa anak yang mana anaknya tidur dan menggelayut di pundak saya. Bersamaan dengan itu, tas saya yang berisi makanan tampak sulit terjangkau karena saking banyaknya tas dan barang yang dibawa di dalam bis itu, termasuk sepuluh buah motor yang ditaruh di atap.

Sebagaimana janji Andri dan Tegar yang akan menjemput, jam 9 sudah sampai Kartiasa, dan saat itu baru jam 7. Maka dengan menimbang, dua jam itu saya pergunakan untuk bobo sejenak. Barangkali bisa mimpi indah. Saya lihat ada surau, nah, saya meluncur ke sana. Saya jadi teringat dua malam lalu saat transit di Singapur. Emperan Changi dan bangku-bangku istrihat sudah penuh sesak dengan penumpang. Akhirnya, saya mencari Prayer Room dan tidur di sana. Meski kedinginan, tapi saya pikir lebih aman tidur di sana. Memang, ke manapun pergi, Masjid/Mushollah/Surau/Prayer Room adalah rumah yang menurut saya paling aman.

Batang hidung mereka berdua baru terlihat sekitar 09.45 WIB. Mau meluncur, tapi kasihan melihat mereka kecapekan. Akhirnya, opsi leha-leha di Surau kami pilih. Tegar dan saya sibuk mengurusi hp dan laptop, sementara itu Andri bobo. Ba’da Zuhur barulah kami berangkat. Perjalanan kali ini, menurut saya, agaknya jauh lebih menarik karena harus melewati dua sungai besar dan medan jalan yang tak cukup bagus karena hanya ada pasir, tanah merah, dan sedikit beraspal.

Singkat cerita lagi, kami sampai di Temajuk sekitar pukul 18:40 WIB. Perjalanan yang melelahkan itu membawa saya kepada suatu tempat yang belum pernah saya pijaki sebelumnya. Diperkenalkannya saya kepada keluarga angkat. Ada Pak Pandri, Ibu Shinta, kemudian tiga putra-putrinya Rios, Bunga, Nuh; dan Nenek. Kalau boleh sedikit bercerita, Pak Pandri ini merupakan seorang bapak, suami, pemilik bengkel, sekertaris desa, wakil ketua karang taruna, dan ketua pengurus Masjid Wahidatul Ummah. Ibaratnya, saya tinggal di rumah salah satu orang penting di desa. Bersama dengan saya, ada Rizki aka Pepi, dan Bang Dipo. Kami hidup dengan rukun, harmonis dan dilanda rasa bahagia dan canda tawa, mirip pasangan baru nikah.

Bukan hanya itu, masyarakat yang sudah menyatu dengan mahasiswa dan juga keramah-tamahan yang membuat kami banyak belajar tentang kewaskitaan dan membumi.

Dari situlah saya merasakan ada sesuatu yang menarik untuk dijalani. Bersama orang-orang baru, sekali lagi, bersama orang-orang baru, teman.