Begitulah Perjuangan
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Monthly Archives: July 2017

Begitulah Perjuangan

Presiden Mahasiswa UGM sambut Jokowi

Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang ada di dalam hati dan pikiran seseorang. Tapi izinkan saya menyampaikan beberapa hal yang ada di hati dan pikiran saya.

Saya patut bersyukur untuk bisa berada di posisi hari ini. Menjadi mahasiswa UGM dan kemudian berjuang pada amanah sebagai Presiden Mahasiswa. Hal ini bagi saya istimewa mengingat lingkungan sekitar saya di Tanjung Priok sangat memprihatinkan. Bagaimana berpikir untuk sekolah, apabila urusan perut saja belum selesai.

Saya bukan berasal dari latar belakang terpandang, tapi punya bahagia. Ayah saya guru agama Islam di salah satu SMP Negeri di Jakarta, sedangkan ibu saya guru mengaji. Kami menjalani kehidupan dengan sederhana.

Suatu hari kedua orangtua saya berpesan kepada saya, bahwa “memperjuangkan kebenaran itu sulit”. Saya bertanya ke dalam hati, “apa betul?”. Setiap hari saya memikirkan kalimat itu dalam-dalam. Barulah saya merasakan itu ketika duduk diperkuliahan.

Tentu, kehidupan diperkuliahan sangat berbeda dengan masa sebelumnya, terlebih di UGM. Dengan masyarakat kampus yang heterogen, saya menemukan banyak sekali manusia dengan berbagai macam karakter. Awal tahun saya ikut ke dalam lima organisasi mahasiswa baik ditingkat kampus sampai regional. Niat saya pada saat itu tidak jauh berbeda dengan kebanyakan: mencari teman dan berjejaring seluasnya.

Apabila ditinjau, hal tersebut sebenarnya agak egois. Saya baru menyadari sekitar tahun kedua berkuliah; saat di mana saya mendapatkan mendapatkan beasiswa Rumah Kepemimpinan. Pandangan saya menjadi lebih luas, pendengaran dan penglihatan saya semakin tajam. Hingga sampai pada titik kesimpulan, bahwa saya berkuliah karena saya bodoh, dan selamanya saya tidak ingin menjadi orang bodoh, agar kelak saya bisa menolong orang-orang disekitar saya keluar dari kebodohan.

Sejak saat itu saya memiliki orientasi yang lebih luas, bukan lagi hidup untuk sekadar diri sendiri. Ayunan lamunan yang menemani kala fajar dan petangku di beranda asrama adalah bagaimana bisa melakukan kebaikan sebesar-besarnya?

Hal ini membuat saya terus memendam gelisah. Setiap mata kuliah yang diajarkan di Departemen Politik dan Pemerintahan justru semakin membuka tabir bobroknya bangsa yang sedang sama-sama kita perjuangkan untuk lebih baik. Oleh sebab itu, saya menyadari; saya tidak bisa sendirian. Saya harus bersama-sama; berkolaborasi untuk menyelesaikannya.

Saya sangat yakin bahwa sejak berdirinya republik ini, bahkan hingga hari ini ialah bertujuan untuk mencapai keadilan sosal. Namun, cara yang harus ditempuh sangat berliku. Segala aspek harus diperhatikan dengan cermat dan perhitungan yang matang. Dan karena sulitnya itu, maka membuka kesempatan untuk hadirnya salah dalam mengelola negara. Bahkan, para dosen yang mengajari kita di kelas, pemuka agama, hingga bahkan anggota dewan sekalipun pasti punya salah; termasuk kita.

Untuk itu, perlu ada upaya saling mengoreksi dari rakyat kepada pemerintah dan sebaliknya. Upaya tersebut ditempuh melalui berbagai macam cara. Sederhananya, kita perlu saling ingat-mengingatkan dalam upaya perbaikan.

Hari ini, kemarin dan juga ke depan saya akan terus berusaha untuk memperbaiki. Apapun yang bisa saya perbaiki, akan saya perbaiki. Apabila dulu, saat STM saya bisa memperbaiki kipas angin, maka ketika kini saya berada di Departemen Politik dan Pemerintahan, saya bisa memperbaiki wajah politik bangsa yang tercoreng oleh kaum begal negeri.

Bagi saya, hal tersebut adalah upaya untuk mempertanggungjawabkan ilmu. Saya sangat yakin bahwa ilmu itu seharusnya memihak, ilmu itu seharusnya memperjuangkan. Dan saya memihak dan memperjuangkan kebaikan bersama orang-orang disekitar. Itulah yang disebut kolaborator kebaikan.

Bagi saya, aksi tadi pagi saat menyambut Jokowi adalah upaya kebaikan. Isu yang diangkat pun jelas, yakni penegakan hukum dan pemberantasan korupsi, stabilitas ekonomi rakyat, menolak represifitas pemerintah dan ancaman terhadap demokrasi, serta jaminan pendidikan nasional.

Kalau ditanya soal kajian, kami sudah mengkaji, mendiskusikannya secara terbuka, menginformasikannya dan meminta izin kepada pihak kampus dan kepolisian setempat. Kami sangat terbuka kepada aparat, sekaligus akomodatif terhadap suara kaum mustadafin. Sebab, saya berpikir ini tugas kami sebagai kelas menengah yang mana mampu menjembatani kedua pihak.

Sebagian pihak mengernyitkan dahi, tanda tak mampu berjuang dan hanya pandai menganjurkan ini dan itu. Tapi, sebagian yang lain hadir dengan gagah, meski harus beradu argumen, kontak fisik, dan membatin. Begitulah pejuang dan perjuangan.

Ada beberapa titipan doa dan masukan kepada kami. Kami yakini untuk pelecut semangat dan pelindung kami. Jadi, mari kita mendewasakan diri. Mengupayan perbaikan tanpa harus saling meniadakan. Sebab, saya selalu memelihara keyakinan. Ke depan kita semua akan menjadi bangsa yang besar dengan mengedepankan cara-cara yang adil dan beradab. Mari menjadi kolaborator kebaikan.

 

 

Tanjung Priok

Tanjung Priok

Tulisan ini merupakan catatan panjang yang penulis coba untuk sederhanakan, hendak ditujukan kepada para pemangku kebijakan, termasuk sebagai bahan refleksi penulis untuk merintis perubahan bagi kotanya.

Pada tahun 2010, Muhammad Ridha peneliti INKRISPENA menulis catatan menarik tentang Hak Atas Kota (lihat: http://indoprogress.blogspot.co.id/2010/08/hak-atas-kota.html). Dalam tulisan tersebut, Ridha mengajak kita merefleksikan kembali tentang apa yang dimaksud dengan kehidupan kota. Ia mendefinisikan bahwa kehidupan kota merupakan aktivitas keseharian di kota itu sendiri.

Selanjutnya, ia mencontohkan kehidupan kota Jakarta. Ia menyebutkan bahwa ada banyak hal yang berada di luar kendali bagi warga kota Jakarta di mana penyakitnya kota itu sudah mencapai level akut. Segala respons dan upaya belum mencapai hasil yang diinginkan. Konsekuensi bagi warga kota Jakarta ialah menjadi terasing dari dirinya sendiri. Sebuah kondisi warga kota yang mengerikan. Ridha menyebutnya sebagai ‘warga kota yang tanpa jiwa, tanpa substansi’.

Catatan menarik di atas benar. Saya mengamini. Sejak orok hingga mendewasa kini, saya dididik dan dibesarkan oleh kerasnya kehidupan kota Jakarta. Lebih spesifik lagi tempat saya bertempat tinggal: Tanjung Priok. Pertanyaan di muka yang ingin saya lemparkan kepada saudara, apa yang terlintas di pikiran Anda tentang Tanjung Priok?

Suatu hari, saya melakukan survei kecil-kecilan kepada beberapa rekan kuliah di Yogyakarta. Saya melontarkan pertanyaan sebagaimana saya sebutkan di atas. Jawabannya benar-benar mengerikan. Tanjung Priok identik sebagai city of evil, sebagaimana lagu milik Avenged Sevenfold. Ada lagi yang mengidentifikasinya sebagai kota dengan tingkat kriminalitas dan kesenjangan yang tinggi. Namun, yang patut membuat saya mengelus dada (sendiri) adalah karena tingkat pendidikannya yang rendah.

Saya diam sejenak sembari menghela nafas dalam-dalam. Ternyata pandangan buruk di atas tentang Tanjung Priok seperti sebuah pandangan umum. Dan saya harus sampaikan bahwa pandangan mereka ada benarnya. Bahkan kenyataannya terkadang lebih mengerikan dari sekadar data-data yang dibuat pemerintah. Dengan ini, saya mencoba memahami realitas, menganalisis dalam-dalam dan mencoba mencari jalan keluar.

Realitas kehidupan yang harus saya jalani di sini adalah berteman dengan kemiskinan. Bukan orang lain, melainkan diri saya sendiri yang mengalami. Saya anak pertama dari empat bersaudara. Orang tua saya guru honorer di tiga sekolah, salah satunya SMP Negeri di Jakarta. Berkali-kali ikut Tes CPNS dan gagal. Gajinya sebulan pada tahun 2013, sesaat saya sebelum masuk kuliah, sebesar Rp. 1.500.000,-.

Coba Anda bayangkan, bagaimana saya dahulu bisa bersekolah dan kini berkuliah? Bagaimana cara Ibu saya mengatur keuangan rumah tangga agar dengan uang itu, waktu sebulan dapur bisa ngebul? Dan beragam pertanyaan lain terlontar atas kehidupan nyata yang sedang saya jalani.

Bukan hanya saya, pun melihat rekan sejawat, kawan nongkrong, dan/atau tetangga kiri-kanan. Mereka pun merasakan perih yang sama lantaran didera kemiskinan. Alhasil, banyak di antara mereka yang menjambret, memalak, mengedarkan narkoba, main cewek, nyimeng, sekadar ngobrol-ngobrol tengah malam, nyanyi-nyanyi di setiap ujung gang, sembari ngudud dan nenggak minuman beralkohol. Ya ayuhannas. Ini peringatan bahwa ada segudang permasalahan besar yang sedang kita hadapi.

Saya menganalisis atas semua ini. Dengan mempertimbangkan beberapa faktor, maka yang membuat mereka pada akhirnya melakukan tindakan keji di atas adalah tidak lain karena faktor pendidikan. Ya, pendidikan di rumah maupun di sekolah. Orang-orang tua di Tanjung Priok tidak banyak memperhatikan anak-anaknya. Sekolah hanya formalitas, tidak banyak diisi oleh kegiatan-kegiatan inovatif yang mengajak kita mengolah rasa dan pikir.

Atas dasar rasionalitas tersebutlah, saya memberanikan diri untuk mengubah keadaan. Saya ingin tetap mengenyam pendidikan, bahkan hingga kuliah. Sehingga, “saya kuliah karena saya bodoh, dan selamanya saya tidak ingin menjadi bodoh. Agar kelak saya bisa menolong orang-orang di sekitar saya keluar dari kebodohan.”

Kebetulan, Anies Baswedan yang kemudian terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta periode 2017–2022 merupakan tokoh pendidikan. Sebagaimana kita tahu, konsentrasi beliau terhadap dunia pendidikan sangat tinggi. Dengan ini, muncul harapan dari saya pribadi terkait masa depan Tanjung Priok, di mana setiap anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, sehingga mereka bisa menolong setidaknya diri mereka sendiri untuk bisa hidup lebih bermartabat.

Saya tak bisa membayangkan betapa bahagianya, ketika anak-anak muda Tanjung Priok lebih gemar memegang buku dibandingkan sekadar memegang dan menenggak sebotol bir. Saya kan bersenang hati ketika anak-anak muda Tanjung Priok bisa mendapatkan pekerjaan yang layak, mencukupi kebutuhan hidupnya, membantu orang-orang di sekitarnya bahkan suatu hari bisa berkontribusi besar bagi republik ini. Maka, mempermudah akses terhadap pendidikan harus menjadi program yang utama.

Di saat bersamaan, dibutuhkan penegakan hukum yang tak pandang bulu. Barang siapa yang melanggar hukum, ia harus segera ditindak. Kriminalitas yang tinggi bisa terjadi karena abainya negara dalam menghadirkan kepastian dan penegakan hukum. Dengan adanya kepastian dan penegakan hukum, maka dapat dipastikan terjadinya kondisi masyarakat yang aman dan nyaman. Untuk itu, saya mohon dengan sangat agar Jokowi mampu menghadirkan penegakan hukum tanpa pandang bulu.

Selain politik dan hukum, kita juga harus memperhatikan sektor yang lain. Seperti di bidang kesehatan, pembangunan Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok menjadi angin segar bagi pelayanan kesehatan yang harus dilaksanakan secara prima. Di bidang perekonomian, pembenahan tata kelola pasar tradisional, OK OCE Mart dan produk creative home industry harus digiatkan.

Dan yang terpenting, bagi mereka yang terlanjur tidak mengenyam pendidikan hingga tingkat tinggi hendak diikutsertakan dalam Balai Pelatihan yang mengasah kemampuan. Kemudian, di sini, pemerintah daerah bekerjasama dengan pemerintah pusat bertanggungjawab membantu mereka dengan memberikan dua opsi: perbantuan dana untuk membangun usaha atau menyediakan lapangan pekerjaan sebagai karyawan, dll.

Di saat bersamaan, harus muncul sebuah gerakan di Tanjung Priok. Gerakan ini ibarat dua mata pisau yang mampu di satu sisi mendukung, di sisi lain mengontrol jalannya pemerintahan. Tentu saja, gerakan ini harus dipelopori oleh anak-anak muda yang berkesadaran sebagai warga kota Jakarta. Sehingga, kota Jakarta, terutama Tanjung Priok mampu menghadirkan gairah yang membuat para penghuninya berjiwa besar dan memiliki substansi atas apa yang hendak dijalani dalam hidupnya.

Dengan ini saya berefleksi, dan memanggil kaum muda Tanjung Priok yang berkesadaran di mana pun ia berada untuk sama-sama memikirkan kota yang hendak membesarkannya. Saya sungguh yakin, ada banyak kaum muda Tanjung Priok yang memiliki kesadaran akan tanggung jawab serta sikap mulia untuk bisa menolong sesamanya.

Maka, jika Anda masih gemar ber-fafifu dan sekadar berimajinasi tentang rakyat, datanglah ke rumah saya! Datanglah ke Tanjung Priok. Saya akan tunjukkan wilayah mana saja yang menjadi gudang kesenjangan. Saya akan ajak kalian ke dalam diskusi-diskusi kelas bawah. Saya akan larutkan kalian dalam suasana haru-biru karena masih banyak orang hidup dalam kemelaratan. Saya akan buat kalian berempati. Dengan ini, sudahi bicara tak ada guna, mari kita berbuat baik lebih banyak.

Terakhir, teruntuk para pemangku kebijakan. Saya mengharapkan perhatian yang dalam atas kondisi di Tanjung Priok. Barangkali, perbaikan ini akan menjadi kado berkesan dari negara dalam merayakan Hari Ulang Tahun DKI Jakarta ke-490.