Agama dan Fenomena Salah Sambung
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Agama dan Fenomena Salah Sambung

PK_poster

Ada yang menarik dari kelas Sosiologi Agama kemarin pagi (01/04). Kelas tak diisi dengan khotbah  atau ceramah seperti biasanya. Kelas kemarin tampak begitu menyenangkan karena hanya menonton satu film berjudul PK. Karena sepertinya sudah banyak yang tahu terkait film ini, sehingga saya tak perlu lagi menjelaskannya.

Secara sederhana, film ini berusaha menjelaskan terkait dengan cara manusia yang menafsir Tuhan dengan beragam cara. Semua ini dapat dilihat ketika mereka ber-ibadah atau pun melakukan ritual untuk dapat berkomunikasi dengan Tuhan.

Selain itu, film ini juga berusaha mengkritik praktik-praktik agama yang dalam istilah Soekarno disebut “sontoloyo”. Para tokoh agama yang seharusnya menyampaikan risalah kebenaran malah memanfaatkan posisi suci tersebut untuk menipu. Diminta untuk memberikan pencerahan justru malah membawanya kepada kejahiliyahan. Lihat saja Tapaswi–di dalam film–yang menipu untuk sekedar melanggengkan praktik agama nan kotor. Mengaku diri wakil Tuhan tapi laku yang ditampilkan tak adil. Satu bentuk kebohongan yang tentu saja dibenci oleh Tuhan.

Di sini, saya hanya ingin memberitahukan bahwa tentu saja, praktik beragam kita masih kacau. Kita tak mau mendengar terlebih dahulu dan langsung saja main hakim sendiri. Begini. Dalam sosiologi agama dikatakan bahwa “Tuhan itu hakikatnya satu. Tapi, kemudian, Tuhan ditafsirkan secara beragam oleh berbagai agama sehingga ada banyak Tuhan dan masing-masing Tuhan tersebut memiliki aturan yang berbeda”.

Tentu saja, setiap Tuhan memiliki penyembahnya sendiri. Mereka, para penyembah adalah orang-orang yang memilih beragama untuk mencari ketenangan dan kedamaian bagi mereka sendiri. Setelah itu, kita bisa menangkap dari film bahwa di dunia ini, setiap orang hanya memiliki satu agama. Artinya, mereka hanya memiliki satu kaum dan Tuhan kaum mereka yang merekalah yang disembah dan tak menyembah yang lain.

Pertanyaan menarik yang dilontarkan PK adalah “Jadi, saya ada dibagian mana? Tuhan mana yang harus saya mintakan doa?” Satu pertanyaan yang layak dilemparkan kepada mereka yang bingung dalam beragama atau juga kepada mereka yang sudah merasa beragama. Bagi PK, ketika kita bingung dan tak tahu mana benar-salah, maka, tak ada salahnya mencoba masuk ke semua agama. Di sinilah pasti salah satunya ada yang benar.

Inilah yang dimaksud dengan “melihat dunia dengan cara yang berbeda”. Misal, jika kamu melihat orang merokok, maka kamu akan menelepon polisi dan bilang kalau ada orang yang mau bunuh diri. Mengapa? Karena dibungkus rokok ada gambar seorang Bapak ngisep rokok tapi ada gambar kanker. Udah gitu, ada tulisan berbahayanya juga.

Seringkali kita menganggap bahwa ada seseorang yang menafsir tentang dunia dengan cara pandang berbeda, dan ini langsung dibilang salah. Padahal, saya yakin, bahwa setiap argumen didasarkan kepada pengalaman hidup yang sudah ia tempuh beserta pengetahuan yang sudah ia cerap mendalam. Pun dalam beragama. Sebagai seorang muslim, saya tak pernah diajarkan oleh agama dan orangtua, juga siapapun yang saya kenal untuk bertindak merusak dan melakukan kekerasan. Saya dimintanya untuk membesarkan hati dengan kasih sayang, cinta dan perdamaian. Menjauhi perdebatan yang tak jelas juntrungannya dan lebih sepakat untuk membangun titik temu dari berbagai macam perbedaan. Saya temukan ini dalam konsep “cross cutting culture” milik Prof. Nasikun.

Di titik ini kita mulai merasa dan menyadari. Bisa jadi, kita semua sampai hari ini masih “salah sambung” dalam beragama. Teknologi yang kita gunakan untuk berbicara dengan Tuhan itu kacau. Yang menjawabnya itu adalah duplikat Tuhan dan “dia” sedang mempermainkanmu. Kita lebih sering mendengar ucapan tokoh (bukan) agama yang mendaku diri paling benar dan manusiawi. Menyeru pada humanisme, mengangkat derajat kemanusiaan dengan jargon-jargon kebebasan. Tapi sejujurnya, diam-diam ada beberapa pihak yang terus-menerus mereporoduksi kebencian. Khotbah-khotbah diisi oleh saling tuding bahwa manhajnya yang paling benar. Yang lain? Salaaahhhh….

Ada lagi yang salah menangkap firman Tuhan. Padahal, jikalau kita betul-betul menangkapnya secara utuh, kita akan mencerminkan perangai Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kita juga tidak membutuhkan lagi perantara ketika membutuhkannya. Cukup tundukkan hati-hati kita, merasa kecil lah dihadapanNya sembari menengadahkan tangan. Sebab, tiap agama punya ritusnya masing-masing dan pergunakanlah itu untuk berkomunikasi kepada Tuhan. Tapi, pastikan, apa yang kita gunakan tidak salah.

Mari berpikir, kawan. Untuk masa depan umat beragama yang penuh kasih sayang dan kedamaian. Menyeru dengan cara yang halus dan lemah lembut. Tidak ada lagi perang apalagi penindasan. Sebab, kebathilan adalah musuh abadi.

Sampai jumpa ditugas UTS yang selesai dengan hasil memuaskan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *