Hidup Bicara Sedih-Bahagia
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Hidup Bicara Sedih-Bahagia

PH BEM KM UGM 2017

Menjadi Presiden Mahasiswa UGM adalah amanah besar. Dengan jelas dan tandas selalu saya sampaikan dalam berbagai kesempatan, “UGM adalah Universitas yang heterogen”. Layaknya Indonesia, UGM lah miniatur yang mampu menghimpun segenap entitas anak bangsa dengan ragam suku, agama, bahasa dan ras.

Dua bulan sudah saya memimpin. Bukan waktu yang mudah untuk dilewati. Menyusun tim terbaik yang mampu berkolaborasi, memaparkan ide-gagasan dan memantapkannya kepada orang lain. “Serukan kolaborasi, sebarkan kebaikan” adalah doktrin yang diterapkan dalam BEM KM UGM 2017.

Kawan, memulai dan merajut perjuangan di BEM KM UGM bukan perkara mudah. Saya butuh belajar, masukan, disertai pengalaman memimpin organisasi sebelumnya. Pemahaman akan peta persoalan dan dinamikanya menjadi demikian penting. Beberapa orang dibelakang saya barangkali sudah mewanti-wanti untuk saya tetap bahagia. Jangan sampai kehilangan senyum. Begitu katanya.

Bila ditarik memang bukan soal BEM KM UGM saja. Dalam hidup saya ini, pun kau, selalu saja bicara tentang sedih-bahagia bukan?

Bayangkan saat kau lahir. Kau menangis. Disaat bersamaan orang tuamu berbahagia karena kau terlahir ke dunia yang bahkan kau tak pernah tahu sebelumnya bahwa ini semua dipenuhi oleh teka-teki yang rumit. Saat orang tuamu melihat kau tengkurap, duduk, merangkak, berdiri, berjalan dan berlari; itu semua adalah nikmat yang tak terkira. Orang tua mana yang tak bahagia ketika anaknya kemudian yang unyu itu bisa berprestasi dalam belajarnya, memimpin dan memberikan dampak kepada orang lain.

Sebentar lagi orang tuamu akan melihatmu sebagai orang dewasa sejati. Dengan katakanlah kau akan bersegera menyempurnakan separuh agama, beranak-pinak, bekerja, membangun keluarga strategis yang mampu menghimpun segenap kebaikan. Lalu, yang kau anggap sebagai kejayaan itu semua hadir. Saat pekerjaanmu dinilai baik, pangkat naik, kepercayaan orang lain bertambah. Orang tua sudah diberangkatkan haji dan dihidupi dengan layak, tak seperti ketika saat mengasuhmu dulu penuh sulit. Kau punya segala yang kau inginkan di dunia.

Beberapa kali kau tersandung karena, misalnya, kau dapat cobaan sedikit. Bila saat kecil kau jatuh saat berdiri, kau tersandung saat kau berlari. Maka anggaplah ini sebagai luka kecil saat kau hadapi ujian.

Masihkah disebut kurang? Tentu tidak. Ini semua menjadikan kita harus pandai bersyukur. Apa yang saya dan kau terima adalah nikmat yang patut disyukuri.

Makanya ingin saya sampaikan. Hidup itu banyak bicara susah-senang. Apa yang saya terima hari ini bukan karena sayanya. Tapi ini semua karena Allah Swt dan orang-orang yang mendoakan saya. Begitu menikmatinya saya berhadapan dengan banyak mahasiswa, mendengarkan keluhan, menyampaikan aspirasi, berusaha merekatkan ikatan dan menjaga hati-perasaan. Inilah jalan juang.

Maka tanggalkan keluh kesah. Saya banyak belajar dari mereka yang ada di dekat saya. Orang-orang hebat. Merekalah guru dalam berbagai hal. Hanya perlu mencomot ilmu satu per satu darinya.

Terima kasih atas segala awalan yang baik ini. Untuk semua pihak yang terkadang saya tak mampu membalas kebaikan hatinya. Yang saya selalu terpesona karena ketulusannya. Yang membuat saya selalu ingat bahwa hidup adalah soal memperjuangkan. Yang membuat saya tak mau ingkar atas amanah. Yang mengingatkan saya kepada arti keluarga sampai surga.

Intinya, saya tak mampu mendeskripsikan hati belakangan ini. Semua campur-aduk. Biarlah ini bersambut dengan ketulusan hati.

 

Pojok Sekre

25 Februari 2017

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *