Gramedia
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Gramedia

Tadi pagi ada Gramedia. Gerakan Membaca dan Berdialektika. Bukan Toko Buku. Program yang mulanya saya lontarkan di rapat tata program semester dua lalu. Tidak terasa, Gramedia bisa ada hingga hari ini. Niat awal dibentuknya sederhana: membuat setiap orang merasa untuk terlibat; berani mengutarakan pendapat dan berdasar.

Semalam, Endri masuk ke kamar. Gak pakek salam. Hmm..

Ceritanya, dia mau minta tolong saya untuk memantik Gramedia esok hari (aka. pagi tadi; 22 Feb) perihal kehidupan berasrama yang sudah berjalan sekitar 19 bulan. Penekanannya pada kepemimpinan profetik dan seluk beluk asrama.

Tentu ini adalah satu kehormatan bagi saya untuk berbagi tentang asrama. Sedari awal saya berada di sini, saya selalu merasa bahagia. Baik dalam mengikuti program, satu kalipun saya tidak pernah duduk dibelakang atau pun tertidur. Saya upayakan untuk terus hadir tepat waktu; kecuali ada urusan lain semisal nge-Dema. Sehingga, bila ada hal yang berkaitan dengan asrama, saya selalu siap untuk maju.

Saya mulai diskusi pagi tadi dengan pengertian asrama (pondok pesantren) yang bukan hanya sekedar tempat untuk tidur. Bahwa asrama adalah tempat bersosialisasi di antara penghuninya dan juga kepada masyarakat. Kemudian, tempat untuk berdiskusi, saling tukar pandangan, dan menganalisis persoalan umat.

Sampai saya menyampaikan hasil penelitian saya beberapa waktu lalu terkait asrama. Bahwa asrama Rumah Kepemimpinan ini dihasilkan atas setidaknya dua inspirasi: Rumah Kos H.O.S Tjokroaminoto sebagai bangunan fisik sekaligus sistem, dan konsep kepemimpinan profetik yang digagas oleh Kuntowidjoyo sebagai nilai.

Saya coba paparkan apa-apa saja visi dan misi besar Rumah Kepemimpinan ini yang kemudian mewujud ke dalam program-programnya. Bukan hanya itu, saya coba benturkan dengan berbagai pandangan orang lain diluar sana terkait dengan asrama ini, entah apa pun itu. Kemudian, dari situ, saya mengajak seluruh yang hadir merefleksikannya ke dalam pribadi masing-masing. Sebenarnya, sudah sejauh apa program yang diberikan Rumah Kepemimpinan terinternalisasi? Atau lebih tepatnya, apa yang sudah kamu dapat dari sini dan kemudian membuatmu merasa harus bertanggung jawab kembali ke Rumah Kepemimpinan?

Kemudian, teman-teman mengeluarkan unek-unek terkait dengan kehidupannya di asrama.
Dwiki mengawali komentar dengan pernyataan: bagaimana caranya kita berpikir untuk ke depan, pasca asrama, agar kita bisa kembali ke Rumah Kepemimpinan dengan cara apa pun.
Pras melanjutkan bahwa sebenernya bukan sekedar program yang utama. Lebih kepada keseharian yang kemudian membentuknya.

Hafiq juga menambahi kalau asrama ini banyak mengubah hidupnya yang tadinya untuk bangun shalat tahajud saja susah.

Fadhli yang kemudian memaparkan banyak hal: ia mengatakan agar kita cukup menyelesaikan urusan mempersoalkan asrama ini dibentuk dengan metode Tarbiyyah. Hal ini pernah juga ditanyakannya kepada Pak Waziz. Dan Pak Waziz malah berbalik tanya: “Pola Kepemimpinan apa yang terbaik selain Tarbiyyah saat ini?” Ia juga merasa beruntung, Rumah Kepemimpinan mau merimanya yang begintu. Selanjutnya, terkait dengan ROMO: Rendah Hati, Obyektif, Moderat, dan Open Mind yang menurutnya sangat membantu untuk bertatap muka dengan orang lain. Serta, penekanan di 4 Poin: Muslim Produktif, Aktivis Pergerakan, Mahasiswa Berprestasi, dan Kebersamaan dan Kekeluargaan menjadi jalan yang mesti ditempuhnya.

Ibnu Fajri juga menyampaikan pandangan bahwa nilai-nilai yang terinternalisasi lebih penting dari sekedar program. Hal ini berkaitan dengan kehidupan pasca asrama di mana nantinya akan sulit yang mengontrol selain diri sendiri.

Kholqi juga menanggapi bahwa setiap orang di sini telah memiliki starting point masing-masing: Setiap orang sudah punya kelompok/karakter sendiri. Ia yang mengaku di awal kosong dan perlu diisi kemudian bisa mengalahkan diri yang dulu karena kini sudah memiliki capaian prestasi. Ia ingin agar kita semua memiliki karakter: Al Qur’an dan Al Hadist. Persoalannya, mau belajar atau tidak?

Dodik kemudian bersuara. Ia terkadang lupa bahwa ia tinggal di Asrama. Ia melihat beberapa kekurangan di Asrama, antara lain: (1) Sulit baginya mencari teladan sendiri (2) Sulit memahami dan mendekati semua anak (3) Berusaha menjadi diri sendiri sulit sekali di asrama. Ada perasaan tidak nyaman yang membuatnya memilih keluar forum atau tidur. Dodik juga mengkritisi terkait kepura-puraan dalam bersaudara karena dipaksa sistem. Pengujiannya adalah pasca asrama. Apakah betul kita masih bersaudara.

Dan terakhir, Endri yang mengatakan bahwa Asrama ini membentuknya menjadi dewasa dan merdeka, serta memilih jalan hidupnya sendiri. Pembicaraan Endri selalu mengarah pada keinginannya membentuk negara baru: Aceh Merdeka. Meski begitu, ia tidak akan melupakan asrama ini seumur hidupnya.

Saya merasa, ada banyak sekali cerita yang belum digali. Kemudian, saya hanya bisa mengingatkan bahwa ke depan, Rumah Kepemimpinan ini akan dipegang kendalinya oleh alumni. Untuk sekedar mengingatkan, bahwa berakhirnya pembinaan bukan berarti berakhir pula hubungan kita. Masih ada lanjutan yang membuat kita masih akan terus bersama, bahkan sampai maut memisahkan. Begitu.
Untuk yang terakhir. Barangkali, beberapa waktu lalu ada tawaran bagi saya menjadi ER. Namun, sepertinya saya sudah (akan) memiliki amanah ditempat lain. Tetap tenang, kebersamaan ini akan terus berlanjut. Sampai nanti, sampai mati.

23:55
Kantor, menyendiri

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *