Bersama Orang-orang Baru (Bagian 1)
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Bersama Orang-orang Baru (Bagian 1)

WP_20160629_16_34_29_Pro

 

Sudah lama saya tak bersua. Mengingat Juli semakin berlalu, saya meminta diri untuk bersua sebentar. Di sini, saya ingin berkisah tentang segenap cinta, persahabatan, dan kasih yang tumbuh dengan ‘orang-orang baru’.

Selama tiga minggu belakangan ini, pasca balik dari Hongkong, saya langsung memelesat menuju Temajuk, kota yang sering terdengar namanya ditelinga, tetapi masih asing tuk dijelajahi. Dari Jakarta, saya bertolak ke Pontianak. Sesampainya di sana, saya dijemput oleh Pak Burhan, Ayah dari teman, Andri, dan juga adik bungsunya. Selama diperjalanan, kita berkelakar akan banyak hal dimulai dari cerita tentang gambaran umum Pontianak sampai kepada Andri yang tidak suka makan nasi sewaktu kecil.

Tak terasa, mobil sudah berhenti di garasi. Kurang lebih sudah pukul 22.00 WIB. Inilah rumah Andri. Saya disambut oleh Ibunya yang begitu ramah. Kemudian, karena terlihat lelah akibat perjalanan jauh, dan dalam waktu sebentar, saya akan melanjutkan lagi perjalanan membuat saya harus mempersiapkan diri. Di mulai dengan mandi terlebih dahulu akibat sudah seharian belum mandi. Kemudian, yang tak kalah penting adalah makan nasi beserta lauk pauknya. Sebab, sudah hampir dua hari tak bertemu dengan nasi akibat sahur dan buka seadanya diperjalanan. Di antara waktu-waktu yang singkat inilah, saya dan mereka saling berbagi kisah.

Jam menunjukkan pukul 23.00 WIB. Saya dipersilakan untuk beristirahat sekitar satu jam. Saya pikir ini lumayan untuk mengumpulkan seluruh energi dan kebijaksanaan diri dalam rangka memenuhi panggilan mengabdi. Lebay. Tapi, begitulah saya tertidur pulas hingga tak terasa sudah pukul 00.10 WIB, kita harus melanjutkan perjalanan. Saya bersiap-siap. Diberikannya dari orangtua Andri kepada saya dua amanah besar, pertama, motor Kharisma X tahun 2007, dan kedua, kue lebaran dalam berbagai rupa. Keduanya harus sampai ke tangan Andri. Syahdan, dengan takzim, saya terima amanah itu.

Kemudian, waktu yang sempit itu membuat saya meminta diri untuk bergegas. Khawatir jikalau ditinggal bis. Maka, dengan segala hormat dan ucapan terima kasih tak terperi, saya melangkah pergi, menuju ekor kalimantan. Dapatkah kau bayangkan kisah selanjutnya?

 

***

Pagi ini saya terbangun, menghela nafas dan mengucap syukur karena masih diberi hidup oleh Yang Maha Pemberi. Saya senang sekali melihat ada ‘orang baru’ lagi di sebalah kanan saya: Kresna. Biasanya Bang Dipo, tapi semalam nampaknya Bang Dipo tukaran dengan Kresna. Seperti biasa ada ritual subuh. Kemudian, saya keluarkan saja laptop sembari mengecek hp. Ternyata ada Fikri yang tiga kali menghubungi saya semalam, tapi saya sudah tidur. Hingga terbit kian-kian meninggi, tahu-tahu sudah ada­­__meminjam istilah Bang Dipo__Aisyah alias Rini, anak dari Pak Abdullah yang juga berkuliah di Yogyakarta sedang bersiap-siap membuka warung Mitra Utama milik Pamannya yang ada di seberang rumah. Hari ini, ia tampak jauh melebihi dari anggun karena sedang mencuci sekaligus mengasah golok. Seketika itu, Bang Dipo, yang semalam tidur ditempat Kresna tiba-tiba masuk ke rumah dan senyum-senyum.

Saya bisa paham maksud dari senyum-senyumnya. Adalah Aisyah, pasti, yang membuatnya cekikan bak penduduk Sumber Waras.

Di sini, singkat cerita, saya ingin melanjutkan kisah saya sebelumnya.

Sampailah saya di Kartiasa. Meski telah melalui jalan yang berkelok-kelok, dangdut yang tak pernah henti, dan suara perut keroncong akibat tak bisa sahur, karena kiri dan kanan saya ada Bapak membawa anak yang mana anaknya tidur dan menggelayut di pundak saya. Bersamaan dengan itu, tas saya yang berisi makanan tampak sulit terjangkau karena saking banyaknya tas dan barang yang dibawa di dalam bis itu, termasuk sepuluh buah motor yang ditaruh di atap.

Sebagaimana janji Andri dan Tegar yang akan menjemput, jam 9 sudah sampai Kartiasa, dan saat itu baru jam 7. Maka dengan menimbang, dua jam itu saya pergunakan untuk bobo sejenak. Barangkali bisa mimpi indah. Saya lihat ada surau, nah, saya meluncur ke sana. Saya jadi teringat dua malam lalu saat transit di Singapur. Emperan Changi dan bangku-bangku istrihat sudah penuh sesak dengan penumpang. Akhirnya, saya mencari Prayer Room dan tidur di sana. Meski kedinginan, tapi saya pikir lebih aman tidur di sana. Memang, ke manapun pergi, Masjid/Mushollah/Surau/Prayer Room adalah rumah yang menurut saya paling aman.

Batang hidung mereka berdua baru terlihat sekitar 09.45 WIB. Mau meluncur, tapi kasihan melihat mereka kecapekan. Akhirnya, opsi leha-leha di Surau kami pilih. Tegar dan saya sibuk mengurusi hp dan laptop, sementara itu Andri bobo. Ba’da Zuhur barulah kami berangkat. Perjalanan kali ini, menurut saya, agaknya jauh lebih menarik karena harus melewati dua sungai besar dan medan jalan yang tak cukup bagus karena hanya ada pasir, tanah merah, dan sedikit beraspal.

Singkat cerita lagi, kami sampai di Temajuk sekitar pukul 18:40 WIB. Perjalanan yang melelahkan itu membawa saya kepada suatu tempat yang belum pernah saya pijaki sebelumnya. Diperkenalkannya saya kepada keluarga angkat. Ada Pak Pandri, Ibu Shinta, kemudian tiga putra-putrinya Rios, Bunga, Nuh; dan Nenek. Kalau boleh sedikit bercerita, Pak Pandri ini merupakan seorang bapak, suami, pemilik bengkel, sekertaris desa, wakil ketua karang taruna, dan ketua pengurus Masjid Wahidatul Ummah. Ibaratnya, saya tinggal di rumah salah satu orang penting di desa. Bersama dengan saya, ada Rizki aka Pepi, dan Bang Dipo. Kami hidup dengan rukun, harmonis dan dilanda rasa bahagia dan canda tawa, mirip pasangan baru nikah.

Bukan hanya itu, masyarakat yang sudah menyatu dengan mahasiswa dan juga keramah-tamahan yang membuat kami banyak belajar tentang kewaskitaan dan membumi.

Dari situlah saya merasakan ada sesuatu yang menarik untuk dijalani. Bersama orang-orang baru, sekali lagi, bersama orang-orang baru, teman.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *