Belajar Dari Sendal Jepit
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Belajar Dari Sendal Jepit

sandal11

Hari ini, saya menjalani rutinitas. Seperti biasa, Jum’at pagi adalah waktunya tahsin di asrama. Pertama-tama, saya dan juga anak-anak asrama dengan semangatnya berlarian ke luar, ke sana, ke mari, mirip semut yang berseliweran. Ketika muncul aba-aba tanda pelajaran dimulai, kami semua segera berbaris rapi. Ditemani sawah depan asrama yang tampak menghijau, kami memulai pagi dengan sama-sama memanjatkan doa pengikat ilmu sekaligus membaca surah-surah pendek Al Qur’an.

Sudah beres melakukan itu, kami masuk ke dalam asrama dengan terlebih dahulu ‘menyalim’ pada Mas Heri, sang guru, juga Mas Adi, suvervisor tercinta. Tapi, ada kebiasaan dari kami yang buruk dan selalu membuat Mas Adi gemas ingin mencubit pipi kami satu per satu. Adalah sendal jepit yang dikempit, digunakan untuk menginjak-injak, dan dipergunakan untuk menutupi kaki yang bau. Sendal jepit ini ditaruhnya secara berantakan.

Mas Adi yang terkenal baik hati sejagat asrama tiba-tiba berubah menjadi makhluk super-duper menyebalkan. Bliyo segera mencak-mencak dan kemudian selalu membuat kami ‘nyessss’ dengan mengatakan: “Kalian, dalam mengurus urusan sendal jepit saja sudah tak bisa, bagaimana mau mengurusi negara”. Begitulah bliyo. Perkataan yang tersirat nilai nasihat di awal pembinaan memang masih menjadi senjata andalan. Tapi kini? Abaikan. hahaha

Balik ke sendal jepit. Karena ucapannya yang cenderung dianaktirikan, Mas Adi seringnya mengadu pada media sosial, juga kepada Allah pastinya. Mengapa anak binaannya menjadi sedemikian kamfret begini. Dalam hati, ia semestinya menyebut nama-nama yang berulah agar diberi azab yang pedih. Agar, kelak, takkan ada lagi soal seperti ini.

Memang, sendal jepit mempunyai daya magis tersendiri di asrama kami. Wujudnya yang begitu dan saya bingung untuk mendeskripsikannya memberi manfaat yang cukup luar biasa. Terutama di musim hujan. Siapa mau berangkat ke kampus dengan sepatu dan kaus kaki basah? Adalah sendal jepit yang kemudian menjadi opsi bersahabat yang layak menemani kami ke kampus.

Dalam hal lain, sendal jepit juga berfungsi sebagai pembalut kaki. Bukan pembalut yang lain. Ia yang menemani saya saat syuro dengan teman-teman dema fisipol, pergi ke masjid dekat asrama, ke kosan teman, dan berbagai petualang lainnya. Pernah suatu ketika, saat saya pergi ke suatu negara, saya hanya membawa sepatu pantopel (yang masih saya gunakan hingga kini disaat apel, pemberian dari guru stm saya, loh J terima kasih bu guru) dan lupa membawa sendal jepit. Betapa menyiksanya hidup tanpa sendal jepit. Kemana-mana, entah itu presentasi, menjadi stand, bahkan ke kamar tidur, saya harus gunakan sepatu pantopel. Alhasil, kaki lecet. Ini serius.

Hari ini, saya yang bangor ini kemudian diingatkan kembali oleh peristiwa penuh inspirasi. Begini, saya sekitar pukul setengah 11 pagi tadi, sehabis dari kampus menyempatkan untuk mengejar sunah: tidur kailullah. Saya yang khawatir bablas Jum’atan meminta anak-anak asrama membangunkan. Beruntung, ada Dodik yang membangunkan. Saya pun yang sudah mandi hanya mengambil wudhu untuk kemudian berangkat bersama Dodik menuju Masjid Darusslam di Jalan Kenanga(n), ehhh.

Sesampainya di sana, saya pilih menunaikan shalat Tahiyatul Masjid untuk kemudian duduk manis mendengar khotbah yang akan segera dimulai. Khotbah berjalan lancar. Pesannya pun dapat saya tangkap. Intinya, si penceramah menganjurkan agar kita tidak merayakan apa-apa yang telah menjadi kebiasaan kaum kafir, semisal: merayakan tahun baru dengan terompet itu sama dengan mengikuti yahudi, lonceng itu nasrani dan kembang api itu majusi. Ia menolak kita semua merayakan keintiman dengan malam tahun baru yang sama sekali tak pernah diajarkan Rasulullah.

Kita tentu bisa berdebat mengenai soal ‘ikut serta merayakan tahun baru’. Tapi, saya ingin bercerita soal lain. Ditengah-tengah khotbah, saya yang matanya suka jelalatan melihat ke sana-kemari. Barangkali ada fenomena ataupun realitas sosial menari yang bisa saya amati. Belum saja bibir ini mengeces, saya mendapati Duta; ya, Duta Sheila on 7 mampir ke muka saya. Dengan baju merah lengan pendek dan sarung kotak-kotak, juga ditemani beberapa bocah (saya lupa jumlahnya, 1, 2, atau 3), ia bergabung bersama jamaah lainnya. Membaur tanpa ragu dengan kita-kita yang bau ketek.

Sebenarnya, biasa saja bagi saya yang anak Ibukota dan sering bertemu artis papan atas. Tapi, saya beritahukan kepada Dodik, teman saya yang agak ndeso, dari Sidoarjo pelosok. Saya bisikkan padanya:

“Dik, liat, baju merah itu. Vokalis Sheila on 7, Duta.”

“Yang mana pat?”

“Itu, dibelakangmu”.

“Hmm, koq aku baru ngeh ya”.

Kemudian, beberapa saat, Dodik menceritakan ke Hafiq, dan Hafiq seolah tak mau ketinggalan turut memberitahukan kepada Azzami, begitu pun ke Ozan. Akhirnya, semua mirip ndeso layaknya Dodik. Berkata wahh, wahhh, wahhh.

Tentu saja, narasi ini dibuat agak lebay, tapi tak mengubah satu-dua-atau seluruh substansi. Saya pun yang berangkat ke Masjid bersama Dodik mesti kembali bersama Dodik. Kesetiaan itu yang membuat kami sampai kini begitu mesra. Pantas saja, kami dianugerahi sebagai TimSat terbaik karena kekompakkan kita sewaktu masih sekamar di semester 2 (tentunya, ada partner in crime lainnya: Arif, Ditta, Jaden, Fitri). Saya lekas menggunakan sendal untuk kemudian pulang menaiki kursi kosong yang tersedia di belakang Dodik sambil sesekali melirik Duta.

Di perjalanan pulang, Dodik berujar.

“Fath, kenapa kamu gak mau foto sama Duta?”

“Ahh, gak usahlah Dik”

“Kenapa memangnya?”

“Saya mah gak suka. Biar nanti, kalau sudah sukses dan jadi Presiden, orang-orang yang bakal minta foto sama saya”

“Aamiin (dalam hati)”

Motor yang digas Dodik pun sampai di halaman parkir asrama. Saya yang ingin segera belajar untuk ujian lisan teori-teori sosialisme besok terperangah menyaksikan sendal jepit yang saya gunakan berubah warna, bentuk, dan kepemilikan.

“Waduh, bajigur. Sendal siapa yang gue pakek?”

Dodik yang melihat saya seperti orang keder menanyakan.

“Kenapa, Fath?”

“Ini Dik, sendal jepit siapa? Waduh, punya orang. Malu ini mau balikin ke Masjid. Di sangka nyolong sendal jepit ”

“Sudah, balikin saja Fath. Kasian yang punya. Mungkin, orangnya masih nungguin.”

Ucapan Dodik yang demikian itu: orangnya masih nungguin, membuat saya memberanikan diri menyuruh Ozan balik kanan mengantar saya, padahal motornya baru hingga di parkiran.

“Zan, anterin gue ke Masjid. Sendalnya ketuker. Zzzz”

“Walah, yaudah, yaudah”

Dengan berat hati, Ozan mengantarkan saya ke Masjid. Saya yang ketakutan meminta pertolongan dari Ozan untuk membantu menerangkan kepada si empunya sendal jepit yang telah saya bawa ini. Ozan pun mengiyakan sekaligus menenangkan.

Setibanya di Masjid, saya yang awalnya takut memberanikan diri. Saya tanyakan kepada seorang Bapak yang berdiri di dekat situ terkait dengan “apakah ada orang yang merasa kehilangan sendal?” Tapi bapak itu tidak tahu. Namun, sendal jepit milik saya masih berdiri gagah meski dipenuhi debu jalanan. Saya yang melihat masih ada beberapa Bapak di dalam Masjid meyakini bahwa si pemilik sandal jepit yang saya salah bawa tadi masih hinggap di dalam. Akhirnya, saya ambil yang menjadi hak dan mengembalikan yang bukan hak saya.

Dan, kemudian, saya kembali ke asrama. Selanjutnya, meng-updete status.

Isinya, kira-kira begini:

Status Alfath

Cerita ini pun berakhir di sini. Pelajaran yang bisa dipetik adalah,

Saya memang mengagumi kejujuran. Sebab, kejujuran adalah barang mewah. Jika saya kebetulan pernah diajak bercerita tentang kehidupan yang saya alami, tanpa ragu saya pasti akan maju untuk tampil menceritakan sebenar dan sesungguh kenyataannya. Dan dengan ketegasan yang mantap pula, saya akan membawakan pelajaran ini kepada orang-orang di sekeliling saya, dan juga kelak anak-anak kita, Bun.

Kendatipun saya sempat meragu untuk jujur dengan kembali ke Masjid atau tidak, pada intinya Allah membantu saya untuk tetap jujur melalui orang-orang di sekeliling saya. Meski ada satu-dua orang yang tak sepakat dengan sikap saya ini, itu kamfreett belaka, yang penting kejujuran harus ditegakkan.

Dalam tafsiran yang sederhana, tulisan ini bisa saja kita anggap sebagai upaya perayaan diam-diam dari “saya kepada kamu” bahwa saya sepenuhnya ingin menegakkan janji. Maka karenanya, tiada salah jika kemudian saya membayangkan, suatu saat akan muncul pula cerita-cerita kehidupan tentang kita yang tak kalah menarik dari cerita-cerita eftivi. Sebagaimana, saya yang berusaha dengan sabar, perlahan, dan pasti untuk membaca dan menuliskannya. Kemudian, kita saling mendiskusikannya dalam balasan-balasan tulisan yang imajinatif layaknya Ben Anderson memunculkan imagined community. Maka, jangan heran, suatu saat nanti akan ada imagined love, karya kita.

Semua sudah terbaca, koq. Terima kasih sendal jepit kesayangan saya :)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *