Prolog Buku “Tentang Surga di Ekor Kalimantan”
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Monthly Archives: August 2016

Prolog Buku “Tentang Surga di Ekor Kalimantan”

Keluarga Temajuk

Pemberdayaan masyarakat daerah perbatasan dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan pengelolaan desa wisata menjadi judul kegiatan KKN PPM UGM Unit KTB-02 Tahun 2016. Bila ditinjau, tema yang diusung oleh unit KKN ini selalu sama, yakni dengan menekankan pada bidang pariwisata dan juga pendidikan. Sehingga, tugas kami pada tahun ini ialah melanjutkan kegiatan pemberdayaan masyarakat yang sudah dilakukan pada tiga periode KKN PPM UGM sebelumnya ditambah dengan berbagai program yang sekiranya dibutuhkan melihat situasi dan kondisi yang sedang terjadi di Desa Temajuk.

Sebelum beranjak lebih jauh, kami berusaha memberikan gambaran singkat mengenai letak geografis Desa Temajuk. Desa Temajuk berada di Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas dan merupakan wilayah Indonesia yang berbatasan langsung dengan Teluk Melano, Negara Bagian Serawak, Malaysia Timur. Kemudian, Desa Temajuk memiliki sekitar 2100an jiwa penduduk yang tersebar di tiga dusun, antara lain: Camar Bulan, Maludin, dan Takam Patah.

Sebagaimana disebutkan di awal, ada dua sektor yang menjadi perhatian kami semua, yaitu berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat di bidang pariwisata dan peningkatan kualitas pendidikan. Pertama, melihat potensi yang ada kami menilai beberapa hal terkait pengembangan pariwisata berbasis local community ke depan. Desa Temajuk begitu menawan dengan pantai pasir putihnya yang memanjang sekitar 26 km; dan juga bebatuan sebagai penghiasnya.

Bukan hanya itu, label sebagai wilayah perbatasan juga dinilai menjadi satu keuntungan tersendiri bila dilihat dari kacamata ekonomi. Tanjung Datoek yang menjadi batas terluar antara Indonesia dan Malaysia itu bisa dijadikan sebagai destinasi yang mengagumkan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat Indonesia dan dunia tentang pentingnya menjaga keamanan dan kedaulatan negara. Selain itu, ada potensi menarik lainnya, yakni menyusuri hutan bakau disepanjang sungai menggunakan perahu. Dengan ini, para wisatawan akan disuguhi keindahan aneka ragam hayati yang membuatnya mendapatkan pengalaman tak terlupa hingga bahkan semakin merasa cinta dan memiliki Indonesia.

Kedua, melihat kondisi pendidikan yang ada di Desa Temajuk, kami menilai sudah ada perubahan yang signifikan utamanya dalam peningkatan sarana dan prasarana untuk kegiatan belajar mengajar. Namun, bila ditinjau lebih jauh, pendidikan yang terselenggara masih jauh dari kata cukup. Sehingga, ikhtiar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tidak berhenti pada pembangunan fisik. Ada pembangunan non fisik yang mengiringinya, yakni dengan meningkatkan kompetensi guru dan berusaha memberikan materi-materi penting namun tidak dicantumkan pada kurikulum sebagai bekal menghadapi kehidupan saat ini dan juga mendatang.

Kedua hal tersebut memiliki tantangan besar, terlebih cara yang digunakan adalah melalui proses pemberdayaan. Bagaimana caranya kemudian kita mampu menciptakan sebuah sistem yang tetap berjalan dan juga bisa menggerakkan masyarakat atau pun komponen yang ada di dalamnya meski mahasiswa KKN PPM UGM telah meninggalkan lokasi.

Untuk itu, program yang kami bawa harus mencakup aspek fisik dan non fisik berlandaskan kepada pemberdayaan masyarakat. Adapun pelaksanaan dari seluruh program tersebut saling berkait kelindan dengan memusatkan perhatian pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Maka dari itu, perlu kiranya masyarakat dibesarkan hatinya, dikuatkan pundaknya, dan diberikan pengertian supaya mau memiliki persoalan yang sedang dihadapi di Desa Temajuk, terlebih semua ini untuk kehidupan mereka ke depan.

Adapun program-program yang berkaitan dengan pembangunan fisik meliputi pembangunan Gazebo beserta penerangan disekitarnya yang melibatkan segenap elemen masyarakat, mulai dari Kelompok Sadar Wisata hingga pada warga pemilik villa. Gazebo ini nantinya dapat dimanfaatkan sebagai ruang atau titik temu antara berbagai kelompok masyarakat, terutama bagi Kelompok Sadar Wisata untuk menghasilkan gagasan-gagasan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat desa Temajuk. Kemudian, ada banyak program lain seperti pembuatan kolam dan penaburan benih lele untuk dibudidayakan oleh karang taruna; perbaikan RHS untuk menampung air hujan ketika terjadi musim kemarau. Selain itu, juga ada pembuatan papan informasi dan peta wisata, peremajaan Masjid, pembuatan website visittemajuk.org, dan sebagainya.

Sedangkan, di sisi lain, pembangunan non fisik utamanya adalah penyadaran kepada para pelajar untuk bisa berlaku jujur melalui kelas Korupsi dan Anti Korupsi. Sedari dini, memupuk kejujuran sebagai bekal menjaga integritas di masa mendatang. Selain itu, penyadaran akan pentingnya nilai-nilai nasionalisme yang dibangun atas hal-hal sederhana seperti upacara, mengisi kemerdekaan, dan berprestasi dalam belajar adalah salah satu bentuk nasionalisme paling bisa dilakukan oleh pelajar. Bukan hanya itu, mendidik masyarakat pun kami lakukan seperti dalam upaya membangun kesadaran akan partisipasi dan advokasi diri terhadap dana desa. Masyarakat kemudian terbangun dan tergerak untuk mengawasi roda pemerintahan khususnya dalam pengelolaan dana desa dari pemerintah pusat. Selanjutnya, demi mengatasi permasalahan kenakalan remaja, dibuatlah kampanye Rumah Peduli Anak untuk mengembalikan peran dan fungsi orang tua dalam tumbuh kembang anak.

Selain itu, program seperti pemberdayaan PKK untuk menghasilkan produk bernilai jual, yakni nugget ubur-ubur Pembentukan kader sehat berupa dokter cilik, pengobatan kesehatan umum, gigi, dan sunatan massal, dan berbagai sosialisasi dibidang sertifikasi pertanahan, narkoba, lingkungan hidup, kesehatan reproduksi, dan juga pelatihan di bidang pertanian seperti penyadapan karet, pembuatan arang, hingga kepada eksplorasi kekayaan flora dan fauna di wilayah Kalimantan Barat.

Pada bagian akhir, selama dua bulan berkegiatan di Desa Temajuk, kami meneruskan kebiasaan para pendahulu kami dengan berkeliling desa, ke sudut-sudut kampung; melihat, mendengar sekaligus mengalami kehidupan bersama dengan masyarakat setempat. Tentu saja, ada banyak suka dan duka yang meliputi perjalanan KKN ini hingga sampai titik dicukupkannya.

Kami meyakini satu proses bahwa pemberdayaan tidak berhenti pada sekedar memberitahu atau menyosialisasikannya. Pemberdayaan harus bisa menghasilkan kader-kader yang bisa menggerakkan masyarakat kepada sistem yang dibangun secara bersama. Maka, selama perjalanan dua bulan tersebut, kami banyak merekrut berbagai kader seperti dokter cilik, gerakan anti korupsi, masyarakat peduli dana desa, rumah peduli anak, penggerak bank sampah, kelompok sadar wisata, dan seterusnya.

Besar harapan kami atas segenap usaha yang dilakukan oleh mahasiswa KKN PPM UGM bekerja sama dengan masyarakat bisa memberikan kontribusi dan perubahan positif bagi Desa Temajuk demi terciptanya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

Khutbah Jum’at Merawat Indonesia

Alfath Bagus Khutbah Jumat

[Khutbah Jum’at Masjid Wahidatul Ummah Desa Temajuk, 15 Juli 2016]

Assalamu’alaykum wr.wb.

<<<<<Adzan>>>>>

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا  أَمَّا بَعْدُ

Jamaah Sidang Shalat Jumat yang dimuliakan Allah SWT.

Segala puji hanya milik Allah SWT, asma terindah, yang telah menurunkan kitab suci Al Qur’an sebagai petunjuk bagi orang-orang bertakwa. Selawat teriring salam senantiasa tercurah kepada Uswatun Hasanah kita, Nabi besar Muhammad SAW, yang telah menjadi pemimpin, da’i pembaharu, dan panutan terbaik sepanjang masa, serta pembawa risalah kebenaran bagi seluruh alam.

 

Jamaah Sidang Shalat Jumat yang dimuliakan Allah SWT.

Pada siang hari ini, Izinkan Khotib naik mimbar dengan memberikan sebuah khotbah yang berjudul “Merawat Indonesia”.

 

Republik ini merdeka bukan sekedar menggulung kolonialisme semata. Republik ini datang bukan dengan cita-cita. Republik ini hadir dengan janji. Cita-cita bisa direvisi, tetapi janji tidak bisa. Janji harus dilunasi. Apa janji republik ini? Republik ini berjanji untuk melindungi, mensejahterakan, mencerdaskan, dan membuat setiap orang merasa aman, serta menjadi bagian dari perdamaian dunia.

Sebentar lagi, Indonesia akan sampai pada usianya yang ke 71 tahun. Namun, pertanyaannya: apakah hari ini, Indonesia sudah bisa melunasi janjinya? Kemudian, siapakah yang bertanggung jawab untuk melunasi janji kemerdekaan ini?

Mari kita jawab kedua pertanyaan ini secara perlahan dan cerdas.

Tentu saja, sebagai bangsa Indonesia kita patut bersyukur atas segala pencapaian yang sudah dilakukan, baikdari pemerintah beserta segenap pihak yang terlibat dalam upaya membangun bangsa di berbagai sektor kehidupan. Ingatlah firman Allah dalam QS. Ibrahim ayat 7:

Artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Jamaah Sidang Shalat Jumat yang dimuliakan Allah SWT.

Dengan itu semua, kita yang hari ini sama-sama bisa melihat Desa Temajuk hidup dalam kecukupan. Para nelayan tak pernah kekurangan hasil laut, para pemilik lahan dan kebun tak pernah takut kehilangan musim panen, para pemilik warung tak pernah sepi dari pembeli, para pamong desa yang setia melayani warga, para pelajar yang gedung sekolahnya dibangun megah, para guru yang nasibnya telah diperhatikan negara, serta segenap pihak dengan berbagai profesi, yang pada intinya hidup tak berkekurangan; semua mendapatkan bagiannya sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Meski, dalam hati kecil, kita entah mengapa seringkali merasa, sejujurnya pencapaian ini belum cukup maksimal. Masih saja ada tangis-perih kemelaratan dan ketidakmampuan menyekolahkan anak dari gubuk-gubuk di desa. Kenakalan remaja, narkoba, dan minuman keras masih banyak kita jumpai dalam keseharian.Bukan hanya itu, masih ada pula suara keroncong perut lapar dan jeritan tak terperi dari para gelandangan, pengemis, dan pengangguran di pinggiran kota. Di level internasional, kita masih harus terus meningkatkan partisipasi dalam rangka menciptakan perdamaian dunia.

Hal tersebut semakin diperparah oleh kenyataan akan manusianya, disemua level, yang banyak berlaku koruptif atau tidak jujur; yang kaya terus menumpuk harta dan meninggalkan yang miskin-papa. Budaya kolektif seperti gotong royong berubah menjadi individualistis. Hingga soal politisi yang berebut kuasa meski hanya memiliki kompetensi seadanya. Apakah manusia yang demikian ini bisa disebut sebagai manusia Indonesia?

Dititik ini, pertanyaan tentang janji kemerdekaan nampaknya jelas belum dilunasi. Lalu, pertanyaan selanjutnya, apakah orang yang bertanggung jawab terhadap janji kemerdekaan itu adalah mereka yang berbuat kerusakan, berlaku koruptif, serakah, individualistis, dan tak cerdas?

Maka ingatlah firman Allah SWT dalam QS. Al Baqarah ayat 30:

Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.

Dengan demikian menjadi penting bagi kita memahami terminologi ‘manusia Indonesia’. Menarik apa yang disampaikan Sukarno, presiden pertama kita,diawal-awal kemerdekaan dahulu tentang manusia Indonesia. Ia katakan dalam salah satu pidatonya yang bernas bahwa manusia Indonesia itu ialah Insan Al Kamil.

Insan Al Kamil merupakan konsep manusia paripurna, manusia yang sudah ‘selesai’ dengan urusan pribadinya, manusia yang telah menjangkau tingginya puncak kehidupan. Tentu saja Rasulullah SAW adalah prototipe dari manusia tersebut. Seorang abdi penghamba Allah SWT yang ummi, tak pandai baca tulis, tetapi ia mampu menyelesaikan persoalan itu dengan mengangkat kelebihan yang ada pada dirinya.

Beliau melaksanakan amanah kerasulannya, yakni menyampaikan risalah pergerakan dalam bentuk Al Qur’an. Dengan itu, beliau mampu menjadi seorang yang berwawasan luas, idealisme yang kuat, mau bersusah payah tuk berjuang bagi agama Allah dengan menghadirkan Islam di masyarakat yang jahiliyah; dan dengan itu semua ia berhasil memperbaiki akhlak, mengangkat derajat dan martabat kemanusiaan bangsa-bangsa Arab. Inilah yang dinamakan hidup memikirkan orang lain.

Bilamana hidup memikirkan orang lain dijadikan sebagai keseharian dari warga Desa Temajuk, maka bukan tidak mungkin kita hidup dalam kebahagiaan, tak lagi merasa sendiri di tengah masyarakat dan takut akan kekurangan, saling nasihat-menasihati, saling tolong-menolong, dan mencipta satu, sepuluh, seratus, hingga bahkan seribu perbuatan baik lainnya. Inilah jalan tuk merawat Indonesia. Maka, jadikanlah Indonesia ini milik kita semua. Karena, hanya kepada kita semualah, republik ini dititipkan untuk melunasi janji kemerdekaannya. Dengan begitu, upaya mencapai tahapan Insan Al Kamil seharusnya bisa menjadi semangat yang mengisi kemerdekaan Indonesia yang sebentar lagi, supaya tak kering tiada bermakna.

Semoga Allah SWT melindungi Desa kita dari segala mara bahaya; dijadikannya desa ini sebagai desa yang turut memperkuat dan memperkokoh fondasi kebangsaan, sehingga kelak, bangsa ini menjadi bangsa yang rukun, guyub, gotong royong, cerdas, saling mencintai keadilan, tidak ada kesenjangan antara di kota dan desa, mencapai kesejahteraan, dan selalu berpegang teguh kepada Al Qur’an.

 

***Khutbah Kedua

Jamaah sidang sholat jumat yang berbahagia. Hakikat manusia menurut Al Qur’an hanya terbagi menjadi dua, pertama, sebagai khalifah, dan kedua sebagai hamba Allah. Dengan begitu, tugas kita adalah menjadi khalifah atau pemimpin, setidaknya bagi diri sendiri sebelum menjadi pemimpin bagi orang lain. Kemudian, menjadi seorang hamba yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya.

Melalui khutbah ini, khotib berwasiat kepada diri sendiri dan juga jamaah. Pertama, jadikan Al Quran yang berisikan kisah-kisah luhur sebagai rujukan dalam hidup dan bertindak. Al Qur’an sebagai sumber inspirasi bagi masyarakat Desa Temajuk tak kan pernah kering. Ia akan terus memberikan mata air bagi kehidupan ruhani dan jasmani kita. Al Qur’an inilah yang membantu kita untuk menyelesaikan janji kemerdekaan.

Kedua, memiliki kesalehan pribadi dan sosial. Menjadi saleh secara pribadi sudah biasa. Maka, dibutuhkanlah orang yang saleh secara sosial dengan mulai terlibat dalam hidup memikirkan orang lain. Andai, manusia Indonesia yang jumlahnya dua ratus lima puluh juta ini benar-benar mau berusaha meraih derajat Al Kamil, mungkin tak kan ada lagi tangis, derita, dan kebodohan. Kalaupun tak semua orang mampu mencapainya, maka kewajiban bagi kaum yang terdidik untuk mendukung, menolong, dan membersamai yang lemah. Betapa mengagumkannya negeri ini.

Maka, hari ini, di titik ini, kita berefleksi dan kemudian menghentikan segala keluh kesah. Menggerutu seumur hidup-pun tiada guna. Sudah cukup kepedihan menggelayuti nasib jutaan rakyat Indonesia. Sebab, sesungguhnya menjadi manusia Indonesia bukanlah sesuatu yang sulit dilakukan. Yang terpenting ialah kemauan yang kuat disertai semangat ikhlas untuk meraihnya.

Mari kita tutup khutbah Jum’at kali ini dengan mengangkat kedua tangan kita, tundukkan hati-hati kita atas segala bentuk kesombongan, keabaian, dan kelalaian kita kepada Allah SWT.

اَللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّاالْغَلَآءَ وَالْبَلَآءَ وَالْوَبَآءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَآئِدَ وَالْمِحَنَ مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَابَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بَلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً اِنَّكَ عَلَى كُلِّى شَيْئٍ قَدِيْرٌ

Mohon Ampun

Melihat Awan

Ini musim apa? Saya merasa ada sesuatu yang sulit dipahami ketika melihat musim kini. Dahulu, ketika saja SD, dengan mudahnya saya bisa menebak bahwa musim hujan akan terjadi setiap bulan September-Februari, sedangkan kemarau akan terjadi pada Maret-Agustus. Kini saya bingung karena musim tak menentu.

Barangkali sama seperti musim, hati saya pun sedang tidak menentu. Dalam banyak kesempatan, saya sedang sibuk menggarap beberapa proyek buku yang tak kunjung selesai, nge-Dema, mendirikan semacam institusi yang manfaat, membina adik-adik, memperluas pengetahuan, membangun jaringan, melaksanakan amanah akademik, berbakti pada Allah SWT dan orang tua, juga terkadang sesekali saya kepikiran tentang jodoh.

Di saat bersamaan, ketika kecintaan saya pada kesibukan yang saya laksanakan berada pada titik tertinggi tiba-tiba ada sandungan atau cobaan. Sedikit memang. Dipikirin “tidak juga”, dibiarin juga “nggak”. Namanya manusia, ada yang suka dan tidak suka itu biasa. Jangankan kita, Rasulullah yang manusia sempurna saja dibilang gila. Lalu, siapa saya minta semua orang suka?

Saya jadi ingat perkataan Ali bin Abi Thalib untuk tidak “menjelaskan tentang diri kepada siapapun. Karena yang menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak percaya itu.

Nah, lalu pertanyaannya, adakah orang yang benci saya? Banyakkah orang yang suka saya? Saya tidak tahu. Saya pun tidak banyak mempersoalkannya. Saya hanya menampilkan diri saya seapa-adanya. Kalau ada salah kata dan perbuatan, saya mohon maaf. Makanya, saya butuh kalian sebagai pengingat. Tolong, ingatkan ketika saya berbuat salah dengan saran-saran yang konstruktif. Bukan malah berbicara menyudutkan dibelakang. Saya tidak dengar dan mengetahui akan hal itu.

Nanti kalau kamu mau pergi ke tempat yang antah berantah, dan tidak ada seorang pun yang bersamamu, Allah pasti bilang kepadamu, “bahwa Alfath menyayangi kalian, sungguh.”

Semua ini tetap sama; seperti ‘idealisme kami’ yang sampai hari ini saya pegang teguh, “sungguh betapa inginnya kami agar bangsa ini mengetahui, bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri.”

Tuhkan. Sekali lagi saya mohon maaf atas segala salah dan khilaf. Hanya kepada Allah saya mohon ampun.

Pesan Kemerdekaan

Mahakarya Maba UGM 2013

Hari ini menjadi biasa jikalau kita tak memaknainya sebagai satu pertanda bertambahnya kedewasaan republik. Seremonial dengan upacara bukan yang utama. Itu tak lebih berarti dari yang terkandung dalam sejarah. Di sanalah letak para pejuang yang mengurbankan dirinya berdarah-darah, meninggalkan istri dan anak, harta benda, dan kemasyhuran dunia untuk mempertahankan daulat bangsa.

Saya sulit membayangkan bila kita semua masih hidup dalam belenggu penjajahan. Hidup segan mati tak mau. Rasanya pahit hidup dalam ketidakmerdekaan harkat beserta martabat.

Di hari yang berbahagia ini, saya ingin mensyukuri satu nikmat Allah yang tiada tara: kemerdekaan. Satu nikmat yang boleh jadi karenanya, saya bisa mengenyam pendidikan, menjadi manusia yang kritis, dan barangkali karena itu juga saya bisa bertemu dengan banyak orang dengan beragam latar belakang. Dengan begitu, saya bisa mencerap pembelajaran daripadanya.

Dalam pikiran kecil saya memandang anak muda, seperti saya, sukanya berwacana tentang hal-hal hebat. Memilih jalan yang tak mudah, terjal dan mendaki. Sebagai misal, anak muda lebih memilih untuk dibuntuti intel karena sering berbuat ‘onar’ demi kepentingan membela rakyat dibandingkan menjadi pintar dikelas tanpa melihat realitas diluar.

Tentu saja, Ibu kita tidak pernah bermimpi untuk melahirkan anak pecundang. Yang sedikit saja disentuh, dikomentar, dikritik sudah tumbang. Ibu kita mengharapkan anaknya terlahir sebagai pejuang yang tahan dengan kebisingan, caci-maki dan jauh dari puja-puji.

Di bawah purnama kedelapan inilah titik bangsa ini dimulai bergulir. Para pejuang kita bukan hanya difitnah, tetapi juga disiksa hingga bahkan digeprek tak bersisa dimuka bumi. Ingat, perjuangan itu keras. Makanya, sedari awal kita harus terbiasa ditempa dengan hal-hal sulit. Sehingga kelak, anak muda yang terlahir merupakan generasi yang kuat, yang tak mudah dikoyahkan oleh angin. Saya rasa republik ini memerlukan orang-orang demikian.

Semoga harap kita sama. Menjadi yang demikian: pribadi hebat dan kuat.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-71

Ayo (Kuliah) Kerja Nyata

 

Memperbaiki Diri

WP_20160629_16_34_29_Pro

Manusia tidak ada yang sempurna. 

Begitu adanya. Satu kalimat yang penuh makna. Saya bisa melihat diri saya yang serba kekurangan, entah perangai atau pun perkataan, juga saya bisa membayangkan dirimu yang selalu berkomentar, mengeluh, dan memilih angkat tangan. Haduh.

Suatu waktu, ketika kelas 5 SD, saya memiliki dosa yang sangat besar karena tidak mau menemani Kakek yang ingin berobat ke klinik Yadi dengan alasan capek baru pulang sekolah. Ia kemudian berjalan sendiri, dan….(saya tidak bisa melanjutkan cerita ini).

Sampai hari ini kisah itu masih teringat, berbekas, dan melekat-erat. Saya banyak belajar dengan kejadian masa lalu. Dengan kejadian itu, saya merasa terpukul dan berusaha memperbaiki diri. Saya akan memastikan diri saya untuk bisa membantu orang lain dengan kemampuan yang saya miliki. Tolong digaris bawahi, ditebalkan, disikat miring sekalian.

Bila ditinjau, kemampuan yang saya miliki terbatas. Namanya juga manusia. Jika merujuk pada cerita menemani Kakek berobat barangkali itu perkara mudah. Selain karena menemani, letaknya hanya satu gang. Namun, bila merujuk pada kemampuan yang lain, yang lebih kompleks, barangkali kita harus bisa mendudukan persoalan ini secara lebih adil dan serius. Bahwa menempatkan orang yang tepat adalah satu hal yang penting.

Tentu saja, manusia sekaliber superman pun jika dimintai tolong untuk mendidik anak-anak TPA belajar mengaji saya jamin tidak bisa. Atau kita bisa melihat seorang penulis puisi yang diminta untuk menuliskan komik. Meski bidangnya sama sebagai penulis, tapi ternyata menulis pun memiliki beragam cabang yang membuatnya pun diisi oleh orang yang berbeda. Pikirlah ini kawan sebagai bahan masukan untuk pribadi, terlebih diri sendiri.

Saya meyakini, setiap orang memiliki kehebatannya masing-masing. Ada yang hebat sebagai tukang, dokter, pemikir, pewacana, pengusul, dan seterusnya. Namun, kita harus bisa memastikan diri kita tak tinggal diam. Kitalah para pelaku kehidupan. Saling berkomunikasi, bekerjasama dan terciptalah satu KOLABORAKSI. Apa? KOLABORAKSI, yang merupakan kolaborasi disertai aksi. Ingat itu, teman.

Semoga pribadi ini senantiasa mau berbenah diri, tak merasa paling hebat, paling bisa, dan paling berkuasa. Saya hanya berusaha menampilkan yang terbaik, bukan untuk diri saya, lebih jauh untukMu dan yang lain. Cermatilah. Kepada Allah lah saya mohon ampun.