Ketaatan
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Monthly Archives: September 2016

Ketaatan

IMG-20160309-WA0006

Bismillah….

“Tidak ada Islam tanpa berjamaah, sementara tidak ada jamaah tanpa ada kepemimpinan, dan tidak ada kepemimpinan tanpa ketaatan.”

Prinsip di atas menggambarkan bahwa dasar dari penggerak Islam adalah ketaatan; ketaatan yang benar-benar; ketaatan yang tidak dibuat-buat. Hal ini dengan begitu mudah dapat dilihat dari seberapa jauh syariat Islam itu dilaksanakan; seberapa jauh ketaatan kita terhadap Allah SWT dan ajaran Rasulullah SAW; seberapa jauh ketaatan kita kepada pemimpin kita sendiri.

Bila umat Islam tidak memiliki ketaatan, maka tidak akan pernah muncul suatu kepemimpinan, dan tidak ada akan pernah ada persatuan dalam barisan jamaah. Sehingga, jika tidak adanya persatuan dalam bentuk jamaah, maka Islam akan sangat mudah dihancurkan oleh orang-orang yang memusuhinya. Sederhananya, musuh-musuh Islam terus berusaha mengusik narasi dakwah_baik fardiyah maupun jama’iyah_yang senantiasa dilakukan.

Dititik inilah, kita mulai diingatkan kembali dengan esensi Islam itu sendiri: perdamaian dan pembebasan. Perdamaian ini dimulai dari upaya saling memahami, membebaskan prasangka buruk. Sedangkan, pembebasan sendiri ini dimaknai sebagai pembebasan penindasan manusia atas manusia. Setiap dari kita diberikan hak untuk menentukan sikap. Maka, jadikanlah ini sebagai sinyalemen untuk menumbuhkan sikap toleran dan kebinekaan yang hakiki, membentuk kerukunan di antara kita dengan setiap insan berkepribadian yang tenang-menenangkan, dan perkataannya yang senang-menyenangkan. Inilah pesan ketaatan dari setiap pemimpin-pemimpin umat kita. Kita pasti bisa melakukannya.

Semoga penugasan Strategic Leadership Training (SLT) ini bukan hanya menjadi pesan bagi rekan-rekan Beasiswa Aktifis Nusantara (Baktinusa), tetapi bagi kita semua, saudara-saudara kita di manapun mereka berada. Bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri.

#baktinusa
#slt
#kepemimpinan
#dompetdhuafa

Tentang Malam Ini: Launching Bulaksumur Institute

launching-bulaksumur-institute

Sulit dibayangkan. Ada beberapa kondisi yang sedang melanda masyarakat Indonesia. Pertama, fenomena kalangan pemuda khususnya mahasiswa saat ini tengah terjerat pada arus hedonisme dan konsumerisme, sehingga mematikan daya pikir dan nalar kritis terhadap isu kebangsaan dan kenegaraan. Kedua, adanya kesenjangan antara teori yang dipelajari di bangku pendidikan dengan praktik dilapangan. Hal ini menimbulkan tidak-kompatibelan dengan persoalan kontekstual yang sedang dihadapi. Ketiga, masyarakat kita tengah berada pada masyarakat yang individualis, kurang empati dan tidak peka terhadap persoalan sosial.

Atas latar belakang di atas kami resah. Dengan itu, sekumpulan mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang berasal dari lintas disiplin ilmu mendirikan suatu lembaga bernama “Bulaksumur Institute”. Bulaksumur Institute merupakan penghubung teori dan praktik yang juga merupakan sarana “transformasi untuk semua”. Maksudnya adalah Bulaksumur Institute sebagai lembaga yang memiliki kemampuan mengambil manfaat berdasarkan kebutuhan yang jelas dan pada saat yang sama paham, fasih dalam menghayati dan menerapkan metodologi yang tersedia. Berangkat dari kesadaran konteks dan pemahaman akan berbagai peluang yang terbuka, Bulaksumur Institute akan secara terus-menerus terlibat dalam upaya memajukan ilmu pengetahuan.

Dari paparan di atas, kami mengupayakan diri sebagai lembaga think tank. Selain karena alasan pelbagai persoalan yang pelik, yang dihadapi masyarakat kita. Landasan tentang ilmu amaliah dan amal ilmiah senantiasa harus dihadirkan dalam setiap gerak langkah kita. Kita tentu saja tidak menginginkan pergerakan untuk mencipta Indonesia yang lebih baik dan bermartabat ke depan dihadapkan pada pondasi yang rapuh. Maka, basis keilmuan atau dalam bahasa yang lebih dalam: politik keilmuan_seperti yang disampaikan Purwo Santoso_menjadi demikian penting sebagai ruh dari pergerakan.

Sehingga, malam ini akan menjadi saksi lahirnya kombinasi ilmu dan amal yang secara serius dilakukan. Bahwa seperti yang dikatakan Anies Baswedan, “satu tindakan nyata lebih berdampak daripada seribu like yang maya”. Tetap merasa resah, tetap menjadi pembelajar, dan tetap menjadi solusi atas permasalahan bangsa yang ada.

Pengurus Harian
Bulaksumur Institute

Seperti Popcorn Yang Meletup-letup

120913_popcorncover

Beberapa hari belakangan saya dihadapkan pada beberapa persoalan sulit. Saya pun tidak enak menuliskan seluruhnya di sini. Saya sendiri sampai tidak habis pikir mengapa ini semua terjadi dalam waktu-waktu yang segenting ini.

Saya katakan genting karena ini semua berkaitan dengan apa-apa saja yang sudah saya katakan pada catatan sebelumnya berkaitan dengan akademik, cita dan cinta. Kalau bisa dibilang, semua persoalan tersebut sedang mengarah kepada satu titik, dan itu disebut hari ini.

Tentu saja, perhatian saya menjadi terbagi-bagi untuk beberapa hal. Dan semuanya meminta saya untuk bekerja ekstra keras. Sampai-sampai hati ini seperti popcorn yang meletup-letup. Makanya, dalam setiap do’a sehabis shalat saya tidak pernah meminta Allah untuk memudahkan, tetapi untuk menguatkan pundak-kaki saya. Jujur, saya ini tipe orang yang senang tantangan, dan selalu saja berusaha menantang diri sendiri untuk capaian-capaian yang semula dianggap tidak mungkin menjadi mungkin. Prinsipnya: pasti bisa, semua pasti bisa.

Alkisah, saya ini orang susah. Semenjak SD sampai hari ini saya berkuliah saya mengandalkan beasiswa. Suatu ketika, di saat saya sedang dihadapkan pada pilihan sulit: kuliah, kerja atau keduanya, saya memilih untuk berkuliah. Saya pikir memusatkan perhatian pada kuliah dengan maksud untuk belajar dimasa muda akan mempermudah saya kemudian, terlebih pendidikan dalam hal ini sangat penting, bahkan untuk hal pragmatis sekalipun seperti meningkatkan mobilitas vertikal kelak dikemudian hari.

Atau dalam kondisi lain, di mana saya harus bisa mendapatkan prestasi akademik, non-akademik, namun juga bisa menjalankan amanah organisasi beserta tuntutan lain baik dari Allah dan Orang tua, tak lupa lembaga pemberi beasiswa. Bagi sebagian pihak menilai ini semua sulit dikerjakan dalam waktu bersamaan. Tapi, bagi saya sebagaimana prinsip di atas: pasti bisa.

Tenang, Allah tidak akan memberikan cobaan dan ujian diluar batas kemampuan manusia. Nah, sesungguhnya tinggal di manusia-nya sajalah yang mau menghadapi atau lari dari kenyataan. Bila menghadapi, maka ini semua akan meningkatkan kapasitasnya dihadapan manusia dan Allah. Sementara itu, bila lari kenyataan itu sama halnya dengan memilih untuk menyerah pada kehinaan dan pasrah oleh keputusasaan.

Maka, saya menjadi paham betul bahwa yang saya hadapi sebenarnya adalah karena pilihan-pilihan rasional yang telah saya buat sebelumnya, jauh-jauh hari lalu, bahwa saya menyukai tantangan. Apabila saya digempur dengan implikasi pilihan-pilihan tersebut, maka tugas saya adalah hadapi. Selalunya, disela-sela menghadapi itu semua, cerita dan curhat kepada Allah, seringkali kepada orang tua, dan sesekali kepada sahabat. Tujuannya adalah meminta pandangan orang lain. Supaya langkah yang diambil bisa cukup mewakili gambaran pribadi dan umum tentang seluk-beluk persoalan hidup. Maka, saat ini, sekarang juga, jawabnya saya untuk persoalan sulit ini ialah pasti bisa, atas izin Allah.

Oiyah, Selamat Idul Adha guys. Semoga keteladanan Ibrahim dan Ismail menjadi inspirasi kita untuk berkurban bagi kemanusiaan :)

*Bonus:

 

KAMMI UGM bersama Warga Dusun Tretek

KAMMI UGM bersama Warga Dusun Tretek

Panas-menggigil, ba’da dari Tretek

Maksa nulis

 

Mewujudkan Kemanusiaan Yang Optimistik

IMG-20160309-WA0006

Edisi 01, 30 Dzulqa’dah 1437H/2 September 2016

 

Assalamu’alaykum wr.wb.

Segala puji hanya milik Allah SWT, asma terindah, yang telah menurunkan kitab suci Al Qur’an sebagai petunjuk bagi orang-orang bertakwa. Selawat teriring salam senantiasa tercurah kepada Uswatun Hasanah kita, Nabi besar Muhammad SAW, yang telah menjadi pemimpin, da’i pembaharu, dan panutan terbaik sepanjang masa, serta pembawa risalah kebenaran bagi seluruh alam.

Pada siang hari ini, izinkan kami menghadirkan buletin Al Fatih untuk kali pertama denganmengangkat judul “Mewujudkan Kemanusaan Yang Optimistik”.

Dalam artikel berjudul “Kebebasan”, Nurcholis Majid berpandangan bahwa manusia itu merupakan “jagad kecil” yang mampu dijadikan sebagai cermin atas “jagad besar”. Secara sederhana, Nurcholis menilai manusia mampu untuk merepresentasikan atau mencerminkan seluruh jagad atau alam semesta.

Pandangan di atas bila dicermati mirip dengan konsepsi “Manusia Sempurna” (Insan Al Kamil) milik Ibn Arabi yang bertolak dari pandangan bahwa Allah berkehendak untuk dikenal dan melihat citra diri-Nya. Untuk itu Allah SWT menciptakan alam semesta sebagai manifestasi nama-nama dan sifat-sifatnya. Namun, alam semesta pada kenyataannya merupakan wujud yang terpisah sehingga tidak akan pernah sanggup merangkai dan merampungkan citra Allah SWT yang Maha Sempurna dan utuh.

Manusia sebagai ciptaan Allah SWT yang paling sempurna memiliki potensi untuk menjadi Manusia Paripurna, yakni manusia yang mengandung sifat dan akhlak Allah SWT yang sempurna. Namun, harus diingat, kesempurnaan manusia tentu sangat berbeda dengan kesempurnaan milik Allah SWT yang mutlak.

Manusia untuk bisa merepresentasikan seluruh jagad besar dan mencapai titik kesempurnaan itu pertama-tama dikenalkan dan diberitahu berbagai macam nama (objek) yang terdapat dalam alam semesta. Disaat yang bersamaan, manusia juga diberikan akal untuk menimbang mana baik dan buruk, serta nafsu yang dengannya tercipta hasrat dan gairah untuk kehidupan yang lebih dinamis. Semua itu merupakan bekal bagi manusia untuk menghadapi penugasan dari Allah SWT, yakni memakmurkan bumi dengan menyandang label sebagai “khalifah”.

Sebagaimana Allah SWT telah berfirman dalam QS. Al Baqarah ayat 30:

Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.

Dari ayat di atas, kita bisa melihat hadrinya dua pandangan. Pertama, Allah SWT dengan pandangan optimistik akan potensi manusia untuk memakmurkan bumi. Kedua, pandangan para malaikat yang pesimistik terhadap manusia karena akan membuat kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah.

Di sini, kita bisa menilai bahwa Allah SWT sebagai pemilik alam semesta menitipkan pesan dan harapan yang begitu besar kepada manusia. Allah SWT tahu betul bahwa manusia itu ibarat dua mata pisau (positif dan negatif), tetapi pandangan optimistik pada kenyataannya Allah SWT tunjukkan. Sebab Dia-lah yang Maha Mengetahui apa yang ada dilangit dan dibumi. Hal ini dijelaskan oleh Allah SWT dalam QS. Al Ankabut ayat 52:

قُلْ كَفَىٰ بِاللَّهِ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ شَهِيدًا ۖ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَالَّذِينَ آمَنُوا بِالْبَاطِلِ وَكَفَرُوا بِاللَّهِ أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Artinya: Maka, “Katakanlah: “Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan antaramu. Dia mengetahui apa yang di langit dan di bumi.”

Hal di atas telah menegaskan posisi Allah SWT terhadap kemanusiaan kita. Lalu, pertanyaan: jika Allah SWT yang Maha Mengetahui dapat menaruh harapan yang begitu besar kepada manusia, lantas mengapa kita sebagai manusia tidak bisa menaruh harap dan rasa saling percaya akan satu dengan yang lainnya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, hal yang utama ialah kita harus meyakini bahwa manusia memiliki semangat optimis dan bervisi maju. Pandangan optimis tentang manusia berakar pada karakter asasi manusia yang dalam dirinya berpotensi positif, hidup lurus, cenderung kepada kebaikan dan kebenaran, serta menolak hal-hal bersifat buruk. Hanya saja kemudian lingkungan tempat tinggal, pergaulan, dan pola asuh perlu mendapatkan perhatian serius. Sederhananya, semua ini berkaitan dengan proses mendidik.

Mendidik bukan sekedar mengajarkan baca, tulis dan berhitung. Mendidik dalam Islam adalah mengajarkannya dengan aqidah yang lurus, seperti pesan Luqman terhadap anak-anaknya dalam surat Luqman ayat 13, “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar”.

Bilamana aqidah seseorang telah lurus dengan menghamba hanya kepada Allah SWT, maka dapat dipastikan kebaikan selalu menyertainya. Semua akan mudah diketahui dari kesehariannya. Baik buruknya ibadah seperti shalat dapat diukur melalui perilaku, tindakan, dan perkataannya sehari-hari. Akan sangat tidak dimungkinkan orang mengaku dirinya baik tetapi perangainya tidak mencerminkan nilai-nilai Ketuhanan. Sehingga, dalam hal ini, lembaga pendidikan tentu saja memiliki andil besar untuk memperbaiki diri, karakter dan potensi dasar kebaikan, selain daripada keluarga. Dalam hal ini, Fisipol UGM harus bisa menjadi tempat bagi para civitas akademikanya dengan mengedepankan nilai-nilai optimistik yang mencerminkan nilai-nilai Ketuhanan.

Dengan itu, kita semua tidak perlu merasa apriori melihat orang lain. Tidak memandang rendah kemampuan orang lain. Tidak mudah menjustifikasi buruknya orang lain hanya karena kesalahan noda setitik. Tidak menutup hati dari permohonan maaf atas kealpaan orang-orang disekitar kita. Kita seharusnya bisa mewujudkan “Kemanusiaan Yang Optimistik”, yakni kemanusiaan yang bukan sekedar jargon dimulut atau tulisan belaka, tetapi kemanusiaan yang mampu mengangkat derajat dan martabat kita sebagai manusia. Kemanusiaan yang memancarkan nilai-nilai Ketuhanan. Kemanusiaan yang tidak perlu melihat mayoritas dan minoritas. Sederhananya ialah kemanusiaan yang dapat ditampilkan dan diimplementasikan dalam praktiknya kehidupan melalui sikap spiritualitas dan emansipatoris yang peduli, empati, dan hanya menghamba kepada Allah SWT.

Dari beberapa hal yang sudah dipaparkan di atas, kita harus menyadari bahwa semua orang punya potensi dan kehebatannya masing-masing. Semua orang bisa merasakan dirinya baik, manfaat dan berguna bagi sesamanya, tentunya dengan Islam sebagai cara pandang dan jalan hidup kita.

Semoga Allah SWT memberikan kesempatan kepada kita untuk menjadi manusia yang lebih baik ke depan dengan mewujudkan kemanusiaan yang optimistik. Aamiin

Wassalamu’alaykum wr.wb.

 

Tim Penulis:

Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia

Alif Fadhiyah Chairunnisa

Muhammad Ridha

Kebahagiaan dan Perjuangan

Nakula 7 dan Heroboyo 7 bersama Mas Adi Suharyanto (Pengantin Baru)

September datang dan saya semakin merasa dewasa. Bulan-bulan kritis ini, saya dihadapkan pada beberapa persoalan menyangkut masa depan akademik, cita, dan cinta(?). Barangkali yang terakhir hanya lelucon belaka.

Mari kita lupakan segala penat. Saya hanya ingin merasa dan melihat beragam kebahagiaan yang hadir baik dalam diri sendiri dan juga orang-orang disekeliling.

Jujur saja, bagi saya “kebahagiaan” hanya bisa hadir ketika kebahagiaan itu diperjuangkan. Sebagai contoh, anda bisa merasakan kegembiraan atas predikat cumlaude dihari kelulusan dan itu semua dihadirkan atas jerih payah lelahnya belajar saudara. Anda juga bisa memilih untuk mendapatkan bidadari surga, mencari tulang rusuk yang hilang, dan menggenapkan separuh agama karena anda berani untuk mendatangi Bapaknya dan menyatakan “saya ingin meminang putri Bapak”. Selanjutnya, anda juga bisa menjadi seorang milyarder yang punya banyak kedai, outlet, dan beragam toko swalayan yang menjual barang-barang bermutu yang dibutuhkan umat manusia. Anda menjadi kaya dan dermawan karena Anda memperjuangkannya untuk menekuni diri sebagai wirausahawan. Pada intinya, ketika Anda ingin mendapati kebahagiaan, maka anda haruslah memperjuangkannya.

Lalu, bisakah saya mencapai kebahagiaan akademik, cita, dan cinta(?)?

Hmm, semua ini hanya bisa direngkuh melalui jalur perjuangan. Terkadang saya harus berperang bathin; sesekali pun tak pernah rasa hati untuk mengiba kebahagiaan pada orang lain untuk sekedar menyoal urusan akademik, cita, terlebih cinta. Maka, kebahagiaan bagi saya hanya bisa diciptakan oleh orang-orang yang saling memperjuangkan kebahagiaan tersebut.

Sebab, ketika saya memperjuangkan kebahagiaan, sedang kamu tidak. Maka, kebahagiaan itu bertepuk sebelah tangan. Pun sebaliknya kamu. Dengan demikian, saya sangat berharap ketika saya menyapa hatimu, maka sambutlah sapaan saya dengan hati tulusmu. Ikatlah dengan tali kasih. Sehingga, tidak ada lagi kata iri dan dengki, saling caci-maki, atau pun membenci. Buanglah sifat buruk itu dan ciptakanlah dunia yang sama-sama kita perjuangkan, dunia yang tidak ada lagi manusia merasakan ketidakbahagiaan. Jadikan setiap detik nafas perjuanganmu menjadi satu kebahagiaan bagi peri kemanusiaan dan peri keadilan itu. Sungguh, penat yang terasa ini hanya bisa berganti ketika perjuanganmu untuk membahagiakan orang-orang disekelilingmu, barangkali saya satu didalamnya.

Di titik ini yakinilah, yang kau bayangkan baik dan tergambar dalam senyum simpul merekahmu yang melelehkan hati itu berbuah satu, dua, tiga bahkan seribu kebaikan. Anda bisa menjadi siapa pun, mempunyai niat (baik) apa pun. Tapi jangan lupakan, bahwa kebaikan itu pun harus sama-sama diperjuangkan, bukan?

Ketika saya berniat melakukan satu kebaikan, tetapi kau menepis niat baik itu dengan pandangan tak semestinya, maka selamanya kau akan berada dalam ketidakbaikan itu. Marilah kawan, saling mendoa dan menasihati, juga mendukung dan mengerti. Kita harus saling memperjuangkan kebahagiaan; dan tak perlu kebahagiaan itu diusik. Bukan begitu?

 

23:33 pm

Kontrakan Al Banna

Di antara Kehadiran Tamu Heroboyo