Ada Cahaya
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Ada Cahaya

Lorong Kelas

Setiap kata yang terucap adalah do’a. Mama selalu begitu, menasihati dengan lemah lembut. Soal kata, memang bisa dibilang agak runyam. Bayangkan, untuk sekelas saya yang menulis “jangan reaktif zzz” bisa ditafsirkan yang aneh-aneh. Padahal pesan saya satu: budayakan tabayyun. Tabayyun adalah upaya untuk mencegah kebebalan. Dan sebenarnya, kata kemudian akan dikembalikan kepada si penafsir, kalau tidak segera ditetapkan oleh si empunya maksud. Bahkan untuk kata yang sudah jelas pun sering kali di ngeyeli.

Barangkali memang sulit untuk hidup dalam era yang semaunya dewek. Hidup yang gak mau ada aturannya. Dalihnya kebebasan. Padahal untuk negara penganut demokrasi yang menjunjung kebebasan sekalipun, yang namanya bebas pasti tak bebas. Akan selalu ada batasan. Bahkan ketika saya bersikap bebas sekalipun dan dinilai saudara mengganggu kebebasan saudara, maka saya tidak bebas.

Kita akan sangat mudah dihancurkan oleh isu remeh-temeh seperti ini. Jelas, kita harus melampaui keremeh-temehan ini dengan sikap ksatria. Tak pandai mengeluh, meminta iba, dan mengharap semua akan mudah. Justru dengan ini kita akan berpeluang menjadi lebih kuat, lebih hebat karena kadar diri kita bukanlah yang biasa.

Kajian bersama Ust. Syatori tanggal 31 Desember lalu menjadi penting. Saya terngiang-ngiang bahkan dan berupaya untuk melaksanakannya. Bahwa untuk bisa mengalahkan nafsu, entah itu marah, kesal, benci, atau tak suka, maka saya harus mendamaikan akal, hati dan jiwa. Ketiganya harus saling terintegrasi. Mengawali hidup dengan menjadi orang baik, menjalaninya dengan benar, dan menyudahinya dengan kemuliaan. Kata kunci: baik, benar dan mulia. Saya kira ini pesan untuk kita semua.

Roda akan selalu berputar. Orang sejahat Umar saja bisa pada akhirnya menjadi pembela Islam yang terdepan. Dan saya pun selalu mendo’a kepada Allah Swt supaya orang-orang yang selama ini nyinyir, dengki, dan suudzon dengan jalan dakwah yang saya laksanakan di Kampus ini bisa segera mendapat hidayah. Allah lah yang Maha Membolak-balikkan hati. Yang tak suka pun kalau sudah Kun Fayakun, terjadi maka terjadilah, kau akan cinta pada jalan dakwah ini.

Saya tak suka dengan mengutuk kegelapan. Alangkah bersih dan mulianya ketika kita menilai bahwa akan selalu ada cahaya yang menyinari jalan ini. Dulu yang kau sebut kota adalah hutan juga yang dipenuhi tumbuh-tumbuha lebat. Namun, kemudian ada yang berani mendobrak dan menjadikan itu sebagai tempat tinggal, menetap dan beranak pinak hingga terjadilah kehidupan. Dan saya pun sangat berharap ke depan akan selalu ada orang yang berani mendobrak nurani kebencian itu. Ini soal kegagalan kita dalam membangun titik temu, kawan.

Dengan itu, saya akan sangat bersenang hati, bahkan tanpa kau minta pun aku rela dan mau untuk hadir mendengar dan melaksanakan amanah yang dilandasi niat baik. Tak ada satu pun yang kemudian merasa tersakiti pada akhirnya ketika kita sudah berupaya untuk saling mengenal. Sebab, terang itu siang dan gelap itu malam. Namun keduanya bisa hidup berpasangan dan saling mengisi. Bisakah kau mengisi peran yang tak bisa kuiisi, lalu sama-sama kita berjuang pada tujuan yang sama, untuk Indonesia yang mulia, yang lebih baik dan bermartabat?

Ini bukan tentang hari ini saja, kawan. Ini adalah ruang pembelajaran yang bagi saya terlalu berharga untuk tidak dimaksimalkan. Menutup ruang adalah kesalahan pertama, dan kesalahan selanjutnya adalah membiarkan orang lain memainkan peran yang sebenarnya ia tak mampu melakukannya. Yakinilah, orang-orang baik yang berkapasitas dan berkesempatan itu tidak mudah untuk diketemukan. Ini soal momentum untuk menggelar kebaikan.

Mari bersatu padu, karena sekali lagi, akan ada cahaya yang menerangi jalan kita.

Semoga kata-kata ini menggubris nuranimu. Sebab saya mencintaimu, bahkan sebelum mengenalmu.

 

Sekre,

Dalam Kesendirian Malam

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *