Abstrak
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

*Catatan Kehidupan

Abstrak

abstrak

Aku ingin mengajari diri hal-hal beda setiap hari. Yang mana ketika hidupku kelak menua dan mati, ada cerita tersendiri yang dapat kupertanggungjawabkan dihadapan ilahi.

Ada banyak hal yang sulit kupahami dari dunia. Tentang doa, cinta dan pengorbanan. Semua bicara tentang memperjuangkan. Banyak klue berserakan, tak sepenuhnya menjawab kebutuhan sejumlah tanya dari rentetan kotak vertikal-horizontal.

Sekarang banyak orang bingung mencari Tuhan. Karena dilihat tidak ada, dicari tidak ketemu. Semua kabur, setidaknya samar. Pekat hitam tak terlihat. Inilah akibat kehilangan cahaya iman.

Niat baik seseorang tak beranjak, bila tak berbuah pada laku amal. Hidup segan mati tak mau. Tinggal lah hidup sayu.

Banyak juga yang menulis surat cinta atau pun puisi untuk seseorang yang baginya spesial. Padahal ia yang spesial tak lebih dari sekadar fana. Tak percaya? Beri aku kepastian tentang hari esok. Bisa saja kau benci sebencinya ia. Sungguh.

Ada lagi mereka yang mendaku juru selamat dari akar rumput. Bahkan untuk sekadar menyapa ‘rakyat’ yang asalnya dari akar rumput pun tak pernah. Kalian munafik membela rakyat. Kalian cuma buang habis sudah waktu untuk diskusi hingga larut malam di warung kelontong. Meninggalkan Tuhan, tugas, orang tua dan kehidupan menantang lainnya bersama ‘rakyat’.

Mahasiswa gontok-gontokan karena beda kepentingan. Tuk merebut yang diyakini sebagai haq. Acapkali kebingungan, sebab semua dinilai relatif. Padahal sungguh, yang benar itu benar, yang salah harus menyerah pada kebenaran.

Kita harus mulai terbiasa hidup tanpa panutan. Di negeri yang banyak koruptor dan kaum hipokrit. Mereka lah yang bersenandung ria, menari di atas penderitaan kaum mustad’afin. Hancurkanlah.

Bisakah kita menebus dosa terhadap dosa yang tak pernah dilakukan. Bisakah kita memaafkan untuk kesalahan yang tidak termaafkan. Bisakah kita berdiri apabila kaki tak mampu menopang. Bisakah kita saling mencinta apabila tak dicinta.

Bisakah kita membalas jika tak ada sebab. Bisakah kencing sambil berlari. Bisakah menjawab saat tak ada tanya. Bisakah memiliki apabila tak punya.

Mari kita selesaikan hari ini sebelum esok. Dan pastikan esok tak kehilangan waktu menjawab tantangan. Kita punya dua telinga untuk mendengar gelisah, dua mata untuk melihat bahagia, dan satu mulut untuk melawan penindasan.

Terkadang hidupku abstrak. Lebih sulit meruwat jalan pikirku dibanding menyalakan api dihutan dengan batu. Dan memang, kawan yang tulus lebih menyebalkan daripada musuh yang menyamar.

Aku bukan filsuf, bukan juga pecinta. Aku adalah terang yang nyalanya hidup bersamamu. Kuingin bisikkan kata cintaku padamu, para pejuang lillah. Tolong ikut dengan hati yang mampu menggetarkan arsy. Ingat, dengan hati.

“Aku putuskan bahwa aku akan bergerak, karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan”

 

Membunuh Sepi

Sepi

Bagiku pembunuhan tidak selamanya buruk. Ini bentuk kritik imanen dariku. Kau biasanya dibuat pusing oleh pembunuhan karakter atau pun sampai kepada yang berdarah-darah. Tapi itu biasa. Ada hal yang layak kusematkan kepadamu dan juga mereka yang rela mendaulat diri sebagai pelaku bunuh sepi. Yah, pembunuh sepi.

Ada banyak cara untuk tetap membunuh. Selain dengan menepuk, menusuk dan menggorok dengan pisau belati; kau dapat membunuh sepi dengan kata-kata. Apa yang kulakukan hari ini, detik ini dan diwaktu ini adalah upaya terstruktur dari sumbangsih otak sebagai tempat berpikir dan hati untuk menentukan diksi yang bernurani sebagai lawan tanding sepi sampai mati.

Kata-kata itu canggih. Kau dapat menuntut hingga memaksa dengan kata-kata. Ialah senjata yang mampu menembak bukan hanya satu, melainkan ratusan-ribu kepala. Ingat, ide bukan siapa orangnya. Ide dituangkan melalui kata-kata. Maka dunia kata-kata mampu membisikkan bahkan mewartakan kepada dunia secara gamblang, bahkan ketika menyuarakan cinta.

Kau mesti tahu, saudaraku. Seperti Lenang Manggala bilang, “perasaan mencintai adalah angin kepada api. Kadang-kadang menyalakan, kadang-kadang melenyapkan”. Kita takkan mampu untuk mengendalikan kalau kita tak benar-benar bisa berlaku sebagai pengendalinya. 

Mulailah belajar, bukan untuk sekadar mendengar dan mengetahui, tetapi untuk melakukan dan mengajarkan. Sebab ku tak ingin semua terkalahkan sepi, maka kuajarkan padamu cara melawannya. Pertama, kau harus berani dan sadar bahwa kitalah sang kuasa yang memiliki sebagaian besar daulat atas pikir dan dirinya sendiri. Meski tak sepenuhnya, kita harus memperjuangkan apa yang diyakini benar. Kedua, cukup bisikan kepada si empunya hidup, pemilik arsy yang merajai hari setelah hari di dunia. Ketiga, berkumpulah dirimu dengan apa yang kau yakini sebagai cinta. Sebab cinta seharusnya menghadirkan kebahagiaan. Dekaplah ia erat-erat dalam jaga dan berilah kesempatan berjarak sewaktu-waktu jika dibutuhkan sebagai wujud kekuatanmu untuk menjaganya.

Sebab, yang dibutuhkan bumi bukan hanya langit. Dan yang dibutuhkan langit bukan sekadar bintang-bintang. Ada kamu, kamu dan kamu; bersamaan denganmu ada mimpi yang terpikir dalam tidur lelap, membimbingku dalam gelap dan mencurahkan segenap asa dalam kebimbangan. Tolong, bantu aku dalam melawan sepi.

 

Hidup Bicara Sedih-Bahagia

PH BEM KM UGM 2017

Menjadi Presiden Mahasiswa UGM adalah amanah besar. Dengan jelas dan tandas selalu saya sampaikan dalam berbagai kesempatan, “UGM adalah Universitas yang heterogen”. Layaknya Indonesia, UGM lah miniatur yang mampu menghimpun segenap entitas anak bangsa dengan ragam suku, agama, bahasa dan ras.

Dua bulan sudah saya memimpin. Bukan waktu yang mudah untuk dilewati. Menyusun tim terbaik yang mampu berkolaborasi, memaparkan ide-gagasan dan memantapkannya kepada orang lain. “Serukan kolaborasi, sebarkan kebaikan” adalah doktrin yang diterapkan dalam BEM KM UGM 2017.

Kawan, memulai dan merajut perjuangan di BEM KM UGM bukan perkara mudah. Saya butuh belajar, masukan, disertai pengalaman memimpin organisasi sebelumnya. Pemahaman akan peta persoalan dan dinamikanya menjadi demikian penting. Beberapa orang dibelakang saya barangkali sudah mewanti-wanti untuk saya tetap bahagia. Jangan sampai kehilangan senyum. Begitu katanya.

Bila ditarik memang bukan soal BEM KM UGM saja. Dalam hidup saya ini, pun kau, selalu saja bicara tentang sedih-bahagia bukan?

Bayangkan saat kau lahir. Kau menangis. Disaat bersamaan orang tuamu berbahagia karena kau terlahir ke dunia yang bahkan kau tak pernah tahu sebelumnya bahwa ini semua dipenuhi oleh teka-teki yang rumit. Saat orang tuamu melihat kau tengkurap, duduk, merangkak, berdiri, berjalan dan berlari; itu semua adalah nikmat yang tak terkira. Orang tua mana yang tak bahagia ketika anaknya kemudian yang unyu itu bisa berprestasi dalam belajarnya, memimpin dan memberikan dampak kepada orang lain.

Sebentar lagi orang tuamu akan melihatmu sebagai orang dewasa sejati. Dengan katakanlah kau akan bersegera menyempurnakan separuh agama, beranak-pinak, bekerja, membangun keluarga strategis yang mampu menghimpun segenap kebaikan. Lalu, yang kau anggap sebagai kejayaan itu semua hadir. Saat pekerjaanmu dinilai baik, pangkat naik, kepercayaan orang lain bertambah. Orang tua sudah diberangkatkan haji dan dihidupi dengan layak, tak seperti ketika saat mengasuhmu dulu penuh sulit. Kau punya segala yang kau inginkan di dunia.

Beberapa kali kau tersandung karena, misalnya, kau dapat cobaan sedikit. Bila saat kecil kau jatuh saat berdiri, kau tersandung saat kau berlari. Maka anggaplah ini sebagai luka kecil saat kau hadapi ujian.

Masihkah disebut kurang? Tentu tidak. Ini semua menjadikan kita harus pandai bersyukur. Apa yang saya dan kau terima adalah nikmat yang patut disyukuri.

Makanya ingin saya sampaikan. Hidup itu banyak bicara susah-senang. Apa yang saya terima hari ini bukan karena sayanya. Tapi ini semua karena Allah Swt dan orang-orang yang mendoakan saya. Begitu menikmatinya saya berhadapan dengan banyak mahasiswa, mendengarkan keluhan, menyampaikan aspirasi, berusaha merekatkan ikatan dan menjaga hati-perasaan. Inilah jalan juang.

Maka tanggalkan keluh kesah. Saya banyak belajar dari mereka yang ada di dekat saya. Orang-orang hebat. Merekalah guru dalam berbagai hal. Hanya perlu mencomot ilmu satu per satu darinya.

Terima kasih atas segala awalan yang baik ini. Untuk semua pihak yang terkadang saya tak mampu membalas kebaikan hatinya. Yang saya selalu terpesona karena ketulusannya. Yang membuat saya selalu ingat bahwa hidup adalah soal memperjuangkan. Yang membuat saya tak mau ingkar atas amanah. Yang mengingatkan saya kepada arti keluarga sampai surga.

Intinya, saya tak mampu mendeskripsikan hati belakangan ini. Semua campur-aduk. Biarlah ini bersambut dengan ketulusan hati.

 

Pojok Sekre

25 Februari 2017

 

 

Ada Cahaya

Lorong Kelas

Setiap kata yang terucap adalah do’a. Mama selalu begitu, menasihati dengan lemah lembut. Soal kata, memang bisa dibilang agak runyam. Bayangkan, untuk sekelas saya yang menulis “jangan reaktif zzz” bisa ditafsirkan yang aneh-aneh. Padahal pesan saya satu: budayakan tabayyun. Tabayyun adalah upaya untuk mencegah kebebalan. Dan sebenarnya, kata kemudian akan dikembalikan kepada si penafsir, kalau tidak segera ditetapkan oleh si empunya maksud. Bahkan untuk kata yang sudah jelas pun sering kali di ngeyeli.

Barangkali memang sulit untuk hidup dalam era yang semaunya dewek. Hidup yang gak mau ada aturannya. Dalihnya kebebasan. Padahal untuk negara penganut demokrasi yang menjunjung kebebasan sekalipun, yang namanya bebas pasti tak bebas. Akan selalu ada batasan. Bahkan ketika saya bersikap bebas sekalipun dan dinilai saudara mengganggu kebebasan saudara, maka saya tidak bebas.

Kita akan sangat mudah dihancurkan oleh isu remeh-temeh seperti ini. Jelas, kita harus melampaui keremeh-temehan ini dengan sikap ksatria. Tak pandai mengeluh, meminta iba, dan mengharap semua akan mudah. Justru dengan ini kita akan berpeluang menjadi lebih kuat, lebih hebat karena kadar diri kita bukanlah yang biasa.

Kajian bersama Ust. Syatori tanggal 31 Desember lalu menjadi penting. Saya terngiang-ngiang bahkan dan berupaya untuk melaksanakannya. Bahwa untuk bisa mengalahkan nafsu, entah itu marah, kesal, benci, atau tak suka, maka saya harus mendamaikan akal, hati dan jiwa. Ketiganya harus saling terintegrasi. Mengawali hidup dengan menjadi orang baik, menjalaninya dengan benar, dan menyudahinya dengan kemuliaan. Kata kunci: baik, benar dan mulia. Saya kira ini pesan untuk kita semua.

Roda akan selalu berputar. Orang sejahat Umar saja bisa pada akhirnya menjadi pembela Islam yang terdepan. Dan saya pun selalu mendo’a kepada Allah Swt supaya orang-orang yang selama ini nyinyir, dengki, dan suudzon dengan jalan dakwah yang saya laksanakan di Kampus ini bisa segera mendapat hidayah. Allah lah yang Maha Membolak-balikkan hati. Yang tak suka pun kalau sudah Kun Fayakun, terjadi maka terjadilah, kau akan cinta pada jalan dakwah ini.

Saya tak suka dengan mengutuk kegelapan. Alangkah bersih dan mulianya ketika kita menilai bahwa akan selalu ada cahaya yang menyinari jalan ini. Dulu yang kau sebut kota adalah hutan juga yang dipenuhi tumbuh-tumbuha lebat. Namun, kemudian ada yang berani mendobrak dan menjadikan itu sebagai tempat tinggal, menetap dan beranak pinak hingga terjadilah kehidupan. Dan saya pun sangat berharap ke depan akan selalu ada orang yang berani mendobrak nurani kebencian itu. Ini soal kegagalan kita dalam membangun titik temu, kawan.

Dengan itu, saya akan sangat bersenang hati, bahkan tanpa kau minta pun aku rela dan mau untuk hadir mendengar dan melaksanakan amanah yang dilandasi niat baik. Tak ada satu pun yang kemudian merasa tersakiti pada akhirnya ketika kita sudah berupaya untuk saling mengenal. Sebab, terang itu siang dan gelap itu malam. Namun keduanya bisa hidup berpasangan dan saling mengisi. Bisakah kau mengisi peran yang tak bisa kuiisi, lalu sama-sama kita berjuang pada tujuan yang sama, untuk Indonesia yang mulia, yang lebih baik dan bermartabat?

Ini bukan tentang hari ini saja, kawan. Ini adalah ruang pembelajaran yang bagi saya terlalu berharga untuk tidak dimaksimalkan. Menutup ruang adalah kesalahan pertama, dan kesalahan selanjutnya adalah membiarkan orang lain memainkan peran yang sebenarnya ia tak mampu melakukannya. Yakinilah, orang-orang baik yang berkapasitas dan berkesempatan itu tidak mudah untuk diketemukan. Ini soal momentum untuk menggelar kebaikan.

Mari bersatu padu, karena sekali lagi, akan ada cahaya yang menerangi jalan kita.

Semoga kata-kata ini menggubris nuranimu. Sebab saya mencintaimu, bahkan sebelum mengenalmu.

 

Sekre,

Dalam Kesendirian Malam

2017 Lebih Baik

presiden-mahasiswa-ugm_lebah

 

Barangkali ini menjadi satu-satunya post dibulan Desember. Setelah sekian lama mengeram di dalam kandang, maka izinkan saya kembali bersua. Dengan suara yang lantang, dengan mata yang sorotnya tajam, dengan hati yang lapang, dan dengan keyakinan yang dalam atas apa yang digariskan Allah sebagai mutlak baik adanya.

 

Bila beranjak ke awal tahun 2016, saya seolah menemukan cahaya terang, bahwa yang saya impikan dahulu tentang “membahagiakan orang disekitar” sedikit demi sedikit mulai tercapai. Pernah, suatu hari ditengah tahun, saya merasakan akan terpisahnya orang-orang yang begitu saya sayangi. Saya tak kuasa menahan tangis disepanjang jalan Kaliurang sambil berkendara motor. Malam itu saya tiba di asrama dengan wajah basah dan langsung memeluk mas Adi. Saya meminta izin untuk tidak mengikuti kegiatan asrama pada malam itu Karena ingin menyendiri. Semalaman saya menangis untuk hal tersebut.

 

Beberapa kawan dekat yang kuanggap sebagai saudara tahu, bahwa saya begitu menyayangi orang-orang disekitarku. Terutama kedua orangtua. Mereka yang sedari kecil begitu saya hormati dan sayangi. Persoalan yang itu-itu saja tak kunjung usai sejak saya kanak-kanak hingga dewasa kini. Dan karenanya, besar kemungkinan saya sangat dinantikan kehadirannya untuk hadir ketengah-tengah mereka.

 

Dalam ilmu sosial, saya diberitahu bahwa persoalan kehidupan kita tidak bisa diselesaikan oleh a, b, c, d, …. ataupun z? sebab jawaban bukan pilihan ganda. Ia berisikan esai yang selalu beragam jawabnya tergantung pada sudut mana yang dilihat, dan keberpihakan mana yang diambil.

 

Tak lebih dari itu, saya pribadi hanya ingin menuliskan sedikit tentang tahun 2016 ini. Suatu ucapan yang ajaib. Adalah terima kasih 2016. Kau telah memberikan kesempatan kepada saya untuk berbuat lebih baik dengan banyak.
Kau beri kesempatan pada saya untuk belajar bersabar. Ketika tak banyak orang tahan dicibir, kau berikan kekuatan untuk melawan cibiran itu dengan senyuman.
2016, kau juga berikan kesempatan pada saya untuk berprestasi lebih banyak. Disaat orang lain mulai lelah berprestasi, kau ingatkan pada saya tentang maksud “jika belajar adalah ibadah, maka berprestasi adalah dakwah”.

 

2016, kau juga berikan kesempatan pada saya untuk bersikap rendah hati, objektif, open mind, moderat, prestatif dan kontributif. Disaat yang lain mungkin sudah abai, tapi kau izinkan saya untuk mengingatnya secara terus-menerus.
2016, kau pula yang mengajarkan saya tentang makna persaudaraan. Disaat banyak yang hidup dalam keterpecahbelahan, kau hadirkan insan-insan terbaik disekeliling saya yang rela ikhlas berjuang tanpa mengharap “saya dapat apa?”. 2016, kau pun telah mengajari betapa pentingnya menjaga kesehatan. Disaat sehat mulai terlupa dan banyak orang tak memanfaatkannya, bahkan saat sakitpun saya berusaha terlihat sehat.
2016, kau juga mengajarkan tentang “kolaborasi kebaikan”. Disaat orang-orang mulai pesimis untuk membangun kesatupaduan, kau buat jengah orang itu dengan ikhtiar dari saya tuk membangun titik temu.
Semoga 2017 bisa lebih baik