Menyambut Tantangan
Kritis & Berani Bersikap

*Catatan Kehidupan

Menyambut Tantangan

Tantangan

Alhamdulillah, saya masih diberikan kesempatan untuk bisa menghirup udara segar. Masih bisa melihat anak dan istri yang menyenangkan. Masih bisa melihat orangtua yang sehat dan setia menasihati. Masih bisa melihat orang-orang disekeliling yang begitu menyayangi kami. Ada nikmat dan syukur yang selalu terucap. Semoga Allah Swt senantiasa karuniakan ini kepada saya.

Kini saya sudah menginjak usia 25 tahun. Usia yang cukup matang untuk mengelola kehidupan. Usia yang seharusnya mencerminkan kedewasaan berpikir dan bertindak. Usia yang seharusnya bisa mengantarkan pada amal dan kebermanfaatan yang lebih luas. Sejujurnya, setiap hari adalah hari baru, menit baru, dan detik baru. Saya dan kita semua tidak akan bisa kembali, meskipun barang sedetik ke masa lalu. Dengan demikian, kita harus menjalani semuanya dengan penuh kehati-hatian dan mantap berani. Maksudnya, kita sadar bahwa di masa lalu, kita pernah berbuat kesalahan dan tentu saja kita tidak ingin mengulang masalah itu. Kita harus berani untuk berbenah diri; menjadi pribadi yang lebih baik.

Dalam hidup, tantangan silih berganti. Kita tidak bisa berhenti dan stagnan dalam mereproduksi cara menangani tantangan. Kita harus punya upaya baru untuk mengembangkan cara-cara yang out of the box, cara yang barangkali dianggap tidak lazim dan itu perlu dilakukan sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran Allah Swt dalam agama. Manusia punya kemampuan adaptif untuk menyiasati berbagai tantangan yang dihadapinya. Kedewasaan menjadi kata kunci dalam menyikapinya. Barangkali, secara pribadi, saya menganggap bahwa tantangan adalah sebuah “Hari Raya” yang harus kita sambut dengan suka cita. Di dalam tantangan itu, ada kerumitan yang harus kita peta-kan dan disaat itulah kita berpikir untuk mengatasinya. Berbagai teori, temuan, telaah, analisis kita gunakan. Semua dalam rangka untuk menemukan solusi. Barangkali diperjalanan kita menemukan berbagai kesulitan, namun percayalah bahwa setelah kesulitan itu pasti ada kemudahan. Ada kebanggaan disaat kita benar-benar berhasil menyelesaikan tantangan itu. Dan sudah sepatutnya, keberhasilan untuk berHari Raya tantangan itu dengan mengucap syukur: Kita Naik Level!

2020 hanya sebuah angka. 25 tahun pun demikian. Yang ada dalam benak saya adalah bagaimana agar setiap cita-cita saya bisa berdampingan dengan takdir yang ditetapkan Allah Swt. Saya hanya berdoa dihadapanNya, namun garis yang ditetapkanNya adalah yang terbaik. Saya hanya perlu menggali hikmah dari setiap proses. Ke depan, saya ingin agar sedikit demi sedikit mimpi-mimpi saya terealisasi: punya rumah yang nyaman dan bisa menjadi markas pergerakan, keluarga yang damai dan senantiasa beribadah yang baik, bisa lanjut S2 ke UK, bisa menjadi dosen, dan berbuat baik lebih banyak. Pada intinya, saya ingin bisa mengangkat harkat dan martabat orangtua serta beramal baik lebih banyak.

Mari kita sambut segala tantangan yang ada. Kita rayakan dan tantang dunia!

Menegakkan Kepala

menegakkan kepala

Banyak diantara kita tertunduk dengan alasan merasa diri sudah kalah. Seolah harapan itu telah sirna. Banyak diantara kita berjalan dengan wajah murung. Seperti hidup kehilangan bahagianya. Satu hal: kita harus memiliki harapan. Dengan rundungan masalah yang kita hadapi, kita harus tetap memiliki harapan. Mengapa?

Begini. Dunia yang kita huni saat ini berpenduduk sekitar 7 milyar umat manusia. Mereka tersebar dari barat ke timur, utara ke selatan. Bayangkan saja, apabila 7 milyar umat manusia ini telah kehilangan harapan akan dunia yang lebih baik, bagaimana kita bisa menaruh harapan tentang masa depan? Wajah sumringah bumi menjadi tiada.

Disaat yang sama saya ingin berkata ‘sayang’. Yah, sayang bahkan teramat sayang kepada mereka yang menjadikan hidupnya tidak hidup. Sebatas dijalani dan sekadar menerima takdir. Padahal, hidup tidak sebercanda itu. Ada keseriusan yang membuat kita memilih untuk memperjuangkannya. Supaya kita sadar, bahwa dengan apa-apa yang kita miliki, itu semua harus kita syukuri. Sebab, masih ada loh penduduk bumi yang mereka meski makan sehari hanya sekali dan tak tahu esok mau makan apa, tetapi mereka tetap memiliki harapan. Mereka tetap berusaha untuk bisa bahagia dengan segala keterbatasan. Lalu, bagaimana denganmu yang hidup sempurna? Berasal dari keluarga berada?

Mari sobat, kita tegakkan kepala kita. Rebut takdir kita. Raihlah cita kita. Memang manusia ini terbatas, tapi bukankah perjalanan kita sedang menuju kepada Dia yang tak terbatas. Dan Dia yang tidak terbatas itu akan senantiasa membantu kita untuk menghadapi batasan-batasan kita saat menghadapi berbagai ujian kehidupan. Asalkan kita senantiasa menjadikan Dia tempat bergantung.

Mulai saat ini, berhenti mengeluh tiada guna. Jangan terlalu banyak mengutuk keadaan. Tegakkan kepalamu Sobat. Tegakkan. Saya tak ingin melihatmu kehilangan masa depan. Dan masa depanmu tak ingin melihatmu dirundung kegalauan. Kita memiliki seluruh persyaratan untuk optimis. Kita sehat, kita berpendidikan, dan kita bisa berbuat kebaikan. Sebatas itu syarat untuk kita bisa optimis.

Ayo, kita tegakkan kepada. Hadapi kehidupan!

 

Semoga apa-apa yang saya tuliskan ini mampu memantik hati kecilmu. Supaya kamu sadar bahwa hidup tidak selamanya menerima. Ada sebagian takdir yang harus kita rebut.

Siap Merawat Indonesia

Baktinusa 6

Oleh Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia – PM Baktinusa 6 Jogja

Hidup adalah pertempuran antara baik melawan buruk. Kondisi bangsa saat ini seolah menunjukkan, bahwa pertempuran itu dimenangkan oleh keburukan. Tentu saja hal ini menyesakkan dada ketika menyaksikan seonggok kemanusiaan terkapar. Rakyat melarat, merintih, dan ringkih. Sementara itu, banyak pemimpin kita hanya pikirkan citra diri, sibuk sana sini, lari dari tanggung jawab kemanusiaan. Dengan itu, Indonesia yang kita semai ibarat tanaman rusak tak terawat.

Merawat Indonesia artinya siap menjaga akal sehat untuk mencintai Indonesia kurang maupun lebihnya. Hal tersebut merupakan cita-cita mulia bagi setiap anak bangsa yang menginginkan tuk tolak melulu sikap mengutuk. Agar negeri ini selaras dalam gerak konstruktif, menutupi segala kekurangan diri.

Alhamdulillah, Allah izinkan saya mengenyam pembinaan di Beasiswa Aktivis Nusantara_sama halnya dengan beasiswa yang kudapat sebelumnya: Rumah Kepemimpinan_yang mana mengajak kita untuk berkolaborasi dan membentang kebaikan. Bukan tanpa sebab. Ide, gagasan, referensi, bahkan pendirinya pun lahir dari rahim yang sama dan sejalan dengan cita-cita membangun Indonesia yang berdaya; Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

Untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan kekuatan aliansi kepemimpinan strategis yang siap melayani kemanusiaan. Memang, jumlah alumni program ini terbilang masih sedikit, tetapi memiliki potensi, nyali, dan daya pikir diluar kotak. Untuk itu kita layak disebut sebagai “creative minority”. Namun demikian, kita mengemban amanah besar untuk memengaruhi “silent majority” agar berada bersama kita dalam barisan kebaikan. Tentu, kebaikan itu bukan sekedar penilaian etik pribadi semata melainkan buah amal perjuangan yang telah dirumuskan bersama nilai dasarnya: kemanusiaan. Sehingga, meskipun berbeda dalam cara, pastikan kita sama dalam cita.

Dengan ini, saya berterima kasih atas kesempatan dan kebersamaan. Kita telah menjadi saudara melewati batas pertemanan. Dan saya mengundang saudara seperjuangan untuk bertanggung jawab; siap merawat Indonesia. Saya siap! Kamu?

24 Februari 2018
22.11 WIB
Menitikan air mata, kemudian bahagia

Abstrak

abstrak

Aku ingin mengajari diri hal-hal beda setiap hari. Yang mana ketika hidupku kelak menua dan mati, ada cerita tersendiri yang dapat kupertanggungjawabkan dihadapan ilahi.

Ada banyak hal yang sulit kupahami dari dunia. Tentang doa, cinta dan pengorbanan. Semua bicara tentang memperjuangkan. Banyak klue berserakan, tak sepenuhnya menjawab kebutuhan sejumlah tanya dari rentetan kotak vertikal-horizontal.

Sekarang banyak orang bingung mencari Tuhan. Karena dilihat tidak ada, dicari tidak ketemu. Semua kabur, setidaknya samar. Pekat hitam tak terlihat. Inilah akibat kehilangan cahaya iman.

Niat baik seseorang tak beranjak, bila tak berbuah pada laku amal. Hidup segan mati tak mau. Tinggal lah hidup sayu.

Banyak juga yang menulis surat cinta atau pun puisi untuk seseorang yang baginya spesial. Padahal ia yang spesial tak lebih dari sekadar fana. Tak percaya? Beri aku kepastian tentang hari esok. Bisa saja kau benci sebencinya ia. Sungguh.

Ada lagi mereka yang mendaku juru selamat dari akar rumput. Bahkan untuk sekadar menyapa ‘rakyat’ yang asalnya dari akar rumput pun tak pernah. Kalian munafik membela rakyat. Kalian cuma buang habis sudah waktu untuk diskusi hingga larut malam di warung kelontong. Meninggalkan Tuhan, tugas, orang tua dan kehidupan menantang lainnya bersama ‘rakyat’.

Mahasiswa gontok-gontokan karena beda kepentingan. Tuk merebut yang diyakini sebagai haq. Acapkali kebingungan, sebab semua dinilai relatif. Padahal sungguh, yang benar itu benar, yang salah harus menyerah pada kebenaran.

Kita harus mulai terbiasa hidup tanpa panutan. Di negeri yang banyak koruptor dan kaum hipokrit. Mereka lah yang bersenandung ria, menari di atas penderitaan kaum mustad’afin. Hancurkanlah.

Bisakah kita menebus dosa terhadap dosa yang tak pernah dilakukan. Bisakah kita memaafkan untuk kesalahan yang tidak termaafkan. Bisakah kita berdiri apabila kaki tak mampu menopang. Bisakah kita saling mencinta apabila tak dicinta.

Bisakah kita membalas jika tak ada sebab. Bisakah kencing sambil berlari. Bisakah menjawab saat tak ada tanya. Bisakah memiliki apabila tak punya.

Mari kita selesaikan hari ini sebelum esok. Dan pastikan esok tak kehilangan waktu menjawab tantangan. Kita punya dua telinga untuk mendengar gelisah, dua mata untuk melihat bahagia, dan satu mulut untuk melawan penindasan.

Terkadang hidupku abstrak. Lebih sulit meruwat jalan pikirku dibanding menyalakan api dihutan dengan batu. Dan memang, kawan yang tulus lebih menyebalkan daripada musuh yang menyamar.

Aku bukan filsuf, bukan juga pecinta. Aku adalah terang yang nyalanya hidup bersamamu. Kuingin bisikkan kata cintaku padamu, para pejuang lillah. Tolong ikut dengan hati yang mampu menggetarkan arsy. Ingat, dengan hati.

“Aku putuskan bahwa aku akan bergerak, karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan”

 

Membunuh Sepi

Sepi

Bagiku pembunuhan tidak selamanya buruk. Ini bentuk kritik imanen dariku. Kau biasanya dibuat pusing oleh pembunuhan karakter atau pun sampai kepada yang berdarah-darah. Tapi itu biasa. Ada hal yang layak kusematkan kepadamu dan juga mereka yang rela mendaulat diri sebagai pelaku bunuh sepi. Yah, pembunuh sepi.

Ada banyak cara untuk tetap membunuh. Selain dengan menepuk, menusuk dan menggorok dengan pisau belati; kau dapat membunuh sepi dengan kata-kata. Apa yang kulakukan hari ini, detik ini dan diwaktu ini adalah upaya terstruktur dari sumbangsih otak sebagai tempat berpikir dan hati untuk menentukan diksi yang bernurani sebagai lawan tanding sepi sampai mati.

Kata-kata itu canggih. Kau dapat menuntut hingga memaksa dengan kata-kata. Ialah senjata yang mampu menembak bukan hanya satu, melainkan ratusan-ribu kepala. Ingat, ide bukan siapa orangnya. Ide dituangkan melalui kata-kata. Maka dunia kata-kata mampu membisikkan bahkan mewartakan kepada dunia secara gamblang, bahkan ketika menyuarakan cinta.

Kau mesti tahu, saudaraku. Seperti Lenang Manggala bilang, “perasaan mencintai adalah angin kepada api. Kadang-kadang menyalakan, kadang-kadang melenyapkan”. Kita takkan mampu untuk mengendalikan kalau kita tak benar-benar bisa berlaku sebagai pengendalinya. 

Mulailah belajar, bukan untuk sekadar mendengar dan mengetahui, tetapi untuk melakukan dan mengajarkan. Sebab ku tak ingin semua terkalahkan sepi, maka kuajarkan padamu cara melawannya. Pertama, kau harus berani dan sadar bahwa kitalah sang kuasa yang memiliki sebagaian besar daulat atas pikir dan dirinya sendiri. Meski tak sepenuhnya, kita harus memperjuangkan apa yang diyakini benar. Kedua, cukup bisikan kepada si empunya hidup, pemilik arsy yang merajai hari setelah hari di dunia. Ketiga, berkumpulah dirimu dengan apa yang kau yakini sebagai cinta. Sebab cinta seharusnya menghadirkan kebahagiaan. Dekaplah ia erat-erat dalam jaga dan berilah kesempatan berjarak sewaktu-waktu jika dibutuhkan sebagai wujud kekuatanmu untuk menjaganya.

Sebab, yang dibutuhkan bumi bukan hanya langit. Dan yang dibutuhkan langit bukan sekadar bintang-bintang. Ada kamu, kamu dan kamu; bersamaan denganmu ada mimpi yang terpikir dalam tidur lelap, membimbingku dalam gelap dan mencurahkan segenap asa dalam kebimbangan. Tolong, bantu aku dalam melawan sepi.