4 Tahun Sekali
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

4 Tahun Sekali

tahun-kabisat

Maaf, dalam beberapa hari tak menulis. Bagi saya, menulis adalah memberi kabar. Ada sesuatu yang harus diberitahukan, entah seberapa genting, nyaring, atau bisingnya hidup yang saya alami.

Namun, ada yang lebih penting. Menulis adalah laku yang membedakan makhluk pra sejarah dan sejarah. Suatu keharusan untuk mendokumentasikan hidupmu agar tak dijadikan candaan, hingga bahkan tenggelam; tertelan dimakan zaman.

Narasi kehidupan berjalan lebih cepat dari dugaan saya; juga mungkin kamu. Tak berasa, kini saya sudah beranjak dewasa. Persoalan hidup yang dahulu saya ingat betul hanya sebatas mengurusi urusan belajar sepulang sekolah, main bola di gelanggang, atau yang paling ekstrem tawuran dengan sekolah lain. Di sini jelas, musuhnya sebatas melawan bentuk fisik: pekerjaan rumah, adu skill bermain bola, dan juga adu jotos. Tapi, kini tidak seperti itu. Sekarang, lebih kompleks. Saya menghadapi tantangan yang jauh lebih besar.

Tantangan hidup berjalan seiring berkembangnya usia. Jelas. Dewasa ini saya harus menghadapi sekelumit persoalan yang membuat saya harus pandai-pandai memanajemen waktu. Dibutuhkan di sana, sini. Kemudian, harus berbagi waktu antara akademik, asrama, organisasi, keluarga, Ibadah, dan segenap kegiatan lainnya. Perlu diingat, hidup saya bukan untuk dunianya dan segala keinginannya.

Adapun yang menjadi persoalan yang paling membuat saya rajin-rajin mengelus dada adalah bukan cinta. Ini soal politik. Kau tahu, suatu ketika saya pernah menulis tentang “berpolitik dengan cinta”. Saya katakan politik sebagai sesuatu yang indah karena di dalamnya mengandung kebaikan. Karena urusan kepublikan dimulai dari biaya berobat, harga bensin, pencegahan terorisme, biaya UKT, semua adalah persoalan politik.

Namun, seiring berjalannya waktu, politik dimaknai negatif. Seperti, pembegalan uang negara, sekedar mencari kuasa, dan beragam kejahatan tingkat akut yang mendera bangsa ini. Itu pun sebab politik. Lantas, persoalan yang kini saya hadapi adalah bagaimana caranya berlaku adil dalam perkataan dan perbuatan.

Punya ilmu ya membuat saya semakin bijak. Sebab, bukan hanya filsuf saja. Menghadapinya memerlukan usaha penyadaran yang tak berbalut emosi. Usia-usia seperti belasan yang beranjak kedua puluhan meminta kita untuk terus mencari, siapa jati dirinya. Bahkan, usia sekaliber 30an ke atas pun masih ada yang krisis identitas, koq.

Dugaan saya, melihat apa yang dilakukannya, menunjukkan upaya agar dirinya diakui keberadaannya, idenya, tampilannya. Menjadi berbeda dengan orang lain yang diidentifikasikannya karena suatu alasan semisal membenci latar belakang, atau sekedar menjadikan ini terlihat problematik. Terlepas dari itu. Saya memandang sah-sah saja. Bahwa dunia yang digambarkannya yang paling ideal sebatas itu.

Ingat, dalam berbicara, bertindak, ada sesuatu orientasi. Jika diorientasikan seluruh tindakannya terkhusus pada Allah Swt, maka tak akan ada merasa diri sia-sia dalam menjalankan. Berbeda dengan nafsu. Jika tidak seperti yang ideal digambarkannya, ia akan terus meminta lebih dan lebih. Dan tahukah kamu tentang nafsu? Hal yang utama yang dimiliki seorang binatang. Manusia juga punya nafsu. Tapi, ada akal yang telah mencerap ilmu. Dengan ini, kita bisa mengendalikan nafsu.

Saya katakan, dalam berbagai hal. Orientasi saya dalam menjalankan keseharian terbatas pada Allah Swt saja. Termasuk berpolitik (kampus). Bagi saya, berpolitik dengan cinta dapat mempertemukan hati-hati yang tercerai-berai, merangkul orang-orang yang ternafikan dan mengajak sekaligus menyatukan kelompok-kelompok yang terkotak-kotak.

Saya sudah melakukannya. Tapi, jika masih belum banyak orang tersadarkan dengan alasan membenci siapa saya atau lainnya. Saya akan tetap mencintainya. Sebab, saya tahu konsekuensi atas pilihan yang saya ambil saat ini dan bahkan sudah diingatkan jauh hari sebelum saya berada di posisi saat ini. “Politik itu bising”. Tentu, saya sudah kebal dengan orang berbisik atau berteriak apa. Saya akan tetap melaju dengan melibatkan satu: KuasaMu.

Bismillah…untuk hari ini, ditanggal yang hanya datang 4 tahun sekali, esok, dan bahkan seterusnya.

Maaf, tidak ada korelasi judul dengan isi yang begitu kuat. Saya hanya ingin berbagi keresahan.

Tolong, kuatkan saya.

 

23:05 WIB

Politik itu Bising

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *