Indonesia Pasca 2019
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

*Artikel

Indonesia Pasca 2019

Optimisme Indonesia

Perhelatan akbar Pemilu 2019 sudah di depan mata. Masing-masing kandidat sudah
mengeluarkan berbagai jurus andalannya untuk menarik simpati rakyat dalam setiap
kampanye. Kini, semua dikembalikan kepada rakyat, siapa yang layak untuk
memimpin republik ini lima tahun kedepannya.

Hanya saja perlu diingat bahwa negeri ini hadir bukan untuk sebagian, melainkan
milik seluruh rakyat. Artinya, jangan sampai ada rakyat yang merasa dirinya kalah
pasca pemilu. Tugas pemimpin, siapapun yang terpilih, ialah memenangkan
segenap hati rakyat dengan cara melakukan rekonsiliasi sekaligus mengupayakan
hadirnya negara ketengah masyarakat dalam pelayanan publik dan percepatan
pembangunan. Mampukah pemimpin terpilih melakukannya?
Masalah Bangsa Terkini

Banyak pihak memandang skeptis hal tersebut bisa terjadi karena setidaknya dua
alasan. Pertama, rakyat terpolarisasi karena perbedaan politik. Hal ini telah terjadi
sejak Pemilu 2014 dan menguat pada Pilkada DKI Jakarta 2017. Dahulu, bangsa
Indonesia terkenal menjunjung tinggi norma susila dan tata nilai keadaban. Seiring
berjalannya waktu dan tingkat modernitas, nilai-nilai etis itu meluntur. Bahkan,
seringkali dengan mudahnya kita menghakimi pikiran orang lain yang berbeda dan
memaksanya untuk berkehendak sama dengan apa yang kita pahami. Hasilnya,
setiap orang justru menanggalkan posisi “tengah” atau “titik temu” menuju masing-
masing “kutub” yang berlawanan.

Kedua, ada kegagapan memandang realitas, bahwa siapapun yang terpilih elite
tetaplah elite yang memiliki berbagai macam privilage. Seringkali kita memandang
para elite yang berkontestasi dalam kerangka berpikir vis a vis. Film Sexy Killer
(2019) membantahnya dengan bercerita dampak besar pertambangan batubara dan
PLTU terhadap masyarakat dan lingkungan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang
berasal dari kedua kandidat. Mereka sedikit-banyak terlibat dan berkontribusi atas
berbagai kasus yang merugikan masyarakat dan lingkungan. Belum lagi kasus-
kasus di sektor lain, seperti kelapa sawit, tambang pasir dan semen, reklamasi, dan
sebagainya. Maka, bagi sebagian kalangan yang jengah, “golput” dianggap sebagai
solusi.

Kedua alasan inilah yang membuat energi bangsa terkuras dan tidak tersalurkan
pada hal-hal yang lebih berguna terutama dalam upaya meningkatkan perbaikan
kualitas hidup rakyat Indonesia.

 

Menemukan Jalan Keluar

Melihat masalah bangsa terkini menunjukkan bagaimana ilmu dan praktek politik
tidak saling menyapa. Ada jurang kesenjangan antara “ilmu amaliah dan amal
ilmiah”. Perguruan tinggi sebagai benteng akal sehat yang berfungsi untuk
memvalidasi pikiran seolah gagal. Hal ini dapat dilihat dari masifnya para dosen
berteman dengan penguasa sembari mendaku dirinya fleksibel keluar-masuk
kekuasaan dengan dalih “jalan ketiga peran intelektual” (Lay, 2019). Sebab, pilihan
untuk sebatas masuk kekuasaan dan menerima jabatan atau berdiri diluar kekuasaan dengan mengkritisi sembari memaki kekuasan dianggap tidak lagi relevan.

Namun dalam pelaksanaannya, jalan ketiga ini hampir dikatakan mustahil untuk
dilakukan bukan karena para dosen kita tidak cukup memiliki kepekaan saja,
melainkan pengalaman telah berbicara demikian. Dengan melihat situasi bangsa
hari ini, kita lebih membutuhkan mereka yang mampu bersikap kritis dengan berani
berdiri memimpin dan bersuara untuk menguji berbagai logika pembangunan yang
dilakukan oleh penguasa. Bukan justru menjadi bagian kekuasaan yang malah
menyumbat mulut-mulut kritis seolah untuk mengatakan tidak ada masalah yang
terjadi.

Dalam keadaan seperti ini, bagaimanapun juga rakyat jangan terlalu naif: berharap
mendapatkan presiden ideal. Sejak dahulu politik Indonesia tidak pernah benar-
benar diisi oleh orang-orang yang bisa diharapkan. Dengan itu, kaidah yang dipakai
untuk memilih pemimpin ialah “yang paling sedikit keburukannya dari pilihan yang
tersedia”. Perlu adanya kerangka berpikir alternatif dalam mengobati masalah
bangsa yang akut. Dengan ini, mari membayangkan “Indonesia Pasca 2019”.

Indonesia Pasca 2019 adalah langkah taktis untuk memperbaiki negeri sekaligus
meningkatkan kaidah memilih pemimpin agar yang terpilih adalah mereka yang
benar-benar terbaik, sehingga bisa diharapkan. Pertama, memberi kesempatan
kepada siapapun pemimpin yang terpilih untuk melakukan rekonsiliasi bangsa dan
melunasi janji-janji politiknya disertai oleh masyarakat yang berdaulat untuk
mengkritisi kebijakan negara. Penegakan hukum tanpa pandang bulu; peningkatan
kualitas pendidikan dan kesehatan; serta penyediaan infrastruktur dan lapangan
pekerjaan menjadi hal yang harus dikebut.

Kedua, harus ada perubahan cara berpikir, bahwa berkontribusi untuk bangsa bukan
hanya dalam urusan politik dan pemerintahan saja. Masih ada panggung-panggung
rakyat lainnya untuk direbut, seperti ekonomi, budaya, penegakan hukum,
keteknikan, pendidikan, teknologi, kesehatan dan sebagainya, sehingga pentas yang
ditampilkan dapat memukau hati rakyat. Sederhananya, para orangtua dirumah
bertugas untuk memfasilitasi mimpi-mimpi anak-anaknya dengan mengenali potensi
diri yang dimiliki.

Ketiga, memastikan kaderisasi kepemimpinan bangsa terlaksana dengan baik.
Munculnya berbagai beasiswa kepemimpinan dari berbagai lembaga yang
diperuntukkan bagi mahasiswa, seperti Rumah Kepemimpinan, Beasiswa Aktivis
Nusantara, dan Kader Surau telah memberikan harapan tentang pentingnya
mempersiapkan kepemimpinan lintas sektor. Input yang baik melalui seleksi
mahasiswa-mahasiswa terbaik ditambah dengan proses pembinaan di asrama
dengan berbagai materi penunjang bersifat keagamaan, ideologi dan sejarah
bangsa, kajian kontemporer serta kontribusi masyarakat membuat mereka lebih
tangguh dalam menghadapi tantangan.

Melalui ketiga jalan inilah, kita bisa berharap akan lahirnya pemimpin-pemimpin
strategis yang berkapasitas dan mampu berkolaborasi untuk membangun titik temu.
Semoga Tuhan YME melindungi bangsa ini.

Kolaborasi Kebaikan: Dari Konsep Menuju Praktik

Kolaborasi Kebaikan: Dari Konsep Menuju Praktik

Apa yang kamu dambakan dari kehidupan ini? Mengubah dunia atau yang paling sederhana: mengubah diri sendiri.

Saya teringat dengan pesan Rumi, Yesterday I was clever, so i wanted to change the world. Today I am wise, I want to change my self”. Artinya kurang lebih begini, “Kemarin saya seorang yang pintar, sehingga saya ingin mengubah dunia. Hari ini saya ialah seorang yang bijak, saya ingin mengubah diri sendiri”.

Kalimat diatas juga membangkitkan saya pada memori kata-kata yang pernah saya baca sewaktu usia dini dan kata-kata itu sampai kini diperdengarkan kepada khalayak. Konon ada seorang Uskup Anglikan yang sudah meninggal pada tahun 1100 AD. Beliau dimakamkan di Westminster Abbey, sebuah gereja tempat tradisional penobatan raja dan ratu Inggris dan juga pemakaman, dan pada nisan Uskup itulah ditemukan kata-kata berbunyi:

“When I was a young man, I wanted to change the world. I found it was difficult to change the world, so I tried to change my nation. When I found I couldn’t change the nation, I began to focus on my town. I couldn/t change the town and as an older man, I tried to change my family. Now, as an old man, I realize the only thing I can change is myself, and suddenly I realize that if long ago I had change myself, I could have made an impact in my family. My family and I could have made an impact on out town. Their impact could have changed the nation and I could indeed have changed the world”.

Kalimat diatas sebenarnya serupa dengan yang disampaikan Rumi. Menceritakan keinginan anak-cucu Adam untuk bagaimana bisa melakukan perubahan. Namun, pertanyaannya, perubahan itu untuk siapa? Apakah kita memilih menjadi seorang yang cerdas atau bijaksana? Apakah kita mesti tua terlebih dahulu supaya menyadari bahwa semua itu dimulai dari mengubah diri sendiri? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menumpuk dalam pikiran dan meminta kita untuk segera menjawabnya.

Saya ingin menyampaikan diawal ini, bahwa hidup manusia itu bukanlah pilihan ganda yang mana jawabannya sudah tersedia dan kamu hanya perlu memilih satu jawaban benar. Kalau tidak A berarti B; kalau bukan B maka C; terus sampai pilihan ganda itu berhenti pada E. Terbatas pada lima opsi saja. Namun, bukan begitu cara kerja hidup ini. Saya membayangkan bahwa hidup manusia itu adalah soal essay yang mana jawabannya harus ditemukenali melalui pendekatan masing-masing. Seseorang perlu menarasikan jalan pikirnya melalui pengalaman diri maupun orang-orang disekitarnya, mencaritahu dari berbagai macam sumber dan beragam cara untuk memastikan bahwa setiap pertanyaan yang diajukan kepada seseorang, meskipun sama, akan memiliki jawaban yang berbeda antara satu dan lainnya. Hal inilah yang membuat kita bisa melihat lebih jelas bahwa dunia yang kita huni saat ini jauh lebih indah dan bermakna.

Dengan pertanyaan yang diajukan diawal, sekiranya saya bisa membingkai bahwa setiap dari kita berhak mendambakan sesuatu dari kehidupannya didunia ini. Ada yang mendambakan harta, tahta, pasangan ideal. Seluruh idealita, yang berisi tentang kebaikan-kebaikan dalam imajinasi seorang individu, menjadi ambisi. Ambisi ialah hasrat yang besar untuk memiliki; dan tidak ada yang salah dengan ambisi. Justru karena ambisi itulah yang membuat seseorang bisa menjaga eksistensinya dan hidup. Hanya perlu diperhatikan, seberapa komitmen kita menjalani ambisi dan kita perlu tahu di mana kita memiliki ‘batas’.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Kalaulah anak Adam (manusia) tekah memiliki dua lembah dari harta, niscaya dia masih berambisi untuk mendapatkan yang ketiga. Padahal (ketika ia berada di liang kubur) tidak lain yang memenuhi perutnya adalah tanah, dan Allah Maha Mengampuni orang-orang yang bertaubat”. Sabda ini mengingatkan kita supaya manusia itu mengenal batas. Ia dibekali akal dan fikir agar bisa menjangkau sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Adanya mesin uap, pesawat, komputer sampai kita tiba di era internet of things. Ketika kita menengok kebelakang kita sadar bahwa ada banyak sekali perubahan yang dialami oleh dunia, namun sifat-sifat jahiliyah manusia sepertinya belum berubah: tamak, sombong dan tak tahu batas.

Jangan kita lupa, bahwa hakikat manusia itu terbatas dan perjalanan hidup manusia itulah yang hendak menuju kepada akhir; kepada Dia yang tidak terbatas, Allah Swt. Artinya, perjalanan kita didunia ini ialah sementara. Karena ‘sementara’ dan ‘terbatas’ itulah kita harus mempersiapkan sebaik-baiknya bekal untuk kehidupan yang abadi.

Dititk inilah saya ingin membawa ambisi pribadi. Saya yakin ambisi pribadi ini akan menjadi ambisi yang didukung oleh semesta; sebagai bekal saya—dan juga mereka yang percaya—bagi kehidupan yang kekal. Saya mengajukan gagasan “Kolaborasi Kebaikan” untuk saudara/i pembaca terima. Begini. Hidup merupakan pertempuran antara baik melawan buruk. Apabila kamu ingin kebaikan menang, maka tugas kita ialah memperjuangkan kebaikan. Sebab, diluar sana, ada pula mereka yang sedang berkolaborasi, tetapi mereka berkolaborasi dalam keburukan.

Dalam QS. As-Syams: 8 Allah Swt menyampaikan tentang“faalhamaha fujuro ha wa taqwa ha”, bahwa hanya ada dua jalan yang bisa dipilih oleh manusia: jalan fujur (melanggar, membantah, tidak taat, fasik, buruk) dan jalan taqwa (taat, patuh, nurut, baik). Secara alamiah, setiap dari kita menginginkan kebaikan itu melekat dalam diri kita. Namun, seiring berjalannya waktu kita tumbuh dewasa, bertemu dan berkenalan dengan banyak orang, bergaul sampai menetap. Dalam proses itu kita bisa jadi berproses dalam situasi yang tak mudah, diisi oleh orang-orang yang mayoritas mengajak kita pada jalan fujur. Apabila tidak kuasa kita melawannya, maka kita terjebak dan malah ikut serta didalam jalan itu. Tetapi sebaliknya, apabila kita meyakini bahwa kita adalah orang-orang yang memilih jalan taqwa, maka seberat apapun tantangannya, Insya Allah, kita akan selalu berusaha untuk memastikan bahwa diri kita berada dalam kebaikan. Untuk memastikan hal itu, maka kita butuh bersama. Kita butuh untuk berjamaah.

Islam mengajarkan kepada kita tentang urgensi berjamaah. Sebab, berjamaah itu adalah suatu kebutuhan bagi persatuan umat. Didalam Islam itulah, kita menemukan ukhuwah atau solidaritas atas nama persaudaraan sesama muslim. Yang saling menguatkan, saling mengingatkan, saling menautkan hati bahkan saling merapalkan nama saudara seimannya didalam doa. Bayangkan saja, ketika ibadah kita, misal dalam shalat dilakukan secara berjamaah maka pahalanya akan menjadi 27 kali lipat dibandingkan munfarid. Dititik ini, bagi saya berjamaah itu berkolaborasi; dan kolaborasi itu sendiri adalah kata kunci untuk melakukan kerja-kerja kebaikan besar.

“Kolaborasi Kebaikan” itu sendiri adalah hasil saya mentadaburi QS. Al Maidah: 2: “…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siska-Nya”. Dalam ayat ini, Allah Swt menyeru kita untuk tolong-menolong atau yang dalam bahasa kekinian disebut sebagai ‘kolaborasi’, tetapi kolaborasinya khusus dalam kebajikan dan taqwa saja. Disinilah pintu masuknya “Kolaborasi Kebaikan” sebagai suatu konsep. Lalu, bagaimana mempraktikkannya?

Dalam praktiknya, “Kolaborasi Kebaikan” dapat dijelaskan dalam beberapa langkah berikut:

Pertama, sebagai manusia kita harus menyadari hakikat kita yang lemah dan bodoh dimata Allah Swt. Sebab, kita hanyalah makhluk dan tak ada satupun yang bisa kita banggakan dan tinggikan dihadapan Allah Swt. Tetapi, manusia diberikan Allah Swt akal untuk bisa melampaui kelemahan dan kebodohannya itu dalam rangka mendekati Allah Swt. Maka, dalam pandangan optimistik Allah Swt terhadap manusia seperti tergambar dalam QS. Al Baqarah: 30 bahwa manusia mendapatkan mandat sebagai seorang pemimpin. Barangsiapa yang menggunakan akalnya itu untuk melaksanakan mandat Allah Swt dengan sebaik-baiknya, maka ia tergolong orang-orang yang berhasil mendekati Allah Swt dalam kebaikan. Sementara mereka yang gagal, tak ubahnya mereka dengan posisi semula sebagai makhluk yang bodoh dan lemah.

Kedua, dengan segala potensi yang dimiliki, ditambah pula dengan mandatnya sebagai pemimpin dimuka bumi, maka manusia harus mengupayakan dirinya untuk menjadi pribadi hebat. Ciri-ciri pribadi hebat itu antara lain: memiliki nilai-nilai spiritualitas, integritas, cendekia, transformatif, dan melayani sesama.

Ketiga, dalam mengemban amanahnya itu manusia perlu mengaplikasikan “Kolaborasi Kebaikan”. Bahwa ini adalah jalan yang harus ditempuh dalam rangka memperjuangkan kebaikan dengan mengajak sebanyak-banyaknya orang untuk menjadi agen kebaikan.

Keempat, kita juga harus melangkah jauh kedepan menjadi seorang “intelektual penggerak”, yakni intelektual yang tidak hanya berdiri di atas menara gading. Cara kerjanya seperti seorang aktivis, selain dengan memperkuat literasi dan berjiwa qur’ani, kita pun memilih ikut serta melalui jalan membumi dengan menjadikan ilmu sebagai alat perjuangan. Sebab, kita akan sadar bahwa ilmu itu seharusnya diamalkan, dan amal itu seharusnya ilmiah. Dengan demikian, ilmu tidak seharusnya menyerah pada keadaan sulit. Ilmu itu memihak, ilmu itu memperjuangkan sesuatu.

Kelima, setelah persiapan di atas beres, kita melangkahkan kaki; berhijrah dari medan kata-kata ke medan juang. Disanalah letak perjuangan sesungguhnya: nahi munkar. Apabila selama ini kita baru terbiasa dengan amar makruf, maka perjuangan kedepannya ialah kita harus nahi munkar.

Keenam, sebagai langkah taktis yang terakhir kita harus bisa menjadikan bangsa Indonesia ini, yang dihuni oleh mayoritas umat muslim ini sebagai bangsa yang mampu memimpin peradaban dunia. Kita tidak semestinya mengekor apalagi mengembik pada bangsa-bangsa asing. Kita harus menjadikan diri kita sebagai manusia paripurna atau Insan Al Kamil, kemudian menikah dan membangun keluarga, membangun masyarakat yang berkeadaban mulia, selanjutnya meluruskan kiblat bangsa dengan menjadikan Indonesia sebanga bangsa yang bermartabat dan kita bisa memberikan nasihat pada dunia dengan menjadi seorang negarawan dunia.

Barangkali langkah-langkah taktis ini yang harus kita lakukan sesegera mungkin. Seperti Hasan Al Banna sampaikan, tentang konsep maratibul amal, maka perjuangan harus dimulai dari diri sendiri, meningkat dan berakhir pada tatanan dunia yang lebih baik. Bukankan ini dambaan kita semua? Tentang kehidupan yang lebih baik dan beradab. Mari kita upayakan bersama, saudara!

Terbitnya Kolaborasi Kebaikan

Kolaborasi Kebaikan: Dari Konsep Menuju Praktik

Alhamdulillah. Tahun ini Allah Swt,. berikan kesempatan kepada saya untuk bisa menulis. Yah, menuliskan sebuah gagasan yang sudah lama saya bangun. Adalah ‘kolaborasi kebaikan’ yang merupakan hasil mentadaburi Al Qur’an surah Al Maidah ayat 2.

Dalam ayat tersebut, Allah Swt,. mengajak kita untuk “saling tolong-menolong dalam kebajikan dan taqwa”.

Tolong-menolong di sini, saya ibaratkan sebagai upaya kolaborasi. Modal sosial bangsa Indonesia pun adalah kolaborasi, yang dalam bahasa Soekarno disebut sebagai ‘gotong royong’. Kemudian, Allah Swt,. telah menetapkan bahwa balasan bagi kebaikan hanya kebaikan. Hal ini sebagai penegas agar kita senantiasa berbuat baik.

Semoga hadirnya buku ini bisa diterima. Semoga kita semua bisa mengambil manfaat atas kebaikan yang tersurat di dalamnya.

BEM KM UGM Kabinet Kolaborasi Kebaikan

kolaborasi kebaikan

Assalamu’alaykum wr.wb.

Salam cinta, salam perjuangan.

Atas nama cinta kita berjuang.

Hidup Mahasiswa Indonesia!

Hidup Mahasiswa Gadjah Mada!

Hidup Rakyat Indonesia!

Alhamdulillah, perjalanan punggawa BEM KM UGM Kabinet Kolaborasi Kebaikan telah mencapai puncak tertinggi di UGM. Puncak itu telah kami daki dengan wajah tegak menatap ke langit, penuh dengan semangat dan tanggung jawab. Namun, mencapai puncak saja tidak cukup membuat kami jumawa. Setelah berada di puncak justru membuat kami sadar bahwa kami begitu kecil, lemah dan tak berdaya dihadapan pemilik semesta.

Allah Swt telah menciptakan langit dan bumi dengan perhitungan yang rumit. Akal pikir kita sebagai manusia yang disebut cerdik sekalipun ketika dihadapkan oleh kuasa-Nya tidak ada apa-apa. Tak sanggup kita menjangkau barang sejengkal. Untuk itu, perjalanan ini malah membangkitkan ghirah perjuangan kami untuk semakin mendekati-Nya yang tak terbatas itu. Di titik ini kami sadar, kami sedang berada ditengah perjalanan panjang menuju Dia yang tak terbatas.

Apa pun disiplin ilmu yang kami pelajari diperkuliahan, apa pun tugas dan tanggung jawab kami di BEM KM UGM, itu semua merupakan hal kecil apabila manfaatnya tidak mampu dirasakan seutuhnya bagi banyak orang. Untuk itu, kami dengan sadar diri berupaya menerima dan melaksanakan amanah ini sebaik-baiknya.

Kami pun membagi peran di BEM KM UGM ke dalam satu Kesekjenan dan tiga Kemenkoan yang masing-masing di dalamnya terdapat empat Kementerian. Dalam Kesekjenan kita telah berupaya membentuk sistem kaderisasi yang baik, transparansi dana, media yang informatif, dan administrasi yang rapih. Kemudian, dalam Kemenkoan Kemahasiswaan kita telah menjadi garda terdepan pelayanan advokasi dan kesejahteraan mahasiswa, merawat jejaring dengan entitas Keluarga Mahasiswa di Fakultas hingga Departemen, membuat kegiatan yang mampu menyalurkan sekaligus meningkatkan karya dan potensi mahasiswa, serta membuat bisnis dan mencari dukungan finansial yang mampu menyokong pergerakan.

Selanjutnya, Kemenkoan Kemasyarakatan yang bertugas untuk membela kaum mustad’afin. Merekalah Kemenkoan yang jauh dari caci-maki publik. Kemenkoan ini memiliki jumlah staf yang sangat besar dan siap kapan pun untuk diterjunkan ke tengah masyarakat. Sehingga, perannya seperti hadir dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan, melihat potensi sekaligus memberdayakan desa, didukung oleh riset khas mahasiswa, serta proses advokasi pemindahan Kantin Sosio-Humaniora. Terakhir, Kemenkoan Eksternal yang mendapatkan mandat untuk mengkaji isu-isu strategis, terlebih isu pendidikan tinggi, dikarenakan acara didukung oleh jejaring yang kuat sehingga pewacanaan dan propaganda menjadi masif.

Sedikit saja mengulang masa setahun silam saat tawaran itu datang. Yah, saya ditawari oleh Partai Bunderan untuk menjadi calon Presiden Mahasiswa; melanjutkan kebaikan yang telah dilaksanakan oleh Kabinet Inspirasi Indonesia. Dengan penuh keberanian saya coba untuk ambil bagian. Dan setelah menjadi Presiden Mahasiswa, saya sadar betul bahwa tugas yang saya emban tidaklah mudah.

Dengan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada rekan-rekan pengurus harian beserta staf, yang senantiasa membantu dan mendukung untuk membuat organisasi ini besar dan terpandang di segala penjuru. Kalian telah menjadikan organisasi ini tak pernah sepi dari kegiatan yang manfaat, selalu ambil bagian dalam pelbagai persoalan bangsa, menjadikan sekretariat selalu ramai dengan gagasan disertai tawa-canda.

Semoga Allah Swt., selalu melindungi kita semua, mendewasakan serta saling mengikhtiarkan untuk tetap menjaga dan terjaga sampai waktu yang tak terbatas. Semoga apa yang disampaikan juga mampu menjadi pemantik imajinasi tiada henti. Terakhir, kenanglah persaudaraan ini disepanjang hidupmu. Mari kita menuju tak terbatas!

Wassalamu’alaykum wr.wb.

Maklumat Sidang Rakyat

bendera bem km ugm

Izinkan saya angkat bicara melalui Maklumat ini. Saya ingin memulainya dengan sebuah sikap dan pernyataan tegas: Jokowi-Jusuf Kalla gagal dalam mewujudkan keadilan sosial.

Sikap dan pernyataan tersebut dapat ditelusuri melalui pemahaman tentang tujuan kita hendak bernegara. Dalam Pembukaan UUD 1945 Alinea ke-IV disebutkan bahwa tujuan bernegara adalah untuk “…melindungi, menyejahterakan, mencerdaskan, menjaga perdamaian dan keadilan sosial”, sehingga, apabila tujuan itu belum selesai, tugas kita sebagai pewaris peradaban ialah turut andil memastikan generasi penerus bangsa bekerja keras guna menyelesaikannya.

Adapun tujuan lain kita hendak bernegara dapat dilacak melalui prosiding Kongres Pancasila IV di Yogyakarta pada 31 Mei – 01 Juni 2012 yang mengambil tema “Strategi Pelembagaan Nilai-nilai Pancasila dalam Menegakkan Konstitusionalitas Indonesia”. Dalam prosiding tersebut, sudah dijelaskan jalan keluar menuju kepada tujuan kita bernegara, seperti yang dirumuskan Soekarno di dalam Negara Asia-Afrika, yakni dengan melaksanakan “TRISAKTI” yang di dalamnya memandu segenap anak bangsa supaya “berdiri di atas kaki sendiri dalam ekonomi, bebas dalam politik dan berkepribadian dalam kebudayaan”.

Jadi, untuk membangun satu negara yang maju, dibutuhkan ekonomi yang merdeka. Dalam negara kesejahteraan yang menjamin keadilan sosial itu, meskipun prinsip-prinsip ekonomi pasar diberlakukan, ‘kesejahteraan bersama’ menjadi unsur penting dari tujuan bernegara.Dalam hal ini, tidak ada lagi pihak yang kuat meninggalkan yang lemah. Artinya, sudah sangat jelas bahwa tujuan kita bernegara ialah guna mencapai “kesejahteraan bersama dan keadilan sosial”.

Upaya tersebut sebenarnya sudah dengan sangat taktis dirumuskan melalui visi-misi dan program aksi bernama “Nawa Cita”. Dokumen sebanyak 42 halaman itu memuat gagasan besar yang bernas. Namun, upaya pelaksanaannya masih terbentur kepentingan kaum begal bangsa yang bermain dalam wilayah ekonomi-politik dengan penguasaan kapital yang luar biasa.

Z-FKPlAdV6-T68RkVydpPVbZhIJ8j-5Q.jpg

Kita tentu mengenal istilah “9 naga”. Mereka adalah sekelompok orang terkaya di Indonesia yang memiliki visi besar untuk mengendalikan kebijakan politik negara agar kondusif bagi kepentingan bisnisnya. Dihadapannya, negara tunduk.

Hal ini dapat dilihat seperti kasus reklamasi di Teluk Jakarta yang harus menggusur mata pencaharian para nelayan. Negara, di sini, tidak berkutik; negara tidak mampu hadir menjamin keadilan sosial. Maka, tidak heran apabila terjadi kesenjangan ekonomi.

Kemudian, terdapat ancaman bagi kedaulatan rakyat. Menurut Mohammad Hatta dalam Kedaulatan Rakyat, Otonomi dan Demokrasi (2014) bahwa “berdasarkan pengalaman yang diperoleh di benua Barat, dan bersendi pula pada susunan masyarakat desa Indonesia yang asli, kita dapat mengemukakan kedaulatan rakyat yang lebih sempurna sebagai dasar pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kedaulatan rakyat bagi Hatta meliputi kedaulatan politik dan kedaulatan ekonomi”.

Hal tersebut sejalan dengan TRISAKTI milik Soekarno. Dua proklamator ini terlampau canggih untuk merumuskan sekaligus meletakkan dasar pemikiran yang relevan bagi bangsa Indonesia disepanjang zaman. Namun, ancaman itu justru hadir dari negara agar rakyat tidak lagi memiliki kedaulatan dibidang politik dan ekonomi.

Ketakutan yang merupakan warisan Orde Baru terus dilanggengkan oleh penguasa hari ini baik di kampus sebagai lingkungan akademik, maupun di masyarakat dengan tindakan represif dari aparat kepolisian. Ketika rakyat menyuarakan pendapatnya, negara seolah tidak terima dan membungkam.

Cara-cara yang digunakan negara pun relatif canggih. Saya bisa menyederhanakannya seperi berikut: banyaknya akun bodong yang berkomentar memukul balik pihak kritis dalam setiap status viral karena dianggap sebagai ancaman negara; proyek memasukan intelijen di dalam tubuh mahasiswa untuk membentuk konflik horizontal, sehingga mahasiswa hanya sibuk dan habis tenaganya untuk mengurusi urusan internal agar mahasiswa tidak lagi memiliki daya untuk mengkritisi negara; juga mulai ditutupnya sarana-sarana ideologisasi pergerakan mahasiswa dengan dalih bahwa tugas mahasiswa dalah belajar, dan demonstrasi adalah cara yang dinilai tidak beradab.

Di saat bersamaan, masyarakat Indonesia yang kadung dipecah-belah juga oleh isu radikalisme dan intoleransi yang bahkan menjamahi kampus. Negara mencipta musuh bersama, supaya perhatian publik teralihkan. Negara pun bisa memperpanjang nafasnya, terutama untuk menutupi borok kesenjangan dan ketidakadilan yang membabi buta.

Apa yang dilakukan negara di atas sama halnya yang pernah dilakukan oleh kaum kolonial: politik adu domba. Masyarakat kita dipecah-belah untuk saling memusuhi sehingga menafikan pembelajaran sebagai satu bangsa yang bhineka.

Untuk itu kita memerlukan kedaulatan rakyat. Bagi Hatta, menegakkan kedaulatan rakyat adalah ‘mendidik rakyat’ supaya tahu berpikir, supaya tidak lagi membebek di belakang pemimpin-pemimpin. Supaya keinsafan rakyat akan hak dan harga diri bertambah kuat dan pengetahuannya tentang hal politik, hukum dan pemerintahan bertambah luas. (Daoelat Rakjat, 1933).

Penggalangan aksi massa di Istana Negara esok, karena jalur diplomasi melalui pengajuan audiensi telah gagal dilakukan, sengaja dicipta untuk mendidik rakyat. Supaya kita sadar bahwa ada sesuatu yang tidak beres terjadi di republik ini. Martabat kita sebagai manusia sedang terancam. Dengan kesadaran kolektif itulah, kita akan mengerti dan bergerak meski dalam situasi sulit sekalipun.

Terakhir, berkaitan dengan penegakan hukum di mana hukum tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas. Komitmen politik untuk menegakan hukum terutama dalam upaya negara memberantas korupsi seolah-olah hanya penggembira belaka.

Kita tahu bahwa Setya Novanto adalah sosok kebal hukum, tetapi berulangkali juga kita gagal menyeretnya ke sel tahanan. Adanya pansus Hak Angket KPK di mana telah terang keberpihakannya untuk memandulkan dengan upaya merevisi UU KPK, bukan UU TIPIKOR; atau pun pelaku kasus penyiraman air keras kepada penyidik KPK Novel Baswedan yang belum menemui titik terang meski sudah lebih dari enam bulan dari kejadian. Padahal, beliau telah berkali-kali diancam keselamatan hingga nyawanya.

Namun kita tak kunjung sadar. Lemahnya ingatan kita sebagai satu bangsa yang besar membuat penegakan hukum seolah berjalan ditempat, atau bahkan cenderung mundur.

Hal-hal di atas apabila serius untuk ditindaklanjuti semestinya membuat rakyat paham betul, bahwa pemerintah hari ini tak cukup bisa untuk kita percayai. Namun justru baru-baru ini Indonesia meraih peringkat pertama tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah berdasarkan data Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dalam publikasinya ‘Government at a Glance 2017′.

Kejanggalan tersebut yang membuat kita ingin berteriak, mendebat, dan menggugat semua yang terjadi hari ini. Semua paparan negara yang baru saja dibuat oleh Kantor Staf Kepresidenan dan dimuat di laman presidenri.go.id/ seolah menunjukkan pemerintah baik-baik saja; negara masih dalam kondisi aman.

Padahal, kita tahu ancaman kepentingan asing (Cina) sudah mulai menjangkiti tubuh bangsa. Ideologi bangsa bernama Pancasila sekadar kamuflase bahwa pemerintah telah shahih benar-benar mengamalkan butir-butir di dalamnya.

Di saat bersamaan, negara membohongi kita dengan membuat kesadaran palsu ‘negara baik-baik saja’: membiarkan penguasaan alat-alat produksi dikuasai oleh segelintir orang/kelompok yang serakah, bangsa dikoyak oleh kemiskinan dan kebodohan struktural.

Dengan itu, kawan, bacalah baik-baik Nawa Cita itu:

“Kami menyadari untuk mewujudkan ideologi itu bukan kerja orang perorang ataupun kelompok. Ideologi memerlukan alat kolektif yang namanya gotong-royong. Dengan kolektivitas itulah “ruh” ideologi akan memiliki “raga”, keberlanjutan dan sekaligus kekuatan maha dahsyat. Sedangkan kata-kata “berdaulat, mandiri dan kepribadian” adalah amanat Pancasila 1 Juni 1945 dan TRISAKTI.”(Nawacita, hlm. 4).

Sudah paham? Negara perlu bergotong-royong dengan masyarakatnya dalam mengemban ideologi, bukan malah menjauhi dan memusuhi masyarakatnya dengan mencipta Perppu No 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Masyarakat.

7uxhJFoT4R5vnUf6gYkiBMPFqmD9Zf4n.jpg

Dan dalam ideologi pancasila itu, tidak dibenarkan adanya kesenjangan ekonomi; tidak dibenarkan adanya ketidakadilan; yang dibenarkan adalah mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sebab, hal tersebut merupakan amanat Pancasila dan Trisakti sehingga saya kira dalam terjadinya ketidakadilan sosial ini, justru penyelenggaran negara telah berkhianat terhadap amanat tersebut.

Terakhir, sebelum menutup maklumat ini, saya ingin sampaikan. Saya memiliki rasa cemas kepada anak-anak muda yang bermental tempe. Saat aksi massa tidak memiliki kajian, aksi tersebut dianggap tak berdasar. Kemudian, saat aksi massa sudah memiliki kajian, aksi tersebut dianggap tidak sah mewakili suara mahasiswa lantaran diskusi yang ada dilaksanakan di kalangan terbatas.

Selanjutnya, saat aksi massa sudah memiliki kajian dan telah dilaksanakan diskusi terbuka, aksi tersebut tidak dihadiri oleh mereka dengan alasan aksi tersebut diboncengi oleh kepentingan partai politik oposisi. Hemat saya menyebut mereka sebagai kaum hipokrit. Terus-menerus alasan konyol diproduksi untuk melegitimasi tindakan mereka.

Hingga sejauh ini saya membatin dan bertanya: untuk tidak bergerak, kalian dibayar berapa oleh koalisi? Atau apakah mungkin nurani kalian telah mati? Untuk menjawab itu, kita hanya perlu melihatnya dari sikap dan perbuatan. Sebab, sikap dan perbuatan lah yang menunjukkan seseorang layak disebut sebagai manusia atau tidak.

Sampai jumpa di istana negara. Esok, kita laksanakan sidang rakyat!