Bebaskan Belenggu Penjajahan
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Bebaskan Belenggu Penjajahan

KAA-2015

“…Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan…”

Pesan dalam pembukaan UUD 1945 tersebut memiliki makna yang begitu dalam. Pesan itu menunjukkan komitmen kuat Indonesia melawan penjajahan di dunia.

Hal ini sejalan dengan gagasan Bung Karno 60 tahun silam saat membentuk Konferensi Asia Afrika (KAA). Tujuannya, membangkitkan kesadaran bangsa-bangsa Asia dan Afrika untuk mendapatkan hak hidup sebagai bangsa merdeka, menolak ketidakadilan, dan menentang segala bentuk imperialisme.

Hari ini, dunia yang kita pijaki masih sarat akan ketidakadilan. Disaat sebagian besar penduduk dunia sedang menikmati liburan, hiburan televisi dan bisa berkumpul dengan sanak-saudara membicarakan tentang masa depan anak-cucu mereka, ada segenap penduduk dunia lainnya, terkhusus di Palestina yang setiap harinya harus hidup dalam ketakutan. Mereka takut lantaran tidak bisa beribadah secara leluasa, ditembaki atau bahkan dibom. Muda hingga tua pun menjadi korban. Mengenai perekonomian. Disaat 20 persen penduduk dunia menghabiskan 70 persen sumberdaya bumi. Dibelahan bumi yang lain terdapat 1,2 miliar penduduk tidak berdaya dan hidup dalam kemiskinan.

Dengan keadaan yang demikian, dalam pidatonya di KAA lalu, Jokowi menuntut adanya reformasi PBB agar berfungsi secara optimal dan mengutamakan keadilan bagi seluruh bangsa.

Pidato tersebut sebagai penegas bahwa Indonesia adalah sebuah bangsa yang menolak belenggu penjajahan. Hal ini diturunkan ke dalam dua agenda penting yang dibahas pada KAA lalu. Pertama, mendukung kemerdekaan Palestina. Sebagaimana diamanatkan dalam pembukaan dan Bung Karno, Indonesia memiliki tanggung jawab meneriakkan kembali semangat Bandung yang menuntut kemerdekaan bagi semua bangsa di Asia-Afrika. Maka, dukungan politik secara Internasional akan sangat membantu mencapai kemerdekaan Palestina.

Kedua, penjajahan secara ‘lahir-batin’ tergambarkan pada negara-negara Asia-Afrika yang sangat bergantung pada lembaga donor dunia. Indonesia berpendirian bahwa pengelolaan ekonomi dunia tidak bisa diserahkan kepadanya. Maka, keluar dari jeratnya untuk membentuk tatanan ekonomi baru bagi bangsa Asia-Afrika dianggap sebagai solusi.

Oleh sebab itu, dalam pertemuan ini juga dirumuskan kerjasama yang dilakukan negara Asia-Afrika mengenai penguatan kerja sama untuk mendukung perdamaian dan kemakmuran terutama soal penguatan solidaritas politik, memperkuat kerjasama bidang ekonomi dan mempererat hubungan sosial-kebudayaan.

Kelak, negeri ini diharapkan mampu berdiri melawan segala bentuk penjajahan, demi keadilan umat manusia di dunia. Semoga!

Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *