Berjuanglah, Kawan
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Berjuanglah, Kawan

unj

Kita sama-sama tahu. Dunia ini berisi nama-nama. Ada nama-nama yang ketika kamu mendengarnya, dan kamu akan segera menoleh untuk kemudian tersenyum riuh-sumringah. Itu adalah keadilan, kawan. Keadilan inilah yang kemudian membawa kita pada kebahagiaan dalam hidup. Tidak ada lagi kekurangan. Semua merasa tercukupi kebutuhannya, sesuai dengan yang dibutuhkannya.

Ada lagi, nama-nama yang ketika kamu mendengarnya, kamu dengan serta merta menjauhi. Kamu jijik dan enggan bersentuhan dengannya. Ia adalah lambang hipokrit alias munafiq. Khas kaum elit. Yang ketika kita berurusan dengannya, kita akan sebal. Akan banyak orang yang tersakiti.

Hari ini, saya mendengar kabar mengerikan. Sahabat saya, di Jakarta. Mereka tergolek hak atas suaranya. Mereka ditendang paksa dari kampus yang telah dibelanya selama beberapa tahun.

Dan di malam yang barokah ini, saya mewakili teman-teman Dema Fisipol menuliskan ini…..(rencana besok akan diterbitkan di laman Dema Fisipol)

 

[Rilis] Solidaritas Dari ‘Jog’ Untuk Jakarta: Tentang Perlawanan Mahasiswa UNJ

Dema Fisipol UGM

 

“Idealisme adalah kemenangan terakhir yang dimiliki oleh pemuda”

Tan Malaka

***

Baru saja kami mendengar kabar duka dari Jakarta. Sahabat kami, Ronny Setiawan (Ketua BEM UNJ 2015) dipaksa harus keluar dari kampus almamater tercintanya karena mempertahankan idealismenya. Kabar mengerikan ini tersiar secara cepat dan masif. Kami, Dema FIsipol, secara kelembagaan tak kuasa menahan diri dan ingin segera membersamai Ronny dalam sebuah ikatan solidaritas mahasiswa Indonesia.

Di sini, Ronny adalah salah satu ikon penumpas ketidakadilan yang tidak beruntung. Namanya kini telah tertera dalam Surat Keputusan Rektor Universitas Negeri Jakarta Nomor: 01/SP/2016 tentang Pemberhentian sebagai Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta atas tuduhan tindak kejahatan berbasis teknologi dan aktivitas penghasutan. Surat ini kemudian di kumandangkan oleh Dekan Fakultas MIPA UNJ.

Semua ini bermula ketika Ronny dan kawan-kawan melakukan aksi-aksi demonstrasi menuntut pengusutan tuntas kasus sarana kuliah FMIPA (secara hukum milik Kemenristekdikti) yang berujung pada penyelewengan APBD DKI Jakarta dan juga berkaitan dengan Wisma Atlet & Asian Games (yang kira-kira melibatkan Rektor UNJ dengan Gubernur DKI Jakarta). Namun, Rektor UNJ sepertinya tidak siap untuk dimintai keterangan. Sebab, hal ini akan mengundang banyak tanya dari berbagai pihak yang implikasinya, bisa jadi, membuka kedok kasus-kasus yang lain, seperti: Sentralisasi Dana, Pembungkaman Dosen/Birokrat yang kritis, Banyaknya Penghapusan Dana Kegiatan Mahasiswa, Pemotongan Biaya KKN, Keringanan Biaya Yang Dihapuskan, dan masih banyak lagi.

Bila berkaca, tentu saja, kabar memilukan ini adalah peringatan bagi kami, Dema Fisipol. Sedikit bercerita. Beberapa waktu lalu, rekan kami juga memiliki nasib yang sama dengan dituduh ini dan itu. Kemudian, rekan kami diberikannya manuver oleh pihak Rektorat dengan ancaman dibawa ke ranah hukum atas perjuangan yang sama: melawan ketidakadilan. Kisah Ronny dan kawan-kawan di UNJ tentu saja menjadi sinyal pertanda bahaya; bahwa sesungguhnya rezim anti kritik khas Orde Baru masih saja menjangkit ditubuh para elit kampus. Kalau mereka tidak suka, tangkap…Kalau mereka benci, basmi…Kalau mereka tak sepakat, sikut… Hal-hal yang semestinya sudah kita tanggalkan sejak jauh hari.

Di titik ini kita sama-sama menyadari, kawan, bahwa Reformasi mengamanatkan kebebasan berpendapat. Semangat untuk mengemukakan pendapat di muka umum harus terus kita sama-sama rawat. Semua yang terasa, terlihat, dan teralami oleh kita, sampaikan. Bilamana ada sesuatu yang salah dan janggal, tak perlu ragu untuk tunjukkan dan hadirkan ke muka. Di hadapan kaum hipokritlah kita menang.

Bukankah kita berkuliah agar kita tidak bodoh? Bukankah kita berkuliah agar kita bisa menolong orang-orang di sekeliling terbebas dari kebodohan? Dengan belajar, membaca, berdiskusi, yang biasa kita lakukan sehari-hari bukan untuk ditelan secara pribadi, kan? Seperti kata Tan, “Janganlah segan belajar dan membaca! Dengan pengetahuan itulah kelak kami bisa merebut hakmu dan hak Rakyat… Insaflah bahwa pengetahuan itu kekuasaan.”

Dengan kekuasaan inilah, kami pergunakan untuk melawan ketidakadilan, merengkuh kebenaran, dan mencapai kebermanfaatan bagi sesama. Oleh sebab itu, dengan keteguhan hati, kami dengan tegas menolak tuduhan pencemaran nama baik yang dilakukan oleh Rektor UNJ. Kami, Dema Fisipol meminta secara rendah hati kepada Rektor UNJ untuk mencabut SK Rektor dan mengembalikan status Ronny Setiawan sebagai mahasiswa.

Semoga solidaritas kami akan terus bertambah seiring berkembangnya nilai empati dan kemanusiaan di kalangan mahasiswa Indonesia. Aamiin.

 

Salam dari ‘Jog’ Untuk Jakarta

06 Januari 2016

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *