Idul Fitri Membentuk Kesalehan Sosial
Seorang Pemimpin(n) Yang di Aamiinkan Tuhan

Idul Fitri Membentuk Kesalehan Sosial

Alfath Bagus Khutbah Jumat

Memahami aktivisme Islam selain shalat, puasa, mengaji dan beramal jariyah merupakan suatu hal yang sangat penting. Selain karena Islam yang holistik dan memengaruhi seluruh kegiatan yang dilakukan oleh umatnya; Islam juga memberikan panduan bukan hanya untuk menjadi yang saleh secara individu, tapi juga berdampak bagi lingkungan sosialnya. Saya menyebutnya kesalehan sosial.

Kesalehan sosial ini berbeda dengan kesalehan individu. Kesalehan sosial berpangkal pada keberpihakan diri terhadap peri kehidupan umat. Urusan pribadi telah dianggap selesai. Kini saatnya mengabdi; berkhidmat kepada umat dalam berbagai bentuk. Kita bisa mengenalinya lewat keteladanan, seperti misalnya KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah yang sering disampaikan adalah tentang keistikamahan dalam menyampaikan Surah Al Ma’un. Bahwa yang terpenting adalah aplikasi ilmu ke dalam praktiknya hidup. Kemudian, Abdurrahman Wahid, Presiden ke-4 yang akrab dengan gagasan pluralisme. Bahwa Islam harus toleran dalam menjalankan kehidupan beragama.

Mungkin tampak problematis bagi sebagian dari umat untuk memahami, bahkan melakukannya. Tapi secara sederhana, sedikit kisah keteladanan di atas bisa memberikan kita pengertian bahwa kesalehan sosial adalah meletakkan kepentingan bersama melebihi kepentingan diri sendiri. Orientasinya adalah orang lain; bukan diri sendiri.

Momentum Idul Fitri adalah salah satu bagian terpenting membentuk kesalehan sosial. Bayangkan, setelah sebulan jasmani dan rohani kita ditempa oleh Ramadhan, dikembalikannya kita semua bak bayi yang suci bersih; terbebas dari noda dan dosa. Kita tidak boleh lupa, Idul Fitri merupakan hari Kemenangan. Tapi, sejauh saya memahaminya, Idul Fitri merupakan titik balik perbaikan diri. Tak boleh lagi mengulang kesalahan yang telah diperbuat dan menjadikannya sebagai pembelajaran. Sehingga, hanya mereka yang telah melewati ujian Ramadhan__yang dirinya telah mengalami perbaikan__yang bisa disebut sebagai pemenang.

Nah, para pemenang inilah yang kemudian menceburkan dirinya pada peluhnya hidup bermasyarakat. Ada yang ilmunya amaliah karena tersampaikan pada umat, ada juga yang amalnya disampaikan secara ilmiah sehingga mampu dipertanggungjawabkan. Keduanya halnya harus beriringan demi terciptanya kehidupan yang bermartabat.

Kehidupan yang bermartabat ini bukan mimpi jika setiap dari kita mampu menjalankan peran hingga bahkan mewariskan tanggung jawab dan peranan sosial kepada generasi selanjutnya. Meninggalkan kebaikan dan memberitahukannya tentang kekurangan untuk kemudian diperbaikinya hari depan. Sehingga, akan terciptanya hidup yang saling melengkapi dan perbaikan dari waktu ke waktu.

Di titik ini saya menjadi sadar. Kebetulan saya mendapatkan kehormatan menjalankan sebuah amanah akademik dan amanah dari Allah SWT untuk turut mempersembahkan diri kepada warga perbatasan di Desa Temajuk, Paloh, Sambas, Kalimantan Barat sekaligus memenuhi panggilan bangsa lewat kegiatan Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat Universitas Gadjah Mada (KKN PPM UGM). Tugas ini sebentar lagi akan dicukupkan. Saya ucapkan terima kasih dan apresiasi kepada masyarakat Desa Temajuk yang telah memberikan kami kesempatan untuk belajar mengabdi kepada negeri. Kegiatan ini begitu berharga karena pada kenyataannya pengabdian adalah keniscayaan bagi setiap manusia. Ini merupakan salah satu bentuk kesalehan sosial yang riil.

Sejak berkegiatan di Desa Temajuk, saya mencoba tuk memahami kondisi sosial, politik, ekonomi, dan budaya serta segala hal yang berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari dan juga mata pencaharian. Saya dan teman-teman kemudian meneruskan kebiasaan baik para pendahulu dengan berkeliling desa, ke sudut-sudut kampung, berbincang langsung dan berkarya bersama masyarakat untuk pembangunan pariwisata dan peningkatan kualitas pendidikan. Rumah (penginapan) bisa saja berdinding triplek dan beratapkan alang-alang; sekolah masih bisa reyot dan rapuh; jalan masih berlubang dan listrik belum sepenuhnya tersedia, tapi semangat masyarakat terutama anak-anak yang berada di bangku sekolah tak bisa kendur. Dalam berbagai keterbatasan kami terpukau dan takjub; kami bukan melihat sorot mata manusia, kami melihat Indonesia.

Dalam berbagai kesempatan, saya seringkali mewakili teman-teman mahasiswa UGM untuk menitipkan persiapan masa depan Desa Temajuk dan juga Republik ini kepada anak-anak. Kepada para orangtua saya selalu berujar, “berikanlah kesempatan kepada mereka untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Teruslah songsong anak-anak itu dengan hati dan sepenuh hati. Jadikan hari-hari mereka penuh dengan belajar dan membaca. Temani mereka disaat lelah belajar serta do’akan kepadanya agar ilmu yang diperoleh bisa bermanfaat untuk alam raya”.

Pesan kami terakhir. Mari kita lanjutkan perjuangan pembangunan, beri dukungan dan komitmen kepada pemerintah desa dalam membangun Desa Temajuk. Kehormatan desa ada ditangan penduduknya. Bilamana ada sikap pemimpin yang tak sesuai, maka tugas kita adalah meluruskannya. Bilamana ada perbaikan yang tak cukup diselesaikan secara mandiri, maka tugas kita adalah melengkapinya.

Semoga Idul Fitri ini bisa memberikan pembaharuan pada diri. Menjadikan pribadi ini bukan saleh sendiri, tetapi beramai-ramai.

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *