Bersama Orang-orang Baru [Bagian 2]
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Bersama Orang-orang Baru [Bagian 2]

Taken with Lumia Selfie

Ayam berkokok tanda pagi tiba. Matahari sebenarnya sudah ingin menampakkan wajahnya ke hadapan tunas bangsa yang ingin menenggak manisnya air pengetahuan. Sayangnya, matahari tenggelam dikalahkan gemericik hujan yang membasahi Temajuk. Alhasil, mereka harus datang ke sekolah dengan payung, jas hujan, dan paling sedih, kebasahan.

Tapi, tak boleh lah kiranya menyalahkan hujan. Sama seperti halnya waktu, ia akan terus maju menanggalkan yang lalu. Sudah sebulan kiranya saya berada di Temajuk. Ada beberapa tanggungan yang mesti segera tuk di selesaikan. Namun, tanggungan ini haruslah melibatkan hari lalu. Dan sampai saat ini, saya masih kesulitan untuk memanggil hari lalu tersebut.

Sedikitnya kesempatan untuk melaksanakan tugas itu berbanding terbalik dengan banyaknya kesempatan bagi saya untuk berkenalan sekaligus berdekatan dengan sekeliling. Masyarakat dan alam raya yang menyertainya mengingatkan diri ini pada kebesaran Sang Penci(n/p)ta.

Kisah ini berlanjut. Karena terlambat sekitar 8 hari untuk sampai ke Temajuk, maka saya harus bisa mengejar ketertinggalan itu. Berbekal motor pinjaman dan teman-teman yang menemani, saya keliling kampung;  bertemu dan berkenalan. Dengan takzim saya jabat tangan setiap orang Temajuk. Sampailah saya diperjalanan menuju rumah Pak Mira di Maludin. Sekitar 30 meter, tak jauh dari rumah Pak Mira, saya yang membawa motor__Yamaha dua tak__ala pebalap motorcross terjatuh nyungsep. Alhasil, kaki lecet dan tangan kiri keseleo. Beruntung, Andri yang menemani pada saat itu segera menolong saya dari keterpurukan sambil meneguhkan kaki dan tangan saya untuk bisa berdiri.

Setelah momen tersebut, saya jadi kesulitan mengendarai motor untuk beberapa hari. Namun, atas kejadian itu, saya menjadi lebih berhati-hati. Yang terpenting bagi saya adalah sudah mengenali seisi kampung. Dalam waktu singkat, saya bisa menemukenali segudang potensi untuk bisa dikembangkan dimulai dari kerajinan tangan dan makanan untuk souvenir bahkan pemanfaatan kekayaan alam yang tersedia untuk pengembangan pariwisata seperti tour hutan bakau dan juga penggunaan internet sebagai media pemasaran yang tepat di era teknologi seperti ini.

Di lain sisi, ada permasalahan kampung yang bisa saya temui; dari urusan politik dan pemerintahan sampai kepada urusan kenakalanyang marak terjadi dikalangan pemuda. Maka dari itu, saya coba buatkan program-program yang berkaitan dan bahkan bersentuhan langsung dengan masyarakat, antara lain:

  1. Pemberitaan Desa Temajuk melalui Good News From Indonesia (GNFI) merupakan pengejawantahan dari program LPPM, yaitu Pengembangan Sarana Pendukung Pariwisata (3.2.02).

 

Deskripsi: Program ini saya jalankan karena, pertama, minimnya informasi di publik yang berkaitan dengan tempat pariwisata “Surga di Ekor Borneo”. Kedua, Indonesia terlalu banyak memiliki masalah, sehingga ketika kami berikan kabar baik dari perbatasan, harapannya adalah mereka semakin mengenal dan mencintai Indonesia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Adapun yang ketiga dan yang menjadi inti adalah pariwisata di Temajuk yang belum ditunjang oleh sarana pendukung media sosial/internet. Oleh sebab itu, kami meyakini GNFI bisa menjadi wadah sekaligus rekan bekerjasama yang mampu mengeskalasi kabar baik yang hadir di Temajuk kepada khalayak luas.

 

Kebutuhan: pertanyaan wawancara, laptop, internet, kamera (hp), ATK, dan transportasi (akomodasi)

Sasaran: masyarakat yang tercerahkan oleh internet/followers GNFI

Target: 1.000.000 orang

Tempat: Desa Temajuk

Waktu: sepanjang KKN

Biaya: Rp. 250.000,- oleh mahasiswa

  1. Door to Door: Partisipasi, Advokasi, dan Pengawasan Masyarakat Terhadap Dana Desa merupakan pengejawantahan dari program LPPM, yaitu Program LPPM:  Pembinaan Partisipasi Sosialmasyarakat (3.8.05).

Deskripsi: Program ini saya jalankan karena, pertama, minimnya informasi di masyarakat Temajuk yang berkaitan dengan Dana Desa. Kedua, proses pengajuan Rancangan Anggaran Penggunaan Dana Desa harus melibatkan partisipasi dari masyarakat. Adapun yang ketiga adalah masyarakat bisa mengadvokasikan kepentingannya bagi desa. Saya akan mendatangkan surveyor ke rumah-rumah warga dengan sistem random sampling. Hal ini saya lakukan supaya mampu menjangkau tingkat kepahaman terkait Dana Desa sekaligus berinteraksi langsung dengan masyarakat Temajuk.

 

Kebutuhan: laptop, form, kamera (hp), ATK, dan transportasi (akomodasi)

Sasaran: masyarakat Desa Temajuk

Target: 50-60 orang

Tempat: Dusun Camar Bulan, Maludin, dan Sempadan

Waktu: 18-22 Juli 2016

Biaya: Rp. –

 

  1. Focus Group Discussion bersama perangkat Desa Temajuk tentang Dana Desa merupakan manifestasi dari program LPPM, yaitu Peningkatan Kemampuan Pamong Desa (3.3.02).

 

Deskripsi: Demi terciptanya penyelenggaraan Dana Desa yang berprinsip swakelola dan gotong royong, maka dibutuhkan suatu upaya yang sinergis dari masyarakat dan juga pamong desa. Bila sudah ada program yang menyasar kepada masyarakat, maka saat ini giliran pamong desa yang berupaya untuk menemukenali kebutuhan mendasar dari Desa Temajuk dan menyuarakannya dalam forum. Kemampuan untuk menyuarakan tersebut sangat diperlukan karena berkaitan dengan penganggaran program yang menjadi harapan dan cita-cita masyarakat Temajuk.

 

Kebutuhan: laptop, speaker, proyektor, LCD, UU Desa, PPT, papan tulis/flowchart, spidol, dan konsumsi.

Sasaran: perangkat desa (Kepala, Sekertaris, Kepala bidang) dan juga Kepala Dusun.

Target: 5 orang

Tempat: Balai Desa Temajuk

Waktu: 14 Juli (dapat berubah)

Biaya: Rp. 150.000,-

 

  1. Kampanye “Rumah Peduli Anak” merupakan manifestasi dari program LPPM, yaitu Penyuluhan Pembangunan Desa (3.3.05).

 

Deskripsi: Menurut hasil oveservasi, banyak ditemui kasus kenakalan remaja seperti seks bebas, hamil diluar nikah, NAPZA, minum-minuman keras, dan sebagainya. Kasus ini bila dibiarkan akan menimbulkan permasalahan sosial yang justru seolah menjadi kebiasaan (hal yang biasa). Bila ditinjau, peran orang tua menjadi yang utama disamping peran dari guru di sekolah dan para pendakwah dilingkungan sekitar. Dengan demikian, Rumah Peduli Anak menjadi program kami untuk mengkampanyekan serta mengembalikan fungsi dan peran orang tua yang peduli terhadap tumbuh kembang anak, termasuk dalam urusan pergaulannya. Kami akan mendatangi rumah-rumah warga dengan memberikan beberapa pertanyaan sederhana yang menggugah. Kemudian mengajak orangtua untuk menjadikan rumahnya kondusif bagi anak. Bila orangtua ingin terlibat dalam program kampanye ini, maka kami akan berikan satu sticker sebagai penanda keterlibatan tersebut.

 

Kebutuhan: laptop, form, kamera (hp), ATK, transportasi (akomodasi), dan sticker

Sasaran: masyarakat Desa Temajuk

Target: 30 KK

Tempat: Dusun Camar Bulan, Maludin, dan Sempadan

Waktu: 15-17 Juli 2016

Biaya: Rp. -

 

  1. Pemutaran dan Bedah Film “Tanah Surga Katanya” merupakan pengejawantahan dari program LPPM yaitu Pemutaran Film atau Video Penerangan (3.12.01).

 

Deskripsi: melihat Temajuk sebagai Desa yang berbatasan langsung denganTeluk Melano Malaysia membuat kami perlu belajar dari film “Tanah Surga Katanya”. Film ini mengisahkan kehidupan warga Indonesia yang tinggal diperbatasan. Sisi politik, ekonomi, dan sosial menjadi menarik untuk dibedah oleh beberapa narasumber, kemudian dikontekstualisasikan ke dalam kehidupan di Temajuk. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran akan cinta tanah air dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Rencananya, yang akan membedah film ini adalah Bupati Kabupaten Sambas.

 

Kebutuhan: laptop, sound system, proyektor, LCD, lapangan, layar lebar, dan konsumsi.

Sasaran: masyarakat Desa Temajuk

Target: 100 orang

Tempat: Lapangan SDN 16 Temajuk

Waktu: 5 Agustus 2016

Biaya: Rp. 500.000,- (Mitra Desa dan Mahasiswa)

 

  1. Memandikan Jenazah dan Menyalatinya; serta perbantuan dan pendampingan segala kegiatan Masjid merupakan manifestasi dari program LPPM, yaitu Pembinaan Kegiatan Keagamaan (3.10.01).

 

Deskripsi: Merawat, memandikan, dan menyalati jenazah merupakan kewajiban bagi umat muslim, terlebih didasarkan pada warga Temajuk yang 99% beragama Islam.  Dengan terbatasnya sumberdaya manusia yang mampu memandikannya menjadikan kegiatan ini penting tuk dilaksanakan dalam rangka menambah jumlah warga yang bisa dijadikan sebagai perawat jenazah. Selain itu, pendampingan terhadap segala bentuk kegiatan Masjid sangat diperlukan seperti kebutuhan mengisi jadwal khutbah Jum’at, pembuatan teks ceramah, diskusi/kajian keagamaan, dan seterusnya.

 

Kebutuhan: Kain kafan, ATK, Flowchart, spidol, instruktur dan pendampingan mahasiswa

Sasaran: Warga Dusun Camar Bulan, Maludin, dan Sempadan

Target: 30 orang

Tempat: Masjid Wahidatull Ummah, Masjid A’malubinniat, dan Masjid Al Ikhlas.

Waktu: 15 Juli di Camar Bulan, 22 Juli di Sempadan, dan 29 Juli di Maludin

Biaya: Rp. 150.000,- (Mahasiswa)

 

  1. Pemberian materi terkait “Nasionalisme dan Sadar (Geo)Politik” dan “Korupsi dan Anti Korupsi” merupakan manifestasi dari program LPPM, yaitu Pemberian Pelajaran Tambahan di SD (3.4.01), SMP dan SMA (3.4.05).

 

Deskripsi: kesadaran akan nasionalisme dan (geo)politik dinilai sebagai upaya untuk mempertahankan identitas dan jati diri bangsa. Bersamaan dengan itu, persoalan integritas masih minim. Upaya penyadaran harus terus dilakukan dengan harapan mampu membiasakan penerapan nilai-nilai kejujuran dalam keseharian.

 

Kebutuhan: laptop, speaker, proyektor, PPT, papan tulis, spidol, dan souvenir untuk peserta aktif.

Sasaran: Pelajar SD, SMP, dan SMA

Target: 100 orang

Tempat: SDN 16, 19 Temajuk; SMP dan SMAN 2 Paloh.

Waktu: 25, 26, dan 27 Juli 2016

Biaya: Rp. 100.000,-

Dari berbagai program yang telah dicanangkan di dalam laporan rencana kegiatan (LRK) KKN-PPM UGM, pada akhirnya, semua itu akan mengarah pada pembentukan “policy brief” atau rekomendasi kebijakan yang mencakup seluruh kegiatan KKN-PPM UGM yang ditujukan bagi arah pembangunan desa. Dengan segenap kerendahan hati, saya ingin menuangkan gagasan bagi pembangunan desa. Meski sedikit, namun tak mengapa, dibandingkan tidak sama sekali.

Hingga tibalah saatnya bagi saya untuk mempraktikkan ilmu yang di dapatkan dibangku pendidikan. Program-program yang direncanakan oleh mahasiswa banyak berjalan pasca lebaran. Sehingga, setiap dari kita mulai menggiatkan program yang menjadi jam pokok; seringkali juga membantu teman-teman yang membutuhkan. Tapi begitulah adanya. Alhamdulillah, program yang saya miliki berjalan lancar. Tersisa dua program saja yang mesti diselesaikan, yaitu FGD bersama pemerintah desa dan bedah film “Tanah Surga Katanya”.

Nah, untuk keberhasilan program KKN di sini, diperlukan konsistensi yang penuh. Tidak boleh tidak, tidak pakai tapi, saya harus melaksanakannya. Sebab, bila diukur, waktu mengabdi kita itu tidaklah cukup banyak. Sedangkan, tanggung jawab sosial dan juga moral telah melekat erat di dalam kapasitas kami sebagai mahasiswa. Maka, sudah dapat dipastikan, menjadi tanggung jawab untuk berlaku dan berbuat sebaik-baiknya.

Di titik ini, saya seringkali berpikir tentang sesuatu yang sesekali membikin hati bertanya-tanya. Entah, mengapa suasana pertemuan itu selalu menyenangkan. Dan entah mengapa, bagi saya perpisahan adalah satu hal yang menakutkan sekaligus menyedihkan. Itu saja.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *