Hilangnya Jati Diri Bangsa
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Hilangnya Jati Diri Bangsa

jati diri bangsa

Pasca runtuhnya rezim Orde Baru, tak banyak orang memikirkan Pancasila. Dulu pemerintah punya P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) yang diselenggarakan secara rutin untuk menghadang segala yang bertentangan dengan Pancasila.

Pemerintah saat itu mendefinisikan Pancasila sesuai kehendaknya. Tak ada ruang diskusi didalamnya. Namun, jika dicermati, cara tersebut memberi pengertian bahwa Pancasila begitu sakral. Sebab, sejauh ini belum ditemukan tawaran yang dimiliki negara pasca reformasi untuk membuat tiap warganegara mengerti dan memahami Pancasila.

Hasil survei harian Kompas tanggal 1 Juni 2008 menunjukkan pengetahuan masyarakat mengenai Pancasila menurun tajam. Sebesar 48,4 persen responden berusia 17-29 tahun tak bisa menyebutkan Pancasila secara benar dan lengkap; 42,7 persen responden berusia 30-45 tahun salah menyebut sila-sila Pancasila, dan responden berusia 46 tahun ke atas lebih parah, sebanyak 60,6 persen salah menyebutkan kelima sila Pancasila.

Hal di atas sangat memprihatinkan. Padahal, pancasila merupakan dasar negara yang melandasi kehidupan masyarakat Indonesia. Dengan demikian, indikator kesuksesan hidup masyarakat Indonesia terletak pada upaya pemerintah dalam membumikan kembali Pancasila.

Namun, hingga kini, upaya pemerintah belum terasa. Arus globalisasi telah mengorbankan identitas kebangsaan. Pancasila dianggap tidak lebih penting dari materi. Setiap orang pun berlomba memperkaya diri meski dengan cara terlarang.

Artinya, negara ini sudah mencapai tahap “gawat” kehilangan jati diri. Nilai ketuhanan, kemanusiaan, kesatuan, demokrasi dan keadilan yang menjadi jati diri Pancasila tergerus zaman. Adanya tukang begal, pelaku pembunuhan bahkan koruptor menunjukkan pengkhianatan terhadap nilai-nilai Pancasila. Maka sikap cepat dan cermat dalam membumikan Pancasila menjadi agenda utama yang harus dilakukan pemerintah.

Kini negara telah menjamin kebebasan berpendapat, termasuk membuat diskusi atapun dialog. Sayangnya kesempatan ini tak dimanfaatkan dengan baik. Lihat saja, seminar ataupun kajian, riset tentang Pancasila dikalangan akademisi, peneliti dan mahasiswa; jumlahnya minim. Keterbatasan pengetahuan yang mengakibatkan manusia bertindak salah kaprah. Akhirnya, banyak orang memaknai Pancasila secara serampangan.

Pemaksaan Pancasila sesuai kehendak penguasa merupakan tindakan subversif. Maka yang diperlukan saat ini ialah ruang diskusi secara berkesinambungan. Pemerintah mulai dengan menggiatkan forum-forum kepemudaan, menyediakan seminar-seminar, membuat Pusat Studi Pancasila diberbagai perguruan tinggi sambil mendorong gerakan masyarakat untuk terlibat dalam penguatan dan pengamalan nilai-nilai Pancasila ditingkat grassroot.

Sebab, masa depan bangsa Indonesia tak lepas dari peran manusia didalamnya untuk membumikan kembali Pancasila. Tanpanya, Indonesia kehilangan jati dirinya.

Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *