Orasi Politik Capresma BEM KM UGM 2017
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

*Catatan Kehidupan

Orasi Politik Capresma BEM KM UGM 2017

Calon Presiden Mahasiswa UGM

Assalamu’alaykum wr.wb.

Rekan-rekan sekalian. Melalui orasi ini, izinkan saya menyampaikan suatu gagasan tentang

“Mewujudkan #KolaborasiKebaikan” ✊

Gagasan inilah yang akan saya bawa untuk mengikuti proses pemilihan Presiden Mahasiswa BEM KM UGM 2017 dengan kesadaran dan maksud baik untuk UGM dan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat. Sebagaimana pula yang sering kita ungkapkan bersama tentang pentingnya menjalani dan menjaga proses bernegara, tentang ikut melunasi janji kemerdekaan sesuai dengan kompetensi dan kesempatan yang tersedia, maka saya memilih menyatakan siap menghadiri sebuah kesempatan untuk ikut mewarnai arah pembangunan mahasiswa, kampus, bangsa dan negara. Keterlibatan ini juga ditempuh dengan semangat agar aktivitas berdemokrasi tetap menjadi sebuah keceriaan bersama, kebahagiaan bersama.

Kita jalankan Pemilwa ini sebagai festival gagasan dan karya, dengan maksud baik, dengan cara benar, dengan menjaga keberadaban. Maka dari itu mari kita rayakan rangkaian Pemilwa ini sebagai peristiwa yang mulia, bersih, bermartabat, berbudaya, beradab yang mampu mencerminkan mozaik tenun kebangsaan kita, sekaligus dapat dinikmati sebagai suatu keceriaan dan kegairahan di dalamnya.

Rekan-rekan sekalian. Saya ingin mengatakan sesuatu, bahwa dakwah yang sedang kita laksanakan semenjak pascareformasi hingga hari ini sedang mengalami tantangan yang luar biasa. Kita dihajar oleh beragam perangkap dimulai dari isme-isme yang melenakan sampai kepada musuh yang letaknya ada di dalam jamaah itu sendiri. Merekalah duri di dalam daging, yang kemudian menginginkan dakwah ini terbengkalai. Hal ini harus kita perhatikan rekan-rekan sekalian.

Ada penelitian menarik dari Graham E. Fuller, seorang guru besar sejarah di Simon Fraser University, Kanada. Beliau meneliti dan menerbitkan sebuah buku berjudul “Apa Jadinya Dunia Tanpa Islam?”. Kita mungkin bertanya, seperti apakah dunia tanpa Islam? Apakah dunia akan lebih damai dan menjadi tempat yang lebih baik? Umumnya orang di Barat akan menjawab: Tentu. Tanpa Islam, pasti tidak terjadi Perang Salib, konflik Israel-Palestina, aksi bom bunuh diri, dan Peristiwa 11 September. Mereka menganggap Islam adalah sumber dari semua tragedi itu.

Graham E. Fuller menawarkan sebuah eksperimen berpikir untuk menguji pandangan itu. Dengan analisis historis yang serius, beliau menyusun sebuah skenario alternatif seandainya Islam tidak pernah ada dan memengaruhi jalannya sejarah. Dan tahukah rekan-rekan sekalian, kesimpulannya di luar dugaan. Bahwa tanpa Perang Salib, Barat akan tetap menyerang Timur Tengah karena nafsu imperialisnya. Kemudian, Gereja Ortodoks akan mendominasi Timur Tengah dan mungkin sampai hari ini tetap berkonflik dengan Gereja Roma dan Dunia Barat. Selanjutnya, India tidak akan sekaya hari ini tanpa warisan budaya Islam Mughal, Taj Mahal. Terakhir, aksi bom bunuh diri tetap akan terjadi karena bukan muslim yang pertama kali melakukannya. Kalau kita berpikir bahwa agama telah menjadi sebuah kekuatan negatif dalam sejarah dunia modern, renungkanlah alternatifnya. Agama tidak mungkin berefek lebih buruk daripada sejarah kekerasan biadab sekuler dan pembantaian tak tertandingi dari dua perang dunia yang memunculkan fasisme, nazisme, dan komunisme yang semuanya tidak berkorelasi dengan agama. Sehingga di sini kita tidak perlu malu-malu sampai kepada takut dalam beragama.

Agama dalam hal ini Islam adalah pra syarat penting menuju kebahagiaan dunia akhirat. Islam tidak akan membiarkanmu menangis sendiri. Islam akan memberikan kepadamu gambaran jelas, pemandu arah hidup yang tak sekedar hidup. Islam adalah membentang kebaikan, melawan segala bentuk penindasan dan memerdekakan manusia sebagaimana martabat kemanusiaannya. Dan Islam pula yang menjadi letak perjuangan kita di sini.

Ingat rekan-rekan, bahwa kita berhimpun dalam barisan ini, dengan berani melantangkan suara hati nurani berdasarkan kesamaan aqidah. Hal ini jelas berbeda dengan mereka yang ada di luar sana yang berhimpun dalam transaksi politik semata.

Saya ini siapa? Orang miskin kota, orangtua hanya guru honorer, berkuliah saja mengandalkan beasiswa. Tak mampu kiranya saya memberikan janji atau fantasi tentang kemewahan politik. Saya tidak sanggup membangun baliho besar, memberikan kalian pola hidup hedonisme di kafe-kafe, atau membeli kekuasaan. Saya hanya sanggup bersamamu, bersama kalian, menjadi kita, dan kita bisa lakukan segala bentuk kolaborasi kebaikan dengan sepenuh hati.

Rekan-rekan sekalian.
Setiap kali saya berada di tengah banyak orang yang senantiasa mendengarkan, maka saya memohon kepada Allah dengan sangat agar Allah berkenan mendekatkanku kepada suatu masa, di mana ketika itu kita telah meninggalkan medan kata-kata menuju medan amal, dari medan penentuan strategi dan manhaj menuju medan penerapan dan realisasi telah sekian lama kita menghabiskan waktu dengan hanya sebagai tukang pidato dan ahli bicara, sementara zaman telah menuntut kita untuk segera mempersembahkan bahkan amal-amal nyata yang profesional dan produktif.

Dunia kini tengah berlomba untuk membangun unsur-unsur kekuatan dan mematangkan persiapan, sementara kita masih berada di dunia kata-kata dari mimpi-mimpi, “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (As, Shaff” 2-3)

Ikhwahfillah! Ikhwan telah menegaskan kepada kalian tentang universalitas, daya jangkau, dan daya sentuh ajaran Islam atas seluruh aspek kehidupan umat, baik yang sedang bangkit, telah mapan, yang baru tumbuh, maupun yang sudah maju. Sebagian mereka memperbincangkan tentang “sikap Islam terhadap nasionalisme”. Islam mengingatkan pada kalian bahwa nasionalisme Islam adalah nasionalisme yang paling luas batasnya, yang paling integral eksistensinya, dan paling abadi.

“Katakanlah, ‘Sesunguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu satu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri, kemudian kamu pikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikit pun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) adzab yang keras.’ Katakanlah, ‘Upah apapun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya Tuhanku mewahyukan kebenaran. Dia Maha Mengetahui segala yang ghaib.’ Katakanlah.’Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak pula akan mengulangi.’Katakanlah, ‘Jika aku sesat maka sesunggunya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri, dan jika aku mendapatkan petunjuk, maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Mahadekat.” (Saba’: 46-50).

Dari ayat tersebut, kita hanya diminta untuk menyeru pada kebenaran. Memberikan peringatan kepada rekan-rekan kita diluar sana tentang amalan kebaikan.

Apakah rekan-rekan pernah menonton film pay it forward? Dalam film tersebut, mengisahkan tentang seorang anak berumur 8 tahun yang berpikir untuk melakukan kebaikan kepada tiga orang disekitarnya. ”Jika tiga orang ini kemudian melakukan kebaikan kepada beberapa orang lagi dan begitu seterusnya, tentulah dunia ini akan dipenuhi orang-orang yang baik dan saling mengasihi,” demikian pikir Trevor, nama anak tersebut.
Trevor mulai mempraktekkan perbuatan kasih kepada manusia dan meminta mereka untuk: ”Teruskanlah kebaikan ini!”

Inilah rekan-rekan sekalian, gagasan kolaborasi kebaikan dibangun atas hal yang sederhana. Lakukan kebaikan dan mintakan kepada mereka untuk melakukan kebaikan. Serukan kebaikan ini di organisasi-organisasimu, di jurusanmu, di fakultasmu, di universitasmu dan di manapun kamu berada.

Wahai rekan-rekan saudaraku sekalian! Sesungguhnya, sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, semakin bersemangat dalam merealisasikannya, dan kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya. Sepertinya keempat rukun ini, yakni iman, ikhlas, semangat, dana amal merupakan karekter yang melekat pada diri pemuda, karena sesungguhnya dasar keimanan itu adalah nurani yang menyala, dasar keikhlasan adalah hati yang bertaqwa, dasar semangat adalah perasaan yang menggelora, dan dasar amal adalah kemauan yang kuat. Itu semua tidak terdapat kecuali pada diri para pemuda.

Oleh karena itu, sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan, pemuda merupakan rahasia kekuatannya. Dalam setiap fikrah, pemuda adalah pengibar panji-panjinya.

Di titik ini, kita semua menjadi sadar. Mata kita semakin terbuka bahwa peran serta tanggung jawab kita begitu besar. Kampus adalah tempat bertanya sekaligus mencari jawabnya. Kampus bukan sekedar memproduksi kebutuhan industri. Kampus adalah wahana membentuk kebaikan. Menghasilkan orang-orang baik, yang ketika diberi amanah mereka dapat mengubahnya menjadi suatu kebahagiaan. Dan biarkan nanti kita bisa mempertanggungjawabkan peran kita hari ini, baik kepada Allah dan kepada anak-anak, serta anak-anak dari anak-anak kita bahwa kita tidak tinggal diam. Kita memilih berkolaborasi dalam kebaikan dan kita wariskan UGM dan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

Semoga ada kesempatan untuk berbuat #LebihBaik dengan banyak. Semoga kita bertemu dalam keadaan yang lebih baik di masa mendatang.

Yogyakarta,
5 November 2016
oleh : Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia
Mahasiswa Politik dan Pemerintahan, Fisipol UGM 2013

Wassalammualaykum wr.wb.

Tentang Hari-hari Belakangan

ngopi

Kuserahkan semua ini kepada Allah SWT.

***

Hari-hari belakangan ini saya sedang giat membaca sumber-sumber yang berkaitan dengan skripsi saya yang Insya Allah akan mengangkat tema tentang “Kampus Politik” studi kasus di UGM. Saya pikir tema ini menarik. Sebab, kampus dalam hemat saya adalah tempat yang tidak suci, tidak bebas nilai, dan berpihak. Sehingga, baik mahasiswa atau pun rektorat sebenarnya adalah aktor politik. Saling berkepentingan memainkan isu dan peran yang dibawa masing-masing. Dan hampir dapat dipastikan, Kampus terutama yang Negeri akan menjadi kepanjangan tangan dari kepentingan Negara. Tak usah kita malu-malu untuk mengakuinya. Lihat saja narasi sejarah, UGM sebagai institusi pendidikan selalu memiliki peran tersendiri dalam berbagai dinamika politik bangsa.

Melupakan sedikit tentang skripsi, saya ini sedang dihadapkan dengan beberapa agenda. Antara kesempatan dan tantangan selalu saya pikirkan masak-masak. Bertanya meminta saran, nasihat dan doa saya anggap sebagai solusi menghadapi seluruhnya.

Mislanya, ada beberapa nasihat yang hadir dari rekan-rekan saya yang budiman. Mereka adalah makhluk bernama saudara, rupa yang tak selalu ada dan hadir, namun doanya mengalir deras. Mas Isnan, pembina, mentor, yang selalu memberikan taujih, nasihat, serta bimbingan bagi saya untuk menjalani kehidupan kampus dan beragama. Beberapa waktu lalu beliau bilang begini:

Meski aku tak bisa sepenuhnya membantumu, aku berdoa agar Allah senantiasa menguatkanmu. Kembalikan semua padaNya, berpikir dan gunakan rasa layaknya kita hanya hidup sementara, bahwa kita sedang menjalankan misi sang Pencipta, bahwa ruang-waktu-manusia yang Allah berikan adalah kesempatan besar untuk menjadi sebaik-baiknya khalifah sekaligus sebaik-baik abdiNya. Jangan dengarkan kata-kata yang tak engkau perlukan dalam menjalani Misi ini. Telinga dan hatimu terlalu berharga untuk terluka karena manusia.

Saya pikir kalimatnya menyentuh relung hati saya yang terdalam. Betapa tidak, jarak dan hadir tak mesti ada, tetapi doa selalu mengalir deras. Inilah yang utama, kado terindah dan bagi saya tak ada duanya.

Bukan Mas Isnan saja. Mama, bapak, adik-adik setiap hari menulis di grup whatsapp “keluarga cemara” yang intinya selalu mendukung kegiatan saya yang Insya Allah positif ini. Tapi memang saya terkadang merasa lelah. Saya harus mengakui. Dunia yang sedang saya hadapi saat ini tidak semudah saat dahulu saya mencetak goal ke gawang lawan saat bermain bola di lapangan walikota Jakut atau ketika menunjuk mainan di toko. Semakin ke mari semakin kompleks. Dan barangkali saya sendiri yang menghadapi dan memustukan semuanya.

Tentang hari-hari belakangan ini, ketika saya harus menghilang dari tulisan blog, atau harus menidurkan pikiran dari godaan kemarahan. Hingga sesekali saya mengagumi seseorang meski dari kejauhan dan hanya bisa pasrah diam. Tapi, seperti kata Anies, orang yang saya kagumi: “kalau pejuang, hadapi!”

Baiklah, saya akan hadapi semua kenyataan ini.

Maaf menghilang sementara. Ke depan, kita takkan berpisah kabar. Meski terkadang sesungguhnya saya tak ingin sedikitpun kita saling berjarak.

 

 

Seperti Popcorn Yang Meletup-letup

120913_popcorncover

Beberapa hari belakangan saya dihadapkan pada beberapa persoalan sulit. Saya pun tidak enak menuliskan seluruhnya di sini. Saya sendiri sampai tidak habis pikir mengapa ini semua terjadi dalam waktu-waktu yang segenting ini.

Saya katakan genting karena ini semua berkaitan dengan apa-apa saja yang sudah saya katakan pada catatan sebelumnya berkaitan dengan akademik, cita dan cinta. Kalau bisa dibilang, semua persoalan tersebut sedang mengarah kepada satu titik, dan itu disebut hari ini.

Tentu saja, perhatian saya menjadi terbagi-bagi untuk beberapa hal. Dan semuanya meminta saya untuk bekerja ekstra keras. Sampai-sampai hati ini seperti popcorn yang meletup-letup. Makanya, dalam setiap do’a sehabis shalat saya tidak pernah meminta Allah untuk memudahkan, tetapi untuk menguatkan pundak-kaki saya. Jujur, saya ini tipe orang yang senang tantangan, dan selalu saja berusaha menantang diri sendiri untuk capaian-capaian yang semula dianggap tidak mungkin menjadi mungkin. Prinsipnya: pasti bisa, semua pasti bisa.

Alkisah, saya ini orang susah. Semenjak SD sampai hari ini saya berkuliah saya mengandalkan beasiswa. Suatu ketika, di saat saya sedang dihadapkan pada pilihan sulit: kuliah, kerja atau keduanya, saya memilih untuk berkuliah. Saya pikir memusatkan perhatian pada kuliah dengan maksud untuk belajar dimasa muda akan mempermudah saya kemudian, terlebih pendidikan dalam hal ini sangat penting, bahkan untuk hal pragmatis sekalipun seperti meningkatkan mobilitas vertikal kelak dikemudian hari.

Atau dalam kondisi lain, di mana saya harus bisa mendapatkan prestasi akademik, non-akademik, namun juga bisa menjalankan amanah organisasi beserta tuntutan lain baik dari Allah dan Orang tua, tak lupa lembaga pemberi beasiswa. Bagi sebagian pihak menilai ini semua sulit dikerjakan dalam waktu bersamaan. Tapi, bagi saya sebagaimana prinsip di atas: pasti bisa.

Tenang, Allah tidak akan memberikan cobaan dan ujian diluar batas kemampuan manusia. Nah, sesungguhnya tinggal di manusia-nya sajalah yang mau menghadapi atau lari dari kenyataan. Bila menghadapi, maka ini semua akan meningkatkan kapasitasnya dihadapan manusia dan Allah. Sementara itu, bila lari kenyataan itu sama halnya dengan memilih untuk menyerah pada kehinaan dan pasrah oleh keputusasaan.

Maka, saya menjadi paham betul bahwa yang saya hadapi sebenarnya adalah karena pilihan-pilihan rasional yang telah saya buat sebelumnya, jauh-jauh hari lalu, bahwa saya menyukai tantangan. Apabila saya digempur dengan implikasi pilihan-pilihan tersebut, maka tugas saya adalah hadapi. Selalunya, disela-sela menghadapi itu semua, cerita dan curhat kepada Allah, seringkali kepada orang tua, dan sesekali kepada sahabat. Tujuannya adalah meminta pandangan orang lain. Supaya langkah yang diambil bisa cukup mewakili gambaran pribadi dan umum tentang seluk-beluk persoalan hidup. Maka, saat ini, sekarang juga, jawabnya saya untuk persoalan sulit ini ialah pasti bisa, atas izin Allah.

Oiyah, Selamat Idul Adha guys. Semoga keteladanan Ibrahim dan Ismail menjadi inspirasi kita untuk berkurban bagi kemanusiaan :)

*Bonus:

 

KAMMI UGM bersama Warga Dusun Tretek

KAMMI UGM bersama Warga Dusun Tretek

Panas-menggigil, ba’da dari Tretek

Maksa nulis

 

Kebahagiaan dan Perjuangan

Nakula 7 dan Heroboyo 7 bersama Mas Adi Suharyanto (Pengantin Baru)

September datang dan saya semakin merasa dewasa. Bulan-bulan kritis ini, saya dihadapkan pada beberapa persoalan menyangkut masa depan akademik, cita, dan cinta(?). Barangkali yang terakhir hanya lelucon belaka.

Mari kita lupakan segala penat. Saya hanya ingin merasa dan melihat beragam kebahagiaan yang hadir baik dalam diri sendiri dan juga orang-orang disekeliling.

Jujur saja, bagi saya “kebahagiaan” hanya bisa hadir ketika kebahagiaan itu diperjuangkan. Sebagai contoh, anda bisa merasakan kegembiraan atas predikat cumlaude dihari kelulusan dan itu semua dihadirkan atas jerih payah lelahnya belajar saudara. Anda juga bisa memilih untuk mendapatkan bidadari surga, mencari tulang rusuk yang hilang, dan menggenapkan separuh agama karena anda berani untuk mendatangi Bapaknya dan menyatakan “saya ingin meminang putri Bapak”. Selanjutnya, anda juga bisa menjadi seorang milyarder yang punya banyak kedai, outlet, dan beragam toko swalayan yang menjual barang-barang bermutu yang dibutuhkan umat manusia. Anda menjadi kaya dan dermawan karena Anda memperjuangkannya untuk menekuni diri sebagai wirausahawan. Pada intinya, ketika Anda ingin mendapati kebahagiaan, maka anda haruslah memperjuangkannya.

Lalu, bisakah saya mencapai kebahagiaan akademik, cita, dan cinta(?)?

Hmm, semua ini hanya bisa direngkuh melalui jalur perjuangan. Terkadang saya harus berperang bathin; sesekali pun tak pernah rasa hati untuk mengiba kebahagiaan pada orang lain untuk sekedar menyoal urusan akademik, cita, terlebih cinta. Maka, kebahagiaan bagi saya hanya bisa diciptakan oleh orang-orang yang saling memperjuangkan kebahagiaan tersebut.

Sebab, ketika saya memperjuangkan kebahagiaan, sedang kamu tidak. Maka, kebahagiaan itu bertepuk sebelah tangan. Pun sebaliknya kamu. Dengan demikian, saya sangat berharap ketika saya menyapa hatimu, maka sambutlah sapaan saya dengan hati tulusmu. Ikatlah dengan tali kasih. Sehingga, tidak ada lagi kata iri dan dengki, saling caci-maki, atau pun membenci. Buanglah sifat buruk itu dan ciptakanlah dunia yang sama-sama kita perjuangkan, dunia yang tidak ada lagi manusia merasakan ketidakbahagiaan. Jadikan setiap detik nafas perjuanganmu menjadi satu kebahagiaan bagi peri kemanusiaan dan peri keadilan itu. Sungguh, penat yang terasa ini hanya bisa berganti ketika perjuanganmu untuk membahagiakan orang-orang disekelilingmu, barangkali saya satu didalamnya.

Di titik ini yakinilah, yang kau bayangkan baik dan tergambar dalam senyum simpul merekahmu yang melelehkan hati itu berbuah satu, dua, tiga bahkan seribu kebaikan. Anda bisa menjadi siapa pun, mempunyai niat (baik) apa pun. Tapi jangan lupakan, bahwa kebaikan itu pun harus sama-sama diperjuangkan, bukan?

Ketika saya berniat melakukan satu kebaikan, tetapi kau menepis niat baik itu dengan pandangan tak semestinya, maka selamanya kau akan berada dalam ketidakbaikan itu. Marilah kawan, saling mendoa dan menasihati, juga mendukung dan mengerti. Kita harus saling memperjuangkan kebahagiaan; dan tak perlu kebahagiaan itu diusik. Bukan begitu?

 

23:33 pm

Kontrakan Al Banna

Di antara Kehadiran Tamu Heroboyo

 

Mohon Ampun

Melihat Awan

Ini musim apa? Saya merasa ada sesuatu yang sulit dipahami ketika melihat musim kini. Dahulu, ketika saja SD, dengan mudahnya saya bisa menebak bahwa musim hujan akan terjadi setiap bulan September-Februari, sedangkan kemarau akan terjadi pada Maret-Agustus. Kini saya bingung karena musim tak menentu.

Barangkali sama seperti musim, hati saya pun sedang tidak menentu. Dalam banyak kesempatan, saya sedang sibuk menggarap beberapa proyek buku yang tak kunjung selesai, nge-Dema, mendirikan semacam institusi yang manfaat, membina adik-adik, memperluas pengetahuan, membangun jaringan, melaksanakan amanah akademik, berbakti pada Allah SWT dan orang tua, juga terkadang sesekali saya kepikiran tentang jodoh.

Di saat bersamaan, ketika kecintaan saya pada kesibukan yang saya laksanakan berada pada titik tertinggi tiba-tiba ada sandungan atau cobaan. Sedikit memang. Dipikirin “tidak juga”, dibiarin juga “nggak”. Namanya manusia, ada yang suka dan tidak suka itu biasa. Jangankan kita, Rasulullah yang manusia sempurna saja dibilang gila. Lalu, siapa saya minta semua orang suka?

Saya jadi ingat perkataan Ali bin Abi Thalib untuk tidak “menjelaskan tentang diri kepada siapapun. Karena yang menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak percaya itu.

Nah, lalu pertanyaannya, adakah orang yang benci saya? Banyakkah orang yang suka saya? Saya tidak tahu. Saya pun tidak banyak mempersoalkannya. Saya hanya menampilkan diri saya seapa-adanya. Kalau ada salah kata dan perbuatan, saya mohon maaf. Makanya, saya butuh kalian sebagai pengingat. Tolong, ingatkan ketika saya berbuat salah dengan saran-saran yang konstruktif. Bukan malah berbicara menyudutkan dibelakang. Saya tidak dengar dan mengetahui akan hal itu.

Nanti kalau kamu mau pergi ke tempat yang antah berantah, dan tidak ada seorang pun yang bersamamu, Allah pasti bilang kepadamu, “bahwa Alfath menyayangi kalian, sungguh.”

Semua ini tetap sama; seperti ‘idealisme kami’ yang sampai hari ini saya pegang teguh, “sungguh betapa inginnya kami agar bangsa ini mengetahui, bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri.”

Tuhkan. Sekali lagi saya mohon maaf atas segala salah dan khilaf. Hanya kepada Allah saya mohon ampun.