Hidup Bicara Sedih-Bahagia
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Monthly Archives: February 2017

Hidup Bicara Sedih-Bahagia

PH BEM KM UGM 2017

Menjadi Presiden Mahasiswa UGM adalah amanah besar. Dengan jelas dan tandas selalu saya sampaikan dalam berbagai kesempatan, “UGM adalah Universitas yang heterogen”. Layaknya Indonesia, UGM lah miniatur yang mampu menghimpun segenap entitas anak bangsa dengan ragam suku, agama, bahasa dan ras.

Dua bulan sudah saya memimpin. Bukan waktu yang mudah untuk dilewati. Menyusun tim terbaik yang mampu berkolaborasi, memaparkan ide-gagasan dan memantapkannya kepada orang lain. “Serukan kolaborasi, sebarkan kebaikan” adalah doktrin yang diterapkan dalam BEM KM UGM 2017.

Kawan, memulai dan merajut perjuangan di BEM KM UGM bukan perkara mudah. Saya butuh belajar, masukan, disertai pengalaman memimpin organisasi sebelumnya. Pemahaman akan peta persoalan dan dinamikanya menjadi demikian penting. Beberapa orang dibelakang saya barangkali sudah mewanti-wanti untuk saya tetap bahagia. Jangan sampai kehilangan senyum. Begitu katanya.

Bila ditarik memang bukan soal BEM KM UGM saja. Dalam hidup saya ini, pun kau, selalu saja bicara tentang sedih-bahagia bukan?

Bayangkan saat kau lahir. Kau menangis. Disaat bersamaan orang tuamu berbahagia karena kau terlahir ke dunia yang bahkan kau tak pernah tahu sebelumnya bahwa ini semua dipenuhi oleh teka-teki yang rumit. Saat orang tuamu melihat kau tengkurap, duduk, merangkak, berdiri, berjalan dan berlari; itu semua adalah nikmat yang tak terkira. Orang tua mana yang tak bahagia ketika anaknya kemudian yang unyu itu bisa berprestasi dalam belajarnya, memimpin dan memberikan dampak kepada orang lain.

Sebentar lagi orang tuamu akan melihatmu sebagai orang dewasa sejati. Dengan katakanlah kau akan bersegera menyempurnakan separuh agama, beranak-pinak, bekerja, membangun keluarga strategis yang mampu menghimpun segenap kebaikan. Lalu, yang kau anggap sebagai kejayaan itu semua hadir. Saat pekerjaanmu dinilai baik, pangkat naik, kepercayaan orang lain bertambah. Orang tua sudah diberangkatkan haji dan dihidupi dengan layak, tak seperti ketika saat mengasuhmu dulu penuh sulit. Kau punya segala yang kau inginkan di dunia.

Beberapa kali kau tersandung karena, misalnya, kau dapat cobaan sedikit. Bila saat kecil kau jatuh saat berdiri, kau tersandung saat kau berlari. Maka anggaplah ini sebagai luka kecil saat kau hadapi ujian.

Masihkah disebut kurang? Tentu tidak. Ini semua menjadikan kita harus pandai bersyukur. Apa yang saya dan kau terima adalah nikmat yang patut disyukuri.

Makanya ingin saya sampaikan. Hidup itu banyak bicara susah-senang. Apa yang saya terima hari ini bukan karena sayanya. Tapi ini semua karena Allah Swt dan orang-orang yang mendoakan saya. Begitu menikmatinya saya berhadapan dengan banyak mahasiswa, mendengarkan keluhan, menyampaikan aspirasi, berusaha merekatkan ikatan dan menjaga hati-perasaan. Inilah jalan juang.

Maka tanggalkan keluh kesah. Saya banyak belajar dari mereka yang ada di dekat saya. Orang-orang hebat. Merekalah guru dalam berbagai hal. Hanya perlu mencomot ilmu satu per satu darinya.

Terima kasih atas segala awalan yang baik ini. Untuk semua pihak yang terkadang saya tak mampu membalas kebaikan hatinya. Yang saya selalu terpesona karena ketulusannya. Yang membuat saya selalu ingat bahwa hidup adalah soal memperjuangkan. Yang membuat saya tak mau ingkar atas amanah. Yang mengingatkan saya kepada arti keluarga sampai surga.

Intinya, saya tak mampu mendeskripsikan hati belakangan ini. Semua campur-aduk. Biarlah ini bersambut dengan ketulusan hati.

 

Pojok Sekre

25 Februari 2017

 

 

Menjadi Tidak UGM

Opini-menjadi-tidak-ugm

Memulai dengan tanya, sebenarnya apa yang diharapkan oleh pendidikan nasional?

Bila kita merujuk Ki Hadjar Dewantara, pendidikan nasional harapannya mampu membuat setiap orang ngerti, ngrasa dan nglakoni. Maksudnya ialah bahwa setiap insan pembelajar yang hidup dalam ruang belajar mampu mengerti materi yang diajarkan. Kemudian, mereka mulai merasakan bahwa dunia bukanlah tempat yang baik untuk bersenang-senang, sebab ada pelbagai soal dan beragam kengerian akibat banyaknya rakyat yang hidup dalam rasa takut dan lapar. Sehingga, ilmu yang dimengerti dari ruang belajar mampu menghantarkan kita untuk nglakoni suatu keberpihakan sosial.

Tentu ilmu tak bebas nilai. Ilmu tak dapat diam-mendiamkan. Ilmu juga tak boleh menyerah pada keadaan sulit. Ilmu itu memihak, ilmu itu memperjuangkan. Kalau boleh meminta, ilmu yang diasup dari pendidikan kita mampu menyongsong masa depan bangsa yang lebih baik dan bermartabat. Hanya saja ada lagi tanya, ke mana arah pendidikan nasional kita?

Menjawab pertanyaan di atas, saya ingin melibatkan Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai kawah candradimuka dalam tulisan reflektif berikut. Selain karena faktor historis yang menyebut bahwa UGM lahir dari ibu kandung keperihan bangsa, ada poin menarik yang tak kalah penting. Bahwa saat ini UGM sedang memasuki tahap menentukan siapa pemimpin barunya. Agenda tantangan bangsa ke depan seharusnya mampu dibaca dan menjadi prioritas untuk diselesaikan, tentu dengan mengedepankan cara-cara yang adil dan beradab. Portofolio seorang pemimpin harus jelas dan kredibel serta memiliki keberpihakan ilmu pada pembangunan bangsa.

Proses pemilihan rektor ini dapat disebut “ritus lima tahunan” manakala menghasilkan pemimpin yang tidak canggih dalam menjawab persoalan bangsa. Pemimpin yang berdaulat atas diri dan pikirnya menjadi keharusan. Banyak berdialog dan melihat realitas sosial, bukan duduk manis di singgasana. Kita pernah punya pemimpin yang demikian. Koesnadi, ya, beliau adalah lambang keberpihakan UGM pada rakyat. Pun demikian tokoh-tokoh begawan Bulaksumur lainnya macam Sardjito, Koentowidjoyo, dan Moebyarto.

Para begawan yang menjadi “intelektual organik” kini jarang, bahkan kalau boleh dibilang nyaris tiada. Yang ada justru tokoh-tokoh yang berpikir pragmatis dan membiarkan pendidikan kita didefinisikan oleh mereka yang membuat indikator-indikator kampus kelas dunia. Tak bisa dipungkiri wacana belakangan ini yang digembar-gemborkan oleh penguasa kampus adalah target masuknya UGM dalam peringkat 500 besar dunia. Obsesi ini bukan hanya UGM yang punya. Kampus-kampus lain di Indonesia juga memiliki orientasi serupa yang pada akhirnya mendorong “inflasi” atas slogan world class university (WCU).

Bagi saya ada penyederhanaan terminologi dari WCU, yakni sekedar membangun reputasi dan mendapat apresiasi di tingkat internasional, kemudian di ranking adalah sikap fatalistik yang tak dapat kita terima. Sebagai lambang “ibukota pendidikan tinggi” di Indonesia, UGM bertanggungjawab untuk bisa menyelami WCU dan kemudian menyadarkan kebanyakan kampus yang membebek-bangga pada terminologi itu. Sebenarnya, untuk siapa reputasi internasional itu? Apa guna reputasi tersebut kalau rakyat masih hidup dalam takut dan lapar?

Maka, jargon “mengakar kuat, menjulang tinggi” adalah citra positif ketika benar-benar diperjuangkan secara nyata oleh UGM. Tentu penilaian ini berdasar kepada keberanian untuk melawan kekhawatiran atas kegagalan pelaksanaannya, sehingga jargon hanya sebatas jargon dan bukan penyemangat untuk memperjuangkan pendidikan.

Karena itu, bagi saya, sebelum kita bicara soal reputasi internasional, kita harus mendudukkan persoalan secara lebih clear dengan bicara langkah sebelumnya. Bila berpedoman pada dokumen yang tersedia di arsip dan museum UGM, dapat diketahui bahwa tujuan UGM tercipta ialah untuk kemanusiaan dan kemajuan bangsa. Sehingga, mengakar kuat artinya mampu menjawab tantangan kemanusiaan dan kemajuan bangsa berlandaskan dasar negara Pancasila. Sedangkan menjulang tinggi memiliki pengertian bahwa UGM memberikan kontribusi pada reputasi dan kepemimpinan Indonesia yang bermartabat di tingkat internasional.

Persoalannya selama ini ialah kita terlalu bahagia membebek-buta-tuli pada WCU. Kita telah membiarkan mereka para pemeringkat kampus dunia untuk mendefinisikan UGM dan pendidikan bangsa. Kita secara diam-diam telah meneruskan kebiasaan buruk bangsa untuk selalu dipengaruhi, bukan memengaruhi. Kita menjadi tidak UGM apabila sekedar memikirkan WCU; kita kehilangan imaji tentang memperjuangkan kerakyatan dalam sendi-sendi kehidupan bangsa.

Seharusnya, riset-riset yang melulu digencarkan tak boleh sekedar memenuhi tuntutan sebagai profesor dan kaum intelek pada lembaran jurnal. Riset-riset ini harus berupa amaliah yang membantu menjawab tantangan bangsa, sehingga ilmu itu amaliah dan amal yang dilaksanakan harus ilmiah.

Akademik harus diarahkan pada responsivitas ilmu terhadap kebutuhan kemanusiaan dan kemajuan bangsa. Mengarah pada produk akhir yang manfaat dan didukung oleh berbagai elemen yang adaptif. Ada nilai-nilai yang harus disepakati. Apabila pancasila masih diakui dan dikhidmati sebagai dasar negara, tugas lembaga pendidikan adalah menerjemahkan pancasila dalam setiap disiplin ilmu. Bagaimana caranya politik kita disertai oleh nilai-nilai spiritual yang mendasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Kemudian, obat-obat kita mampu berkembang karena kekayaan biodiversity dan menjawab kebutuhan dunia medis sehingga membawa kita pada capaian kemakmuran bangsa. Bahkan yang jauh lebih penting adalah penyikapan dunia pendidikan atas integrasi menuju transdisiplin keilmuan. Ilmu saling melengkapi dan berkait-kelindan demi kemajuan bangsa.

Mari kita kencangkan persatuan. Penyadaran bangsa akan pentingnya pendidikan harus dilakukan sekarang juga. Para pengajar harus menanamkan benih pemikiran pada setiap murid-muridnya bahwa “pendidikan itu bicara soal perlawanan”. Perlawanan atas kesewenangan, kemiskinan dan kebodohan struktural, serta kesenjangan yang membabi-buta.  Begitu pun pelajar, para mahasiswa harus militan dengan berpikir lebih kritis dan taktis, mengedepankan nurani sehingga memiliki keberpihakan sosial. Tak saling renggut, pukul dan naikkan otot untuk mempersoalkan perbedaan paham pemikiran. Ingat, persoalan bangsa kita terlalu besar dan membutuhkan kerja keras secara bersama-sama untuk menyelesaikannya. Ilmu lah yang membimbing setia orang di dalamnya menjadi sebenar-benarnya manusia yang memperjuangkan.

Dengan demikian ilmu memiliki guna bagi penyelesaian persoalan bangsa. Dan pendidikan nasional sudah seharusnya hendak ditujukan kepada “guna ilmu” bagi kesejahteraan rakyat. Kearifan dan kedewasaan pikir para civitas akademika UGM menjadi keteladanan bagi segenap anak bangsa di manapun ia berada. Tentu tanggung jawab yang paling utama adalah bahwa pemimpin UGM, sang rektor, mampu memainkan perannya sebagai dirigen dalam pertunjukkan orkestra. Mengutip yang pernah disampaikan Sudirman Said dalam Memimpin Orkestra Kebinekaan, Tengoklah dirigen, pasti mulai kerjanya dengan partitur komposisi di tangan, di kepala, dan di hatinya. Tak penting apakah komposisi itu digubahnya sendiri atau warisan dari komposer maestro, atau kombinasi keduanya. Pemimpin orkestra memeriksa semua lini untuk meyakinkan bahwa semua ready.”

Hal yang perlu diingat, ini semua adalah perihal mempertanggungjawabkan peran rektor untuk memastikan keseluruhan pendidikan berjalan sebaik-baiknya dengan memanusiakan manusia dan membebaskan daya kreatifitas, tentu dengan mempertebal spiritual dan akal budi sebagai benteng perjuangan.

Saya pun demikian. Selaku Presiden Mahasiswa UGM saya hanya ingin mengingatkan, kampus sudah seharusnya mendorong dosen dan mahasiswa untuk memiliki keberpihakan sosial atas ilmu. Kampus bukanlah partai politik yang menjadi broker proyek-proyek kapitalis. Kampus juga bukan tempat menghasilkan orang-orang yang culas dan mementingkan nafsu pribadi dan golongannya. Kampus UGM berdiri untuk semua golongan, dan sudah seharusnya kepentingan bangsa menjadi yang utama.

Mari berbenah. Kita harus menjadi sebenar-benarnya UGM.

Sumber: http://www.balairungpress.com/2017/02/menjadi-tidak-ugm/

Negeri Tongkol

567846-meme-ikan-tongkol

Untuk Negeri tercinta, mari tundukkan hati-hati kita, kita bermunajat untuk segala kebaikan hadir di Negeri ini.

*

Kau tahu tongkol? Ikan berukuran sedang; umumnya sekitar 60 cm. Punggung berwarna biru gelap metalik, dengan pola coret-coret miring yang rumit. Gigi-gigi kecil dan mengerucut. Ikan ini bersifat epipelagis dan neritik, menjelajahi perairan-perairan terbuka bersuhu 18°-29 °C dan senangnya menggerombol.

Tongkol tidak memilih-milih mangsa. Ikan jenis ini diperniagakan dalam bentuk ikan segar, ikan beku, dan dikalengkan. Juga dalam rupa-rupa ikan olahan: dikeringkan, diasinkan, diasap, atau dipindang. Dagingnya berkualitas baik bila segar, namun dengan cepat akan membusuk bila tidak ditangani dengan baik.

*

Sungguh malang negeri ini. Hari-harinya dirundung duka. Kemiskinan, keperihan, dan kemelaratan merajalela.

Lebih tak kuasa menahan air mata ketika kita melihat kebodohan terus-menerus terjadi. Mudah disetir, di adu domba, dan dikibuli oleh penguasa zalim.

Yang menjadi kekhawatiran kita bersama adalah sekelompok yang mendaku dirinya mahasiswa, tapi akal budi luhur tiada. Martabat kemahasiswaannya tergadai oleh kepentingan politik penguasa.

Janganlah kau bayangkan masa depan negeri yang membanggakan apabila hari ini kita mudah dipecah-belah. Sumbu amarah kita pendek. Emosi dan amarah mengudara. Terlebih mudah kena perangkap isu-isu macam kebinekaan dan toleran yang justru mencerai-beraikan. Membuat kita terkotak-kotak dan tak lagi bersama.

Tentu dalam rezim bersenjatakan hoax ini kita tak boleh lupa, akal sehat lah yang menjadi pemenang. Nurani lah yang menuntun pada hakiki kebenaran. Maka, pilihan untuk memilah informasi harus dilakukan.

Sebagaimana tongkol, ia biru gelap metalika. Suasana hati kita mendung; gundah gulana. Tertutupi kabut-kabut kejahatan yang memunculkan sentimen kebencian. Hujan air mata menetes.

Suka menjelajah. Masuk sana-sini sekedar mendapatkan info. Menjadi pengkhianat. Senangnya menggerombol. Saat-saat dibutuhkan berjuang mandiri, tak sedikitputn berani tandang ke gelanggang walau hanya seorang.

Tongkol tak memilih mangsa. Semua di makan, bahkan sebangsanya. Hati-hati, ia punya banyak rupa. Pagi berkawan, sore jadi lawan. Mengerikan.

Tongkol itu gambaran anak bangsa. Mati terpenjarakan idealismenya ketika dikelola tak baik, sebaliknya akan baik kala dibina secara baik.

Bangsa ini seharusnya tidak bodoh oleh mainan politik penguasa. Bangsa ini adalah bangsa pembelajar. Tak boleh lelah belajar, menganalisa dan membuat catatan kritis.

Kejadian hari ini seharusnya membuat kita mawas diri. Janganlah kita jadi tongkol yang busuk, yang mudah terseret arus kebodohan. Jadilah tongkol yang berkualitas, yang kehadirannya dekat-menyegarkan; membuat setiap orang merasa bahagia. Cendikia juga manfaat.

Dan benarlah negeri ini tongkol, bukan begitu?

Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia
Penggemar Tongkol Dicabein

Deklarasi Perjuangan Pendidikan UGM

Deklarasi Perjuangan Pendidikan Mahasiswa UGM

Dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.

Sebagaimana kita pahami bahwa pendidikan adalah medan pertarungan ideologi yang menentukan masa depan bangsa. Di saat bersamaan, pendidikan merupakan kunci perjuangan. Dan oleh karena itu, segala hal yang merintangi akses rakyat terhadap pendidikan, yang mana di dalamnya terdapat ilmu pengetahuan untuk dijadikan sebagai sarana memperjuangkan diri dan sekitarnya dari penindasan harus dihapuskan.

Segala bentuk tindakan yang merugikan anak bangsa di mana ruang belajar di sekolah/kampus sebagai wahana “memanusiakan manusia” kian memudar. Hal ini terjadi karena beban akademik semakin berat, tuntutan lulus cepat untuk sekedar memenuhi kebutuhan industri, dan upaya normalisasi kehidupan ruang belajar agar menghasilkan orang-orang yang sekedar patuh dan terampil.

Di lain hal kita tak bisa menerima pendidikan semakin tak terjangkau. Padahal janji kemerdekaan kita adalah mencerdaskan kehidupan bangsa; di mana negara bertanggung jawab membuka akses positif bagi rakyat untuk mengenyam pendidikan dari dasar, menengah dan tinggi.

Dengan penuh kesadaran, keikhlasan dan tanggung jawab akan memperjuangkan pendidikan di Indonesia, maka kami mahasiswa Universitas Gadjah Mada menyuarakan “Deklarasi Perjuangan Pendidikan UGM” yang isinya:

  1. Kami mahasiswa Universitas Gadjah Mada bersumpah untuk setia berkomitmen sebagai pengawal terdepan isu pendidikan di Indonesia.
  2. Kami mahasiswa Universitas Gadjah Mada bersumpah untuk melawan segala bentuk tindakan yang mengomersialisasikan pendidikan dan menggadaikan ilmu pengetahuan.
  3. Kami mahasiswa Universitas Gadjah Mada bersumpah untuk memperjuangkan pendidikan di Indonesia sepanjang hayat sampai terwujudnya “Jaminan Pendidikan Nasional”. Sehingga rakyat dapat mengenyam pendidikan secara gratis dari jenjang pendidikan dasar, menengah, hingga tinggi.

 

Demikian deklarasi yang kami sampaikan. Semoga rahmat Tuhan YME senantiasa mengiringi perjalanan kita demi terwujudnya “Jaminan Pendidikan Nasional”.

 Presma UGM dan Menristekdikti

Bulaksumur, 30 Januari 2017

 

 

Aliansi Mahasiswa UGM