Abstrak
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

*All Posts

Abstrak

abstrak

Aku ingin mengajari diri hal-hal beda setiap hari. Yang mana ketika hidupku kelak menua dan mati, ada cerita tersendiri yang dapat kupertanggungjawabkan dihadapan ilahi.

Ada banyak hal yang sulit kupahami dari dunia. Tentang doa, cinta dan pengorbanan. Semua bicara tentang memperjuangkan. Banyak klue berserakan, tak sepenuhnya menjawab kebutuhan sejumlah tanya dari rentetan kotak vertikal-horizontal.

Sekarang banyak orang bingung mencari Tuhan. Karena dilihat tidak ada, dicari tidak ketemu. Semua kabur, setidaknya samar. Pekat hitam tak terlihat. Inilah akibat kehilangan cahaya iman.

Niat baik seseorang tak beranjak, bila tak berbuah pada laku amal. Hidup segan mati tak mau. Tinggal lah hidup sayu.

Banyak juga yang menulis surat cinta atau pun puisi untuk seseorang yang baginya spesial. Padahal ia yang spesial tak lebih dari sekadar fana. Tak percaya? Beri aku kepastian tentang hari esok. Bisa saja kau benci sebencinya ia. Sungguh.

Ada lagi mereka yang mendaku juru selamat dari akar rumput. Bahkan untuk sekadar menyapa ‘rakyat’ yang asalnya dari akar rumput pun tak pernah. Kalian munafik membela rakyat. Kalian cuma buang habis sudah waktu untuk diskusi hingga larut malam di warung kelontong. Meninggalkan Tuhan, tugas, orang tua dan kehidupan menantang lainnya bersama ‘rakyat’.

Mahasiswa gontok-gontokan karena beda kepentingan. Tuk merebut yang diyakini sebagai haq. Acapkali kebingungan, sebab semua dinilai relatif. Padahal sungguh, yang benar itu benar, yang salah harus menyerah pada kebenaran.

Kita harus mulai terbiasa hidup tanpa panutan. Di negeri yang banyak koruptor dan kaum hipokrit. Mereka lah yang bersenandung ria, menari di atas penderitaan kaum mustad’afin. Hancurkanlah.

Bisakah kita menebus dosa terhadap dosa yang tak pernah dilakukan. Bisakah kita memaafkan untuk kesalahan yang tidak termaafkan. Bisakah kita berdiri apabila kaki tak mampu menopang. Bisakah kita saling mencinta apabila tak dicinta.

Bisakah kita membalas jika tak ada sebab. Bisakah kencing sambil berlari. Bisakah menjawab saat tak ada tanya. Bisakah memiliki apabila tak punya.

Mari kita selesaikan hari ini sebelum esok. Dan pastikan esok tak kehilangan waktu menjawab tantangan. Kita punya dua telinga untuk mendengar gelisah, dua mata untuk melihat bahagia, dan satu mulut untuk melawan penindasan.

Terkadang hidupku abstrak. Lebih sulit meruwat jalan pikirku dibanding menyalakan api dihutan dengan batu. Dan memang, kawan yang tulus lebih menyebalkan daripada musuh yang menyamar.

Aku bukan filsuf, bukan juga pecinta. Aku adalah terang yang nyalanya hidup bersamamu. Kuingin bisikkan kata cintaku padamu, para pejuang lillah. Tolong ikut dengan hati yang mampu menggetarkan arsy. Ingat, dengan hati.

“Aku putuskan bahwa aku akan bergerak, karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan”

 

Membunuh Sepi

Sepi

Bagiku pembunuhan tidak selamanya buruk. Ini bentuk kritik imanen dariku. Kau biasanya dibuat pusing oleh pembunuhan karakter atau pun sampai kepada yang berdarah-darah. Tapi itu biasa. Ada hal yang layak kusematkan kepadamu dan juga mereka yang rela mendaulat diri sebagai pelaku bunuh sepi. Yah, pembunuh sepi.

Ada banyak cara untuk tetap membunuh. Selain dengan menepuk, menusuk dan menggorok dengan pisau belati; kau dapat membunuh sepi dengan kata-kata. Apa yang kulakukan hari ini, detik ini dan diwaktu ini adalah upaya terstruktur dari sumbangsih otak sebagai tempat berpikir dan hati untuk menentukan diksi yang bernurani sebagai lawan tanding sepi sampai mati.

Kata-kata itu canggih. Kau dapat menuntut hingga memaksa dengan kata-kata. Ialah senjata yang mampu menembak bukan hanya satu, melainkan ratusan-ribu kepala. Ingat, ide bukan siapa orangnya. Ide dituangkan melalui kata-kata. Maka dunia kata-kata mampu membisikkan bahkan mewartakan kepada dunia secara gamblang, bahkan ketika menyuarakan cinta.

Kau mesti tahu, saudaraku. Seperti Lenang Manggala bilang, “perasaan mencintai adalah angin kepada api. Kadang-kadang menyalakan, kadang-kadang melenyapkan”. Kita takkan mampu untuk mengendalikan kalau kita tak benar-benar bisa berlaku sebagai pengendalinya. 

Mulailah belajar, bukan untuk sekadar mendengar dan mengetahui, tetapi untuk melakukan dan mengajarkan. Sebab ku tak ingin semua terkalahkan sepi, maka kuajarkan padamu cara melawannya. Pertama, kau harus berani dan sadar bahwa kitalah sang kuasa yang memiliki sebagaian besar daulat atas pikir dan dirinya sendiri. Meski tak sepenuhnya, kita harus memperjuangkan apa yang diyakini benar. Kedua, cukup bisikan kepada si empunya hidup, pemilik arsy yang merajai hari setelah hari di dunia. Ketiga, berkumpulah dirimu dengan apa yang kau yakini sebagai cinta. Sebab cinta seharusnya menghadirkan kebahagiaan. Dekaplah ia erat-erat dalam jaga dan berilah kesempatan berjarak sewaktu-waktu jika dibutuhkan sebagai wujud kekuatanmu untuk menjaganya.

Sebab, yang dibutuhkan bumi bukan hanya langit. Dan yang dibutuhkan langit bukan sekadar bintang-bintang. Ada kamu, kamu dan kamu; bersamaan denganmu ada mimpi yang terpikir dalam tidur lelap, membimbingku dalam gelap dan mencurahkan segenap asa dalam kebimbangan. Tolong, bantu aku dalam melawan sepi.

 

Memimpin Perguruan Profetik

memimpin perguruan profetik

Katakanlah, UGM dan Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang luar biasa. Menurut para petinggi kampus, daya saing mahasiswa harus diasah sedemikian rupa sebagai bekal menghadapi masa depan. Bersamaan dengan itu terdapat satu krisis yang berkait-kelindan antara mengenal jati diri bangsa dan modal sosial budaya kolektif.

Coba bayangkan, negeri yang dihuni ratusan juta insan harus menyerah pada kehinaan dan pasrah oleh keputusasaan. Persoalannya saya pertegas, kita gagal membangun titik temu. Tengoklah diri dan sekitar. Kini orang bisa dengan mudahnya mencaci-maki, memukul, menyerang hingga membunuh karena perbedaan selera. Tidak ada jalan lain, upaya membangun titik temu harus dilakukan.

Tentu saja membangun titik temu dalam masyarakat heterogen memiliki tantangan yang sulit. Namun, kita perlu belajar dari pokok gagasan mendiang Nasikun, Guru Besar Sosiologi UGM, tentang cross-cutting affiliation. Sederhananya menurut Nasikun, perbedaan adalah keniscayaan, tugas kita adalah membangun titik temu.

Hal ini mudah dipahami. Sebutlah diri kita ini memiliki beberapa identitas. Saya Alfath mahasiswa Fisipol, asal Jakarta, hobi ping-pong, di seberang sana ada mahasiswa lain dari Fakultas Teknik bernama Retas, asal Wonosobo, hobi futsal. Tentu kami berdua sekilas berbeda selera. Namun coba pahami, bahwa identitas yang berbeda dan melekat pada pribadi kami ini dapat dirajutkan simpulnya. Ya, saya dan Retas sama-sama mahasiswa UGM, warga negara Indonesia dan gemar olahraga. Di situlah titik temunya, simpulnya.

Kemampuan dan kemauan untuk membangun titik temu inilah yang sulit ditemui belakangan di Indonesia. Daya saing penting ketika kita berbicara kompetensi bangsa, tapi sebelum itu, kita harus sudah selesai dengan urusan dasar. Lihatlah masyarakat kita, semua angkat bicara, sedikit yang mendengar; banyak mengedepankan emosi, sumbu amarah pendek, suka mengeluh-mengutuk, saling tuding, dan beragam kengerian lainnya. Tak heran konflik horizontal banyak terjadi. Ketakutan demi ketakutan terus direproduksi. Kalau begini, kita butuh sosok pemimpin yang mampu mendamaikan, serta menentramkannya.

Pemimpin masyarakat bukan berasal dari mereka yang ujug-ujug hadir. Dia dipersiapkan sejak jauh-jauh hari. Kesehariannya ditempa oleh sejumlah persoalan hidup. Dia ditantang untuk menjawab persoalan itu dengan cara-cara kreatif dan elegan, yang melibatkan hati dan perasaan berdasarkan pengalaman dan kenyataan di lapangan. Bahkan lamunannya ialah semata hendak memikirkan orang lain. Apabila dihadapkan oleh persoalan, dipersiapkannya kuda-kuda supaya tetap terjaga. Dan tentu saja, pemimpin yang dinanti tak boleh biasa, apalagi orang sisa. Dia harus canggih menjawab tantangan bangsa. Mempersatukan bangsa dalam kebhinekaannya.

Saya punya bicara ini tentu bertujuan, bukan tanpa alasan. Seleksi dan pemilihan rektor yang tengah diselenggarakan ini mengundang tanya, sebenarnya rektor macam apa yang hendak memimpin UGM ke depan? Kita tentu berharap yang terbaik untuk UGM dan bangsa. Saya sebagai bagian masyarakat kampus pun punya harapan, dan barangkali dapatlah juga diinstitusionalisasikan sebagai harapan BEM KM UGM.

Beberapa waktu lalu saat saya tengah membuka kembali buku dan dokumen yang menjelaskan sejarah panjang UGM. Tepat 72 tahun lalu saat UGM mendeklarasikan dirinya sebagai perguruan tinggi yang lahir dari rahim ibu kandung keperihan bangsa. Ketika itu kondisi bangsa sangat sulit. Namun demikian, UGM justru hadir sebagai upaya bangsa Indonesia keluar dari kebodohan sembari menunjukkan eksistensinya dan identitas Pancasila kepada dunia.

Memang benar, sejarah berguna sekali. Dari mempelajari sejarah, saya bisa menemukan kembali identitas sesungguhnya yang kini sudah banyak tertutupi debu. Bahwa bangsa Indonesia dan juga UGM lahir atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Hal ini dapat ditelusuri melalui dokumen pembukaan UUD 1945, sila pertama dari Pancasila, dan juga setiap arsip dokumen UGM yang dapat dengan mudah rekan-rekan temui di museum UGM atau perpustakaan UGM lantai tiga. Sederhananya, UGM sebagai perguruan tinggi lahir membawa semangat “spiritualitas yang emansipatoris”.

Apa itu semangat “spiritualitas yang emansipatoris”? Ia adalah suatu semangat yang mendasarkan dirinya pada religiusitas; Ketuhanan Yang Maha Esa dan atas kuasa Tuhan melalui akal dan pikirnya mampu melaksanakan proses emansipasi berlandaskan ilmu yang amaliah serta amal ilmiah. Hal ini dapat disaksikan ketika mahasiswa UGM harus bekerja keras dalam belajar, disertai kehendak untuk membela bangsa saat agresi militer Belanda di Yogyakarta. Kemudian, pengerahan tenaga mahasiswa atau yang kita kenal hari ini sebagai Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai kewajiban UGM untuk berbakti pada negeri. Mahasiswa UGM tidak bertanya “saya akan mendapat apa setelah seluruh usaha ini dilakukan?”, sebab mereka seharusnya hanya berpikir dan berorientasi kepada “apa guna ilmu bagi kemajuan bangsa?”.

Semangat ini tak boleh redup. Maka, boleh jadi, saya sebagai mahasiswa hanya ingin terus mengupayakannya supaya semangat ini tetap menyala-nyala. Bagaimana cara menjaganya agar tetap menyala-nyala? Bagi saya semangat ini harus dan tetap terjaga dengan kita memahami sejarah dan turut melaksanakannya.

Semangat ini bila ditelusuri lebih lanjut adalah hasil analisa pribadi atas konsepsi besar “Ilmu Sosial Profetik” (ISP) milik Kuntowidjoyo, Guru Besar FIB UGM. Dalam konsepsinya, Kuntowidjoyo menjelaskan tiga misi yang hendak dicapai oleh ilmu sosial, yakni humanisasi, liberasi dan transendensi.

Dalam ISP, humanisasi berarti memanusiakan manusia, menghilangkan “kebendaan”, ketergantungan, kekerasan dan kebencian dari manusia. Kuntowijoyo mengusung humanisme teosentris sebagai pengganti humanisme antroposentris untuk mengangkat kembali martabat manusia. Dengan ini, manusia harus memusatkan dirinya pada Tuhan, tapi tujuannya adalah untuk kepentingan kemanusiaan. Perkembangan peradaban manusia tidak lagi diukur dengan rasionalitas, tapi transendensi. Humanisasi dibutuhkan karena masyarakat kita tengah mengalami proses dehumanisasi, agresivitas dan individualistik.

Kemudian, nilai-nilai liberatif dalam ISP ditempatkan pada konteks ilmu sosial yang bertanggungjawab membebaskan manusia dari kemiskinan, pemerasan kelimpahan, dominasi struktur yang menindas dan hegemoni kesadaran palsu. Lebih jauh, ISP mendasarkan semangat liberatifnya pada nilai-nilai profetik transendental dari agama yang telah ditransformasikan menjadi ilmu yang objektif-faktual.

Terakhir, adalah transendensi yang menjadi dasar dua unsur lainnya. Transendensi hendak menjadikan nilai-nilai transendental berupa keimanan sebagai bagian penting dari proses membangun peradaban. Transendensi menempatkan agama pada kedudukan yang sangat sentral dalam ISP. Di sini, wahyu menjadi sumber utama dalam proses pencarian ilmu. Wahyu ini kemudian menjadi etos atau model. Dengan memasukkan unsur wahyu dalam paradigma profetik memungkinkan seseorang melakukan lompatan besar dalam keilmuan, yaitu menjadi seorang ilmuwan yang religius. Kita mampu melakukan transformasi individual dan sosial yang diwujudkan dalam sila kedua dari Pancasila, kemanusiaan yang adil dan beradab.

Inilah nalar yang perlu dibangun dalam membangun sebuah kajian baru ilmu sosial keindonesiaan. Hemat saya, ilmu sosial profetik, meminjam istilah Habermas, adalah paradigma kritis atau emancipatory knowledge (Fakih, 2011: 61-62). Ilmu sosial harus dipahami sebagai proses katalisasi untuk membebaskan manusia dari segenap ketidakadilan. Paradigma ini menganjurkan bahwa ilmu pengetahuan terutama ilmu sosial tidak mungkin bersifat netral. Sehingga ilmu itu memihak, ilmu itu memperjuangkan. Paradigma ini memperjuangkan pendekatan yang holistik dengan menyertakan bukan sekadar teori di atas teks, melainkan pemihakan dan upaya emansipasi masyarakat dalam pengalaman hidupnya sehari-hari.

Sebab, UGM adalah perguruan yang hendak merawat keindonesiaan, maka tak salah apabila UGM menyandang gelar sebagai “perguruan profetik”. Perguruan profetik ialah perguruan yang membebaskan diri dari cengkraman gurita problematik bangsa dan menjadi pemecah kebuntuannya dengan benteng spiritual yang kokoh. Perguruan profetik hadir sebagai solusi atas masalah pelik negara-bangsa. Wadah ini tidak cukup membuat dirinya sendiri megah dengan alat kelengkapan akademik yang canggih, tapi ia memiliki andil solutif atas hidup matinya suatu negara. Ia menerobos benang kusut, mendobrak pintu yang lama tak terbuka, dan menghidupkan lilin-lilin harapan di tengah kegelapan. Ia nyala sang fajar sebagai lambang kepedulian yang berisi epos kepahlawanan yang militan dari mahasiswanya untuk menggelar kesejahteraan umum berlandaskan ilmu amaliah serta amal ilmiah yang khidmat dan bertanggungjawab.

UGM sebagai perguruan profetik yang berdiri tidak hanya untuk mencerdaskan bangsa, tapi juga untuk tiga tujuan negara lain yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945: melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum dan melaksanakan ketertiban dunia. Empat to-do-list UGM ini berbanding lurus dengan pernyataan Soekarno ketika meresmikan Balairung Gedung Pusat pada 19 Desember 1959. Tugas UGM antara lain pertama, ikut membangun RI sebagai wilayah kesatuan dari Sabang sampai Merauke. Kedua, mengisi NKRI dengan suatu masyarakat yang adil dan makmur. Ketiga, ikut membangun dunia baru dan menempatkan Indonesia dalam dunia baru yang berdasarkan persaudaraan dari bangsa-bangsa.

Hal ini sejalan dengan apa yang tertera dalam PP No. 67 Tahun 2013 tentang Statuta UGM dapat diketahui bahwa pasal 2 ayat (1) berbunyi, “UGM mempunyai visi sebagai pelopor perguruan tinggi nasional berkelas dunia yang unggul dan inovatif, mengabdi kepada kepentingan bangsa dan kemanusiaan dijiwai nilai-nilai budaya bangsa berdasarkan Pancasila. (2) UGM mempunyai misi melaksanakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat serta pelestarian dan pengembangan ilmu yang unggul dan bermanfaat bagi masyarakat. Sedangkan Pasal (3) Penyelenggaraan UGM berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta kebudayaan indonesia yang diwujudkan dalam dasar kerohanian, dasar nasional, dasar demokrasi, dasar kemasyarakatan, dan dasar kekeluargaan.”

Berkaitan dengan nilai profetik, hal tersebut mewujud dalam dasar kerohanian yang menjadi pilar utama penyelenggaraan UGM. Sehingga, nilai-nilai spiritualitas ini tidak dapat dipisahkan dalam pengajaran di kelas-kelas, pembicaraan di ruang publik dan peribadatannya. Sebab, nilai rohani terpancar di manapun dan kapan pun. Bahkan perguruan tinggi bernama UGM lah yang sudah seharusnya menjadi inisiator penabur benih-benih kebajikan dari tiap-tiap individu yang berbeda agama.

Karenanya setiap agama selalu memiliki tokoh teladannya masing-masing, dan teladannya itu selalu saja mengajarkan kebaikan. Maka dengan ini sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa” menjadi spirit dalam keberagamaan kita. Nilai ketuhanan menjadi basis fondasi atas sila-sila lainnya.

Belakangan ini saya sungguh khawatir, sebab Pancasila tereduksi. Pancasila seolah bicara sebatas pada urusan kebinekaan, toleransi, dan menafikan peran ketuhanan yang sarat akan sifat keagamaan.

Saya menjadi ingat pesan Pak Karno dalam “Kursus Presiden Soekarno tentang Pancasila di Istana Negara” tanggal 16 Juni 1958 yang tertuang dalam bukunya, “Bung Karno dan Pancasila: Menuju Revolusi Nasional” (2002, hlm. 107):

“…Kalau kita mengecualikan elemen agama ini, kita membuang salah satu elemen yang bisa mempersatukan batin bangsa Indonesia dengan cara yang semesra-mesranya. Kalau kita tidak memasukkan sila ini, kita kehilangan salah satu Leitsar yang utama, sebab kepercayaan kita kepada Tuhan ini bahkan itulah yang menjadi Leitsar kita yang utama, untuk menjadi satu bangsa yang mengejar kebajikan, satu bangsa mengejar kebaikan.”

Lalu siapa yang selanjutnya layak memimpin perguruan profetik?

Pemimpin perguruan profetik yang dibutuhkan UGM adalah sosok yang mampu mencerminkan nilai-nilai kebajikan, memancarkan keteladanan sejati dan kepemimpinannya mampu mengilhami orang lain untuk terus berada dalam jalur yang tepat dengan memiliki benteng keimanan yang kokoh. Memiliki keberpihakan ilmu dan memperjuangkan yang lemah. Semua ini agar gerak-langkah yang dilakukan senantiasa berada dalam lindungan-Nya.

Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia

Presiden BEM KM UGM 2017

Hidup Bicara Sedih-Bahagia

PH BEM KM UGM 2017

Menjadi Presiden Mahasiswa UGM adalah amanah besar. Dengan jelas dan tandas selalu saya sampaikan dalam berbagai kesempatan, “UGM adalah Universitas yang heterogen”. Layaknya Indonesia, UGM lah miniatur yang mampu menghimpun segenap entitas anak bangsa dengan ragam suku, agama, bahasa dan ras.

Dua bulan sudah saya memimpin. Bukan waktu yang mudah untuk dilewati. Menyusun tim terbaik yang mampu berkolaborasi, memaparkan ide-gagasan dan memantapkannya kepada orang lain. “Serukan kolaborasi, sebarkan kebaikan” adalah doktrin yang diterapkan dalam BEM KM UGM 2017.

Kawan, memulai dan merajut perjuangan di BEM KM UGM bukan perkara mudah. Saya butuh belajar, masukan, disertai pengalaman memimpin organisasi sebelumnya. Pemahaman akan peta persoalan dan dinamikanya menjadi demikian penting. Beberapa orang dibelakang saya barangkali sudah mewanti-wanti untuk saya tetap bahagia. Jangan sampai kehilangan senyum. Begitu katanya.

Bila ditarik memang bukan soal BEM KM UGM saja. Dalam hidup saya ini, pun kau, selalu saja bicara tentang sedih-bahagia bukan?

Bayangkan saat kau lahir. Kau menangis. Disaat bersamaan orang tuamu berbahagia karena kau terlahir ke dunia yang bahkan kau tak pernah tahu sebelumnya bahwa ini semua dipenuhi oleh teka-teki yang rumit. Saat orang tuamu melihat kau tengkurap, duduk, merangkak, berdiri, berjalan dan berlari; itu semua adalah nikmat yang tak terkira. Orang tua mana yang tak bahagia ketika anaknya kemudian yang unyu itu bisa berprestasi dalam belajarnya, memimpin dan memberikan dampak kepada orang lain.

Sebentar lagi orang tuamu akan melihatmu sebagai orang dewasa sejati. Dengan katakanlah kau akan bersegera menyempurnakan separuh agama, beranak-pinak, bekerja, membangun keluarga strategis yang mampu menghimpun segenap kebaikan. Lalu, yang kau anggap sebagai kejayaan itu semua hadir. Saat pekerjaanmu dinilai baik, pangkat naik, kepercayaan orang lain bertambah. Orang tua sudah diberangkatkan haji dan dihidupi dengan layak, tak seperti ketika saat mengasuhmu dulu penuh sulit. Kau punya segala yang kau inginkan di dunia.

Beberapa kali kau tersandung karena, misalnya, kau dapat cobaan sedikit. Bila saat kecil kau jatuh saat berdiri, kau tersandung saat kau berlari. Maka anggaplah ini sebagai luka kecil saat kau hadapi ujian.

Masihkah disebut kurang? Tentu tidak. Ini semua menjadikan kita harus pandai bersyukur. Apa yang saya dan kau terima adalah nikmat yang patut disyukuri.

Makanya ingin saya sampaikan. Hidup itu banyak bicara susah-senang. Apa yang saya terima hari ini bukan karena sayanya. Tapi ini semua karena Allah Swt dan orang-orang yang mendoakan saya. Begitu menikmatinya saya berhadapan dengan banyak mahasiswa, mendengarkan keluhan, menyampaikan aspirasi, berusaha merekatkan ikatan dan menjaga hati-perasaan. Inilah jalan juang.

Maka tanggalkan keluh kesah. Saya banyak belajar dari mereka yang ada di dekat saya. Orang-orang hebat. Merekalah guru dalam berbagai hal. Hanya perlu mencomot ilmu satu per satu darinya.

Terima kasih atas segala awalan yang baik ini. Untuk semua pihak yang terkadang saya tak mampu membalas kebaikan hatinya. Yang saya selalu terpesona karena ketulusannya. Yang membuat saya selalu ingat bahwa hidup adalah soal memperjuangkan. Yang membuat saya tak mau ingkar atas amanah. Yang mengingatkan saya kepada arti keluarga sampai surga.

Intinya, saya tak mampu mendeskripsikan hati belakangan ini. Semua campur-aduk. Biarlah ini bersambut dengan ketulusan hati.

 

Pojok Sekre

25 Februari 2017

 

 

Menjadi Tidak UGM

Opini-menjadi-tidak-ugm

Memulai dengan tanya, sebenarnya apa yang diharapkan oleh pendidikan nasional?

Bila kita merujuk Ki Hadjar Dewantara, pendidikan nasional harapannya mampu membuat setiap orang ngerti, ngrasa dan nglakoni. Maksudnya ialah bahwa setiap insan pembelajar yang hidup dalam ruang belajar mampu mengerti materi yang diajarkan. Kemudian, mereka mulai merasakan bahwa dunia bukanlah tempat yang baik untuk bersenang-senang, sebab ada pelbagai soal dan beragam kengerian akibat banyaknya rakyat yang hidup dalam rasa takut dan lapar. Sehingga, ilmu yang dimengerti dari ruang belajar mampu menghantarkan kita untuk nglakoni suatu keberpihakan sosial.

Tentu ilmu tak bebas nilai. Ilmu tak dapat diam-mendiamkan. Ilmu juga tak boleh menyerah pada keadaan sulit. Ilmu itu memihak, ilmu itu memperjuangkan. Kalau boleh meminta, ilmu yang diasup dari pendidikan kita mampu menyongsong masa depan bangsa yang lebih baik dan bermartabat. Hanya saja ada lagi tanya, ke mana arah pendidikan nasional kita?

Menjawab pertanyaan di atas, saya ingin melibatkan Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai kawah candradimuka dalam tulisan reflektif berikut. Selain karena faktor historis yang menyebut bahwa UGM lahir dari ibu kandung keperihan bangsa, ada poin menarik yang tak kalah penting. Bahwa saat ini UGM sedang memasuki tahap menentukan siapa pemimpin barunya. Agenda tantangan bangsa ke depan seharusnya mampu dibaca dan menjadi prioritas untuk diselesaikan, tentu dengan mengedepankan cara-cara yang adil dan beradab. Portofolio seorang pemimpin harus jelas dan kredibel serta memiliki keberpihakan ilmu pada pembangunan bangsa.

Proses pemilihan rektor ini dapat disebut “ritus lima tahunan” manakala menghasilkan pemimpin yang tidak canggih dalam menjawab persoalan bangsa. Pemimpin yang berdaulat atas diri dan pikirnya menjadi keharusan. Banyak berdialog dan melihat realitas sosial, bukan duduk manis di singgasana. Kita pernah punya pemimpin yang demikian. Koesnadi, ya, beliau adalah lambang keberpihakan UGM pada rakyat. Pun demikian tokoh-tokoh begawan Bulaksumur lainnya macam Sardjito, Koentowidjoyo, dan Moebyarto.

Para begawan yang menjadi “intelektual organik” kini jarang, bahkan kalau boleh dibilang nyaris tiada. Yang ada justru tokoh-tokoh yang berpikir pragmatis dan membiarkan pendidikan kita didefinisikan oleh mereka yang membuat indikator-indikator kampus kelas dunia. Tak bisa dipungkiri wacana belakangan ini yang digembar-gemborkan oleh penguasa kampus adalah target masuknya UGM dalam peringkat 500 besar dunia. Obsesi ini bukan hanya UGM yang punya. Kampus-kampus lain di Indonesia juga memiliki orientasi serupa yang pada akhirnya mendorong “inflasi” atas slogan world class university (WCU).

Bagi saya ada penyederhanaan terminologi dari WCU, yakni sekedar membangun reputasi dan mendapat apresiasi di tingkat internasional, kemudian di ranking adalah sikap fatalistik yang tak dapat kita terima. Sebagai lambang “ibukota pendidikan tinggi” di Indonesia, UGM bertanggungjawab untuk bisa menyelami WCU dan kemudian menyadarkan kebanyakan kampus yang membebek-bangga pada terminologi itu. Sebenarnya, untuk siapa reputasi internasional itu? Apa guna reputasi tersebut kalau rakyat masih hidup dalam takut dan lapar?

Maka, jargon “mengakar kuat, menjulang tinggi” adalah citra positif ketika benar-benar diperjuangkan secara nyata oleh UGM. Tentu penilaian ini berdasar kepada keberanian untuk melawan kekhawatiran atas kegagalan pelaksanaannya, sehingga jargon hanya sebatas jargon dan bukan penyemangat untuk memperjuangkan pendidikan.

Karena itu, bagi saya, sebelum kita bicara soal reputasi internasional, kita harus mendudukkan persoalan secara lebih clear dengan bicara langkah sebelumnya. Bila berpedoman pada dokumen yang tersedia di arsip dan museum UGM, dapat diketahui bahwa tujuan UGM tercipta ialah untuk kemanusiaan dan kemajuan bangsa. Sehingga, mengakar kuat artinya mampu menjawab tantangan kemanusiaan dan kemajuan bangsa berlandaskan dasar negara Pancasila. Sedangkan menjulang tinggi memiliki pengertian bahwa UGM memberikan kontribusi pada reputasi dan kepemimpinan Indonesia yang bermartabat di tingkat internasional.

Persoalannya selama ini ialah kita terlalu bahagia membebek-buta-tuli pada WCU. Kita telah membiarkan mereka para pemeringkat kampus dunia untuk mendefinisikan UGM dan pendidikan bangsa. Kita secara diam-diam telah meneruskan kebiasaan buruk bangsa untuk selalu dipengaruhi, bukan memengaruhi. Kita menjadi tidak UGM apabila sekedar memikirkan WCU; kita kehilangan imaji tentang memperjuangkan kerakyatan dalam sendi-sendi kehidupan bangsa.

Seharusnya, riset-riset yang melulu digencarkan tak boleh sekedar memenuhi tuntutan sebagai profesor dan kaum intelek pada lembaran jurnal. Riset-riset ini harus berupa amaliah yang membantu menjawab tantangan bangsa, sehingga ilmu itu amaliah dan amal yang dilaksanakan harus ilmiah.

Akademik harus diarahkan pada responsivitas ilmu terhadap kebutuhan kemanusiaan dan kemajuan bangsa. Mengarah pada produk akhir yang manfaat dan didukung oleh berbagai elemen yang adaptif. Ada nilai-nilai yang harus disepakati. Apabila pancasila masih diakui dan dikhidmati sebagai dasar negara, tugas lembaga pendidikan adalah menerjemahkan pancasila dalam setiap disiplin ilmu. Bagaimana caranya politik kita disertai oleh nilai-nilai spiritual yang mendasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Kemudian, obat-obat kita mampu berkembang karena kekayaan biodiversity dan menjawab kebutuhan dunia medis sehingga membawa kita pada capaian kemakmuran bangsa. Bahkan yang jauh lebih penting adalah penyikapan dunia pendidikan atas integrasi menuju transdisiplin keilmuan. Ilmu saling melengkapi dan berkait-kelindan demi kemajuan bangsa.

Mari kita kencangkan persatuan. Penyadaran bangsa akan pentingnya pendidikan harus dilakukan sekarang juga. Para pengajar harus menanamkan benih pemikiran pada setiap murid-muridnya bahwa “pendidikan itu bicara soal perlawanan”. Perlawanan atas kesewenangan, kemiskinan dan kebodohan struktural, serta kesenjangan yang membabi-buta.  Begitu pun pelajar, para mahasiswa harus militan dengan berpikir lebih kritis dan taktis, mengedepankan nurani sehingga memiliki keberpihakan sosial. Tak saling renggut, pukul dan naikkan otot untuk mempersoalkan perbedaan paham pemikiran. Ingat, persoalan bangsa kita terlalu besar dan membutuhkan kerja keras secara bersama-sama untuk menyelesaikannya. Ilmu lah yang membimbing setia orang di dalamnya menjadi sebenar-benarnya manusia yang memperjuangkan.

Dengan demikian ilmu memiliki guna bagi penyelesaian persoalan bangsa. Dan pendidikan nasional sudah seharusnya hendak ditujukan kepada “guna ilmu” bagi kesejahteraan rakyat. Kearifan dan kedewasaan pikir para civitas akademika UGM menjadi keteladanan bagi segenap anak bangsa di manapun ia berada. Tentu tanggung jawab yang paling utama adalah bahwa pemimpin UGM, sang rektor, mampu memainkan perannya sebagai dirigen dalam pertunjukkan orkestra. Mengutip yang pernah disampaikan Sudirman Said dalam Memimpin Orkestra Kebinekaan, Tengoklah dirigen, pasti mulai kerjanya dengan partitur komposisi di tangan, di kepala, dan di hatinya. Tak penting apakah komposisi itu digubahnya sendiri atau warisan dari komposer maestro, atau kombinasi keduanya. Pemimpin orkestra memeriksa semua lini untuk meyakinkan bahwa semua ready.”

Hal yang perlu diingat, ini semua adalah perihal mempertanggungjawabkan peran rektor untuk memastikan keseluruhan pendidikan berjalan sebaik-baiknya dengan memanusiakan manusia dan membebaskan daya kreatifitas, tentu dengan mempertebal spiritual dan akal budi sebagai benteng perjuangan.

Saya pun demikian. Selaku Presiden Mahasiswa UGM saya hanya ingin mengingatkan, kampus sudah seharusnya mendorong dosen dan mahasiswa untuk memiliki keberpihakan sosial atas ilmu. Kampus bukanlah partai politik yang menjadi broker proyek-proyek kapitalis. Kampus juga bukan tempat menghasilkan orang-orang yang culas dan mementingkan nafsu pribadi dan golongannya. Kampus UGM berdiri untuk semua golongan, dan sudah seharusnya kepentingan bangsa menjadi yang utama.

Mari berbenah. Kita harus menjadi sebenar-benarnya UGM.

Sumber: http://www.balairungpress.com/2017/02/menjadi-tidak-ugm/