Begitulah Perjuangan
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Begitulah Perjuangan

Presiden Mahasiswa UGM sambut Jokowi

Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang ada di dalam hati dan pikiran seseorang. Tapi izinkan saya menyampaikan beberapa hal yang ada di hati dan pikiran saya.

Saya patut bersyukur untuk bisa berada di posisi hari ini. Menjadi mahasiswa UGM dan kemudian berjuang pada amanah sebagai Presiden Mahasiswa. Hal ini bagi saya istimewa mengingat lingkungan sekitar saya di Tanjung Priok sangat memprihatinkan. Bagaimana berpikir untuk sekolah, apabila urusan perut saja belum selesai.

Saya bukan berasal dari latar belakang terpandang, tapi punya bahagia. Ayah saya guru agama Islam di salah satu SMP Negeri di Jakarta, sedangkan ibu saya guru mengaji. Kami menjalani kehidupan dengan sederhana.

Suatu hari kedua orangtua saya berpesan kepada saya, bahwa “memperjuangkan kebenaran itu sulit”. Saya bertanya ke dalam hati, “apa betul?”. Setiap hari saya memikirkan kalimat itu dalam-dalam. Barulah saya merasakan itu ketika duduk diperkuliahan.

Tentu, kehidupan diperkuliahan sangat berbeda dengan masa sebelumnya, terlebih di UGM. Dengan masyarakat kampus yang heterogen, saya menemukan banyak sekali manusia dengan berbagai macam karakter. Awal tahun saya ikut ke dalam lima organisasi mahasiswa baik ditingkat kampus sampai regional. Niat saya pada saat itu tidak jauh berbeda dengan kebanyakan: mencari teman dan berjejaring seluasnya.

Apabila ditinjau, hal tersebut sebenarnya agak egois. Saya baru menyadari sekitar tahun kedua berkuliah; saat di mana saya mendapatkan mendapatkan beasiswa Rumah Kepemimpinan. Pandangan saya menjadi lebih luas, pendengaran dan penglihatan saya semakin tajam. Hingga sampai pada titik kesimpulan, bahwa saya berkuliah karena saya bodoh, dan selamanya saya tidak ingin menjadi orang bodoh, agar kelak saya bisa menolong orang-orang disekitar saya keluar dari kebodohan.

Sejak saat itu saya memiliki orientasi yang lebih luas, bukan lagi hidup untuk sekadar diri sendiri. Ayunan lamunan yang menemani kala fajar dan petangku di beranda asrama adalah bagaimana bisa melakukan kebaikan sebesar-besarnya?

Hal ini membuat saya terus memendam gelisah. Setiap mata kuliah yang diajarkan di Departemen Politik dan Pemerintahan justru semakin membuka tabir bobroknya bangsa yang sedang sama-sama kita perjuangkan untuk lebih baik. Oleh sebab itu, saya menyadari; saya tidak bisa sendirian. Saya harus bersama-sama; berkolaborasi untuk menyelesaikannya.

Saya sangat yakin bahwa sejak berdirinya republik ini, bahkan hingga hari ini ialah bertujuan untuk mencapai keadilan sosal. Namun, cara yang harus ditempuh sangat berliku. Segala aspek harus diperhatikan dengan cermat dan perhitungan yang matang. Dan karena sulitnya itu, maka membuka kesempatan untuk hadirnya salah dalam mengelola negara. Bahkan, para dosen yang mengajari kita di kelas, pemuka agama, hingga bahkan anggota dewan sekalipun pasti punya salah; termasuk kita.

Untuk itu, perlu ada upaya saling mengoreksi dari rakyat kepada pemerintah dan sebaliknya. Upaya tersebut ditempuh melalui berbagai macam cara. Sederhananya, kita perlu saling ingat-mengingatkan dalam upaya perbaikan.

Hari ini, kemarin dan juga ke depan saya akan terus berusaha untuk memperbaiki. Apapun yang bisa saya perbaiki, akan saya perbaiki. Apabila dulu, saat STM saya bisa memperbaiki kipas angin, maka ketika kini saya berada di Departemen Politik dan Pemerintahan, saya bisa memperbaiki wajah politik bangsa yang tercoreng oleh kaum begal negeri.

Bagi saya, hal tersebut adalah upaya untuk mempertanggungjawabkan ilmu. Saya sangat yakin bahwa ilmu itu seharusnya memihak, ilmu itu seharusnya memperjuangkan. Dan saya memihak dan memperjuangkan kebaikan bersama orang-orang disekitar. Itulah yang disebut kolaborator kebaikan.

Bagi saya, aksi tadi pagi saat menyambut Jokowi adalah upaya kebaikan. Isu yang diangkat pun jelas, yakni penegakan hukum dan pemberantasan korupsi, stabilitas ekonomi rakyat, menolak represifitas pemerintah dan ancaman terhadap demokrasi, serta jaminan pendidikan nasional.

Kalau ditanya soal kajian, kami sudah mengkaji, mendiskusikannya secara terbuka, menginformasikannya dan meminta izin kepada pihak kampus dan kepolisian setempat. Kami sangat terbuka kepada aparat, sekaligus akomodatif terhadap suara kaum mustadafin. Sebab, saya berpikir ini tugas kami sebagai kelas menengah yang mana mampu menjembatani kedua pihak.

Sebagian pihak mengernyitkan dahi, tanda tak mampu berjuang dan hanya pandai menganjurkan ini dan itu. Tapi, sebagian yang lain hadir dengan gagah, meski harus beradu argumen, kontak fisik, dan membatin. Begitulah pejuang dan perjuangan.

Ada beberapa titipan doa dan masukan kepada kami. Kami yakini untuk pelecut semangat dan pelindung kami. Jadi, mari kita mendewasakan diri. Mengupayan perbaikan tanpa harus saling meniadakan. Sebab, saya selalu memelihara keyakinan. Ke depan kita semua akan menjadi bangsa yang besar dengan mengedepankan cara-cara yang adil dan beradab. Mari menjadi kolaborator kebaikan.

 

 

Comment (2)

  • Semoga Allah selalu menguatkan langkah kita semua dalam memperjuangkan kebaikan. Aamiin.

  • Leave a Reply to Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia Cancel reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *