Tanjung Priok
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Monthly Archives: July 2017

Tanjung Priok

Tanjung Priok

Tulisan ini merupakan catatan panjang yang penulis coba untuk sederhanakan, hendak ditujukan kepada para pemangku kebijakan, termasuk sebagai bahan refleksi penulis untuk merintis perubahan bagi kotanya.

Pada tahun 2010, Muhammad Ridha peneliti INKRISPENA menulis catatan menarik tentang Hak Atas Kota (lihat: http://indoprogress.blogspot.co.id/2010/08/hak-atas-kota.html). Dalam tulisan tersebut, Ridha mengajak kita merefleksikan kembali tentang apa yang dimaksud dengan kehidupan kota. Ia mendefinisikan bahwa kehidupan kota merupakan aktivitas keseharian di kota itu sendiri.

Selanjutnya, ia mencontohkan kehidupan kota Jakarta. Ia menyebutkan bahwa ada banyak hal yang berada di luar kendali bagi warga kota Jakarta di mana penyakitnya kota itu sudah mencapai level akut. Segala respons dan upaya belum mencapai hasil yang diinginkan. Konsekuensi bagi warga kota Jakarta ialah menjadi terasing dari dirinya sendiri. Sebuah kondisi warga kota yang mengerikan. Ridha menyebutnya sebagai ‘warga kota yang tanpa jiwa, tanpa substansi’.

Catatan menarik di atas benar. Saya mengamini. Sejak orok hingga mendewasa kini, saya dididik dan dibesarkan oleh kerasnya kehidupan kota Jakarta. Lebih spesifik lagi tempat saya bertempat tinggal: Tanjung Priok. Pertanyaan di muka yang ingin saya lemparkan kepada saudara, apa yang terlintas di pikiran Anda tentang Tanjung Priok?

Suatu hari, saya melakukan survei kecil-kecilan kepada beberapa rekan kuliah di Yogyakarta. Saya melontarkan pertanyaan sebagaimana saya sebutkan di atas. Jawabannya benar-benar mengerikan. Tanjung Priok identik sebagai city of evil, sebagaimana lagu milik Avenged Sevenfold. Ada lagi yang mengidentifikasinya sebagai kota dengan tingkat kriminalitas dan kesenjangan yang tinggi. Namun, yang patut membuat saya mengelus dada (sendiri) adalah karena tingkat pendidikannya yang rendah.

Saya diam sejenak sembari menghela nafas dalam-dalam. Ternyata pandangan buruk di atas tentang Tanjung Priok seperti sebuah pandangan umum. Dan saya harus sampaikan bahwa pandangan mereka ada benarnya. Bahkan kenyataannya terkadang lebih mengerikan dari sekadar data-data yang dibuat pemerintah. Dengan ini, saya mencoba memahami realitas, menganalisis dalam-dalam dan mencoba mencari jalan keluar.

Realitas kehidupan yang harus saya jalani di sini adalah berteman dengan kemiskinan. Bukan orang lain, melainkan diri saya sendiri yang mengalami. Saya anak pertama dari empat bersaudara. Orang tua saya guru honorer di tiga sekolah, salah satunya SMP Negeri di Jakarta. Berkali-kali ikut Tes CPNS dan gagal. Gajinya sebulan pada tahun 2013, sesaat saya sebelum masuk kuliah, sebesar Rp. 1.500.000,-.

Coba Anda bayangkan, bagaimana saya dahulu bisa bersekolah dan kini berkuliah? Bagaimana cara Ibu saya mengatur keuangan rumah tangga agar dengan uang itu, waktu sebulan dapur bisa ngebul? Dan beragam pertanyaan lain terlontar atas kehidupan nyata yang sedang saya jalani.

Bukan hanya saya, pun melihat rekan sejawat, kawan nongkrong, dan/atau tetangga kiri-kanan. Mereka pun merasakan perih yang sama lantaran didera kemiskinan. Alhasil, banyak di antara mereka yang menjambret, memalak, mengedarkan narkoba, main cewek, nyimeng, sekadar ngobrol-ngobrol tengah malam, nyanyi-nyanyi di setiap ujung gang, sembari ngudud dan nenggak minuman beralkohol. Ya ayuhannas. Ini peringatan bahwa ada segudang permasalahan besar yang sedang kita hadapi.

Saya menganalisis atas semua ini. Dengan mempertimbangkan beberapa faktor, maka yang membuat mereka pada akhirnya melakukan tindakan keji di atas adalah tidak lain karena faktor pendidikan. Ya, pendidikan di rumah maupun di sekolah. Orang-orang tua di Tanjung Priok tidak banyak memperhatikan anak-anaknya. Sekolah hanya formalitas, tidak banyak diisi oleh kegiatan-kegiatan inovatif yang mengajak kita mengolah rasa dan pikir.

Atas dasar rasionalitas tersebutlah, saya memberanikan diri untuk mengubah keadaan. Saya ingin tetap mengenyam pendidikan, bahkan hingga kuliah. Sehingga, “saya kuliah karena saya bodoh, dan selamanya saya tidak ingin menjadi bodoh. Agar kelak saya bisa menolong orang-orang di sekitar saya keluar dari kebodohan.”

Kebetulan, Anies Baswedan yang kemudian terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta periode 2017–2022 merupakan tokoh pendidikan. Sebagaimana kita tahu, konsentrasi beliau terhadap dunia pendidikan sangat tinggi. Dengan ini, muncul harapan dari saya pribadi terkait masa depan Tanjung Priok, di mana setiap anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, sehingga mereka bisa menolong setidaknya diri mereka sendiri untuk bisa hidup lebih bermartabat.

Saya tak bisa membayangkan betapa bahagianya, ketika anak-anak muda Tanjung Priok lebih gemar memegang buku dibandingkan sekadar memegang dan menenggak sebotol bir. Saya kan bersenang hati ketika anak-anak muda Tanjung Priok bisa mendapatkan pekerjaan yang layak, mencukupi kebutuhan hidupnya, membantu orang-orang di sekitarnya bahkan suatu hari bisa berkontribusi besar bagi republik ini. Maka, mempermudah akses terhadap pendidikan harus menjadi program yang utama.

Di saat bersamaan, dibutuhkan penegakan hukum yang tak pandang bulu. Barang siapa yang melanggar hukum, ia harus segera ditindak. Kriminalitas yang tinggi bisa terjadi karena abainya negara dalam menghadirkan kepastian dan penegakan hukum. Dengan adanya kepastian dan penegakan hukum, maka dapat dipastikan terjadinya kondisi masyarakat yang aman dan nyaman. Untuk itu, saya mohon dengan sangat agar Jokowi mampu menghadirkan penegakan hukum tanpa pandang bulu.

Selain politik dan hukum, kita juga harus memperhatikan sektor yang lain. Seperti di bidang kesehatan, pembangunan Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok menjadi angin segar bagi pelayanan kesehatan yang harus dilaksanakan secara prima. Di bidang perekonomian, pembenahan tata kelola pasar tradisional, OK OCE Mart dan produk creative home industry harus digiatkan.

Dan yang terpenting, bagi mereka yang terlanjur tidak mengenyam pendidikan hingga tingkat tinggi hendak diikutsertakan dalam Balai Pelatihan yang mengasah kemampuan. Kemudian, di sini, pemerintah daerah bekerjasama dengan pemerintah pusat bertanggungjawab membantu mereka dengan memberikan dua opsi: perbantuan dana untuk membangun usaha atau menyediakan lapangan pekerjaan sebagai karyawan, dll.

Di saat bersamaan, harus muncul sebuah gerakan di Tanjung Priok. Gerakan ini ibarat dua mata pisau yang mampu di satu sisi mendukung, di sisi lain mengontrol jalannya pemerintahan. Tentu saja, gerakan ini harus dipelopori oleh anak-anak muda yang berkesadaran sebagai warga kota Jakarta. Sehingga, kota Jakarta, terutama Tanjung Priok mampu menghadirkan gairah yang membuat para penghuninya berjiwa besar dan memiliki substansi atas apa yang hendak dijalani dalam hidupnya.

Dengan ini saya berefleksi, dan memanggil kaum muda Tanjung Priok yang berkesadaran di mana pun ia berada untuk sama-sama memikirkan kota yang hendak membesarkannya. Saya sungguh yakin, ada banyak kaum muda Tanjung Priok yang memiliki kesadaran akan tanggung jawab serta sikap mulia untuk bisa menolong sesamanya.

Maka, jika Anda masih gemar ber-fafifu dan sekadar berimajinasi tentang rakyat, datanglah ke rumah saya! Datanglah ke Tanjung Priok. Saya akan tunjukkan wilayah mana saja yang menjadi gudang kesenjangan. Saya akan ajak kalian ke dalam diskusi-diskusi kelas bawah. Saya akan larutkan kalian dalam suasana haru-biru karena masih banyak orang hidup dalam kemelaratan. Saya akan buat kalian berempati. Dengan ini, sudahi bicara tak ada guna, mari kita berbuat baik lebih banyak.

Terakhir, teruntuk para pemangku kebijakan. Saya mengharapkan perhatian yang dalam atas kondisi di Tanjung Priok. Barangkali, perbaikan ini akan menjadi kado berkesan dari negara dalam merayakan Hari Ulang Tahun DKI Jakarta ke-490.