Tanjung Priok
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

*Artikel

Tanjung Priok

Tanjung Priok

Tulisan ini merupakan catatan panjang yang penulis coba untuk sederhanakan, hendak ditujukan kepada para pemangku kebijakan, termasuk sebagai bahan refleksi penulis untuk merintis perubahan bagi kotanya.

Pada tahun 2010, Muhammad Ridha peneliti INKRISPENA menulis catatan menarik tentang Hak Atas Kota (lihat: http://indoprogress.blogspot.co.id/2010/08/hak-atas-kota.html). Dalam tulisan tersebut, Ridha mengajak kita merefleksikan kembali tentang apa yang dimaksud dengan kehidupan kota. Ia mendefinisikan bahwa kehidupan kota merupakan aktivitas keseharian di kota itu sendiri.

Selanjutnya, ia mencontohkan kehidupan kota Jakarta. Ia menyebutkan bahwa ada banyak hal yang berada di luar kendali bagi warga kota Jakarta di mana penyakitnya kota itu sudah mencapai level akut. Segala respons dan upaya belum mencapai hasil yang diinginkan. Konsekuensi bagi warga kota Jakarta ialah menjadi terasing dari dirinya sendiri. Sebuah kondisi warga kota yang mengerikan. Ridha menyebutnya sebagai ‘warga kota yang tanpa jiwa, tanpa substansi’.

Catatan menarik di atas benar. Saya mengamini. Sejak orok hingga mendewasa kini, saya dididik dan dibesarkan oleh kerasnya kehidupan kota Jakarta. Lebih spesifik lagi tempat saya bertempat tinggal: Tanjung Priok. Pertanyaan di muka yang ingin saya lemparkan kepada saudara, apa yang terlintas di pikiran Anda tentang Tanjung Priok?

Suatu hari, saya melakukan survei kecil-kecilan kepada beberapa rekan kuliah di Yogyakarta. Saya melontarkan pertanyaan sebagaimana saya sebutkan di atas. Jawabannya benar-benar mengerikan. Tanjung Priok identik sebagai city of evil, sebagaimana lagu milik Avenged Sevenfold. Ada lagi yang mengidentifikasinya sebagai kota dengan tingkat kriminalitas dan kesenjangan yang tinggi. Namun, yang patut membuat saya mengelus dada (sendiri) adalah karena tingkat pendidikannya yang rendah.

Saya diam sejenak sembari menghela nafas dalam-dalam. Ternyata pandangan buruk di atas tentang Tanjung Priok seperti sebuah pandangan umum. Dan saya harus sampaikan bahwa pandangan mereka ada benarnya. Bahkan kenyataannya terkadang lebih mengerikan dari sekadar data-data yang dibuat pemerintah. Dengan ini, saya mencoba memahami realitas, menganalisis dalam-dalam dan mencoba mencari jalan keluar.

Realitas kehidupan yang harus saya jalani di sini adalah berteman dengan kemiskinan. Bukan orang lain, melainkan diri saya sendiri yang mengalami. Saya anak pertama dari empat bersaudara. Orang tua saya guru honorer di tiga sekolah, salah satunya SMP Negeri di Jakarta. Berkali-kali ikut Tes CPNS dan gagal. Gajinya sebulan pada tahun 2013, sesaat saya sebelum masuk kuliah, sebesar Rp. 1.500.000,-.

Coba Anda bayangkan, bagaimana saya dahulu bisa bersekolah dan kini berkuliah? Bagaimana cara Ibu saya mengatur keuangan rumah tangga agar dengan uang itu, waktu sebulan dapur bisa ngebul? Dan beragam pertanyaan lain terlontar atas kehidupan nyata yang sedang saya jalani.

Bukan hanya saya, pun melihat rekan sejawat, kawan nongkrong, dan/atau tetangga kiri-kanan. Mereka pun merasakan perih yang sama lantaran didera kemiskinan. Alhasil, banyak di antara mereka yang menjambret, memalak, mengedarkan narkoba, main cewek, nyimeng, sekadar ngobrol-ngobrol tengah malam, nyanyi-nyanyi di setiap ujung gang, sembari ngudud dan nenggak minuman beralkohol. Ya ayuhannas. Ini peringatan bahwa ada segudang permasalahan besar yang sedang kita hadapi.

Saya menganalisis atas semua ini. Dengan mempertimbangkan beberapa faktor, maka yang membuat mereka pada akhirnya melakukan tindakan keji di atas adalah tidak lain karena faktor pendidikan. Ya, pendidikan di rumah maupun di sekolah. Orang-orang tua di Tanjung Priok tidak banyak memperhatikan anak-anaknya. Sekolah hanya formalitas, tidak banyak diisi oleh kegiatan-kegiatan inovatif yang mengajak kita mengolah rasa dan pikir.

Atas dasar rasionalitas tersebutlah, saya memberanikan diri untuk mengubah keadaan. Saya ingin tetap mengenyam pendidikan, bahkan hingga kuliah. Sehingga, “saya kuliah karena saya bodoh, dan selamanya saya tidak ingin menjadi bodoh. Agar kelak saya bisa menolong orang-orang di sekitar saya keluar dari kebodohan.”

Kebetulan, Anies Baswedan yang kemudian terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta periode 2017–2022 merupakan tokoh pendidikan. Sebagaimana kita tahu, konsentrasi beliau terhadap dunia pendidikan sangat tinggi. Dengan ini, muncul harapan dari saya pribadi terkait masa depan Tanjung Priok, di mana setiap anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, sehingga mereka bisa menolong setidaknya diri mereka sendiri untuk bisa hidup lebih bermartabat.

Saya tak bisa membayangkan betapa bahagianya, ketika anak-anak muda Tanjung Priok lebih gemar memegang buku dibandingkan sekadar memegang dan menenggak sebotol bir. Saya kan bersenang hati ketika anak-anak muda Tanjung Priok bisa mendapatkan pekerjaan yang layak, mencukupi kebutuhan hidupnya, membantu orang-orang di sekitarnya bahkan suatu hari bisa berkontribusi besar bagi republik ini. Maka, mempermudah akses terhadap pendidikan harus menjadi program yang utama.

Di saat bersamaan, dibutuhkan penegakan hukum yang tak pandang bulu. Barang siapa yang melanggar hukum, ia harus segera ditindak. Kriminalitas yang tinggi bisa terjadi karena abainya negara dalam menghadirkan kepastian dan penegakan hukum. Dengan adanya kepastian dan penegakan hukum, maka dapat dipastikan terjadinya kondisi masyarakat yang aman dan nyaman. Untuk itu, saya mohon dengan sangat agar Jokowi mampu menghadirkan penegakan hukum tanpa pandang bulu.

Selain politik dan hukum, kita juga harus memperhatikan sektor yang lain. Seperti di bidang kesehatan, pembangunan Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok menjadi angin segar bagi pelayanan kesehatan yang harus dilaksanakan secara prima. Di bidang perekonomian, pembenahan tata kelola pasar tradisional, OK OCE Mart dan produk creative home industry harus digiatkan.

Dan yang terpenting, bagi mereka yang terlanjur tidak mengenyam pendidikan hingga tingkat tinggi hendak diikutsertakan dalam Balai Pelatihan yang mengasah kemampuan. Kemudian, di sini, pemerintah daerah bekerjasama dengan pemerintah pusat bertanggungjawab membantu mereka dengan memberikan dua opsi: perbantuan dana untuk membangun usaha atau menyediakan lapangan pekerjaan sebagai karyawan, dll.

Di saat bersamaan, harus muncul sebuah gerakan di Tanjung Priok. Gerakan ini ibarat dua mata pisau yang mampu di satu sisi mendukung, di sisi lain mengontrol jalannya pemerintahan. Tentu saja, gerakan ini harus dipelopori oleh anak-anak muda yang berkesadaran sebagai warga kota Jakarta. Sehingga, kota Jakarta, terutama Tanjung Priok mampu menghadirkan gairah yang membuat para penghuninya berjiwa besar dan memiliki substansi atas apa yang hendak dijalani dalam hidupnya.

Dengan ini saya berefleksi, dan memanggil kaum muda Tanjung Priok yang berkesadaran di mana pun ia berada untuk sama-sama memikirkan kota yang hendak membesarkannya. Saya sungguh yakin, ada banyak kaum muda Tanjung Priok yang memiliki kesadaran akan tanggung jawab serta sikap mulia untuk bisa menolong sesamanya.

Maka, jika Anda masih gemar ber-fafifu dan sekadar berimajinasi tentang rakyat, datanglah ke rumah saya! Datanglah ke Tanjung Priok. Saya akan tunjukkan wilayah mana saja yang menjadi gudang kesenjangan. Saya akan ajak kalian ke dalam diskusi-diskusi kelas bawah. Saya akan larutkan kalian dalam suasana haru-biru karena masih banyak orang hidup dalam kemelaratan. Saya akan buat kalian berempati. Dengan ini, sudahi bicara tak ada guna, mari kita berbuat baik lebih banyak.

Terakhir, teruntuk para pemangku kebijakan. Saya mengharapkan perhatian yang dalam atas kondisi di Tanjung Priok. Barangkali, perbaikan ini akan menjadi kado berkesan dari negara dalam merayakan Hari Ulang Tahun DKI Jakarta ke-490.

Kaum Terpelajar, Bergeraklah

Presiden Mahasiswa UGM

Hidup adalah pertempuran baik melawan buruk. Dalam diri kita bersemayam akal, nafsu dan perasaan. Akal mengedepankan logika, nafsu kedepankan ambisi, sedangkan perasaan menekankan kejernihan hati. Hatilah yang mengendalikan manusia agar berperasaan dan berperangai baik. Sebaliknya akal dan nafsu apabila tidak terkendali akan menuntun kita pada keburukan.

Maka pandai-pandailah merawat dan mengelola hati. Sebab orang yang demikian pandai merawat dan mengelola hati inilah yang dinilai sudah selesai dengan dirinya sendiri. Ia mampu menundukkan akal dan nafsu yang tak terkendali. Karena sungguh hati takkan pernah bisa bohong.

Dalam konteks kehidupan nyata__juga maya__banyak perilaku kurang ajar dan itu banyak dilakukan oleh orang-orang terpelajar. Semakin berilmu malah semakin kelewat batas. Merampok uang rakyat, melakukan tindakan kriminal, membohongi publik, mengeluarkan ‘dalil’ akademik yang merugikan dan beragam perilaku kurang ajar lainnya. Peran hati seolah terkikis oleh akal dan nafsu.

Di sini penulis sepakat dengan petuah Tan Malaka; yang mana sederhananya, “lebih baik pendidikan tidak usah diberikan kepada kaum terpelajar jika pada akhirnya digunakan untuk menindas dan berjarak”.

Dalam hemat penulis menindas adalah membohongi hati-nurani; sedangkan berjarak adalah mengabaikan realitas sosial. Keduanya tidak boleh dilakukan oleh seorang terpelajar. Hati yang tulus-ikhlas, membangun barisan yang kokoh, melantangkan suara dan bergerilya memperjuangkan kebaikan. Semua itu harus disampaikan kaum terpelajar kepada siapapun pelaku penindasan; bukan malah menjadi bagian destruktif.

Mahasiswa harus bisa me-monitoring peran penguasa baik di kampus kampus hingga level negara supaya check and balance tetap berjalan. Memastikan penguasa mengelola negara tidak serampangan. Peran dosen, peneliti, dan segenap masyarakat terdidik ialah sebagai pencerah masyarakat sekaligus pengontrol penguasa. Supaya kaki mereka tidak rapuh untuk menopang beban amanah teramat besar.

Masyarakat terdidik memiliki pengetahuan yang memadai guna menyelesaikan persoalan sosial. Karena pendidikan menjamin ketersedian pengembangan Ilmu. Ilmu itu tidak boleh berhenti pada segelintir orang saja, apalagi terbatas pada tumpukan tulisan di jurnal. Ilmu harus berupa amaliah yang mampu menggembirakan banyak orang. Sedangkan amal yang dilaksanakan dilaksanakan secara ilmiah supaya dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Dalam proses inilah hati dan olah rasa yang membuat kita arif nan bijaksana dalam menghadapi persoalan; menjadikan kita waskita.

Fungsi memperjuangkan oleh kaum terdidik yang secara tegas bicara tentang keberpihakan harus mengudara ke segala arah, bahkan ke celah-celah terkecil sekalipun. Maksudnya, ketika bicara soal memperjuangkan, kita tidak hanya bergerak di ranah kebijakan, seperti pembuatan Undang-undang. Di sini, mendengar keluh-kesah, rintih dan jerit tangis para kaum mustad’afin adalah upaya yang harus terus-menerus digencarkan sebagai bagian dari memperjuangkan.

Orang yang tidak memiliki sesuatu tidak dapat memberikannya. Kaum terdidik punya ilmu dan dengan itu dipergunakan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan dan kemanusiaan. Sebab, dunia ini sedang dalam kondisi kemerosotannya. Bukan hanya yang terlihat seperti kabar di media mainstream. Tapi apa yang terlihat secara nyata dengan mata dan terdengar oleh telinga kita bahkan lebih mengerikan.

Maka bergeraklah kawan, bergeraklah. Hati yang akan membimbing pada kebenaran, sedangkan ilmu sebagai alat perjuangannya. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.

 

Memimpin Perguruan Profetik

memimpin perguruan profetik

Katakanlah, UGM dan Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang luar biasa. Menurut para petinggi kampus, daya saing mahasiswa harus diasah sedemikian rupa sebagai bekal menghadapi masa depan. Bersamaan dengan itu terdapat satu krisis yang berkait-kelindan antara mengenal jati diri bangsa dan modal sosial budaya kolektif.

Coba bayangkan, negeri yang dihuni ratusan juta insan harus menyerah pada kehinaan dan pasrah oleh keputusasaan. Persoalannya saya pertegas, kita gagal membangun titik temu. Tengoklah diri dan sekitar. Kini orang bisa dengan mudahnya mencaci-maki, memukul, menyerang hingga membunuh karena perbedaan selera. Tidak ada jalan lain, upaya membangun titik temu harus dilakukan.

Tentu saja membangun titik temu dalam masyarakat heterogen memiliki tantangan yang sulit. Namun, kita perlu belajar dari pokok gagasan mendiang Nasikun, Guru Besar Sosiologi UGM, tentang cross-cutting affiliation. Sederhananya menurut Nasikun, perbedaan adalah keniscayaan, tugas kita adalah membangun titik temu.

Hal ini mudah dipahami. Sebutlah diri kita ini memiliki beberapa identitas. Saya Alfath mahasiswa Fisipol, asal Jakarta, hobi ping-pong, di seberang sana ada mahasiswa lain dari Fakultas Teknik bernama Retas, asal Wonosobo, hobi futsal. Tentu kami berdua sekilas berbeda selera. Namun coba pahami, bahwa identitas yang berbeda dan melekat pada pribadi kami ini dapat dirajutkan simpulnya. Ya, saya dan Retas sama-sama mahasiswa UGM, warga negara Indonesia dan gemar olahraga. Di situlah titik temunya, simpulnya.

Kemampuan dan kemauan untuk membangun titik temu inilah yang sulit ditemui belakangan di Indonesia. Daya saing penting ketika kita berbicara kompetensi bangsa, tapi sebelum itu, kita harus sudah selesai dengan urusan dasar. Lihatlah masyarakat kita, semua angkat bicara, sedikit yang mendengar; banyak mengedepankan emosi, sumbu amarah pendek, suka mengeluh-mengutuk, saling tuding, dan beragam kengerian lainnya. Tak heran konflik horizontal banyak terjadi. Ketakutan demi ketakutan terus direproduksi. Kalau begini, kita butuh sosok pemimpin yang mampu mendamaikan, serta menentramkannya.

Pemimpin masyarakat bukan berasal dari mereka yang ujug-ujug hadir. Dia dipersiapkan sejak jauh-jauh hari. Kesehariannya ditempa oleh sejumlah persoalan hidup. Dia ditantang untuk menjawab persoalan itu dengan cara-cara kreatif dan elegan, yang melibatkan hati dan perasaan berdasarkan pengalaman dan kenyataan di lapangan. Bahkan lamunannya ialah semata hendak memikirkan orang lain. Apabila dihadapkan oleh persoalan, dipersiapkannya kuda-kuda supaya tetap terjaga. Dan tentu saja, pemimpin yang dinanti tak boleh biasa, apalagi orang sisa. Dia harus canggih menjawab tantangan bangsa. Mempersatukan bangsa dalam kebhinekaannya.

Saya punya bicara ini tentu bertujuan, bukan tanpa alasan. Seleksi dan pemilihan rektor yang tengah diselenggarakan ini mengundang tanya, sebenarnya rektor macam apa yang hendak memimpin UGM ke depan? Kita tentu berharap yang terbaik untuk UGM dan bangsa. Saya sebagai bagian masyarakat kampus pun punya harapan, dan barangkali dapatlah juga diinstitusionalisasikan sebagai harapan BEM KM UGM.

Beberapa waktu lalu saat saya tengah membuka kembali buku dan dokumen yang menjelaskan sejarah panjang UGM. Tepat 72 tahun lalu saat UGM mendeklarasikan dirinya sebagai perguruan tinggi yang lahir dari rahim ibu kandung keperihan bangsa. Ketika itu kondisi bangsa sangat sulit. Namun demikian, UGM justru hadir sebagai upaya bangsa Indonesia keluar dari kebodohan sembari menunjukkan eksistensinya dan identitas Pancasila kepada dunia.

Memang benar, sejarah berguna sekali. Dari mempelajari sejarah, saya bisa menemukan kembali identitas sesungguhnya yang kini sudah banyak tertutupi debu. Bahwa bangsa Indonesia dan juga UGM lahir atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Hal ini dapat ditelusuri melalui dokumen pembukaan UUD 1945, sila pertama dari Pancasila, dan juga setiap arsip dokumen UGM yang dapat dengan mudah rekan-rekan temui di museum UGM atau perpustakaan UGM lantai tiga. Sederhananya, UGM sebagai perguruan tinggi lahir membawa semangat “spiritualitas yang emansipatoris”.

Apa itu semangat “spiritualitas yang emansipatoris”? Ia adalah suatu semangat yang mendasarkan dirinya pada religiusitas; Ketuhanan Yang Maha Esa dan atas kuasa Tuhan melalui akal dan pikirnya mampu melaksanakan proses emansipasi berlandaskan ilmu yang amaliah serta amal ilmiah. Hal ini dapat disaksikan ketika mahasiswa UGM harus bekerja keras dalam belajar, disertai kehendak untuk membela bangsa saat agresi militer Belanda di Yogyakarta. Kemudian, pengerahan tenaga mahasiswa atau yang kita kenal hari ini sebagai Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai kewajiban UGM untuk berbakti pada negeri. Mahasiswa UGM tidak bertanya “saya akan mendapat apa setelah seluruh usaha ini dilakukan?”, sebab mereka seharusnya hanya berpikir dan berorientasi kepada “apa guna ilmu bagi kemajuan bangsa?”.

Semangat ini tak boleh redup. Maka, boleh jadi, saya sebagai mahasiswa hanya ingin terus mengupayakannya supaya semangat ini tetap menyala-nyala. Bagaimana cara menjaganya agar tetap menyala-nyala? Bagi saya semangat ini harus dan tetap terjaga dengan kita memahami sejarah dan turut melaksanakannya.

Semangat ini bila ditelusuri lebih lanjut adalah hasil analisa pribadi atas konsepsi besar “Ilmu Sosial Profetik” (ISP) milik Kuntowidjoyo, Guru Besar FIB UGM. Dalam konsepsinya, Kuntowidjoyo menjelaskan tiga misi yang hendak dicapai oleh ilmu sosial, yakni humanisasi, liberasi dan transendensi.

Dalam ISP, humanisasi berarti memanusiakan manusia, menghilangkan “kebendaan”, ketergantungan, kekerasan dan kebencian dari manusia. Kuntowijoyo mengusung humanisme teosentris sebagai pengganti humanisme antroposentris untuk mengangkat kembali martabat manusia. Dengan ini, manusia harus memusatkan dirinya pada Tuhan, tapi tujuannya adalah untuk kepentingan kemanusiaan. Perkembangan peradaban manusia tidak lagi diukur dengan rasionalitas, tapi transendensi. Humanisasi dibutuhkan karena masyarakat kita tengah mengalami proses dehumanisasi, agresivitas dan individualistik.

Kemudian, nilai-nilai liberatif dalam ISP ditempatkan pada konteks ilmu sosial yang bertanggungjawab membebaskan manusia dari kemiskinan, pemerasan kelimpahan, dominasi struktur yang menindas dan hegemoni kesadaran palsu. Lebih jauh, ISP mendasarkan semangat liberatifnya pada nilai-nilai profetik transendental dari agama yang telah ditransformasikan menjadi ilmu yang objektif-faktual.

Terakhir, adalah transendensi yang menjadi dasar dua unsur lainnya. Transendensi hendak menjadikan nilai-nilai transendental berupa keimanan sebagai bagian penting dari proses membangun peradaban. Transendensi menempatkan agama pada kedudukan yang sangat sentral dalam ISP. Di sini, wahyu menjadi sumber utama dalam proses pencarian ilmu. Wahyu ini kemudian menjadi etos atau model. Dengan memasukkan unsur wahyu dalam paradigma profetik memungkinkan seseorang melakukan lompatan besar dalam keilmuan, yaitu menjadi seorang ilmuwan yang religius. Kita mampu melakukan transformasi individual dan sosial yang diwujudkan dalam sila kedua dari Pancasila, kemanusiaan yang adil dan beradab.

Inilah nalar yang perlu dibangun dalam membangun sebuah kajian baru ilmu sosial keindonesiaan. Hemat saya, ilmu sosial profetik, meminjam istilah Habermas, adalah paradigma kritis atau emancipatory knowledge (Fakih, 2011: 61-62). Ilmu sosial harus dipahami sebagai proses katalisasi untuk membebaskan manusia dari segenap ketidakadilan. Paradigma ini menganjurkan bahwa ilmu pengetahuan terutama ilmu sosial tidak mungkin bersifat netral. Sehingga ilmu itu memihak, ilmu itu memperjuangkan. Paradigma ini memperjuangkan pendekatan yang holistik dengan menyertakan bukan sekadar teori di atas teks, melainkan pemihakan dan upaya emansipasi masyarakat dalam pengalaman hidupnya sehari-hari.

Sebab, UGM adalah perguruan yang hendak merawat keindonesiaan, maka tak salah apabila UGM menyandang gelar sebagai “perguruan profetik”. Perguruan profetik ialah perguruan yang membebaskan diri dari cengkraman gurita problematik bangsa dan menjadi pemecah kebuntuannya dengan benteng spiritual yang kokoh. Perguruan profetik hadir sebagai solusi atas masalah pelik negara-bangsa. Wadah ini tidak cukup membuat dirinya sendiri megah dengan alat kelengkapan akademik yang canggih, tapi ia memiliki andil solutif atas hidup matinya suatu negara. Ia menerobos benang kusut, mendobrak pintu yang lama tak terbuka, dan menghidupkan lilin-lilin harapan di tengah kegelapan. Ia nyala sang fajar sebagai lambang kepedulian yang berisi epos kepahlawanan yang militan dari mahasiswanya untuk menggelar kesejahteraan umum berlandaskan ilmu amaliah serta amal ilmiah yang khidmat dan bertanggungjawab.

UGM sebagai perguruan profetik yang berdiri tidak hanya untuk mencerdaskan bangsa, tapi juga untuk tiga tujuan negara lain yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945: melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum dan melaksanakan ketertiban dunia. Empat to-do-list UGM ini berbanding lurus dengan pernyataan Soekarno ketika meresmikan Balairung Gedung Pusat pada 19 Desember 1959. Tugas UGM antara lain pertama, ikut membangun RI sebagai wilayah kesatuan dari Sabang sampai Merauke. Kedua, mengisi NKRI dengan suatu masyarakat yang adil dan makmur. Ketiga, ikut membangun dunia baru dan menempatkan Indonesia dalam dunia baru yang berdasarkan persaudaraan dari bangsa-bangsa.

Hal ini sejalan dengan apa yang tertera dalam PP No. 67 Tahun 2013 tentang Statuta UGM dapat diketahui bahwa pasal 2 ayat (1) berbunyi, “UGM mempunyai visi sebagai pelopor perguruan tinggi nasional berkelas dunia yang unggul dan inovatif, mengabdi kepada kepentingan bangsa dan kemanusiaan dijiwai nilai-nilai budaya bangsa berdasarkan Pancasila. (2) UGM mempunyai misi melaksanakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat serta pelestarian dan pengembangan ilmu yang unggul dan bermanfaat bagi masyarakat. Sedangkan Pasal (3) Penyelenggaraan UGM berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta kebudayaan indonesia yang diwujudkan dalam dasar kerohanian, dasar nasional, dasar demokrasi, dasar kemasyarakatan, dan dasar kekeluargaan.”

Berkaitan dengan nilai profetik, hal tersebut mewujud dalam dasar kerohanian yang menjadi pilar utama penyelenggaraan UGM. Sehingga, nilai-nilai spiritualitas ini tidak dapat dipisahkan dalam pengajaran di kelas-kelas, pembicaraan di ruang publik dan peribadatannya. Sebab, nilai rohani terpancar di manapun dan kapan pun. Bahkan perguruan tinggi bernama UGM lah yang sudah seharusnya menjadi inisiator penabur benih-benih kebajikan dari tiap-tiap individu yang berbeda agama.

Karenanya setiap agama selalu memiliki tokoh teladannya masing-masing, dan teladannya itu selalu saja mengajarkan kebaikan. Maka dengan ini sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa” menjadi spirit dalam keberagamaan kita. Nilai ketuhanan menjadi basis fondasi atas sila-sila lainnya.

Belakangan ini saya sungguh khawatir, sebab Pancasila tereduksi. Pancasila seolah bicara sebatas pada urusan kebinekaan, toleransi, dan menafikan peran ketuhanan yang sarat akan sifat keagamaan.

Saya menjadi ingat pesan Pak Karno dalam “Kursus Presiden Soekarno tentang Pancasila di Istana Negara” tanggal 16 Juni 1958 yang tertuang dalam bukunya, “Bung Karno dan Pancasila: Menuju Revolusi Nasional” (2002, hlm. 107):

“…Kalau kita mengecualikan elemen agama ini, kita membuang salah satu elemen yang bisa mempersatukan batin bangsa Indonesia dengan cara yang semesra-mesranya. Kalau kita tidak memasukkan sila ini, kita kehilangan salah satu Leitsar yang utama, sebab kepercayaan kita kepada Tuhan ini bahkan itulah yang menjadi Leitsar kita yang utama, untuk menjadi satu bangsa yang mengejar kebajikan, satu bangsa mengejar kebaikan.”

Lalu siapa yang selanjutnya layak memimpin perguruan profetik?

Pemimpin perguruan profetik yang dibutuhkan UGM adalah sosok yang mampu mencerminkan nilai-nilai kebajikan, memancarkan keteladanan sejati dan kepemimpinannya mampu mengilhami orang lain untuk terus berada dalam jalur yang tepat dengan memiliki benteng keimanan yang kokoh. Memiliki keberpihakan ilmu dan memperjuangkan yang lemah. Semua ini agar gerak-langkah yang dilakukan senantiasa berada dalam lindungan-Nya.

Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia

Presiden BEM KM UGM 2017

Menjadi Tidak UGM

Opini-menjadi-tidak-ugm

Memulai dengan tanya, sebenarnya apa yang diharapkan oleh pendidikan nasional?

Bila kita merujuk Ki Hadjar Dewantara, pendidikan nasional harapannya mampu membuat setiap orang ngerti, ngrasa dan nglakoni. Maksudnya ialah bahwa setiap insan pembelajar yang hidup dalam ruang belajar mampu mengerti materi yang diajarkan. Kemudian, mereka mulai merasakan bahwa dunia bukanlah tempat yang baik untuk bersenang-senang, sebab ada pelbagai soal dan beragam kengerian akibat banyaknya rakyat yang hidup dalam rasa takut dan lapar. Sehingga, ilmu yang dimengerti dari ruang belajar mampu menghantarkan kita untuk nglakoni suatu keberpihakan sosial.

Tentu ilmu tak bebas nilai. Ilmu tak dapat diam-mendiamkan. Ilmu juga tak boleh menyerah pada keadaan sulit. Ilmu itu memihak, ilmu itu memperjuangkan. Kalau boleh meminta, ilmu yang diasup dari pendidikan kita mampu menyongsong masa depan bangsa yang lebih baik dan bermartabat. Hanya saja ada lagi tanya, ke mana arah pendidikan nasional kita?

Menjawab pertanyaan di atas, saya ingin melibatkan Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai kawah candradimuka dalam tulisan reflektif berikut. Selain karena faktor historis yang menyebut bahwa UGM lahir dari ibu kandung keperihan bangsa, ada poin menarik yang tak kalah penting. Bahwa saat ini UGM sedang memasuki tahap menentukan siapa pemimpin barunya. Agenda tantangan bangsa ke depan seharusnya mampu dibaca dan menjadi prioritas untuk diselesaikan, tentu dengan mengedepankan cara-cara yang adil dan beradab. Portofolio seorang pemimpin harus jelas dan kredibel serta memiliki keberpihakan ilmu pada pembangunan bangsa.

Proses pemilihan rektor ini dapat disebut “ritus lima tahunan” manakala menghasilkan pemimpin yang tidak canggih dalam menjawab persoalan bangsa. Pemimpin yang berdaulat atas diri dan pikirnya menjadi keharusan. Banyak berdialog dan melihat realitas sosial, bukan duduk manis di singgasana. Kita pernah punya pemimpin yang demikian. Koesnadi, ya, beliau adalah lambang keberpihakan UGM pada rakyat. Pun demikian tokoh-tokoh begawan Bulaksumur lainnya macam Sardjito, Koentowidjoyo, dan Moebyarto.

Para begawan yang menjadi “intelektual organik” kini jarang, bahkan kalau boleh dibilang nyaris tiada. Yang ada justru tokoh-tokoh yang berpikir pragmatis dan membiarkan pendidikan kita didefinisikan oleh mereka yang membuat indikator-indikator kampus kelas dunia. Tak bisa dipungkiri wacana belakangan ini yang digembar-gemborkan oleh penguasa kampus adalah target masuknya UGM dalam peringkat 500 besar dunia. Obsesi ini bukan hanya UGM yang punya. Kampus-kampus lain di Indonesia juga memiliki orientasi serupa yang pada akhirnya mendorong “inflasi” atas slogan world class university (WCU).

Bagi saya ada penyederhanaan terminologi dari WCU, yakni sekedar membangun reputasi dan mendapat apresiasi di tingkat internasional, kemudian di ranking adalah sikap fatalistik yang tak dapat kita terima. Sebagai lambang “ibukota pendidikan tinggi” di Indonesia, UGM bertanggungjawab untuk bisa menyelami WCU dan kemudian menyadarkan kebanyakan kampus yang membebek-bangga pada terminologi itu. Sebenarnya, untuk siapa reputasi internasional itu? Apa guna reputasi tersebut kalau rakyat masih hidup dalam takut dan lapar?

Maka, jargon “mengakar kuat, menjulang tinggi” adalah citra positif ketika benar-benar diperjuangkan secara nyata oleh UGM. Tentu penilaian ini berdasar kepada keberanian untuk melawan kekhawatiran atas kegagalan pelaksanaannya, sehingga jargon hanya sebatas jargon dan bukan penyemangat untuk memperjuangkan pendidikan.

Karena itu, bagi saya, sebelum kita bicara soal reputasi internasional, kita harus mendudukkan persoalan secara lebih clear dengan bicara langkah sebelumnya. Bila berpedoman pada dokumen yang tersedia di arsip dan museum UGM, dapat diketahui bahwa tujuan UGM tercipta ialah untuk kemanusiaan dan kemajuan bangsa. Sehingga, mengakar kuat artinya mampu menjawab tantangan kemanusiaan dan kemajuan bangsa berlandaskan dasar negara Pancasila. Sedangkan menjulang tinggi memiliki pengertian bahwa UGM memberikan kontribusi pada reputasi dan kepemimpinan Indonesia yang bermartabat di tingkat internasional.

Persoalannya selama ini ialah kita terlalu bahagia membebek-buta-tuli pada WCU. Kita telah membiarkan mereka para pemeringkat kampus dunia untuk mendefinisikan UGM dan pendidikan bangsa. Kita secara diam-diam telah meneruskan kebiasaan buruk bangsa untuk selalu dipengaruhi, bukan memengaruhi. Kita menjadi tidak UGM apabila sekedar memikirkan WCU; kita kehilangan imaji tentang memperjuangkan kerakyatan dalam sendi-sendi kehidupan bangsa.

Seharusnya, riset-riset yang melulu digencarkan tak boleh sekedar memenuhi tuntutan sebagai profesor dan kaum intelek pada lembaran jurnal. Riset-riset ini harus berupa amaliah yang membantu menjawab tantangan bangsa, sehingga ilmu itu amaliah dan amal yang dilaksanakan harus ilmiah.

Akademik harus diarahkan pada responsivitas ilmu terhadap kebutuhan kemanusiaan dan kemajuan bangsa. Mengarah pada produk akhir yang manfaat dan didukung oleh berbagai elemen yang adaptif. Ada nilai-nilai yang harus disepakati. Apabila pancasila masih diakui dan dikhidmati sebagai dasar negara, tugas lembaga pendidikan adalah menerjemahkan pancasila dalam setiap disiplin ilmu. Bagaimana caranya politik kita disertai oleh nilai-nilai spiritual yang mendasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Kemudian, obat-obat kita mampu berkembang karena kekayaan biodiversity dan menjawab kebutuhan dunia medis sehingga membawa kita pada capaian kemakmuran bangsa. Bahkan yang jauh lebih penting adalah penyikapan dunia pendidikan atas integrasi menuju transdisiplin keilmuan. Ilmu saling melengkapi dan berkait-kelindan demi kemajuan bangsa.

Mari kita kencangkan persatuan. Penyadaran bangsa akan pentingnya pendidikan harus dilakukan sekarang juga. Para pengajar harus menanamkan benih pemikiran pada setiap murid-muridnya bahwa “pendidikan itu bicara soal perlawanan”. Perlawanan atas kesewenangan, kemiskinan dan kebodohan struktural, serta kesenjangan yang membabi-buta.  Begitu pun pelajar, para mahasiswa harus militan dengan berpikir lebih kritis dan taktis, mengedepankan nurani sehingga memiliki keberpihakan sosial. Tak saling renggut, pukul dan naikkan otot untuk mempersoalkan perbedaan paham pemikiran. Ingat, persoalan bangsa kita terlalu besar dan membutuhkan kerja keras secara bersama-sama untuk menyelesaikannya. Ilmu lah yang membimbing setia orang di dalamnya menjadi sebenar-benarnya manusia yang memperjuangkan.

Dengan demikian ilmu memiliki guna bagi penyelesaian persoalan bangsa. Dan pendidikan nasional sudah seharusnya hendak ditujukan kepada “guna ilmu” bagi kesejahteraan rakyat. Kearifan dan kedewasaan pikir para civitas akademika UGM menjadi keteladanan bagi segenap anak bangsa di manapun ia berada. Tentu tanggung jawab yang paling utama adalah bahwa pemimpin UGM, sang rektor, mampu memainkan perannya sebagai dirigen dalam pertunjukkan orkestra. Mengutip yang pernah disampaikan Sudirman Said dalam Memimpin Orkestra Kebinekaan, Tengoklah dirigen, pasti mulai kerjanya dengan partitur komposisi di tangan, di kepala, dan di hatinya. Tak penting apakah komposisi itu digubahnya sendiri atau warisan dari komposer maestro, atau kombinasi keduanya. Pemimpin orkestra memeriksa semua lini untuk meyakinkan bahwa semua ready.”

Hal yang perlu diingat, ini semua adalah perihal mempertanggungjawabkan peran rektor untuk memastikan keseluruhan pendidikan berjalan sebaik-baiknya dengan memanusiakan manusia dan membebaskan daya kreatifitas, tentu dengan mempertebal spiritual dan akal budi sebagai benteng perjuangan.

Saya pun demikian. Selaku Presiden Mahasiswa UGM saya hanya ingin mengingatkan, kampus sudah seharusnya mendorong dosen dan mahasiswa untuk memiliki keberpihakan sosial atas ilmu. Kampus bukanlah partai politik yang menjadi broker proyek-proyek kapitalis. Kampus juga bukan tempat menghasilkan orang-orang yang culas dan mementingkan nafsu pribadi dan golongannya. Kampus UGM berdiri untuk semua golongan, dan sudah seharusnya kepentingan bangsa menjadi yang utama.

Mari berbenah. Kita harus menjadi sebenar-benarnya UGM.

Sumber: http://www.balairungpress.com/2017/02/menjadi-tidak-ugm/

Negeri Tongkol

567846-meme-ikan-tongkol

Untuk Negeri tercinta, mari tundukkan hati-hati kita, kita bermunajat untuk segala kebaikan hadir di Negeri ini.

*

Kau tahu tongkol? Ikan berukuran sedang; umumnya sekitar 60 cm. Punggung berwarna biru gelap metalik, dengan pola coret-coret miring yang rumit. Gigi-gigi kecil dan mengerucut. Ikan ini bersifat epipelagis dan neritik, menjelajahi perairan-perairan terbuka bersuhu 18°-29 °C dan senangnya menggerombol.

Tongkol tidak memilih-milih mangsa. Ikan jenis ini diperniagakan dalam bentuk ikan segar, ikan beku, dan dikalengkan. Juga dalam rupa-rupa ikan olahan: dikeringkan, diasinkan, diasap, atau dipindang. Dagingnya berkualitas baik bila segar, namun dengan cepat akan membusuk bila tidak ditangani dengan baik.

*

Sungguh malang negeri ini. Hari-harinya dirundung duka. Kemiskinan, keperihan, dan kemelaratan merajalela.

Lebih tak kuasa menahan air mata ketika kita melihat kebodohan terus-menerus terjadi. Mudah disetir, di adu domba, dan dikibuli oleh penguasa zalim.

Yang menjadi kekhawatiran kita bersama adalah sekelompok yang mendaku dirinya mahasiswa, tapi akal budi luhur tiada. Martabat kemahasiswaannya tergadai oleh kepentingan politik penguasa.

Janganlah kau bayangkan masa depan negeri yang membanggakan apabila hari ini kita mudah dipecah-belah. Sumbu amarah kita pendek. Emosi dan amarah mengudara. Terlebih mudah kena perangkap isu-isu macam kebinekaan dan toleran yang justru mencerai-beraikan. Membuat kita terkotak-kotak dan tak lagi bersama.

Tentu dalam rezim bersenjatakan hoax ini kita tak boleh lupa, akal sehat lah yang menjadi pemenang. Nurani lah yang menuntun pada hakiki kebenaran. Maka, pilihan untuk memilah informasi harus dilakukan.

Sebagaimana tongkol, ia biru gelap metalika. Suasana hati kita mendung; gundah gulana. Tertutupi kabut-kabut kejahatan yang memunculkan sentimen kebencian. Hujan air mata menetes.

Suka menjelajah. Masuk sana-sini sekedar mendapatkan info. Menjadi pengkhianat. Senangnya menggerombol. Saat-saat dibutuhkan berjuang mandiri, tak sedikitputn berani tandang ke gelanggang walau hanya seorang.

Tongkol tak memilih mangsa. Semua di makan, bahkan sebangsanya. Hati-hati, ia punya banyak rupa. Pagi berkawan, sore jadi lawan. Mengerikan.

Tongkol itu gambaran anak bangsa. Mati terpenjarakan idealismenya ketika dikelola tak baik, sebaliknya akan baik kala dibina secara baik.

Bangsa ini seharusnya tidak bodoh oleh mainan politik penguasa. Bangsa ini adalah bangsa pembelajar. Tak boleh lelah belajar, menganalisa dan membuat catatan kritis.

Kejadian hari ini seharusnya membuat kita mawas diri. Janganlah kita jadi tongkol yang busuk, yang mudah terseret arus kebodohan. Jadilah tongkol yang berkualitas, yang kehadirannya dekat-menyegarkan; membuat setiap orang merasa bahagia. Cendikia juga manfaat.

Dan benarlah negeri ini tongkol, bukan begitu?

Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia
Penggemar Tongkol Dicabein