Hari Pendidikan: Sebuah Perenungan, Lagi – Menerepong Pendidikan Tinggi di Indonesia Melalui UGM
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Hari Pendidikan: Sebuah Perenungan, Lagi – Menerepong Pendidikan Tinggi di Indonesia Melalui UGM

pendidikan

Oleh Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia

Pengantar

Sebagaimana yang telah kami sampaikan dalam kajian [Gerakan Menolak Bodoh] Pendidikan: Presiden Sebagai Pengaduk Semen Universitas Kehidupan (https://www.facebook.com/notes/dewan-mahasiswa-fisipol-ugm/gerakan-menolak-bodoh-pendidikan-presiden-sebagai-pengaduk-semen-universitas-keh/553622704747158) sesaat menghadapi pilpres lalu. Dalam peringatan hari Pendidikan ini, kami mengajak para pembaca untuk merenungkan kembali mengenai pendidikan di Indonesia secara lebih dalam.

Sebuah istilah kontemporer-nan-populer tentang pendidikan Indonesia menyebutkan: “TK di sodomi, SD bunuh orang, SMP bikin video bokep, SMA/K tawuran, Kuliah di pukuli senior sampai mati. Serukan belajar di Indonesia?” 

Begitulah kiranya potret buram pendidikan di Indonesia. Andai saja Ki Hadjar Dewantara masih hidup, beliau pasti akan bersedih. Pendidikan yang menjadi cita-citanya membentuk anak didik menjadi manusia yang merdeka secara lahir dan batin; luhur akal budinya; serta sehat jasmaninya untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna bertanggung jawab atas kesejahteraan bangsa, tanah air, serta manusia pada umumnya berdasarkan atas nilai-nilai kemanusiaan telah disalahartikan oleh pemangku kebijakan. Lembaga pendidikan telah membiarkan anak didiknya menjadi korban-korban keganasan sistem pendidikan seperti istilah yang disebutkan di atas. Jelas, ini adalah kejahatan tak termaafkan dalam dunia pendidikan. Dengan demikian, merenungkan kembali tentang pendidikan di Indonesia menjadi sangat penting.

Dalam tulisan sebelumnya, sedikit-banyak telah kami sampaikan seruan perubahan, penting-gak pentingnya pendidikan, dan refleksi teoritik dengan menggunakan konsep pendidikan milik Ki Hadjar Dewantara. Agar tak mengulang, maka tulisan ini di desain sebagai kelanjutan tulisan tersebut dengan mencoba menjawab pertanyaan penting dan jauh lebih sulit untuk dijawab: sebenarnya, pola macam apa yang sedang diterapkan dalam pendidikan di Indonesia?

Pola-pola Pendidikan Dalam Masyarakat di Negara Lain

Dalam Buku “Menggugat Pendidikan”, dijelaskan bahwa pendidikan selalu berjalan beriringan dengan kepercayaan terhadap sifat-sifat hakiki kemanusiaan itu sendiri. Tiap kepercayaan bersifat lokal dan pewarisannya pada anak cucu merupakan intisari pendidikan. Para pujangga Mesir, Persia, Sumeria, Ibrani, dan sebagainya, menuliskan ajaran semacam ini sejak lima ribu tahun sebelum masehi; kebenaran merupakan salah satu tujuan besar yang dicanangkan oleh nenek moyang tiap bangsa dan menjadi cita-cita pendidikan bagi tiap filosofi seterusnya. Namun biasanya hanya sepersekian dari seluruh jumlah penduduk yang punya kesempatan belajar mencari kebenaran, andaipun pendidikan tak dijadikan kemewahan khas kaum ningrat, rakyat jelata sudah kewalahan mempertahankan padunya jiwa dengan raga dari hari ke hari hingga tak sempat berbuat apa-apa lagi.

Andai sobat Dema lebih cermat dalam memandang pendidikan yang ada di dunia saat ini, tiap bangsa-bangsa di dunia jauh hari sebelumnya sudah berlomba untuk mendidik masyarakatnya menjadi sesuatu yang dicitakan dan diidamkan kelak. Lihat saja di Barat, misal, pendidikan di Jerman; masyarakatnya dibangunkan dan diupayakan sedemikian rupa untuk memiliki rasa kebangsaan yang kuat. Hal tersebut digagas dengan matang oleh Prusia, satu negera bagian di Jerman yang tetap berdaulat sepanjang abad lalu. Dari pola pendidikannya, dihasilkan penulis dan cendekiawan andal macam Kleist dan Fichte. Fichte menggambarkan rakyat Jerman sebagai bangsa yang khas, Urvolk, yang ditakdirkan untuk membangun kebudayaan dan kekaisaran baru untuk menggantikan yang sebelumnya (Romawi Kuno). Ia menanamkan ajaran nasionalisme Jerman khususnya.

Kemudian di Perancis, pendidikan dirancang untuk mengembangkan elit-intelektual. Maka tak heran apabila kita bisa mengenal para filsuf macamDerrida, Camus; dan juga seniman seperti Henri Matisse; dan sastrawan J.M.G Le Clézio, dan masih banyak tokoh intelektual lainnya yang tersebar ke penjuru bumi. Seolah tak mau kalah, pendidikan di Rusia berusaha menghantarkan para (maha)siswa-nya untuk menjadi seorang komunis yang baik kelak. Di Timur, misalnya ada Cina yang juga mendidik dari Konfusianisme hingga Komunisme. Terakhir, Jepang yang berhasil membentuk masyarakat yang gigih, cinta pada alam, menyukai kebersihan, kejujuran dan kesopanan. Pahadal, mulanya, budaya yang berlaku di Jepang sangat barbar. Hasil menakjubkan di atas ternyata adalah hasil dari imitasi pendidikan ataupun pemikiran-pemikiran sosial, politik dan agama yang berasal dari Cina dan Korea sejak interaksi pertamanya.

Dari sekian banyak contoh diatas, terlihat bahwa negara-negara yang ada sudah sejak jauh hari mengembangkan pola pendidikan secara lebih jelas. Pendidikan dalam masyarakat suatu negara sebagaimana yang dicontohkan di atas telah berhasil menyuguhkan sesuatu yang mengandung visi-misi pendidikan yang besar, bahkan sifatnya sangat ideologis. Sekarang pertanyaannya: bagaimana dengan pendidikan di Indonesia?

Realitas Pendidikan di Indonesia: Meneropongnya Melalui UGM

Sebelum melihat pola pendidikan yang diterapakan di Indonesia, agar lebih mudah, kami ingin meneropong terlebih dahulu pola pendidikan yang sedang berlangsung di UGM.

Untuk mengetahui arah pendidikan di UGM, apa yang disampaikan Bung Karno berikut sekiranya mampu menjadi gambaran awalnya:

Wahai pemuda-pemuda yang sedang minum air pengetahuan dari sumbernya alamamater Gadjah Mada! Camkanlah ini! Bahwa pengetahuan, bahwa ilmu, bahwa pikiran, bahwa teori tiada guna, tiada wujud jika tidak dipergunakan untuk mengabdi kepada prakteknya hidup… Gadjah mada adalah mata airmu, gadjah mada adalah sumber airmu, tinggalkanlah kelak gadjah mada ini bukan untuk mati tergenang dalam rawanya ketiadaan amalan atau rawanya kemuktian diri sendiri, tetapi mengalirlah ke laut, tujulah ke laut, lautnya pengabdian kepada negara dan tanah air, yang berirama, bergelombang, bergelora.”

Tak sampai disitu, sebelum Bung Karno berwasiat, Ki Hajar Dewantara berpesan:

“Perlulah anak-anak kita dekatkan hidupnya dengan perikehidupan rakyat, agar mereka tidak hanya dapat ‘pengetahuan’ saja tentang hidup rakyatnya, namun juga ‘mengalami’ sendiri dan kemudian tidak hidup berpisah dengan rakyat’.

Bagaimana dengan realitas pendidikan di UGM sendiri? Istilah ini pun belum begitu jelas. Misal, peristiwa letusan gunung Merapi yang pada akhirnya membuat kegiatan di UGM terhenti beberapa waktu karena harus menampung para pengungsi adalah sebuah realitas. Pelaporan permasalahan Uang Kuliah Tunggal Universitas Gadjah Mada (UKT UGM) dengan pihak kampus sebagai terlapor yang telah dilayangkan kepada Ombudsman Republik Indonesia oleh Tim Advokasi Forum Advokasi Universitas Gadjah Mada adalah sebuah realitas. Lalu, pertemuan Pada hari Selasa, 29 April 2015, pukul 08:00 – 10:00 bertempat di ruang kantor Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Gadjah Mada terkait klarifikasi persoalan UKT tersebut juga merupakan realitas. Kemudian, sikap arogan dan ancaman dari Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan kepada beberapa mahasiswa adalah sebuah realitas. Mahasiswa yang harus bekerja paruh-waktu di rumah makan sekitaran kampus juga realitas. Selanjutnya, area sekitaran Grha Sabha Pramana (GSP) yang dipenuhi mobil-mobil dosen dan mahasiswa yang mewah adalah realitas. Datangnya tiga bis pengangkut warga Rembang untuk menuntut UGM atas kasus pembangunan pabrik Semen di Rembang adalah sebuah realitas. Dua dosen UGM atas inisial EH dan HI yang bersaksi dalam sidang PTUN pun adalah realitas. Kemudian, maraknya pembangunan hotel dan apartamen sehingga membuat air tanah di Jogja habis adalah sebuah realitas. Kita menanggapi kasus tersebut dengan berdiam dan hanya bisa membatin di kamar pun adalah sebuah realitas. Bahkan, dari upaya pelaksanaan kuliah lima tahun, kampus yang masih belum ramah difabel, dosen yang hanya ber-khotbah tanpa mengajak mahasiswanya berdialog ataupun dosen yang hobinya ganti-ganti waktu kuliah seenak ‘udelnya’ karena sedang bertugas menjadi staf ahli kepresidenan ataupun mengerjakan proyek bernilai miliaran rupiah, beasiswa yang tidak tepat sasaran, kesulitan mengkader mahasiswa kerakyatan, persoalan aku dan kamu yang berbeda jurusan namun saling mencinta, hingga Jokowi yang alumni UGM itu menjabat sebagai presiden nyatanya adalah suatu realitas.

Dengan beberapa realitas yang disebutkan di atas, kita dapat mengambil beberapa kesimpulan penting:

Pertama, realitas pendidikan di UGM masih membutuhkan banyak keterangan. Peristiwa letusan gunung Merapi yang menyebabkan kegiatan pendidikan di UGM harus terhenti akibat menampung para korban letusan selama beberapa waktu adalah realitas alamiah. Sedang yang lainnya, seperti pelaporan permasalahan UKT, banyaknya mobil mewah di area GSP, mahasiswa yang tak lagi mau memikirkan rakyat, hingga kesulitan UGM dalam mengkader mahasiswanya sebagai mahasiswa berkerakyatan adalah realitas sosial. Kita dapat membayangkan bahwa saat ini, pendidikan kita berada di dalamnya jaring-jaring yang kusut-semrawut. Setiap dari tindakan pasti mengandung suatu maksud dan resiko tertentu. Oleh sebab itu, usaha merenungkan kembali mengenai pendidikan di Indonesia menjadi sangat penting.

Kedua, kemandekan pendidikan di UGM dalam mengkader mahasiswa yang di dalam dirinya tertanam nilai kerakyatan bisa saja terjadi karena UGM –mungkin- tak lagi mengedepankan sisi kerakyatan dalam setiap pengajarannya sebagaimana yang dicitakan Bung Karno dan Ki Hadjar Dewantara. Para dosen lebih memilih ke kampus dengan mobil mewah dibandingkan mahasiswanya yang naik sepeda onthel. Para dosen lebih menganggap mahasiswa sebagai anak yang tidak tahu apa-apa, bukan sebagai rekan diskusi yang sedang sama-sama mencapai suatu kebenaran intersubyektif (kebenaran yang dibangun oleh aku dan kamu, sehingga menjadi kebenaran milik kita). Para dosen tak lagi populer mempergunakan istilah ataupun dimensi ‘kerakyatan’ dalam setiap materi dan penugasan. Hingga akhirnya UGM, mungkin suatu ketika, akan menjadi Universitas Tiran atau Institut Kemewahan dengan melahirkan tokoh-tokoh politik yang arogan, dan diktator ala Machiavellian atau para oligarki nakal yang mengejar pundi-pundi uang.

Ketiga, Pendidikan di UGM tak melatih mahasiswanya untuk berjuang lebih keras. Dengan embel-embel universitas terbaik bangsa ini, UGM tentu menawarkan kesempatan bekerja jauh lebih baik ketika lulus nantinya. Perusahaan multi-nasional, kantor-kantor pemerintahan, dan tempat kerja yang menawarkan kemapanan telah menunggu di ujung. Dengan demikian, mahasiswa akan terbuai dengan tawaran tersebut. Pikirnya: “andai saya tidak berkuliah di UGM, maka saya akan menjadi –paling bantar– bawahannya anak UGM di kantor/perusahaan.” Ditambah lagi, andai UGM menetapkan peraturan kuliah lima tahun, maka ruang kampus dapat dipastikan tidak memberi dorongan untuk berjuangan. Pendidikan tak lagi mendayagunakan ke-kritisan dan meninggalkan proses humanisasi. Menurut Freire, pendidikan merupakan ikhtiar memanusiakan kembali manusia (humanisasi). Pendidikan haruslah berorientasi kepada pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri. Dengan pendidikan yang menjadikan humansasi sebagai upayanya, maka kebebasan dan kemerdekaan manusia menjadi tujuan utamanya. Sehingga anak-anak yang terdidik tidak akan menjadi generasi penindas yang sleama ini hanya meniru dan menggugu gurunya, seperti skearang ini. Asumsinya: pengamatan takkan berguna bila mengarah pada dukungan atau sanggahan terhadap pandangan tertentu. Pendidikan juga menjadi tempat pemakluman terhadap persoalan. Ilmu Ekonomi memaklumi kenaikan harga BBM, Ilmu Geografi memaklumi pembangunan PT. Semen Indonesia. Sehingga, pada akhirnya kampus menjadi tempat memaklumi kenyataan. Apakah kita hanya bisa mendiamkan kenyataan? Kampus seharusnya melatih perjuangan, bukan hanya sebagai pengantar ke level sarjana.

Dengan demikian, melalui UGM, kita bisa memandang betapa beratnya tugas menemukan pola pendidikan di Indonesia. Disatu sisi, UGM sudah menemukan ingin dibentuk sebagai apa mahasiswanya (mahasiswa berkerakyatan); hanya saja, tantangan yang ada membuat UGM tak mampu mempertahankan pola-pola pengkaderannya. Maka, memikirkan kembali pendidikan di Indonesia secara lebih serius adalah tugas para pemangku kebijakan selanjutnya.

Tawaran Solusi Pendidikan Tinggi di Indonesia

Mahasiswa banyak yang tidak merasa bahwa kemanusiaannya telah dirampas oleh para dosen dan sistem yang ada. Di kampus-kampus, mahasiswa seringkali hanya duduk manis mendengarkan guru menina-bobokan pelajaran yang sebenarnya sama sekali tak ingin ia dengarkan. Baik pemerintah ataupun mahasiswa juga begitu mendewakan kampus sebagai instrumen mobilitas vertikal. Maksudnya, dengan masuk perguruan tinggi belum menjamin kita menjadi lebih mudah dan sukses dalam meraih cita-cita dalam berkarir nantinya. Hal ini tentu sepenuhnya tidak benar.

Sehingga, pada bagian akhir ini, kami ingin menawarkan solusi bagi pendidikan di Indonesia. Mungkin sejauh ini, kami merasa kembali kepada konsep pendidikan yang dibawa oleh Ki Hadjar Dewantara sebagai tawaran terbaiknya. Menurutnya, pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi- tingginya. Beliau mengusung konsep pendidikan di Indonesia dengan mengedepankan tiga faktor, yaitu: ‘ngerti (aspek kognitif), ‘ngrasa’ (aspek afektif), dan ‘nglakoni’ (aspek psikomotorik), dan yang terpenting, beliau mengusung pendidikan di Indonesia dengan konsep penguatan penanaman nilai-nilai luhur yang dimiliki oleh bangsa sendiri secara masif dalam kehidupan anak didik tanpa mengesampingkan proses humanisasi. Kami menyebutnya, Universitas Kehidupan.

Konsep ini tentu diharapkan mampu menjawab persoalan dunia pendidikan tinggi di Indonesia yang seringkali mengesampingkan proses humanisasi. Konsep ini pada hakikatnya terjewantahkan melalui pemikiran Ki Hadjar Dewantara di atas. Konsep ini lahir di bumi manusia, tepatnya sejak manusia hadir ke dunia. Sejak saat itu pula manusia telah belajar. Belajar untuk bertahan hidup sejak menghela nafas yang pertama ketika lahir. Ketika mulai bertumbuh, manusia-manusia ini mulai belajar merangkak, duduk, berdiri, berjalan, hingga berlari. Bahkan saat dewasa, manusia mulai ngerti mengapa dirinya harus belajar dalam hidup. Sehingga ketika manusia sudah ngerti mengapa dirinya harus belajar, manusia takkan pernah lagi mendewakan sekolah/universitas pada umumnya. Sebab, itu merupakan salah satu instrumen saja dalam mencari ilmu pengetahuan. Jika manusia mengetahui sumber mata air nya, itu terletak pada seluruh momen kehidupannya, maka manusia telah ngrasa bahwa kehidupan tidaklah sesempit sekolah/universitas pada umumnya. Akhirnya, manusia nglakoni proses belajar dari setiap momen kehidupannya. Inilah dasar yang membuat konsep pendidikan ini penting untuk dilaksanakan karena mengedepankan dasar kemanusiaan.

Sehingga pada akhirnya, kita hanya perlu merenung jauh lebih dalam, memikirkan jauh lebih serius. Sebab, bagaimana kita bisa tahu bahwa perubahan itu merupakan sebuah kemajuan, jika tidak pernah terlahir niatan untuk mengubahnya.

Bangkitlah Indonesiaku….

Bulaksumur, 02 Mei 2015

Menjadi Manusia Seutuhnya

Dipos juga di laman berikut:

https://www.facebook.com/notes/dewan-mahasiswa-fisipol-ugm/rilis-hari-pendidikan-sebuah-perenungan-lagi/698458223596938

 

Referensi

Ki Hadjar Dewantara dalam Jurnal Berjudul Some Aspect of National Education And The Taman Siswa Institute of Yogyakarta.

Thut, I.N,. Adams, Don. 1984. Educational Patterns in Contemporary Societies. New York: McGraw-Hill Book Company.

Freire, Paulo,. Illich, Ivan,. Fromm, Erich,. etc. 1999. Menggugat Pendidikan: Fundamentalis, Konservatif, Liberal, Anarkis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Freire, Paulo. 1999. Politik Pendidikan: Kebudayaan, Kekuasaan dan Pembebabasan. Yogyakarta: ReaD (Research, Education and Dialogue)-Pustaka Pelajar.

Hardiman, F.B. 2003. Melampaui Positivisme dan Modernitas. Yogyakarta: Kanisius.

Hassan, Fuad. 1990. Renungan Budaya. Jakarta: Balai Pustaka.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *