Ceritanya, Saya…
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Ceritanya, Saya…

Dialog Tokoh RK bersama Prof. Fahmi Amhar

Ceritanya, Saya…

…belum sempat menulis dengan rapi dan panjang lebar. Tapi, barangkali ini bisa menjelaskan kegiatan kemarin, sebagaimana saya janjikan.

Pertama, saya akan ceritakan terkait dengan Dialog Tokoh bersama Prof. Fahmi Amhar. Di awal, jauh sebelum Dialog Tokoh ini menghadirkan Prof. Fahmi, sebenarnya ada beberapa nama yang diajukan oleh teman-teman. Namun, sebagaimana Mbak Intan (Manajer RK Yogya) menyampaikan kepada saya bahwa kebetulan bulan Februari ini, Prof Fahmi yang juga merupakan Babehnya Fitri sedang akan ke Yogyakarta. Maka, kesempatan ini bisa dipergunakan untuk kita, para peserta RK menimba ilmu. Utamanya terkait dengan intelektual dan sains.

Akhirnya pembagian timsat. Kebetulan timsat Umar bin Khattab yang dapat giliran ngerjain ini proyek. Beberapa pihak memberikan tuduhan ada kongkalikong antara saya dengan Mas Adi. Tapi, tuduhan itu sama sekali tidak berdasar. Untuk apa saya kongkalikong, dan silakan tanyakan ke Mas Adi, apakah ada kongkalikong. Hahahaha…

Kemudian, setelah beres urusan kongkalikong, saya berinisiatif untuk mengusulkan tema “intelektual Islam dan pembangunan kualitas hidup rakyat”. Kemudian, teman-teman menerima. Maka, jalan lah kami. Rencananya, Dialog tokoh ini dibuat terbuka dan ditujukan kepada mereka yang ingin mendaftar RK.

Akhirnya saya pun yang buat TOR-nya. Kalau mau baca, begini kurang lebih:

“Tarikh (Sejarah) telah menunjukkan, tiap-tiap bangsa yang telah menempuh ujian hidup yang sakit dan pedih, tapi tak putus bergiat menentang marabahaya, berpuluh bahkan beratus tahun lamanya. Pada suatu masa akan mencapai suatu tingkat kebudayaan, yang sanggup memberi penerangan kepada bangsa lain.” (M. Natsir)

Begitulah yang pernah disampaikan Natsir semasa hidupnya. Beliau adalah salah satu tokoh intelektual Islam di Indonesia yang dikagumi. Ketokohan Natsir tidak hanya diakui di Indonesia saja, bahkan di dunia international. International King Faisal—lembaga penghargaan dari Arab Saudi—menyetarakan Natsir dengan ulama besar India Syeh Abul Hasan Ali Nadwi dan Abul A’la Al Maududi. Karyanya yang gilang gemilang dalam memimpin Partai Islam—Masyumi, pemikiran dan juga memperjuangkan nilai-nilai Islam yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup rakyat meski harus bersinggungan dengan lawan ideologisnya membuat kita kagum.

Di luar sana, tepatnya di Iran pada tahun 1979, terjadi sebuah revolusi sosial besar yang merupakan revolusi pertama yang menggunakan simbol agama, yang berujung pada tumbangnya pemerintahan Syah Reza Pahlevi. Seorang tokoh yang pemikirannya menjadi salah satu penggerak revolusi ini yaitu Ali Syariati. Pemikirannya bermula dari fenomena yang terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat muslim di Iran, di mana kaum intelektual dan para ulama hanya fokus pada keilmuan, dan terkesan acuh terhadap kebodohan, kedzaliman, dan penindasan atas masyarakat muslim. Hal ini berkebalikan dengan keyakinan Ali Syari’ati yang menyatakan bahwa aspek spiritualitas dapat berbanding lurus dengan aspek keduaniwian. Beliau tak larut dalam perdebatan, namun ia melakukannya. Ialah inspirator dan pionir social engineering dalam revolusi besar Iran.

Mengutip Mansour Faqih dalam Manifesto “Intelektual Organik”—terminologi A. Gramsci—bahwa “sebenarnya penderitaan rakyat telah bermula dan sudah menjadi takdir sosial kalau derita itu tanpa akhir. Dahulu, di awal kemerdekaan, negeri ini diperjuangkan oleh segelintir intelektual yang bersama rakyat merasakan derita yang dialami. Mereka seperti kekuatan nurani rakyat yang memiliki pendidikan dan kedudukan sosial lebih baik. Kaum intelektual ini tidak buta terhadap kenyataan sosial yang timpang dan tanpa ragu turun lapangan. Tetapi, hari ini kita menyaksikan gerbong intelektual berderet mendukung secara fanatik rezim imperialis modal”.

Terlepas dari latar belakang dan fikrah yang kita yakini, tentu kita bisa banyak belajar dari mereka. Bahwa agama Islam adalah pandangan hidup kita. Islam dapat dan harus difungsionalisasikan sebagai kekuatan revolusioner untuk membebaskan rakyat yang tertindas, baik secara kultural mapun politik. Lebih tegas lagi, Islam merupakan ideologi revolusioner ke arah pembebasan Dunia Ketiga dari segala bentuk penjajahan.

Dengan ini, barulah sampai kita pada apa yang disebut sebagai pembangunan kualitas hidup rakyat. Semua ini dapat diukur pada, misalnya, Indeks Kualitas Hidup. Pendekatan ini mencakup beberapa indikator, antara lain tingkat harapan hidup, angka kematian, dan tingkat melek huruf suatu masyarakat.

Oleh karena itu, untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang berkualitas, seharusnya kaum intelektual mampu mengambil perannya dalam menyeimbangkan beberapa aspek penyusun kesejahteraan tersebut. Kaum intelektual Islam tidak boleh diam dan mendiamkan urusan kehidupan rakyat dipegang oleh orang-orang yang salah. Kaum Intelektual Islam tidak boleh membiarkan korupsi, kolusi, dan nepotisme sebagai ajang pembegalan negara terus terjadi. Kaum intelektual Islam harus berani mengisi dan hadir menyuarakan keperihan, bahkan turun langsung kepada masyarakat.

Namun, pertanyaannya: Masih adakah intelektual Islam di Indonesia? Apa gagasan dan tindakan yang mampu mengejawantahkan konsep intelektual organik? dan Bagaimana langkah-langkah yang dapat diambil kaum intelektual Islam menuju Indonesia yang lebih baik dan bermartabat dengan kehidupan masyarakatnya yang berkualitas?

Berdasarkan hal tersebut, Dialog Tokoh Rumah Kepemimpinan PPSDMS kali ini hadir mengusung tema “Peran Intelektual Islam dan Pembangunan Kualitas Hidup Rakyat”.

***

Kurang lebih begitu. Intinya, saya meminta agar bahasan nanti bisa menjawab beberapa pertanyaan kunci yang saya berikan.

Hari H pun tiba. Asrama kemudian berubah menjadi padat berisi anak-anak RK dan juga calon yang kumpul guyub jadi satu. Saya yang bertugas sebagai moderator berusaha dengan sangat santainya memoderatori.

Diskusi diawali dengan pengertian: siapa intelektual? Kemudian berlanjut pada, apa problematika umat, bangsa, dan dunia? Kemudian, diceritakan kondisi-kondisi kontemporer yang memperlihatkan bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja. Beberapa kali, Prof. Fahmi mempertanyakan kepada saya dan juga peserta terkait materi yang dibawakannya. Sewaktu-waktu saya diminta untuk menjawab atau hanya sekedar tersenyum sambil mengiyakan ucapannya. Hahaha…

Namun, hingga akhir, ekspektasi saya sepertinya belum terpenuhi. Pendekatan yang dilakukan Prof. Fahmi berbeda dengan yang saya pahami, sehingga analisis terkait pertanyaan-pertanyaan yang dilemparkan di TOR menjadi tidak terjawab. Meski begitu, presentasi yang dibawakan Prof. Fahmi banyak membeikan input kepada saya pribadi dan juga rekan-rekan hadirin sekalin, terutama dalam mencermati peran Islam dalam konteks pembangunan dan penyelesaian problematika umat.
Barangkali, suatu saat bisa diskusi lagi, lebih banyak.

Kemudian, mengisi kajian Islam di SMAN 9 Yogyakarta tentang hari Valentine pada 15 Februari 2016.

Tiba-tiba, pukul 09:28 WIB Mas Adi menghubungi saya untuk mengisi Kajian Senin Sore dari jam setengah 3 sampai setengah 5. Temanya gak tanggung-tanggung: “Yang Manis Belum Tentu Halal”. Duh, Dek. Temanya genit banget. Hahaha…

Padahal sore itu, saya sudah punya agenda rapat Bidang Keilmuan Dema Fisipol yang perdana di jam setengah 4. Singkat cerita, saya izin menyusul rapat dan memenuhi permintaan Mas Adi.

Alfath On Stage

Alfath On Stage

Antusiasme Peserta

Antusiasme Peserta

quotes of the day

quotes of the day

Pertanyaan dari Peserta

Pertanyaan dari Peserta

Ya, soal isi kajian. Saya membahas sejarah valentine yang ada banyak versi itu hingga kepada persoalan remaja. Soalnya, saya pernah berada di usia mereka juga. Tapi, keknya, waktu itu, saya menganggap hari valentine itu biasa saja deh. Tapi, melihat teman-teman di sekeliling, yo beberapa ada sih yang ngerayain.

Intinya, saya mengajak teman-teman SMAN 9 Yogyakarta untuk tidak mengikuti seremoni yang tak jelas asal-usulnya. Kalau toh itu disebut hari kasih sayang, apakah kita tidak bisa berwelas asih dan memberikan kasih sayang setiap saat, kapan pun, dan di manapun?

Ada juga soal GERAK JOGJA yang mau bikin acara Cangkeman, Yuk.

Ini sangat menarik perhatian selama seminggu terakhir. Mengkonsep acara, menyebarkan undangan, dan intinya memastikan acara ini bisa berlangsung dengan baik pada tanggal 28 Februari nanti.

Kita, saya dan Ibnu, juga rekan-rekan GERAK: Maya, Nikari, Fitri, Naufal yang bantu menyebarkan undangan. Yuda membantu desain. Ila membantu konsep juga deh, sama Odi bantu do’a. Semua bekerja sesuai porsinya.

Acara ini diberi nama Cangkeman, Yuk! usulan “your bebeb” (bebeb-nya Ibny Asyrin Al Bantani). Kesannya, kalau kata orang Yogya, koq kasar begitu. Ada beberapa kecaman, tapi kami berusaha meyakinkan dengan sangat baik. Maksud kami sebenarnya hanya ingin menyederhanakan bahasa yang bisa diterima dengan bersahabat.

Karena saya bertugas bersama Ibnu, yo kita muter-muter. Ada kali, lebih dari sepuluh sekolah kita muter-muter. Ketemu bagian Tata Usaha Sekolah, OSIS, dan satpam tentunya. Hahaha…
Kami jelaskan, bahwa cara ini akan membahas soal keberanian pelajar untuk berlaku jujur dalam menghadapu UN. Indikator keberhasilan acara ini menurut kami ketika para pelajar Yogya bisa melewati dengan kejujuran. Toh, bila ada penyimpangan dalam perjalanannya, rekan-rekan SMA diharapkan bisa melaporkannya kepada pihak berwenang.

Meski harus melawan hujan, basah-basahan bareng, setidaknya ada kesenangan tersendiri berkunjung ke sekolah-sekolah di Yogyakarta yang luasnya menta ampun, sudah.

Beberapa foto terdokumentasikan…

Kunjungan Gerak ke SMA 1 Yogyakarta

Kunjungan Gerak ke SMA 1 Yogyakarta

Kunjungan Gerak ke SMA 2 Yogyakarta

Kunjungan Gerak ke SMA 2 Yogyakarta

dan Dema Fisipol tentunya.

Sebenernya, pos lalu yang berjudul “Kabinet Taman Bermain” sudah cukup menjelaskan tentang Dema. Dema Fisipol dianggap bercanda dalam merancang visi-misinya. Cuma, di sini, saya ingin memberi penekanan saja bahwa Dema Fisipol tidak sebercanda itu. Ada nilai filosofis dan mendalam terkait dengan nama, detail per kata, yang kemudian menginpirasi kami menaruhnya sebagai visi-misi.

Andai saja Anda tahu, ada nilai dakwah yang coba saya angkat dalam setiap perkataan. Silakan temukan sendiri.

Adalagi sih yang menarik di Dema. Adalah persoalan Mazhab Bulaksumur. Beberapa rekan mempertanyakan perihal ini dengan menyerang sisi metode, kemudian benang putih di antara pemikirnya, dan sebagainya. Beberapa di antara mereka pesimis. Hal ini tentu ibarat “Kapal Karan Sebelum Berlayar”. Program belum berjalan sudah mengeluh kesusahan ini-itu.

Tak berani bertanding adalah sikap pecundang. Seharusnya, bila melihat kesulitan atau kekurangan, kita hadapi bersama. Kita siapkan tim yang mampu menggarap ini agar pewacanaan bisa berjalan dengan baik. Bukan malah menghindarinya.

Sebab, sudah lama kita berpangku tangan kepada teori-teori barat. Dan dengan latahnya kita mengutip ini-itu. Kita butuh penyegaran yang mampu mewujudkan pengembangan konsep atau pun teori hasil pemikir Indonesia yang telah menelaah melalui konteks ke-Indonesiaan.

***

Ya, akhir-akhir ini juga saya sedang mempersiapkan beberapa hal. Ada yang terkait dengan persiapan mengikuti kegiatan DM 2 KAMMI di Kota Yogyakarta bulan depan. Kemudian, mengikuti seleksi Beasiswa Aktivis Bakti Nusa. Denger-denger, banyak anak asrama yang ikut: Asyrin, Yuda, Fajar, Endri, Maya. Itu sih yang saya tahu. Selain itu, mau daftar juga menjadi asisten peneliti dari JPP. Barangkali, ini jalan saya untuk mulai mendekatkan diri dengan Jurusan, agar kelak bisa menjadi Dosen di sana. Hehehehe

Informasi Oprec Asisten Peneliti

Informasi Oprec Asisten Peneliti

Oiyah, kemarin Mama telepon. Saya suruh jaga kesehatan. Seimbangkan akademik dan organisasi, juga asrama. Kabar keluarga sehat wal afiat. Hanya minta didoakan agar semua urusan beres, dan saya mendo’akan untuk segenap urusan yang dihadapi ortu bisa beres.

Juga, Naufal yang ulang tahun ke-21. Barakallahu fii Umrik. Sehat, cerdas dan jadi pribadi yang penuh gairah Bro.

Kue Untuk Naufal Yang Ultah Ke-21

Kue Untuk Naufal Yang Ultah Ke-21

Terakhir, soal evaluasi RK. Gak berasa ya, sudah mau beres saja pembinaan. Saya menyadari bahwa waktu berjalan begitu cepat bila kita menikmati dan mencintainya. Sebelum masa pembinaan beres, saya ingin memaksimalkan segala hal yang belum saya lakukan dengan sungguh-sungguh di awal. Soal UKP yang sekarang sedang digiatkan. Kemudian, pengabdian di TPA Masjid HI. Pokoknya, saya selalu mengupayakan setiap Rabu, Jumat, Minggu megajar. Tidak boleh tidak. Terlalu berat bagi Bu Lili mengajar sendiri. Ditambah bocah-bocahnya, haduuhhh, bandelnya bukan main. Tapi, gak boleh nyerah deh. Dan mengikuti setiap kegiatan pembinaan dengan sebaik-baiknya. Agar kelak, saya bisa mempertanggung jawabkan dihadapan Eksekutif Pusat, Umat, dan Allah SWT.

Jadi, pengen lama-lama di asrama. Gak tahu kenapa. Ingin, pakai banget. Sudah terlalu nyaman untuk ditinggalkan. Sebab, ada saya, kamu, dan kita semua
.

23:35
Kantor,
sehabis Rapat GERAK JOGJA

Comment (2)

  • Fitri Hasanah Amhar - February 22, 2016

    daftar ER Fath. Tidak boleh tidak.

  • Leave a Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *