4 Juni Yang Melelahkan
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

4 Juni Yang Melelahkan

Big Family RK Jogja

04 Juni adalah hari yang cukup melelahkan. Lelah secara saya baru pindah ke kontrakan di Grha Palem Indah di Jakal KM 7. Barang-barang baru tapi bekas seperti meja, lemari baju dan rak buku yang kemarin saya beli baru sampe tadi sekitar jam 10 pagi. Kamar yang tadinya berantakan, mirip kapal pecah, harus disulap dalam waktu satu jam agar bersih-mewangi. Saya tata letaknya satu persatu dengan membangun suasana kamar yang mendukung saya untuk nyaman belajar dan membaca. Meski dengan bertelanjang dada, mirip kuli bangunan; Alhamdulillah, jam 11 tadi beres.

Rasa-rasanya sudah pas. Tapi jujur, ingatan saya pada kamar yang lama masih belum pindah. Kepada kasus, bantal dan guling yang menemani tidur; juga kepada meja belajar dengan tumpukan buku dan lantai yang penuh dengan kertas-kertas fotokopian materi kuliah. Juga orang-orang macam Asyrin yang sering saya “jahilin” dan Naufal yang “super sibuk” pasca jadi Menteri BEM KM UGM.

Terus terang, sebagaimana hidup, pasti kan terus menemui kisahnya. Bagi saya, hari ini bukan lelah secara fisik karena beberes tadi. Tapi secara hati dan mental yang harus melepas semua kebiasaan bersama di asrama. Hidup komunal yang saya idamkan sedianya telah hadir di sana. Sering saya bilang, saya ini takut sendiri, dan saya tidak mau sendiri. Makanya, pasca asrama pun saya memilih tuk mengontrak dengan beberapa teman-teman se-asrama supaya masih ada rasa yang tertinggal.

Saya kemudian kemasi barang-barang ke koper pinjaman dari ozan. Saya pinjam karena saya harus menempuh perjalanan panjang yang panjang. Dari Jogja ke Jakarta sehari, kemudian pamit cipika-cipiki dengan orangtua, adik, nenek, dan tetangga karena tidak bisa berpuasa dan lebaran dirumah. Setelah itu, Senin malam berangkat menuju Hongkong mengikuti pelatihan kerelawanan bersama Mounda (Biologi UI ’12) dengan transit terlebih dahulu di Singapura selama 15 jam. Barulah setelah itu terbang ke Hongkong. Setelah kegiatan itu beres, saya tidak pulang. Saya lanjutkan lagi mengabdi di Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Kira-kira, saya balik ke Yogyakarta sekitar tanggal 8 Agustus, yang artinya sudah masuk tahun ajaran baru.

Senang sekali mendapat kesempatan ini, yang merupakan kali keduanya ke Hongkong dan Singapura dengan biaya gratis. Dahulu, tahun 2011 saya dibiayai oleh PT. Newmont Pasific Nusantara untuk mengikuti ajang bergengsi “JA Company of The Year-Asia Pacific Region”. Saat ini, saya dibiayai oleh Dompet Dhuafa dengan misi berbeda: kemanusiaan.

Waktu yang panjang, di mana tidak bisa mengikuti ramadhan bersama dengan teman-teman di Jogja. Biasanya, kita muter keliling masjid untuk cari bukaan; atau shalat tarawih dengan mencari penceramah yang menarik. Tapi kini, tahun ini tidak bisa. Ada hal lain yang harus saya tunaikan. Semoga saya tetap terjaga.

Meskipun demikian, pikiran saya masih tertuju pada asrama beserta orang-orang yang ada didalamnya. Saya belum bisa move on. Saya belum sempat menyalami satu per satu teman-teman. Bahkan, Mas Adi yang seharusnya mengantar ke Stasiun batal dan digantikan oleh Fajar. Terima kasih lah kepada Fajar.

Kamar di Asrama masih menyisakan beberapa hal selain kenangan. Ada mie sedap, wedang jahe, notes, kalender dan—yang paling aneh mungkin—layangan beserta benangnya. Tapi mesti, kenangan yang tertinggal dan masih membekas dihati, dikala melihat teman-teman yang lelah karena aktivisme di Kampus kemudian terlelap tidur dengan mulut menganga sekaligus ngorok. Ataupun juga ketika misalnya rapat-rapat yang membentuk lingkaran ditemani kue dan bisik-bisik, serta senyum merekah dibibir. Kadang disitu saya melirik, melihat sekeliling. Ada yang fokus, pegang hp, dan saling melirik, eh. Tapi, semua akan terkenang.

Tepat 14:30 WIB, kereta berangkat. Saya mohon pamit di grup WA Nasri7 untuk pergi lebih dulu. Do’a-do’a mengalir. Kita memang tidak saling bertatap wajah dalam dua bulan ke depan. Tapi, kita masih bisa bersua. Semoga, kita bertemu dalam keadaan yang lebih baik ke depan. Aamiin.

 

Saudaramu,

Alfath Bagus P.E.I

Kroya, 17:37

Comment (2)

  • Fitri Hasanah Amhar - June 4, 2016

    Kebersamaan adalah saat kita memperjuangkan hal yang sama bukan menghabiskan waktu bersama.-Mbak Tika, sebelum masuk asrama di 2014; meskipun saya juga masih susah merasakan momen2 keterpisahan ini

    semangat fath, fii amanillah. semoga terjaga seperti harapannya.

    btw nyari perabot bekas itu di mana fath?

  • Leave a Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *