Hari Pahlawan: Penghormatan Kepada Ayah dan Ibu
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Hari Pahlawan: Penghormatan Kepada Ayah dan Ibu

mama dan papa

Mari kita hadapi hari ini…

Hari ini kita merayakan Hari Pahlawan yang identik dengan cara kita menghormati dan mengenang jasa-jasa Pahlawan; tak lupa merefleksikan sekaligus semangat melakukan hal serupa dengan sosok yang dianggap sebagai pahlawan.Kita sadari peringatan terhadap jasa-jasa pahlawan tidak mesti hanya dilakukan pada setiap 10 November saja. Tetapi jangan sampai kegiatan itu hanya menjadi angin lalu yang lewat begitu saja. Tentu diciptakannya hari Pahlawan harus dimaknai sebagai suatu hal yang baik bahwa republik ini masih meyakini ada iuran waktu, darah bahkan nyawa yang dibayar oleh pejuang-pejuang kita untuk merebut tanah airnya.

Namun konteks masa lalu dan masa kini jelas berbeda. Pahlawan yang dahulu berjuang dengan darah dan nyawanya tetap menjadi pahlawan yang tak pernah terlupakan jasanya. Tetapi kini kita dapat merasakan kehadiran sesosok pahlawan baru ditengah kita. Dia ada dengan segala kebaikan dan kemurahan hatinya namun sering kali kita mengabaikannya.

Kau harus berterima kasih pada segala yang memberimu kehidupan, sekalipun dia hanya seekor kuda”. (Pramoedya A. Toer)

Berdasarkan kalimat tersebut, tulisan ini bertujuan untuk membuka kesadaran kita dalam berterima kasih kepada siapapun itu; sebab tanpa disadari ada banyak orang-orang yang telah banyak berjasa dalam hidup kita. Kemudian pada akhirnya kita mampu mendedikasikan hari-hari kita kepada mereka yang tersayang dan begitu berjasa.

Tulisan ini dimulai dengan pertanyaan: Sebenarnya siapakah pahlawan yang kau idolakan? Mengapa kita perlu merayakannya? Lalu apa saja yang dapat kita lakukan untuk menghormati jasa-jasa beliau? Baiklah, saya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dimulai dari munculnya kata ‘pahlawan’.

Secara etimologi pahlawan berasal dari bahasa Sanskerta, yakni phala-wan yang berarti orang yang dari dirinya menghasilkan buah (phala) yang berkualitas bagi bangsa, negara, dan agama) adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani.

Pahlawan adalah mereka yang perbuatannya dihitung sebagai pahala karena berbuat bagi kepentingan orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Perbuatannya memiliki andil besar terhadap pola perubahan tingkah laku orang lain.

Karena arus globalisasi yang kian menggila ini, kita disibukkan oleh banyak hal yang menyita waktu dan pikiran. Sejalan dengan hal itu, semakin hari sosok pahlawan itu kian tergerus baik makna maupun kehadirannya. Akibatnya banyak dari kita yang tidak tahu-menahu bagaimana caranya untuk berterima kasih kepada mereka yang berbuat baik tanpa mengharap imbalan.

Setiap orang punya pahlawan kesukaannya masing-masing. Mungkin ada yang menjagokan Superman yang bisa terbang keliling Sleman, Bantul tanpa perlu naik pesawat terbang. Ada juga yang mengidolakan Batman dengan mobil mewahnya yang bisa kebut-kebutan di sepanjang jalan Kaliurang. Sebagaian lain ada yang mencintai tokoh-tokoh dalam buku yang sering kita kutip tulisannya sebagai referensi membuat essay; atau bisa jadi teman disamping kita yang menjadi teladan sekaligus rujukan dalam belajar ketika masa ujian tiba.

Semuanya adalah pahlawan menurut versi anda; dan itu sah-sah saja ketika kalian anggap sebagai pahlawan. Namun disini saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada mereka yang saya anggap sebagai pahlawan. Atas jasa serta kasih sayangnya yang tak terhingga. Dia adalah figur yang menawan, layak dijadikan teladan serta panutan. Saya sebut Ayah dan Ibu….

Menurut saya, Ayah adalah lambang kesederhanaan dan perjuangan. Sedangkan Ibu adalah lambang cinta, pengorbanan dan kasih sayang. Menghormati keduanya menunjukkan kualitas kepribadian dan kecintaan seorang anak kepada orangtuanya. Seorang anak harus menyadari bahwa kita yang hadir hari ini tak lain adalah karena akumulasi usaha, jerih payah dan didikan orangtua. Dalam mendidik anak, tentunya banyak rintangan yang telah mereka hadapi. Terkadang si anak sulit diatur karena sering melawan atau membantah perkataannya; menyakiti perasaannya bahkan rela pergi meninggalkannya untuk suatu hal yang lain (misal: meminta nikah tapi gak diturutin karena berlainan agama, dsb).

Setiap dari kita pasti merasakan bahwa pahlawan yang benar-benar hadir sejak pertama kali kita terlahir kedunia adalah Ayah dan Ibu. Mereka adalah guru kehidupan kedua setelah Tuhan yang mengajarkan kita tentang dunia dan isinya. Namun karena usia yang beranjak dewasa, kita malah malu untuk menyatakan sayang dan cinta kepadanya dimuka umum atau bahkan untuk sekedar bertegur sapa lewat telepon atau sms. Kalau kita bilang sayang dan cinta kepadanya malah dianggap sebagai anak kecil. Perasaan itu menjadi awal bencana bagi kita untuk semakin menjauh dan melupakan Ayah dan Ibu. Dengan menjauh dan melupakannya, kita takkan pernah ingat lagi apa yang telah mereka beri kepada kita. Mereka sama sekali tak mengharap apapun dari kita selain kesuksesan dalam beribadah dan berkarya dalam pekerjaannya.

Saya pun teringat akan kisah Ayah yang tak terlupakan. Setiap hari, dia mengayuh sepeda untuk pergi mengajar pada tiga buah sekolah dalam sehari di tiga tempat yang berbeda. Yang pertama di Ancol, kedua di Warakas dan yang ketiga di Sunter. Kalau saya mengingat masa itu, betapa berat perjuangan Ayah untuk menafkahi saya dan keluarga. Entah berapa ribu kali kayuhan yang telah dia lakukan demi beberapa lembar rupiah. Yang pasti saya bisa bersekolah hingga hari ini meskipun sulit. Dia juga begitu aktif dalam berbagai kegiatan politik, keagamaan dan kemasyarakatan yang membuatnya bisa memiliki banyak teman dan relasi. Darinya, saya mendapatkan pelajaran tentang perjuangan dan keaktifan dalam berbagai kegiatan.

Saya pun teringat akan kisah heroik dari Ibu yang mengorbankan waktunya untuk mengajar anak-anak disekitar rumah untuk mengaji. Hal ini bahkan tetap berlanjut hingga hari ini. Ibu tak mengharap imbalan sedikitpun. Dia menyadari mayoritas penduduk disekitar rumah tergolong miskin. Sehingga dia rela berjuang dijalan Allah SWT. Dia percaya dengan hal berikut: “jika kita menolong makhluk dibumi, maka kita akan ditolong oleh makhluk-makhluk yang ada di langit.” Dan benar saja, meskipun tak dibayar ilmunya, ada banyak bantuan dari orang-orang yang sadar dan juga tokoh masyarakat yang peduli terhadap pendidikan agama. Darinya saya mendapatkan pelajaran tentang pengorbanan dan kepercayaan atas kuasa Allah SWT.

Keduanya adalah pahlawan yang menginspirasi kehidupan saya. Mungkin akan sangat sempurna jika pelajaran dari keduanya akan benar-benar melekat menjadi sifat bahkan karakter saya sebagai seorang pejuang yang aktif dan rela berkorban serta percaya atas kehendak Allah SWT. Hal-hal yang dapat kita berikan sebagai tanda cinta kepada para pahlawan kita adalah dengan menjalankan amanah-amanah suci darinya. Amanah adalah suatu pesan yang mengharuskan untuk segera dilaksanakan. Jika tidak, maka kita disebut pengkhianat. Kemudian mulai lakukan komunikasi yang intens. Jika pahlawan kita masih hidup, berikan tanda cinta dan sayang kita dengan perbuatan yang nyata semisal memberi hadiah atau kabar yang menggembirakan. Kalaupun sudah tiada, cukup berikan do’a sehabis tiap sholat berharap seluruh pahalanya diterima dan dosa-dosanya dihilangkan serta namanya tetap terjaga baik didunia atas peninggalan-peninggalannya.

Dengan hal seperti itu membuat kita merasa perlu merayakan Hari Pahlawan. Tak mesti menunggu esok; bisa kita mulai detik ini juga. Pasalnya manusia cenderung lupa dan melupakan jika tidak menyegerakan. Maka hadirnya tulisan ini adalah sebagai sarana pengingat sekaligus refleksi atas jasa-jasa yang telah pahlawan berikan kepada kita. Semoga rahmat Allah SWT senantiasa mengiringi langkah perjuangan pahlawan kehidupan kita.

Waktu sesungguhnya dapat melupakan dan meniadakan. Maka dari itu, harus ada yang mengingat dan berusaha mengingatkan. Terima kasih atas jasa-jasanya yang tak terlupakan. Meskipun takkan pernah mampu membalas, Akan kupenuhi amanah-amanah yang telah kau berikan. Demi terciptanya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat serta kebaikan dari Allah pencipta alam semesta!

 

mama dan papa

 

Yogyakarta, 10 November 2014.

Oase Ditengah Keringnya Rasa Cinta

Kepada Mereka Yang Berjasa

Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *