Memastikan Kebaikan Terlibat
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Monthly Archives: January 2017

Memastikan Kebaikan Terlibat

memastikan-kebaikan-terlibat

Pernahkah kalian merasakan hidup susah?

Kalau belum, bolehlah kiranya mendengar sedikit tentang saya. Sebagaimana jauh di awal, sebelum saat saya terpilih, saya pernah berpesan bahwa “diri ini takkan mampu memberikan kemewahan politik”. Saya hanya berjanji dan apabila saya mengingkari, saya khianat.

Janji saya ketika itu ialah memastikan bahwa kebaikan harus disebarkan. Janji yang sederhana, sulit dilaksanakan. Bagi saya kebaikan itu tak boleh berhenti pada satu orang saja. Kebaikan itu dua, tiga, sepuluh, seratus, seribu dan tak terhingga. Dengan demikian, akan tercipta banyak kebaikan, entah bentuknya apa dan siapa yang melaksanakannya. Logika sederhana ini yang coba saya bawa.

Hari ini kita mendengar #AksiBelaRakyat121. Pertama kali mendengar saya berpikir ini adalah aksi simbolik. Aksi yang mau keren-kerenan. Aksi yang gatau asal-usulnya yang penting teriak “hidup mahasiswa Indonesia…hidup rakyat Indonesia”. Ya, selintas dipikiran saya demikian. Beberapa kali saya dibuat kecewa dengan landasan gerak kawan-kawan senior dari berbagai Universitas yang ada di BEM SI. Kasus Ahok misalnya. Sikap yang disampaikan oleh BEM SI lalu, menurut hemat saya justru membuat keterlibatan mahasiswa beserta idealismenya ternodai dengan kecenderungan ikut dalam politik praktis di Pemilukda DKI Jakarta, atau setidaknya menjadi sasaran empuk rekan-rekan mahasiswa diluar sana yang menertawai cekikikan.

Harus saya akui, rasa kecewa manusia pasti ada. Itu wajar. Sama halnya dengan kekecewaanmu menunggu si dia yang tak kunjung datang, atau keberharapan pada manusia yang terkadang membuatmu sakit. Tapi, yakinilah kawan, kau harus mempercayai dirimu sendiri beserta akal sehatnya. Saat kau marah karena Ibumu dianggap pelacur, dan kau tahu Ibumu bukan demikian, lantas apa yang bisa kau lakukan? Membela bukan? Saat kau tahu harga cabai mahal dan kau diminta untuk menanam pohon cabai supaya tidak terkena dampak kenaikan harganya, lantas apakah kamu mendiamkannya? Ketika kau sulit sebagai mahasiswa, kuliah tak dibiayai orang tua, dan kini biaya listrik kosanmu meningkat padahal dikamar hanya ada satu setrika dan satu kipas angin, apakah kamu rela begitu saja? Saat kampusmu digeruduk oleh orang-orang bersorban dan melantangkan takbir untuk hal yang kau anggap gila karena membubarkan diskusi dalam kaidah akademik, apakah kamu menyerahkannya begitu saja?

Barangkali di era makan gorengan tanpa cabai ini kita harus lebih kritis dan taktis. Memastikan kebaikan harus terlibat. Tak perlu kecewa lama-lama dan berkawanlah dengan siapapun. Kalau tidak bisa berkawan secara ideologi maka berkawanlah secara kompetisi. Bukankah teman terbaik adalah saat mampu mengelola perbedaan?

Selama beberapa hari belakangan saya berpikir lebih keras. Dengan bertanya dan meminta nasihat, tentu keputusan yang saya hadirkan bukanlah milik pribadi. Ini milik bersama, rangkuman gagasan yang berasal dari sumbangsih bersama, sehingga saya sama sekali tidak sendiri. Keputusan saya bulat, tekad saya kuat, sebagai Presiden Mahasiswa UGM saya menyatakan siap terlibat dalam aksi ini. Terlepas dari hastag yang menurut saya seperti gagal move on dari ’98, saya pikir keterlibatan saya yang bisa diterima akal sehat adalah dengan memastikan bahwa kolaborasi kebaikan hanya dapat tercipta ketika kita saling bersama. Kalau pun mereka yang dianggap selama ini salah dan didiamkan salah dalam bergerak, maka tugas kita adalah memberitahunya bahwa ini salah.

Seluruh aliansi mahasiswa yang saya kenal, yang selama ini seolah dipisah oleh sekte dan manhaj kini mulai membangun titik temu. BEM Nusantara mengapresiasi apa yang dilakukan BEM SI, pun dengan BEM Se-Tanah Air yang menyerukan aliansinya hadir dalam aksi ini. Saya pikir, era sebagaimana yang saya cita-citakan: membangun titik temu dan berkolaborasi dalam kebaikan akan segara tercipta. Dan inilah letak tanggung jawab kita.

Kalau mau beri masukan silakan, jangan ngerumpi dibelakang. Kamu sudah tidak bisa menggerakkan, mengomentarinya, kemudian juga menganggapnya bahan lawakan. Kamu itu masih merasa paling bisa, paling mulia? Kalau kau merasa bisa, lakukan yang kamu bisa untuk membuat semua ini lebih baik. Kita berlomba-lomba dalam membuat republik ini lebih baik dan bermartabat.
Apapun itu, jika pikir saya ini dianggap sesat tak apalah. Karena itu Tuhan saya mewajibkan saya untuk selalu membaca “Tunjukkanlah aku jalan yang lurus’ setiap kali saya shalat. Tujuh belas kali sehari semalam.” Dan barangkali inilah jalan lurus itu.

Dengan ini pula, saya meminta nurani teman-teman. Bagi siapa pun yang membaca tulisan ini untuk hadir dan terlibat dalam kompetensinya masing-masing. Apabila sedang berada disekitar Jakarta, kalau ada waktu, silakan mampir pada tanggal 12 Januari nanti. Jika berada di Jogja, silakan bergabung dengan rekan-rekan aliansi di DIY. Bagi teman-teman yang berhalangan untuk ikut terlibat langsung, mari bantu dengan menyebarkan atau membuat opini keresahan serupa.

Saya tak memaksa saudara untuk beraksi di jalanan. Saya hanya meminta nurani Anda terpanggil. Ikut turun bersama saya, atau berdiri dibelakang dan mendoakan saya selamat sentausa.
Salam Kebaikan

Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia
Presiden Mahasiswa Universitas Gadjah Mada tahun 2017

Ada Cahaya

Lorong Kelas

Setiap kata yang terucap adalah do’a. Mama selalu begitu, menasihati dengan lemah lembut. Soal kata, memang bisa dibilang agak runyam. Bayangkan, untuk sekelas saya yang menulis “jangan reaktif zzz” bisa ditafsirkan yang aneh-aneh. Padahal pesan saya satu: budayakan tabayyun. Tabayyun adalah upaya untuk mencegah kebebalan. Dan sebenarnya, kata kemudian akan dikembalikan kepada si penafsir, kalau tidak segera ditetapkan oleh si empunya maksud. Bahkan untuk kata yang sudah jelas pun sering kali di ngeyeli.

Barangkali memang sulit untuk hidup dalam era yang semaunya dewek. Hidup yang gak mau ada aturannya. Dalihnya kebebasan. Padahal untuk negara penganut demokrasi yang menjunjung kebebasan sekalipun, yang namanya bebas pasti tak bebas. Akan selalu ada batasan. Bahkan ketika saya bersikap bebas sekalipun dan dinilai saudara mengganggu kebebasan saudara, maka saya tidak bebas.

Kita akan sangat mudah dihancurkan oleh isu remeh-temeh seperti ini. Jelas, kita harus melampaui keremeh-temehan ini dengan sikap ksatria. Tak pandai mengeluh, meminta iba, dan mengharap semua akan mudah. Justru dengan ini kita akan berpeluang menjadi lebih kuat, lebih hebat karena kadar diri kita bukanlah yang biasa.

Kajian bersama Ust. Syatori tanggal 31 Desember lalu menjadi penting. Saya terngiang-ngiang bahkan dan berupaya untuk melaksanakannya. Bahwa untuk bisa mengalahkan nafsu, entah itu marah, kesal, benci, atau tak suka, maka saya harus mendamaikan akal, hati dan jiwa. Ketiganya harus saling terintegrasi. Mengawali hidup dengan menjadi orang baik, menjalaninya dengan benar, dan menyudahinya dengan kemuliaan. Kata kunci: baik, benar dan mulia. Saya kira ini pesan untuk kita semua.

Roda akan selalu berputar. Orang sejahat Umar saja bisa pada akhirnya menjadi pembela Islam yang terdepan. Dan saya pun selalu mendo’a kepada Allah Swt supaya orang-orang yang selama ini nyinyir, dengki, dan suudzon dengan jalan dakwah yang saya laksanakan di Kampus ini bisa segera mendapat hidayah. Allah lah yang Maha Membolak-balikkan hati. Yang tak suka pun kalau sudah Kun Fayakun, terjadi maka terjadilah, kau akan cinta pada jalan dakwah ini.

Saya tak suka dengan mengutuk kegelapan. Alangkah bersih dan mulianya ketika kita menilai bahwa akan selalu ada cahaya yang menyinari jalan ini. Dulu yang kau sebut kota adalah hutan juga yang dipenuhi tumbuh-tumbuha lebat. Namun, kemudian ada yang berani mendobrak dan menjadikan itu sebagai tempat tinggal, menetap dan beranak pinak hingga terjadilah kehidupan. Dan saya pun sangat berharap ke depan akan selalu ada orang yang berani mendobrak nurani kebencian itu. Ini soal kegagalan kita dalam membangun titik temu, kawan.

Dengan itu, saya akan sangat bersenang hati, bahkan tanpa kau minta pun aku rela dan mau untuk hadir mendengar dan melaksanakan amanah yang dilandasi niat baik. Tak ada satu pun yang kemudian merasa tersakiti pada akhirnya ketika kita sudah berupaya untuk saling mengenal. Sebab, terang itu siang dan gelap itu malam. Namun keduanya bisa hidup berpasangan dan saling mengisi. Bisakah kau mengisi peran yang tak bisa kuiisi, lalu sama-sama kita berjuang pada tujuan yang sama, untuk Indonesia yang mulia, yang lebih baik dan bermartabat?

Ini bukan tentang hari ini saja, kawan. Ini adalah ruang pembelajaran yang bagi saya terlalu berharga untuk tidak dimaksimalkan. Menutup ruang adalah kesalahan pertama, dan kesalahan selanjutnya adalah membiarkan orang lain memainkan peran yang sebenarnya ia tak mampu melakukannya. Yakinilah, orang-orang baik yang berkapasitas dan berkesempatan itu tidak mudah untuk diketemukan. Ini soal momentum untuk menggelar kebaikan.

Mari bersatu padu, karena sekali lagi, akan ada cahaya yang menerangi jalan kita.

Semoga kata-kata ini menggubris nuranimu. Sebab saya mencintaimu, bahkan sebelum mengenalmu.

 

Sekre,

Dalam Kesendirian Malam