Indonesia Pasca 2019
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Monthly Archives: May 2019

Indonesia Pasca 2019

Optimisme Indonesia

Perhelatan akbar Pemilu 2019 sudah di depan mata. Masing-masing kandidat sudah
mengeluarkan berbagai jurus andalannya untuk menarik simpati rakyat dalam setiap
kampanye. Kini, semua dikembalikan kepada rakyat, siapa yang layak untuk
memimpin republik ini lima tahun kedepannya.

Hanya saja perlu diingat bahwa negeri ini hadir bukan untuk sebagian, melainkan
milik seluruh rakyat. Artinya, jangan sampai ada rakyat yang merasa dirinya kalah
pasca pemilu. Tugas pemimpin, siapapun yang terpilih, ialah memenangkan
segenap hati rakyat dengan cara melakukan rekonsiliasi sekaligus mengupayakan
hadirnya negara ketengah masyarakat dalam pelayanan publik dan percepatan
pembangunan. Mampukah pemimpin terpilih melakukannya?
Masalah Bangsa Terkini

Banyak pihak memandang skeptis hal tersebut bisa terjadi karena setidaknya dua
alasan. Pertama, rakyat terpolarisasi karena perbedaan politik. Hal ini telah terjadi
sejak Pemilu 2014 dan menguat pada Pilkada DKI Jakarta 2017. Dahulu, bangsa
Indonesia terkenal menjunjung tinggi norma susila dan tata nilai keadaban. Seiring
berjalannya waktu dan tingkat modernitas, nilai-nilai etis itu meluntur. Bahkan,
seringkali dengan mudahnya kita menghakimi pikiran orang lain yang berbeda dan
memaksanya untuk berkehendak sama dengan apa yang kita pahami. Hasilnya,
setiap orang justru menanggalkan posisi “tengah” atau “titik temu” menuju masing-
masing “kutub” yang berlawanan.

Kedua, ada kegagapan memandang realitas, bahwa siapapun yang terpilih elite
tetaplah elite yang memiliki berbagai macam privilage. Seringkali kita memandang
para elite yang berkontestasi dalam kerangka berpikir vis a vis. Film Sexy Killer
(2019) membantahnya dengan bercerita dampak besar pertambangan batubara dan
PLTU terhadap masyarakat dan lingkungan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang
berasal dari kedua kandidat. Mereka sedikit-banyak terlibat dan berkontribusi atas
berbagai kasus yang merugikan masyarakat dan lingkungan. Belum lagi kasus-
kasus di sektor lain, seperti kelapa sawit, tambang pasir dan semen, reklamasi, dan
sebagainya. Maka, bagi sebagian kalangan yang jengah, “golput” dianggap sebagai
solusi.

Kedua alasan inilah yang membuat energi bangsa terkuras dan tidak tersalurkan
pada hal-hal yang lebih berguna terutama dalam upaya meningkatkan perbaikan
kualitas hidup rakyat Indonesia.

 

Menemukan Jalan Keluar

Melihat masalah bangsa terkini menunjukkan bagaimana ilmu dan praktek politik
tidak saling menyapa. Ada jurang kesenjangan antara “ilmu amaliah dan amal
ilmiah”. Perguruan tinggi sebagai benteng akal sehat yang berfungsi untuk
memvalidasi pikiran seolah gagal. Hal ini dapat dilihat dari masifnya para dosen
berteman dengan penguasa sembari mendaku dirinya fleksibel keluar-masuk
kekuasaan dengan dalih “jalan ketiga peran intelektual” (Lay, 2019). Sebab, pilihan
untuk sebatas masuk kekuasaan dan menerima jabatan atau berdiri diluar kekuasaan dengan mengkritisi sembari memaki kekuasan dianggap tidak lagi relevan.

Namun dalam pelaksanaannya, jalan ketiga ini hampir dikatakan mustahil untuk
dilakukan bukan karena para dosen kita tidak cukup memiliki kepekaan saja,
melainkan pengalaman telah berbicara demikian. Dengan melihat situasi bangsa
hari ini, kita lebih membutuhkan mereka yang mampu bersikap kritis dengan berani
berdiri memimpin dan bersuara untuk menguji berbagai logika pembangunan yang
dilakukan oleh penguasa. Bukan justru menjadi bagian kekuasaan yang malah
menyumbat mulut-mulut kritis seolah untuk mengatakan tidak ada masalah yang
terjadi.

Dalam keadaan seperti ini, bagaimanapun juga rakyat jangan terlalu naif: berharap
mendapatkan presiden ideal. Sejak dahulu politik Indonesia tidak pernah benar-
benar diisi oleh orang-orang yang bisa diharapkan. Dengan itu, kaidah yang dipakai
untuk memilih pemimpin ialah “yang paling sedikit keburukannya dari pilihan yang
tersedia”. Perlu adanya kerangka berpikir alternatif dalam mengobati masalah
bangsa yang akut. Dengan ini, mari membayangkan “Indonesia Pasca 2019”.

Indonesia Pasca 2019 adalah langkah taktis untuk memperbaiki negeri sekaligus
meningkatkan kaidah memilih pemimpin agar yang terpilih adalah mereka yang
benar-benar terbaik, sehingga bisa diharapkan. Pertama, memberi kesempatan
kepada siapapun pemimpin yang terpilih untuk melakukan rekonsiliasi bangsa dan
melunasi janji-janji politiknya disertai oleh masyarakat yang berdaulat untuk
mengkritisi kebijakan negara. Penegakan hukum tanpa pandang bulu; peningkatan
kualitas pendidikan dan kesehatan; serta penyediaan infrastruktur dan lapangan
pekerjaan menjadi hal yang harus dikebut.

Kedua, harus ada perubahan cara berpikir, bahwa berkontribusi untuk bangsa bukan
hanya dalam urusan politik dan pemerintahan saja. Masih ada panggung-panggung
rakyat lainnya untuk direbut, seperti ekonomi, budaya, penegakan hukum,
keteknikan, pendidikan, teknologi, kesehatan dan sebagainya, sehingga pentas yang
ditampilkan dapat memukau hati rakyat. Sederhananya, para orangtua dirumah
bertugas untuk memfasilitasi mimpi-mimpi anak-anaknya dengan mengenali potensi
diri yang dimiliki.

Ketiga, memastikan kaderisasi kepemimpinan bangsa terlaksana dengan baik.
Munculnya berbagai beasiswa kepemimpinan dari berbagai lembaga yang
diperuntukkan bagi mahasiswa, seperti Rumah Kepemimpinan, Beasiswa Aktivis
Nusantara, dan Kader Surau telah memberikan harapan tentang pentingnya
mempersiapkan kepemimpinan lintas sektor. Input yang baik melalui seleksi
mahasiswa-mahasiswa terbaik ditambah dengan proses pembinaan di asrama
dengan berbagai materi penunjang bersifat keagamaan, ideologi dan sejarah
bangsa, kajian kontemporer serta kontribusi masyarakat membuat mereka lebih
tangguh dalam menghadapi tantangan.

Melalui ketiga jalan inilah, kita bisa berharap akan lahirnya pemimpin-pemimpin
strategis yang berkapasitas dan mampu berkolaborasi untuk membangun titik temu.
Semoga Tuhan YME melindungi bangsa ini.

Kolaborasi Kebaikan: Dari Konsep Menuju Praktik

Kolaborasi Kebaikan: Dari Konsep Menuju Praktik

Apa yang kamu dambakan dari kehidupan ini? Mengubah dunia atau yang paling sederhana: mengubah diri sendiri.

Saya teringat dengan pesan Rumi, Yesterday I was clever, so i wanted to change the world. Today I am wise, I want to change my self”. Artinya kurang lebih begini, “Kemarin saya seorang yang pintar, sehingga saya ingin mengubah dunia. Hari ini saya ialah seorang yang bijak, saya ingin mengubah diri sendiri”.

Kalimat diatas juga membangkitkan saya pada memori kata-kata yang pernah saya baca sewaktu usia dini dan kata-kata itu sampai kini diperdengarkan kepada khalayak. Konon ada seorang Uskup Anglikan yang sudah meninggal pada tahun 1100 AD. Beliau dimakamkan di Westminster Abbey, sebuah gereja tempat tradisional penobatan raja dan ratu Inggris dan juga pemakaman, dan pada nisan Uskup itulah ditemukan kata-kata berbunyi:

“When I was a young man, I wanted to change the world. I found it was difficult to change the world, so I tried to change my nation. When I found I couldn’t change the nation, I began to focus on my town. I couldn/t change the town and as an older man, I tried to change my family. Now, as an old man, I realize the only thing I can change is myself, and suddenly I realize that if long ago I had change myself, I could have made an impact in my family. My family and I could have made an impact on out town. Their impact could have changed the nation and I could indeed have changed the world”.

Kalimat diatas sebenarnya serupa dengan yang disampaikan Rumi. Menceritakan keinginan anak-cucu Adam untuk bagaimana bisa melakukan perubahan. Namun, pertanyaannya, perubahan itu untuk siapa? Apakah kita memilih menjadi seorang yang cerdas atau bijaksana? Apakah kita mesti tua terlebih dahulu supaya menyadari bahwa semua itu dimulai dari mengubah diri sendiri? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menumpuk dalam pikiran dan meminta kita untuk segera menjawabnya.

Saya ingin menyampaikan diawal ini, bahwa hidup manusia itu bukanlah pilihan ganda yang mana jawabannya sudah tersedia dan kamu hanya perlu memilih satu jawaban benar. Kalau tidak A berarti B; kalau bukan B maka C; terus sampai pilihan ganda itu berhenti pada E. Terbatas pada lima opsi saja. Namun, bukan begitu cara kerja hidup ini. Saya membayangkan bahwa hidup manusia itu adalah soal essay yang mana jawabannya harus ditemukenali melalui pendekatan masing-masing. Seseorang perlu menarasikan jalan pikirnya melalui pengalaman diri maupun orang-orang disekitarnya, mencaritahu dari berbagai macam sumber dan beragam cara untuk memastikan bahwa setiap pertanyaan yang diajukan kepada seseorang, meskipun sama, akan memiliki jawaban yang berbeda antara satu dan lainnya. Hal inilah yang membuat kita bisa melihat lebih jelas bahwa dunia yang kita huni saat ini jauh lebih indah dan bermakna.

Dengan pertanyaan yang diajukan diawal, sekiranya saya bisa membingkai bahwa setiap dari kita berhak mendambakan sesuatu dari kehidupannya didunia ini. Ada yang mendambakan harta, tahta, pasangan ideal. Seluruh idealita, yang berisi tentang kebaikan-kebaikan dalam imajinasi seorang individu, menjadi ambisi. Ambisi ialah hasrat yang besar untuk memiliki; dan tidak ada yang salah dengan ambisi. Justru karena ambisi itulah yang membuat seseorang bisa menjaga eksistensinya dan hidup. Hanya perlu diperhatikan, seberapa komitmen kita menjalani ambisi dan kita perlu tahu di mana kita memiliki ‘batas’.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Kalaulah anak Adam (manusia) tekah memiliki dua lembah dari harta, niscaya dia masih berambisi untuk mendapatkan yang ketiga. Padahal (ketika ia berada di liang kubur) tidak lain yang memenuhi perutnya adalah tanah, dan Allah Maha Mengampuni orang-orang yang bertaubat”. Sabda ini mengingatkan kita supaya manusia itu mengenal batas. Ia dibekali akal dan fikir agar bisa menjangkau sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Adanya mesin uap, pesawat, komputer sampai kita tiba di era internet of things. Ketika kita menengok kebelakang kita sadar bahwa ada banyak sekali perubahan yang dialami oleh dunia, namun sifat-sifat jahiliyah manusia sepertinya belum berubah: tamak, sombong dan tak tahu batas.

Jangan kita lupa, bahwa hakikat manusia itu terbatas dan perjalanan hidup manusia itulah yang hendak menuju kepada akhir; kepada Dia yang tidak terbatas, Allah Swt. Artinya, perjalanan kita didunia ini ialah sementara. Karena ‘sementara’ dan ‘terbatas’ itulah kita harus mempersiapkan sebaik-baiknya bekal untuk kehidupan yang abadi.

Dititk inilah saya ingin membawa ambisi pribadi. Saya yakin ambisi pribadi ini akan menjadi ambisi yang didukung oleh semesta; sebagai bekal saya—dan juga mereka yang percaya—bagi kehidupan yang kekal. Saya mengajukan gagasan “Kolaborasi Kebaikan” untuk saudara/i pembaca terima. Begini. Hidup merupakan pertempuran antara baik melawan buruk. Apabila kamu ingin kebaikan menang, maka tugas kita ialah memperjuangkan kebaikan. Sebab, diluar sana, ada pula mereka yang sedang berkolaborasi, tetapi mereka berkolaborasi dalam keburukan.

Dalam QS. As-Syams: 8 Allah Swt menyampaikan tentang“faalhamaha fujuro ha wa taqwa ha”, bahwa hanya ada dua jalan yang bisa dipilih oleh manusia: jalan fujur (melanggar, membantah, tidak taat, fasik, buruk) dan jalan taqwa (taat, patuh, nurut, baik). Secara alamiah, setiap dari kita menginginkan kebaikan itu melekat dalam diri kita. Namun, seiring berjalannya waktu kita tumbuh dewasa, bertemu dan berkenalan dengan banyak orang, bergaul sampai menetap. Dalam proses itu kita bisa jadi berproses dalam situasi yang tak mudah, diisi oleh orang-orang yang mayoritas mengajak kita pada jalan fujur. Apabila tidak kuasa kita melawannya, maka kita terjebak dan malah ikut serta didalam jalan itu. Tetapi sebaliknya, apabila kita meyakini bahwa kita adalah orang-orang yang memilih jalan taqwa, maka seberat apapun tantangannya, Insya Allah, kita akan selalu berusaha untuk memastikan bahwa diri kita berada dalam kebaikan. Untuk memastikan hal itu, maka kita butuh bersama. Kita butuh untuk berjamaah.

Islam mengajarkan kepada kita tentang urgensi berjamaah. Sebab, berjamaah itu adalah suatu kebutuhan bagi persatuan umat. Didalam Islam itulah, kita menemukan ukhuwah atau solidaritas atas nama persaudaraan sesama muslim. Yang saling menguatkan, saling mengingatkan, saling menautkan hati bahkan saling merapalkan nama saudara seimannya didalam doa. Bayangkan saja, ketika ibadah kita, misal dalam shalat dilakukan secara berjamaah maka pahalanya akan menjadi 27 kali lipat dibandingkan munfarid. Dititik ini, bagi saya berjamaah itu berkolaborasi; dan kolaborasi itu sendiri adalah kata kunci untuk melakukan kerja-kerja kebaikan besar.

“Kolaborasi Kebaikan” itu sendiri adalah hasil saya mentadaburi QS. Al Maidah: 2: “…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siska-Nya”. Dalam ayat ini, Allah Swt menyeru kita untuk tolong-menolong atau yang dalam bahasa kekinian disebut sebagai ‘kolaborasi’, tetapi kolaborasinya khusus dalam kebajikan dan taqwa saja. Disinilah pintu masuknya “Kolaborasi Kebaikan” sebagai suatu konsep. Lalu, bagaimana mempraktikkannya?

Dalam praktiknya, “Kolaborasi Kebaikan” dapat dijelaskan dalam beberapa langkah berikut:

Pertama, sebagai manusia kita harus menyadari hakikat kita yang lemah dan bodoh dimata Allah Swt. Sebab, kita hanyalah makhluk dan tak ada satupun yang bisa kita banggakan dan tinggikan dihadapan Allah Swt. Tetapi, manusia diberikan Allah Swt akal untuk bisa melampaui kelemahan dan kebodohannya itu dalam rangka mendekati Allah Swt. Maka, dalam pandangan optimistik Allah Swt terhadap manusia seperti tergambar dalam QS. Al Baqarah: 30 bahwa manusia mendapatkan mandat sebagai seorang pemimpin. Barangsiapa yang menggunakan akalnya itu untuk melaksanakan mandat Allah Swt dengan sebaik-baiknya, maka ia tergolong orang-orang yang berhasil mendekati Allah Swt dalam kebaikan. Sementara mereka yang gagal, tak ubahnya mereka dengan posisi semula sebagai makhluk yang bodoh dan lemah.

Kedua, dengan segala potensi yang dimiliki, ditambah pula dengan mandatnya sebagai pemimpin dimuka bumi, maka manusia harus mengupayakan dirinya untuk menjadi pribadi hebat. Ciri-ciri pribadi hebat itu antara lain: memiliki nilai-nilai spiritualitas, integritas, cendekia, transformatif, dan melayani sesama.

Ketiga, dalam mengemban amanahnya itu manusia perlu mengaplikasikan “Kolaborasi Kebaikan”. Bahwa ini adalah jalan yang harus ditempuh dalam rangka memperjuangkan kebaikan dengan mengajak sebanyak-banyaknya orang untuk menjadi agen kebaikan.

Keempat, kita juga harus melangkah jauh kedepan menjadi seorang “intelektual penggerak”, yakni intelektual yang tidak hanya berdiri di atas menara gading. Cara kerjanya seperti seorang aktivis, selain dengan memperkuat literasi dan berjiwa qur’ani, kita pun memilih ikut serta melalui jalan membumi dengan menjadikan ilmu sebagai alat perjuangan. Sebab, kita akan sadar bahwa ilmu itu seharusnya diamalkan, dan amal itu seharusnya ilmiah. Dengan demikian, ilmu tidak seharusnya menyerah pada keadaan sulit. Ilmu itu memihak, ilmu itu memperjuangkan sesuatu.

Kelima, setelah persiapan di atas beres, kita melangkahkan kaki; berhijrah dari medan kata-kata ke medan juang. Disanalah letak perjuangan sesungguhnya: nahi munkar. Apabila selama ini kita baru terbiasa dengan amar makruf, maka perjuangan kedepannya ialah kita harus nahi munkar.

Keenam, sebagai langkah taktis yang terakhir kita harus bisa menjadikan bangsa Indonesia ini, yang dihuni oleh mayoritas umat muslim ini sebagai bangsa yang mampu memimpin peradaban dunia. Kita tidak semestinya mengekor apalagi mengembik pada bangsa-bangsa asing. Kita harus menjadikan diri kita sebagai manusia paripurna atau Insan Al Kamil, kemudian menikah dan membangun keluarga, membangun masyarakat yang berkeadaban mulia, selanjutnya meluruskan kiblat bangsa dengan menjadikan Indonesia sebanga bangsa yang bermartabat dan kita bisa memberikan nasihat pada dunia dengan menjadi seorang negarawan dunia.

Barangkali langkah-langkah taktis ini yang harus kita lakukan sesegera mungkin. Seperti Hasan Al Banna sampaikan, tentang konsep maratibul amal, maka perjuangan harus dimulai dari diri sendiri, meningkat dan berakhir pada tatanan dunia yang lebih baik. Bukankan ini dambaan kita semua? Tentang kehidupan yang lebih baik dan beradab. Mari kita upayakan bersama, saudara!