Kemuliaan Perjuangan Mahasiswa
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Monthly Archives: September 2017

Kemuliaan Perjuangan Mahasiswa

PRA AMUKTI BEM KM UGM 2017

“…Sekarang matahari, semakin tinggi. Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala. Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya: Kita ini dididik untuk memihak yang mana? Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini akan menjadi alat pembebasan, ataukah alat penindasan?

(Sajak Pertemuan Mahasiswa, W.S Rendra: 1977)

***

Dalam hidup, kita selalu dihadapkan pada banyaknya persoalan sulit. Untuk itulah hidup disebut sebagai perjuangan. Sebagai seorang manusia, kita dengan akal dan pikir selalu berusaha untuk menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut. Bisa jadi suatu masalah itu belum selesai dan kemudian muncul persoalan baru; terus-menerus seperti itu hingga bahkan kita jengah dan seolah ingin keluar dari kehidupan.

Dan, memang benar. Hidup tidaklah semudah membalikkan kedua telapak tangan. Apabila demikian mudah, seorang Ayah tidak perlu berusaha dan bekerja keras untuk menafkahi anak dan istrinya; kemudian, para mahasiswa tidak usah kiranya belajar dengan giat untuk meraih gelar kesarjanaan dan mengaplikasikan ilmu pengetahuannya kepada masyarakat. Pada intinya, hidup harus dihadapi secara sungguh-sungguh.

Dalam hemat penulis, kesungguhan menjalani hidup yang kini menjadi persoalan mendasar bangsa Indonesia. Apabila benar kita bersungguh-sungguh, katakanlah, dalam menjalankan Pancasila sebagai dasar negara sekaligus kompas kehidupan bangsa, maka seharusnya masyarakat Indonesia adalah masyarakat relijius yang memanusiakan manusia dan membentuk persatuan bangsa; menekankan aspek musyawarah untuk mencari jalan keluar dari setiap persoalan bangsa, sehingga tercapailah suatu keadilan sosial. Lantas, apakah yang salah dari kita?

Harus disadari, selama ini kita dituntut untuk sekadar menyelesaikan masalah tanpa pernah mengetahui esensi mengapa kita harus menyelesaikan masalah tersebut. Selama ini kita juga sekadar pandai untuk menyebut dan menghafalkan sesuatu dibandingkan dengan berikhtiar untuk mengaplikasikannya. Kita menjadi kehilangan arah; tak tahu ke mana kita akan menuju. Kita telah kehilangan cara menikmati tentang hidup melalui pemaknaan. Kita egois dengan hanya berambisi untuk menyelesaikan persoalan diri sendiri dan meninggalkan persoalan saudara kita lainnya.

Terlalu naif sebenarnya apabila kita selalu menyalahkan mereka yang sedang berkuasa tanpa melihat ke dalam diri sendiri. Ingat, dahulu mereka pernah juga seperti kita hari ini. Idealisme, seperti Tan Malaka bilang adalah satu kemewahan yang dimiliki seorang pemuda. Dan, memang benar. Ketika muda kita semua berani berteriak lantang, tetapi lambat laun dan kian menua mereka dan atau mungkin kita nanti akan sangat kesulitan untuk memegang teguh idealisme. Oleh sebab itu, tulisan ini hadir untuk membangkitkan kesadaran kita baik sebagai manusia dan juga mahasiswa.

Kesadaran sebagai manusia dan mahasiswa akan tumbuh manakala ia didekatkan oleh realitas sosial. Mainlah saat malam-malam tiba ke Bundaran Teknik atau ke jembatan Perawan (Perikanan-Kedokteran Hewan). Di sana kau akan menemukan seorang Bapak tengah berjuang dalam hidupnya dengan berjualan keranjang baju dari rotan. Kemudian, seorang penyandang tuna netra yang gigih berjualan kemoceng, keset dan serbet di seputaran Masjid Kampus UGM. Hingga cerita sepasang suami-istri yang rela tinggal di kos-kosan sangat sederhana seharga 150 ribu per bulan di wilayah Kali Code untuk bisa bertaruh nasib dengan berjualan koran.

Atas kesempatan melihat realitas sosial itu, kita menjadi sadar bahwa data-data yang ditampilkan oleh pemerintah seolah tak berguna; tiada berarti. Apa arti capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen bila sesungguhnya masih banyak masyarakat kita yang hidup dalam rasa takut, lapar dan melarat. Apa artinya pembangunan fisik yang modern apabila harus meninggalkan dan menggusur yang lemah. Apa artinya ilmu pengetahuan yang diajarkan di sekolah dan kampus jika hanya untuk menindas. Bukankah penindasan itu hal yang kita tentang?

Tentu saja, ketidakpedulian atas penindasan semacam ini harus ditinggalkan. Dengan kesungguhan menjadi manusia yang berkesadaran untuk menolong orang lain dan membela yang lemah, kita akan melalui hari-hari kehidupan dengan gambaran cerah masa depan kemanusiaan; kemanusiaan yang dilaksanakan secara adil dan beradab.

Sebagai mahasiswa, kita diamanahkah setidaknya untuk dua hal. Pertama, menyelesaikan akademik sebaik-baiknya; kedua, bersikap kritis dengan terlibat aktif; tidak mendiamkan kesalahan. Kedua hal tersebut bernilai kebaikan; dan kebaikan tidak dapat dibenturkan. Kebaikan mengandung kebenaran, dan kebenaran adalah kemuliaan. Sehingga, kemuliaan seorang mahasiswa terletak pada kemampuannya untuk menjalankan amanah kemahasiswaannya dengan sebaik-baiknya. Itulah mandat suci bagi kaum terdidik.

Maka, jangan biarkan almamatermu hanya digunakan saat perayaan ospek dan wisuda. Jadikan ia sebagai teman perjuanganmu. Saat kau menghadpi teriknya mentari di jalanan, sedang kau tetap memilih berteriak menolak segala bentuk kesewenangan dan ketidakadilan; jadikan ia sebagai pelindungmu ketika berhadapan dengan kezaliman; serta, jadikan setiap tetes keringat, peluh dan noda yang menempel di sana menjadi saksi atas perjuangan membersamai yang tertindas. Maknailah semua ini sebagai satu tanda kebersyukuran kita kepada Sang Pencipta atas kesempatan untuk hidup dan mengenyam pendidikan tinggi. Kita lah kelak yang akan menggantikan mereka yang kini berkuasa. Mempersiapkan diri menjadi pencerah bangsa dan memandu peradaban dunia baru.

Perlu dicatat, waktu kita hidup di dunia hanya sebentar saja. Kemarin kita lemah tak bisa baca-tulis-melawan. Kemudian, tak sempat bagi kita menikmati hari; waktu pun terus berjalan. Kita mendewasa dalam usia dan kian menua; kembali lah kita menjadi lemah. Kita tua-renta tak berdaya. Hanya mampu menyandarkan punggung ke kursi di pelataran rumah menunggu senjakala tiba. Apakah kita senang? Semua akan tergantung dari apa-apa saja yang dilakukan kita di masa produktif. Kita gunakan untuk bermain-main dengan keadaan atau memilih serius untuk berjuang bersama kemuliaan membela kebenaran. Hal itu yang menentukan, apakah hari tua kita akan diisi dengan meratapi penyesalan hidup; atau senyum kebanggaan yang tergurat diwajah hingga mempesona kehidupan.

Silakan Anda tentukan sendiri.