Kaum Terpelajar, Bergeraklah
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Monthly Archives: April 2017

Kaum Terpelajar, Bergeraklah

Presiden Mahasiswa UGM

Hidup adalah pertempuran baik melawan buruk. Dalam diri kita bersemayam akal, nafsu dan perasaan. Akal mengedepankan logika, nafsu kedepankan ambisi, sedangkan perasaan menekankan kejernihan hati. Hatilah yang mengendalikan manusia agar berperasaan dan berperangai baik. Sebaliknya akal dan nafsu apabila tidak terkendali akan menuntun kita pada keburukan.

Maka pandai-pandailah merawat dan mengelola hati. Sebab orang yang demikian pandai merawat dan mengelola hati inilah yang dinilai sudah selesai dengan dirinya sendiri. Ia mampu menundukkan akal dan nafsu yang tak terkendali. Karena sungguh hati takkan pernah bisa bohong.

Dalam konteks kehidupan nyata__juga maya__banyak perilaku kurang ajar dan itu banyak dilakukan oleh orang-orang terpelajar. Semakin berilmu malah semakin kelewat batas. Merampok uang rakyat, melakukan tindakan kriminal, membohongi publik, mengeluarkan ‘dalil’ akademik yang merugikan dan beragam perilaku kurang ajar lainnya. Peran hati seolah terkikis oleh akal dan nafsu.

Di sini penulis sepakat dengan petuah Tan Malaka; yang mana sederhananya, “lebih baik pendidikan tidak usah diberikan kepada kaum terpelajar jika pada akhirnya digunakan untuk menindas dan berjarak”.

Dalam hemat penulis menindas adalah membohongi hati-nurani; sedangkan berjarak adalah mengabaikan realitas sosial. Keduanya tidak boleh dilakukan oleh seorang terpelajar. Hati yang tulus-ikhlas, membangun barisan yang kokoh, melantangkan suara dan bergerilya memperjuangkan kebaikan. Semua itu harus disampaikan kaum terpelajar kepada siapapun pelaku penindasan; bukan malah menjadi bagian destruktif.

Mahasiswa harus bisa me-monitoring peran penguasa baik di kampus kampus hingga level negara supaya check and balance tetap berjalan. Memastikan penguasa mengelola negara tidak serampangan. Peran dosen, peneliti, dan segenap masyarakat terdidik ialah sebagai pencerah masyarakat sekaligus pengontrol penguasa. Supaya kaki mereka tidak rapuh untuk menopang beban amanah teramat besar.

Masyarakat terdidik memiliki pengetahuan yang memadai guna menyelesaikan persoalan sosial. Karena pendidikan menjamin ketersedian pengembangan Ilmu. Ilmu itu tidak boleh berhenti pada segelintir orang saja, apalagi terbatas pada tumpukan tulisan di jurnal. Ilmu harus berupa amaliah yang mampu menggembirakan banyak orang. Sedangkan amal yang dilaksanakan dilaksanakan secara ilmiah supaya dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Dalam proses inilah hati dan olah rasa yang membuat kita arif nan bijaksana dalam menghadapi persoalan; menjadikan kita waskita.

Fungsi memperjuangkan oleh kaum terdidik yang secara tegas bicara tentang keberpihakan harus mengudara ke segala arah, bahkan ke celah-celah terkecil sekalipun. Maksudnya, ketika bicara soal memperjuangkan, kita tidak hanya bergerak di ranah kebijakan, seperti pembuatan Undang-undang. Di sini, mendengar keluh-kesah, rintih dan jerit tangis para kaum mustad’afin adalah upaya yang harus terus-menerus digencarkan sebagai bagian dari memperjuangkan.

Orang yang tidak memiliki sesuatu tidak dapat memberikannya. Kaum terdidik punya ilmu dan dengan itu dipergunakan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan dan kemanusiaan. Sebab, dunia ini sedang dalam kondisi kemerosotannya. Bukan hanya yang terlihat seperti kabar di media mainstream. Tapi apa yang terlihat secara nyata dengan mata dan terdengar oleh telinga kita bahkan lebih mengerikan.

Maka bergeraklah kawan, bergeraklah. Hati yang akan membimbing pada kebenaran, sedangkan ilmu sebagai alat perjuangannya. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.

 

Abstrak

abstrak

Aku ingin mengajari diri hal-hal beda setiap hari. Yang mana ketika hidupku kelak menua dan mati, ada cerita tersendiri yang dapat kupertanggungjawabkan dihadapan ilahi.

Ada banyak hal yang sulit kupahami dari dunia. Tentang doa, cinta dan pengorbanan. Semua bicara tentang memperjuangkan. Banyak klue berserakan, tak sepenuhnya menjawab kebutuhan sejumlah tanya dari rentetan kotak vertikal-horizontal.

Sekarang banyak orang bingung mencari Tuhan. Karena dilihat tidak ada, dicari tidak ketemu. Semua kabur, setidaknya samar. Pekat hitam tak terlihat. Inilah akibat kehilangan cahaya iman.

Niat baik seseorang tak beranjak, bila tak berbuah pada laku amal. Hidup segan mati tak mau. Tinggal lah hidup sayu.

Banyak juga yang menulis surat cinta atau pun puisi untuk seseorang yang baginya spesial. Padahal ia yang spesial tak lebih dari sekadar fana. Tak percaya? Beri aku kepastian tentang hari esok. Bisa saja kau benci sebencinya ia. Sungguh.

Ada lagi mereka yang mendaku juru selamat dari akar rumput. Bahkan untuk sekadar menyapa ‘rakyat’ yang asalnya dari akar rumput pun tak pernah. Kalian munafik membela rakyat. Kalian cuma buang habis sudah waktu untuk diskusi hingga larut malam di warung kelontong. Meninggalkan Tuhan, tugas, orang tua dan kehidupan menantang lainnya bersama ‘rakyat’.

Mahasiswa gontok-gontokan karena beda kepentingan. Tuk merebut yang diyakini sebagai haq. Acapkali kebingungan, sebab semua dinilai relatif. Padahal sungguh, yang benar itu benar, yang salah harus menyerah pada kebenaran.

Kita harus mulai terbiasa hidup tanpa panutan. Di negeri yang banyak koruptor dan kaum hipokrit. Mereka lah yang bersenandung ria, menari di atas penderitaan kaum mustad’afin. Hancurkanlah.

Bisakah kita menebus dosa terhadap dosa yang tak pernah dilakukan. Bisakah kita memaafkan untuk kesalahan yang tidak termaafkan. Bisakah kita berdiri apabila kaki tak mampu menopang. Bisakah kita saling mencinta apabila tak dicinta.

Bisakah kita membalas jika tak ada sebab. Bisakah kencing sambil berlari. Bisakah menjawab saat tak ada tanya. Bisakah memiliki apabila tak punya.

Mari kita selesaikan hari ini sebelum esok. Dan pastikan esok tak kehilangan waktu menjawab tantangan. Kita punya dua telinga untuk mendengar gelisah, dua mata untuk melihat bahagia, dan satu mulut untuk melawan penindasan.

Terkadang hidupku abstrak. Lebih sulit meruwat jalan pikirku dibanding menyalakan api dihutan dengan batu. Dan memang, kawan yang tulus lebih menyebalkan daripada musuh yang menyamar.

Aku bukan filsuf, bukan juga pecinta. Aku adalah terang yang nyalanya hidup bersamamu. Kuingin bisikkan kata cintaku padamu, para pejuang lillah. Tolong ikut dengan hati yang mampu menggetarkan arsy. Ingat, dengan hati.

“Aku putuskan bahwa aku akan bergerak, karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan”