Belajar Dari Mahasiswa Papua
Kritis & Berani Bersikap

*Artikel

Belajar Dari Mahasiswa Papua

Pendampingan dari Gugus Tugas Papua UGM Kepada 9 Mahasiswa UGM Asal Kabupaten Mappi, Papua

Sebagian besar masyarakat memiliki persepsi negatif terhadap mahasiswa asal Papua. Mereka digambarkan sebagai orang yang memiliki ciri-ciri, antara lain: kulit hitam, rambut ikal-kribo, ekspresi muka yang kaku, dan cenderung tidak berbaur dengan masyarakat. Mereka juga digambarkan sebagai orang-orang yang tertinggal dan kerap membuat onar. Sementara itu, bagi mahasiswa Papua, mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari masyarakat dan aparat keamanan seperti intimidasi, pengeroyokan, hingga berbagai aksi kekerasan yang menimpanya merupakan pengalaman hidup yang memilukan.

Apa yang terjadi di Papua hingga saat ini adalah implikasi sikap kita kepada saudara asli Papua. Berbagai konflik dan tragedi kemanusiaan hadir seolah tiada henti. Melihat kondisi tersebut, dapat dipahami bahwa mendudukan persoalan mengenai Papua secara bijak menjadi tantangan tersendiri bagi para pemangku kebijakan. Perdebatan mengenai apakah Papua hanya sebatas terintegrasi secara politik dengan NKRI, sedangkan sektor sosial-budayanya belum masih mencuat melalui bilik-bilik diskusi. Namun demikian, fakta empiris menunjukkan Papua menjadi bagian tidak terpisahkan dari NKRI. Sehingga, tanggung jawab untuk “menghadirkan negara” ke tengah masyarakat Papua dalam bentuk pelayanan dasar yang salah satunya adalah akses terhadap pendidikan harus terpenuhi. Pendidikan sebagai hak atau sesuatu yang sifatnya pemberian tanpa harus meminta pada kenyataannya harus direbut sendiri. Persoalan menjadi semakin kompleks ketika dibeberapa tempat masyarakat menolak kehadiran mahasiswa Papua untuk bertempat tinggal dilingkungannya.

 

Prospek Mahasiswa Papua

Secara ringkas, Jared Diamond (2012) sedikit banyak mengulas tentang Papua dalam karyanya yang berjudul “The World until Yesterday”. Menurutnya, masih ada kehidupan masa lalu yang nyaris hilang namun masih ada dalam peradaban masa kini; dan itu dapat ditemui di Papua. Keadaan tertinggal dalam berbagai aspek kehidupan modernitas memang dirasakan betul oleh masyarakat Papua. Oleh sebab itu, mengirimkan anak-anak mereka untuk berkuliah ke Kota Pelajar, seperti Yogyakarta, Surakarta, dan sebagainya adalah salah satu upaya untuk mengejar ketertinggalan tersebut.

Dengan mengakses pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi akan membuka peluang seseorang untuk melakukan suatu mobilitas vertikal dalam kehidupannya. Hal ini sangat logis karena pendidikan sejatinya bukan sebatas untuk seseorang mendapatkan pekerjaan, melainkan sebuah ekosistem untuk mengubah peradaban bangsa. Sehingga, perlu dipahami bahwa setiap orang terlahir dengan potensinya masing-masing, dan tidak terkecuali para mahasiswa Papua. Banyak di antara mereka memiliki keahlian berburu, memancing, mendayung, olahraga, dan seni serta segala kemampuan untuk bertahan hidup meski dalam keterbatasan.

Apabila tolak ukur kecerdasan ialah modernitas, maka selamanya anak-anak Papua akan tertinggal. Tetapi, lihatlah sisi yang lainnya di mana para mahasiswa Papua sebenarnya menawarkan alternatif cara pandang hidup kita terhadap dunia. Life must go on! Ketiadaan listrik, terbatasnya fasilitas pendidikan dan kesehatan, minimnya akses jalan yang memadai hingga permukiman yang terisolir dari teknologi mutakhir membuat siapapun yang hidup didalam kemudahan zaman seharusnya patut merasa bersyukur.

Prospek semacam inilah yang seharusnya muncul ke permukaan dari mahasiswa Papua, sehingga mampu mengubah persepsi masyarakat terhadap mahasiswa Papua menjadi lebih baik. Mereka bisa mengenyam pendidikan di kampus pulau Jawa adalah ikhtiar yang tidak mudah. Kemampuan berempati terhadap sesama anak bangsa harus menguat. Harapannya, perbedaan antara “dunia hari ini” yang diisi dengan kemajuan teknologi dan “dunia kemarin” yang tradisionalistik membuat kita lebih bijaksana dan menghargai kehidupan. Disaat bersamaan, ada kesadaran kolektif untuk mengejar ketertinggalan dan berfokus pada perbaikan pembangunan manusia Papua.

 

Langkah Perbaikan

Perlu adanya ruang diskusi secara khusus dan intensif antara masyarakat dan mahasiswa Papua. Kampus seharusnya bisa menjadi jembatan di antara keduanya. Seperti yang dilakukan oleh Gugus Tugas Papua (GTP) UGM, sebuah unit kerja-pengabdian yang secara khusus menangani isu-isu Papua. GTP UGM memiliki keyakinan bahwa mahasiswa asal Papua pada prinsipnya sama dengan mahasiswa lainnya. Mereka memiliki prospek yang sama untuk maju dan berkembang serta mendapatkan masa depan yang lebih baik.

Langkah perbaikan ini dimulai sejak tahun 2016 dengan penerjunan Guru Penggerak Daerah Terpencil (GPDT) untuk mengajar SD sampai SMA di Kabupaten Puncak, Intan Jaya dan Mappi. Disaat bersamaan, ada 21 calon mahasiswa asal Mappi yang dikirim ke Yogyakarta dan mendapatkan pembinaan secara intensif. Sebagian di antara mereka diterima di UGM dan mendapatkan pendampingan hingga lulus. Program ini diinisasi oleh GTP UGM dan beberapa Pemda di Papua untuk mengejar ketertinggalan. Hasilnya, pembangunan manusia di Papua terus mengalami kemajuan. Hal ini dapat dilihat melalui Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Papua mencapai 60,06; meningkat 0,97 poin dibandingkan tahun 2017. Dengan ini, IPM Papua berubah status dari kategori “Rendah” menjadi “Sedang”. Capaian ini diharapkan terus meningkat seiring meluasnya penerimaan masyarakat terhadap mahasiswa Papua yang belajar di Kota Pendidikan. Yang terpenting, tugas kita sebagai bangsa adalah membuka diri dan berempati.

Indonesia Pasca 2019

Optimisme Indonesia

Perhelatan akbar Pemilu 2019 sudah di depan mata. Masing-masing kandidat sudah
mengeluarkan berbagai jurus andalannya untuk menarik simpati rakyat dalam setiap
kampanye. Kini, semua dikembalikan kepada rakyat, siapa yang layak untuk
memimpin republik ini lima tahun kedepannya.

Hanya saja perlu diingat bahwa negeri ini hadir bukan untuk sebagian, melainkan
milik seluruh rakyat. Artinya, jangan sampai ada rakyat yang merasa dirinya kalah
pasca pemilu. Tugas pemimpin, siapapun yang terpilih, ialah memenangkan
segenap hati rakyat dengan cara melakukan rekonsiliasi sekaligus mengupayakan
hadirnya negara ketengah masyarakat dalam pelayanan publik dan percepatan
pembangunan. Mampukah pemimpin terpilih melakukannya?
Masalah Bangsa Terkini

Banyak pihak memandang skeptis hal tersebut bisa terjadi karena setidaknya dua
alasan. Pertama, rakyat terpolarisasi karena perbedaan politik. Hal ini telah terjadi
sejak Pemilu 2014 dan menguat pada Pilkada DKI Jakarta 2017. Dahulu, bangsa
Indonesia terkenal menjunjung tinggi norma susila dan tata nilai keadaban. Seiring
berjalannya waktu dan tingkat modernitas, nilai-nilai etis itu meluntur. Bahkan,
seringkali dengan mudahnya kita menghakimi pikiran orang lain yang berbeda dan
memaksanya untuk berkehendak sama dengan apa yang kita pahami. Hasilnya,
setiap orang justru menanggalkan posisi “tengah” atau “titik temu” menuju masing-
masing “kutub” yang berlawanan.

Kedua, ada kegagapan memandang realitas, bahwa siapapun yang terpilih elite
tetaplah elite yang memiliki berbagai macam privilage. Seringkali kita memandang
para elite yang berkontestasi dalam kerangka berpikir vis a vis. Film Sexy Killer
(2019) membantahnya dengan bercerita dampak besar pertambangan batubara dan
PLTU terhadap masyarakat dan lingkungan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang
berasal dari kedua kandidat. Mereka sedikit-banyak terlibat dan berkontribusi atas
berbagai kasus yang merugikan masyarakat dan lingkungan. Belum lagi kasus-
kasus di sektor lain, seperti kelapa sawit, tambang pasir dan semen, reklamasi, dan
sebagainya. Maka, bagi sebagian kalangan yang jengah, “golput” dianggap sebagai
solusi.

Kedua alasan inilah yang membuat energi bangsa terkuras dan tidak tersalurkan
pada hal-hal yang lebih berguna terutama dalam upaya meningkatkan perbaikan
kualitas hidup rakyat Indonesia.

 

Menemukan Jalan Keluar

Melihat masalah bangsa terkini menunjukkan bagaimana ilmu dan praktek politik
tidak saling menyapa. Ada jurang kesenjangan antara “ilmu amaliah dan amal
ilmiah”. Perguruan tinggi sebagai benteng akal sehat yang berfungsi untuk
memvalidasi pikiran seolah gagal. Hal ini dapat dilihat dari masifnya para dosen
berteman dengan penguasa sembari mendaku dirinya fleksibel keluar-masuk
kekuasaan dengan dalih “jalan ketiga peran intelektual” (Lay, 2019). Sebab, pilihan
untuk sebatas masuk kekuasaan dan menerima jabatan atau berdiri diluar kekuasaan dengan mengkritisi sembari memaki kekuasan dianggap tidak lagi relevan.

Namun dalam pelaksanaannya, jalan ketiga ini hampir dikatakan mustahil untuk
dilakukan bukan karena para dosen kita tidak cukup memiliki kepekaan saja,
melainkan pengalaman telah berbicara demikian. Dengan melihat situasi bangsa
hari ini, kita lebih membutuhkan mereka yang mampu bersikap kritis dengan berani
berdiri memimpin dan bersuara untuk menguji berbagai logika pembangunan yang
dilakukan oleh penguasa. Bukan justru menjadi bagian kekuasaan yang malah
menyumbat mulut-mulut kritis seolah untuk mengatakan tidak ada masalah yang
terjadi.

Dalam keadaan seperti ini, bagaimanapun juga rakyat jangan terlalu naif: berharap
mendapatkan presiden ideal. Sejak dahulu politik Indonesia tidak pernah benar-
benar diisi oleh orang-orang yang bisa diharapkan. Dengan itu, kaidah yang dipakai
untuk memilih pemimpin ialah “yang paling sedikit keburukannya dari pilihan yang
tersedia”. Perlu adanya kerangka berpikir alternatif dalam mengobati masalah
bangsa yang akut. Dengan ini, mari membayangkan “Indonesia Pasca 2019”.

Indonesia Pasca 2019 adalah langkah taktis untuk memperbaiki negeri sekaligus
meningkatkan kaidah memilih pemimpin agar yang terpilih adalah mereka yang
benar-benar terbaik, sehingga bisa diharapkan. Pertama, memberi kesempatan
kepada siapapun pemimpin yang terpilih untuk melakukan rekonsiliasi bangsa dan
melunasi janji-janji politiknya disertai oleh masyarakat yang berdaulat untuk
mengkritisi kebijakan negara. Penegakan hukum tanpa pandang bulu; peningkatan
kualitas pendidikan dan kesehatan; serta penyediaan infrastruktur dan lapangan
pekerjaan menjadi hal yang harus dikebut.

Kedua, harus ada perubahan cara berpikir, bahwa berkontribusi untuk bangsa bukan
hanya dalam urusan politik dan pemerintahan saja. Masih ada panggung-panggung
rakyat lainnya untuk direbut, seperti ekonomi, budaya, penegakan hukum,
keteknikan, pendidikan, teknologi, kesehatan dan sebagainya, sehingga pentas yang
ditampilkan dapat memukau hati rakyat. Sederhananya, para orangtua dirumah
bertugas untuk memfasilitasi mimpi-mimpi anak-anaknya dengan mengenali potensi
diri yang dimiliki.

Ketiga, memastikan kaderisasi kepemimpinan bangsa terlaksana dengan baik.
Munculnya berbagai beasiswa kepemimpinan dari berbagai lembaga yang
diperuntukkan bagi mahasiswa, seperti Rumah Kepemimpinan, Beasiswa Aktivis
Nusantara, dan Kader Surau telah memberikan harapan tentang pentingnya
mempersiapkan kepemimpinan lintas sektor. Input yang baik melalui seleksi
mahasiswa-mahasiswa terbaik ditambah dengan proses pembinaan di asrama
dengan berbagai materi penunjang bersifat keagamaan, ideologi dan sejarah
bangsa, kajian kontemporer serta kontribusi masyarakat membuat mereka lebih
tangguh dalam menghadapi tantangan.

Melalui ketiga jalan inilah, kita bisa berharap akan lahirnya pemimpin-pemimpin
strategis yang berkapasitas dan mampu berkolaborasi untuk membangun titik temu.
Semoga Tuhan YME melindungi bangsa ini.

Kolaborasi Kebaikan: Dari Konsep Menuju Praktik

Kolaborasi Kebaikan: Dari Konsep Menuju Praktik

Apa yang kamu dambakan dari kehidupan ini? Mengubah dunia atau yang paling sederhana: mengubah diri sendiri.

Saya teringat dengan pesan Rumi, Yesterday I was clever, so i wanted to change the world. Today I am wise, I want to change my self”. Artinya kurang lebih begini, “Kemarin saya seorang yang pintar, sehingga saya ingin mengubah dunia. Hari ini saya ialah seorang yang bijak, saya ingin mengubah diri sendiri”.

Kalimat diatas juga membangkitkan saya pada memori kata-kata yang pernah saya baca sewaktu usia dini dan kata-kata itu sampai kini diperdengarkan kepada khalayak. Konon ada seorang Uskup Anglikan yang sudah meninggal pada tahun 1100 AD. Beliau dimakamkan di Westminster Abbey, sebuah gereja tempat tradisional penobatan raja dan ratu Inggris dan juga pemakaman, dan pada nisan Uskup itulah ditemukan kata-kata berbunyi:

“When I was a young man, I wanted to change the world. I found it was difficult to change the world, so I tried to change my nation. When I found I couldn’t change the nation, I began to focus on my town. I couldn/t change the town and as an older man, I tried to change my family. Now, as an old man, I realize the only thing I can change is myself, and suddenly I realize that if long ago I had change myself, I could have made an impact in my family. My family and I could have made an impact on out town. Their impact could have changed the nation and I could indeed have changed the world”.

Kalimat diatas sebenarnya serupa dengan yang disampaikan Rumi. Menceritakan keinginan anak-cucu Adam untuk bagaimana bisa melakukan perubahan. Namun, pertanyaannya, perubahan itu untuk siapa? Apakah kita memilih menjadi seorang yang cerdas atau bijaksana? Apakah kita mesti tua terlebih dahulu supaya menyadari bahwa semua itu dimulai dari mengubah diri sendiri? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menumpuk dalam pikiran dan meminta kita untuk segera menjawabnya.

Saya ingin menyampaikan diawal ini, bahwa hidup manusia itu bukanlah pilihan ganda yang mana jawabannya sudah tersedia dan kamu hanya perlu memilih satu jawaban benar. Kalau tidak A berarti B; kalau bukan B maka C; terus sampai pilihan ganda itu berhenti pada E. Terbatas pada lima opsi saja. Namun, bukan begitu cara kerja hidup ini. Saya membayangkan bahwa hidup manusia itu adalah soal essay yang mana jawabannya harus ditemukenali melalui pendekatan masing-masing. Seseorang perlu menarasikan jalan pikirnya melalui pengalaman diri maupun orang-orang disekitarnya, mencaritahu dari berbagai macam sumber dan beragam cara untuk memastikan bahwa setiap pertanyaan yang diajukan kepada seseorang, meskipun sama, akan memiliki jawaban yang berbeda antara satu dan lainnya. Hal inilah yang membuat kita bisa melihat lebih jelas bahwa dunia yang kita huni saat ini jauh lebih indah dan bermakna.

Dengan pertanyaan yang diajukan diawal, sekiranya saya bisa membingkai bahwa setiap dari kita berhak mendambakan sesuatu dari kehidupannya didunia ini. Ada yang mendambakan harta, tahta, pasangan ideal. Seluruh idealita, yang berisi tentang kebaikan-kebaikan dalam imajinasi seorang individu, menjadi ambisi. Ambisi ialah hasrat yang besar untuk memiliki; dan tidak ada yang salah dengan ambisi. Justru karena ambisi itulah yang membuat seseorang bisa menjaga eksistensinya dan hidup. Hanya perlu diperhatikan, seberapa komitmen kita menjalani ambisi dan kita perlu tahu di mana kita memiliki ‘batas’.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Kalaulah anak Adam (manusia) tekah memiliki dua lembah dari harta, niscaya dia masih berambisi untuk mendapatkan yang ketiga. Padahal (ketika ia berada di liang kubur) tidak lain yang memenuhi perutnya adalah tanah, dan Allah Maha Mengampuni orang-orang yang bertaubat”. Sabda ini mengingatkan kita supaya manusia itu mengenal batas. Ia dibekali akal dan fikir agar bisa menjangkau sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Adanya mesin uap, pesawat, komputer sampai kita tiba di era internet of things. Ketika kita menengok kebelakang kita sadar bahwa ada banyak sekali perubahan yang dialami oleh dunia, namun sifat-sifat jahiliyah manusia sepertinya belum berubah: tamak, sombong dan tak tahu batas.

Jangan kita lupa, bahwa hakikat manusia itu terbatas dan perjalanan hidup manusia itulah yang hendak menuju kepada akhir; kepada Dia yang tidak terbatas, Allah Swt. Artinya, perjalanan kita didunia ini ialah sementara. Karena ‘sementara’ dan ‘terbatas’ itulah kita harus mempersiapkan sebaik-baiknya bekal untuk kehidupan yang abadi.

Dititk inilah saya ingin membawa ambisi pribadi. Saya yakin ambisi pribadi ini akan menjadi ambisi yang didukung oleh semesta; sebagai bekal saya—dan juga mereka yang percaya—bagi kehidupan yang kekal. Saya mengajukan gagasan “Kolaborasi Kebaikan” untuk saudara/i pembaca terima. Begini. Hidup merupakan pertempuran antara baik melawan buruk. Apabila kamu ingin kebaikan menang, maka tugas kita ialah memperjuangkan kebaikan. Sebab, diluar sana, ada pula mereka yang sedang berkolaborasi, tetapi mereka berkolaborasi dalam keburukan.

Dalam QS. As-Syams: 8 Allah Swt menyampaikan tentang“faalhamaha fujuro ha wa taqwa ha”, bahwa hanya ada dua jalan yang bisa dipilih oleh manusia: jalan fujur (melanggar, membantah, tidak taat, fasik, buruk) dan jalan taqwa (taat, patuh, nurut, baik). Secara alamiah, setiap dari kita menginginkan kebaikan itu melekat dalam diri kita. Namun, seiring berjalannya waktu kita tumbuh dewasa, bertemu dan berkenalan dengan banyak orang, bergaul sampai menetap. Dalam proses itu kita bisa jadi berproses dalam situasi yang tak mudah, diisi oleh orang-orang yang mayoritas mengajak kita pada jalan fujur. Apabila tidak kuasa kita melawannya, maka kita terjebak dan malah ikut serta didalam jalan itu. Tetapi sebaliknya, apabila kita meyakini bahwa kita adalah orang-orang yang memilih jalan taqwa, maka seberat apapun tantangannya, Insya Allah, kita akan selalu berusaha untuk memastikan bahwa diri kita berada dalam kebaikan. Untuk memastikan hal itu, maka kita butuh bersama. Kita butuh untuk berjamaah.

Islam mengajarkan kepada kita tentang urgensi berjamaah. Sebab, berjamaah itu adalah suatu kebutuhan bagi persatuan umat. Didalam Islam itulah, kita menemukan ukhuwah atau solidaritas atas nama persaudaraan sesama muslim. Yang saling menguatkan, saling mengingatkan, saling menautkan hati bahkan saling merapalkan nama saudara seimannya didalam doa. Bayangkan saja, ketika ibadah kita, misal dalam shalat dilakukan secara berjamaah maka pahalanya akan menjadi 27 kali lipat dibandingkan munfarid. Dititik ini, bagi saya berjamaah itu berkolaborasi; dan kolaborasi itu sendiri adalah kata kunci untuk melakukan kerja-kerja kebaikan besar.

“Kolaborasi Kebaikan” itu sendiri adalah hasil saya mentadaburi QS. Al Maidah: 2: “…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siska-Nya”. Dalam ayat ini, Allah Swt menyeru kita untuk tolong-menolong atau yang dalam bahasa kekinian disebut sebagai ‘kolaborasi’, tetapi kolaborasinya khusus dalam kebajikan dan taqwa saja. Disinilah pintu masuknya “Kolaborasi Kebaikan” sebagai suatu konsep. Lalu, bagaimana mempraktikkannya?

Dalam praktiknya, “Kolaborasi Kebaikan” dapat dijelaskan dalam beberapa langkah berikut:

Pertama, sebagai manusia kita harus menyadari hakikat kita yang lemah dan bodoh dimata Allah Swt. Sebab, kita hanyalah makhluk dan tak ada satupun yang bisa kita banggakan dan tinggikan dihadapan Allah Swt. Tetapi, manusia diberikan Allah Swt akal untuk bisa melampaui kelemahan dan kebodohannya itu dalam rangka mendekati Allah Swt. Maka, dalam pandangan optimistik Allah Swt terhadap manusia seperti tergambar dalam QS. Al Baqarah: 30 bahwa manusia mendapatkan mandat sebagai seorang pemimpin. Barangsiapa yang menggunakan akalnya itu untuk melaksanakan mandat Allah Swt dengan sebaik-baiknya, maka ia tergolong orang-orang yang berhasil mendekati Allah Swt dalam kebaikan. Sementara mereka yang gagal, tak ubahnya mereka dengan posisi semula sebagai makhluk yang bodoh dan lemah.

Kedua, dengan segala potensi yang dimiliki, ditambah pula dengan mandatnya sebagai pemimpin dimuka bumi, maka manusia harus mengupayakan dirinya untuk menjadi pribadi hebat. Ciri-ciri pribadi hebat itu antara lain: memiliki nilai-nilai spiritualitas, integritas, cendekia, transformatif, dan melayani sesama.

Ketiga, dalam mengemban amanahnya itu manusia perlu mengaplikasikan “Kolaborasi Kebaikan”. Bahwa ini adalah jalan yang harus ditempuh dalam rangka memperjuangkan kebaikan dengan mengajak sebanyak-banyaknya orang untuk menjadi agen kebaikan.

Keempat, kita juga harus melangkah jauh kedepan menjadi seorang “intelektual penggerak”, yakni intelektual yang tidak hanya berdiri di atas menara gading. Cara kerjanya seperti seorang aktivis, selain dengan memperkuat literasi dan berjiwa qur’ani, kita pun memilih ikut serta melalui jalan membumi dengan menjadikan ilmu sebagai alat perjuangan. Sebab, kita akan sadar bahwa ilmu itu seharusnya diamalkan, dan amal itu seharusnya ilmiah. Dengan demikian, ilmu tidak seharusnya menyerah pada keadaan sulit. Ilmu itu memihak, ilmu itu memperjuangkan sesuatu.

Kelima, setelah persiapan di atas beres, kita melangkahkan kaki; berhijrah dari medan kata-kata ke medan juang. Disanalah letak perjuangan sesungguhnya: nahi munkar. Apabila selama ini kita baru terbiasa dengan amar makruf, maka perjuangan kedepannya ialah kita harus nahi munkar.

Keenam, sebagai langkah taktis yang terakhir kita harus bisa menjadikan bangsa Indonesia ini, yang dihuni oleh mayoritas umat muslim ini sebagai bangsa yang mampu memimpin peradaban dunia. Kita tidak semestinya mengekor apalagi mengembik pada bangsa-bangsa asing. Kita harus menjadikan diri kita sebagai manusia paripurna atau Insan Al Kamil, kemudian menikah dan membangun keluarga, membangun masyarakat yang berkeadaban mulia, selanjutnya meluruskan kiblat bangsa dengan menjadikan Indonesia sebanga bangsa yang bermartabat dan kita bisa memberikan nasihat pada dunia dengan menjadi seorang negarawan dunia.

Barangkali langkah-langkah taktis ini yang harus kita lakukan sesegera mungkin. Seperti Hasan Al Banna sampaikan, tentang konsep maratibul amal, maka perjuangan harus dimulai dari diri sendiri, meningkat dan berakhir pada tatanan dunia yang lebih baik. Bukankan ini dambaan kita semua? Tentang kehidupan yang lebih baik dan beradab. Mari kita upayakan bersama, saudara!

Terbitnya Kolaborasi Kebaikan

Kolaborasi Kebaikan: Dari Konsep Menuju Praktik

Alhamdulillah. Tahun ini Allah Swt,. berikan kesempatan kepada saya untuk bisa menulis. Yah, menuliskan sebuah gagasan yang sudah lama saya bangun. Adalah ‘kolaborasi kebaikan’ yang merupakan hasil mentadaburi Al Qur’an surah Al Maidah ayat 2.

Dalam ayat tersebut, Allah Swt,. mengajak kita untuk “saling tolong-menolong dalam kebajikan dan taqwa”.

Tolong-menolong di sini, saya ibaratkan sebagai upaya kolaborasi. Modal sosial bangsa Indonesia pun adalah kolaborasi, yang dalam bahasa Soekarno disebut sebagai ‘gotong royong’. Kemudian, Allah Swt,. telah menetapkan bahwa balasan bagi kebaikan hanya kebaikan. Hal ini sebagai penegas agar kita senantiasa berbuat baik.

Semoga hadirnya buku ini bisa diterima. Semoga kita semua bisa mengambil manfaat atas kebaikan yang tersurat di dalamnya.

BEM KM UGM Kabinet Kolaborasi Kebaikan

kolaborasi kebaikan

Assalamu’alaykum wr.wb.

Salam cinta, salam perjuangan.

Atas nama cinta kita berjuang.

Hidup Mahasiswa Indonesia!

Hidup Mahasiswa Gadjah Mada!

Hidup Rakyat Indonesia!

Alhamdulillah, perjalanan punggawa BEM KM UGM Kabinet Kolaborasi Kebaikan telah mencapai puncak tertinggi di UGM. Puncak itu telah kami daki dengan wajah tegak menatap ke langit, penuh dengan semangat dan tanggung jawab. Namun, mencapai puncak saja tidak cukup membuat kami jumawa. Setelah berada di puncak justru membuat kami sadar bahwa kami begitu kecil, lemah dan tak berdaya dihadapan pemilik semesta.

Allah Swt telah menciptakan langit dan bumi dengan perhitungan yang rumit. Akal pikir kita sebagai manusia yang disebut cerdik sekalipun ketika dihadapkan oleh kuasa-Nya tidak ada apa-apa. Tak sanggup kita menjangkau barang sejengkal. Untuk itu, perjalanan ini malah membangkitkan ghirah perjuangan kami untuk semakin mendekati-Nya yang tak terbatas itu. Di titik ini kami sadar, kami sedang berada ditengah perjalanan panjang menuju Dia yang tak terbatas.

Apa pun disiplin ilmu yang kami pelajari diperkuliahan, apa pun tugas dan tanggung jawab kami di BEM KM UGM, itu semua merupakan hal kecil apabila manfaatnya tidak mampu dirasakan seutuhnya bagi banyak orang. Untuk itu, kami dengan sadar diri berupaya menerima dan melaksanakan amanah ini sebaik-baiknya.

Kami pun membagi peran di BEM KM UGM ke dalam satu Kesekjenan dan tiga Kemenkoan yang masing-masing di dalamnya terdapat empat Kementerian. Dalam Kesekjenan kita telah berupaya membentuk sistem kaderisasi yang baik, transparansi dana, media yang informatif, dan administrasi yang rapih. Kemudian, dalam Kemenkoan Kemahasiswaan kita telah menjadi garda terdepan pelayanan advokasi dan kesejahteraan mahasiswa, merawat jejaring dengan entitas Keluarga Mahasiswa di Fakultas hingga Departemen, membuat kegiatan yang mampu menyalurkan sekaligus meningkatkan karya dan potensi mahasiswa, serta membuat bisnis dan mencari dukungan finansial yang mampu menyokong pergerakan.

Selanjutnya, Kemenkoan Kemasyarakatan yang bertugas untuk membela kaum mustad’afin. Merekalah Kemenkoan yang jauh dari caci-maki publik. Kemenkoan ini memiliki jumlah staf yang sangat besar dan siap kapan pun untuk diterjunkan ke tengah masyarakat. Sehingga, perannya seperti hadir dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan, melihat potensi sekaligus memberdayakan desa, didukung oleh riset khas mahasiswa, serta proses advokasi pemindahan Kantin Sosio-Humaniora. Terakhir, Kemenkoan Eksternal yang mendapatkan mandat untuk mengkaji isu-isu strategis, terlebih isu pendidikan tinggi, dikarenakan acara didukung oleh jejaring yang kuat sehingga pewacanaan dan propaganda menjadi masif.

Sedikit saja mengulang masa setahun silam saat tawaran itu datang. Yah, saya ditawari oleh Partai Bunderan untuk menjadi calon Presiden Mahasiswa; melanjutkan kebaikan yang telah dilaksanakan oleh Kabinet Inspirasi Indonesia. Dengan penuh keberanian saya coba untuk ambil bagian. Dan setelah menjadi Presiden Mahasiswa, saya sadar betul bahwa tugas yang saya emban tidaklah mudah.

Dengan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada rekan-rekan pengurus harian beserta staf, yang senantiasa membantu dan mendukung untuk membuat organisasi ini besar dan terpandang di segala penjuru. Kalian telah menjadikan organisasi ini tak pernah sepi dari kegiatan yang manfaat, selalu ambil bagian dalam pelbagai persoalan bangsa, menjadikan sekretariat selalu ramai dengan gagasan disertai tawa-canda.

Semoga Allah Swt., selalu melindungi kita semua, mendewasakan serta saling mengikhtiarkan untuk tetap menjaga dan terjaga sampai waktu yang tak terbatas. Semoga apa yang disampaikan juga mampu menjadi pemantik imajinasi tiada henti. Terakhir, kenanglah persaudaraan ini disepanjang hidupmu. Mari kita menuju tak terbatas!

Wassalamu’alaykum wr.wb.