Berfantasi, Dilan
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Berfantasi, Dilan

dilan

Saya pernah membaca suatu buku, judulnya Dilan (1 dan 2). Pasti sudah banyak yang tahu kan? Dalam buku yang dibuat Pidi Baiq itu, Dilan digambarkan sebagai sosok anak yang pintar tapi juga nakal, romantis tapi gak narsis, cintanya ditunjukkan dan bukan dibicarakan. Selain itu, Dilan ini suka menulis (puisi) di Koran, gabung geng motor, kelahi, dan bikin kejutan.

Saya kadang suka berfantasi. Andai saya jadi Dilan, saya bisa melakukan hal-hal diatas. Apalagi, saya bisa ngirim surat ke rumah tetanggamu untuk kemudian diberikan untukmu. Atau minta tolong tukang koran memberikan cokelat padamu. Tapi, bila melihat kenyataan, sepertinya cara-cara tersebut tak lazim kita temukan dalam keseharian. Mungkin, dalam hemat saya, hal semacam ini hanya bisa ditemukan dalam novel remaja macam Dilan ini.

Belakangan ini saya merasa kalau kehidupan nyata memang yang sedang saya hadapi ibarat benang kusut yang tak tahu kapan terurainya. Tak semudah dan semanis atau semengharu-birukan akhir dicerita-cerita novel. Bukan karena saya jarang baca buku yang begituan, tapi memang kadang-kadang saya perlu rileks dengan membaca buku yang menggambarkan kisah fiktif, tapi punya nilai semangat yang bikin bibir saya tersenyum merekah. Sebab, saya ini terlalu berwajah optimis; dan ini memang perlu, tapi pesimis kadang datang menghantui. Mungkin, kisah-kisah semacam ini yang asyik menemani dikala suntuk karena alasan apapun. Hahaha…

Daripada blog kosong, saya juga lagi males tulis yang panjang-panjang, biar adem, saya pengen nyalin semua quotes Pidi Baiq aja deh.

“Masalah adalah apa yang kamu anggap masalah”
“Cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli.”
“Aku ingin pacaran dengan orang yang dia tahu hal yang aku sukai tanpa perlu kuberitahu, yang membuktikan kepadaku bahwa cinta itu ada tetapi bukan oleh apa yang dikatakannya melainkan oleh sikap dan perbuatannya.”
“Cinta lebih mudah dirasakan daripada harus dimengerti, itulah mungkin mengapa lebih butuh balasan daripada alasan.”
“Dulu, nama besar kampus disebabkan oleh karena kehebatan mahasiswanya. Sekarang, mahasiswa ingin hebat karena nama besar kampusnya.”
“Cinta itu indah, jika bagimu tidak, mungkin kamu salah milih pasangan.”
“Eksak, kau menjawab sama dengan umum, kau benar. Kreativitas, kau menjawab sama dengan umum, kau niru.”
“Setelah mati ternyata Tuhan yang kupercaya itu tak ada, ya sudah gak apa-apa. Tapi bagaimana kalau tuhan yang tidak kau percaya itu ternyata ada?”

 

Sudah, itu saja. Ntar besok sambung lagi. Maaf, tidak jelas. Malam J

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *