Belajar Dari Mahasiswa Papua
Kritis & Berani Bersikap

Monthly Archives: November 2019

Belajar Dari Mahasiswa Papua

Pendampingan dari Gugus Tugas Papua UGM Kepada 9 Mahasiswa UGM Asal Kabupaten Mappi, Papua

Sebagian besar masyarakat memiliki persepsi negatif terhadap mahasiswa asal Papua. Mereka digambarkan sebagai orang yang memiliki ciri-ciri, antara lain: kulit hitam, rambut ikal-kribo, ekspresi muka yang kaku, dan cenderung tidak berbaur dengan masyarakat. Mereka juga digambarkan sebagai orang-orang yang tertinggal dan kerap membuat onar. Sementara itu, bagi mahasiswa Papua, mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari masyarakat dan aparat keamanan seperti intimidasi, pengeroyokan, hingga berbagai aksi kekerasan yang menimpanya merupakan pengalaman hidup yang memilukan.

Apa yang terjadi di Papua hingga saat ini adalah implikasi sikap kita kepada saudara asli Papua. Berbagai konflik dan tragedi kemanusiaan hadir seolah tiada henti. Melihat kondisi tersebut, dapat dipahami bahwa mendudukan persoalan mengenai Papua secara bijak menjadi tantangan tersendiri bagi para pemangku kebijakan. Perdebatan mengenai apakah Papua hanya sebatas terintegrasi secara politik dengan NKRI, sedangkan sektor sosial-budayanya belum masih mencuat melalui bilik-bilik diskusi. Namun demikian, fakta empiris menunjukkan Papua menjadi bagian tidak terpisahkan dari NKRI. Sehingga, tanggung jawab untuk “menghadirkan negara” ke tengah masyarakat Papua dalam bentuk pelayanan dasar yang salah satunya adalah akses terhadap pendidikan harus terpenuhi. Pendidikan sebagai hak atau sesuatu yang sifatnya pemberian tanpa harus meminta pada kenyataannya harus direbut sendiri. Persoalan menjadi semakin kompleks ketika dibeberapa tempat masyarakat menolak kehadiran mahasiswa Papua untuk bertempat tinggal dilingkungannya.

 

Prospek Mahasiswa Papua

Secara ringkas, Jared Diamond (2012) sedikit banyak mengulas tentang Papua dalam karyanya yang berjudul “The World until Yesterday”. Menurutnya, masih ada kehidupan masa lalu yang nyaris hilang namun masih ada dalam peradaban masa kini; dan itu dapat ditemui di Papua. Keadaan tertinggal dalam berbagai aspek kehidupan modernitas memang dirasakan betul oleh masyarakat Papua. Oleh sebab itu, mengirimkan anak-anak mereka untuk berkuliah ke Kota Pelajar, seperti Yogyakarta, Surakarta, dan sebagainya adalah salah satu upaya untuk mengejar ketertinggalan tersebut.

Dengan mengakses pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi akan membuka peluang seseorang untuk melakukan suatu mobilitas vertikal dalam kehidupannya. Hal ini sangat logis karena pendidikan sejatinya bukan sebatas untuk seseorang mendapatkan pekerjaan, melainkan sebuah ekosistem untuk mengubah peradaban bangsa. Sehingga, perlu dipahami bahwa setiap orang terlahir dengan potensinya masing-masing, dan tidak terkecuali para mahasiswa Papua. Banyak di antara mereka memiliki keahlian berburu, memancing, mendayung, olahraga, dan seni serta segala kemampuan untuk bertahan hidup meski dalam keterbatasan.

Apabila tolak ukur kecerdasan ialah modernitas, maka selamanya anak-anak Papua akan tertinggal. Tetapi, lihatlah sisi yang lainnya di mana para mahasiswa Papua sebenarnya menawarkan alternatif cara pandang hidup kita terhadap dunia. Life must go on! Ketiadaan listrik, terbatasnya fasilitas pendidikan dan kesehatan, minimnya akses jalan yang memadai hingga permukiman yang terisolir dari teknologi mutakhir membuat siapapun yang hidup didalam kemudahan zaman seharusnya patut merasa bersyukur.

Prospek semacam inilah yang seharusnya muncul ke permukaan dari mahasiswa Papua, sehingga mampu mengubah persepsi masyarakat terhadap mahasiswa Papua menjadi lebih baik. Mereka bisa mengenyam pendidikan di kampus pulau Jawa adalah ikhtiar yang tidak mudah. Kemampuan berempati terhadap sesama anak bangsa harus menguat. Harapannya, perbedaan antara “dunia hari ini” yang diisi dengan kemajuan teknologi dan “dunia kemarin” yang tradisionalistik membuat kita lebih bijaksana dan menghargai kehidupan. Disaat bersamaan, ada kesadaran kolektif untuk mengejar ketertinggalan dan berfokus pada perbaikan pembangunan manusia Papua.

 

Langkah Perbaikan

Perlu adanya ruang diskusi secara khusus dan intensif antara masyarakat dan mahasiswa Papua. Kampus seharusnya bisa menjadi jembatan di antara keduanya. Seperti yang dilakukan oleh Gugus Tugas Papua (GTP) UGM, sebuah unit kerja-pengabdian yang secara khusus menangani isu-isu Papua. GTP UGM memiliki keyakinan bahwa mahasiswa asal Papua pada prinsipnya sama dengan mahasiswa lainnya. Mereka memiliki prospek yang sama untuk maju dan berkembang serta mendapatkan masa depan yang lebih baik.

Langkah perbaikan ini dimulai sejak tahun 2016 dengan penerjunan Guru Penggerak Daerah Terpencil (GPDT) untuk mengajar SD sampai SMA di Kabupaten Puncak, Intan Jaya dan Mappi. Disaat bersamaan, ada 21 calon mahasiswa asal Mappi yang dikirim ke Yogyakarta dan mendapatkan pembinaan secara intensif. Sebagian di antara mereka diterima di UGM dan mendapatkan pendampingan hingga lulus. Program ini diinisasi oleh GTP UGM dan beberapa Pemda di Papua untuk mengejar ketertinggalan. Hasilnya, pembangunan manusia di Papua terus mengalami kemajuan. Hal ini dapat dilihat melalui Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Papua mencapai 60,06; meningkat 0,97 poin dibandingkan tahun 2017. Dengan ini, IPM Papua berubah status dari kategori “Rendah” menjadi “Sedang”. Capaian ini diharapkan terus meningkat seiring meluasnya penerimaan masyarakat terhadap mahasiswa Papua yang belajar di Kota Pendidikan. Yang terpenting, tugas kita sebagai bangsa adalah membuka diri dan berempati.