Tanjung Priok
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

*All Posts

Tanjung Priok

Tanjung Priok

Tulisan ini merupakan catatan panjang yang penulis coba untuk sederhanakan, hendak ditujukan kepada para pemangku kebijakan, termasuk sebagai bahan refleksi penulis untuk merintis perubahan bagi kotanya.

Pada tahun 2010, Muhammad Ridha peneliti INKRISPENA menulis catatan menarik tentang Hak Atas Kota (lihat: http://indoprogress.blogspot.co.id/2010/08/hak-atas-kota.html). Dalam tulisan tersebut, Ridha mengajak kita merefleksikan kembali tentang apa yang dimaksud dengan kehidupan kota. Ia mendefinisikan bahwa kehidupan kota merupakan aktivitas keseharian di kota itu sendiri.

Selanjutnya, ia mencontohkan kehidupan kota Jakarta. Ia menyebutkan bahwa ada banyak hal yang berada di luar kendali bagi warga kota Jakarta di mana penyakitnya kota itu sudah mencapai level akut. Segala respons dan upaya belum mencapai hasil yang diinginkan. Konsekuensi bagi warga kota Jakarta ialah menjadi terasing dari dirinya sendiri. Sebuah kondisi warga kota yang mengerikan. Ridha menyebutnya sebagai ‘warga kota yang tanpa jiwa, tanpa substansi’.

Catatan menarik di atas benar. Saya mengamini. Sejak orok hingga mendewasa kini, saya dididik dan dibesarkan oleh kerasnya kehidupan kota Jakarta. Lebih spesifik lagi tempat saya bertempat tinggal: Tanjung Priok. Pertanyaan di muka yang ingin saya lemparkan kepada saudara, apa yang terlintas di pikiran Anda tentang Tanjung Priok?

Suatu hari, saya melakukan survei kecil-kecilan kepada beberapa rekan kuliah di Yogyakarta. Saya melontarkan pertanyaan sebagaimana saya sebutkan di atas. Jawabannya benar-benar mengerikan. Tanjung Priok identik sebagai city of evil, sebagaimana lagu milik Avenged Sevenfold. Ada lagi yang mengidentifikasinya sebagai kota dengan tingkat kriminalitas dan kesenjangan yang tinggi. Namun, yang patut membuat saya mengelus dada (sendiri) adalah karena tingkat pendidikannya yang rendah.

Saya diam sejenak sembari menghela nafas dalam-dalam. Ternyata pandangan buruk di atas tentang Tanjung Priok seperti sebuah pandangan umum. Dan saya harus sampaikan bahwa pandangan mereka ada benarnya. Bahkan kenyataannya terkadang lebih mengerikan dari sekadar data-data yang dibuat pemerintah. Dengan ini, saya mencoba memahami realitas, menganalisis dalam-dalam dan mencoba mencari jalan keluar.

Realitas kehidupan yang harus saya jalani di sini adalah berteman dengan kemiskinan. Bukan orang lain, melainkan diri saya sendiri yang mengalami. Saya anak pertama dari empat bersaudara. Orang tua saya guru honorer di tiga sekolah, salah satunya SMP Negeri di Jakarta. Berkali-kali ikut Tes CPNS dan gagal. Gajinya sebulan pada tahun 2013, sesaat saya sebelum masuk kuliah, sebesar Rp. 1.500.000,-.

Coba Anda bayangkan, bagaimana saya dahulu bisa bersekolah dan kini berkuliah? Bagaimana cara Ibu saya mengatur keuangan rumah tangga agar dengan uang itu, waktu sebulan dapur bisa ngebul? Dan beragam pertanyaan lain terlontar atas kehidupan nyata yang sedang saya jalani.

Bukan hanya saya, pun melihat rekan sejawat, kawan nongkrong, dan/atau tetangga kiri-kanan. Mereka pun merasakan perih yang sama lantaran didera kemiskinan. Alhasil, banyak di antara mereka yang menjambret, memalak, mengedarkan narkoba, main cewek, nyimeng, sekadar ngobrol-ngobrol tengah malam, nyanyi-nyanyi di setiap ujung gang, sembari ngudud dan nenggak minuman beralkohol. Ya ayuhannas. Ini peringatan bahwa ada segudang permasalahan besar yang sedang kita hadapi.

Saya menganalisis atas semua ini. Dengan mempertimbangkan beberapa faktor, maka yang membuat mereka pada akhirnya melakukan tindakan keji di atas adalah tidak lain karena faktor pendidikan. Ya, pendidikan di rumah maupun di sekolah. Orang-orang tua di Tanjung Priok tidak banyak memperhatikan anak-anaknya. Sekolah hanya formalitas, tidak banyak diisi oleh kegiatan-kegiatan inovatif yang mengajak kita mengolah rasa dan pikir.

Atas dasar rasionalitas tersebutlah, saya memberanikan diri untuk mengubah keadaan. Saya ingin tetap mengenyam pendidikan, bahkan hingga kuliah. Sehingga, “saya kuliah karena saya bodoh, dan selamanya saya tidak ingin menjadi bodoh. Agar kelak saya bisa menolong orang-orang di sekitar saya keluar dari kebodohan.”

Kebetulan, Anies Baswedan yang kemudian terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta periode 2017–2022 merupakan tokoh pendidikan. Sebagaimana kita tahu, konsentrasi beliau terhadap dunia pendidikan sangat tinggi. Dengan ini, muncul harapan dari saya pribadi terkait masa depan Tanjung Priok, di mana setiap anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, sehingga mereka bisa menolong setidaknya diri mereka sendiri untuk bisa hidup lebih bermartabat.

Saya tak bisa membayangkan betapa bahagianya, ketika anak-anak muda Tanjung Priok lebih gemar memegang buku dibandingkan sekadar memegang dan menenggak sebotol bir. Saya kan bersenang hati ketika anak-anak muda Tanjung Priok bisa mendapatkan pekerjaan yang layak, mencukupi kebutuhan hidupnya, membantu orang-orang di sekitarnya bahkan suatu hari bisa berkontribusi besar bagi republik ini. Maka, mempermudah akses terhadap pendidikan harus menjadi program yang utama.

Di saat bersamaan, dibutuhkan penegakan hukum yang tak pandang bulu. Barang siapa yang melanggar hukum, ia harus segera ditindak. Kriminalitas yang tinggi bisa terjadi karena abainya negara dalam menghadirkan kepastian dan penegakan hukum. Dengan adanya kepastian dan penegakan hukum, maka dapat dipastikan terjadinya kondisi masyarakat yang aman dan nyaman. Untuk itu, saya mohon dengan sangat agar Jokowi mampu menghadirkan penegakan hukum tanpa pandang bulu.

Selain politik dan hukum, kita juga harus memperhatikan sektor yang lain. Seperti di bidang kesehatan, pembangunan Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok menjadi angin segar bagi pelayanan kesehatan yang harus dilaksanakan secara prima. Di bidang perekonomian, pembenahan tata kelola pasar tradisional, OK OCE Mart dan produk creative home industry harus digiatkan.

Dan yang terpenting, bagi mereka yang terlanjur tidak mengenyam pendidikan hingga tingkat tinggi hendak diikutsertakan dalam Balai Pelatihan yang mengasah kemampuan. Kemudian, di sini, pemerintah daerah bekerjasama dengan pemerintah pusat bertanggungjawab membantu mereka dengan memberikan dua opsi: perbantuan dana untuk membangun usaha atau menyediakan lapangan pekerjaan sebagai karyawan, dll.

Di saat bersamaan, harus muncul sebuah gerakan di Tanjung Priok. Gerakan ini ibarat dua mata pisau yang mampu di satu sisi mendukung, di sisi lain mengontrol jalannya pemerintahan. Tentu saja, gerakan ini harus dipelopori oleh anak-anak muda yang berkesadaran sebagai warga kota Jakarta. Sehingga, kota Jakarta, terutama Tanjung Priok mampu menghadirkan gairah yang membuat para penghuninya berjiwa besar dan memiliki substansi atas apa yang hendak dijalani dalam hidupnya.

Dengan ini saya berefleksi, dan memanggil kaum muda Tanjung Priok yang berkesadaran di mana pun ia berada untuk sama-sama memikirkan kota yang hendak membesarkannya. Saya sungguh yakin, ada banyak kaum muda Tanjung Priok yang memiliki kesadaran akan tanggung jawab serta sikap mulia untuk bisa menolong sesamanya.

Maka, jika Anda masih gemar ber-fafifu dan sekadar berimajinasi tentang rakyat, datanglah ke rumah saya! Datanglah ke Tanjung Priok. Saya akan tunjukkan wilayah mana saja yang menjadi gudang kesenjangan. Saya akan ajak kalian ke dalam diskusi-diskusi kelas bawah. Saya akan larutkan kalian dalam suasana haru-biru karena masih banyak orang hidup dalam kemelaratan. Saya akan buat kalian berempati. Dengan ini, sudahi bicara tak ada guna, mari kita berbuat baik lebih banyak.

Terakhir, teruntuk para pemangku kebijakan. Saya mengharapkan perhatian yang dalam atas kondisi di Tanjung Priok. Barangkali, perbaikan ini akan menjadi kado berkesan dari negara dalam merayakan Hari Ulang Tahun DKI Jakarta ke-490.

Kaum Terpelajar, Bergeraklah

Presiden Mahasiswa UGM

Hidup adalah pertempuran baik melawan buruk. Dalam diri kita bersemayam akal, nafsu dan perasaan. Akal mengedepankan logika, nafsu kedepankan ambisi, sedangkan perasaan menekankan kejernihan hati. Hatilah yang mengendalikan manusia agar berperasaan dan berperangai baik. Sebaliknya akal dan nafsu apabila tidak terkendali akan menuntun kita pada keburukan.

Maka pandai-pandailah merawat dan mengelola hati. Sebab orang yang demikian pandai merawat dan mengelola hati inilah yang dinilai sudah selesai dengan dirinya sendiri. Ia mampu menundukkan akal dan nafsu yang tak terkendali. Karena sungguh hati takkan pernah bisa bohong.

Dalam konteks kehidupan nyata__juga maya__banyak perilaku kurang ajar dan itu banyak dilakukan oleh orang-orang terpelajar. Semakin berilmu malah semakin kelewat batas. Merampok uang rakyat, melakukan tindakan kriminal, membohongi publik, mengeluarkan ‘dalil’ akademik yang merugikan dan beragam perilaku kurang ajar lainnya. Peran hati seolah terkikis oleh akal dan nafsu.

Di sini penulis sepakat dengan petuah Tan Malaka; yang mana sederhananya, “lebih baik pendidikan tidak usah diberikan kepada kaum terpelajar jika pada akhirnya digunakan untuk menindas dan berjarak”.

Dalam hemat penulis menindas adalah membohongi hati-nurani; sedangkan berjarak adalah mengabaikan realitas sosial. Keduanya tidak boleh dilakukan oleh seorang terpelajar. Hati yang tulus-ikhlas, membangun barisan yang kokoh, melantangkan suara dan bergerilya memperjuangkan kebaikan. Semua itu harus disampaikan kaum terpelajar kepada siapapun pelaku penindasan; bukan malah menjadi bagian destruktif.

Mahasiswa harus bisa me-monitoring peran penguasa baik di kampus kampus hingga level negara supaya check and balance tetap berjalan. Memastikan penguasa mengelola negara tidak serampangan. Peran dosen, peneliti, dan segenap masyarakat terdidik ialah sebagai pencerah masyarakat sekaligus pengontrol penguasa. Supaya kaki mereka tidak rapuh untuk menopang beban amanah teramat besar.

Masyarakat terdidik memiliki pengetahuan yang memadai guna menyelesaikan persoalan sosial. Karena pendidikan menjamin ketersedian pengembangan Ilmu. Ilmu itu tidak boleh berhenti pada segelintir orang saja, apalagi terbatas pada tumpukan tulisan di jurnal. Ilmu harus berupa amaliah yang mampu menggembirakan banyak orang. Sedangkan amal yang dilaksanakan dilaksanakan secara ilmiah supaya dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Dalam proses inilah hati dan olah rasa yang membuat kita arif nan bijaksana dalam menghadapi persoalan; menjadikan kita waskita.

Fungsi memperjuangkan oleh kaum terdidik yang secara tegas bicara tentang keberpihakan harus mengudara ke segala arah, bahkan ke celah-celah terkecil sekalipun. Maksudnya, ketika bicara soal memperjuangkan, kita tidak hanya bergerak di ranah kebijakan, seperti pembuatan Undang-undang. Di sini, mendengar keluh-kesah, rintih dan jerit tangis para kaum mustad’afin adalah upaya yang harus terus-menerus digencarkan sebagai bagian dari memperjuangkan.

Orang yang tidak memiliki sesuatu tidak dapat memberikannya. Kaum terdidik punya ilmu dan dengan itu dipergunakan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan dan kemanusiaan. Sebab, dunia ini sedang dalam kondisi kemerosotannya. Bukan hanya yang terlihat seperti kabar di media mainstream. Tapi apa yang terlihat secara nyata dengan mata dan terdengar oleh telinga kita bahkan lebih mengerikan.

Maka bergeraklah kawan, bergeraklah. Hati yang akan membimbing pada kebenaran, sedangkan ilmu sebagai alat perjuangannya. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.

 

Abstrak

abstrak

Aku ingin mengajari diri hal-hal beda setiap hari. Yang mana ketika hidupku kelak menua dan mati, ada cerita tersendiri yang dapat kupertanggungjawabkan dihadapan ilahi.

Ada banyak hal yang sulit kupahami dari dunia. Tentang doa, cinta dan pengorbanan. Semua bicara tentang memperjuangkan. Banyak klue berserakan, tak sepenuhnya menjawab kebutuhan sejumlah tanya dari rentetan kotak vertikal-horizontal.

Sekarang banyak orang bingung mencari Tuhan. Karena dilihat tidak ada, dicari tidak ketemu. Semua kabur, setidaknya samar. Pekat hitam tak terlihat. Inilah akibat kehilangan cahaya iman.

Niat baik seseorang tak beranjak, bila tak berbuah pada laku amal. Hidup segan mati tak mau. Tinggal lah hidup sayu.

Banyak juga yang menulis surat cinta atau pun puisi untuk seseorang yang baginya spesial. Padahal ia yang spesial tak lebih dari sekadar fana. Tak percaya? Beri aku kepastian tentang hari esok. Bisa saja kau benci sebencinya ia. Sungguh.

Ada lagi mereka yang mendaku juru selamat dari akar rumput. Bahkan untuk sekadar menyapa ‘rakyat’ yang asalnya dari akar rumput pun tak pernah. Kalian munafik membela rakyat. Kalian cuma buang habis sudah waktu untuk diskusi hingga larut malam di warung kelontong. Meninggalkan Tuhan, tugas, orang tua dan kehidupan menantang lainnya bersama ‘rakyat’.

Mahasiswa gontok-gontokan karena beda kepentingan. Tuk merebut yang diyakini sebagai haq. Acapkali kebingungan, sebab semua dinilai relatif. Padahal sungguh, yang benar itu benar, yang salah harus menyerah pada kebenaran.

Kita harus mulai terbiasa hidup tanpa panutan. Di negeri yang banyak koruptor dan kaum hipokrit. Mereka lah yang bersenandung ria, menari di atas penderitaan kaum mustad’afin. Hancurkanlah.

Bisakah kita menebus dosa terhadap dosa yang tak pernah dilakukan. Bisakah kita memaafkan untuk kesalahan yang tidak termaafkan. Bisakah kita berdiri apabila kaki tak mampu menopang. Bisakah kita saling mencinta apabila tak dicinta.

Bisakah kita membalas jika tak ada sebab. Bisakah kencing sambil berlari. Bisakah menjawab saat tak ada tanya. Bisakah memiliki apabila tak punya.

Mari kita selesaikan hari ini sebelum esok. Dan pastikan esok tak kehilangan waktu menjawab tantangan. Kita punya dua telinga untuk mendengar gelisah, dua mata untuk melihat bahagia, dan satu mulut untuk melawan penindasan.

Terkadang hidupku abstrak. Lebih sulit meruwat jalan pikirku dibanding menyalakan api dihutan dengan batu. Dan memang, kawan yang tulus lebih menyebalkan daripada musuh yang menyamar.

Aku bukan filsuf, bukan juga pecinta. Aku adalah terang yang nyalanya hidup bersamamu. Kuingin bisikkan kata cintaku padamu, para pejuang lillah. Tolong ikut dengan hati yang mampu menggetarkan arsy. Ingat, dengan hati.

“Aku putuskan bahwa aku akan bergerak, karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan”

 

Membunuh Sepi

Sepi

Bagiku pembunuhan tidak selamanya buruk. Ini bentuk kritik imanen dariku. Kau biasanya dibuat pusing oleh pembunuhan karakter atau pun sampai kepada yang berdarah-darah. Tapi itu biasa. Ada hal yang layak kusematkan kepadamu dan juga mereka yang rela mendaulat diri sebagai pelaku bunuh sepi. Yah, pembunuh sepi.

Ada banyak cara untuk tetap membunuh. Selain dengan menepuk, menusuk dan menggorok dengan pisau belati; kau dapat membunuh sepi dengan kata-kata. Apa yang kulakukan hari ini, detik ini dan diwaktu ini adalah upaya terstruktur dari sumbangsih otak sebagai tempat berpikir dan hati untuk menentukan diksi yang bernurani sebagai lawan tanding sepi sampai mati.

Kata-kata itu canggih. Kau dapat menuntut hingga memaksa dengan kata-kata. Ialah senjata yang mampu menembak bukan hanya satu, melainkan ratusan-ribu kepala. Ingat, ide bukan siapa orangnya. Ide dituangkan melalui kata-kata. Maka dunia kata-kata mampu membisikkan bahkan mewartakan kepada dunia secara gamblang, bahkan ketika menyuarakan cinta.

Kau mesti tahu, saudaraku. Seperti Lenang Manggala bilang, “perasaan mencintai adalah angin kepada api. Kadang-kadang menyalakan, kadang-kadang melenyapkan”. Kita takkan mampu untuk mengendalikan kalau kita tak benar-benar bisa berlaku sebagai pengendalinya. 

Mulailah belajar, bukan untuk sekadar mendengar dan mengetahui, tetapi untuk melakukan dan mengajarkan. Sebab ku tak ingin semua terkalahkan sepi, maka kuajarkan padamu cara melawannya. Pertama, kau harus berani dan sadar bahwa kitalah sang kuasa yang memiliki sebagaian besar daulat atas pikir dan dirinya sendiri. Meski tak sepenuhnya, kita harus memperjuangkan apa yang diyakini benar. Kedua, cukup bisikan kepada si empunya hidup, pemilik arsy yang merajai hari setelah hari di dunia. Ketiga, berkumpulah dirimu dengan apa yang kau yakini sebagai cinta. Sebab cinta seharusnya menghadirkan kebahagiaan. Dekaplah ia erat-erat dalam jaga dan berilah kesempatan berjarak sewaktu-waktu jika dibutuhkan sebagai wujud kekuatanmu untuk menjaganya.

Sebab, yang dibutuhkan bumi bukan hanya langit. Dan yang dibutuhkan langit bukan sekadar bintang-bintang. Ada kamu, kamu dan kamu; bersamaan denganmu ada mimpi yang terpikir dalam tidur lelap, membimbingku dalam gelap dan mencurahkan segenap asa dalam kebimbangan. Tolong, bantu aku dalam melawan sepi.

 

Memimpin Perguruan Profetik

memimpin perguruan profetik

Katakanlah, UGM dan Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang luar biasa. Menurut para petinggi kampus, daya saing mahasiswa harus diasah sedemikian rupa sebagai bekal menghadapi masa depan. Bersamaan dengan itu terdapat satu krisis yang berkait-kelindan antara mengenal jati diri bangsa dan modal sosial budaya kolektif.

Coba bayangkan, negeri yang dihuni ratusan juta insan harus menyerah pada kehinaan dan pasrah oleh keputusasaan. Persoalannya saya pertegas, kita gagal membangun titik temu. Tengoklah diri dan sekitar. Kini orang bisa dengan mudahnya mencaci-maki, memukul, menyerang hingga membunuh karena perbedaan selera. Tidak ada jalan lain, upaya membangun titik temu harus dilakukan.

Tentu saja membangun titik temu dalam masyarakat heterogen memiliki tantangan yang sulit. Namun, kita perlu belajar dari pokok gagasan mendiang Nasikun, Guru Besar Sosiologi UGM, tentang cross-cutting affiliation. Sederhananya menurut Nasikun, perbedaan adalah keniscayaan, tugas kita adalah membangun titik temu.

Hal ini mudah dipahami. Sebutlah diri kita ini memiliki beberapa identitas. Saya Alfath mahasiswa Fisipol, asal Jakarta, hobi ping-pong, di seberang sana ada mahasiswa lain dari Fakultas Teknik bernama Retas, asal Wonosobo, hobi futsal. Tentu kami berdua sekilas berbeda selera. Namun coba pahami, bahwa identitas yang berbeda dan melekat pada pribadi kami ini dapat dirajutkan simpulnya. Ya, saya dan Retas sama-sama mahasiswa UGM, warga negara Indonesia dan gemar olahraga. Di situlah titik temunya, simpulnya.

Kemampuan dan kemauan untuk membangun titik temu inilah yang sulit ditemui belakangan di Indonesia. Daya saing penting ketika kita berbicara kompetensi bangsa, tapi sebelum itu, kita harus sudah selesai dengan urusan dasar. Lihatlah masyarakat kita, semua angkat bicara, sedikit yang mendengar; banyak mengedepankan emosi, sumbu amarah pendek, suka mengeluh-mengutuk, saling tuding, dan beragam kengerian lainnya. Tak heran konflik horizontal banyak terjadi. Ketakutan demi ketakutan terus direproduksi. Kalau begini, kita butuh sosok pemimpin yang mampu mendamaikan, serta menentramkannya.

Pemimpin masyarakat bukan berasal dari mereka yang ujug-ujug hadir. Dia dipersiapkan sejak jauh-jauh hari. Kesehariannya ditempa oleh sejumlah persoalan hidup. Dia ditantang untuk menjawab persoalan itu dengan cara-cara kreatif dan elegan, yang melibatkan hati dan perasaan berdasarkan pengalaman dan kenyataan di lapangan. Bahkan lamunannya ialah semata hendak memikirkan orang lain. Apabila dihadapkan oleh persoalan, dipersiapkannya kuda-kuda supaya tetap terjaga. Dan tentu saja, pemimpin yang dinanti tak boleh biasa, apalagi orang sisa. Dia harus canggih menjawab tantangan bangsa. Mempersatukan bangsa dalam kebhinekaannya.

Saya punya bicara ini tentu bertujuan, bukan tanpa alasan. Seleksi dan pemilihan rektor yang tengah diselenggarakan ini mengundang tanya, sebenarnya rektor macam apa yang hendak memimpin UGM ke depan? Kita tentu berharap yang terbaik untuk UGM dan bangsa. Saya sebagai bagian masyarakat kampus pun punya harapan, dan barangkali dapatlah juga diinstitusionalisasikan sebagai harapan BEM KM UGM.

Beberapa waktu lalu saat saya tengah membuka kembali buku dan dokumen yang menjelaskan sejarah panjang UGM. Tepat 72 tahun lalu saat UGM mendeklarasikan dirinya sebagai perguruan tinggi yang lahir dari rahim ibu kandung keperihan bangsa. Ketika itu kondisi bangsa sangat sulit. Namun demikian, UGM justru hadir sebagai upaya bangsa Indonesia keluar dari kebodohan sembari menunjukkan eksistensinya dan identitas Pancasila kepada dunia.

Memang benar, sejarah berguna sekali. Dari mempelajari sejarah, saya bisa menemukan kembali identitas sesungguhnya yang kini sudah banyak tertutupi debu. Bahwa bangsa Indonesia dan juga UGM lahir atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Hal ini dapat ditelusuri melalui dokumen pembukaan UUD 1945, sila pertama dari Pancasila, dan juga setiap arsip dokumen UGM yang dapat dengan mudah rekan-rekan temui di museum UGM atau perpustakaan UGM lantai tiga. Sederhananya, UGM sebagai perguruan tinggi lahir membawa semangat “spiritualitas yang emansipatoris”.

Apa itu semangat “spiritualitas yang emansipatoris”? Ia adalah suatu semangat yang mendasarkan dirinya pada religiusitas; Ketuhanan Yang Maha Esa dan atas kuasa Tuhan melalui akal dan pikirnya mampu melaksanakan proses emansipasi berlandaskan ilmu yang amaliah serta amal ilmiah. Hal ini dapat disaksikan ketika mahasiswa UGM harus bekerja keras dalam belajar, disertai kehendak untuk membela bangsa saat agresi militer Belanda di Yogyakarta. Kemudian, pengerahan tenaga mahasiswa atau yang kita kenal hari ini sebagai Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai kewajiban UGM untuk berbakti pada negeri. Mahasiswa UGM tidak bertanya “saya akan mendapat apa setelah seluruh usaha ini dilakukan?”, sebab mereka seharusnya hanya berpikir dan berorientasi kepada “apa guna ilmu bagi kemajuan bangsa?”.

Semangat ini tak boleh redup. Maka, boleh jadi, saya sebagai mahasiswa hanya ingin terus mengupayakannya supaya semangat ini tetap menyala-nyala. Bagaimana cara menjaganya agar tetap menyala-nyala? Bagi saya semangat ini harus dan tetap terjaga dengan kita memahami sejarah dan turut melaksanakannya.

Semangat ini bila ditelusuri lebih lanjut adalah hasil analisa pribadi atas konsepsi besar “Ilmu Sosial Profetik” (ISP) milik Kuntowidjoyo, Guru Besar FIB UGM. Dalam konsepsinya, Kuntowidjoyo menjelaskan tiga misi yang hendak dicapai oleh ilmu sosial, yakni humanisasi, liberasi dan transendensi.

Dalam ISP, humanisasi berarti memanusiakan manusia, menghilangkan “kebendaan”, ketergantungan, kekerasan dan kebencian dari manusia. Kuntowijoyo mengusung humanisme teosentris sebagai pengganti humanisme antroposentris untuk mengangkat kembali martabat manusia. Dengan ini, manusia harus memusatkan dirinya pada Tuhan, tapi tujuannya adalah untuk kepentingan kemanusiaan. Perkembangan peradaban manusia tidak lagi diukur dengan rasionalitas, tapi transendensi. Humanisasi dibutuhkan karena masyarakat kita tengah mengalami proses dehumanisasi, agresivitas dan individualistik.

Kemudian, nilai-nilai liberatif dalam ISP ditempatkan pada konteks ilmu sosial yang bertanggungjawab membebaskan manusia dari kemiskinan, pemerasan kelimpahan, dominasi struktur yang menindas dan hegemoni kesadaran palsu. Lebih jauh, ISP mendasarkan semangat liberatifnya pada nilai-nilai profetik transendental dari agama yang telah ditransformasikan menjadi ilmu yang objektif-faktual.

Terakhir, adalah transendensi yang menjadi dasar dua unsur lainnya. Transendensi hendak menjadikan nilai-nilai transendental berupa keimanan sebagai bagian penting dari proses membangun peradaban. Transendensi menempatkan agama pada kedudukan yang sangat sentral dalam ISP. Di sini, wahyu menjadi sumber utama dalam proses pencarian ilmu. Wahyu ini kemudian menjadi etos atau model. Dengan memasukkan unsur wahyu dalam paradigma profetik memungkinkan seseorang melakukan lompatan besar dalam keilmuan, yaitu menjadi seorang ilmuwan yang religius. Kita mampu melakukan transformasi individual dan sosial yang diwujudkan dalam sila kedua dari Pancasila, kemanusiaan yang adil dan beradab.

Inilah nalar yang perlu dibangun dalam membangun sebuah kajian baru ilmu sosial keindonesiaan. Hemat saya, ilmu sosial profetik, meminjam istilah Habermas, adalah paradigma kritis atau emancipatory knowledge (Fakih, 2011: 61-62). Ilmu sosial harus dipahami sebagai proses katalisasi untuk membebaskan manusia dari segenap ketidakadilan. Paradigma ini menganjurkan bahwa ilmu pengetahuan terutama ilmu sosial tidak mungkin bersifat netral. Sehingga ilmu itu memihak, ilmu itu memperjuangkan. Paradigma ini memperjuangkan pendekatan yang holistik dengan menyertakan bukan sekadar teori di atas teks, melainkan pemihakan dan upaya emansipasi masyarakat dalam pengalaman hidupnya sehari-hari.

Sebab, UGM adalah perguruan yang hendak merawat keindonesiaan, maka tak salah apabila UGM menyandang gelar sebagai “perguruan profetik”. Perguruan profetik ialah perguruan yang membebaskan diri dari cengkraman gurita problematik bangsa dan menjadi pemecah kebuntuannya dengan benteng spiritual yang kokoh. Perguruan profetik hadir sebagai solusi atas masalah pelik negara-bangsa. Wadah ini tidak cukup membuat dirinya sendiri megah dengan alat kelengkapan akademik yang canggih, tapi ia memiliki andil solutif atas hidup matinya suatu negara. Ia menerobos benang kusut, mendobrak pintu yang lama tak terbuka, dan menghidupkan lilin-lilin harapan di tengah kegelapan. Ia nyala sang fajar sebagai lambang kepedulian yang berisi epos kepahlawanan yang militan dari mahasiswanya untuk menggelar kesejahteraan umum berlandaskan ilmu amaliah serta amal ilmiah yang khidmat dan bertanggungjawab.

UGM sebagai perguruan profetik yang berdiri tidak hanya untuk mencerdaskan bangsa, tapi juga untuk tiga tujuan negara lain yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945: melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum dan melaksanakan ketertiban dunia. Empat to-do-list UGM ini berbanding lurus dengan pernyataan Soekarno ketika meresmikan Balairung Gedung Pusat pada 19 Desember 1959. Tugas UGM antara lain pertama, ikut membangun RI sebagai wilayah kesatuan dari Sabang sampai Merauke. Kedua, mengisi NKRI dengan suatu masyarakat yang adil dan makmur. Ketiga, ikut membangun dunia baru dan menempatkan Indonesia dalam dunia baru yang berdasarkan persaudaraan dari bangsa-bangsa.

Hal ini sejalan dengan apa yang tertera dalam PP No. 67 Tahun 2013 tentang Statuta UGM dapat diketahui bahwa pasal 2 ayat (1) berbunyi, “UGM mempunyai visi sebagai pelopor perguruan tinggi nasional berkelas dunia yang unggul dan inovatif, mengabdi kepada kepentingan bangsa dan kemanusiaan dijiwai nilai-nilai budaya bangsa berdasarkan Pancasila. (2) UGM mempunyai misi melaksanakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat serta pelestarian dan pengembangan ilmu yang unggul dan bermanfaat bagi masyarakat. Sedangkan Pasal (3) Penyelenggaraan UGM berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta kebudayaan indonesia yang diwujudkan dalam dasar kerohanian, dasar nasional, dasar demokrasi, dasar kemasyarakatan, dan dasar kekeluargaan.”

Berkaitan dengan nilai profetik, hal tersebut mewujud dalam dasar kerohanian yang menjadi pilar utama penyelenggaraan UGM. Sehingga, nilai-nilai spiritualitas ini tidak dapat dipisahkan dalam pengajaran di kelas-kelas, pembicaraan di ruang publik dan peribadatannya. Sebab, nilai rohani terpancar di manapun dan kapan pun. Bahkan perguruan tinggi bernama UGM lah yang sudah seharusnya menjadi inisiator penabur benih-benih kebajikan dari tiap-tiap individu yang berbeda agama.

Karenanya setiap agama selalu memiliki tokoh teladannya masing-masing, dan teladannya itu selalu saja mengajarkan kebaikan. Maka dengan ini sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa” menjadi spirit dalam keberagamaan kita. Nilai ketuhanan menjadi basis fondasi atas sila-sila lainnya.

Belakangan ini saya sungguh khawatir, sebab Pancasila tereduksi. Pancasila seolah bicara sebatas pada urusan kebinekaan, toleransi, dan menafikan peran ketuhanan yang sarat akan sifat keagamaan.

Saya menjadi ingat pesan Pak Karno dalam “Kursus Presiden Soekarno tentang Pancasila di Istana Negara” tanggal 16 Juni 1958 yang tertuang dalam bukunya, “Bung Karno dan Pancasila: Menuju Revolusi Nasional” (2002, hlm. 107):

“…Kalau kita mengecualikan elemen agama ini, kita membuang salah satu elemen yang bisa mempersatukan batin bangsa Indonesia dengan cara yang semesra-mesranya. Kalau kita tidak memasukkan sila ini, kita kehilangan salah satu Leitsar yang utama, sebab kepercayaan kita kepada Tuhan ini bahkan itulah yang menjadi Leitsar kita yang utama, untuk menjadi satu bangsa yang mengejar kebajikan, satu bangsa mengejar kebaikan.”

Lalu siapa yang selanjutnya layak memimpin perguruan profetik?

Pemimpin perguruan profetik yang dibutuhkan UGM adalah sosok yang mampu mencerminkan nilai-nilai kebajikan, memancarkan keteladanan sejati dan kepemimpinannya mampu mengilhami orang lain untuk terus berada dalam jalur yang tepat dengan memiliki benteng keimanan yang kokoh. Memiliki keberpihakan ilmu dan memperjuangkan yang lemah. Semua ini agar gerak-langkah yang dilakukan senantiasa berada dalam lindungan-Nya.

Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia

Presiden BEM KM UGM 2017