Dedication of Life
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Dedication of Life

dedication of life

Melihat tulisan adik saya di Dema Fisipol, Dendy, membuat saya berpikir bahwa setiap orang pasti memiliki sumbangsih, jiwa mengabdi terhadap sesuatu dalam hidupnya. Pak Karno menyebutnya: dedication of life.
Mari, kita menyimak dedication of life nya Pak Karno. Cekidot!!!

Saya adalah manusia biasa
Saya dus tidak sempurna
Sebagai manusia biasa, saya tak luput dari kekurangan dan kesalahan
Hanya kebahagiaanku adalah mengabdi kepada Tuhan, Kepada Tanah Air, Kepada bangsa
Itulah dedicaiton of life-ku
Jiwa pengabdian inilah jadi falsafah hidupku
Saya nikmati dan jadi bekal hidupku
Tanpa jiwa pengabdian ini saya bukan apa-apa
Akan tetapi dengan jiwa pengabdian ini Saya merasa hidupku bahagia dan membawa manfaat
Soekarno, 10 September 1966

Saya kemudian agak terharu dengan tulisan adik saya. Betapa tidak. Adik saya ini sudah diproyeksikan menjadi calon kuat pengganti saya sebagai Kepala Departemen Kajian Strategis di Dema Fisipol. Namun, di detik, di mana keputusan itu mesti segera dikeluarkan, ia memilih tuk menolak dinaikkan posisinya (secara formalitas) dan memilih mengabdi sebagai staf.
Saya menghargai keputusannya. Tapi, memang, sekali lagi perlu ditekankan bahwa jiwa mengabdi itu banyak jalannya. Entah menjadi kepala ataupun staf, semua menjadi berarti ketika jiwa mengabdi itulah yang menjadi titik tekannya.

Saya kemudian teringat ucapan Mas Dhama, Abang Pergerakan saya, ketika mengantarkan saya pulang dari Kantor Pusat PPSDMS lalu. Bliyo bilang, intinya, kalau hidup ya persoalan mengabdi. Tinggal mengabi kepada kebaikan atau keburukan. Jangan pernah tanggung-tanggung dalam mengabdi. Lakukan secara mastatha’tum, sampai Allah Swt yang menghentikannya.

Saya juga jadi ingat kata Bang Bachtiar, Direktur PPSDMS, yang mengatakan begini:
“Enteee, masih saja berkutat pada persoalan mikir-rapat-mikir. Lakuin saja, jalankan. Biar orang lain yang melihat hasilnya.”

Satu bentuk serangan ideologis yang mampu menggerakkan. Ya, saya menjadi tergerak. Sangat-sangat tergerak untuk melakukan satu perubahan yang lebih revolusioner dibandingkan sekedar menulis.
Dan memang manusia menilai tak pernah secara utuh. Ada banyak bagian yang terpisah dan belum terjelaskan.
Tapi, satu hal yang mesti kita tahu, bahwa pikiran, hati, telinga, kecerdasan, dan segalanya yang saya miliki melibatkan satu: kuasaMu.

Mencoba tetap tenang
Di tengah gempuran sana-sini

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *