Menegakkan Kepala
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

*All Posts

Menegakkan Kepala

menegakkan kepala

Banyak diantara kita tertunduk dengan alasan merasa diri sudah kalah. Seolah harapan itu telah sirna. Banyak diantara kita berjalan dengan wajah murung. Seperti hidup kehilangan bahagianya. Satu hal: kita harus memiliki harapan. Dengan rundungan masalah yang kita hadapi, kita harus tetap memiliki harapan. Mengapa?

Begini. Dunia yang kita huni saat ini berpenduduk sekitar 7 milyar umat manusia. Mereka tersebar dari barat ke timur, utara ke selatan. Bayangkan saja, apabila 7 milyar umat manusia ini telah kehilangan harapan akan dunia yang lebih baik, bagaimana kita bisa menaruh harapan tentang masa depan? Wajah sumringah bumi menjadi tiada.

Disaat yang sama saya ingin berkata ‘sayang’. Yah, sayang bahkan teramat sayang kepada mereka yang menjadikan hidupnya tidak hidup. Sebatas dijalani dan sekadar menerima takdir. Padahal, hidup tidak sebercanda itu. Ada keseriusan yang membuat kita memilih untuk memperjuangkannya. Supaya kita sadar, bahwa dengan apa-apa yang kita miliki, itu semua harus kita syukuri. Sebab, masih ada loh penduduk bumi yang mereka meski makan sehari hanya sekali dan tak tahu esok mau makan apa, tetapi mereka tetap memiliki harapan. Mereka tetap berusaha untuk bisa bahagia dengan segala keterbatasan. Lalu, bagaimana denganmu yang hidup sempurna? Berasal dari keluarga berada?

Mari sobat, kita tegakkan kepala kita. Rebut takdir kita. Raihlah cita kita. Memang manusia ini terbatas, tapi bukankah perjalanan kita sedang menuju kepada Dia yang tak terbatas. Dan Dia yang tidak terbatas itu akan senantiasa membantu kita untuk menghadapi batasan-batasan kita saat menghadapi berbagai ujian kehidupan. Asalkan kita senantiasa menjadikan Dia tempat bergantung.

Mulai saat ini, berhenti mengeluh tiada guna. Jangan terlalu banyak mengutuk keadaan. Tegakkan kepalamu Sobat. Tegakkan. Saya tak ingin melihatmu kehilangan masa depan. Dan masa depanmu tak ingin melihatmu dirundung kegalauan. Kita memiliki seluruh persyaratan untuk optimis. Kita sehat, kita berpendidikan, dan kita bisa berbuat kebaikan. Sebatas itu syarat untuk kita bisa optimis.

Ayo, kita tegakkan kepada. Hadapi kehidupan!

 

Semoga apa-apa yang saya tuliskan ini mampu memantik hati kecilmu. Supaya kamu sadar bahwa hidup tidak selamanya menerima. Ada sebagian takdir yang harus kita rebut.

Siap Merawat Indonesia

Baktinusa 6

Oleh Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia – PM Baktinusa 6 Jogja

Hidup adalah pertempuran antara baik melawan buruk. Kondisi bangsa saat ini seolah menunjukkan, bahwa pertempuran itu dimenangkan oleh keburukan. Tentu saja hal ini menyesakkan dada ketika menyaksikan seonggok kemanusiaan terkapar. Rakyat melarat, merintih, dan ringkih. Sementara itu, banyak pemimpin kita hanya pikirkan citra diri, sibuk sana sini, lari dari tanggung jawab kemanusiaan. Dengan itu, Indonesia yang kita semai ibarat tanaman rusak tak terawat.

Merawat Indonesia artinya siap menjaga akal sehat untuk mencintai Indonesia kurang maupun lebihnya. Hal tersebut merupakan cita-cita mulia bagi setiap anak bangsa yang menginginkan tuk tolak melulu sikap mengutuk. Agar negeri ini selaras dalam gerak konstruktif, menutupi segala kekurangan diri.

Alhamdulillah, Allah izinkan saya mengenyam pembinaan di Beasiswa Aktivis Nusantara_sama halnya dengan beasiswa yang kudapat sebelumnya: Rumah Kepemimpinan_yang mana mengajak kita untuk berkolaborasi dan membentang kebaikan. Bukan tanpa sebab. Ide, gagasan, referensi, bahkan pendirinya pun lahir dari rahim yang sama dan sejalan dengan cita-cita membangun Indonesia yang berdaya; Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

Untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan kekuatan aliansi kepemimpinan strategis yang siap melayani kemanusiaan. Memang, jumlah alumni program ini terbilang masih sedikit, tetapi memiliki potensi, nyali, dan daya pikir diluar kotak. Untuk itu kita layak disebut sebagai “creative minority”. Namun demikian, kita mengemban amanah besar untuk memengaruhi “silent majority” agar berada bersama kita dalam barisan kebaikan. Tentu, kebaikan itu bukan sekedar penilaian etik pribadi semata melainkan buah amal perjuangan yang telah dirumuskan bersama nilai dasarnya: kemanusiaan. Sehingga, meskipun berbeda dalam cara, pastikan kita sama dalam cita.

Dengan ini, saya berterima kasih atas kesempatan dan kebersamaan. Kita telah menjadi saudara melewati batas pertemanan. Dan saya mengundang saudara seperjuangan untuk bertanggung jawab; siap merawat Indonesia. Saya siap! Kamu?

24 Februari 2018
22.11 WIB
Menitikan air mata, kemudian bahagia

Terbitnya Kolaborasi Kebaikan

Kolaborasi Kebaikan

Alhamdulillah. Tahun ini Allah Swt,. berikan kesempatan kepada saya untuk bisa menulis. Yah, menuliskan sebuah gagasan yang sudah lama saya bangun. Adalah ‘kolaborasi kebaikan’ yang merupakan hasil mentadaburi Al Qur’an surah Al Maidah ayat 2.

Dalam ayat tersebut, Allah Swt,. mengajak kita untuk “saling tolong-menolong dalam kebajikan dan taqwa”.

Tolong-menolong di sini, saya ibaratkan sebagai upaya kolaborasi. Modal sosial bangsa Indonesia pun adalah kolaborasi, yang dalam bahasa Soekarno disebut sebagai ‘gotong royong’. Kemudian, Allah Swt,. telah menetapkan bahwa balasan bagi kebaikan hanya kebaikan. Hal ini sebagai penegas agar kita senantiasa berbuat baik.

Semoga hadirnya buku ini bisa diterima. Semoga kita semua bisa mengambil manfaat atas kebaikan yang tersurat di dalamnya.

BEM KM UGM Kabinet Kolaborasi Kebaikan

kolaborasi kebaikan

Assalamu’alaykum wr.wb.

Salam cinta, salam perjuangan.

Atas nama cinta kita berjuang.

Hidup Mahasiswa Indonesia!

Hidup Mahasiswa Gadjah Mada!

Hidup Rakyat Indonesia!

Alhamdulillah, perjalanan punggawa BEM KM UGM Kabinet Kolaborasi Kebaikan telah mencapai puncak tertinggi di UGM. Puncak itu telah kami daki dengan wajah tegak menatap ke langit, penuh dengan semangat dan tanggung jawab. Namun, mencapai puncak saja tidak cukup membuat kami jumawa. Setelah berada di puncak justru membuat kami sadar bahwa kami begitu kecil, lemah dan tak berdaya dihadapan pemilik semesta.

Allah Swt telah menciptakan langit dan bumi dengan perhitungan yang rumit. Akal pikir kita sebagai manusia yang disebut cerdik sekalipun ketika dihadapkan oleh kuasa-Nya tidak ada apa-apa. Tak sanggup kita menjangkau barang sejengkal. Untuk itu, perjalanan ini malah membangkitkan ghirah perjuangan kami untuk semakin mendekati-Nya yang tak terbatas itu. Di titik ini kami sadar, kami sedang berada ditengah perjalanan panjang menuju Dia yang tak terbatas.

Apa pun disiplin ilmu yang kami pelajari diperkuliahan, apa pun tugas dan tanggung jawab kami di BEM KM UGM, itu semua merupakan hal kecil apabila manfaatnya tidak mampu dirasakan seutuhnya bagi banyak orang. Untuk itu, kami dengan sadar diri berupaya menerima dan melaksanakan amanah ini sebaik-baiknya.

Kami pun membagi peran di BEM KM UGM ke dalam satu Kesekjenan dan tiga Kemenkoan yang masing-masing di dalamnya terdapat empat Kementerian. Dalam Kesekjenan kita telah berupaya membentuk sistem kaderisasi yang baik, transparansi dana, media yang informatif, dan administrasi yang rapih. Kemudian, dalam Kemenkoan Kemahasiswaan kita telah menjadi garda terdepan pelayanan advokasi dan kesejahteraan mahasiswa, merawat jejaring dengan entitas Keluarga Mahasiswa di Fakultas hingga Departemen, membuat kegiatan yang mampu menyalurkan sekaligus meningkatkan karya dan potensi mahasiswa, serta membuat bisnis dan mencari dukungan finansial yang mampu menyokong pergerakan.

Selanjutnya, Kemenkoan Kemasyarakatan yang bertugas untuk membela kaum mustad’afin. Merekalah Kemenkoan yang jauh dari caci-maki publik. Kemenkoan ini memiliki jumlah staf yang sangat besar dan siap kapan pun untuk diterjunkan ke tengah masyarakat. Sehingga, perannya seperti hadir dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan, melihat potensi sekaligus memberdayakan desa, didukung oleh riset khas mahasiswa, serta proses advokasi pemindahan Kantin Sosio-Humaniora. Terakhir, Kemenkoan Eksternal yang mendapatkan mandat untuk mengkaji isu-isu strategis, terlebih isu pendidikan tinggi, dikarenakan acara didukung oleh jejaring yang kuat sehingga pewacanaan dan propaganda menjadi masif.

Sedikit saja mengulang masa setahun silam saat tawaran itu datang. Yah, saya ditawari oleh Partai Bunderan untuk menjadi calon Presiden Mahasiswa; melanjutkan kebaikan yang telah dilaksanakan oleh Kabinet Inspirasi Indonesia. Dengan penuh keberanian saya coba untuk ambil bagian. Dan setelah menjadi Presiden Mahasiswa, saya sadar betul bahwa tugas yang saya emban tidaklah mudah.

Dengan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada rekan-rekan pengurus harian beserta staf, yang senantiasa membantu dan mendukung untuk membuat organisasi ini besar dan terpandang di segala penjuru. Kalian telah menjadikan organisasi ini tak pernah sepi dari kegiatan yang manfaat, selalu ambil bagian dalam pelbagai persoalan bangsa, menjadikan sekretariat selalu ramai dengan gagasan disertai tawa-canda.

Semoga Allah Swt., selalu melindungi kita semua, mendewasakan serta saling mengikhtiarkan untuk tetap menjaga dan terjaga sampai waktu yang tak terbatas. Semoga apa yang disampaikan juga mampu menjadi pemantik imajinasi tiada henti. Terakhir, kenanglah persaudaraan ini disepanjang hidupmu. Mari kita menuju tak terbatas!

Wassalamu’alaykum wr.wb.

Maklumat Sidang Rakyat

bendera bem km ugm

Izinkan saya angkat bicara melalui Maklumat ini. Saya ingin memulainya dengan sebuah sikap dan pernyataan tegas: Jokowi-Jusuf Kalla gagal dalam mewujudkan keadilan sosial.

Sikap dan pernyataan tersebut dapat ditelusuri melalui pemahaman tentang tujuan kita hendak bernegara. Dalam Pembukaan UUD 1945 Alinea ke-IV disebutkan bahwa tujuan bernegara adalah untuk “…melindungi, menyejahterakan, mencerdaskan, menjaga perdamaian dan keadilan sosial”, sehingga, apabila tujuan itu belum selesai, tugas kita sebagai pewaris peradaban ialah turut andil memastikan generasi penerus bangsa bekerja keras guna menyelesaikannya.

Adapun tujuan lain kita hendak bernegara dapat dilacak melalui prosiding Kongres Pancasila IV di Yogyakarta pada 31 Mei – 01 Juni 2012 yang mengambil tema “Strategi Pelembagaan Nilai-nilai Pancasila dalam Menegakkan Konstitusionalitas Indonesia”. Dalam prosiding tersebut, sudah dijelaskan jalan keluar menuju kepada tujuan kita bernegara, seperti yang dirumuskan Soekarno di dalam Negara Asia-Afrika, yakni dengan melaksanakan “TRISAKTI” yang di dalamnya memandu segenap anak bangsa supaya “berdiri di atas kaki sendiri dalam ekonomi, bebas dalam politik dan berkepribadian dalam kebudayaan”.

Jadi, untuk membangun satu negara yang maju, dibutuhkan ekonomi yang merdeka. Dalam negara kesejahteraan yang menjamin keadilan sosial itu, meskipun prinsip-prinsip ekonomi pasar diberlakukan, ‘kesejahteraan bersama’ menjadi unsur penting dari tujuan bernegara.Dalam hal ini, tidak ada lagi pihak yang kuat meninggalkan yang lemah. Artinya, sudah sangat jelas bahwa tujuan kita bernegara ialah guna mencapai “kesejahteraan bersama dan keadilan sosial”.

Upaya tersebut sebenarnya sudah dengan sangat taktis dirumuskan melalui visi-misi dan program aksi bernama “Nawa Cita”. Dokumen sebanyak 42 halaman itu memuat gagasan besar yang bernas. Namun, upaya pelaksanaannya masih terbentur kepentingan kaum begal bangsa yang bermain dalam wilayah ekonomi-politik dengan penguasaan kapital yang luar biasa.

Z-FKPlAdV6-T68RkVydpPVbZhIJ8j-5Q.jpg

Kita tentu mengenal istilah “9 naga”. Mereka adalah sekelompok orang terkaya di Indonesia yang memiliki visi besar untuk mengendalikan kebijakan politik negara agar kondusif bagi kepentingan bisnisnya. Dihadapannya, negara tunduk.

Hal ini dapat dilihat seperti kasus reklamasi di Teluk Jakarta yang harus menggusur mata pencaharian para nelayan. Negara, di sini, tidak berkutik; negara tidak mampu hadir menjamin keadilan sosial. Maka, tidak heran apabila terjadi kesenjangan ekonomi.

Kemudian, terdapat ancaman bagi kedaulatan rakyat. Menurut Mohammad Hatta dalam Kedaulatan Rakyat, Otonomi dan Demokrasi (2014) bahwa “berdasarkan pengalaman yang diperoleh di benua Barat, dan bersendi pula pada susunan masyarakat desa Indonesia yang asli, kita dapat mengemukakan kedaulatan rakyat yang lebih sempurna sebagai dasar pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kedaulatan rakyat bagi Hatta meliputi kedaulatan politik dan kedaulatan ekonomi”.

Hal tersebut sejalan dengan TRISAKTI milik Soekarno. Dua proklamator ini terlampau canggih untuk merumuskan sekaligus meletakkan dasar pemikiran yang relevan bagi bangsa Indonesia disepanjang zaman. Namun, ancaman itu justru hadir dari negara agar rakyat tidak lagi memiliki kedaulatan dibidang politik dan ekonomi.

Ketakutan yang merupakan warisan Orde Baru terus dilanggengkan oleh penguasa hari ini baik di kampus sebagai lingkungan akademik, maupun di masyarakat dengan tindakan represif dari aparat kepolisian. Ketika rakyat menyuarakan pendapatnya, negara seolah tidak terima dan membungkam.

Cara-cara yang digunakan negara pun relatif canggih. Saya bisa menyederhanakannya seperi berikut: banyaknya akun bodong yang berkomentar memukul balik pihak kritis dalam setiap status viral karena dianggap sebagai ancaman negara; proyek memasukan intelijen di dalam tubuh mahasiswa untuk membentuk konflik horizontal, sehingga mahasiswa hanya sibuk dan habis tenaganya untuk mengurusi urusan internal agar mahasiswa tidak lagi memiliki daya untuk mengkritisi negara; juga mulai ditutupnya sarana-sarana ideologisasi pergerakan mahasiswa dengan dalih bahwa tugas mahasiswa dalah belajar, dan demonstrasi adalah cara yang dinilai tidak beradab.

Di saat bersamaan, masyarakat Indonesia yang kadung dipecah-belah juga oleh isu radikalisme dan intoleransi yang bahkan menjamahi kampus. Negara mencipta musuh bersama, supaya perhatian publik teralihkan. Negara pun bisa memperpanjang nafasnya, terutama untuk menutupi borok kesenjangan dan ketidakadilan yang membabi buta.

Apa yang dilakukan negara di atas sama halnya yang pernah dilakukan oleh kaum kolonial: politik adu domba. Masyarakat kita dipecah-belah untuk saling memusuhi sehingga menafikan pembelajaran sebagai satu bangsa yang bhineka.

Untuk itu kita memerlukan kedaulatan rakyat. Bagi Hatta, menegakkan kedaulatan rakyat adalah ‘mendidik rakyat’ supaya tahu berpikir, supaya tidak lagi membebek di belakang pemimpin-pemimpin. Supaya keinsafan rakyat akan hak dan harga diri bertambah kuat dan pengetahuannya tentang hal politik, hukum dan pemerintahan bertambah luas. (Daoelat Rakjat, 1933).

Penggalangan aksi massa di Istana Negara esok, karena jalur diplomasi melalui pengajuan audiensi telah gagal dilakukan, sengaja dicipta untuk mendidik rakyat. Supaya kita sadar bahwa ada sesuatu yang tidak beres terjadi di republik ini. Martabat kita sebagai manusia sedang terancam. Dengan kesadaran kolektif itulah, kita akan mengerti dan bergerak meski dalam situasi sulit sekalipun.

Terakhir, berkaitan dengan penegakan hukum di mana hukum tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas. Komitmen politik untuk menegakan hukum terutama dalam upaya negara memberantas korupsi seolah-olah hanya penggembira belaka.

Kita tahu bahwa Setya Novanto adalah sosok kebal hukum, tetapi berulangkali juga kita gagal menyeretnya ke sel tahanan. Adanya pansus Hak Angket KPK di mana telah terang keberpihakannya untuk memandulkan dengan upaya merevisi UU KPK, bukan UU TIPIKOR; atau pun pelaku kasus penyiraman air keras kepada penyidik KPK Novel Baswedan yang belum menemui titik terang meski sudah lebih dari enam bulan dari kejadian. Padahal, beliau telah berkali-kali diancam keselamatan hingga nyawanya.

Namun kita tak kunjung sadar. Lemahnya ingatan kita sebagai satu bangsa yang besar membuat penegakan hukum seolah berjalan ditempat, atau bahkan cenderung mundur.

Hal-hal di atas apabila serius untuk ditindaklanjuti semestinya membuat rakyat paham betul, bahwa pemerintah hari ini tak cukup bisa untuk kita percayai. Namun justru baru-baru ini Indonesia meraih peringkat pertama tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah berdasarkan data Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dalam publikasinya ‘Government at a Glance 2017′.

Kejanggalan tersebut yang membuat kita ingin berteriak, mendebat, dan menggugat semua yang terjadi hari ini. Semua paparan negara yang baru saja dibuat oleh Kantor Staf Kepresidenan dan dimuat di laman presidenri.go.id/ seolah menunjukkan pemerintah baik-baik saja; negara masih dalam kondisi aman.

Padahal, kita tahu ancaman kepentingan asing (Cina) sudah mulai menjangkiti tubuh bangsa. Ideologi bangsa bernama Pancasila sekadar kamuflase bahwa pemerintah telah shahih benar-benar mengamalkan butir-butir di dalamnya.

Di saat bersamaan, negara membohongi kita dengan membuat kesadaran palsu ‘negara baik-baik saja’: membiarkan penguasaan alat-alat produksi dikuasai oleh segelintir orang/kelompok yang serakah, bangsa dikoyak oleh kemiskinan dan kebodohan struktural.

Dengan itu, kawan, bacalah baik-baik Nawa Cita itu:

“Kami menyadari untuk mewujudkan ideologi itu bukan kerja orang perorang ataupun kelompok. Ideologi memerlukan alat kolektif yang namanya gotong-royong. Dengan kolektivitas itulah “ruh” ideologi akan memiliki “raga”, keberlanjutan dan sekaligus kekuatan maha dahsyat. Sedangkan kata-kata “berdaulat, mandiri dan kepribadian” adalah amanat Pancasila 1 Juni 1945 dan TRISAKTI.”(Nawacita, hlm. 4).

Sudah paham? Negara perlu bergotong-royong dengan masyarakatnya dalam mengemban ideologi, bukan malah menjauhi dan memusuhi masyarakatnya dengan mencipta Perppu No 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Masyarakat.

7uxhJFoT4R5vnUf6gYkiBMPFqmD9Zf4n.jpg

Dan dalam ideologi pancasila itu, tidak dibenarkan adanya kesenjangan ekonomi; tidak dibenarkan adanya ketidakadilan; yang dibenarkan adalah mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sebab, hal tersebut merupakan amanat Pancasila dan Trisakti sehingga saya kira dalam terjadinya ketidakadilan sosial ini, justru penyelenggaran negara telah berkhianat terhadap amanat tersebut.

Terakhir, sebelum menutup maklumat ini, saya ingin sampaikan. Saya memiliki rasa cemas kepada anak-anak muda yang bermental tempe. Saat aksi massa tidak memiliki kajian, aksi tersebut dianggap tak berdasar. Kemudian, saat aksi massa sudah memiliki kajian, aksi tersebut dianggap tidak sah mewakili suara mahasiswa lantaran diskusi yang ada dilaksanakan di kalangan terbatas.

Selanjutnya, saat aksi massa sudah memiliki kajian dan telah dilaksanakan diskusi terbuka, aksi tersebut tidak dihadiri oleh mereka dengan alasan aksi tersebut diboncengi oleh kepentingan partai politik oposisi. Hemat saya menyebut mereka sebagai kaum hipokrit. Terus-menerus alasan konyol diproduksi untuk melegitimasi tindakan mereka.

Hingga sejauh ini saya membatin dan bertanya: untuk tidak bergerak, kalian dibayar berapa oleh koalisi? Atau apakah mungkin nurani kalian telah mati? Untuk menjawab itu, kita hanya perlu melihatnya dari sikap dan perbuatan. Sebab, sikap dan perbuatan lah yang menunjukkan seseorang layak disebut sebagai manusia atau tidak.

Sampai jumpa di istana negara. Esok, kita laksanakan sidang rakyat!