Menegakkan Kepala
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Monthly Archives: March 2018

Menegakkan Kepala

menegakkan kepala

Banyak diantara kita tertunduk dengan alasan merasa diri sudah kalah. Seolah harapan itu telah sirna. Banyak diantara kita berjalan dengan wajah murung. Seperti hidup kehilangan bahagianya. Satu hal: kita harus memiliki harapan. Dengan rundungan masalah yang kita hadapi, kita harus tetap memiliki harapan. Mengapa?

Begini. Dunia yang kita huni saat ini berpenduduk sekitar 7 milyar umat manusia. Mereka tersebar dari barat ke timur, utara ke selatan. Bayangkan saja, apabila 7 milyar umat manusia ini telah kehilangan harapan akan dunia yang lebih baik, bagaimana kita bisa menaruh harapan tentang masa depan? Wajah sumringah bumi menjadi tiada.

Disaat yang sama saya ingin berkata ‘sayang’. Yah, sayang bahkan teramat sayang kepada mereka yang menjadikan hidupnya tidak hidup. Sebatas dijalani dan sekadar menerima takdir. Padahal, hidup tidak sebercanda itu. Ada keseriusan yang membuat kita memilih untuk memperjuangkannya. Supaya kita sadar, bahwa dengan apa-apa yang kita miliki, itu semua harus kita syukuri. Sebab, masih ada loh penduduk bumi yang mereka meski makan sehari hanya sekali dan tak tahu esok mau makan apa, tetapi mereka tetap memiliki harapan. Mereka tetap berusaha untuk bisa bahagia dengan segala keterbatasan. Lalu, bagaimana denganmu yang hidup sempurna? Berasal dari keluarga berada?

Mari sobat, kita tegakkan kepala kita. Rebut takdir kita. Raihlah cita kita. Memang manusia ini terbatas, tapi bukankah perjalanan kita sedang menuju kepada Dia yang tak terbatas. Dan Dia yang tidak terbatas itu akan senantiasa membantu kita untuk menghadapi batasan-batasan kita saat menghadapi berbagai ujian kehidupan. Asalkan kita senantiasa menjadikan Dia tempat bergantung.

Mulai saat ini, berhenti mengeluh tiada guna. Jangan terlalu banyak mengutuk keadaan. Tegakkan kepalamu Sobat. Tegakkan. Saya tak ingin melihatmu kehilangan masa depan. Dan masa depanmu tak ingin melihatmu dirundung kegalauan. Kita memiliki seluruh persyaratan untuk optimis. Kita sehat, kita berpendidikan, dan kita bisa berbuat kebaikan. Sebatas itu syarat untuk kita bisa optimis.

Ayo, kita tegakkan kepada. Hadapi kehidupan!

 

Semoga apa-apa yang saya tuliskan ini mampu memantik hati kecilmu. Supaya kamu sadar bahwa hidup tidak selamanya menerima. Ada sebagian takdir yang harus kita rebut.

Siap Merawat Indonesia

Baktinusa 6

Oleh Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia – PM Baktinusa 6 Jogja

Hidup adalah pertempuran antara baik melawan buruk. Kondisi bangsa saat ini seolah menunjukkan, bahwa pertempuran itu dimenangkan oleh keburukan. Tentu saja hal ini menyesakkan dada ketika menyaksikan seonggok kemanusiaan terkapar. Rakyat melarat, merintih, dan ringkih. Sementara itu, banyak pemimpin kita hanya pikirkan citra diri, sibuk sana sini, lari dari tanggung jawab kemanusiaan. Dengan itu, Indonesia yang kita semai ibarat tanaman rusak tak terawat.

Merawat Indonesia artinya siap menjaga akal sehat untuk mencintai Indonesia kurang maupun lebihnya. Hal tersebut merupakan cita-cita mulia bagi setiap anak bangsa yang menginginkan tuk tolak melulu sikap mengutuk. Agar negeri ini selaras dalam gerak konstruktif, menutupi segala kekurangan diri.

Alhamdulillah, Allah izinkan saya mengenyam pembinaan di Beasiswa Aktivis Nusantara_sama halnya dengan beasiswa yang kudapat sebelumnya: Rumah Kepemimpinan_yang mana mengajak kita untuk berkolaborasi dan membentang kebaikan. Bukan tanpa sebab. Ide, gagasan, referensi, bahkan pendirinya pun lahir dari rahim yang sama dan sejalan dengan cita-cita membangun Indonesia yang berdaya; Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

Untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan kekuatan aliansi kepemimpinan strategis yang siap melayani kemanusiaan. Memang, jumlah alumni program ini terbilang masih sedikit, tetapi memiliki potensi, nyali, dan daya pikir diluar kotak. Untuk itu kita layak disebut sebagai “creative minority”. Namun demikian, kita mengemban amanah besar untuk memengaruhi “silent majority” agar berada bersama kita dalam barisan kebaikan. Tentu, kebaikan itu bukan sekedar penilaian etik pribadi semata melainkan buah amal perjuangan yang telah dirumuskan bersama nilai dasarnya: kemanusiaan. Sehingga, meskipun berbeda dalam cara, pastikan kita sama dalam cita.

Dengan ini, saya berterima kasih atas kesempatan dan kebersamaan. Kita telah menjadi saudara melewati batas pertemanan. Dan saya mengundang saudara seperjuangan untuk bertanggung jawab; siap merawat Indonesia. Saya siap! Kamu?

24 Februari 2018
22.11 WIB
Menitikan air mata, kemudian bahagia