Deklarasi Perjuangan Pendidikan UGM
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

*Rilis

Deklarasi Perjuangan Pendidikan UGM

Deklarasi Perjuangan Pendidikan Mahasiswa UGM

Dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.

Sebagaimana kita pahami bahwa pendidikan adalah medan pertarungan ideologi yang menentukan masa depan bangsa. Di saat bersamaan, pendidikan merupakan kunci perjuangan. Dan oleh karena itu, segala hal yang merintangi akses rakyat terhadap pendidikan, yang mana di dalamnya terdapat ilmu pengetahuan untuk dijadikan sebagai sarana memperjuangkan diri dan sekitarnya dari penindasan harus dihapuskan.

Segala bentuk tindakan yang merugikan anak bangsa di mana ruang belajar di sekolah/kampus sebagai wahana “memanusiakan manusia” kian memudar. Hal ini terjadi karena beban akademik semakin berat, tuntutan lulus cepat untuk sekedar memenuhi kebutuhan industri, dan upaya normalisasi kehidupan ruang belajar agar menghasilkan orang-orang yang sekedar patuh dan terampil.

Di lain hal kita tak bisa menerima pendidikan semakin tak terjangkau. Padahal janji kemerdekaan kita adalah mencerdaskan kehidupan bangsa; di mana negara bertanggung jawab membuka akses positif bagi rakyat untuk mengenyam pendidikan dari dasar, menengah dan tinggi.

Dengan penuh kesadaran, keikhlasan dan tanggung jawab akan memperjuangkan pendidikan di Indonesia, maka kami mahasiswa Universitas Gadjah Mada menyuarakan “Deklarasi Perjuangan Pendidikan UGM” yang isinya:

  1. Kami mahasiswa Universitas Gadjah Mada bersumpah untuk setia berkomitmen sebagai pengawal terdepan isu pendidikan di Indonesia.
  2. Kami mahasiswa Universitas Gadjah Mada bersumpah untuk melawan segala bentuk tindakan yang mengomersialisasikan pendidikan dan menggadaikan ilmu pengetahuan.
  3. Kami mahasiswa Universitas Gadjah Mada bersumpah untuk memperjuangkan pendidikan di Indonesia sepanjang hayat sampai terwujudnya “Jaminan Pendidikan Nasional”. Sehingga rakyat dapat mengenyam pendidikan secara gratis dari jenjang pendidikan dasar, menengah, hingga tinggi.

 

Demikian deklarasi yang kami sampaikan. Semoga rahmat Tuhan YME senantiasa mengiringi perjalanan kita demi terwujudnya “Jaminan Pendidikan Nasional”.

 Presma UGM dan Menristekdikti

Bulaksumur, 30 Januari 2017

 

 

Aliansi Mahasiswa UGM

Memastikan Kebaikan Terlibat

memastikan-kebaikan-terlibat

Pernahkah kalian merasakan hidup susah?

Kalau belum, bolehlah kiranya mendengar sedikit tentang saya. Sebagaimana jauh di awal, sebelum saat saya terpilih, saya pernah berpesan bahwa “diri ini takkan mampu memberikan kemewahan politik”. Saya hanya berjanji dan apabila saya mengingkari, saya khianat.

Janji saya ketika itu ialah memastikan bahwa kebaikan harus disebarkan. Janji yang sederhana, sulit dilaksanakan. Bagi saya kebaikan itu tak boleh berhenti pada satu orang saja. Kebaikan itu dua, tiga, sepuluh, seratus, seribu dan tak terhingga. Dengan demikian, akan tercipta banyak kebaikan, entah bentuknya apa dan siapa yang melaksanakannya. Logika sederhana ini yang coba saya bawa.

Hari ini kita mendengar #AksiBelaRakyat121. Pertama kali mendengar saya berpikir ini adalah aksi simbolik. Aksi yang mau keren-kerenan. Aksi yang gatau asal-usulnya yang penting teriak “hidup mahasiswa Indonesia…hidup rakyat Indonesia”. Ya, selintas dipikiran saya demikian. Beberapa kali saya dibuat kecewa dengan landasan gerak kawan-kawan senior dari berbagai Universitas yang ada di BEM SI. Kasus Ahok misalnya. Sikap yang disampaikan oleh BEM SI lalu, menurut hemat saya justru membuat keterlibatan mahasiswa beserta idealismenya ternodai dengan kecenderungan ikut dalam politik praktis di Pemilukda DKI Jakarta, atau setidaknya menjadi sasaran empuk rekan-rekan mahasiswa diluar sana yang menertawai cekikikan.

Harus saya akui, rasa kecewa manusia pasti ada. Itu wajar. Sama halnya dengan kekecewaanmu menunggu si dia yang tak kunjung datang, atau keberharapan pada manusia yang terkadang membuatmu sakit. Tapi, yakinilah kawan, kau harus mempercayai dirimu sendiri beserta akal sehatnya. Saat kau marah karena Ibumu dianggap pelacur, dan kau tahu Ibumu bukan demikian, lantas apa yang bisa kau lakukan? Membela bukan? Saat kau tahu harga cabai mahal dan kau diminta untuk menanam pohon cabai supaya tidak terkena dampak kenaikan harganya, lantas apakah kamu mendiamkannya? Ketika kau sulit sebagai mahasiswa, kuliah tak dibiayai orang tua, dan kini biaya listrik kosanmu meningkat padahal dikamar hanya ada satu setrika dan satu kipas angin, apakah kamu rela begitu saja? Saat kampusmu digeruduk oleh orang-orang bersorban dan melantangkan takbir untuk hal yang kau anggap gila karena membubarkan diskusi dalam kaidah akademik, apakah kamu menyerahkannya begitu saja?

Barangkali di era makan gorengan tanpa cabai ini kita harus lebih kritis dan taktis. Memastikan kebaikan harus terlibat. Tak perlu kecewa lama-lama dan berkawanlah dengan siapapun. Kalau tidak bisa berkawan secara ideologi maka berkawanlah secara kompetisi. Bukankah teman terbaik adalah saat mampu mengelola perbedaan?

Selama beberapa hari belakangan saya berpikir lebih keras. Dengan bertanya dan meminta nasihat, tentu keputusan yang saya hadirkan bukanlah milik pribadi. Ini milik bersama, rangkuman gagasan yang berasal dari sumbangsih bersama, sehingga saya sama sekali tidak sendiri. Keputusan saya bulat, tekad saya kuat, sebagai Presiden Mahasiswa UGM saya menyatakan siap terlibat dalam aksi ini. Terlepas dari hastag yang menurut saya seperti gagal move on dari ’98, saya pikir keterlibatan saya yang bisa diterima akal sehat adalah dengan memastikan bahwa kolaborasi kebaikan hanya dapat tercipta ketika kita saling bersama. Kalau pun mereka yang dianggap selama ini salah dan didiamkan salah dalam bergerak, maka tugas kita adalah memberitahunya bahwa ini salah.

Seluruh aliansi mahasiswa yang saya kenal, yang selama ini seolah dipisah oleh sekte dan manhaj kini mulai membangun titik temu. BEM Nusantara mengapresiasi apa yang dilakukan BEM SI, pun dengan BEM Se-Tanah Air yang menyerukan aliansinya hadir dalam aksi ini. Saya pikir, era sebagaimana yang saya cita-citakan: membangun titik temu dan berkolaborasi dalam kebaikan akan segara tercipta. Dan inilah letak tanggung jawab kita.

Kalau mau beri masukan silakan, jangan ngerumpi dibelakang. Kamu sudah tidak bisa menggerakkan, mengomentarinya, kemudian juga menganggapnya bahan lawakan. Kamu itu masih merasa paling bisa, paling mulia? Kalau kau merasa bisa, lakukan yang kamu bisa untuk membuat semua ini lebih baik. Kita berlomba-lomba dalam membuat republik ini lebih baik dan bermartabat.
Apapun itu, jika pikir saya ini dianggap sesat tak apalah. Karena itu Tuhan saya mewajibkan saya untuk selalu membaca “Tunjukkanlah aku jalan yang lurus’ setiap kali saya shalat. Tujuh belas kali sehari semalam.” Dan barangkali inilah jalan lurus itu.

Dengan ini pula, saya meminta nurani teman-teman. Bagi siapa pun yang membaca tulisan ini untuk hadir dan terlibat dalam kompetensinya masing-masing. Apabila sedang berada disekitar Jakarta, kalau ada waktu, silakan mampir pada tanggal 12 Januari nanti. Jika berada di Jogja, silakan bergabung dengan rekan-rekan aliansi di DIY. Bagi teman-teman yang berhalangan untuk ikut terlibat langsung, mari bantu dengan menyebarkan atau membuat opini keresahan serupa.

Saya tak memaksa saudara untuk beraksi di jalanan. Saya hanya meminta nurani Anda terpanggil. Ikut turun bersama saya, atau berdiri dibelakang dan mendoakan saya selamat sentausa.
Salam Kebaikan

Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia
Presiden Mahasiswa Universitas Gadjah Mada tahun 2017

Orasi Politik Capresma BEM KM UGM 2017

Calon Presiden Mahasiswa UGM

Assalamu’alaykum wr.wb.

Rekan-rekan sekalian. Melalui orasi ini, izinkan saya menyampaikan suatu gagasan tentang

“Mewujudkan #KolaborasiKebaikan” ✊

Gagasan inilah yang akan saya bawa untuk mengikuti proses pemilihan Presiden Mahasiswa BEM KM UGM 2017 dengan kesadaran dan maksud baik untuk UGM dan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat. Sebagaimana pula yang sering kita ungkapkan bersama tentang pentingnya menjalani dan menjaga proses bernegara, tentang ikut melunasi janji kemerdekaan sesuai dengan kompetensi dan kesempatan yang tersedia, maka saya memilih menyatakan siap menghadiri sebuah kesempatan untuk ikut mewarnai arah pembangunan mahasiswa, kampus, bangsa dan negara. Keterlibatan ini juga ditempuh dengan semangat agar aktivitas berdemokrasi tetap menjadi sebuah keceriaan bersama, kebahagiaan bersama.

Kita jalankan Pemilwa ini sebagai festival gagasan dan karya, dengan maksud baik, dengan cara benar, dengan menjaga keberadaban. Maka dari itu mari kita rayakan rangkaian Pemilwa ini sebagai peristiwa yang mulia, bersih, bermartabat, berbudaya, beradab yang mampu mencerminkan mozaik tenun kebangsaan kita, sekaligus dapat dinikmati sebagai suatu keceriaan dan kegairahan di dalamnya.

Rekan-rekan sekalian. Saya ingin mengatakan sesuatu, bahwa dakwah yang sedang kita laksanakan semenjak pascareformasi hingga hari ini sedang mengalami tantangan yang luar biasa. Kita dihajar oleh beragam perangkap dimulai dari isme-isme yang melenakan sampai kepada musuh yang letaknya ada di dalam jamaah itu sendiri. Merekalah duri di dalam daging, yang kemudian menginginkan dakwah ini terbengkalai. Hal ini harus kita perhatikan rekan-rekan sekalian.

Ada penelitian menarik dari Graham E. Fuller, seorang guru besar sejarah di Simon Fraser University, Kanada. Beliau meneliti dan menerbitkan sebuah buku berjudul “Apa Jadinya Dunia Tanpa Islam?”. Kita mungkin bertanya, seperti apakah dunia tanpa Islam? Apakah dunia akan lebih damai dan menjadi tempat yang lebih baik? Umumnya orang di Barat akan menjawab: Tentu. Tanpa Islam, pasti tidak terjadi Perang Salib, konflik Israel-Palestina, aksi bom bunuh diri, dan Peristiwa 11 September. Mereka menganggap Islam adalah sumber dari semua tragedi itu.

Graham E. Fuller menawarkan sebuah eksperimen berpikir untuk menguji pandangan itu. Dengan analisis historis yang serius, beliau menyusun sebuah skenario alternatif seandainya Islam tidak pernah ada dan memengaruhi jalannya sejarah. Dan tahukah rekan-rekan sekalian, kesimpulannya di luar dugaan. Bahwa tanpa Perang Salib, Barat akan tetap menyerang Timur Tengah karena nafsu imperialisnya. Kemudian, Gereja Ortodoks akan mendominasi Timur Tengah dan mungkin sampai hari ini tetap berkonflik dengan Gereja Roma dan Dunia Barat. Selanjutnya, India tidak akan sekaya hari ini tanpa warisan budaya Islam Mughal, Taj Mahal. Terakhir, aksi bom bunuh diri tetap akan terjadi karena bukan muslim yang pertama kali melakukannya. Kalau kita berpikir bahwa agama telah menjadi sebuah kekuatan negatif dalam sejarah dunia modern, renungkanlah alternatifnya. Agama tidak mungkin berefek lebih buruk daripada sejarah kekerasan biadab sekuler dan pembantaian tak tertandingi dari dua perang dunia yang memunculkan fasisme, nazisme, dan komunisme yang semuanya tidak berkorelasi dengan agama. Sehingga di sini kita tidak perlu malu-malu sampai kepada takut dalam beragama.

Agama dalam hal ini Islam adalah pra syarat penting menuju kebahagiaan dunia akhirat. Islam tidak akan membiarkanmu menangis sendiri. Islam akan memberikan kepadamu gambaran jelas, pemandu arah hidup yang tak sekedar hidup. Islam adalah membentang kebaikan, melawan segala bentuk penindasan dan memerdekakan manusia sebagaimana martabat kemanusiaannya. Dan Islam pula yang menjadi letak perjuangan kita di sini.

Ingat rekan-rekan, bahwa kita berhimpun dalam barisan ini, dengan berani melantangkan suara hati nurani berdasarkan kesamaan aqidah. Hal ini jelas berbeda dengan mereka yang ada di luar sana yang berhimpun dalam transaksi politik semata.

Saya ini siapa? Orang miskin kota, orangtua hanya guru honorer, berkuliah saja mengandalkan beasiswa. Tak mampu kiranya saya memberikan janji atau fantasi tentang kemewahan politik. Saya tidak sanggup membangun baliho besar, memberikan kalian pola hidup hedonisme di kafe-kafe, atau membeli kekuasaan. Saya hanya sanggup bersamamu, bersama kalian, menjadi kita, dan kita bisa lakukan segala bentuk kolaborasi kebaikan dengan sepenuh hati.

Rekan-rekan sekalian.
Setiap kali saya berada di tengah banyak orang yang senantiasa mendengarkan, maka saya memohon kepada Allah dengan sangat agar Allah berkenan mendekatkanku kepada suatu masa, di mana ketika itu kita telah meninggalkan medan kata-kata menuju medan amal, dari medan penentuan strategi dan manhaj menuju medan penerapan dan realisasi telah sekian lama kita menghabiskan waktu dengan hanya sebagai tukang pidato dan ahli bicara, sementara zaman telah menuntut kita untuk segera mempersembahkan bahkan amal-amal nyata yang profesional dan produktif.

Dunia kini tengah berlomba untuk membangun unsur-unsur kekuatan dan mematangkan persiapan, sementara kita masih berada di dunia kata-kata dari mimpi-mimpi, “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (As, Shaff” 2-3)

Ikhwahfillah! Ikhwan telah menegaskan kepada kalian tentang universalitas, daya jangkau, dan daya sentuh ajaran Islam atas seluruh aspek kehidupan umat, baik yang sedang bangkit, telah mapan, yang baru tumbuh, maupun yang sudah maju. Sebagian mereka memperbincangkan tentang “sikap Islam terhadap nasionalisme”. Islam mengingatkan pada kalian bahwa nasionalisme Islam adalah nasionalisme yang paling luas batasnya, yang paling integral eksistensinya, dan paling abadi.

“Katakanlah, ‘Sesunguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu satu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri, kemudian kamu pikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikit pun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) adzab yang keras.’ Katakanlah, ‘Upah apapun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya Tuhanku mewahyukan kebenaran. Dia Maha Mengetahui segala yang ghaib.’ Katakanlah.’Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak pula akan mengulangi.’Katakanlah, ‘Jika aku sesat maka sesunggunya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri, dan jika aku mendapatkan petunjuk, maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Mahadekat.” (Saba’: 46-50).

Dari ayat tersebut, kita hanya diminta untuk menyeru pada kebenaran. Memberikan peringatan kepada rekan-rekan kita diluar sana tentang amalan kebaikan.

Apakah rekan-rekan pernah menonton film pay it forward? Dalam film tersebut, mengisahkan tentang seorang anak berumur 8 tahun yang berpikir untuk melakukan kebaikan kepada tiga orang disekitarnya. ”Jika tiga orang ini kemudian melakukan kebaikan kepada beberapa orang lagi dan begitu seterusnya, tentulah dunia ini akan dipenuhi orang-orang yang baik dan saling mengasihi,” demikian pikir Trevor, nama anak tersebut.
Trevor mulai mempraktekkan perbuatan kasih kepada manusia dan meminta mereka untuk: ”Teruskanlah kebaikan ini!”

Inilah rekan-rekan sekalian, gagasan kolaborasi kebaikan dibangun atas hal yang sederhana. Lakukan kebaikan dan mintakan kepada mereka untuk melakukan kebaikan. Serukan kebaikan ini di organisasi-organisasimu, di jurusanmu, di fakultasmu, di universitasmu dan di manapun kamu berada.

Wahai rekan-rekan saudaraku sekalian! Sesungguhnya, sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, semakin bersemangat dalam merealisasikannya, dan kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya. Sepertinya keempat rukun ini, yakni iman, ikhlas, semangat, dana amal merupakan karekter yang melekat pada diri pemuda, karena sesungguhnya dasar keimanan itu adalah nurani yang menyala, dasar keikhlasan adalah hati yang bertaqwa, dasar semangat adalah perasaan yang menggelora, dan dasar amal adalah kemauan yang kuat. Itu semua tidak terdapat kecuali pada diri para pemuda.

Oleh karena itu, sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan, pemuda merupakan rahasia kekuatannya. Dalam setiap fikrah, pemuda adalah pengibar panji-panjinya.

Di titik ini, kita semua menjadi sadar. Mata kita semakin terbuka bahwa peran serta tanggung jawab kita begitu besar. Kampus adalah tempat bertanya sekaligus mencari jawabnya. Kampus bukan sekedar memproduksi kebutuhan industri. Kampus adalah wahana membentuk kebaikan. Menghasilkan orang-orang baik, yang ketika diberi amanah mereka dapat mengubahnya menjadi suatu kebahagiaan. Dan biarkan nanti kita bisa mempertanggungjawabkan peran kita hari ini, baik kepada Allah dan kepada anak-anak, serta anak-anak dari anak-anak kita bahwa kita tidak tinggal diam. Kita memilih berkolaborasi dalam kebaikan dan kita wariskan UGM dan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

Semoga ada kesempatan untuk berbuat #LebihBaik dengan banyak. Semoga kita bertemu dalam keadaan yang lebih baik di masa mendatang.

Yogyakarta,
5 November 2016
oleh : Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia
Mahasiswa Politik dan Pemerintahan, Fisipol UGM 2013

Wassalammualaykum wr.wb.

Tentang Malam Ini: Launching Bulaksumur Institute

launching-bulaksumur-institute

Sulit dibayangkan. Ada beberapa kondisi yang sedang melanda masyarakat Indonesia. Pertama, fenomena kalangan pemuda khususnya mahasiswa saat ini tengah terjerat pada arus hedonisme dan konsumerisme, sehingga mematikan daya pikir dan nalar kritis terhadap isu kebangsaan dan kenegaraan. Kedua, adanya kesenjangan antara teori yang dipelajari di bangku pendidikan dengan praktik dilapangan. Hal ini menimbulkan tidak-kompatibelan dengan persoalan kontekstual yang sedang dihadapi. Ketiga, masyarakat kita tengah berada pada masyarakat yang individualis, kurang empati dan tidak peka terhadap persoalan sosial.

Atas latar belakang di atas kami resah. Dengan itu, sekumpulan mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang berasal dari lintas disiplin ilmu mendirikan suatu lembaga bernama “Bulaksumur Institute”. Bulaksumur Institute merupakan penghubung teori dan praktik yang juga merupakan sarana “transformasi untuk semua”. Maksudnya adalah Bulaksumur Institute sebagai lembaga yang memiliki kemampuan mengambil manfaat berdasarkan kebutuhan yang jelas dan pada saat yang sama paham, fasih dalam menghayati dan menerapkan metodologi yang tersedia. Berangkat dari kesadaran konteks dan pemahaman akan berbagai peluang yang terbuka, Bulaksumur Institute akan secara terus-menerus terlibat dalam upaya memajukan ilmu pengetahuan.

Dari paparan di atas, kami mengupayakan diri sebagai lembaga think tank. Selain karena alasan pelbagai persoalan yang pelik, yang dihadapi masyarakat kita. Landasan tentang ilmu amaliah dan amal ilmiah senantiasa harus dihadirkan dalam setiap gerak langkah kita. Kita tentu saja tidak menginginkan pergerakan untuk mencipta Indonesia yang lebih baik dan bermartabat ke depan dihadapkan pada pondasi yang rapuh. Maka, basis keilmuan atau dalam bahasa yang lebih dalam: politik keilmuan_seperti yang disampaikan Purwo Santoso_menjadi demikian penting sebagai ruh dari pergerakan.

Sehingga, malam ini akan menjadi saksi lahirnya kombinasi ilmu dan amal yang secara serius dilakukan. Bahwa seperti yang dikatakan Anies Baswedan, “satu tindakan nyata lebih berdampak daripada seribu like yang maya”. Tetap merasa resah, tetap menjadi pembelajar, dan tetap menjadi solusi atas permasalahan bangsa yang ada.

Pengurus Harian
Bulaksumur Institute

Berjuanglah, Kawan

unj

Kita sama-sama tahu. Dunia ini berisi nama-nama. Ada nama-nama yang ketika kamu mendengarnya, dan kamu akan segera menoleh untuk kemudian tersenyum riuh-sumringah. Itu adalah keadilan, kawan. Keadilan inilah yang kemudian membawa kita pada kebahagiaan dalam hidup. Tidak ada lagi kekurangan. Semua merasa tercukupi kebutuhannya, sesuai dengan yang dibutuhkannya.

Ada lagi, nama-nama yang ketika kamu mendengarnya, kamu dengan serta merta menjauhi. Kamu jijik dan enggan bersentuhan dengannya. Ia adalah lambang hipokrit alias munafiq. Khas kaum elit. Yang ketika kita berurusan dengannya, kita akan sebal. Akan banyak orang yang tersakiti.

Hari ini, saya mendengar kabar mengerikan. Sahabat saya, di Jakarta. Mereka tergolek hak atas suaranya. Mereka ditendang paksa dari kampus yang telah dibelanya selama beberapa tahun.

Dan di malam yang barokah ini, saya mewakili teman-teman Dema Fisipol menuliskan ini…..(rencana besok akan diterbitkan di laman Dema Fisipol)

 

[Rilis] Solidaritas Dari ‘Jog’ Untuk Jakarta: Tentang Perlawanan Mahasiswa UNJ

Dema Fisipol UGM

 

“Idealisme adalah kemenangan terakhir yang dimiliki oleh pemuda”

Tan Malaka

***

Baru saja kami mendengar kabar duka dari Jakarta. Sahabat kami, Ronny Setiawan (Ketua BEM UNJ 2015) dipaksa harus keluar dari kampus almamater tercintanya karena mempertahankan idealismenya. Kabar mengerikan ini tersiar secara cepat dan masif. Kami, Dema FIsipol, secara kelembagaan tak kuasa menahan diri dan ingin segera membersamai Ronny dalam sebuah ikatan solidaritas mahasiswa Indonesia.

Di sini, Ronny adalah salah satu ikon penumpas ketidakadilan yang tidak beruntung. Namanya kini telah tertera dalam Surat Keputusan Rektor Universitas Negeri Jakarta Nomor: 01/SP/2016 tentang Pemberhentian sebagai Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta atas tuduhan tindak kejahatan berbasis teknologi dan aktivitas penghasutan. Surat ini kemudian di kumandangkan oleh Dekan Fakultas MIPA UNJ.

Semua ini bermula ketika Ronny dan kawan-kawan melakukan aksi-aksi demonstrasi menuntut pengusutan tuntas kasus sarana kuliah FMIPA (secara hukum milik Kemenristekdikti) yang berujung pada penyelewengan APBD DKI Jakarta dan juga berkaitan dengan Wisma Atlet & Asian Games (yang kira-kira melibatkan Rektor UNJ dengan Gubernur DKI Jakarta). Namun, Rektor UNJ sepertinya tidak siap untuk dimintai keterangan. Sebab, hal ini akan mengundang banyak tanya dari berbagai pihak yang implikasinya, bisa jadi, membuka kedok kasus-kasus yang lain, seperti: Sentralisasi Dana, Pembungkaman Dosen/Birokrat yang kritis, Banyaknya Penghapusan Dana Kegiatan Mahasiswa, Pemotongan Biaya KKN, Keringanan Biaya Yang Dihapuskan, dan masih banyak lagi.

Bila berkaca, tentu saja, kabar memilukan ini adalah peringatan bagi kami, Dema Fisipol. Sedikit bercerita. Beberapa waktu lalu, rekan kami juga memiliki nasib yang sama dengan dituduh ini dan itu. Kemudian, rekan kami diberikannya manuver oleh pihak Rektorat dengan ancaman dibawa ke ranah hukum atas perjuangan yang sama: melawan ketidakadilan. Kisah Ronny dan kawan-kawan di UNJ tentu saja menjadi sinyal pertanda bahaya; bahwa sesungguhnya rezim anti kritik khas Orde Baru masih saja menjangkit ditubuh para elit kampus. Kalau mereka tidak suka, tangkap…Kalau mereka benci, basmi…Kalau mereka tak sepakat, sikut… Hal-hal yang semestinya sudah kita tanggalkan sejak jauh hari.

Di titik ini kita sama-sama menyadari, kawan, bahwa Reformasi mengamanatkan kebebasan berpendapat. Semangat untuk mengemukakan pendapat di muka umum harus terus kita sama-sama rawat. Semua yang terasa, terlihat, dan teralami oleh kita, sampaikan. Bilamana ada sesuatu yang salah dan janggal, tak perlu ragu untuk tunjukkan dan hadirkan ke muka. Di hadapan kaum hipokritlah kita menang.

Bukankah kita berkuliah agar kita tidak bodoh? Bukankah kita berkuliah agar kita bisa menolong orang-orang di sekeliling terbebas dari kebodohan? Dengan belajar, membaca, berdiskusi, yang biasa kita lakukan sehari-hari bukan untuk ditelan secara pribadi, kan? Seperti kata Tan, “Janganlah segan belajar dan membaca! Dengan pengetahuan itulah kelak kami bisa merebut hakmu dan hak Rakyat… Insaflah bahwa pengetahuan itu kekuasaan.”

Dengan kekuasaan inilah, kami pergunakan untuk melawan ketidakadilan, merengkuh kebenaran, dan mencapai kebermanfaatan bagi sesama. Oleh sebab itu, dengan keteguhan hati, kami dengan tegas menolak tuduhan pencemaran nama baik yang dilakukan oleh Rektor UNJ. Kami, Dema Fisipol meminta secara rendah hati kepada Rektor UNJ untuk mencabut SK Rektor dan mengembalikan status Ronny Setiawan sebagai mahasiswa.

Semoga solidaritas kami akan terus bertambah seiring berkembangnya nilai empati dan kemanusiaan di kalangan mahasiswa Indonesia. Aamiin.

 

Salam dari ‘Jog’ Untuk Jakarta

06 Januari 2016